Yarsi Academic Journals
Not a member yet
    1729 research outputs found

    Manajemen Rasa Sakit Terhadap Cedera Lutut : Studi Kasus Terhadap Atlet Judo Indonesia di Sea Games 2009

    Get PDF
    Pengalaman yang melibatkan aktivitas dan tubuh seperti atlet bersifat sangat individual (individual differences). Selain memiliki karakteristik yang berbeda-beda, pengalaman atlet juga dipengaruhi oleh situasi spesifik yang sedang dihadapinya. Di dunia olahraga, aspek fisik adalah aspek yang menjadi perhatian utama, terutama ketika atlet mengalami cedera. Biasanya, berbagai problematik atau guncangan psikologis terjadi pada atlet yang mengalami cedera seperti kecemasan dan tidak percaya diri.Kondisi atlet cedera sebagaimana dikemukakan di atas, ternyata ditunjukkan berbeda oleh seorang atlet Indonesia. Atlet judo dengan inisial B justru menunjukkan hal yang sebaliknya. Ia mengalami cedera lutut yang parah dalam latihan persiapan menghadapi Sea Games 2009 di Laos. Meskipun merasa sakit, namun ia tidak mengeluh dan tetap percaya diri. Pada babak final, atlet luar biasa ini akhirnya memenangkan pertandingan dengan angka mutlak dan meraih medali emas, meskipun ia harus menggunakan kursi roda saat pulang ke tanah air karena sudah tidak mampu lagi untuk berjalanStudi kasus ini dilakukan dengan tujuan untuk menganalisa fenomena atlet B, bagaimana ia tetap memiliki kepercayaan diri yang tinggi, cara manajemen rasa sakit apa yang ia gunakan dan bagaimana karakteristik yang dimilikinya selama ini. Selain itu, studi kasus ini juga membahas social support yang mendukung dalam manajemen rasa sakit B.Berdasarkan matrik manajemen rasa sakit dari Heil (1993), maka teknik yang digunakan atlet B untuk mengatasi rasa sakitnya akibat cedera adalah Pain Dissociation/Sport Association. Ketahanan atau kemampuan atlet B dalam mengatasi rasa sakit tidak terlepas dari pengaruh faktor kepribadian yang dimilikinya, yaitu self-efficacy atau dalam dunia olahraga lebih dikenal dengan sebutan sport-confidence (Vealey dan Knight dalam Horn, 2008). B juga mendapatkan social support dari sosok yang signifikan, sehingga dukungan sosial tersebut memberikan pengaruh yang positif (Sarafino, 2008)

    Haruskah Dokter Merangkap sebagai Psikolog?: Narativitas sebagai Upaya Rekonstitusi Self dalam Pemeriksaan Medis

    Get PDF
    This paper is intended to describe the discourse in medical setting and how the patient embodied narrative to reconstitute the self. Medicine is regarded as one of arena where the body is fragmented in examinations and where the self is thus estranged and objectified. Narrative offers a means to unify and defragment experiences of medical practice. Patients can reintroduce themselves as persons into medical consultations through the insertion of personal stories. Narrative constitutes one cognitive mode of making sense of the world. For doctor, narratives can be viewed as means of making sense of their work and lives and as devices for conveying their meanings to the “outside” world. Medicine is thus recontextualised not only for the doctors themselves but also for their audiences, which may ultimately lead to enhanced mutual understanding and acknowledgement

    Token Ekonomi untuk Meningkatkan Sikap Disiplin pada Anak dengan ADHD

    Get PDF
    Token ekonomi merupakan salah satu bentuk modifikasi perilaku dalam mengatasi masalah perilaku pada anak ADHD. Penelitian ini bertujuan untuk melihat efektivitas penggunaan token ekonomi dalam meningkatkan perilaku disiplin. Subjek dalam penelitian ini adalah anak usia 11 tahun dengan ADHD. Penelitian ini menggunakan wawancara klinis, observasi, Tes CPM dan Tes Binet. Penelitian ini menggunakan desain model ABA yang meliputi tiga fase yaitu fase baseline (A) pengamatan perilaku subjek hingga waktu yang telah ditentukan. Fase intervensi (B) implementasi ekonomi dan token tanpa intervensi (A) adalah fase tanpa penerapan ekonomi token. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan token ekonomi meningkatkan perilaku disiplin anak dengan ADHD

