Yarsi Academic Journals
Not a member yet
1729 research outputs found
Sort by
IMPLIKASI KEBIJAKAN SOSIAL, POLITIK, EKONOMI DAN PENDIDIKAN TERHADAP PERILAKU SEHAT
Hidup sehat adalah dambaan setiap individu. Tidak heran ketika bertemu dengan kerabat yang telah lama tidak berjumpa maka kesehatan yang akan ditanyakan pertama kali. Meskipun nikmat sehat begitu penting tetapi masih banyak orang yang mengesampingkan pentingnya menjaga kesehatan. Saat ini, pemahaman makna sehat di masyarakat masih terbatas bahwa sehat itu ketiadaan penyakit. Padahal makna sehat seyogyanya dapat dipahami lebih luas daripada itu. Sehat tidak hanya sekedar sehat fisik tetapi juga kesehatan secara psikis. Sehat sendiri merupakan interaksi yang sangat kompleks dari banyak faktor. Mulai dari lingkungan fisik, suasana di luar tubuh hingga doa dan upaya untuk menjaga kesehatan menjadi faktor penentu apakah seseorang dapat dikatakan memiliki kesehatan yang prima atau tidak. Tentu saja, pemeliharaan kesehatan tidak dapat digantungkan sepenuhnya pada individu. Pada lingkup yang lebih luas, ada peran pemerintah yang juga menjadi faktor penting dalam menjaga kesehatan. Tulisan ini akan memuat bagaimana kondisi kesehatan masyarakat Indonesia saat ini dan peranan pemerintah dalam mempromosikan perilaku sehat di masyarakat
Hubungan Antara Kebiasaan Merokok Dan Indeks Masa Tubuh Terhadap Kemampuan Mencecap Rasa Pahit Phenylthiocarbamide (Ptc) Pada Civitas Akademika Universitas YARSI
Phenylthiocarbamide (PTC) merupakan senyawa pahit rasanya mirip polifenol yang terdapat pada sebagian besar sayuran dan buah-buahan. Respon rasa terhadap senyawa ini mempengaruhi preferensi makanan yang berdampak pada Indeks Masa Tubuh seseorang. Faktor lain yang dapat mempengaruhi persepsi rasa adalah kebiasaan buruk seperti merokok.
Reseptor rasa pahit ditentukan oleh gen TAS2R38 dan polimorfisme pada gen TAS2R38 mempengaruhi kemampuan merasakan kepahitan senyawa PTC. Tujuan penelitian adalah mengetahui hubungan antara kebiasaan merokok dan Indeks Masa Tubuh dengan kemampuan mencecap rasa pahit PTC pada sivitas akademika Universitas YARSI. Metode penelitian adalah membandingkan kemampuan mencecap rasa pahit PTC berdasarkan Indeks Masa Tubuh dan berdasarkan kebiasaan merokok dengan menempelkan kertas lakmus PTC pada sampel. Sampel berjumlah 40 orang meliputi perokok dan bukan perokok, berjenis kelamin laki-laki. Hasil penelitian menunjukkan frekuensi tester sebesar 0,54 dan frekuensi non tester sebesar 0,46. Pada 26 orang perokok , 14 orang termasuk tester dan 12 orang termasuk non tester. Berdasarkan IMT, 20 orang termasuk normal, 11 orang termasuk overweight, 9 orang termasuk obesitas. Distribusi pada orang normal dtiemukan 12 tester, pada overweight sebesar 4 tester dan kategori obesitas sebesar 8 tester. Disimpulkan bahwa kebiasaan merokok tidak mempengaruhi kemampuan mencecap PTC sedangkan Indeks Masa Tubuh berpengaruh terhadap kemampuan mencecap PTC pada civitas akademika Universitas YARSI
Uji Daya Hambat Bakteri Lactobacillus acidophilus Dengan Menggunakan Ekstrak Black garlic (Allium Sativum) Secara In Vitro
Karies gigi merupakan suatu kerusakan yang terjadi pada jaringan keras gigi yang disebabkan oleh beberapa faktor yang saling berinteraksi. Faktor tersebut adalah gigi & saliva, mikroorganisme, substrat, dan waktu. Lactobacillus acidophilus merupakan salah satu bakteri penyebab karies gigi. Black garlic merupakan hasil dari proses pemanasan bawang putih. Black garlic memiliki senyawa aktif yaitu allicin dan flavonoid yang bersifat sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas ekstrak Black garlic dalam menghambat pertumbuhan bakteri Lactobacillus acidophilus penyebab karies gigi. Penelitian ini menggunakan desain penelitian eksperimental laboratorik dengan metode disc diffusion. Bahan yang digunakan yaitu ekstrak Black garlic dengan konsentrasi 25%, 50%, 75%, 100%, chlorhexidine 0,2% dan aquades dengan pengulangan sebanyak 4 kali. Hasil penelitian dan pengukuran zona hambat ekstrak Black garlic terhadap pertumbuhan bakteri Lactobacillus acidophilus didapatkan hasil bahwa ekstrak Black garlic dengan konsentrasi 25%, 50%, 75%, dan 100% dan kontrol negatif terbentuk sebesar 0,01 mm yang menunjukan tidak adanya daya hambat dan kontrol positif didapatkan hasil dengan rata-rata 12,35 mm yang menunjukan bahwa respon daya hambat lemah. Hasil uji statistik menggunakan uji Mann-Whitney menunjukkan terdapat perbedaan yang bermakna pada kontrol positif chlorhexidine 0,2% yaitu p=0,014 (p0,05) terhadap aktivitas pertumbuhan bakteri Lactobacillus acidophilus. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa ekstrak Black garlic tidak memiliki efek antibakteri terhadap pertumbuhan bakteri Lactobacillus acidophilus
