Portal Jurnal Online Kopertais Wilyah IV (EKIV) - Cluster SASAMBO
Not a member yet
912 research outputs found
Sort by
Pemikiran Multikulturalisme K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Implikasinya terhadap Pendidikan Agama Islam di Indonesia
Penelitian ini dilatar belakangi oleh beragamnya agama, budaya, ras, maupun suku di Indonesia. Dalam hal ini Gus Dur sebagai tokoh multikulturalisme mencoba merangkul semua perbedaan tersebut dalam konsep pemikirannya. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis pemikiran Gus Dur tentang multikulturalisme dan implikasinya terhadap pendidikan agam Islam di Indonesia. Penelitian ini menggunakan penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan sosio-historis yang berusaha mengungkap idiologi dan biografi tokoh yang dijadikan objek dengan teknik pengumpulan data berupa menganalisis data primer dan sekunder. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa pemikiran Gus Dur tentang multikulturalisme dapat dilihat dari beberapa aspek: aspek mengenai pribumisasi Islam, nilai-nilai demokrasi dan HAM, prinsip-prinsip humanisme dan pluralitas masyarakat, serta karakteristik multikulturalisme. Semua pemikiran Gus Dur tersebut berimplikasi terhadap pendidikan agama Islam di Indonesia yang dapat dilihat dalam beberapa aspek yaitu: pendidikan agama Islam Berbasis Neormodernisme, pendidikan agama Islam Berbasis Pesantren, pendidikan agama Islam yang beragam, kurikulum, dan metode pendidikan. Kaitannya dengan pesantren, Gus Dur berusaha menginternalisasikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dengan konteks zaman tanpa menghilangkan pesan moral pesantren tersebut. Semua pemikiran Gus Dur tentang pendidikan agama Islam di Indonesia bertujuan untuk menjawab segala tantangan dan kebutuhan masyarakat modern. Elaborasinya dalam konteks sosial menjadikannya sebagai wahana untuk merangkul perbedaan dengan mengedepankan prinsip Persatuan dan Kesatuan demi terwujudnya keselarasan di bawah bingkai Bhineka Tunggal IkaPenelitian ini dilatar belakangi oleh beragamnya agama, budaya, ras, maupun suku di Indonesia. Dalam hal ini Gus Dur sebagai tokoh multikulturalisme mencoba merangkul semua perbedaan tersebut dalam konsep pemikirannya. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis pemikiran Gus Dur tentang multikulturalisme dan implikasinya terhadap pendidikan agam Islam di Indonesia. Penelitian ini menggunakan penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan sosio-historis yang berusaha mengungkap idiologi dan biografi tokoh yang dijadikan objek dengan teknik pengumpulan data berupa menganalisis data primer dan sekunder. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa pemikiran Gus Dur tentang multikulturalisme dapat dilihat dari beberapa aspek: aspek mengenai pribumisasi Islam, nilai-nilai demokrasi dan HAM, prinsip-prinsip humanisme dan pluralitas masyarakat, serta karakteristik multikulturalisme. Semua pemikiran Gus Dur tersebut berimplikasi terhadap pendidikan agama Islam di Indonesia yang dapat dilihat dalam beberapa aspek yaitu: pendidikan agama Islam Berbasis Neormodernisme, pendidikan agama Islam Berbasis Pesantren, pendidikan agama Islam yang beragam, kurikulum, dan metode pendidikan. Kaitannya dengan pesantren, Gus Dur berusaha menginternalisasikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dengan konteks zaman tanpa menghilangkan pesan moral pesantren tersebut. Semua pemikiran Gus Dur tentang pendidikan agama Islam di Indonesia bertujuan untuk menjawab segala tantangan dan kebutuhan masyarakat modern. Elaborasinya dalam konteks sosial menjadikannya sebagai wahana untuk merangkul perbedaan dengan mengedepankan prinsip Persatuan dan Kesatuan demi terwujudnya keselarasan di bawah bingkai Bhineka Tunggal Ik
KONSEP HARTA (AL-MAAL) DALAM PERSPEKTIF EKONOMI ISLAM: (Studi Kedudukan dan Konsekuensi Hukum atas Klasifikasi Harta)
Pada asasnya, harta (al-mal) dalam perspektif ekonomi Islam merupakan milik Allah yang oleh manusia sepatutnya dijadikan sebagai alat (tools), bukan tujuan, untuk mencapai falah (kesejahteraan) yang hakiki, baik di dunia maupun di akhirat. Ia merupakan kebutuhan pokok manusia yang bersifat primer (adh-dharuriyyat) yang terlindungi, sejajar dengan kebutuhan akan agama, jiwa, akal, dan keturunan. Atas dasar itu, Islam memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas orang yang mengupayakan berbagai cara yang halal untuk memperoleh harta benda dan sebaliknya menetapkan sanksi hukuman berupa had atas orang yang mengambil (mencuri) harta orang lain dengan jalan batil.