    DETERMINAN PERILAKU MENGONSUMSI MIE INSTAN PADA MAHASISWA

    No full text
    Gaya hidup yang semakin modern dan serba instan menuntut berbagai produk makanan yang cepat saji dan enak. Bagi kalangan mahasiswa, mie instan merupakan pilihan menu makanan yang dapat dinikmati di tengah kesibukan perkuliahan, daripada sayuran atau bahan makanan lain yang membutuhkan waktu memasak lebih lama. Studi ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran mengenai determinan perilaku mengonsumsi mie instan pada mahasiwa ditinjau dari Organismic Integration Theory. Teori ini menyatakan bahwa determinan suatu perilaku berada dalam lima kontinum yaitu Amotivation, External Regulation, Introjected Regulation, IdentifiedRegulation,dan Instrinsic Regulation. Penelitian dilakukan pada 85 orang mahasiswa Fakultas PsikologiUniversitas Padjadjaran angkatan 2011 menggunakan kuesioner yang mewakili lima kontinum Organismic Integration Theory. Hasil penelitian menggambarkan: 46 mahasiswa (54,11%) tidak termotivasi mengomsumsi mie instan; 13 mahasiswa (15,29%) pada tahap introjected regulation; lima mahasiswa (5,88%) pada tahap internal regulation; enam mahasiswa (7,06%) memiliki skor hampir sama (selisih 1 poin) pada tahap amotivation dan introjected regulation;tujuh mahasiswa (8,23%) memiliki skor hampir sama (selisih 1 poin) pada tahap introjected regulation dan internal regulation; satu mahasiswa pada tahap introjected dan identified regulation; sertatujuh mahasiswa (8,23%) menunjukkan inkonsistensi sehingga menghasilkan skor yang sama pada setiap dimensi yang bertolak belakang. Pada tahap external regulation dan identified regulation diperoleh skor nol yang menunjukkan tidak ada mahasiswa yang berada pada tahap ini

    PERAN PSIKOLOGI DALAM PENANGANAN PENYAKIT JANTUNG KORONER DI INDONESIA

    Get PDF
    Perilaku hidup tidak sehat sering kali dikaitkan dengan tingginya prevalensi dan mortalitas penyakit jantung koroner (PJK), dan faktor emosi serta kognisi cukup berperan di dalam hal tersebut. Masih sangat sedikit penelitian tentang faktor psikososial pada pasien PJK di Indonesia, sedangkan para dokter sering kali kurang memperhatikan faktor-faktor psikososial dalam interaksinya dengan pasien. Tulisan ini merangkum hasil dari tiga penelitian (terdiri dari satu penelitian korelasional dan dua eksperimental) mengenai faktor psikososial pada pasien PJK di Indonesia. Total partisipan di dalam penelitian ini terdiri dari 571 pasien PJK dan 35 individu sehat. Berbagai alat ukur menyangkut faktor psikososial (seperti: BDI-II, STAI, BAI, YCBQ, DS-14, MSPSS, HBI, dan Stroop Tasks) digunakan di dalam penelitian ini. Ditemukan bahwa pasien PJK di Indonesia yang memilik kepribadian Tipe D (distressed) cenderung lebih sulit mengembangkan perilaku hidup sehat dan lebih negatif dalam mempersepsi dukungan sosial baik dari anggota keluarga, teman, maupun orang-orang signifikan lainnya. Studi ekperimen kami juga menunjukkan bahwa pasien PJK memberikan atensi yang lebih besar terhadap kata-kata yang menyangkut penyakitnya, dan bias atensi ini berhubungan dengan kecemasan. Studi eksperimen lainnya menunjukkan bahwa koreksi terhadap miskonsepsi tentang PJK dapat meningkatkan keyakinan positif pasien terhadap penyakitnya dan pada gilirannya dapat meredakan kecemasan dan depresi. Sebagai implikasi klinis, temuan-temuan ini dapat membantu penanganan faktor psikososial, baik dalam diagnostik maupun intervensi, dan juga menggugah kesadaran pihak-pihak terkait tentang pentingnya memberi perhatian terhadap faktor-faktor psikososial pada pasien PJK di Indonesia

