Portal Jurnal Online Kopertais Wilyah IV (EKIV) - Cluster SASAMBO
Not a member yet
912 research outputs found
Sort by
Ketentuan Batas Usia Minimal Perkawinan dan Relevansinya Terhadap Kesadaran Hukum di Indonesia (Studi Terhadap UU No. 1 Tahun 1974)
Perkawinan adalah hubungan antara dua orang berlainan jenis dengan tujuan membentuk keluarga bahagia. Untuk mewujudkan hal tersebut perlu dibuat aturan diantaranya mengenai batas usia minimal perkawinan, dan hal ini telah dituangkan dalam uu No. 1 tahun 1974 tentang perkawinan. Namun karena kerang dianggap bertolak belakang dengan ajaran agama maupun adat perlu untuk meluruskan permasalahan ini dengan mencari sumber hukum dan latar belakang terciptanya aturan batas usia minimal ini, berikut implikasinya bagi masyarakat indonesia pada masa-masa setelahnya. Dengan pendekatan sosiologis serta teori perubahan sosial ditemukan fakta bahwa dahulu semenjak kemerdekaan banyak sekali problema rumah tangga yang menumbuhkan masalah sosial. Masalah itu antara lain: meningkatnya perceraian, banyaknya perkawinan anak-anak, dan lain sebagainya, kemudian semenjak di undang-undangkan UU No. 1 tahun 1974 khususnya batas usia minimal perkawinan mampu mengurangi perkawinan pada usia muda dan mengubah cara pandang masyarakat dengan menekankan efek negatif perkawinan pada masa itu
Praktek Tradisi Gantiran Dalam Perkawinan Persfektif Hukum Islam
Disetiap daerah ternyata banyak cara dalam untuk melaksanakan institusi pernikahan. Di Lombok misalnya pernikahan begitu sacral dan penuh dengan muatan adat, sehingga untuk melangsungkan acara pernikahan harus berusaha keras untuk melewati rangkaian adat, salah satunya adalah gantiran, dimana keluarga laki-laki harus membayar sejumlah uang yang sudah ditentukan oleh keluarga perempuan sebagai tanda untuk bisa melangsungkan pernikahan.Untuk memudahkan pemahaman dalam penulisan ini, maka kami menggunakan metode-metode penelitian diantaranya; dengan memperbanyak menggali sumber data dari berbagai literaratur yang berkenaan dengan praktek gantiranSetelah membahas masalah yang sudah diteliti maka kami dapat tarik sebuah kesimpulan bahwa praktek gantiran diperbolehkan karena masih belum ditemukan dalam AL-Qur’an maupun hadist yang membahsa masalah gantiran itu sendiri, yang melakukan akad sudah jelas, barang yang diakadpun barang yang halal dan suci, maka dari itu gantiran dalam pandangan hukum islam diperbolehkan karena sudah terjadi kesepakatan antara kedua belah pihak
PRESTASI BELAJAR IPS TERPADU DITINJAU DARI SEGI MOTIVASI BELAJAR DAN KEDISIPLINAN BELAJAR SISWA PADA KELAS VIII DI SMP IT ABU BAKAR YOGYAKARTA
Pengabdian masyarakat yang dilakukan pesantren tidak hanya terbatas bagi santri yang menuntut ilmu di pesantren itu sendiri. Keberadaan pesantren di suatu lokasi berkaitan erat dengan pergumulan dan proses sosial masyarakat di tempat tersebut. Umumnya pesantren juga menjadi lembaga yang menaungi masyarakat dengan melakukan kegiatan-kegiatan sosial-ekonomi, kegiatan pengajian dan dakwah Islam. Melihat peran pesantren yang begitu besar bagi kemajuan pendidikan masyarakat di nusantara, sangat disayangkan sekali bila lembaga pendidikan paling berpengaruh di Indonesia ini tidak memanfaatkan e-Learning sebagai alat untuk menyampaikan dakwahnya. Selain itu, infrastruktur dan kemampuan masyarakat dalam mengakses informasi elektronik di Indonesia sudah mumpuni, peluang pesantren untuk menjalankan pendidikan dan Kata Kunci: E-Learning, Pesantren, Pendidika
TRADISI KAJIAN KEAGAMAAN DALAM ISLAM (TELAAH ATAS PEMIKIRAN CHARLES J. ADAMS)