Dalam khazanah Islam, harta (al-mal) terklasifikasi ke dalam berbagai macam aspek atau sudut pandang, di mana masing-masing klasifikasi tersebut menimbulkan konsekuensi hukum tersendiri. Konsekuensi hukum ini bervariasi antara satu klasifikasi harta dengan klasifikasi yang lainnya, di mana konsekuensi yang timbul tidak jauh dari pakem sah-batal, boleh-tidak boleh, wajib-haram, berhak-tidak berhak, dan sebagainya. Setidaknya harta (al-mal) dapat diklasifikasikan berdasarkan kebolehan memanfaatkannya, keberadaan barang sejenis di pasaran, eksistensi zat benda setelah dimanfaatkan, kemungkinan dipindahkan dari satu tempat ke tempat lainnya secara wajar, status harta, kemungkinan dibagi, dan pemilik dari harta
التقييم الواقعي في تعليم اللغة العربية
Authentic Assessment in Arabic teaching needs to be developed by a teacher to evaluate the students thoroughly. Authentic assessment aims to evaluate students abilities in real-world contexts. Authentic assessment does not encourage rote learning and passive test-taking. But it focuses on students analytical skills, ability to integrate what they learn, creativity, ability to work collaboratively, and written and oral expression skills. in Arabic there are four skills that must be assessed with authentic assessment that is listening skills, speaking skills, reading skills and writing skills. in this article will be discussed about the definition, purpose, characteristics and examples of authentic assessment in Arabic teachin
PROSEDUR PEMBIAYAAN BANK SYARIAH
Pasal 1 angka 25 Undang-Undang No. 21 Tahun 2008 Tentang Perbankan Syariah mendefinisikan pembiayaan sebagai penyediaan dana atau tagihan yang dipersamakan dengan itu berupa: a) transaksi bagi hasil dalam bentuk mudharabah dan musyarakah; b) transaksi sewa-menyewa dalam bentuk ijarah atau sewa beli dalam bentuk ijarah muntahiya bit tamlik; c) transaksi jual beli dalam bentuk piutang murabahah, salam, dan istishna’; d) transaksi pinjam meminjam dalam bentuk piutang qardh; dan e) transaksi sewa-menyewa jasa dalam bentuk ijarah untuk transaksi multijasa berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara bank syariah dan/atau Unit Usaha Syariah (UUS) dan pihak lain yang mewajibkan pihak yang dibiayai dan/atau diberi fasilitas dana untuk mengembalikan dana tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan ujrah, tanpa imbalan, atau bagi hasil. Pada prinsipnya, pembiayaan merupakan suatu proses menyeluruh yang dimulai dari analisis kelayakan pembiayaan sampai kepada realisasinya. Hanya saja, realisasi pembiayaan bukanlah tahap terakhir dari proses pembiayaan. Setelah realisasi pembiayaan, bank syariah perlu melakukan pemantauan dan pengawasan pembiayaan (monitoring), karena dalam jangka waktu pembiayaan tidak mustahil terjadi pembiayaan bermasalah disebabkan beberapa alasan. Dalam hal ini bank syariah harus mampu menganalisis penyebab pembiayaan bermasalah sehingga dapat melakukan upaya untuk melancarkan kembali kualitas pembiayaan tersebut
Review Ragam Pembelajaran: Mereview Kembali Ragam Pembelajaran
Pendidikan yang berlangsung selama ini lebih banyak mengejar target formalitas dan kurikulum yang telah ditetapkan, tetapi kurang banyak menekankan pada pencapaian tujuan yang berdimensi pembentukan watak dan kepribadian (character building). Proses pembelajaran yang berkembang masih lebih banyak berorientasi pada penguasaan pengetahuan (kognitif domain) dengan menggunakan model pembelajaran yang monolog, teks book, verbalistik (meski sudah mulai banyak dikenalkan berbagai strategi pembelajaran aktif, tetapi ironis juga karena di kalangan peserta didik tidak memiliki landasan kultural yang kokoh, fasilitas yang minim, dan tenaga pendidik yang ada merupakan stok dan produk lama dengan kultur yang lama pula).Nilai itu selalu dihadapi oleh manusia dalam hidup kesehariannya. Setiap kali mereka hendak melakukan sutau pekerjaan, maka harus menentukan pilihan di antara sekian banyak kemungkinan dan harus memilih. Di sinilah nilai akan menjalankan fungsinya. Nilai menjadi ukuran untuk menghukum atau memilih