Portal Jurnal Online Kopertais Wilyah IV (EKIV) - Cluster SASAMBO
Not a member yet
912 research outputs found
Sort by
MASUKNYA ISRILIYAT DALAM TAFSIR AL-QUR’AN
This article discusses the theme of isra'iliyyat and interpretation. After his death began the Prophet Muhammad, the interpretation of the Qur'an evolved from era Companions (sahabat), Successors (tabi’in) and then evolved to the next generation. One interpretation is that affect isra'iliyyat stories that come from Jews or Christians and others who converted to Islam either from past friends and Successors. Isra'iliyyat figures such as Abu Hurairah, Abdullah bin Salam, Munabbih and others, have a high science and tsiqoh pious, but there are many who doubt and did not rule out periwayatannya no negative impact on the interpretation of the Koran and Islamic understanding. Some isra'iliyyat story that goes on the interpretation of the Qur'an such as stories, yakjuj wa makjuj, ashab kahfi, about the Prophet Isha and Maryam, Ibrahim and Ismail and others. Tafseer of the Qur'an which contains stories Qurtubi isra'iliyyat such interpretation, Tabari, Ibn Kathir and others. Isra'iliyyat influence in the interpretation of the Qur’an also has influence among hedge controversial negatively to trust the people, there is also the opinion that the inclusion of isra'iliyyat in the interpretation of the Qur'an and hadith are not always negative, but add a science.
Konsep Ideal Pendidikan Islam Menurut Pandangan Ibnu Khaldun dan Hubungannya dalam Konteks Pendidikan Modern
Ibnu Khaldun adalah salah satu tokoh pendidikan Islam, ide-idenya tentang pendidikan tertuangkan dalam bukunya yang berjudul “Muqaddimah”. Pemikiran Ibnu Khaldun tentang konsep pendidikan Islam masih relevan hingga saat ini. Konsep tersebut meliputi: pengembangan sumber daya manusia, perumusan tujuan pendidikan yang idealis dan realistis, penyusunan kurikulum sesuai dengan tahap perkembangan peserta didik, metode pengajaran yang dimulai dengan proses belajar mengajar tentang masalah yang sederhana sampai kepada masalah yang lebih komplek serta mengedepankan pendidikan karakter atau akhlakul karimah. Seperti pendidikan saat ini Ibnu Khaldun memperingatkan bahwa dalam proses belajar hubungan interaktif antara pendidik dan siswa mutlak dibutuhkan demi tercapainya tujuan pendidikan yang diharapkan
PARADIGMA TEOLOGI SOSIAL : REVITALISASI FUNGSI TEOLOGI ISLAM DALAM KONTEKS MULTIKULTURAL
This article describes about the neccesity of renewal Islamic theology within context of pluralism and multiculturalism. One of contemporary Muslim schoolars, Fethullah Gulen, could be considered among the most influential Muslim theologians of our time. His work focus on redefining the nature of Islamic discourse in the contemporary world by doing interreligious and intercultural dialogue. Nowdays, we need to shift our paradigm from classical kalam which dogmatic, abstract, and exclusive to more practical theology based on life and contemporary needs, which is called “social theology”. Gulen’s theological discourse distinguished for his support of democracy, humanisme, openness to globalization, progressiveness in integrating tradition with modernity, and to make sense of pluralistic-piety.
