Yarsi Academic Journals
Not a member yet
1729 research outputs found
Sort by
PELATIHAN DETEKSI DINI MASALAH REMAJA DAN KONSELING SEBAYA BAGI REMAJA BINAAN DI KECAMATAN JOHAR BARU
Permasalahan yang dialami oleh para remaja semakin bervariasi. Selain itu, perilaku negatif remaja, semakin tahun juga semakin mengalami peningkatan. Oleh karena itu, diperlukan suatu program yang memberi pengetahuan kepada kelompok remaja untuk terhindar dari berbagai permasalahan, membantu mendeteksi permasalahan tersebut, serta membantu teman sebayanya dalam mengatasi permasalahan yang muncul. Salah satu program yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan pelatihan konseling sebaya dan deteksi dini masalah remaja. Pelaksanaan kegiatan dilakukan kepada remaja binaan yang berdomisili di Kecamatan Johar Baru, Jakarta Pusat. Dari hasil evaluasi pada 20 peserta yang menyelesaikan program, menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan (p=0.012; p<0.05) antara pengetahuan peserta sebelum dan setelah dilakukan pelatihan. Skor pengetahuan peserta setelah pelatihan lebih tinggi dibandingkan dengan sebelum pelatihan. Hal ini berarti bahwa pelatihan yang diberikan secara signifikan efektif untuk meningkatkan pengetahuan para peserta tentang deteksi dini masalah remaja. Selain itu, ditemukan pula peserta puas dengan pelaksanaan pelatihan. Hal ini mengindikasikan bahwa program pelatihan layak untuk dilanjutkan dan dirasakan memberi manfaat bagi para remaja binaan di kecamatan Johar Baru, Jakarta Pusat
BERBAGAI PERMASALAHAN YANG DIHADAPI PEREMPUAN MENIKAH DAN BEKERJA DARI KELUARGA DUAL EARNER: Studi Awal Pada Profesi Dosen PTS di Jakarta
Profesi dosen sering dianggap sebagai profesi yang ramah terhadap peran domestic perempuan. Namun profesi dosen saat ini sedang dihadapkan pada tuntutan untuk meningkatkan profesionalismenya, di sisi lain lingkungan Jakarta dengan lalu lintas yang demikian padat, menempatkan perempuan dosen juga harus meninggalkan rumah selama 10 s.d. 12 jam per hari. Tujuan dari tulisan ini adalah untuk mengungkapkan beberapa permasalahan yang dihadapi oleh perempuan menikah dan bekerja, khususnya pada profesi dosen (tetap) di PTS di Jakarta. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara terhadap 9 (sembilan) dosen tetap dari dua PTS. Dari hasil wawancara, dilakukan pengelompokan tema besar, dari tema-tema kemudian dijabarkan dalam sub tema. Sub tema ini akan memberikan penjabaran tentang makna dari tema-tema besar. Tema permasalahan yang muncul adalah tentang (1) pembagian dan penggunaan waktu, dan (2) konflik terbuka dengan pasangan berkaitan dengan kerja, dan (3) perasaan lelah karena masih harus berhadapan dengan pekerjaan rumah tangga. Tiga hal tersebut merupakan tanda bahwa responden mengalami work-family conflict. Konflik tersebut berkaitan dengan (4) keterikatan pada peran dan (5) harapan peran parenting pada pasangan. Sedangkan work-family conflict tersebut menimbulkan (6) gangguan kesehatan fisik dan (7) psikologis, yaitu alergi dan perasaan bersalah pada keluarga dan tempat kerja. Temuan ini menunjukkan bahwa pada perempuan berprofesi dosen yang berpendidikan tinggi sekalipun mengalami work-family conflict, dengan konflik lebih banyak bersumber pada faktor keluarga. Hal ini perlu ditindaklanjuti dengan riset selanjutnya untuk menemukan bagaimana mengatasi faktor keluarga ini agar tidak lagi menjadi sumber konflik bagi perempuan bekerja pada profesi dosen ini
PERSPEKTIF AGAMA DALAM KESEHATAN