tindakan atau tujuan tertentu. Nilai tidak terletak pada barang atau peristiwa, tetapi manusia memasukkan nilai ke dalamnya sehingga barang atau peristiwa itu mengandung nilai. Oleh karena itu, subjeklah yang tahu dan menghargai nilai itu. Tanpa adanya hubungan subjek atau objek itu maka nilai tidak akan ada. Suatu benda akan ada, sekalipun manusia tidak ada. Akan tetapi, benda itu tidak bernilai, manakala manusia tidak ada. Nilai menjadi tidak bernilai jika manusia tidak ada.Ada beberapa faktor yang dapat menjadi hambatan dalam pelaksanaan internalisasi nilai-nilai kepada peserta didik, antara lain: 1) Kultur masyarakat Indonesia dengan tingkat pendidikan yang relatif masih rendah, ditambah dengan multietnis dan budaya yang merupakan kondisi rentan terhadap berbagai pengaruh budaya luar yang masuk lewat kontak langsung maupun tayangan televisi. 2) Sistem pemerintahan (politik) yang dianut oleh negara berkembang pada umumnya adalah pemerintahan otoriter yang menempatkan pemerintah sangat leluasa dalam menentukan berbagai kebijakan. 3) Lembaga pendidikan itu sendiri tidak memiliki cukup konsep dan instrumen tentang pembelajaran nilai yang benar-benar dapat diandalkan untuk membina peserta didik. 4) Kondisi peserta didik (in-put) yang secara kuantitatif relatif banyak tetapi berkualitas rendah. Pendidikan nilai merupakan upaya pembentukan sikap dan tingkah laku seseorang, hal ini seperti dikemukakan oleh Smith dan Spranger, bahwa nilai-nilai mewarnai sikap dan tindakan individu karena ia harus senantiasa untuk dimiliki. Pendidikan nilai hendaknya bukan hanya sekadar tambahan (pelengkap), melainkan merupakan sesuatu yang hakiki dalam seluruh proses pendidikan. Pendidikan nilai menjadi kian penting ketika arus materialisme dan konsumerisme secara global terus mengikis nilai-nilai luhur dari kehidupan manusia, tidak hanya yang tinggal di kota-kota besar, bahkan sudah menyentuh desa-desa yang terpelosok sekalipun
Konsep Manajemen Pendidikan Islam bagi Peningkatan Mutu Pendidikan Sekolah: (Studi Analisis di Madrasah Aliyah Al-Amin Dompu)
Organisasi pendidikan sebagai lembaga yang bukan saja besar secara fisik, tetapi juga mengemban misi yang besar dan mulia untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Tentu saja memerlukan manajemen yang professional. Jika kita melihat dari sisi pengelolaan pendidikan, selama ini kurang memerhatikan prinsip efektivitas, efisiensi, dan produktivitas yang menjadi inti dari manajemen. Oleh karena itu pengelolaan pendidikan dengan manajemen yang baik adalah solusi bagi perbaikan kualitas dan mutu pendidikan sehingga tujuan pendidikan dapat tercapai secara efektif, efisien dan produktif. Dalam konteks pendidikan, pengertian mutu mencakup input, proses, dan output pendidikan. Input pendidikan adalah segala sesuatu yang harus tersedia karena dibutuhkan untuk berlangsungnya proses. Faktor penyebab rendahnya mutu pendidikan adalah masalah manajemen pengelolaan sekolah yang berkaitan erat dengan peningkatan mutu sekolah. Pada umumnya manajemen sekolah belum mampu menggali secara maksimal seluruh potensi yang ada agar dapat bersinergi dalam mendukung proses kegiatan pembelajaran yang optimal.Organisasi pendidikan sebagai lembaga yang bukan saja besar secara fisik, tetapi juga mengemban misi yang besar dan mulia untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Tentu saja memerlukan manajemen yang professional. Jika kita melihat dari sisi pengelolaan pendidikan, selama ini kurang memerhatikan prinsip efektivitas, efisiensi, dan produktivitas yang menjadi inti dari manajemen. Oleh karena itu pengelolaan pendidikan dengan manajemen yang baik adalah solusi bagi perbaikan kualitas dan mutu pendidikan sehingga tujuan pendidikan dapat tercapai secara efektif, efisien dan produktif. Dalam konteks pendidikan, pengertian mutu mencakup input, proses, dan output pendidikan. Input pendidikan adalah segala sesuatu yang harus tersedia karena dibutuhkan untuk berlangsungnya proses. Faktor penyebab rendahnya mutu pendidikan adalah masalah manajemen pengelolaan sekolah yang berkaitan erat dengan peningkatan mutu sekolah. Pada umumnya manajemen sekolah belum mampu menggali secara maksimal seluruh potensi yang ada agar dapat bersinergi dalam mendukung proses kegiatan pembelajaran yang optimal