Penerapan Pendekatan Kritis untuk Meningkatkan Kemampuan Berbicara pada Siswa Kelas V MIN Kandai II Dompu
Peneliti bertujuan mendeskripsikan peningkatan keterampilan berbicara melalui penerapan pendekatan kritis untuk meningkatkan kemampuan berbicara pada siswa kelas V MIN Kandai II Dompu. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Penelitian tindakan kelas ini akan dilaksanakan dalam dua siklus, pada setiap siklus meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas V MIN Kandai II Dompu yang berjumlah 41 Orang. Hasil analisis data pada siklus I dan II yaitu: (1) hasil tes kemampuan berbicara siswa mengalami peningkatan, pada siklus I yaitu 66,75 % dan meningkat pada siklus II menjadi 83%; (2) Skor rata-rata aktivitas kegiatan siswa di siklus I sebesar 71,24% dan pada siklus II rata-rata yang diperoleh siswa meningkat menjadi 85,21%. Dari keseluruhan hasil pada siklus II telah memenuhi criteria yang maksimal. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penerapan pendekatan kritis dapat meningkatkan kemampuan berbicara siswa.Peneliti bertujuan mendeskripsikan peningkatan keterampilan berbicara melalui penerapan pendekatan kritis untuk meningkatkan kemampuan berbicara pada siswa kelas V MIN Kandai II Dompu. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Penelitian tindakan kelas ini akan dilaksanakan dalam dua siklus, pada setiap siklus meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas V MIN Kandai II Dompu yang berjumlah 41 Orang. Hasil analisis data pada siklus I dan II yaitu: (1) hasil tes kemampuan berbicara siswa mengalami peningkatan, pada siklus I yaitu 66,75 % dan meningkat pada siklus II menjadi 83%; (2) Skor rata-rata aktivitas kegiatan siswa di siklus I sebesar 71,24% dan pada siklus II rata-rata yang diperoleh siswa meningkat menjadi 85,21%. Dari keseluruhan hasil pada siklus II telah memenuhi criteria yang maksimal. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penerapan pendekatan kritis dapat meningkatkan kemampuan berbicara siswa
Penerapan Metode Pembelajaran Question Student Have (Qsh) untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Woja
Penelitian ini termasuk termasuk penelitian tindakan kelas, yang bertujuan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa melalui penerapan metode pembelajaran Question Student Have. Penelitian ini dilaksanakan pada kelas VIII Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Woja sebanyak dua siklus, pada materi pertumbuhan dan perkembangan pada makhluk hidup. Data tes hasil belajar dianalisis dengan menggunakan analisis ketuntasan klasikal, minimal 80% dari jumlah siswa memperoleh nilai ≥ 70. Hasil penelitian siklus I dengan nilai rata-rata hasil belajar siswa mencapai 30% selanjutnya pada siklus II 86,66%. Dari hasil penelitian tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa dengan menerapkan metode pembelajaran Question Student Have dapat meningkatkan hasil belajar siswa.Penelitian ini termasuk termasuk penelitian tindakan kelas, yang bertujuan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa melalui penerapan metode pembelajaran Question Student Have. Penelitian ini dilaksanakan pada kelas VIII Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Woja sebanyak dua siklus, pada materi pertumbuhan dan perkembangan pada makhluk hidup. Data tes hasil belajar dianalisis dengan menggunakan analisis ketuntasan klasikal, minimal 80% dari jumlah siswa memperoleh nilai ≥ 70. Hasil penelitian siklus I dengan nilai rata-rata hasil belajar siswa mencapai 30% selanjutnya pada siklus II 86,66%. Dari hasil penelitian tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa dengan menerapkan metode pembelajaran Question Student Have dapat meningkatkan hasil belajar siswa