Manusia pada awal kejadiannya (kisah Nabi Adam ‘alaihissalaam) menimbulkan kehawatiran malaikat karena menurut pendapatnya bahwa manusia memiliki potensi untuk saling menumpahkan darah, sementara malaikat senantiasa memahasucikanNya. Allah sebagai sang Pencipta (Khaliq) lebih tahu tentang tujuan mengapa Ia menciptakan makhluk yang diciptakanNya. Jin dan manusia sebagai makhluk-Nya diciptakan hanyalah untuk beribadah kepadaNya (Khaliq). Membangun hubungan dengan Allah (hablum minallah) dan sesama manusia (hablumminannas) menjadi penting untuk mempertahankan keharmonisan yang besifat hakiki. Silaturrahim ( silat/menyambung dan Rahim/compassion) merupakan istilah yang cukup ringkas untuk menggambarkan hubungan keduanya (QS.4 : 1 ). Istilah insan menunjukkan bahwa selain manusia secara strukturnya adalah harmonis juga memiliki sifat bawaan yang ramah. Kata Insan juga memiliki akar kata yang sama dengan nisyan yang artinya lupa. Jadi sifat pelupa inilah yang harus selalu berdampingan dengan dzikr yang artinya tidak saja mengingat tetapi juga menyebut (QS.3: 190-191, QS.7205, QS.18:23-24) agar sebagai makluq senantiasa dapat menjalin hubungan dengan Khaliqnya. Terputusnya hubungan dengan sang Khaliq berdampak buruk di dunia maupun di akhirat (QS.7:179, S. Taha.2): 124-125, QS.59: 18-19, ). Setiap insan yang terlahir dari perut ibunya sesungguhnya dalam keadaan tidak berpengetahuan, kemudian oleh Allah diberinya pendengaran, penglihatan dan akal agar bersyukur (QS.16: 78). Syukur inilah yang menjadikan ni’mat Allah yang diberikan kepada manusia secara terus menerus bertambah seperti ni’mat kesehatan, ilmu, iman dan lainnya (QS.14: 7 ), namun pada kenyataannya hanya sedikit hambaNya yang besyukur (QS.67:23). Keberhasilan manusia dalam mengemban misi kehidupannya sebagai khalifah fil ardh (wakil Tuhan di muka bumi) ditunjukkan dengan sikap ridha Allah terhadap manusia ( QS.89 27-30) yang untuk mencapainya manusia harus senantiasa berjuang untuk mengatasi kedua nafsu lainnya yaitu: nafsu ammarah (QS.12:53) dan lawwaamah(QS.75:2). Ditunjukkan di dalam Al-Qur’an apabila manusia mampu mengatakan bahwa Allah sebagai RabbNya dan beristiqamah niscaya Allah turunkan para malaikatNya untuk menghilangkan kesedihan dan ketakutan dan bahkan senantiasa memberikannya suasana hati yang gembira ( s. fusshilat: 30). Kondisi seperti inilah yang sesunggunya merupakan kunci kesehatan bagi manusia baik secara biologis, psikologis, social dan spiritual. Allah telah mengirimkan utusanNya sebagai teladan yang baik (uswatun hasanah) bagi seluruh umat manusia. Beliau nabi Muhammad s.a.w memiliki hati yang lembut dan penuh kasih sayang terhadap umatnya (QS.3:159) yang hanya sekali mengalami sakit dalam hidupnya. Hal ini menunjukkan bahwa keimanan yang tangguh dan sifat kasih sayang ( Rahim ) menjadi modal utama bagi kesehatan
Gambaran Infeksi Parasit Usus Pada Anak di Pemukiman Pemulung Perkotaan Jakarta Timur dan Tinjauannya Menurut Pandangan Islam
Latar Belakang: Data WHO melaporkan lebih dari 24% penduduk dunia terinfeksi parasit usus dan 800 juta anak usia sekolah memberikan risiko terinfeksi parasit usus. Kelompok usia anak belum memiliki kemampuan untuk menjaga kebersihan pribadi. Lingkungan tempat tinggal dengan sanitasi yang kurang memberikan risiko tercemar dengan mikroorganisme termasuk parasit usus. Metode: Jenis penelitian yang digunakan ialah observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel yang digunakan adalah feses yang dikumpulkan dari 35 orang anak yang tinggal di pemukiman pemulung Jakarta Timur. Hasil: Sebesar 8,6% anak-anak di pemukiman pemulung positif terinfeksi parasit usus, Blastocystis hominis. Sebanyak 1 orang (2,9%) dengan kebersihan individu yang masih kurang, yaitu memiliki kuku panjang dan hitam dan sebagian besar sudah memiliki kebersihan individu cukup baik. Sebanyak 3 orang (8,6%) berkulit hitam kusam karena sering terpapar sinar matahari siang. Sebanyak 3 orang anak tinggal di rumah yang tidak memiliki ventilasi, sehingga sinar matahari tidak pernah masuk (8,6%) dan sisanya anak-anak tinggal dengan lingkungan rumah yang cukup bersih. Data penelitian menunjukkan anak-anak yang tinggal di pemukiman pemulung dengan kebersihan individu yang kurang baik memiliki kecenderungan terinfeksi parasit usus, walaupun secara uji statistic Chi Square tidak memberikan hasil yang bermakna (p>0,01). Kesimpulan: Anak-anak yang tinggal di pemukiman pemulung dengan kebersihan individu dan sanitasi lingkungan tinggal yang cukup baik belum dapat mencegah terjadinya infeksi parasit usus oleh Blastocystis hominis
