Yarsi Academic Journals
Not a member yet
    1729 research outputs found

    MENTRANSFORMASIKAN AJARAN AGAMA SEBAGAI MOTIVASI BERPERILAKU HIDUP SEHAT BAGI MASYARAKAT MUSLIM

    Get PDF
    Psikologi kesehatan merupakan pengetahuan yang dapat digunakan untuk mempromosikan tingkah laku sehat dan mencegah munculnya penyakit baik pada tingkat individu, kelompok maupun masyarakat. Banyak faktor yang diperhatikan terhadap sasaran dalam keberhasilan pendidikan kesehatan, antara lain ajaran agama yang dianut seseorang. Ajaran agama (Islam) dapat menjadi inspirasi perilaku hidup sehat. Selama ini, banyak pemeluk agama Islam, masih menilai agama sekedar masalah hubungan dengan yang mahakuasa dan berbuat kebaikan. Adanya kenyataan bahwa masyarakat Indonesia mayoritas adalah muslim, memunculkan pertanyaan mengenai peran agama dalam peningkatan kesehatan masyarakat yang tampaknya tidak menunjukkan peran yang cukup berarti, padahal Islam memberikan sebuah pandangan yang tegas mengenai kesehatan. Tulisan ini bertujuan untuk menggambarkan bagaimana ajaran Islam dapat menjadi dasar perilaku hidup yang sehat dengan pendekatan teori Expectancy-value dari Wigfield dan Eccless. Melalui metode telaah/studi pustaka terhadap literatur yang relevan, diperoleh kesimpulan bahwa penjagaan dan pemeliharaan kesehatan menjadi bagian pemeliharaan kedua dari prinsip-prinsip pemeliharaan pokok dalam Islam (maqaasidut syariah). Oleh karena itu, diperlukan perubahan pola pikir masyarakat untuk memahami dan meyakini bahwa Islam tidak hanya menuntun pemeluknya menjalankan ibadah dalam arti sempit (seperti shalat, puasa), tetapi dalam makna yang lebih luas ibadah juga berarti memelihara diri dari hal-hal yang bisa membahayakan dan merusaknya. Perilaku hidup sehat merupakan wujud dari kewajiban memelihara diri tersebut. Ajaran ini perlu menjadi attainment dan utility value bagi pemeluknya dan diinternalisasikan untuk menjadi motivasi untuk berperilaku sehat

    Penerimaan Masyarakat Terhadap Kampanye Nasional Pencegahan COVID-19 Pada Iklan Layanan Masyarakat di Indonesia

    Get PDF
    Saat Pandemi COVID-19, Perilaku 3M (menggunakan masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan dengan sabun) merupakan cara yang paling efektif untuk pencegahan selain juga vaksinasi. Kementerian Kesehatan terus melakukan upaya pencegahan salah satunya dengan melakukan Kampanye Nasional 3M melalui Iklan Layanan Masyarakat (ILM), dengan tagline “JANGAN KENDOR!” Tujuan penelitian mengetahui penerimaan masyarakat terkait kampanye ILM 3M yang disosialisasikan melalui media massa. Metode penelitian kuantitatif dengan menyebarkan kuesioner online secara bertahap sesuai dengan tahapan disebarkannya ILM di media massa, yaitu September – November 2020. Kuesioner berisi karakteristik responden (usia, jenis kelamin, pekerjaan, pendidikan, penghasilan, dan tempat tinggal), informasi, persepsi, peran serta, perilaku, serta efektivitas ILM. Sebanyak 6.727 responden berusia 15 – 65 tahun yang berasal dari 34 provinsi, dimana responden perempuan sekitar 65% dan laki – laki 35% berhasil terkumpul. Secara berturut-turut, responden yang tidak pernah melihat ILM memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan pakai sabun adalah 21%, 24%, dan 29%. Sekitar 20% responden menyatakan media ILM 3M masih perlu perbaikan. Kekurangan dari ILM 3M ini adalah warna yang dianggap tidak menarik. Istilah ‘JANGAN KENDOR!” perlu diubah dengan kata yang lebih menguatkan perilaku 3M, seperti “TERUS LAKUKAN 3M!”, bahkan dapat ditambahkan menjadi 5M (Memakai Masker, Menjaga Jarak, Mencuci Tangan Pakai Sabun, Membatasi Mobilitas, dan Menghindari Kerumunan)

    Metode Relaksasi Pada Ibu Hamil Dalam Menurunkan Tingkat Stress Sebagai Upaya Mengurangi Angka Kematian Ibu.