    PREVENSI MEROKOK PADA REMAJA BERBASIS PENDEKATAN KOGNITIF SOSIAL

    Get PDF
    Tulisan ini merupakan kajian teoritis penerapan model kognitif sosial untuk prevensi inisiasi merokok pada remaja. Pendekatan kognitif sosial menjelaskan bahwa perilaku merokok pada remaja dipahami sebagai hasil interaksi antara faktor personal remaja, dan faktor lingkungan. Faktor penting yang berperan dalam perilaku merokok pada remaja adalah efikasi diri terkait perilaku merokok, ekspektasi positif terhadap efek merokok dan persepsi risiko merokok yang rendah serta didukung dengan lingkungan keluarga dan teman sebaya yang merokok, serta iklan rokok. Dengan demikian prevensi perilaku merokok pada remaja berbasis pendekatan kognitif sosial akan memfokuskan pada upaya membentuk pengetahuan yang adekuat terkait dengan perilaku merokok, meliputi dampak merokok terhadap kesehatan fisik dan psikologis si perokok, dampak sosial dan ekonomis perilaku merokok, sehingga terbentuk persepsi risiko dan ekspektasi efek merokok yang adequat, serta peningkatan ketrampilan untuk bertahan dari pengaruh sosial teman sebaya dan iklan rokok

    PERBEDAAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN KARIER PADA REMAJA SMA SETELAH DAN SEBELUM MENGIKUTI PROGRAM INTERVENSI KARIER SUKSES SETELAH SEKOLAH

    Get PDF
    Penelitian ini mengkaji efektivitas program intervensi karir yang dirancang dengan melibatkan remaja yang duduk dibangku SMA dalam permasalahan kariernya untuk mengambil keputusan karier.Remaja SMA dalam tugas perkembangannya menurut Havighurst diperhadapkan untuk memilih dan menyiapkan suatu pekerjaan. Membuat keputusan karier merupakan prioritas utama bagi siswa. Namun demikian ditemukan fakta bahwa remaja SMA memiliki banyak masalah dalam mengambil keputusan karier. Berdasarkan tahapan perkembangan karier usia 15 – 18 tahun khususnya dalam tahap eksplorasi remaja banyak berjuang untuk mengambil keputusan karier yang realistis. Sebuah program intervensi karier yang komprehensif dirancang untuk mengatasi masalah ini. Program intervensi karier 3S (Sukses Setelah Sekolah) memiliki model 3 bagian yaitu psikotes, ceramah, dan pengambilan keputusan karier dengan konseling. Program intervensi karier bertujuan untuk mengetahui apakah ada perbedaan dalam mengambil keputusan karier yang sesuai dengan minat, kemampuan, dan kepribadian setelah dan sebelum diberi intervensi. Metode penelitan ini adalah eksperimental kuasi dengan menggunakan one group Hiebert Post-pre. Hasil analisis penelitian dengan menggunakan paired sample t-test adalah t = -21, 784 (t ≤ 1, 657) hal ini berarti ada perbedaan yang signifikan dalam mengambil keputusan karier. Program intervensi karier Sukses Setelah Sekolah terbukti efektif, sehingga dapat dipakai dan diadaptasi sebagai program intervensi karier di Indonesia yang dapat membantu remaja yang duduk dibangku SMA mengenali diri dan mengambil keputusan karier yang sesuai dengan minat, kemampuan, dan kepribadian. Efektivitas program akan dievaluasi menggunakan pendekatan Hiebert Post Pre