Obesity Related to Uric Acid Levels
Asam urat merupakan produksi akhir yang dikeluarkan melalui urin, tetapi lebih dari 70% dikeluarkan melalui ginjal. Seseorang dikatakan mengalami peningkatan kadar asam urat apabila kadar asam urat pada laki-laki lebih dari 7mg/dL dan pada perempuan lebih dari 6mg/dL. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kadar asam urat adalah gaya hidup seperti obesitas, konsumsi purin tinggi dan asupan alkohol. Obesitas dapat terjadi akibat resistensi leptin yang mengakibatkan akumulasi jaringan lemak sehingga dapat mengganggu kesehatan. Obesitas dapat menyebabkan hiperurisemia karena kelebihan produksi dan ekskresi ginjal yang buruk. Metode penelitian ini adalah studi pustaka, studi pustaka menggunakan PubMed dan Cochrane sebagai basis data. Kata kunci yang digunakan dalam pencarian literatur adalah hiperurisemia, obesitas dan dewasa. Literatur tinjauan ini menggunakan literatur yang diterbitkan dari 2010 hingga 2020. Semua literatur yang telah diperoleh kemudian dipilih menggunakan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditentukan. Berdasarkan analisis dari setiap literatur yang dipilih, ditemukan bahwa obesitas dapat mempengaruhi kadar asam urat.Gout is the final production excreted in urine, but more than 70% is excreted in the kidneys. Someone said to have increased levels of uric acid if uric acid levels in men more than 7 mg / dL and in women more than 6 mg / dL. One factor that can affect uric acid levels is lifestyle such as obesity, high purine consumption and alcohol intake. Obesity can occur due to leptin resistance which results in accumulation of fat tissue so that it can interfere with health. Obesity can cause hyperuricemia due to overproduction and poor kidney excretion. This research method is literature study, literature study using PubMed and Cochrane as a database. Keywords used in the literature search are: hyperuricemia, obesity and adulthood. This review literature uses literature published from 2010 to 2020. All literature that has been obtained is then selected using predetermined inclusion and exclusion criteria. Based on the analysis of each selected literature, it was found that obesity can affect uric acid levels
Karakteristik dan Penatalaksanaan Penderita Pitiriasis Versikolor di Rumah Sakit Umum Pusat Fatmawati Tahun 2015-2017
Pitiriasis versikolor adalah infeksi jamur superfisial ditandai dengan adanya makula di kulit, skuama halus disertai rasa gatal disebabkan oleh jamur lipofilik dimorfik dari flora normal kulit. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui karakteristik dan penatalaksanaan penderita Pitiriasis versikolor di RSUP Fatmawati Tahun 2015-2017. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif retrospektif berdasarkan data rekam medis dengan pendekatan cross sectional dan menggunakan teknik total sampling. Hasil penelitian ini menunjukkan dari 178 kasus pitiriasis versikolor terbanyak adalah laki-laki 110 pasien (61,8%), berusia 25-44 tahun 59 pasien (33,1%), pekerjaan yang terbanyak yaitu pelajar/mahasiswa 70 pasien (39,3%), warna lesi terbanyak hipopigmentasi 140 pasien (78,7%), lokasi lesi terbanyak di badan 63 pasien (35,4%), terjadi pada musim panas 107 pasien (60,1%), dan kepatuhan pengobatan diterima pada 151 pasien (84,8%). Penatalaksanaan terbanyak diberikan obat topikal dan oral 115 pasien (64,6%). Kesimpulan penelitian ini adalah pasien yang berobat ke RSUP Fatmawati Tahun 2015-2017 mempunyai karakteristik beraneka ragam dari umur, jenis kelamin, pekerjaan, warna lesi, lokasi lesi, musim, patuh terhadap pengobatan, dan diberikan terapi kombinasi karena lesinya luasPitiriasis versikolor adalah infeksi jamur superfisial ditandai dengan adanya makula di kulit, skuama halus disertai rasa gatal disebabkan oleh jamur lipofilik dimorfik dari flora normal kulit. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui karakteristik dan penatalaksanaan penderita Pitiriasis versikolor di RSUP Fatmawati Tahun 2015-2017. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif retrospektif berdasarkan data rekam medis dengan pendekatan cross sectional dan menggunakan teknik total sampling. Hasil penelitian ini menunjukkan dari 178 kasus pitiriasis versikolor terbanyak adalah laki-laki 110 pasien (61,8%), berusia 25-44 tahun 59 pasien (33,1%), pekerjaan yang terbanyak yaitu pelajar/mahasiswa 70 pasien (39,3%), warna lesi terbanyak hipopigmentasi 140 pasien (78,7%), lokasi lesi terbanyak di badan 63 pasien (35,4%), terjadi pada musim panas 107 pasien (60,1%), dan kepatuhan pengobatan diterima pada 151 pasien (84,8%). Penatalaksanaan terbanyak diberikan obat topikal dan oral 115 pasien (64,6%). Kesimpulan penelitian ini adalah pasien yang berobat ke RSUP Fatmawati Tahun 2015-2017 mempunyai karakteristik beraneka ragam dari umur, jenis kelamin, pekerjaan, warna lesi, lokasi lesi, musim, patuh terhadap pengobatan, dan diberikan terapi kombinasi karena lesinya luas
Physiology of Sleep and Classification of Sleep Disorders
Sleep is a human biological function, with a ratio of 1/3 of human life. Sleep disturbances can include lack of sleep, excessive sleep perceptions, or abnormal movements during sleep. Sleep disturbances are often an early symptom of mental illness that will occur; mental disorders also cause changes in sleep physiology. The purpose of the following review narrative is to collect some of the review literature. Based on the narrative results, the review found that there is a relationship between sleep disorders and mental health, especially depressio
Operculectomy Procedure as Treatment for Pericoronitis of the Lower Third Molar: A Case Reports
Introduction: The operculum surrounding the lower third molar can prompt plaque retention from accumulated food debris, and chewing trauma from opposing teeth can lead to pericoronitis. Pericoronitis typically occurs in the lower third molars. Case Report: A 17-year-old male patient and a 20-year-old female patient came with complaints of gums partially covering the crowns of their lower right tooth, which were painful when biting and interfered with eating. The patient had no systemic diseases, no drug or food allergies. Clinical and radiographic examinations revealed partial eruption of teeth 48. The operator decided to perform an operculectomy on tooth 48. Discussion: Operculectomy is the procedure to removal of the gum above the third molar. This is a surgical procedure to treat pericoronitis and prevent future recurrence. Conclusion: The operculectomy procedure using surgical blade was successful in this case because it is the gold standard and a conventional technique that can still be used for pericoronitis due to its ease of performance, affordability, and good healing process. The success of operculectomy treatment also depends on the patient's oral hygiene.Abstract
Introduction: The operculum surrounding the lower third molar can prompt plaque retention from accumulated food debris, and chewing trauma from opposing teeth can lead to pericoronitis. Pericoronitis typically occurs in the lower third molars. Case Report: A 17-year-old male patient and a 20-year-old female patient came with complaints of gums partially covering the crowns of their lower right tooth, which were painful when biting and interfered with eating. The patient had no systemic diseases, no drug or food allergies. Clinical and radiographic examinations revealed partial eruption of teeth 48. The operator decided to perform an operculectomy on tooth 48. Discussion: Operculectomy is the procedure to removal of the gum above the third molar. This is a surgical procedure to treat pericoronitis and prevent future recurrence. Conclusion: The operculectomy procedure using surgical blade was successful in this case because it is the gold standard and a conventional technique that can still be used for pericoronitis due to its ease of performance, affordability, and good healing process. The success of operculectomy treatment also depends on the patient's oral hygiene.