    Get PDF
    Risiko kematian ibu karena melahirkan di Indonesia adalah 1 dari 65 orang. Dari lima juta kelahiran yang terjadi di Indonesia setiap tahunnya, diperkirakan 20.000 ibu meninggal akibat komplikasi kehamilan atau persalinan. Hasil laporan rutin Dinas Kesehatan Kalsel, terjadi turun naik kasus Angka Kematian Ibu (AKI) antara tahun 2006 hingga tahun 2009. Tahun 2006, terdapat kasus AKI sebanyak 79 orang, tahun 2007 menurun jadi 77 kasus, tetapi tahun 2008 meningkat menjadi 96 kasus dan tahun 2009 turun lagi menjadi 94 kasus. Penyebab langsung berkaitan dengan kematian ibu adalah komplikasi pada kehamilan, persalinan, dan nifas yang tidak tertangani dengan baik dan tepat waktu. Stres pada ibu hamil lebih banyak disebabkan karena stres dalam menghadapi persalinan. Karena itu penggunaan metode relaksasi merupakan metode alamiah yang digunakan untuk menghilangkan rasa takut, panik dan tegang yang menghantui ibu dalam menjalani kehamilan dan menghadapi persalinan, serta membantu mengurangi risiko kematian bagi ibu dan bayi. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen yang menggunakan teknik one-group pretesst –posttest design. Desain ini disebut juga before-after design. Subjek penelitian adalah seluruh ibu hamil yang mengikuti program relaksasi di Skill Center RSIA Mutiara Bunda. Kriteria subyek antara lain usia ibu hamil 20 – 35 tahun dengan umur kehamilan berkisar pada trimester pertama. Jumlah subyek penelitian sebanyak 40 orang, tetapi pada saat pelaksanaan penelitian terdapat 19 orang yang tidak hadir. Dengan demikian jumlah subyek penelitian ini adalah 21 orang. Data di peroleh melalui DASS 42 untuk mengukur tingkat stres, dari hasil uji statistik menggunakan SPSS, diperoleh selisih nilai antara sebelum relaksasi dengan setelah relaksasi adalah 30.86-16.6667= 14.1933 . Ujit menguji Ho : setelah relaksasi, memberikan t = 3.745 dengan derajat kebebasan n-1 = 21-1= 20.Output SPSS memberikan nilai p-value untuk uji dua sisi (2 tailed)= 0.001, karena kita melakukan uji hipotesis satu sisi (1 tailed) maka H1 : sebelum relaksasi > sesudah relaksasi, maka nilai p-value harus dibagi dua 0.001 / 2 = 0.0005. Nilai p-value untuk uji satu sisi ini lebih kecil dari . Sehingga bukti kuat menolak Ho : setelah relaksasi. Jadi kesimpulannya nilai tingkat stres setelah relaksasi lebih kecil dari pada nilai tingkat stres sebelum relaksasi

    Hubungan antara Light Triad Personality dengan Love Attitude pada Remaja

    Get PDF
    Fase remaja merupakan salah satu tahapan dimana seseorang dalam mencari jati diri serta senang untuk bergonta ganti pasangan yang sesuai dengan kriterianya, serta pacaran merupakan proses dari tugas perkembangan yang wajib untuk dilalui. Dalam penelitian ini menggunakan trait light triad personality untuk mengukur sisi terang seseorang dan tipologi love attitude untuk mengetahui tipe mencintai seseorang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara Light Triad Personality dengan Love Attitude pada remaja. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif korelasional. Sampel yang diperoleh pada penelitian ini sebanyak 116 partisipan remaja berpacaran. Alat ukur dalam penelitian ini adalah Light Triad Scale (0,661-0,862) dan Love Attitude Scale (LAS). Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat hubungan positif signifikan antara ketiga trait Light Triad Personality dengan beberapa tipologi dalam Love Attitude, tipologi Ludus memiliki korelasi negatif signifikan dengan Light Triad Personality, trait Faith in Humanity hanya berkorelasi signifikan dengan Agape, dan Mania tidak memiliki korelasi dengan Light triad personality