Impelementasi Pendidikan Karakter melalui Budaya Religius di Madrasah
Budaya religius merupakan salah satu bentuk nyata dari implementasi pendidikan karakter di madrasah. Upaya tersebut, untuk mentradisikan perilaku positif (akhlak al-karimah) kepada siswa. Sehingga, budaya religius dapat terwujud melalui nilai-nilai agamis, prilaku, aktivitas, dan simbol-simbol religius (Islami). Penelitian ini bertujuan untuk menemukan: (1) implementasi pendidikan karakter melalui budaya religius; (2) dampak pendidikan karakter melalui budaya religius di Madrasah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan jenis studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam, observasi partisipan, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Implementasi pendidikan karakter melalui budaya religius, melalui nilai-nilai islami, aktivitas-aktivitas islami, dan simbol-simbol islami (2) dampak pendidikan karakter melalui budaya religius, memiliki dampak terhadap sikap spiritual, sikap sosial, dan pengetahuan
Efektifitas Model Dan Kontrol Pelayanan Pendidikan Pengawas/Supervisor Di MTSN Kota Batu
Dalam lembaga pendidikan yang baik hendaknya diterapkan model dan kontrol pelayanan pendidikan guna memonitor kegiatan yang dilakukan seseorang, Dan orang yang terlibat dalam melakukan kegiatan monitor yakni pengawas/supervisor. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi penyimpangan terhadap yang dilakukan bawahannya.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui model dan kontrol pelayanan pendidikan pengawas/supervisor di MTsN Kota Batu. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif jenis deskriptif. Metode pengumpulan datanya adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan analisis SWOT (Strenght, Weaknesses, Opportunities, Threats).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Efektifitas Model dan kontrol pelayanan pendidikan yang diberikan oleh pengawas/supervisor di MTs Negeri Kota Batu berdasarkan struktur sekolah/Madrasah yakni dimulai dari Kepala Kementrian Agama Kota, kepala sekolah dan Pembantu Kepala Madrasah (PKM). Pembantu kepala madrasah ada empat yakni bidang Kurikulum, bidang kesiswaan, bidang hubungan masyarakat, bidang sarana prasarana. Kemudian selanjutnya berhubungan dengan administrasi sekolah yang dibantu oleh Kepala Tata Usaha. Adapun bentuk pelayanan kontrol yang diberikan oleh pengawas/supervisor terkait dengan pelayanan efektif itu sendiri membudayakan adanya “budaya kontrol dan lapor” sehingga setiap kesulitan dalam menjalankan program yang akan dilakukan maka akan dilaporkan untuk meminimalisir hal-hal yang tidak diinginkan.Dalam lembaga pendidikan yang baik hendaknya diterapkan model dan kontrol pelayanan pendidikan guna memonitor kegiatan yang dilakukan seseorang, Dan orang yang terlibat dalam melakukan kegiatan monitor yakni pengawas/supervisor. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi penyimpangan terhadap yang dilakukan bawahannya.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui model dan kontrol pelayanan pendidikan pengawas/supervisor di MTsN Kota Batu. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif jenis deskriptif. Metode pengumpulan datanya adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan analisis SWOT (Strenght, Weaknesses, Opportunities, Threats).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Efektifitas Model dan kontrol pelayanan pendidikan yang diberikan oleh pengawas/supervisor di MTs Negeri Kota Batu berdasarkan struktur sekolah/Madrasah yakni dimulai dari Kepala Kementrian Agama Kota, kepala sekolah dan Pembantu Kepala Madrasah (PKM). Pembantu kepala madrasah ada empat yakni bidang Kurikulum, bidang kesiswaan, bidang hubungan masyarakat, bidang sarana prasarana. Kemudian selanjutnya berhubungan dengan administrasi sekolah yang dibantu oleh Kepala Tata Usaha. Adapun bentuk pelayanan kontrol yang diberikan oleh pengawas/supervisor terkait dengan pelayanan efektif itu sendiri membudayakan adanya “budaya kontrol dan lapor” sehingga setiap kesulitan dalam menjalankan program yang akan dilakukan maka akan dilaporkan untuk meminimalisir hal-hal yang tidak diinginkan