yad amanah dan yad dhamanah (Telaah Konsep Penghimpunan Dana Pada Produk Sistem wa’diah)
Wadi'ah yang merupakan salah prinsip yang digunakan bank syari'ah dalam memobilisasi dana dalam masyarakat. Al-Wadi'ah merupakan titipan murni yang setiap saat dapat diambil jika pemiliknya menghendaki. Prinsip ini diterapkan pada produk giro. Prinsip wadiah yang dipakai adalah wadi ah yad dhamanah karena pihak yang dititipi (bank) bertanggung jawab atas keutuhan harta titipan sehingga ia boleh memanfaatkan harta titipan tersebut. Implikasinya hukumnya adalah sama dengan qardh, dimana nasabah bertindak sebagai yang meminjamkan uang dan bank sebagai pihak yang dipinjami. Hal ini berbeda dengan wadi ah amanah dimana titipan tidak boleh dimanfaatkan. Permasalahannya adalah Bagaimana dan Kapan ganti rugi Yad amanah dan yad Dhamanah terjadi? Serta Bagaimana proses beralihnya status yad amanah menjadi yad Dhamanah? Menurut Wahbah Zuhaily wadi'ah berasal dari kata wada’a berarti meninggalkan atau meletakkan sesuatu pada orang lain untuk dipelihara dan dijaga. secara etimologi berarti harta yang dititipi kepada seseorang yang dipercayai untuk menjaganya. Ulama fikih telah sepakat bahwa wadi'ah sebagai salah satu akad dalam rangka saling tolong menolong (tabarru) sesama manusia. Alasan yang mereka kemukakan tentang setatus hukum wadi'ah dalam alQur’an dan Hadits. Dalam transaksi perbankan prinsip wadi'ah al amanah dapat diterapkan pada pemberian jasa safe deposit box yang merupakan jasa titipan dimana bank hanya menyediakan fasilitas penitipan, mengatur system administrasi untuk masuk dan keluar ruang fasilitas, sedangkan kunci diserahkan kepada nasabah , bank akan membebankan fee kepada nasabah atau pengguna fasilitas box tersebut. Dalam Wadi’ah Yad Dhamanah pengaplikasian produk ini harta barang yang dititipi boleh dan dimanfaatkan oleh yang menerima titipan. Dan tidak ada keharusan bagi penerima titipan (Bank) untuk memberikan hasil pemanfaatan kepada si penitip (Nasabah). Pemberian bonus semacam jasa giro tidak boleh disebutkan dalam kontrak, dan jumlah pemberian bonus sepenuhnya merupakan kewenangan managemen bank syari'ah karena pada prinsipnya dalam akad ini penekanannya adalah titipan.Kesimpulannya adalah Ganti rugi terjadi pada wadi’ah yad Dhamanah apabila terjadi hal penerima titipan tidak bertanggung jawab atas rusaknya barang kecuali dalam beberapa hal, di antaranya, Khianat, tidak hati-hati, barang titipan tercampur dengan barang titipan yang lain dan lain sebagainya.Terjadinya perubahan status wadi’ah yad amanah menjadi wadi’ah yad Dhamanah adalah apabila orang yang ditiitpi tidak memelihara barang titipan, mengingkari tata cara pemeliharaan barang titipan, menitipkan titipan kepada orang lain, menggunakan barang titipan, berpergian dengan menggunakan barang titipan, meminjam barang titipan atau memperdagangkannya, mengembalikan barang titipan tanpa seizin muwaddi’, dan mengingkari barang titipan
Pembiasaan Shalat Berjamaah Dalam Upaya Pembinaan Akhlak Spiritual Santri (Studi Analisis Pondok Pesantren Mi’rajussibyan Nahdlatul Wathan (NW) Selanglet-Penujak-Kec. Praya Barat- Kab. Lombok Tengah- NTB)