    PENGATURAN SECURITIES CROWDFUNDING DI INDONESIA: KAJIAN ASPEK PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PEMODAL PERUSAHAAN PARTNERSHIP: THE REGULATION OF SECURITIES CROWDFUNDING IN INDONESIA: A STUDY ON THE LEGAL PROTECTION ASPECTS FOR INVESTORS IN PARTNERSHIP COMPANIES

    No full text
    Dalam skema Securities Crowdfunding (SCF), Perusahaan Partnership dapat menjadi Penerbit efek bersifat utang atau sukuk meskipun bukan merupakan badan hukum. Karakteristiknya yang khusus dan kemudahan dalam SCF menimbulkan risiko hukum yang lebih tinggi bagi Pemodal Perusahaan Partnership dibandingkan Perseroan Terbatas, misalnya pada Persekutuan Perdata yang ketika membuat perikatan oleh sekutu dengan pihak ketiga hanya mengikat dirinya sendiri (tidak untuk sekutu lainnya) sedangkan dalam POJK 57/2020 tidak memperhatikan aspek tersebut, akibatnya berpotensi bias mengenai siapa yang harus bertanggungjawab ketika terjadi wanprestasi mengingat Perusahaan Partnership tidak memiliki pertanggungjawaban secara kelembagaan. Penelitian ini mengkaji perlindungan hukum bagi Pemodal pada Perusahaan Partnership dalam SCF. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif yang dianalisis secara kualitatif deskriptif dengan pendekatan perundang-undangan dan konseptual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun POJK 57/2020 menyediakan beberapa instrumen perlindungan seperti kualifikasi Penerbit, pembatasan nilai investasi, kewajiban pengungkapan fakta material, escrow account, pencatatan Efek, serta pemantauan usaha oleh Penyelenggara, mekanisme tersebut belum menjangkau risiko struktural yang melekat pada Perusahaan Partnership. Ketiadaan pemisahan aset, ketidakjelasan konstruksi pertanggungjawaban sekutu, keterbatasan standar pengungkapan informasi hukum, pengaturan SCF di bawah level undang-undang serta disharmoni antara POJK 57/2020 dengan KUHPerdata dan KUHD yang mengatur tentang Perusahaan Partnership menyebabkan perlindungan hukum bagi Pemodal belum komprehensif.Dalam Securities Crowdfunding (SCF), perusahaan yang dapat menjadi Penerbit tidak hanya badan usaha berbentuk Perseroan Terbatas, Perusahaan Partnership juga dapat menjadi Penerbit efek bersifat utang atau sukuk. Pemodal yang membeli efek pada perusahaan partnership memiliki risiko kerugian yang besar karena perusahaan partnership bukan badan hukum dan umumnya perusahaan pemula yang belum tentu memiliki pengelolaan yang baik. Penelitian ini mengkaji jaminan perlindungan hukum bagi Pemodal perusahaan partnership yang diatur dalam POJK 57/2020 dan perjanjian-perjanjian dalam penyelenggaraan SCF. Penelitian ini menggunakan metode penelitian yuridis normatif dengan menggunakan data-data sekunder yang diolah secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa POJK 57/2020 memberikan perlindungan hukum dengan cara adanya syarat kualifikasi bagi pihak-pihak dalam SCF, batasan pembelian dan pengumpulan dana, kewajiban mengungkapkan fakta material, jatuh tempo buyback, penggunaan escrow account, pencatatan Efek kepada bank kustodian, serta pemantauan usaha dan kewajiban bayar oleh Penyelenggara. Namun, perlindungan hukum bagi Pemodal masih belum komprehensif karena masih menimbulkan berbagai masalah seperti pengawasan penyelenggaraan SCF yang belum optimal, kurang lengkapnya pengungkapan fakta material terkait aspek hukum dalam perusahaan partnership dan pengaturan SCF masih lemah karena hanya berbentuk POJK

