Portal Jurnal Online Kopertais Wilyah IV (EKIV) - Cluster SASAMBO
Not a member yet
    912 research outputs found

    PERAN GURU DALAM MENINGKATKAN MOTIVASI DAN KONSENTRASI BELAJAR ANAK USIA DINI

    Get PDF
    Motivasi belajar peserta didik merupakan salah satu faktor penting untuk mencapai keberhasilan belajar. Motivasi merupakan dorongan yang muncul dari diri seseorang untuk melakukan sesuatu agar mencapai tujuan. Motivasi berfungsi meningkatkan usaha peserta didik untuk belajar dan berprestasi. Motivasi yang baik dalam belajar dapat mengembangkan aktivitas, inisiatif dan ketekunan peserta didik dalam belajar. Selain motivasi, konsentrasi belajar juga sangat penting untuk ditingkatkan. Konsentrasi adalah pemusatan pemikiran kepada suatu objek tertentu. Semua kegiatan membutuhkan konsentrasi, dengan konsentrasi kegiatan tersebut dapat dikerjakan lebih cepat dan hasil yang diperoleh bisa lebih baik. Oleh karena itu konsentrasi dalam proses belajar mengajar sangat penting dan perlu dilatih. Faktor-faktor pendukung peningkatan motivasi dan konsentrasi anak dalam kegiatan pembelajaran yaitu keterampilan, kreatif dan inovatif guru dalam mengajar, serta dibutuhkan bimbingan konsling untuk anak agar guru mengetahui apa yang diinginkan seorang anak. Selanjutnya, hambatan-hambatanya adalah kurangnya kerjasama antara guru dengan kepala sekolah dalam menagangani setiap permasalahan yang dialami oleh anak, sarana prasarana yang kurang, tempat dan lingkungan yang sangat kecil. Sebagai alternatif dari hambatan-hambatan tersebut adalah kerjasama seorang guru dan kepala sekolah harus ditingkatkan, guru harus lebih proaktif dalam mengajar dan penataan lingkungan sekolah yang bai

    PENDIDIKAN TEKNOHUMANISTIK ETIK (Suatu Rangkaian Perspektif Dan Kebijakan Pengmbangan Pendidikan Menghadapi Tantangan Global)

    Get PDF
    Ciri utama abad milinium ini adalah terjadinya globalisasi pada setiap aspek kehidupan. Globalisasi mengandung arti terjadinya keterbukaan, kesejagatan, dimana batas-batas negara tidak lagi menjadi penting. Salah satu yang menjadi trend dan merupakan ciri globalisasi adalah adanya persamaan hak. Dalam konteks pendidikan, persamaan hak itu tentunya berarti bahwa setiap individu berhak mendapat pendidikan yang setinggi-tingginya dan sebaik-baiknya tanpa memandang bangsa, ras, latar belakang ekonomi, maupun jenis kelamin. Dengan adanya kesamaan hak ini, terjadi kehidupan yang penuh dengan persaingan karena dunia telah menjadi sangat kompetitif. Karena itu, mau tidak mau setiap orang mesti berusaha untuk menguasai ilmu dan teknologi agar dapat ikut dalam persaingan. Terkait dengan itu, pendidikan mesti dapat menjawab tantangan tersebut. Dengan kata lain, pendidikan harus menyediakan kesempatan bagi setiap peserta didik untuk memperoleh bekal pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai sebagai bekal mereka memasuki persaingan dunia yang kian hari semakin ketat itu. Di samping kesempatan yang seluas-luasnya disediakan, namun yang penting juga adalah memberikan pendidikan yang bermakna (meaningful learning). Karena, hanya dengan pendidikan yang bermakna peserta didik dapat dibekali keterampilan hidup, sedangkan pendidikan yang tidak bermakna (meaningless learning) hanya akan menjadi beban hidup. Kehidupan ke depan adalah sangat berat, penuh tantangan dan kompetitif, dan untuk itu perlu penataan kehidupan dalam berbagai hal termasuk aspek pendidika