Pondok Pesantren Mi’rajussibyan Nahdlatul Wathan (NW) Selanglet-Penujak-Kec. Praya Barat- Kab. Lombok Tengah- NTB terdiri dari tiga lembaga pendidikan yakni Taman kanak-kanak (TK), Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Madrasah Tsanawiyah Satu Atap ( MTS-SA). Obyek penelitan ini fokus pada santri MTS-SA. Santri Madrasah Tsanawiyah umumnya adalah berusia antara 12-16 tahun. Masa pubertas anak adalah masa pancaroba yang perlu diwaspadai oleh orang tua dan keluarga. Di sinilah pentingnya arti pendidikan serta pengajaran agama, dimana pendidikan agama biasanya diartikan sebagai pendidikan yang materi bahasanya berkaitan dengan keimanan, ketakwaan, akhlak dan ibadah kepada Tuhan. Dengan demikian pendidikan agama berkaitan dengan pembinaan akhlak-spiritual yang selanjutnya dapat mendasari tingkah laku manusia dalam berbagai bidang kehidupan. Ada dua masalah yang diangkat dalam penelitian ini, Pertama, bagaimana pelaksanaan shalat berjamaah di Madrasah Tsanawiyah Satu Atap Mi’rajussibyan NW Selanglet? Kedua, Bagaimana dampak pembiasaan shalat berjamaah dalam pembinaan akhlak spiritual santri di Madrasah Tsanawiyah Satu Atap Mi’rajussibyan NW Selanglet? Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi, lalu dianalisis secara deskriptif-kualitatif. Penelitian ini menemukan beberapa hal, pertama program pembiasaan shalat berjamaah ini dimulai dengan pembelajaran wudhu dan shalat dengan baik dan benar. Shalat yang dilaksanakan secara berjamah yaitu shalat Dhuha, shalat Dzuhur, shalat Jum’at dan shalat Ashar. Kedua, Pelaksanaan pembiasaan shalat berjamaah yang dilakukan di Madrasah Tsanawiyah Satu Atap Mi’rajussibyan NW Selanglet telah memberikan dampak positif bagi santri baik di dalam maupun di luar lingkungan madrasah (hablun min-annas). Dari segi hubungan vertikal (hablun min-Allah), shalat jamaah merupakan satu bentuk amal ibadah untuk mengingat Allah Swt. sebagai penciptanya yang wajib disembah. Melalui shalat jamaah akan menumbuhkan sifat optimis (kepastian) pada diri santri dan menyadarkannya bahwa dia tidak sendirian. Dampak pembiasaan shalat berjamaah terhadap pembinaan akhlak spiritual terhadap sesama manusia di Madrasah Tsanawiyah Satu Atap Mi’rajussibyan NW Selanglet antara lain santri mampu menerapkan beberapa sikap atau akhlak terpuji terhadap sesama manusia, yaitu rasa persaudaraan yang diaplikasikan melalui silaturrahmi, sopan santun terhadap setiap orang, bersikap jujur, baik perkataan maupun perbuatan, begitu pula kedisiplinannya
Peranan Kyai/Tuan Guru dalam Pembinaan Akhlak Remaja di Kabupaten Lombok Barat NusaTenggara Barat
Kyai/Tuan Guru sebagai bagian dalam komponen masyarakat dan sebagai pewaris para Nabi mempunyai tugas dan tangung jawab dalam mendakwahkan Islam, yang mana mereka berkewajiban menyampaikan kebenaran nilai nilai ajaran Islam kepada seluruh masyarakat.Berangkat dari latar belakang , maka perlu di angkat beberapa permasalahan,antara lain:Apa saja program Kyai /Tuan Guru Lombok Barat dalam Pembinaan moral remaja di Kabupaten Lombok Barat?Problematika apa saja yang dihadapi Kyai /Tuan Guru Lombok Barat dalam usaha pembinaan moral remaja di Kabupaten Lombok Barat? Pendekatan dan Jenis Penilitian. Melihat permasalahan yang dijadikan bahan pembicaraan, tujuan dan manfaatnya, maka penilitian ini menggunakan metode, pendekatan yang bersifat kualitatif deskriptif. Metode kualitatif deskriptif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif dari orang-orang (subyek) itu sendiri. Metode ini penulis gunakan karena data yang dicari adalah data deskriptif tentang bagaimana”Peranan Kyai/Tuan Guru dalam pembinaan moral remaja di Lombok Barat. Alasan penulis menggunakan analisa kualitatif adalah karena objek yang akan diteliti berupa proses atau gejala yang sedang