    A Dual Role of Content Marketing in Linking Brand Awareness and Product Quality to Purchase Intention

    Get PDF
    This study examines the effects of brand awareness and product quality on purchase intention, with content marketing acting as both a mediating and moderating variable. The research was conducted at Tuku Coffee Cempaka Putih, a well-known coffee brand among Generation Z consumers. Using a quantitative approach, data were collected from 381 respondents through purposive sampling and analyzed with Jamovi 2.6.19. The findings reveal that brand awareness and product quality have positive and statistically significant direct effects on purchase intention. Content marketing plays a dual role by significantly mediating and strengthening the relationship between brand awareness, product quality, and purchase intention, with medium-to-strong effect sizes. These results indicate that effective social media–based content marketing enhances brand recall and perceived product quality while amplifying their influence on consumers’ purchase intentions. The novelty of this study lies in demonstrating the simultaneous mediating and moderating roles of content marketing within a single empirical model, particularly among Generation Z consumers in the coffee retail industry. Practically, the findings offer valuable insights for brand managers, digital marketers, and SME owners in developing strategic content marketing to strengthen brand positioning, expand market reach, and build long-term customer loyalt

    Integrating Dialectical Behavior Therapy, Self-compassion, and Religious Approaches into Psychotherapy

    Get PDF
    Mental health challenges have become increasingly prominent in clinical practice. While pharmacological interventions remain essential, they are often insufficient as a stand-alone approach to achieving optimal outcomes. Non-pharmacological strategies, particularly psychotherapy, provide complementary benefits with fewer adverse effects. Among these, psychotherapy fosters deeper self-reflection, enabling individuals to alleviate or improve psychological symptoms. Within Dialectical Behavior Therapy (DBT), the PLEASE skill and IMPROVE the moment emphasize emotion regulation through the cultivation of self-compassion.  This narrative review primarily aims to delineate Dialectical Behavior Therapy (DBT), Self-compassion, and religious approaches as psychotherapeutic modalities and to conceptually demonstrate how these approaches can be synergistically integrated to enhance mental health outcomes.  In contemporary society, however, rapid technological and cultural shifts—most notably the rise of “hustle culture,” which normalizes constant productivity over rest—have contributed to the neglect of self-care. This has blurred the distinction between self-love and perceptions of selfishness or idleness. Importantly, the concept of self-love can also be integrated into psychotherapy with religious approach, where it is reinterpreted as an act of worship, thereby enhancing its spiritual significance. This review explores the role of self-compassion in mental health, drawing upon literature from diverse scholarly sources. The compiled findings from various scholarly sources indicate that self-compassion is associated with self-esteem, forgiveness, personal growth, and spiritual connectedness with God. Evidence further suggests that cultivating self-love enhances self-confidence, reduces stress, and improves overall quality of life. In conclusion, this review underscores the value of integrating spiritual dimensions into mental health interventions, offering a conceptual framework for future empirical research and clinical practice

    Hubungan Gambaran Makroskopis Esofagogastroduodenoskopi dengan Diagnosis Histopatologi Gastritis dan Prevalensi Infeksi Helikobakter pylori di RS YARSI Jakarta