Kajian terhadap fenomena keagamaan berarti mengkaji prilaku manusia yang terkait dengan kehidupan beragamanya. Fenomena keagamaan berarti sikap dan pandangan manusia yang tidak saja berkaitan dengan sisi normatif-dogmatif akan tetapi juga pada aspek histroris-sosiologis. Maka pengkajian terhadap agama –termasuk Islam- berarti semacam pengujian secara terus menerus atas fakta-fakta empirik dalam masyarakat beragama. Oleh karena agama dianggap sesuatu yang asasi dan sensitif, maka pengkajian pada sisi empirisnya tidak saja menuntut kehatian-hatian tetapi juga proprsionalitas. Yaitu bagaimana dan atau dimana agama itu didudukkan dalam kajian. Atau dengan kata lain peneliti agama harus dapat memilih dan memilah “apa objek dari kajian agama?” dan “bagaimana metode serta perangkat keilmuan dalam kajiannya? Kesalahan dalam menentukan objek dan metode tersebut dapat mendatangkan kerancauan bahkan kesalahan dalam penafsirannya. Kata Kunci: Islam, Agama, Kajian Keagamaa
SIGNIFIKANSI KEMAMPUAN PROFESIONAL DAN KECERDASAN EMOSIONAL GURU DENGAN KINERJANYA DI YAYASAN PENDIDIKAN DUA MEI CIPUTAT
Through this study correlational approach focuses browse for the poor performance of teachers in the Education Foundation Dua Mei, through the independent variable (the professional ability and emotional intelligence) and the dependent variable (performance of teachers). This study reports the results of research on the data or explanation about the influence of teachers’ professional ability and emotional intelligence on the performance of teachers, with the aim to test the significance of the influence of professional ability, emotional intelligence, and the ability to both simultaneously on teacher performance. From the results of the study show that: first, there is a positive significance between the professional ability of teachers to their performance by contributing 96.1% Second, there is a positive significance between emotional intelligence of teachers with a performance of 94.7% and the rest influenced by various factors. Third, there is a positive significance between professional skills and emotional intelligence of teachers simultaneously with the performance shown by the correlation coefficient of 0.940 which means it is very strong, while the contribution of variable professional skills and emotional intelligence of teachers together on teacher performance amounted to 94.0%, the rest is donated by other variables.Keywords: Profesionalisme guru, Kecerdasan emosional, Kinerj
USHUL FIKIH BAGI PENGEMBANGAN HUKUM EKONOMI SYARIAH
Aktivitas yang berhubungan secara vertikal dengan sang pencipta (hablun min Allah) atau lazim disebut dengan ibadah; dan aktivitas yang berhubungan secara horizontal dengan manusia (hablun min an-naas) atau yang biasa disebut dengan mu’amalah. Dalam tataran mu’amalah, setiap manusia pasti memiliki interest yang berbeda-beda yang akibatnya rentan menimbulkan persengketaan terlebih jika terkait dengan persoalan harta benda. Hal ini tentunya sudah diantisipasi oleh syariah dengan aturan-aturan seperti terdeskripsikan dalam aturan fiqh mawarist, iqtisadiyyah (ekonomi) dan lain sebagainya yang suah barang tentu kesemuanya itu berbasis pada prinsip-prinsip syariah.Lahirnya Hukum Ekonomi Syariah sebagai tindak lanjut dari ditetapkannya Undang Undang Nomor 3 Tahun 2006 Tentang Perubahan atas Undang Undang Nomor 7 tahun 1989 tentang Peradilan Agama sangatlah tepat guna mengakomodir animo umat Islam di Indonesia yang mulai menyadari arti pentingnya menerapkan prinsip-prinsip syariah dalam setiap aspek kehidupan mereka. Kata Kunci: Ushul Fiqh, Filsafat, Hukum Ekonomi Syaria
IMPLEMENTASI METODE PEMBELAJARAN BERBASIS QURANI DI MTS AL-BAQIYATUSSHALIHAT NW SANTONG
