Yarsi Academic Journals
Not a member yet
    1729 research outputs found

    The EFEKTIVITAS ANTIBAKTERI MENGANDUNG JINTAN HITAM (Nigella sativa L.) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Staphylococcus aureus SEBAGAI PEMBERSIH GIGI TIRUAN

    No full text
    Introduction: Black cumin (Nigella sativa L.) is a miraculous and multifunctional herbal plant that has the potential to treat various diseases since the time of the Prophet Muhammad. One of the potential concerns of the scientific community is the antibacterial effect of black cumin extract. This is due to the content of its main active substance, thymoquinone. Black cumin is safe for consumption, easily available, and harmless to the environment. Objective: This study aims to determine the antibacterial effectiveness of black cumin-containing solution and black cumin oil-containing emulsion, and its function as a denture cleaner. Research Methods: This study was a laboratory experimental study. Using disc diffusion method for antibacterial test. This study used solutions containing black cumin and emulsions containing black cumin oil with concentrations of 10%, 20%, 30%, 40%, 50%, alkaline peroxide solution, sodium perborate solution, and distilled water. The total samples used were 48 samples with 3 repetitions in each group. Results: The results of the One Way Anova test showed that there was a significant effect on the solution against S. aureus bacteria and a significant difference between each concentration (p <0.05). Conclusion: The solution containing 50% black cumin was found to have better antibacterial effectiveness with an average inhibition zone diameter of 11.08 mm compared to the emulsion containing 50% black cumin oil which only had an average inhibition zone diameter of 2.61 mm.Pendahuluan: Jintan hitam (Nigella sativa L.) merupakan tanaman herbal ajaib dan multifungsi yang memiliki potensi mengobati berbagai penyakit sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Salah satu potensi yang menjadi perhatian kalangan ilmiah adalah efek antibateri dari ekstrak jintan hitam. Hal ini dikarenakan kandungan zat aktif utamanya yaitu thymoquinone. Jintan hitam aman untuk dikonsumsi, mudah didapat, dan tidak berbahaya bagi lingkungan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas antibakteri dari larutan mengandung jintan hitam dan emulsi mengandung minyak jintan hitam, serta dihubungkan dengan fungsinya sebagai pembersih gigi tiruan. Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorik. Menggunakan metode disc diffusion untuk uji antibakteri. Penelitian ini menggunakan larutan mengandung jintan hitam dan emulsi mengandung minyak jintan hitam dengan konsentrasi masing-masing 10%, 20%, 30%, 40%, 50%, larutan alkalin peroksida, larutan natrium perborat, dan aquades. Total sampel yang digunakan sebanyak 48 sampel dengan 3 kali pengulangan pada setiap kelompok. Hasil: Hasil uji one Way Anova menunjukkan terdapat pengaruh yang signifikan pada larutan terhadap bakteri S. aureus dan perbedaan bermakna antara masing-masing konsentrasi (p<0,05). Uji Kruskal-Wallis menunjukkan terdapat pengaruh yang signifikan pada emulsi mengandung minyak jintan hitam, akan tetapi perbedaan bermakna hanya ditemukan pada emulsi konsentrasi 10-40% dengan larutan alkalin peroksida (p>0,05). Kesimpulan: Larutan mengandung jintan hitam 50% diteliti memiliki efektivitas antibakteri yang lebih baik dengan rata-rata diameter zona hambat sebesar 11,08 mm dibandingkan emulsi mengandung minyak jintan hitam 50% yang hanya memiliki rata-rata diameter zona hambat 2,61 mm

    Age Estimation Using The Willems Method With Panoramic Radiography In Patients At RSGM YARSI