    Get PDF
    Gastritis merupakan kondisi inflamasi mukosa lambung yang dapat dinilai melalui pemeriksaan makroskopis dengan esofagogastroduodenoskopi (EGD) serta pemeriksaan mikroskopis melalui histopatologi. Deteksi Helicobacter pylori (HP) penting karena perannya dalam patogenesis gastritis kronik, ulkus peptikum, hingga karsinoma lambung. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan gambaran makroskopis EGD dengan hasil histopatologi gastritis, menentukan prevalensi infeksi HP, serta mengevaluasi keterkaitan infeksi HP dengan derajat kerusakan histologis mukosa lambung di RS YARSI Jakarta. Studi retrospektif dilakukan terhadap pasien sindroma dispepsia (SD) yang menjalani prosedur EGD dan biopsi mukosa lambung (BML) dalam kurun waktu 1 April–31 Desember 2024. Data yang memenuhi kriteria inklusi dianalisis menggunakan SPSS versi 26.0. Uji Chi-square digunakan dengan batas kemaknaan p < 0,05. Dari 102 pasien, 72 memenuhi kriteria inklusi. Diagnosis makroskopis berupa dispepsia fungsional (DF) sebesar 41,6% dan dispepsia organik (DO) sebesar 58,4%. Secara histopatologi, gastritis kronik aktif (GKA) ditemukan pada 26,4% dan gastritis kronik inaktif (GKI) pada 73,6%, sedangkan gastritis akut aktif (GAA) tidak ditemukan. Prevalensi HP adalah 18,0%. Terdapat hubungan bermakna antara infeksi HP dengan gambaran makroskopis gastritis (p = 0,003) serta kerusakan histologis mukosa lambung (p = 0,004). Gastritis kronik aktif dan inaktif lebih dominan pada pasien DO dibanding DF. Infeksi HP berhubungan signifikan dengan keradangan kronik mukosa lambung di RS YARSI.  ABSTRAK Latar Belakang. Gastritis merupakan kondisi inflamasi mukosa lambung yang dapat dinilai melalui pemeriksaan makroskopis dengan esofagogastroduodenoskopi (EGD) serta pemeriksaan mikroskopis melalui histopatologi. Deteksi Helicobacter pylori (HP) penting karena perannya dalam patogenesis gastritis kronik, ulkus peptikum, hingga karsinoma lambung. Tujuan. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan gambaran makroskopis EGD dengan hasil histopatologi gastritis, menentukan prevalensi infeksi HP, serta mengevaluasi keterkaitan infeksi HP dengan derajat kerusakan histologis mukosa lambung di RS YARSI Jakarta. Metode. Studi retrospektif dilakukan terhadap pasien sindroma dispepsia (SD) yang menjalani prosedur EGD dan biopsi mukosa lambung (BML) dalam kurun waktu 1 April–31 Desember 2024. Data yang memenuhi kriteria inklusi dianalisis menggunakan SPSS versi 26.0. Uji Chi-square digunakan dengan batas kemaknaan p < 0,05. Hasil. Dari 102 pasien, 72 memenuhi kriteria inklusi. Diagnosis makroskopis berupa dispepsia fungsional (DF) sebesar 41,6% dan dispepsia organik (DO) sebesar 58,4%. Secara histopatologi, gastritis kronik aktif (GKA) ditemukan pada 26,4% dan gastritis kronik inaktif (GKI) pada 73,6%, sedangkan gastritis akut aktif (GAA) tidak ditemukan. Prevalensi HP adalah 18,0%. Terdapat hubungan bermakna antara infeksi HP dengan gambaran makroskopis gastritis (p = 0,003) serta kerusakan histologis mukosa lambung (p = 0,004). Kesimpulan. Gastritis kronik aktif dan inaktif lebih dominan pada pasien DO dibanding DF. Infeksi HP berhubungan signifikan dengan keradangan kronik mukosa lambung di RS YARSI. Kata Kunci: Esofagogastroduodenoskopi, biopsi mukosa lambung, gastritis, Helicobacter pylori, histopatolog

    Hubungan Status Gizi dengan Trombositopenia pada Anak Demam Berdarah Dengue di RSUD Kabupaten Bekasi Periode 2022-2023

    Get PDF
    Dengue hemorrhagic fever (DHF) is an infectious disease caused by the dengue virus and often occurs in tropical and subtropical climates. At the end of 2022, the most cases of DHF occurred on the island of Java and Bekasi City was ranked 3rd highest in Indonesia. Children have a higher risk factor for dengue infection. Several studies have shown a correlation between nutritional status and the incidence of DHF. Children with poor nutritional status are very susceptible to dengue virus infection due to low cellular immunity. Meanwhile, excessive nutritional status can affect the severity of DHF. One of the body's responses to DHF is thrombocytopenia which is related to the severity of DHF. DHF sufferers who experience a decrease in platelet levels to <100,000 cells/mm3 have a higher risk of developing grade III DHF and Dengue Shock Syndrome. This study used an analytical observational study with a cross-sectional approach conducted on pediatric DHF patients who were treated at the Bekasi Regency Hospital between January 2022-December 2023, and had complete medical records with data in the form of height, weight, diagnosis, and platelet levels from day 5 to day 7. There were 159 DHF patients and 59 children met the inclusion criteria, with more males than females, and the highest age was 17 years. Most of the study population had normal nutritional status. The highest degree of thrombocytopenia was in the moderate category. The results of the analysis of the relationship between nutritional status and thrombocytopenia levels obtained p> 0.05. This study concludes that there is no relationship between nutritional status and thrombocytopenia in children with DHF