Ilmu-ilmu tentang kependidikan yang dijadikan rujukan dalam pengembangan dunia pendidikan di Indonesia, lebih banyak bersumber pada konsep-konsep dan teori-teori pendidikan Barat yang menganut sistem pendidikan liberal dan sekuler, terlebih konsep tersebut digunakan juga dalam pengajaran pendidikan Agama Islam. Di negara negara Barat pelajaran agama tidak diajarkan di sekolah-sekolah umum karena bagi mereka pendidikan agama merupakan tanggung jawab keluarga secara personal. Berbeda halnya dengan di Indonesia, pelajaran agama menjadi tanggung jawab kolektif sehingga perwujudannya dilakukan melalui lembaga-lembaga formal pendidikan mulai dari tingkat TK sampai perguruan tinggi sesuai dengan amanat Undang-Undang sistem Pendidikan Nasional Tahun 2003. Sehingga menjadi janggal jika guru-guru agama Islam mengajarkan dengan merujuk pada konsep pendidikan dari Barat. Untuk itu dalam penelitian ini menawarkan pendidikan Agama Islam yang secara ansich konsep dan metodenya bersumber dari Alquran sebagaimana yang telah dilaksanakan di MTs Al-Baqiyatusshalihat NW Santon
PENGEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM MULTIKULTURAL
Kekerasan atas nama agama, suku, etnis, dan lain sebagainya menjadi suguhan biasa di Indonesia. Memang dengan karakter wilayah kepulauan menjadikannya rentan akan pertikaian dan perpecahan antara satu agama, suku, etnis dengan yang lainnya. Agama Islam sebagai agama dengan pemeluk terbesar diharapkan mampu menjadi pelindung beberapa pemeluk agama dan perbedaan suku yang ada, karena pada masa Rasulullah, Islam sebagai agama yang membawa rahmat, melalui piagam madinah, hak-hak pemeluk agama dan setiap orang dilindungi oleh Islam. Oleh karena itu, dengan beraneka ragam penduduk Indonesia, diperlukan sebuah pemahaman tentang multikultural, agar tidak terjadi perselisihan antar mereka yang dapat menghilangkan nyawa orang lain. Untuk dapat memberikan pemahaman tentang multikultural tersebut, melalui pendidikan adalah anternatif yang paling efektif, baik formal maupun non formal. Karena dengan itu, mulai dari generasi yang paling kecil sampai generasi tua bisa tercover, tidak menitikberatkan pada satu generasi saja.Kata kunci : pendidikan Islam, multikultura
PEMIKIRAN TASAWUF IBNU TAIMIYYAH
Diskusi tentang Ibnu Taimiyyah mendapat porsi yang signifikan, kajian terhadap tokoh ini diperlukan terutama pandangannya tentang tasawuf karena beberapa orintalis dan beberapa kelompok umat Islam berpendapat bahwa Ibnu Taimiyyah anti terhadap tasawuf. Pandangan ini tidak terlepas dari latar belakang pemikiran Ibnu Taimiyyah yang dianggap salafi dan salafi dianggap sebagai golongan yang anti terhadap tasawuf. Beberapa tulisan Ibnu Taimiyyah yang berbicara menadalam masalah tasawuf yang tulisan tersebut sudah tercakup dalam kitab Majmu’ al-Fatawa yang merupakan kumpulan tulisan dari Ibnu Taimiyyah yang nantinya akan dibahas lebih mendalam dalam ulasan berikutnya. Selain itu, pandangan Ibnu Taimiyyah tentang tasawuf dapat dilihat dari kritik Ibnu Taimiyyah sendiri terhadap beberapa konsep tasawuf khususnya kritik terhadap Ibnu al-‘Arabi tentang Wahdatul Wujud. Kata Kunci: Ibu Taimiyah, Tasawuf, Syaria
HADITS TEOLOGI (KAJIAN TENTANG DOSA BESAR DALAM KITAB SHAHIH AL-BUKHARI BAB AL-ADAB NO. 5520)
The Qur'an is the revelation that God revealed to humanity through Muhammad as His messenger, while the hadith of Muhammad himself comes in the form of words, actions, judgments or hammiyah (desire / aspiration) Muhammad himself an apostle for the people humans to the universe (Rahmatan lil 'alamin). The following study is the hadith about the great sin of shirk and include disobedience to parents along with an explanation bagimana relevance to other woods hadith which speaks about the great sin through different sanad. There was also a description in this paper will mengakaji hadith about Shirk by looking at the Koran that talk also about Shirk, then seek to see a contextual interpretation than the Qur'an and al-hadith talking about the great sin