Keywords: Operculectomy, Pericoronitis, Lower Third Mola
Pediatric Epilepsy and Sleep Disturbances: A Cross-Sectional Perspective
Children with epilepsy experienced a greater prevalence of sleep disturbances and maladaptive sleep habits compared with their peers. Nevertheless, the prevalence data and determinants of sleep disorders among epileptic children in Indonesia are still limited. A cross-sectional study was conducted at Pasar Rebo General Public Hospital from February to August 2025. Eligible participants were children aged 3-18 years with a confirmed diagnosis of epilepsy and had been receiving anti-epileptic drugs (AEDs) for at least one month. Participants who had remained seizure-free for over a year or presented with comorbidities such as cerebral palsy or autism spectrum disorder were excluded from the analysis. Sleep habits and the prevalence of sleep disturbances were assessed using the validated Sleep Disturbance Scale for Children (SDSC) questionnaire, which was completed by parents. A total of 42 children were enrolled, with a mean age of 9.6 years (SD=4.5). The majority of the participants were male (57.1%). Overall, 25 children (59.5%) presented with sleep disturbances, of which disorders of initiating and maintaining sleep were the most prevalent (60%). No significant associations were observed between sleep disturbances and age (p=0.529), sex (p=0.618), number of AEDs (p=0.921), type of epilepsy (p=0.182), seizure-free duration (p=0.878), or EEG findings (p=0.107). Sleep disturbances were found to be highly prevalent among Indonesian children with epilepsy. The absence of significant associations between sleep disturbances and various clinical characteristics identified in this study may suggest a complex interplay of factors beyond epilepsy itself
Hubungan Antara Flashsale, Content Marketing, Kepuasan Pelanggan dan Keputusan Pembelian Kembali
This study aims to test the effect of flash sales and content marketing on repurchase decisions with customer satisfaction as an intervening variable. The population is consumers who have purchased and repurchased Snacktok Bittersweet by Najla products in Jabodetabek. Data analysis used the Partial Least Square Structural Equation Modeling (PLS-SEM) method. The results indicate that flash sales and content marketing mediated by customer satisfaction can be used as a model that influences repurchase decisions, namely: (1) Flash Sale has a positive and significant effect on Repurchase Decisions, (2) Content Marketing has a positive and significant effect on Repurchase Decisions, (3) Flash Sale has a positive and significant effect on Customer Satisfaction, (4) Content Marketing has a positive and significant effect on Customer Satisfaction, (5) Customer Satisfaction has a positive and significant effect on Repurchase Decisions, (6) Customer Satisfaction can mediate Flash Sale on Repurchase Decisions, (7) Customer Satisfaction can mediate Content Marketing on Repurchase Decisions. In Islam, the sale of Snacktok Bittersweet by Najla is in accordance with Islamic law, namely, the principles of justice, honesty, transparency, and customer satisfaction.Penelitian ini bertujuan menguji pengaruh flash sale dan content marketing terhadap keputusan pembelian kembali dengan kepuasan pelanggan sebagai variabel intervening. Populasinya adalah para konsumen yang pernah membeli dan melakukan pembelian kembali produk Snacktok Bittersweet by Najla di Jabodetabek. Analisis data menggunakan metode Partial Least Square Structural Equation Modeling (PLS-SEM). Hasil penelitian menunjukkan flash sale dan content marketing dimediasi oleh kepuasan pelanggan dapat dijadikan model yang mempengaruhi keputusan pembelian kembali yaitu : (1) Flash Sale berpengaruh positif dan signifikan terhadap Keputusan Pembelian Kembali, (2) Content Marketing berpengaruh positif dan signifikan terhadap Keputusan Pembelian Kembali, (3) Flash Sale berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kepuasan Pelanggan, (4) Content Marketing berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kepuasan Pelanggan, (5) Kepuasan Pelanggan berpengaruh positif dan signifikan terhadap Keputusan Pembelian Kembali, (6) Kepuasan Pelanggan dapat memediasi Flash Sale terhadap Keputusan Pembelian Kembali, (7) Kepuasan Pelanggan dapat memediasi Content Marketing terhadap Keputusan Pembelian Kembali. Dalam Islam, penjualan Snacktok Bittersweet by Najla sesuai dengan syariat Islam, yaitu menerapkan prinsip keadilan, kejujuran, transparansi, dan kepuasan pelanggan