    No full text
    Introduction: Teeth meet the requirements for being used as a means of identification due to their high individuality factor. Age estimation significantly contributes to the identification of forensic teeth in specimen investigations. Objective: This study aims to determine age estimation using the Willems method with panoramic radiography in patients at the RSGM YARSI, and the Islamic perspective on this matter. Material and Methods: This research is an observational analytic study with a cross-sectional design. Samples were taken using purposive sampling method, totaling 70 patients aged 4-15 years who were in the developmental stage of seven teeth and underwent panoramic radiography at RSGM YARSI. Data collection of panoramic radiography results followed by age estimation calculation by assessing the developmental stages of the seven lower jaw teeth using the Willems method. The analysis techniques used were univariate and bivariate analysis. Result: The results showed that in males the p value = 0.223 (p>0.05), in females the p value = 0.0001 (p<0.05). The Wilcoxon test results showed that there was a significant difference with the p value = 0.001 (p<0.05) in all male and female samples. Conclusion: There was no significant difference between dental age and chronological age in male samples, but there was a significant difference in female samples. In the entire sample, there was a significant difference between dental age and chronological age.Latar Belakang: Gigi mempunyai tingkat individualitas yang tinggi dan memenuhi persyaratan  sebagai alat identifikasi. Estimasi usia berkontribusi besar untuk identifikasi gigi forensik dalam penyelidikan spesimen antropologi atau arkeologi, salah satunya dapat dilakukan dengan metode Willems. Tujuan: Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui estimasi usia menggunakan metode Willems dengan radiografi panoramik pada pasien RSGM YARSI serta pandangan Islam mengenai hal tersebut. Metode Penelitian: Jenis penelitian yang diterapkan adalah observasional analitik dengan desain cross-sectional. Sampel sejumlah 70 pasien berusia 4-15 tahun, yang sedang mengalami tahap perkembangan pada ketujuh gigi, dipilih menggunakan metode purposive sampling dari mereka yang melakukan foto radiografi panoramik di RSGM YARSI, sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi yang ditetapkan. Pengumpulan data hasil radiografi panoramik dilakukan kemudian perhitungan estimasi usia dengan evaluasi tahap perkembangan kalsifikasi pada tujuh gigi rahang bawah dilakukan menggunakan metode Willems. Analisis dilakukan dengan menggunakan teknik analisis univariat dan bivariat. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan pada laki-laki nilai p= 0,223 (p>0,05), pada perempuan nilai p=0,0001 (p<0,05). Hasil uji Wilcoxon menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan dengan hasil nilai p = 0,001 (p<0,05) pada seluruh sampel laki-laki dan perempuan. Kesimpulan: Tidak ada perbedaan signifikan antara usia dental dan usia kronologis pada sampel laki-laki, namun terdapat perbedaan signifikan pada sampel perempuan. Pada keseluruhan sampel, terdapat perbedaan signifikan antara usia dental dan usia kronologis

