Yarsi Academic Journals
Not a member yet
1729 research outputs found
Sort by
Profil Penggunaan Antibiotik pada Pasien Tifoid Anak Rawat Inap di Rumah Sakit Islam Jakarta dan Tinjauannya Menurut Pandangan Islam
Latar Belakang: Demam tifoid pada anak-anak tetap menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan di Indonesia, dengan penggunaan antibiotik sebagai modalitas terapi utama. Metodologi: Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif retrospektif, menganalisis data dari 77 pasien yang memenuhi kriteria inklusi di Rumah Sakit Islam Jakarta Cempaka Putih periode Januari hingga Desember 2023. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan distribusi pasien perempuan sebesar 51,95% dan laki-laki 48,05%, dengan insiden tertinggi pada usia 6 tahun (16,88%). Pola penggunaan antibiotik didominasi oleh monoterapi ceftriaxone (46,75%) dan kombinasi cefixime-ceftriaxone (48,05%). Rute pemberian terbanyak adalah kombinasi oral dan intravena (48,05%), dengan mayoritas pasien menunjukkan respons positif dalam 1-4 hari pengobatan. Durasi rawat inap rata-rata adalah 3-5 hari, dengan tingkat kesembuhan mencapai 98%. Kesimpulan: Penelitian ini menyimpulkan bahwa penggunaan antibiotik pada pasien tifoid anak di RSI Jakarta sejalan dengan pedoman terapi standar dan menunjukkan efektivitas yang baik. Rekomendasi untuk penelitian selanjutnya meliputi perlunya studi prospektif dengan pengujian sensitivitas antibiotik dan pengembangan sistem dokumentasi medis yang lebih terstandarisasi
PENDEKATAN PSIKOLOGI KLINIS MAKRO DALAM PENANGANAN KESEHATAN KOMUNITAS
Makalah ini berasal dari berbagai tulisan yang pernah terbit ataupun untuk kalangan terbatas. Tujuannya adalah merangsang peserta konferensi untuk memikirkan perkembangan psikologi klinis makro sesuai dengan konteks Indonesia. Apa yang telah dipikirkan, dilakukan, diteliti, dan ditulis oleh para rekan di negara-negara lebih maju dapat dijadikan contoh tentang apa saja yang dapat kita lakukan di sini. Pemikiran psikologi komunitas global oleh Anthony Marsella, seorang tokoh senior psikologi kesehatan, dapat digunakan sebagai bahan pemikiran pengembangan psikologi klinis makro dan kesehatan komunitas saat menghadapi pasar bebas. Kita akan mampu bersaing bila kita mengembangkan kekayaan kebhinekaan budaya, kebijaksanaan dan kewaskitaan lokal, seni, tradisi, dan berbagai perilaku khas suku bangsa yang ada di negara kita sebagai landasan pengembangan psikologi nusantara. Apabila kita memenuhi tri dharma perguruan tinggi sebagai akademisi, psikologi nusantara akan mampu bersaing di dunia global dengan pasar bebasnya. Khususnya psikologi klinis makro dan penanganan kesehatan komunitas dapat berkembang sesuai dengan hasil penelitian dan pengabdian masyarakat akademisi kita di masing-masing perguruan tinggi yang ada
POTENSI PENGOBATAN KOMPLEMENTER-ALTERNATIF “YOGA” UNTUK MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS MELALUI LAYANAN KESEHATAN TERINTEGRASI