Kepemimpinan (Leadership) dalam Pondok Pesantren, Madrasah dan Sekolah (Tinjauan Manajemen)
Salah satu faktor yang sangat menentukan kesuksesan setiap institusi atau organisasi adalah pemimpin. Maka membicarakan pemimpin tidak akan ada habisnya, lebih-lebih ketika membicarakan mengenai kepemimpinan di lembaga pendidikan. Maju dan mundurnya lembaga pendidikan tidak terlepas dari kualitas dan gaya kepemimpinan yang digunakan atau diterapkan oleh pimpinannya. Oleh karena itu, setiap pemimpin di lembaga pendidikan baik di lembaga pendidikan seperti pondok pesantren, sekolah dan madrasah harus benar-benar memahami tugas dan tanggungjawabnya dengan baik. Setiap corak lembaga pendidikan tentunya memiliki gaya kepemimpinan tersendiri, masing-masing memiliki kelebihan dan kelemahannya, pondok pesantren misalnya, yang dipimpin oleh kiai, cendrung lebih otoriter, karena semua keputusan yang dilakukan lebih sering difikirkan sendiri tanpa melibatkan banyak peran serta masyarakat. Disebabkan juga oleh budaya di Indonesia yang masih kental budaya paternalistiknya, maka kiai adalah tokoh sentral sekaligus pemimpin yang menjadi rujukan semua keputusan dan bagaimana jalannya pondok pesantren. Berbeda dengan sekolah, kepemimpinannya lebih demokratis, karena semuanya telah diatur dengan jelas bagaimana suksesi kepemimpinan, dan semua orang yang memenuhi kualifikasi untuk menjadi pemimpin di sekolah memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi pemimpin. Kepemimpinan di sekolah juga sebenarnya bisa dibilang sebagai kordinator dalam menjalankan semua kegiatan dan program kerja lembaga pendidikannya dalam usaha mencapai tujuan, karena pada akhirnya yang bekerja adalah semua jajaran pendidik dan tenaga kependidikan yang ada di sekolah tersebut. Sedikit berbeda dengan madrasah, karena madrasah berbentuk semi sekolah umum dan semi pondok pesantren, maka corak kepemimpinannya juga memiliki gaya tersendiri, namun bagaimanapun, madarasah sekarang sudah lebih mirip dengan sekolah umum biasa. Maka kualifikasi seorang pemimpin yang ada dilembaga pendidikan umum seperti sekolah harus juga dimiliki oleh seorang pemimpin dilembaga pendidikan seperti madrasah, selain dari pada itu, gaya kepemimpinan di sekolah juga harus dibantu dengan gaya kepemimpinan yang ada di pondok pesantren dimana seorang kiai sangat dihormati karena memang memiliki kelebihannya tersendiri, seorang pemimpin di madrasah harus memiliki kharisma dan kemampuan lebih di atas kemampuan rata-rata masyarakat sekolahnya
Perempuan Sasak “Memotret Bias Gender dalam Konteks Sosio-Kultural Lombok menuju sebuah Humanisme Sosial-Spiritual”
ABSTRAK
Tulisan ini memotret konsistensi dan ketidaksesuain antara doktrin, akstualisasi dan implikasinya dengan mengasumsikan bahwa ketidakadilan dan ketidakseimbangan gender secara langsung bertolak belakang dengan prinsip humanisme di masyarakat Sasak-Lombok. berdasarkan tujuannya, gender lahir sebagai sebuah krtikan untuk menuntut kesetaraan, karena terjadi ketidakadilan antara laki-laki dan perempuan, maka gender lahir pada hakekatnya adalah sebuah terma yang digunakan untuk membedakan peran antara laki-laki dan perempuan, hasil dari rekayasa manusia sebagai akibat pengaruh sosial-kultural yang tidak bermakna kodrati, studi gender juga berupaya untuk menempatkan perempuan dan laki-laki dalam posisi yang sama sebagai bagian dari sistem sosial integratif. pendekatan yang digunakan dalam fenomena ini adalah sosiologis-kultural-normatif. Dengan demikian, hasil analisis dapat digunakan sebagai pertimbangan untuk program pemberdayaan perempuan dengan tujuan membangun potensi perempuan bahwa mereka dapat berpartisipasi dalam proses pembangunan bersama-sama dengan laki-laki demi kemajuan yang lebih bermartabat, menuju sebuah humanisme sosial-spiritual-berkeadilan