    Body Awareness dan Gaya Hidup Sehat Dewasa Muda

    Full text link
    The prevalence of chronic diseases is currently shifting towards young people, so individuals need to adopt a good and sustainable healthy lifestyle for their future health and well-being. However, Indonesian people have low awareness regarding health. Body awareness of health can encourage someone to evaluate their lifestyle and prevent long-term health problems. This study aimed to determine the relationship between body awareness and the dimensions of a healthy lifestyle in young adults. The participants were 102 young adults (Mean age = 22 years) in Jabodetabek, selected using a convenience sampling technique. The instruments used were the Body Awareness Questionnaire (BAQ), which has a good reliability coefficient (Alpha = .842), and the Health-Promoting Lifestyle Profile II (HPLP II), which has sufficient reliability (Alpha = .585 - .893). The results showed a significant positive relationship between body awareness and each dimension of a healthy lifestyle (r = .350–.483), including health responsibility, nutrition, physical activity, stress management, interpersonal relations, and spiritual growth. This suggests that higher body awareness is associated with a healthier lifestyle among young adults. Thus, promotional or educational programs from psychologists or health practitioners to promote a healthy lifestyle for the young adult generation can be carried out by increasing their knowledge and skills regarding body awareness.Prevalensi penyakit kronis saat ini bergeser ke arah usia muda sehingga individu perlu menjalankan gaya hidup sehat yang baik secara berkelanjutan untuk kesehatan dan kesejahteraan nantinya. Namun, masyarakat Indonesia memiliki rasa kesadaran akan kesehatan yang rendah. Body awareness merupakan perhatian dan kesadaran individu terhadap proses tubuh (siklus dan ritme fisiologis) yang normal. Hal ini dapat mendorong seseorang untuk mengevaluasi gaya hidupnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara body awareness dengan dimensi gaya hidup sehat pada dewasa muda. Partisipan penelitian berjumlah 102 dewasa muda (Musia = 22 tahun) yang berdomisili di kota-kota besar Indonesia atau Jabodetabek dipilih dengan teknik accidental sampling. Alat ukur yang digunakan adalah Body Awareness Questionnaire (BAQ) yang memiliki indeks reliabilitas yang baik (???? = 0.842) dan Health- Promoting Lifestyle Profile II (HPLP II) yang memiliki reliabilitas yang cukup ( ???? = 0.585 - 0.893). Peneliti menggunakan uji korelasi spearman karena distribusi data yang tidak normal. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan signifikan positif antara body awareness dengan setiap dimensi gaya hidup sehat (r = 0.350 – 0.483), artinya, semakin tinggi body awareness maka semakin baik juga gaya hidup sehat dewasa muda. Dengan demikian, program promosi atau edukasi dari psikolog atau praktisi mengenai kesehatan pada generasi dewasa muda dapat dilakukan dengan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mereka mengenai body awareness

    Impulsif di Era Digital: Attitude sebagai Mediasi Pengaruh FoMO dan Hedonisme terhadap Impulse Buying

    Full text link
    Perkembangan era digital telah mengubah pola konsumsi masyarakat, termasuk integrasi aktivitas belanja dengan media sosial. TikTok telah berkembang menjadi platform tempat konsumen dan penjual dapat berkomunikasi satu sama lain melalui fitur TikTok Shop. Studi ini bertujuan guna menganalisis pengaruh Fear of Missing Out (FoMO) dan hedonisme terhadap impulse buying pada konsumen generasi Z Jiniso.id di TikTok Shop, dengan sikap (attitude) sebagai variabel mediasi. Penelitian menggunakan metode kuantitatif deskriptif dengan kuesioner yang dibagikan kepada 149 partisipan Analisis data dilakukan menggunakan SmartPLS 4 dengan pendekatan PLS-SEM. Hasil menunjukkan bahwa FoMO dan hedonisme berpengaruh signifikan terhadap impulse buying dan sikap. Namun, sikap tidak secaralangsung memengaruhi impulse buying dan tidak dapat mengatasi hubungan antara FoMO maupun hedonisme dengan impulse buying. Temuan ini memperkaya pemahaman tentang perilaku pembelian impulsif di platform digital

    The Effect of Dhikr on The Emergence of Somatoform Disorders During Distance Learning in The 2019 Batch of Yarsi Medical Students And A Review According to Islamic View

    Full text link
    Background: The impact of Distance learning (DL) during the COVID-19 pandemic on students causes anxiety disorders, excessive worry, and feeling depressed. Meditation or mindfulness is one method to treat a mental disorder. Purposes:This study aimed to determine the relationship between dhikr and the occurrence of somatoform disorders among Yarsi medical faculty students during distance learning. Method: The type of research was descriptive observational with a cross-sectional approach. The study population was YARSI medical students in the 2019 batch, and purposive sampling was conducted. The inclusion criteria were medical students in the 2019 batch who were active and did dhikr, while the exclusion criteria were medical students in the 2019 batch who are not active and not doing dhikr. The tool used in this study was a questionnaire adapted from The Somatic Symptom Scale-8. The data are analyzed univariately and bivariately using SPSS Result: 90.2% of respondents carry out DL for 5-9 hours per day; those who liked DL were 59.7%, and those who did not like DL were 40.2%. Respondents who experienced stress were 96.3%, and 100% percent of respondents had a good perception of dhikr. Respondents who consistently did dhikr were 82.9%. There was no relationship between dzikir and the appearance of somatoform disorders because the P value of the Chi-square test was 0.0079.   Conclusion: Respondents mainly experienced mild to severe stress during distance learning, even though the dhikr respondents' perceptions were good.  There is no correlation between dhikr and the appearance of somatoform disorder. &nbsp