Hubungan Tingkat Stres terhadap Aktivitas Fisik pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas YARSI Angkata 2021/2022 dan Tinjauannya Menurut Pandangan Islam
Pendahuluan: Stres di definisikan sebagai respon tubuh yang diakibatkan karena adanya tuntutan dari luar diri individu yang melebihi kemampuan dalam memenuhi tuntutan untuk mengatasi dan menyelesaikan suatu masalah. Aktivitas fisik merupakan serangkaian gerak yang teratur untuk memelihara gerak dan meningkatkan kemampuan gerak. Melakukan aktivitas fisik dengan tujuan mengembangkan aspek jasmani maupun rohani dapat berdampak positif bagi orang yang melakukannya yaitu guna meningkatkan daya tahan tubuh demi meningkatkan aktivitas keimanan, dan mengurangi resiko stres. Sehingga dengan melakukan penelitian, maka seorang muslim mengetahui suatu kebenaran ilmu Allah SWT dan manfaatnya bisa berguna bagi orang lain. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan tingkat stres terhadap aktivitas fisik pada mahasiswa kedokteran Universitas Yarsi Angkatan 2021 dan 2022. Metodologi: Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif analisis dengan metode cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa fakultas Kedokteran Universitas Yarsi. Analisis data yang dilakukan dengan analisis univariat dan analisis bivariat. Hasil: Hasil uji univariat menunjukkan terdapat 5 orang (6,7%) mengalami stres ringan, 64 orang (85,3%) mengalami stres sedang, serta 6 orang (8%) mengalami stres berat. Serta terdapat terdapat 30 orang (40%) melakukan aktivitas fisik ringan, 39 orang (52%) melakukan aktivitas fisik sedang, serta 6 orang (8%) melakukan aktivitas fisik berat. Simpulan: Hasil uji chi-square dengan hasil p-value 0,147 (> 0,05) yang menyatakan bahwa hubungan antara tingkat stres terhadap aktivitas fisik tidak terdapat perbedaan yang signifikan
QUALITY OF LIFE DAN TEACHING SELF-EFFICACY PADA KELOMPOK PROFESI DOSEN FAKULTAS PSIKOLOGI PERGURUAN TINGGI SWASTA DI BANDUNG
Penelitian ini bertujuan memberikan gambaran derajat quality of life dan teaching self-efficacy. Teknik pengambilan sampelnya adalah non-probability sampling yaitu partisipan dipilih berkaitan dengan topik penelitian dan didapatkan 37 orang. Desain non-probability sampling yang digunakan adalah accidental sampling, yaitu pengambilan sampel berdasarkan kedekatan dalam menjangkau populasi. Data diperoleh melalui penyebaran kuesioner quality of life dari WHOQOL-BREF yang dibuat oleh tim dari World Health Organization (WHO) yang meliputi domain fisik, psikologis, sosial dan hubungan dengan lingkungan. Kuesioner quality of life diadaptasi dari WHOQOL-BREF yang berjumlah 26 item dan diperoleh koefisien reliabilitas sebesar 0,936 serta nilai validitas antara 0,372-0,818. Kuesioner teaching self-efficacy dari Bandura meliputi aspek efficacy to influence decission making, efficacy to influence resources, instructional self-efficacy, disciplinary self-efficacy dan efficacy to create a positive climate yang sudah diadaptasi oleh peneliti dan diperoleh koefisien reliabilitas sebesar 0,914 serta nilai validitas antara 0,363-0,769. Hasil korelasi antara quality of life dan teaching self-efficacy diperoleh sebesar 0,318 yang berarti korelasi tergolong rendah. Berdasarkan hasil hitung statistik dapat diperoleh hasil bahwa mayoritas partisipan memiliki quality of life yang positif dan sebagian responden memiliki derajat teaching self-efficacy pada level sedang sampai tinggi. Saran yang dapat diberikan bagi penelitian selanjutnya adalah perlu dikembangkan dengan mengukur faktor-faktor yang mempengaruhi quality of life dan teaching self-efficacy, melibatkan partisipan yang lebih banyak dan lokasi penelitian yang lebih luas. Implikasi dari penelitian ini akan didiskusikan lebih lanjut
SUMBER STRES DAN SUMBER COPING MAHASISWI PASCASARJANA
