Portal Jurnal Online Kopertais Wilyah IV (EKIV) - Cluster SASAMBO
Not a member yet
912 research outputs found
Sort by
Sistem Akad Mudharabah dalam Perekonomian Islam
Sistem mudharabah adalah bagian dari produk perbankan syariah yang unik, karena memiliki perbedaan filosofis antara sistem perbankan konvensional dengan perbankan syariah yang menganut sistem bagi keuntungan atau kerugian. Mudharabah ialah kemanpuan untuk bermitra dengan yang mempunyai modal (shahib al-mal) dan orang yang mendirikan usaha (mudharib), dengan maksud untuk memperoleh untung (al-ribh) dan dilakukan pembagian dari hasil keuntungan tersebut sesuai dengan kesepakatan dalam akad. Terkait dengan sistem mudharabah tersebuat dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu; mudharabah muthlaqah (investasi tidak terikat) dan mudharabah muqayyadah (investasi terikat). Implementasi mudharabah ditentukan dalam undang-undang perbankan syariah yang sesuai sistem syariah Islam. Pengaturan mudharabah menurut perspektif hukum Islam terkodefikasi pada literatur klasik berupa sistem syariah dari hasil ijtihad para ulama sesuai konteks zaman yang bercorak tradisional, sedangkan pada zaman moderen pengaturan mudharabah merupakan bagian dari bisnis perbankan syariah, sesuai dengan fatwa Dewan Syariah Nasional. Sistem mudharabah dalam pandangan syariah Islam telah disebutkan secara jelas dalam undang-undang perbankan syariah dan peraturan Bank Indonesia ditentukan aturan pelaksanaannya. Penggunaan sistem mudharabah tersebut sesui dengan pejanjian antara pemilik modal dan penerima modal pada saat akad
Peningkatan Hasil Belajar Materi Sistem Hukum di Indonesia Melalui Model Pembelajaran Problem Based Learning Siswa Kelas XI IBB 1 SMA IT
Penelitian ini berjudul:“ Peningkatan Hasil Belajar Materi Sistem Hukum di Indonesia Melalui Model Pembelajaran Problem Based Learning Siswa Kelas XI IBB 1 SMA IT. Tujuan Penelitian ini adalah untuk Meningkatkan Hasil Belajar Mata Pelajaran PPKn Materi Sistem Hukum di Indonesia Melalui Model Pembelajaran Problem Based Learning Siswa Kelas XI IBB 1 SMA IT.
Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah Penelitian Tindakan (Action Research) yang terdiri dari 2 (dua) siklus, dan setiap siklus terdiri dari: Perencanaan, Pelaksanaan, Pengamatan, dan refleksi. Berdasarkan hasil penelitian tindakan bahwa Model Pembelajaran Problem Based Learning dapat Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan Siswa Kelas Kelas XI IBB 1 SMA IT.
Selanjutnya peneliti merekomendasikan: (1) Bagi Guru yang mendapatan kesulitan yang sama dapat menerapkan Model Pembelajaran Problem Based Learning untuk meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan Siswa Kelas XI IBB 1 Agar mendapatkan hasil yang maksimal maka dihaharapkan guru lebih memahami Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)
PENDIDIKAN KELUARGA DALAM PERBAIKAN MORALITAS REMAJA
Remaja merupakan salah satu kelompok usia yang rentan terhadap permasalahan moralitas dan perilaku negatif. Fenomena ini menarik perhatian banyak pihak karena dampaknya terhadap masa depan individu dan masyarakat. Salah satu faktor penting dalam membentuk moralitas remaja adalah pendidikan keluarga. Pendidikan keluarga mempunyai peran yang urgendidalam membentuk moralitas remaja. Dimana lingkungan keluarga mmerupakan lingkungan yang utama dan pertama di mana remaja memperoleh nilai-nilai, norma, dan sikap terhadap hidup. Ketika keluarga memberikan pendidikan moral yang kuat dan konsisten, remaja cenderung memiliki landasan moral yang kokoh. Selain itu, komunikasi yang terbuka antara orang tua dan remaja juga memiliki peran penting dalam membentuk moralitas remaja. Ketika orang tua mampu mendengarkan dan memahami perasaan serta perspektif remaja, mereka dapat memberikan bimbingan moral yang lebih efektif dan relevan dengan tantangan yang dihadapi remaja saat in