    Profil Penggunaan Antibiotik pada Pasien Bronkopneumonia Anak Rawat Inap di Rumah Sakit Islam Jakarta dan Tinjauannya Menurut Pandangan Islam

    Full text link
    Latar Belakang : Bronkopneumonia merupakan infeksi pernapasan serius pada anak yang membutuhkan pemahaman komprehensif tentang karakteristik klinis dan pola penggunaan antibiotik. Metodelogi : Penelitian cross-sectional retrospektif ini bertujuan menganalisis distribusi demografis, pola penggunaan antibiotik, dan faktor risiko bronkopneumonia pada anak di Rumah Sakit Islam Jakarta selama periode 1 Januari hingga 31 Desember 2023. Sebanyak 106 pasien anak diseleksi dari 393 catatan medis yang tersedia, dengan menggunakan kriteria inklusi spesifik. Penelitian mengevaluasi variabel seperti jenis kelamin, usia, jenis dan rute antibiotik, serta durasi hospitalisasi. Hasil : Hasil menunjukkan dominasi pasien laki-laki (57,55%) dengan prevalensi tertinggi pada anak berusia 1 tahun (20,75%). Ceftriaxone menjadi antibiotik paling umum digunakan (38,68%), dengan rute administrasi kombinasi intravena dan oral (56,60%) yang paling sering dipraktikkan. Analisis mendalam mengungkapkan bahwa faktor lingkungan seperti paparan asap rokok, polusi udara, malnutrisi, dan kurangnya pemberian ASI memiliki kontribusi signifikan dalam kejadian bronkopneumonia. Kesimpulan : Penelitian ini memberikan wawasan penting dalam memahami dinamika penyakit pernapasan pada anak dan menekankan perlunya pendekatan komprehensif dalam diagnosis, terapi, dan pencegahan

    TINGKAT KESADARAN HUKUM MASYARAKAT DAN KESIAPAN TEKNOLOGI DALAM PEMBANGUNAN INKLUSIF DESA KADUBELANG PANDEGLANG

    Full text link
    Desa Kadubelang, yang terletak di Kecamatan Mekarjaya, Kabupaten Pandeglang, dikategorikan sebagai desa tertinggal berdasarkan Indeks Desa Membangun (IDM) tahun 2023. Permasalahan utama yang dihadapi meliputi rendahnya kesadaran hukum, keterbatasan infrastruktur teknologi, minimnya partisipasi masyarakat, serta lemahnya kelembagaan ekonomi lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tingkat kesadaran hukum masyarakat dan kesiapan teknologi dalam mendukung pembangunan desa yang inklusif dan berkelanjutan. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif melalui survei kepada 50 responden yang mewakili berbagai unsur masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kesadaran hukum masyarakat tergolong rendah dengan rata-rata skor 2,3 dari skala 4.0, sementara kesiapan teknologi juga masih terbatas dengan skor rata-rata 2,0. Uji korelasi menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kedua variabel (r = 0.552; p < 0.01), yang mengindikasikan bahwa peningkatan kesadaran hukum sejalan dengan kesiapan teknologi masyarakat. Temuan ini memperkuat pentingnya integrasi antara literasi hukum dan literasi digital dalam mendorong transformasi menuju Smart Village. Penelitian ini merekomendasikan model pemberdayaan berbasis literasi digital, penyuluhan hukum, penguatan lembaga ekonomi desa, serta optimalisasi teknologi digital termasuk artificial intelligence (AI) sebagai strategi percepatan pembangunan yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan di Desa Kadubelang.Desa Kadubelang, yang terletak di Kecamatan Mekarjaya, Kabupaten Pandeglang, dikategorikan sebagai desa tertinggal berdasarkan Indeks Desa Membangun (IDM) tahun 2023. Permasalahan utama yang dihadapi meliputi rendahnya kesadaran hukum, keterbatasan infrastruktur teknologi, minimnya partisipasi masyarakat, serta lemahnya kelembagaan ekonomi lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tingkat kesadaran hukum masyarakat dan kesiapan teknologi dalam mendukung pembangunan desa yang inklusif dan berkelanjutan. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif melalui survei kepada 50 responden yang mewakili berbagai unsur masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kesadaran hukum masyarakat tergolong rendah dengan rata-rata skor 2,3 dari skala 4.0, sementara kesiapan teknologi juga masih terbatas dengan skor rata-rata 2,0. Uji korelasi menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kedua variabel (r = 0.552; p < 0.01), yang mengindikasikan bahwa peningkatan kesadaran hukum sejalan dengan kesiapan teknologi masyarakat. Temuan ini memperkuat pentingnya integrasi antara literasi hukum dan literasi digital dalam mendorong transformasi menuju Smart Village. Penelitian ini merekomendasikan model pemberdayaan berbasis literasi digital, penyuluhan hukum, penguatan lembaga ekonomi desa, serta optimalisasi teknologi digital termasuk artificial intelligence (AI) sebagai strategi percepatan pembangunan yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan di Desa Kadubelan