    Pendekatan Studi Islam: Pendekatan Fenomenologi dalam Kajian Islam

    Get PDF
    Pendekatan fenomenologis berusaha mempelajari dan memahami berbagai gejala keagamaan sebagaimana apa adanya dengan cara membiarkan manifestasi-manifestasi pengalaman agama berbicara bagi dirinya sendiri. Pendekatan ini muncul pada akhir abad ke-20, terutama karena pengaruh filsafat yang dikembangkan Edmund Husserl. Fenomenologi lahir dan diterapkan dalam studi agama sebagai suatu metode penelitian ilmiah yang dilawankan dengan pendekatan-pendekatan teologis. Ada dua hal yang menjadi karakteristik pendekatan fenomenologi. Pertama, bisa dikatakan bahwa fenomenologi merupakan metode untuk memahami agama orang lain dalam perspektif netralitas, dan menggunakan preferensi orang yang bersangkutan untuk mencoba melakukan rekonstruksi dalam dan menurut pengalaman orang lain tersebut. Aspek Kedua dari pendekatan fenomenologi adalah mengkonstruksi rancangan taksonomi untuk mengklasifikasikan fenomena masyarakat beragama dan berbudaya. Pusat perhatian fenomenologi agama sebenarnya hanya terfokus kepada pencarian esensi, makna dan struktur fundamental dari pengalaman keberagamaan manusia. Di dalam pengalaman keberagamaan manusia tersebut terdapat esensi yang irridecible yang merupakan struktur fundamental keberagamaan manusia. Pendekatan fenomenologi dapat diartikan sebagai upaya-upaya yang dilakukan untuk melahirkan satu disiplin tersendiri yang bersifat obyektif dalam kajian agama yang disertai dengan metodologi tersendiri pula. Mudahnya, pendekatan fenomenologi adalah pendekatan yang mencoba menggabungkan sifat obyektif dan subjektif yang ada dalam diri setiap pengkaji agama. Contoh Pendekatan Fenomenologi di antaranya: pertama acara tahlilan adalah acara do’a bersama yang diadakan di rumah keluarga orang yang meninggal. Kedua berziarah yakni berkunjung ke makam atau kuburan untuk mendoakan almarhum/almarhumah. Ketiga sekatenan, dan grebeg mulud. Upacara sekatenan diciptakan Sunan Bonang dalam rangka menyambut hari Maulud Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada bulan Rabiul Awal tahun Hijriah. Fenomenologi sebagai metode berpikir merupakan suatu yang progresif karena usahanya untuk mengembalikan hal-hal yang hakiki yang bersangkutan dengan kehidupan manusia. Sebagai suatu usaha untuk mempertahankan logos dalam modernitas, fenomenologi berhasil memperlihatkan sisi-sisi pra-reflektif kehidupan sehari-hari yang membentuk pengalaman mengenai modernitas ini sebagai a shared public world.Pendekatan fenomenologis berusaha mempelajari dan memahami berbagai gejala keagamaan sebagaimana apa adanya dengan cara membiarkan manifestasi-manifestasi pengalaman agama berbicara bagi dirinya sendiri. Pendekatan ini muncul pada akhir abad ke-20, terutama karena pengaruh filsafat yang dikembangkan Edmund Husserl. Fenomenologi lahir dan diterapkan dalam studi agama sebagai suatu metode penelitian ilmiah yang dilawankan dengan pendekatan-pendekatan teologis. Ada dua hal yang menjadi karakteristik pendekatan fenomenologi. Pertama, bisa dikatakan bahwa fenomenologi merupakan metode untuk memahami agama orang lain dalam perspektif netralitas, dan menggunakan preferensi orang yang bersangkutan untuk mencoba melakukan rekonstruksi dalam dan menurut pengalaman orang lain tersebut. Aspek Kedua dari pendekatan fenomenologi adalah mengkonstruksi rancangan taksonomi untuk mengklasifikasikan fenomena masyarakat beragama dan berbudaya. Pusat perhatian fenomenologi agama sebenarnya hanya terfokus kepada pencarian esensi, makna dan struktur fundamental dari pengalaman keberagamaan manusia. Di dalam pengalaman keberagamaan manusia tersebut terdapat esensi yang irridecible yang merupakan struktur fundamental keberagamaan manusia. Pendekatan fenomenologi dapat diartikan sebagai upaya-upaya yang dilakukan untuk melahirkan satu disiplin tersendiri yang bersifat obyektif dalam kajian agama yang disertai dengan metodologi tersendiri pula. Mudahnya, pendekatan fenomenologi adalah pendekatan yang mencoba menggabungkan sifat obyektif dan subjektif yang ada dalam diri setiap pengkaji agama. Contoh Pendekatan Fenomenologi di antaranya: pertama acara tahlilan adalah acara do’a bersama yang diadakan di rumah keluarga orang yang meninggal. Kedua berziarah yakni berkunjung ke makam atau kuburan untuk mendoakan almarhum/almarhumah. Ketiga sekatenan, dan grebeg mulud. Upacara sekatenan diciptakan Sunan Bonang dalam rangka menyambut hari Maulud Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada bulan Rabiul Awal tahun Hijriah. Fenomenologi sebagai metode berpikir merupakan suatu yang progresif karena usahanya untuk mengembalikan hal-hal yang hakiki yang bersangkutan dengan kehidupan manusia. Sebagai suatu usaha untuk mempertahankan logos dalam modernitas, fenomenologi berhasil memperlihatkan sisi-sisi pra-reflektif kehidupan sehari-hari yang membentuk pengalaman mengenai modernitas ini sebagai a shared public world