Analisis Keterampilan Bertanya Mahasiswa pada Mata Kuliah Strategi Pembelajaran Pendidikan Agama Islama di IAIN Manado
The emergence of a knowledge always begins with a question. Students have good questioning skills which are one of the benchmarks for gathering information, informing what is known, and directing what is not known. The purpose of this study was to determine the impact of lecturer policies on the quantity and quality of students' ability to ask questions based on Bloom's taxonomy which has been revised in the course of Islamic Religious Education Material Development course. The method in this research is descriptive qualitative method. This research was conducted at FTIK IAIN Manado with the research respondents being all 5th semester C grade students, totaling 33 students. Based on the data obtained, it shows that the number of students who asked questions was 96%. The quality of the questions in this study was 40.62% in the category of low-level questions and 59.3% indicated that students asked questions in the high-level question category. Based on these results, it can be concluded that the student's ability to ask questions is classified as high, seeing from the most data, although not significant, so it is felt that it needs to be improved and developed.Munculnya suatu pengetahuan selalu dimulai dengan suatu pertanyaan. Mahasiswa memiliki kemampuan bertanya yang baik merupakan salah satu tolak ukur untuk menggali informasi, menginformasikan apa yang diketahui, dan mengarahkan apa yang belum diketahui. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak dari kebijakan dosen terhadap kuantitas dan kualitas kemampuan bertanya mahasiswa berdasarkan taksonomi Bloom versi terbaru pada perkuliahan mata kuliah Pengembangan Materi Pendidikan Agama Islam. Metode dalam hal ini penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Penelitian ini dilakukan di FTIK IAIN Manado dengan responden penelitian adalah seluruh mahasiswa kelas C semester 5 yang berjumlah 33 mahasiswa. Berdasarkan data yang diperoleh menunjukkan bahwa jumlah siswa yang bertanya adalah 96%. Kualitas pertanyaan dalam penelitian ini adalah sebanyak 40,62% dengan kategori pertanyaan pada tingkat rendah dan sebanyak 59,3% menunjukan mahasiswa mengajukan pertanyaan pada kategori pertanyaan tingkat tinggi. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa kemampuan bertanya mahasiswa tersebut tergolong tinggi melihat dari data terbanyak meskipun tidak signifikan, sehingga dirasa perlu ditingkatkan dan dikembangka
Peran Pesantren dalam Mengatasi Kemerosotan Moral Era 5.0
Pesantren education has existed in Indonesia since before independence. Pesantren is one of the most famous Islamic educational institutions to date. There are so many roles of pesantren in producing a great Islamic generation that can compete in the world arena. In the current era, moral education is something that is a concern to overcome. To overcome this, pesantren education can be a step of change to produce a young generation with Islamic morals. Moral decay in this modern era can be a trigger for negative things to happen in the surrounding environment, so it is very important to instill moral education early on to the nation's next generation.Pendidikan pesantren telah ada di Indonesia sejak masa sebelum kemerdekaan. Pesantren adalah salah satu lembaga pendidikan islam yang sangat terkenal hingga saat ini. Banyak sekali peran pesantren dalam mencetak generasi islami yang hebat dan dapat bersaing di kancah dunia. Di era sekarang pendidikan moral adalah sesuatu yang menjadi perhatian untuk diatasi. Untuk mengatasi hal itu pendidikan pesantren dapat menjadi langkah perubahan guna mencetak generasi muda yang berakhlak islami. Kerusakan moral di era modern ini dapat menjadi pemicu terjadinya hal hal negatif di lingkungan sekitar, untuk itu sangat penting menanamkan pendidikan moral sejak dini kepada generasi penerus bangsa