berkembang, situasi yang sedang dialami atau kecenderungan yang telah terjadi, dalam, hal ini khususnya yang berkaitan dengan Perannan Kyai/Tuan Guru Lombok Barat (Tuan Guru Haji Ms.Uddin Tuan Guru H. Azhar Rasidi, Dr.Lemen Arjiman) Lombok Barat. Dari hasil temuan peneliti dilapangan, maka penulis dapat menarik beberapa kesimpulan.Problematika dalam pembinaan moral remaja lombok barat antara lain: Adanya pengaruh dari dalam,Perhatian orang tua kurang ,Kesadaran itu sendiri mengaplikasikan antara teori dan praktek. Pengaruh dari luar yaitu: Banyak tayangan televisi yang non Islam ,dengan canggihnya kemajuan dibidang teknologi yang semakin pesat
Rasionalitas Budaya Sasak Untuk Peningkatan Motivasi Belajar Peserta Didik
Penduduk NTB 2015 sebanyak 4.835.577 jiwa, tingkat pengaguran sebanyak 87.175 orang (3,66 %). Sebagian besar angkatan kerja kita didominasi tamatan SD :1.173.341 orang (51,12 % ), lulusan SMK 5,19 persen, SMA 4,96 persen, Perguruan Tinggi 2, 71 persen. Mata pencaharian masyarakat terbesar bergerak pada sektor pertanian : 43, 75 persen, dan tergolong tingkat berkembang cukup sulit, lainnya yaitu perdagangan 18,49 persen, Jasa sosial dan jasa perorangan 17,11 persen, Industri 8,96 persen. Pertumbuhan ekonomi masih rendah yaitu 4,7 persen, idealnya 8-10 persen. Tingkat IPM Pulau Lombok rata-rata lebih rendah dari tingkat IPM NTB sebesar 64,31 persen.Globalisasi telah membawa perubahan yang demikian cepat, dibidang ilmu pengetahuan dan revolusi digital. Rasionalisasi budaya diperlukan, untuk menangkal pengaruh negatif dari perubahan tersebut, dalam hal demikian dibutuhkan motivasi belajar yang terus semakin baik untuk mampu menghadapi perubahan itu. Data di atas dalam perubahan yang cepat, dapat menjadi bumerang terhadap motivasi belajar peserta didik. Artinya mereka bisa saja berspekulasi bahwa, belajar tidak memberikan perbaikan bagi nasib peserta didik setelah menamatkan pendidikannya. Kondisi sekarang jumlah yang menganggur, karena tidak bisa tertampung dilapangan kerja yang sudah ada, disatu sisi lapngan kerja sangat terbatas. Bisa jadi dimasa datang, akan semakin sulit. Tujuan tulisan adalah mencari solusi, sehingga motivasi belajar peserta didik terus meningkat.Metode yang digunakan adalah metode deskriptif, artinya memahami apa yang menjadi objek tulisan, mencermati berbagai situasi atau realitas sosial yang ada di masyarakat dari berbagai sumber yang dapat dipercaya, tulisan pada media online yang menjadi objek tulisan ( Burhan Bungin;68).Budaya adalah proses normatik bisa tercipta dari proses pengalaman dan yang diterima secara turun temurun dan bisa tercipta dari proses belajar, baik belajar melalui pendidikan dan pergaulan. Pendidikan memiliki dua tanggung jawab yaitu menciptakan manusia berilmu dan menciptakan manusia berbudaya. Manusia yang berilmu adalah manusia yang memiliki kompetensi ilmu, pengetahuan serta skill dan manusia yang berbudaya adalah manusia yang memiliki sikap, patuh dan taat pada norma-norma berdasarkan agama yang diyakini dan nilai budaya yang selama ini menjadi pedoman dalam kehidupan bermasyarakat.Rasionalitas budaya yaitu mencetak manusia yang mempu berpikir secara global, dan bertindak lokal, sehingga mempunyai kekuatan yang tangguh untuk menghadapi perubahan zaman yang terus menekan baik positif maupun negatif. Rasionalisasi budaya lokal diduga menjadi solusi yang signifikan untuk meningkatkan motivasi belajar peserta didik. Budaya lokal dimaksudkan disini adalah budaya suku sasak, karena kebetulan penulis warga suku sasak yang berdomisili di Lombok Nusa Tenggara Barat