    Kesetaraan Gender dalam Perspektif Al-Qur'an

    Get PDF
    Sejarah menunjukkan bahwa perempuan pada masa awal islam mendapat penghargaan tinggi. Islam mengangkat harkat dan martabat perempuan dari posisi yang kurang beruntung pada zaman jahiliyah. Di dalam al-Qur’an persoalan kesetaraan laki-laki dan perempuan ditegaskan secara eksplisit. Meskipun demikian, masyarakat muslim secara umum tidak memandang laki-laki dan perempuan secara setara. Akar medalam yang mendasari penolakan dalam masyarakat muslim adalah keyakinan bahwa perempuan adalah makhluk Allah SWT yang lebih rendah karena diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok. Selain itu, perempuan dianggap sebagai makhluk yang kurang akalnya sehingga harus selalu berada dalam bimbingan laki-laki. Akibatnya, produk-produk pemikiran islam sering memposisikan perempuan sebagai subordinat. Kenyataan ini tentu sangat memprihatinkan, karena islam pada prinsipnya menjunjung tinggi kesetaraan dan tidak membedakan manusia berdasarkan jenis kelamin. Oleh karena itu, doktrin maupun pandangan yang mengatasnamakan agama yang sarat dengan praktik diskriminatif sudah selayaknya dikaji ulang, jika ingin islam tetap menjadi rahmat bagi seluruh alam. Analisis gender lebih tepatnya adalah memilah kekuatan yang menciptakan atau melanggengkan ketidakadilan dengan mempertanyakan siapa berbuat apa, siapa memiliki apa, siapa yang diuntungkan dan siapa yang dirugikan, siapa yang memutuskan, laki-laki atau perempuan? Kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dalam sebuah keluarga, bukan berarti memposisikan laki-laki dan perempuan harus diperlakukan sama. Memperlakukan laki-laki dan perempuan secara sama dalam semua keadaan justru menimbulkan bias gender. Memperlakukan sama antara laki-laki dan perempuan dalam kerja rumah tangga pada satu keadaan, misalnya, suami juga berkewajiban mengurus anaknya, sama halnya isteri memiliki kewajiban mengurus anaknya. Artinya, kewajiban mengurus anak tidak mutlak menjadi kewajiban isteri semata, tetapi merupakan kewajiban bersama

    EVALUASI PROGRAM PEMBINAAN TENAGA PENDIDIK DI SDN 2 BUWUN MAS KECAMATAN SEKOTONG

    Get PDF
    Abstract : The purpose of this research is to get information objectively and to investigate effectively the Teacher Training Program (TTP) at The Islamic State College of Kudus. This research is an evaluation study employing CSE-UCLA models by Marvin C. Alkin with his five stage of evaluations (system assessment, program planning, ­program imple­­­mentation, program improvement and program certification). The object of this study is learners, tutors, infrastructure, learning activity and the products. The data were collected through observation, interview, documentation analysis, and questionnaires. A descriptive technique is used to analyze the data collected, gives interpretation of each data which are evaluated and compared with criterion of Teacher Training Program based on standardization. The result of this research referred that in system assessment stage, the program is relevant to the context. It means, that the program is based on the actual needs of the learners and have the legal foundation. At the planning program, shown that the quality of tutors is in a good enough condition by 58,4%, but the quality of learners is in a poor condition, in five criteria gave, four of it is on poor level and just one criteria who get a good enough result. Generally, the infrastructure of this program is in good condition by 83,3%. But the weakness of this program is have no a syllabus. Generally, in program implementation is in a good condition, it mean that before the program began, the administrator do the socialization of program to the learner. But the recruitment of tutors is not good enough because half of them selected by administrators without a test like others. But, It’s not happened at the recruitment of learner, because all of learners have to take a placement test before. In program improvement stage shown that the implementation of tutorials is done good enough by 58,6%, and the learning activity of learners is good enough too, by 59,1%, and the evaluation is 100% done by all of tutors. Last, in program certification stage referred that 90,4% of the learners passed. Although in program improvement and program certification shown a good enough result, but its not mean that the desire objective of TTP is met, because there is no syllabus on it. So the result is hang in doubt