    PENGARUH FORGIVENESS TERHADAP PERILAKU AGRESI PADA REMAJA DI JAKARTA

    Get PDF
    Meningkatnya angka kriminalitas remaja menjadi salah satu sorotan bagi media massa selama beberapa tahun belakangan ini. Peningkatan jumlah kasus kejahatan yang dilakukan remaja ini menggambarkan bahwa perilaku agresi yang berlebihan dapat membahayakan masyarakat. Berdasarkan beberapa kasus kejahatan yang terjadi, ternyata diketahui bahwa salah satu faktor yang menyebabkan tingginya perilaku agresi adalah ketidakmampuan seseorang untuk mengampuni orang yang telah menyakitinya. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui apakah ada pengaruh forgiveness secara signifikan terhadap perilaku agresi pada remaja di Jakarta. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kuantitatif. Pengumpulan data melalui teknik purposive sampling melibatkan sebanyak 277 orang responden. Penelitian ini menggunakan alat ukur Transgression-Related Interpersonal Motivations 18 (TRIM-18) McCullough untuk mengukur forgiveness dan Buss-Perry Aggression Questionnaire (BPAQ) Buss & Perry untuk mengukur perilaku agresi. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan dari forgiveness terhadap perilaku agresi (aggression) pada remaja di Jakarta (R2 = .070, F (4,95) = 20.69, p < .01). Temuan ini menggambarkan bahwa kemampuan remaja untuk memberikan pengampunan pada pihak yang menyakitinya dapat mempengaruhi kecenderungan mereka untuk menampilkan perilaku agresi dimana semakin tinggi forgiveness yang dimiliki, maka semakin rendah perilaku agresi yang akan ditunjukkan oleh remaja

    Pola Penggunaan Antihipertensi pada Pasien Preeklampsia di RS UNISMA Kota Malang dan Tinjauannya Menurut Pandangan Islam

    Get PDF
    Penelitian ini mengamati kasus preeklamsia yang dirawat di RS UNISMA Kota Malang, Indonesia antara tahun 2018-2020. Dari 60 rekam medis yang dianalisis, 86,67% merupakan kasus preeklamsia berat. Tingkat keberhasilan pengobatan preeklamsia berat dan ringan adalah 100%. Obat yang umum digunakan untuk pengobatan antara lain antihipertensi (nifedipine), antitrombotik (aspirin), antikonvulsan, kortikosteroid (dexametason). Studi tersebut menyimpulkan bahwa preeklampsia berat adalah yang paling umum terjadi dan semua kasus memiliki hasil pengobatan yang berhasil. Berbagai obat digunakan untuk mengobati preeklamsia termasuk antihipertensi, antitrombotik, antikonvulsan, dan kortikosteroid. Dalam tinjauan islam, manusia sangatlah diwajibkan untuk berobat agar dapat mencegah kerusakan pada diri sendiri khususnya bagi ibu hamil dengan preeklampsia

    Efektivitas Metode Multisensori dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca pada Anak Disabilitas Intelektual Ringan

    Get PDF
      Disabilitas intelektual adalah gangguan masa perkembangan yang ditandai adanya penurunan pada intelektual dan adaptif. Salah satu defisit kemampuan pada anak dengan disabilitas intelektual ringan adalah terkait dengan kemampuan membaca. Kemampuan membaca menjadi salah satu kemampuan yang masih dapat ditingkatkan pada anak dengan anak diasbilitas intelektual ringan yang temasuk dalam kategori mampu didik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas metode multisensori dalam meningkatkan kemampuan membaca pada anak disabilitas intelektual ringan. Hipotesis penelitian adalah metode multisensori efektif untuk meningkatkan kemampuan membaca pada anak disabilitas intelektual ringan. Metode multisensori adalah metode pembelajaran yang melibatkan seluruh modalitas indera visual, auditori, taktil, dan kinestetik untuk dapat meningkatkan kemampuan membaca. Metode ini diharapkan efektif pada anak dengan disabilitas intelektual ringan yang membutuhkan cara belajar yang konkret dan melibatkan semua indra dalam peningkatan kemampuan membaca. Metode penelitian adalah quasi experiment dengan desain one group pretest posttest. Teknik sampling adalah purposive sampling dengan kriteria inklusi usia 6-11 tahun, hambatan pada fungsi intelektual dan memiliki hambatan kemampuan membaca. Teknik pengumpulan data menggunakan asesmen, observasi, dan wawancara. Asesmen dalam penelitian ini menggunakan tes Binet dalam penegakan diagnosa. Instrumen penelitian adalah lembar observasi pretetst dan posttest kemampuan membaca. Hasil uji beda menunjukkan bahwa metode multisensori efektif untuk meningkatkan kemampuan membaca pada anak disabilitas intelektual ringan secara signifikan. Teknik multisensori melibatkan pengoptimalan indera dalam meningkatkan kemampuan membaca sehingga diharapkan metode ini dapat digunakan oleh guru dan orang tua dalam melatih atau meningkatkan kemampuan membaca anak dengan diasbilitas intelektual ringan

    1,614

    full texts

    1,729

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Yarsi Academic Journals
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