    Hubungan antara Tingkat Stres dengan Penyakit Gastritis pada Siswa SMA Negeri 2 Tambun Selatan dan Tinjauannya Menurut Pandangan Islam

    Get PDF
    ABSTRAK Pendahuluan: Gastritis merupakan suatu keadaan peradangan atau pendarahan mukosa lambung yang dapat bersifat akut, kronis, difus atau lokal. Penyebab utama gastritis adalah bakteri Helicobacter pylori, virus, atau parasit lainnya. Salah satu faktor resiko gastritis adalah stres. Stres adalah suatu respon fisiologis, psikologis, dan perilaku manusia yang mencoba untuk mengadaptasi dan mengatur tekanan internal dan eksternal. Pada keadaan stres seperti cemas, takut, dan beban kerja yang tinggi ketika mengerjakan sesuatu akan mengakibatkan peningkatan produksi asam lambung dan ketika asam lambung tinggi akan mengiritasi mukosa lambung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan antara tingkat stres dengan penyakit gastritis serta tinjauannya dalam Islam Metodologi: Penelitian ini merupakan jenis penelitian analitik kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian adalah siswa-siswi SMA Negeri 2 Tambun Selatan dan memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Dengan menggunakan teknik random sampling didapatkan sebesar 74 sampel dan selanjutnya dilakukan analisis statistik menggunakan uji chi-square Hasil: Total didapatkan sebanyak (28.4%) dari siswa mengindikasikan bahwa mereka tidak mengalami stres, (41.9%) mengalami stres ringan, (18.9%) mengalami stres sedang, dan (10.8%) mengalami tingkat stres berat dan sebanyak (33.8%) mengalami penyakit gastritis dan sebanyak (66.2%) tidak mengalami gastritis. Terjadinya kondisi ini dari sisi Islam berkaitan dengan pentingnya menjaga kesehatan yang bersifat fardu ain Kesimpulan: Dari penelitian ini didapatkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat stres dengan penyakit gastritis, maka dari itu penting bagi siswa untuk menjaga pola makan dengan memilih makanan yang halalan thayyiban, berdzikir, dan bertawakal kepada Allah SWT  Kata Kunci: Gastritis, Stres, Remaja, Halal, Thayyib   ABSTRACT Introduction: Gastritis is a condition of inflammation or bleeding of the gastric mucosa that can be acute, chronic, diffuse or localized. The main causes of gastritis are Helicobacter pylori bacteria, viruses, or other parasites. One of the risk factors for gastritis is stress. Stress is a human physiological, psychological, and behavioral response that attempts to adapt and regulate internal and external pressures. In stressful situations such as anxiety, fear, and high workload when doing something will result in increased production of gastric acid and when high gastric acid will irritate the gastric mucosa. This study aims to determine the relationship between stress levels and gastritis and its review in Islam Methodology: This study is a type of quantitative analytic research with a cross sectional approach. The research sample was students of SMA Negeri 2 Tambun Selatan and met the inclusion and exclusion criteria. By using random sampling technique, 74 samples were obtained and then statistical analysis was carried out using the chi-square test Results: A total of (28.4%) of students indicated that they did not experience stress, (41.9%) experienced mild stress, (18.9%) experienced moderate stress, and (10.8%) experienced severe stress levels and as many as (33.8%) experienced gastritis and as many as (66.2%) did not experience gastritis. The occurrence of this condition from the Islamic side is related to the importance of maintaining health which is fardu ain Conclusion: From this study it was found that there is a significant relationship between stress levels and gastritis disease, therefore it is important for students to maintain a diet by choosing foods that are halalan thayyiban, dhikr, and trust in Allah SWT  Keywords: Gastritis, Stress, Teenagers, Halal, Thayyi

    1,614

    full texts

    1,729

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Yarsi Academic Journals
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