    Pengembangan Zakat sebagai Instrumen Ekonomi Islam antara Idealitas dan Realitas

    Get PDF
    Zakat merupakan sumber dana yang mantap pencairannya baik secara sukarela maupun kewajiban. Jika pengeluaran zakat kepada pemerintah secara sukarela banyak terjadi karena ketaatan kaum muslimin pada pendekatan hati, mereka lebih kuat dari pada pengorbanan apapun, akan tetapi adanya pengingkaran pembayaran zakat mengharuskan pemerintah untuk mengambil secara paksa. Kewjiban zakat sangat mendukung para penyimpan harta untuk mengaktifkan harta simpanannya (menginvestasikan) dengan cara dapat menambah daya produktivitas untuk ekonomi. Dengan demikian mendorong untuk investasi dalam ekonomi Islam lebih kuat dibandingkan dorongan yang ada dalam ekonomi lain. Terjadinya pengeluaran zakat dari hasil keuntungan bersih investasinya dan perlindungan terhadap aset pokok serta pengembangannya.     Kata kunci: Zakat, antara Idealitas dan Realita

    E EFEKTIVITAS METODE EKLEKTIK DALAM PEMBELAJARAN BAHASA ARAB

    No full text
    Bagi pendidik sangat penting untuk mengetahui faktor-faktor yangbisamengendalikan  proses pembelajaran sehingga terjadi proses belajar yang optimal. Salah satu faktor yang dimaksud adalah faktor metode, metode merupakan salah satu komponen utama dalam proses belajar mengajar, sehingga seorang guru harus betul-betul menguasai metode dalam pencapaian tujuan pembelajaran  yang optimal. Dalam pembelajaran Bahasa Arab terdapat berbagai macam metode mengajar atau teknik penyajian yang dapat dimanfaatkan oleh guru dalam tugasnya, namun perlu dipahami bahwa setiap jenis metode atau teknik penyajian hanya sesuai untuk mencapai suatu tujuan yang tertentu pula.Jadi untuk tujuan yang berbeda guru harus menggunakan metode yang berbeda pula dari macam-macam metode mengajar itu ada yang mengutamakan dan menekankan peranan guru, ada juga yang menekankan pada media serta ada juga yang hanya digunakan untuk jumlah siswa yang tidak terbatas. Dalam kesempatan ini penulis menggunakan pendekatan kualitatif hal ini dilakukan untuk mencari data-data yang bersifat informasi, uraian dalam bentuk bahasa, proses yang kemudian dikaitkan dengan data lainnya untuk menguatkan gambaran yang sudah ada. Jadi bentuk pendekatan ini dilakukan berdasarkan penjelasan-penjelasan. Dari hasil analisa dan evaluasi  yang penulis telah lakukan penulis melihat sejauh mana penguasaan anak atau siswa terhadap materi yang telah dipelajari, dimana kelemahan anak dalam penguasaan materi, dan langkah apa yang harus dilaksanakan oleh guru setelah melihat hasil evaluasi pembelajaran. Apakah guru memberikan pengayaan atau mengadakan remedial terhadap materi yang ada. Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara yang penulis telah laksanakan, penerapan metode eklektik dalam pembelajaran Bahasa Arab di Madrasah Aliyah Al-Ishlahuddiny telah sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran yang efektif pada umumnya, yaitu langkah persiapan (prepare), penyajian (present), dan penilaian (evaluasting)

    K KONTRUKSI NASIONALISME RELIGIUS: “Narasi Cinta Kebangsaan Religius dalam Karya Sastra Maulana al-Syaikh Tuan Guru Kiai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid”