Dampak Multikulturalisme terhadap Pendidikan Islam
This paper aims to discuss the impact of multiculturalism on Islamic education through a literature review. Multiculturalism is a global phenomenon that affects people's lives in various aspects including education. In the context of Islamic education, multiculturalism influences the paradigms, methods, and curriculum of Islamic education. This paper uses qualitative methods using a phenomenological approach. Phenomenology is the science that studies phenomena or symptoms. Data tracing is carried out through various literary sources such as books, journals, and scientific articles related to the theme discussed. The findings of this study reveal that multiculturalism has a significant impact on Islamic education, where the paradigm shift of Islamic education becomes more inclusive and adaptive. The requirements for multiculturalism education can work if there is tolerance, respect for differences, and cooperation. In developing a multicultural curriculum, teaching materials are needed that accommodate student diversity, and the establishment of a learning environment that is inclusive and respects differences. Thus, Islamic education can develop a more inclusive paradigm and accommodate diversity in society. The challenges of implementing multiculturalism in Islamic education are differences in religious interpretations, stereotypes and prejudices, controversies over the use of language, and local cultural influences.Tulisan ini bertujuan untuk membahas dampak multikulturalisme terhadap pendidikan Islam melalui tinjauan literatur. Multikulturalisme adalah sebuah fenomena global yang mempengaruhi kehidupan masyarakat dalam berbagai aspek termasuk pendidikan. Dalam konteks pendidikan Islam, multikulturalisme mempengaruhi paradigma, metode, dan kurikulum pendidikan Islam. Tulisan ini menggunakan metode kualitatif dengan menggunakan pendekatan fenomenologi. Fenomenologi merupakan ilmu yang mempelajari fenomena atau gejala. Penelusuran data dilakukan melalui berbagai sumber literatur seperti buku, jurnal, dan artikel ilmiah terkait dengan tema yang dibahas. Temuan penelitian ini mengungkapakan bahwa, multikulturalisme memberikan dampak yang signifikan terhadap pendidikan Islam, dimana perubahan paradigma pendidikan Islam menjadi lebih inklusif dan adaptif. Adapun syarat pendidikan multikulturalisme dapat berjalan apabila adanya toleransi, menghargai perbedaan, dan kerjasama. Dalam mengembangkan kurikulum multikultural, diperlukan bahan ajar yang mengakomodasi keberagaman siswa, dan pembentukan lingkungan belajar yang inklusif dan menghormati perbedaan. Dengan demikian, pendidikan Islam dapat mengembangkan paradigma yang lebih inklusif dan mengakomodasi keberagaman dalam masyarakat. Adapun tantangan mengimplementasikan multikulturalisme dalam pendidikan Islam yakni adanya perbedaan interpretasi agama, stereotip dan prasangka, kontroversi atas penggunaan bahasa, dan pengaruh budaya lokal
Format Pendidikan Agama Islam Ideal di Era Globalisasi
Pendidikan agama Islam saat ini mengalami masa peralihan dari segi system pendidikannya baik itu kurikulum maupun lembaga pendidikannya. Tulisan ini memberikan gambaran umum bagaimana format pendidikan agama Islam yang ideal di era globalisasi, melihat banyaknya tuntutan yang mengharuskan guru aktif disegala bidang tidak hanya pada bidang tertentu saja. Arus globalisasi tidak dapat dibendung oleh pendidikan agama Islam, tetapi dapat dijadikan ssebagai dinamisator. Apabila pendidikan agama Islam menyatakan diri bahwa tidak akan merangkul globalisasi dalam artian tidak menerima keberadaan globalisasi maka pendidikan agama Islam akan stagnan dan tidak bergerak serta akan menghambat pertumbuhan intelektual intelektual baik bagi peserta didik maupun tenaga pendidik.