Pengobatan Komplementer-Alternatif (PKA) atau secara global disebut Complementer and Alternative Medicine (CAM) telah menjadi fenomena dan salah satu jalan pengobatan bagi masyarakat selain pengobatan konvensional. Sejak tahun 2005 WHO memperkirakan bahwa terdapat 14 negara dan daerah istimewa, misalnya Hong Kong dan Macau, di kawasan Asia Pasifik yang secara resmi mengakui PKA. Hal ini sangat berbeda dari beberapa tahun yang lalu di mana hanya terdapat empat negara, yaitu China, Jepang, Republik Korea, dan Vietnam yang secara resmi mengakui PKA dalam bentuk sistem perawatan kesehatan konvensional. Salah satu jenis PKA adalah yoga yang tergolong dalam body work therapies. Yoga berasal dari India beribu tahun yang istilahnya berasal dari bahasa Sanskrit yuj, yang berarti “ikut serta” dan merupakan simbol dari intergrasi tubuh dan pikiran dalam keterkaitan yang sempurna. Para praktisi kuno percaya bahwa agar seseorang memiliki keharmonisan dengan dirinya sendiri serta dengan lingkungannya, dia harus menyatukan tubuh, pikiran, serta jiwanya. Agar ketiga-tiganya menjadi satu, emosi, tindakan, dan akal budinya harus seimbang dengan cara berlatih (gerak badan), bernafas, dan meditasi. Yoga telah terbukti bermanfaat untuk meningkatkan kesehatan individu, baik secara psikis maupun psikologis. Peneliti telah melakukan studi pustaka tentang efektivitas yoga untuk meningkatkan kesejahteraan psikologis individu. Dengan membaca paparan potensi PKA “yoga” di dalam artikel ini, para profesional kesehatan diharapkan mau mengintegrasikannya ke dalam layanan kesehatan yang diberikan untuk meningkatkan kesejahteraan psikologis pasien
Efektivitas Program Psikologis ASA terhadap Efikasi Diri dan Komitmen Kesehatan serta Kadar Interferon Gamma (IFN-γ) Penderita Tuberkulosis: (suatu tinjuan kesehatan dari psiko-imunologi)
Angka kesembuhan TB di Jawa Tengah yang masih di bawah standar nasional menunjukkan adanya permasalahan, baik dari sisi medis, imunologis dan psikologis pada pasien. Program Psikologis ASA merupakan gabungan Psikoterapi Transpersonal dengan Ketrampilan Konseling Interaktif (KKI) dikembangkan untuk meningkatkan kualitas hidup penderita TB. Program Psikologis ASA mempunyai keunggulan sebagai tindakan preventif, promotif dan kuratif dengan basis psikoterapi transpersonal dan pemberdayaan masyarakat untuk menyempurnakan program AKMS yang telah ada. Efikasi diri pada penelitian ini dijabarkan dalam 5 aspek yaitu kemampuan melawan sakit, kekuatan rasa sakit, intensitas rasa sakit, keyakinan sembuh dan kemampuan mengurus diri sendiri, sedangkan Komitmen Kesehatan dilihat dari kemampuan pasien memotivasi dan menjelaskan masalah TB terhadap orang lain. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektifitas Program Psikologis ASA terhadap Efikasi Diri, Komitmen Kesehatan serta kadarsitokin IFN-γ sebagai salah satu penanda imunitas tubuh. Eksperimen Semu dengan non equivalent control group design diterapkan terhadap 63 orang penderita TB yang terbagi menjadi 31 orang pada kelompok eksperimen yang meneruskan pengobatan di BKPM Semarang, serta 32 orang pada kelompok kontrol yang melanjutkan pengobatan ke Puskesmas. Kelompok Ekperimen diberi tambahan Psikoterapi Transpersonal dan Konseling Interaktif, sedangkan kelompok kontrol hanya diberi terapi sesuai anjuran petugas kesehatan dengan sistem DOTS. Analisis Regresi Berganda dengan metode stepwise untuk melihat variabel prediktor yang paling efektif mempengaruhi dependent variabel. Analisis kualitatif dilakukan untuk mengeksplorasi pengetahuan, sikap dan praktek subjek terhadap penerapan Program Psikologis ASA. Pengaruh langsung Program Psikologis ASA terhadap penurunan IFN-γ pada post test sebesar -0,316pg/mL, serta berpengaruh positif pula terhadap peningkatan Efikasi Diri khususnya pada mastery (B = 0,301). Salah satu aspek dari variabel efikasi diri yang mempunyai pengaruh terhadap penurunan kadar IFN-γ, adalah kemampuan melawan rasa sakit. Kemampuan ini ditimbulkan dari efek terapi transpersonal. Ada hubungan yang erat antara perubahan efikasi diri pada item kekuatan rasa sakit dengan komitmen diri pasien (p=0,001, r=-0,421). Semakin tinggi perubahan nilai efikasi diri, maka rasa sakit yang dirasakan semakin kecil.Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa keyakinan kuat untuk mengatasi masalah pada stresor yang kronis tidak hanya menanamkan efikasi yang kuat saja, namun akan dapat mengubah faktor proteksi dalam melawan efek imunologis terhadap stres. Komitmen Kesehatan pada aspek Kemampuan Memotivasi pasien lain adalah variabel yang berpengaruh sangat bermakna terhadap penurunan kadar IFN-γ sebanyak -0,362pg/mL (t=-3,031, p=0,004). Artinya semakin sering pasien memotivasi pasien lain untuk meminum obat tanpa putus, maka semakin tinggi penurunan kadar IFN-γ yang dihasilkan. Kesimpulan dan rekomendasi penelitian ini adalah bahwa pemberian Psikoterapi Transpersonal dan pemberdayaan pasien melalui metode KKI (Program Psikologis ASA) penting untuk meningkatkan efikasi diri serta komitmen terhadap kesehatan dalam proses penyembuhan penyakit Tuberculosis
Hubungan Dukungan Sosial, Religiusitas dan Stress pada Suami dan Istri Pasien Terapi Hemodialisa
Hemodialisa adalah suatu cara untuk memisahkan darah dari sampah metabolisme dan racun tubuh bila ginjal sudah tak berfungsi sehingga digunakan ginjal buatan yang berbentuk mesin hemodialisis. Terapi yang harus rutin pada pasien gagal ginjal mengakibatkan dampak psikologis yang tidak hanya dialami oleh pasien terapi hemodialisa sendiri, tetapi juga dialami oleh keluarga terutama isteri atau suami pasien. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi tentang hubungan antara dukungan sosial dan religiusitas dengan derajat stres yang dialami suami atau isteri dari pasien gagal ginjal yang menjalani terapi hemodialisa. Untuk mengetahui lebih mendalam tentang hubungan dukungan sosial dengan derajat stress dilakukan analisis hubungan stres dengan bentuk-bentuk dukungan sosial yaitu dukungan emosional, dukungan penghargaan, dukungan instrumental, dukungan informasi dan dukungan jaringan sosial. Subjek penelitian adalah 19 orang isteri dan 9 orang suami dari pasien gagal ginjal yang menjalani terapi hemodialisa di Rumah Sakit Al Islam Bandung. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan antara suami dan isteri pasangan pasien dalam memaknakan hubungan dukungan sosial dengan derajat stress dalam menemani pasangan menjalani terapi hemodialisa. Hubungan dukungan sosial dengan stress pada suami pasien terapi hemodialisa menunjukkan hubungan yang sangat lemah, yaitu sebesar -0.175. Sementara hubungan dukungan sosial dengan derajat stress pada isteri pasien hemodialisa menunjukkan korelasi yang cukup kuat yaitu -0.527. Meskipun secara umum hubungan dukungan sosial dengan stress suami pasien terapi hemodialisa tergolong sangat lemah, namun analisis hubungan stress dengan bentuk-bentuk dukungan sosial menunjukkan bahwa pada suami, hubungan stress dengan dukungan emosional memiliki hubungan yang tergolong cukup kuat yaitu sebesar -0.453. Sementara pada isteri pasien, hubungan stress dengan bentuk-bentuk dukungan sosial menunjukkan hubungan yang paling kuat pada hubungan stress dengan dukungan emosional yaitu -0.583 dan dukungan informasi -0.507. Hasil penelitian ini juga menunjukkan adanya hubungan yang cukup kuat antara religiusitas dengan stress pasangan pasien hemodialisa, yaitu pada suami sebesar -0,754 dan pada isteri sebesar-0.532 yang artinya semakin tinggi religiusitas pasangan pasien, maka semakin rendah stress yang dialaminya. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pada suami maupun isteri pasien terapi hemodialisa, religiusitas dan dukungan sosial dalam bentuk dukungan emosional ketika pasangan harus menjalani terapi hemodialisa memiliki peranan dalam menentukan stres pasangan pasien tersebut
Penggunaan ‘Pain Diary’ untuk Mengungkap Faktor Sosioemosional dari Keluhan Nyeri Berulang pada Anak
Nyeri merupakan hal yang biasa yang dialami dan dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Nyeri sebenarnya merupakan sinyal tubuh terhadap stimulus yang membahayakan tubuh. Dengan merasakan nyeri, tubuh dapat segera beraksi untuk menghindari stimulus tersebut agar terhindar dari kesakitan/ rasa nyeri yang lebih parah. Namun, keluhan nyeri juga merupakan salah satu sebab penyebab orang atau masyarakat datang ke layanan kesehatan dengan tujuan mengurangi rasa sakit dan dengan demikian, memiliki kualitas hidup yang lebih baik. Artikel ini secara khusus akan membahas tentang nyeri berulang yang terjadi pada anak dan bagaimana faktor sosioemosional dapat sangat mempengaruhi persepsi anak terhadap nyeri yang yang dialaminya walaupun tidak ada kelainan jaringan yang terdeteksi. Penggunaan pain diary kepada dua orang klien (anak berusia 8 tahun dan 10 tahun) yang menderita nyeri berulang pada bagian kepala dan perut sangat membantu klien dan keluarga untuk melakukan kendali terhadap rasa sakitnya. Pentingnya layanan psikologik di layanan kesehatan primer (seperti puskesmas) maupun klinik/ unit spesialis akan diuraikan mengingat nyeri tidak hanya terkait dengan kondisi fisik seseorang tetapi juga kondisi psikologik seseorang
Pengaruh Group Positive Psychotherapy Terhadap Psychological Well Being Mahasiswa
Beberapa tahun terakhir, perilaku mahasiswa semakin menghawatirkan. Seperti peningkatan penggunaan narkoba (Bataviase, 2010), aborsi, dan HIV/AIDS (Syarief, suara merdeka 2010). Hal tersebut menyiratkan bahwa mahasiswa tersebut cenderung memiliki psychological well being rendah. Sejauh ini usaha-usaha untuk membantu permasalahan tersebut tampak belum maksimal, selama ini terapi yang digunakan lebih terfokus pada usaha untuk memperbaiki hal-hal yang bersifat negatif saja, terfokus pada luka-luka yang ada dalam individu (Selligman et all, 2006). Berbeda halnya dengan positive psychology dimana terapi ini mengembangkan kekuatan-kekuatan positif dan mengisi kehidupan dengan emosi-emosi positif (strength focus). Penelitian ini mencoba mengatasi masalah tersebut menggunakan positive psychotherapy sekaligus memanfaatkan sisi-sisi positif dari sebuah group therapy.Penelitian ini menggunakan metode penelitian eksperimen dengan teknik Pre-test-post-test control group design. Metode pengumpulan data menggunakan skala psychological well being dan treatment berupa group positive psychotherapy yang terdiri dari tiga aspek utama yaitu; pleasant life, enggaged life dan pursuit of meaning , sedangkan dalam menganalisa data menggunakan teknik analisa statistik berupa t- test.Hasil yang diperoleh melalui uji t-test adalah menunjukkan nilai t = -2.623 dan nilai signifikasi = 0.047 sehingga dapat disimpulkan ada perbedaan skor pre-test dan post-test pada kelompok eksperimen yang signifikan. Hal tersebut membuktikan bahwa group positive psychotherapy dapat menjadi suatu alternatif untuk meningkatkan psychological well being mahasiswa