    No full text
    Maulana al-Syaikh Tuan Guru Kiai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid adalah figur sentral di Lombok yang berjasa merekonstruksi dan bahkan mampu mendekonstruksi semangat kebangsaan religius pada masa penjajahan Belanda dan Jepang. Ia mampu menggelorakan semangat juang masyarakat Lombok melalui lembaga khusus yang didirikannya untuk melawan penjajah dengan menginternalisasikan terlebih dahulu nilai-nilai ‘Hubb al-Wathan’ kepada santrinya melalui pendidikan yang didirikan pertama kali yang diberi nama ‘al-Mujahidin’. Dalam konteks ini, dapat dilihat ide dan semangat kebangsaan religius yang digelorakan kepada masyarakat waktu itu yang mendapat bimbingan langsung dari Maulana al-Syaikh Tuan Kiai Guru Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid (Hamzanwadi). Pada aspek inilah yang menjadi perhatian penulis terkait konsep nasionalisme religius yang diusungnya. artikel ini bertujuan untuk mengetahui konstruksi pemikiran nasionalisme-religius Maulana al-Syaikh Tuan Guru Kiai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid dalam karya-karya sastranya. Dari sekian banyak karya sastranya, tulisan ini terfokus pada satu karya sastra yang berjudul Mars Nahdlatul Wathan. Data-data yang diperoleh dari karya-karya tersebut dianalisis melalui teori hermeneutika, suatu pendekatan ilmiah yang menghubungkan antara pembaca (qari) dengan teks (al-Maqru’)

    SKETSA GENERAL PRODUK DAN JASA BANK SYARIAH

    Get PDF
    Sebagian produk perbankan syariah saat ini, sebenarnya merupakan perpaduan antara praktik-praktik perbankan konvensional dengan prinsip-prinsip dasar transaksi ekonomi Islam. Namun demikian, dengan keluwesannya, produk-produk perbankan syariah menjadi sangat luas dan lebih lengkap dibandingkan dengan produk-produk perbankan konvensional. Produk-produk seperti giro, tabungan dan kredit yang dikenal di dalam perbankan konvensional, ternyata dapat juga ditemui di dalam praktik perbankan syariah sebagai giro wadi’ah, tabungan wadi’ah, dan pembiayaan. Namun, ada beberapa produk perbankan syariah yang tidak dikenal dalam perbankan konvensional, seperti transaksi gadai, sewa, pinjaman kebajikan, dan lain sebagainya. Pada dasarnya, produk-produk yang ditawarkan oleh perbankan syariah dapat dibagi menjadi tiga bagian besar, yaitu: Produk Penyaluran Dana (Financing), Produk Penghimpunan Dana (Funding), dan Produk Jasa (Services)

    Potret Lembaga Pendidikan Islam Perspektif Budaya

    Get PDF
    MUZAKKIR WALAD IAI Hamzanwadi NW Lombok Timur, [email protected]   Abstrak:  Pendidikan tidak akan punya arti apabila manusia tidak ada di dalamnya. Hal ini disebabkan, karena manusia merupakan subjek dan objek pendidikan. Artinya, manusia tidak akan bisa berkembang dan mengembangkan kebudayaannya secara sempurna apabila tidak ada pendidikan. Untuk itu, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa eksistensi pendidikan merupakan salah satu syarat yang mendasar untuk meneruskan dan mengekalkan kebudayaan manusia. Di sini, fungsi pendidikan berupaya menyesusaikan atau mengharmonisasikan kebudayaan lama dengan kebudayaan baru secara proporsional dan dinamis. Pada tataran inilah menjadi fokus kajian dalam tulisan ini. Di mana lembaga pendidikan Islam perspektif budaya harus berjalan sesuai dengan konteks dan kebutuhan sosial. Karena perkembangan dunia yang dibaluti dengan kecanggihan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin berkembang dan dinamis menuntut lembaga pendidikan Islam ikut serta menyesuaikan diri di dalamnya agar tidak dimakan oleh zaman.  Oleh karena itu, lembaga pendidikan Islam harus menyesuaikan diri dengan budaya di mana dia harus beroperasi. Karena lembaga pendidikan Islam pada dasarnya adalah sebagai wadah untuk mentransformasikan nilai-nilai Islam di dalamnya kepada peserta didik supaya bisa bertahan ditengah budaya yang selalu dinamis dan terus berubah sesuai dengan konteks. Di sinilah salah satu esensi ajaran Islam yang selalu relevan dengan konteks zamannya yang dikenal dengan istilah “rahmatan lil ‘alamin”. Mengandung pengertian bahwa Islam untuk semua manusia yang memiliki budaya yang beragam.   &nbsp

    722

    full texts

    912

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Portal Jurnal Online Kopertais Wilyah IV (EKIV) - Cluster SASAMBO
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