Kesadaran kaum wanita dalam menempuh pendidikan semakin meningkat dari tahun ke tahun. Permasalahan dapat terjadi dan akan menjadi sumber stres bagi mahasiswi Pascasarjana ketika mereka juga memiliki peran sebagai wanita karir dan ibu rumah tangga. Sumber stres yang muncul membuat terjadinya proses penilaian terhadap sumber coping apa yang dapat mendukung untuk mengurangi stres atau tekanan yang dirasakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi lebih dalam mengenai sumber stres dan sumber coping mahasiswi pascasarjana. Manfaat dari penelitian ini yaitu mendapatkan informasi mengenai sumber stres dan sumber coping mahasiswi Pascasarjana yang memiliki peran lain. Selain itu, mendapatkan model hubungan antara sumber stres, sumber coping, dan coping yang dilakukan. Pendekatan penelitian adalah kualitatif fenomenologi dan melibatkan empat orang informan penelitian. Proses pengambilan data dilakukan dengan wawancara mendalam/indepth interview dan observasi. Hasil penelitian menemukan sumber stres yang dialami bersumber dari faktor internal yaitu kesulitan membagi waktu dengan ketiga peran, kondisi fisik atau psikis yang terkadang tidak stabil dan faktor eksternal yaitu tuntutan di berbagai peran yang datang bersamaan, batas waktu pemenuhan tuntutan peran, dan permasalahan di satu peran yang mempengaruhi peran lainnya. Sumber coping berasal dari faktor internal yaitu kesehatan dan energi, kemampuan berkonsentrasi, keterampilan sosial, kepercayaan pada Tuhan, dan keyakinan bahwa sesuatu akan lebih baik. Sementara faktor eksternal berasal dari dukungan sosial. Bentuk coping yang dilakukan adalah problem focused coping, emotional focused coping dan coping religius. Hubungan sumber stres, sumber coping, dan coping yang dilakukan diperantarai oleh karakteristik personal dan penilaian yang dilakukan
INTEGRASI PENGOBATAN KOMPLEMENTER-ALTERNATIF “SPIRITUALITAS” KE DALAM LAYANAN KESEHATAN UNTUK MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS
Kesehatan merupakan salah satu hal penting bagi setiap manusia.Oleh karena itu manusia melakukan berbagai macam cara untuk menjaga kesehatan maupun mengobati penyakit,mulai dari pengobatan medis konvensional hingga menggunakan pengobatan tradisional. Istilah pengobatan tradisional saat ini lebih dikenal dengan istilah Complementary and Alternative Medicine (CAM) atau Pengobatan-Komplementer Alternatif (PKA). Salah satu jenis PKA adalah dengan pendekatan spiritual yang dapat disimpulkan sebagai sesuatu yang berhubungan dengan jiwa (ruh) atau kebatinan manusia yang berhubungan dengan Tuhan, diri sendiri dan orang lain, serta memberikan sikap dan perilaku sesuai dengan keyakinan seseorang. Pendekatan spiritualitas dapat mendorong individu menjelaskan penderitaan dan tantangan yang sedang dihadapi melalui keyakinan yang dimiliki dan pada akhirnya menyimpulkan bahwa semua yang dialami bukanlah suatu penderitaan. Spiritualitas juga diperlukan dalam perawatan paliatif karena menjadi sumber kebermaknaan hidup, memengaruhi pilihan penanganan dan perawatan, serta sikap terhadap proses sekarat pada pasien dengan penyakit kronis. Tenaga kesehatan perlu sensitif terhadap kebutuhan klien akan isu spiritualitas dalam pengobatan terintegrasi. Pengobatan terintegrasi menekankan pada pentingnya hubungan antara pasien dan tenaga kesehatan guna memilih pengobatan yang sesuai dengan pasien. Sayangnya berbagai penelitian menunjukkan bahwa masih banyak tenaga kesehatan yang tidak peduli dengan pemenuhan kebutuhan spiritualitas klien bahkan umumnya aspek spiritualitas ditolak oleh para petugas kesehatan. Padahal, aspek spiritualitas berkorelasi positif dengan kesejahteraan psikologis seseorang. Artikel ini merupakan hasil studi pustaka yang akan membahas mengenai aspek spiritualitas dalam pengobatan terintegrasi untuk meningkatkan kesejateraan psikologis pasien penyakit kronis. Melalui artikel ini diharapkan tenaga kesehatan dapat lebih memperhatikan faktor spiritualitas dalam upaya penyembuhan pasien
POTENSI PENGOBATAN KOMPLEMENTER-ALTERNATIF “TERAPI MUSIK” UNTUK MENINGKATKAN KESEHATAN MENTAL