Menjalin Hubungan Industrial Guna Menuju Ke Arah Kualitas Kehidupan Kerja (Quality Of Work Life)
Sesuai dengan UU 13/2003 tentang Ketenagakerjaan, Hubungan Industrial sebagai suatu system hubungan yang terbentuk antara para pelaku dalam proses produksi barang dan/atau jasa yang terdiri dari unsur pengusaha, pekerja/buruh dan pemerintah yang didasarkan pada nilai Pancasila dan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Ketiga belah pihak mempunyai tujuan yang sama yaitu menyejahterakan kehidupan pekerja atau buruh. Sedangkan Luthan, (1995). Kualitas kehidupa kerja kehidupan kerja berfokus pada pentingnya penghargaan kepada sumberdaya manusia di lingkungan kerja. Kualitas kehidupan kerja (Quality of Work life) dapat memberikan arahan dan motivasi karyawan untuk meningkatkan prestasi kerjanya, hal sesuai pendapat Luthans (1995), Randall & Vandra (1981) yang menyatakan bahwa Quality of Work life adalah salah satu tujuan penting untuk pemenuhan kebutuhan dasar karyawan. Perusahaan “P”, adalah perusahaan alas kaki berdasarkan order, dam ,menyadari bahwa Kehidupan Pekerja adalah menjadi prioritas utamanya, untuk itu banyak hal yang dilakukan untuk mebenahi hubungan antara pekerja dan juga Serikat Pekerja dengan Pengusaha. Assumsinya adalah apabila kualitas kehidupan kerja ditingkatkan maka, pekerja akan merasa “senang” dan akan berakibat langsung pada kualitas produk. Kurun waktu 2001-2003, Perusahaan mendapatkan order yang cukup besar, oleh karena iru pada kurun waktu itu perusahaan melakukan pembenahan baik secara fisik dan oprasarana serta pembenahan hubungandengan pekerja dengan melakukan serangkaian tatap muka
TabulaTalks: Pemanfaatan Kanal Telegram sebagai Media Intervensi Promotif-Preventif Kesehatan Mental Remaja dan Dewasa Muda
Kesehatan mental adalah kondisi seseorang terbebas dari segala bentuk gejala-gejala gangguan mental. Seseorang yang sehat secara mental dapat menjalankan fungsi hidupnya dengan baik, termasuk menyesuaikan diri dalam menghadapi permasalahan yang ditemui. Kesehatan mental juga merupakan hal penting yang perlu diperhatikan untuk mewujudkan kesehatan menyeluruh. Sayangnya pemahaman masyarakat mengenai kesehatan mental serta permasalahannya masih cenderung terbatas dan belum merata. Hal ini menyebabkan individu yang memiliki permasalahan dengan kesehatan mental kerap kali mendapatkan perilaku yang tidak menyenangkan dari masyarakat bahkan dari lingkungan terdekatnya (Hartini, Fardana, Ariana, & Wardana, 2018; Wijaya, 2019; Willenberg, Wulan, Medise, Devaera, Riyanti, Ansariadi, & Azzopardi, 2020)Riset Kesehatan Dasar tahun 2018 menunjukkan prevalensi gangguan mental emosional seperti gangguan kecemasan dan depresi sebesar 11.6% dari populasi orang dewasa, sedangkan prevalensi gangguan jiwa berat mencapai 0.7%. Selain itu, terdapat peningkatan jumlah orang dengan gangguan jiwa berat sebesar 312% dari tahun 2013. Hal ini menunjukkan masalah kesehatan mental di Indonesia cukup serius dan membutuhkan penanganan. Namun keterbatasan tenaga profesional yang hanya mencapai 1: 200.000 menyebabkan mayoritas orang dengan masalah kesehatan mental belum dapat mendapat penanganan yang baik (Ayuningtyas & Rayhani, 2018; Ridlo, 2020; Wijaya, 2019). Salah satu solusi dalam menangani masalah ini adalah pada sisi promotif dan preventif. Pemberian informasi yang tepat serta mengedukasi masyarakat terkait kesehatan mental sangatlah penting agar stigma yang ada di masyarakat dapat direduksi dan kesadaran serta pengetahuan mengenai kesehatan mental meningkat (Arango, Díaz-Caneja, McGorry, Rapoport, Sommer, Vorstman, & Carpenter, 2018; Doughty, 2005; Jenkins, 2019; Tones & Tilford, 2001; World Health Organization, 2002, 2004).Penelitian ini merupakan penelitian tindakan berdasarkan program TabulaTalks yang diinisiasi oleh Tabula, sebuah perusahaan rintisan yang bergerak di bidang kesehatan mental dan bertujuan membangun ekosistem kesehatan mental di Indonesia dengan memanfaatkan teknologi. TabulaTalks adalah kegiatan psikoedukasi dengan format bincang-bincang yang menghadirkan psikolog dan praktisi kesehatan mental. Kegiatan ini berlangsung rutin seminggu sekali dan telah berlangsung sejak Januari 2021. Penelitian ini hendak memotret respon partisipan terhadap alternatif bentuk intervensi preventif-promotif yang ditujukan bagi awan dengan harapan dapat menjadi evaluasi dan perbaikan serta memberi rekomendasi bagi alternatif bentuk intervensi ataupun psikoedukasi mengenai kesehatan mental bagi masyarakat umum, khususnya memanfaatkan teknologi informasi dan media yang dekat dengan masyarakat
HUBUNGAN ANTARA DERAJAT STRES DENGAN TINGKAT PROKRASTINASI PENGERJAAN SKRIPSI
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara derajat stres dengan tingkat prokrastinasi pengerjaan skripsi dan melihat apakah individu yang sedang mengerjakan skripsi tersebut mengalami keluhan penyakit. Setiap mahasiswa akan melalui proses pengerjaan skripsi, mahasiswa juga diminta untuk mengerjakan skripsi selama dua semester, namun ada para mahasiswa yang mengerjakan skripsi lebih dari dua semester. Stres dapat ditimbulkan dari pengerjaan skripsi, karena proses tersebut dianggap sebagai hal yang mengancam bagi individu. Untuk mengatasi stres yang dialami, mereka melakukan penundaan pengerjaan skripsi yang biasa disebut dengan prokrastinasi, yang bisa membuat waktu mengerjakan skripsi para mahasiswa menjadi lebih lama. Di antara mereka juga ada yang mengalami keluhan penyakit selama pengerjaan skripsi. Peneliti melakukan penelitian pada 30 mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi lebih dari dua semester pada semester ganjil tahun ajaran 2013/2014. Dengan menggunakan uji korelasi Rank Spearman, data penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa yang mengerjakan skripsi lebih dari dua semester tersebut sebagian besar memiliki derajat stres cukup tinggi, dan tingkat prokrastinasi yang cukup tinggi juga dan kedua variabel tersebut memiliki hubungan, dimana ketika derajat stres tinggi, maka tingkat prokrastinasi juga tinggi, begitu pula sebaliknya. Prokrastinasi pengerjaan skripsi ini adalah sebuah coping behavior untuk mengatur stres selama pengerjaan skripsi. Prokrastinasi pengerjaan skripsi ini dapat memberikan self-worth yang tinggi dengan menghindari situasi dimana para mahasiswa tersebut mungkin gagal dalam proses pengerjaan skripsi. Dari penelitian ini juga didapatkan data bahwa para mahasiswa sebagian mengalami keluhan penyakit yang diakui oleh sebagian besar yang memiliki keluhan penyakit, bahwa keluhannya disebabkan oleh proses pengerjaan skripsi