    Operculectomy in The Pre-eruption Mandibular Third Molar is it Necessary?: A Case Report

    Full text link
    Introduction: Pericoronitis is an inflammation of the soft tissue surrounding the crown of an impacted or partially erupted tooth, most commonly involving the mandibular third molar. This condition is caused by the accumulation of plaque and food debris beneath the operculum, which triggers bacterial infection. The management of pericoronitis can be performed either conservatively or definitively, one of which is operculectomy. Operculectomy is a minor surgical procedure to remove part of the operculum or tissue flap over an erupting tooth, especially the third molar. Operculectomy is indicated on third molars that are fully erupted, have an opposing tooth, are positioned vertically, have sufficient space for eruption, are intended as abutments for fixed prostheses, or when the patient refuses extraction. Contraindications include third molars that are not fully erupted, horizontally positioned, or lack an opposing tooth. Case Report: A 24-year-old female patient presented with a complaint of the lower right third molar being partially has operculum, causing pain during mastication. Intraoral examination showed missing teeth in two teeth, caries in six teeth, gangrene radix in tooth 36, and pre-eruption of tooth 48. The patient had no history of systemic disease.  Discussion: The patient was diagnosed with pericoronitis in the operculum region of tooth 48. Clinical findings included hyperemia, swelling, bleeding, and food impaction. An operculectomy was performed after initial therapy. Follow-up evaluation showed significant improvement within two weeks post-treatment without scar formation. Conclusion: Operculectomy is an effective treatment option for managing pericoronitis of the mandibular third molar, with a good prognosis when accompanied by optimal oral hygiene maintenance.Pendahuluan: Perikoronitis adalah peradangan jaringan lunak di sekitar mahkota gigi yang impaksi atau erupsi sebagian, paling sering terjadi pada molar ketiga mandibula. Kondisi ini disebabkan oleh penumpukan plak dan sisa makanan di bawah operkulum, yang memicu infeksi bakteri. Penatalaksanaan perikoronitis dapat dilakukan secara konservatif maupun definitif, salah satunya adalah operkulektomi. Operkulektomi adalah prosedur bedah minor untuk mengangkat sebagian operkulum atau flap jaringan di atas gigi yang sedang erupsi, terutama molar ketiga. Operkulektomi diindikasikan pada molar ketiga yang telah erupsi lengkap, memiliki gigi antagonis, berposisi vertikal, memiliki ruang yang cukup untuk erupsi, dimaksudkan sebagai penyangga protesa cekat, atau ketika pasien menolak pencabutan. Kontraindikasi meliputi molar ketiga yang belum erupsi lengkap, berposisi horizontal, atau tidak memiliki gigi antagonis. Laporan Kasus: Seorang pasien perempuan berusia 24 tahun datang dengan keluhan molar ketiga kanan bawah yang sebagian operkulumnya tertutup, menyebabkan nyeri saat mengunyah. Pemeriksaan intraoral menunjukkan gigi yang hilang pada dua gigi, karies pada enam gigi, gangren radix pada gigi 36, dan pra-erupsi gigi 48. Pasien tidak memiliki riwayat penyakit sistemik. Pembahasan: Pasien didiagnosis dengan perikoronitis di daerah operkulum gigi 48. Temuan klinis meliputi hiperemia, pembengkakan, perdarahan, dan impaksi makanan. Operkulektomi dilakukan setelah terapi awal. Evaluasi lanjutan menunjukkan perbaikan signifikan dalam dua minggu pasca perawatan tanpa pembentukan jaringan parut. Kesimpulan: Operkulektomi merupakan pilihan perawatan yang efektif untuk menangani perikoronitis molar ketiga mandibula, dengan prognosis yang baik bila disertai dengan pemeliharaan kebersihan mulut yang optimal