Pengobatan komplementer-alternatif (PKA) merupakan salah satu metode pengobatan selain pengobatan medis konvensional. Di Indonesia penyelenggaran PKA di layanan kesehatan telah diatur melalui peraturan menteri kesehatan sejak tahun 2007. Salah satu jenis PKA adalah terapi musik yang dapat digolongkan dalam mind-body interventions. Musik telah digunakan sebagai media terapi sejak zaman kuno yang terbukti dari adanya catatan-catatan sejarah peradaban kuno Mesir, Cina, India, Yunani, dan Roma. Sedangkan terapi musik di Amerika mulai berkembang pada masa Perang Dunia I dan Perang Dunia II di mana pada masa ini terapi musik digunakan sebagai media penyembuhan dan pemulihan kondisi fisik dan mental para tentara. Terapi musik didefinisikan sebagai sebuah terapi kesehatan yang menggunakan musik di mana tujuannya adalah untuk meningkatkan atau memperbaiki kondisi fisik, emosi, dan sosial individu dari berbagai kalangan usia. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa terapi musik terbukti efektif dalam membantu rehabilitasi gangguan fisik, peningkatan motivasi dalam menjalani perawatan, memberikan dorongan emosional untuk klien dan keluarga, mengekspresikan perasaan, dan dalam berbagai proses psikoterapi. Oleh karena itu terapi musik terus dikembangan dalam pusat layanan kesehatan, baik di rumah sakit, klinik, lembaga kesehatan, sekolah-sekolah, pusat kesehatan mental, pusat rehabilitasi ketergantungan obat, serta tempat-tempat perawatan lainnya. Terapi musik memiliki peranan yang besar di bidang kesehatan tetapi belum banyak yang meneliti dan mengekplorasi penggunaannya di Indonesia. Penulis telah melakukan studi pustaka dan dalam artikel ini akan dibahas berbagai efektivitas terapi musik dalam meningkatkan kesehatan mental yang berhasil dikumpulkan sehingga para profesional kesehatan diharapkan mau mengintegrasikannya dalam layanan yang diberikan
Resiliensi terhadap Kedukaan Masyarakat Indonesia dalam Menghadapi Pandemi Covid-19
This article examines the complex and traumatic losses posed by the Covid-19 pandemic. The Covid-19 pandemic is a perfect stress storm, involving acute crises and bereavement events, disrupting many aspects of life, and ongoing multi-stress challenges with evolving conditions. The situation is so extreme that the family experiences tension and grief over so much loss, fear for loved ones, and anxiety about the future. This research method is a literature study method that examines books and 10 journals, 2 online news, the data is analyzed by content analysis techniques. The conclusion of this study is that many families who are experiencing pressure, struggling, adapting in the face of the Covid-19 pandemic need help in forging resilience (resilience). Sadness that focuses on individual symptoms. How a family deals with stress and loss is very important to know. In gaining resilience, families must strengthen ties and resources in the face of challenges or problems they face. With the help of the Covid-19 Task Force and the community that provides assistance and support, we hope to ease the burden on families so that they can recover and the Covid-19 pandemic in Indonesia can also end soon
Hubungan Antara Harapan Dengan Kesejahteraan Subjektif Mahasiswa Tingkat Awal di Masa Pandemi Covid-19
Covid-19 mulai muncul dari Wuhan pada akhir tahun 2019 dan mengakibatkan berbagai perubahan kebijakan di seluruh dunia. Semua perubahan tidak terduga ini dikombinasikan dengan tuntutan beradaptasi dengan lingkungan baru meningkatkan kemungkinan menurunnya kesejahteraan subjektif mahasiswa tingkat awal yang sedang melalui masa transisi. Untuk mencapai kesejahteraan subjektif pada diri mahasiswa, maka diperlukan suatu proses yang dapat menggerakan mahasiswa untuk mencapai tujuannya. Dalam kehidupan mahasiswa tingkat awal, proses ini digunakan dalam melakukan transisi akademik dan sosial secara daring. Proses dalam menjalankan kehidupannya ini disebut sebagai hope. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara hope dan subjective well-being pada mahasiswa tingkat awal dalam konteks pandemi Covid-19. Penelitian ini merupakan penelitian yang sedang berlangsung. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif. Peneliti akan menggunakan metode purposive sampling untuk pemilihan sampel. Besar sampel dalam penelitian ini adalah 145 responden. Terdapat tiga alat ukur yang akan digunakan dalam penelitian ini, yaitu adult hope scale (Snyder, 1991), satisfaction with life scale (Diener et al., 1985), dan scale of positive and negative experience (Diener et al., 2009)