Sistem Pembelajaran pada Pondok Pesantren Al-Aziziyah Kapek Gunungsari Lombok Barat (Analisis Kajian Jenis-Jenis Metode yang Diterapkan dalam Kegiatan Pembelajaran Formal dan Non Formal serta Langkah Terapannya
Keberadaan pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam di tengah-tengah kehidupan masyarakat sebagai wujud dari sikap kesadaran tokoh-tokoh mereka akan pentingnya pendidikan bagi pemenuhan kebutuhan pengetahuan dan pembinaan sikap serta keterampilan dalam berbagai aspek kehidupan baik dalam kehidupan lokal, nasional dan bahkan internasional dalam rangka membantu pemerintah mencerdasakan kehidupan bangsa agar dapat sejajar dalam kehidupan masyarakat internasional. Meskipun diakui pada awal keberadaannya sebagai lembaga pendidikan menggunakan pendekatan holistik dimana “para pengasuh pesantren memandang bahwa kegiatan belajar-mengajar (baca pembelajaran) merupakan kesatupaduan atau lebur dalam totalitas kegiatan hidup sehari-hari, sehingga bagi warga pesantren belajar tidak mengenal perhitungan waktu, kapan harus dimulai dan harus selesai, dan target apa yang harus dicapai. Warga pesantren sama mengaku bahwa ilmu agma fardu ain dipandang sakral sedangkan ilmu umum fardu kifayah tidak sakral (Mastuhu : 1994, 58). Dalam kondisi awal ini pembelajaran terpusat di masjid dengan kitab kuning sebagai kajiannya di bawah bimbingan kiyai (baca tuan guru dan atau ustadz/ustadzah).
Dalam perkembangannya pondok pesantren tidak sebatas menjalankan pendidikan non formal yang berpusat di masjid, melainkan juga menerapkan sistem pembelajaran formal di madrasah, ini tentunya sesuai dengan empat dasar bagi para kyai (baca tuan guru) dalam pengabdiannya pada masyarakat yaitu “kyai sebagai pengabdi di masjid, kyai sebagai pengabdi di madrasah, kyai sebagai pengabdi di pesantren, dan kiyai sebagai pengabdi di sekolah (Horikoshi, 1987 : 116). Sehingga dengan perkembangan ini, maka dalam pembelajaran di kelas formal dan nonformal diperlukan terapan berbagai metode secara variatif dalam upaya mencapai tujuan yang diharapkan (baik yang mengarah pada ranah kognitif/pengetahuan/ilmu, ranah afektif,sikap/iman, dan ranah psikomotorik/ keterampilan/amal) menjadi suatu keharusan bagi ustadz/ustadzah atau guru.
Penelitian dengan pendekatan kualitatif yang memanfaatkan metode observasi, wawancaran dan dokumentasi sebagai teknik pengumpulan datanya, mencoba melihat dari dekat tentang sistem pembelajaran di Pondok Pesantren Al-Aziziyah Kapek Gunungsari dengan penekanan pada terapan jenis-jenis metode dan langkah terapannya serta faktor pendukung dan penghambat dalam terapan setiap jenis metode juga langkah anitivasinya, baik di kelas formal maupun non formal. Dan data hasil penelitian berdasarkan anaisis data induktif menemukan ada 4 dari 12 metode pembelajaran umum yang diterapkan pada pembelajaran formal (Madrasah Tsnawiyah Putra-Putri, Madrasah Aliyah Putra Putri, dan Madrasah Qur’an wal Hadis/MQWH, yaitu metode ceramah, tanya jawab, penugasan/ resitasi, dan latihan/drill). Sedangkan pada pembelajaran non formal atau kajian kitab diterapkan 2 dari 4 metode pembelajaran di pondok pesantren yaitu bandongan atau wetonan, dan sorogan.
Keempat metode yang diterapkan dalam pembelajaran formal dan dua pada pembelajaran non formal dalam terapannya belum dilakukan secara maksimal (belum sesuai dengan konsep teori). Ini disebabkan karena rendahnya minat ustazd/ustadzah atau guru dalam memperkuat diri melalui kajian-kajian teori pembelajaran di samping memperkaya keterampilan yang dimiliki