    The Concepts of Health and Illness of Children Living with HIV in Jakarta, Indonesia: Implications for Future Programs

    Full text link
    Studies on children’s concepts of health and illness mostly took focus on the views of healthy children. As children living with HIV face different challenges, it is essential to gain more understanding on their views on health and illness. The study used a guided drawing activity followed by a semi-structured interview. Thematic coding was done to analyze of the interview data. There were three categories formed both on the concepts of health and illness: The biomedical, psychosocial, and healthy lifestyle representation. To children living with HIV, the concepts hospitals, hospitalization, medications, doctors, and symptoms of being sick are common to them. Children revealed the emotional fatigue from being regularly sick and hospitalized, being discriminated and having to pay medical bills as consequence of having poor health. On the other hand, children also acknowledged the positive consequences of being healthy (e.g. playing without being discriminated, being able to celebrate the next birthdays). The study concluded that the ongoing health education programs for children with HIV should incorporate the positive consequences of being healthy, instead of focusing heavily on medical-related topics. Having a positive outlook will hopefully motivate these children to adhere to their medications and therefore improve their quality of life

    Pengaruh Aktivitas Olahraga terhadap Tingkat Stres pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas YARSI Tahun Pertama dan Kedua Serta Tinjauannya Menurut Pandangan Islam

    Full text link
    Pendahuluan: Stres sebagian besar berasal dari pikiran yang negatif dan ketidakrasionalan yang terbentuk dalam pikiran seseorang. Lebih dari 350 juta penduduk dunia menurut World Health Organization (WHO) mengalami stres dengan angka yang cukup tinggi dan menjadi penyakit ke empat di dunia. Stres berdampak pada pola perilaku, fisiologis, kognitif, dan emosional. Oleh karena itu, untuk mengatasi dampak negatif dari stres dapat dilakukan dengan cara olahraga yang teratur. Olahraga menyebabkan tubuh memproduksi beta-endorfin, yang meningkatkan mood dan menurunkan hormon stres kortisol dalam tubuh sehingga hati menjadi tenang. Ketenangan hati bisa diwujudkan dengan mengingat Allah SWT. Metodologi: Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dalam bentuk deskriptif analitik dengan desain studi cross-sectional. Penetapan sampel menggunakan teknik probability sampling. Jumlah sampel penelitian yang memenuhi kriteria adalah sebanyak 86 responden. Hasil: Berdasarkan uji statistik menggunakan uji Mann-Whitney dengan hasil p-value <0,05, maka didapatkan hasil bahwa terdapat pengaruh aktivitas olahraga terhadap tingkat stres (p=0,02).  Kesimpulan: Terdapat pengaruh aktivitas olahraga terhadap tingkat stres pada mahasiswa tahun pertama dan kedua Fakultas Kedokteran Universitas YARSI

    1,614

    full texts

    1,729

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Yarsi Academic Journals
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