Key Word: Pendidikan Agama Islam, Ideal, Globalisas
Implementasi Media Pembelajaran oleh Guru PAI dalam Meningkatkan Minat Belajar Siswa di SDN 2 Wakan Kecamatan Jerowaru Kabupaten Lombok Timur
Penelitian ini dilatar belakangi oleh pentingnya pedidikan bagi setiap individu yang mana dalam proses pedidikan ada istilah pembelajaran yang di lakukan oleh guru yang berperan sebagai pasilitator dan murid sebagai pelajar dan dalam proses belajar ada media yang berpungsi untuk menarik minat belajar siswa, terutama pada pendidikan agama islam, dengan alasan tersebut dapat mendorong guru PAI untuk harus mampu menganalisis siswanya, dengan tujuan dapat meningkatkan minat belajar mereka di mata pelajaran PAI.Tujuan peneliti yaitu Untuk mengetahui implementasi Media Pembelajaran Oleh Guru PAI Dalam Meningkatkan Minat Belajar Siswa di SDN 2 Wakan, dan untuk mengetahui kendala-kendala implementasi Media Pembelajaran Oleh Guru PAI Dalam Meningkatkan Minat Belajar Siswa di SDN 2 Wakan. Teknik pengumpulam data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1).Terdapat berbagai macam bentuk pengimlementasian media pembelajaran, mulai dari pembelajaran berbasis cetakan, berbasis visual, dan juga pembelajaran dengan komputer. (2).Terdapat beberapa kendala implementasian media pembelajaran dalam wawancara dengan seperti masalah media yang monoton di karnakan berputar pada tiga media itu saja, kelengakapan siswa yang disebabkan wilayah yang masih pelosok
Penerapan Metode Kooperatif Tipe Number Heads Together (NHT) untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Tema 4 Sub Tema 1 Jenis-jenis Pekerjaan di Kelas IV MI NW Montong Mas
The problem in this research is the low interest of students in learning Theme 4 Sub Theme 1 Types of Work in Class IV MI NW Montong Mas, low learning outcomes, teachers who do not motivate students or the learning process is less interesting and learning facilities are limited. The problem solving used to overcome this problem is by using the Number Heads Together (NHT) Cooperative learning model. The objectives of this research are 1). To find out the application of the Number Heads Together (NHT) cooperative method to learning outcomes 2). To determine learning planning using the Number Heads Together (NHT) model and 3). To find out the implementation of learning using the Number Heads Together (NHT) method. This study used classroom action research and was conducted in two cycles. Each cycle consists of four stages, namely planning, action, observation or observation, and reflection. Data collection is obtained through observation, tests and documentation. The subjects of this research were class IV students at MI NW Montong Mas for the 2020/2021 academic year. The variables in this research are student learning outcomes in theme 4 sub theme 1 types of work in class IV MI NW Montong Mas using the NHT type cooperative method. From the results of the analysis it was found that student learning outcomes in Theme 4 Sub Theme 1 Types of Work have increased, this is indicated by an increase in student learning completeness in each cycle, in cycle I (53.85%) meaning that classical completeness has not been achieved, and in cycle II (92.30%), meaning that classical learning completeness has been achieved. From the research results, it was concluded that the NHT learning model had a positive impact on improving the learning outcomes of class IV students at MI NW Montong Mas. It is recommended that it can be used as input or consideration for teachers, especially in Theme 4 Sub Theme 1 Types of Work, that NHT model learning needs to be implemented and developed.Permasalahan dalam penelitian ini adalah rendahnya minat belajar siswa dalam pembelajaran Tema 4 Sub Tema 1 Jeni-jenis Pekerjaan di Kelas IV MI NW Montong Mas, hasil belajar yang rendah, guru kurang memotivasi siswa atau proses pembelajaran yang kurang menarik dan sarana pembelajaran yang terbatas. Adapun pemecahan masalah yang digunakan untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan menggunakan model pembelajaran Kooperatif Tipe Number Heads Together (NHT). Adapun tujuan dari penelitian ini adalah 1). Untuk mengetahui penerapan metode kooperatif tipe Number Heads Together (NHT) terhadap hasil belajar 2). Untuk mengetahui perencanaan pembelajaran dengan menggunakan model Number Heads Together (NHT) dan 3). Untuk mengetahui pelaksaan pembelajaran dengan menggunakan metode Number Heads Together (NHT). Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) dan dilakukan sebanyak dua siklus. Setiap siklus terdiri dari empat tahapan yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan atau obsevasi, dan refleksi. Pengumpulan data diperoleh melalui Observasi, tes, dan dokumentasi. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IV MI NW Montong Mas Tahun Pelajaran 2020/2021. Adapun variable dalam penelitian ini adalah Hasil belajar siswa pada tema 4 sub tema 1 jenis-jenis pekerjaan di kelas IV MI NW Montong Mas dengan menggunakan metode kooperatif tipe NHT. Dari hasil analisis didapatkan bahwa hasil belajar siswa pada Tema 4 Sub Tema 1 Jenis-jenis Pekerjaan mengalami peningkatan, hal itu ditandai dengan peningkatan ketuntasan belajar siswa dalam setiap siklus, pada siklus I (53,85%) artinya ketuntasan secara klasikal belum tercapai, dan pada siklus II (92,30%), artinya ketuntasan belajar secara klasikal telah tercapai. Dari hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa dengan model pembelajaran NHT mempunyai dampak positif terhadap peningkatan hasil belajar siswa kelas IV MI NW Montong Mas. Disarankan dapat dimanfaatkan sebagai masukan atau bahan pertimbangan guru khususnya pada Tema 4 Sub Tema 1 Jenis-jenis Pekerjaan bahwa pembelajaran model NHT perlu diterapkan dan dikembangka
Dakwah di Era Digital: Tantangan Sosiologis dan Solusinya
The development of digital technology has transformed the landscape of dakwah practices in society. This article investigates the sociological challenges faced in dakwah practices in the digital era and seeks solutions to overcome these challenges. The research aims to identify sociological challenges related to dakwah in the digital era and formulate solutions to address these challenges. The research method employed is a literature review using a descriptive-analytical approach. Data were obtained through the analysis of scholarly literature, journal articles, books, and other relevant sources discussing dakwah in the digital era. Data analysis detailed the sociological challenges encountered in digital dakwah practices, such as shifts in communication paradigms and the dissemination of unverified religious content. Proposed solutions to address these challenges were also analyzed to assess their potential for successful implementation. The results of this research indicate that dakwah practices in the digital era face significant changes in how religious communication is conducted, along with the risk of spreading extremist views. Proposed solutions, such as leveraging digital technology and collaboration between religious institutions and technology platforms, have the potential to address these challenges. Dakwah in the digital era faces sociological challenges that need to be addressed to ensure its relevance and effectiveness. The suggested solutions, if well-implemented, can help maintain a moderate, tolerant, and peaceful approach to dakwah in society. This research has practical implications for preachers and religious institutions in understanding the changes in dakwah practices in the digital era. Furthermore, the research findings can assist technology platforms in monitoring religious content and preventing the spread of extremist views. These implications can contribute to the promotion of peace and tolerance in an increasingly digitally connected society.Perkembangan teknologi digital telah mengubah lanskap praktik dakwah dalam masyarakat. Artikel ini menyelidiki tantangan sosiologis yang dihadapi dalam praktik dakwah di era digital dan mencari solusi untuk mengatasi tantangan tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi tantangan sosiologis yang terkait dengan dakwah di era digital dan merumuskan solusi yang dapat membantu mengatasi tantangan tersebut. Metode penelitian ini merupakan studi kepustakaan yang menggunakan pendekatan deskriptif-analitis. Data diperoleh melalui analisis literatur ilmiah, artikel jurnal, buku, dan sumber-sumber terkait lainnya yang membahas dakwah di era digital. Analisis Data, data yang diperoleh dianalisis dengan merinci tantangan sosiologis yang dihadapi dalam praktik dakwah digital, seperti perubahan paradigma komunikasi dan penyebaran konten agama yang tidak terverifikasi. Solusi-solusi yang diajukan untuk mengatasi tantangan tersebut juga dianalisis untuk melihat potensi keberhasilan implementasinya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa praktik dakwah di era digital dihadapkan pada perubahan signifikan dalam cara komunikasi agama dilakukan, serta risiko penyebaran pandangan ekstremis. Solusi yang diajukan, seperti pemanfaatan teknologi digital dan kerja sama antara lembaga agama dan platform teknologi, memiliki potensi untuk mengatasi tantangan-tantangan ini. Dakwah di era digital menghadapi tantangan sosiologis yang perlu diatasi agar dakwah tetap relevan dan efektif. Solusi-solusi yang disarankan, jika diimplementasikan dengan baik, dapat membantu menjaga dakwah yang moderat, toleran, dan damai dalam masyarakat. Penelitian ini memiliki implikasi praktis bagi para dai (pengkhotbah) dan lembaga agama dalam memahami perubahan dalam praktik dakwah di era digital. Selain itu, hasil penelitian ini juga dapat membantu platform teknologi dalam mengawasi konten agama dan mencegah penyebaran pandangan ekstremis. Implikasi ini dapat berkontribusi pada promosi perdamaian dan toleransi dalam masyarakat yang semakin terkoneksi digital