Yarsi Academic Journals
Not a member yet
1729 research outputs found
Sort by
Efektivitas Teknik Total Task Presentation untuk Meningkatkan Kemampuan Bina Diri Makan pada Anak dengan Disabilitas Intelektual
Anak dengan disabilitas intelektual memiliki keterbatasan dalam fungsi adaptifnya, salah satunya adalah kemampuan bina diri. Anak dengan disabilitas intelektual dapat diajarkan untuk menguasai keterampilan bina diri. Salah satu keterampilan bina diri yang penting untuk dikuasai adalah keterampilan makan. Keterampilan ini dapat ditingkatkan dengan modifikasi perilaku. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penerapan teknik total task presentation dalam meningkatkan kemampuan bina diri makan pada anak disabilitas intelektual. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan kriteria anak berusia 6 - 11 tahun, mengalami hambatan fungsi intelektual melalui tes intelegensi Colored Progressive Matrices, dan belum mampu melakukan keterampilan bina diri makan secara mandiri. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah dengan menggunakan checklist bina diri makan, observasi, dan wawancara. Data dianalisis dengan menggunakan uji t sampel berpasangan menunjukkan bahwa teknik pemberian tugas total efektif (t = - 8,693, p = 0.013). Pada hasil pre-test dan post-test dapat dilihat bahwa N-gain dari 3 partisipan, terdapat 2 partisipan berada pada kategori tinggi dan 1 partisipan berada pada kategori sedang. Hal ini menunjukkan adanya pergeseran kemampuan bina diri makan pada anak disabilitas intelektual dalam makan sebelum dan sesudah menggunakan metode total task presentation
Peran Welas Asih Diri dan Keterampilan Sosial-Emosional Guru Terhadap Permasalahan Emosi dan Perilaku Siswa SMP
Remaja banyak mengalami perubahan mulai dari psikologis, fisik, dan interaksi sosial sehingga remaja rentan mengalami permasalahan perilaku dan emosi. Ketika permasalahan perilaku dan emosi tidak ditangani dengan segera akan mengakibatkan efek jangka pendek hingga panjang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran welas asih diri dan keterampilan sosial-emosional guru terhadap permasalahan perilaku dan emosi. Penelitian ini menggunakan reliance available sampling dengan partisipan penelitian ini merupakan siswa SMP di Yogyakarta yang berusia antara 12 hingga 15 tahun (M=13.32, SD=0.783). Penelitian ini menggunakan tiga skala dengan nilai realibilitas Strengths and Difficulties Questionnaire (SDQ) 0.777, Self-Compassion (SCS) 0.656, dan Teachers’ Social-Emotional Practices-Student Perspective (TSEP-SP) 0.960. Data 159 partisipan yang diperoleh dianalisis menggunakan regresi linear berganda menggunakan software SPSS. Analisis regresi linear berganda menunjukkan bahwa welas asih diri terhadap permasalahan perilaku dan emosional dinilai signifikan berpengaruh secara negatif (β = -.302) (p < .05). Sementara itu, keterampilan sosial-emosional guru tidak berperan signifikan terhadap permasalahan perilaku dan emosional (p=.931, p>.05). Penelitian ini menemukan bahwa secara simultan welas asih diri dan keterampilan sosial-emosional guru memiliki peran yang siginifikan terhadap permasalahan perilaku secara negatif dengan sumbangsih sebesar 22.3%. Oleh karena itu, diperlukan kerja sama antar sekolah dan psikolog untuk melatih keterampilan welas asih diri pada remaja, sementara orang tua perlu menerapkan prinsip tersebut untuk mendukung perkembangan remaja melalui contoh dan empati
PROGRAM PSIKOEDUKASI MENGENAI KONDISI KEHAMILAN DAN PASKA MELAHIRKAN BAGI PASANGAN MUDA
Saat hamil, kondisi perempuan akan mengalami perubahan, baik secara fisik maupun psikologis. Perubahan ini membuat perempuan rentan mengalami gangguan psikologis, seperti depresi. Padahal penting bagi setiap perempuan untuk menjaga kondisi psikologisnya selama hamil karena dapat berpengaruh pada kondisinya paska melahirkan. Perempuan yang rentan mengalami depresi saat hamil akan rentan juga mengalami depresi paska melahirkan, yang dapat membahayakan dirinya maupun sang bayi. Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah program psikoedukasi yang bertujuan untuk memberikan informasi terhadap Ibu hamil tentang kondisi sebelum kehamilan, selama kehamilan, dan setelah melahirkan. Informasi disampaikan melalui penyuluhan, berupa psikoedukasi dan latihan teknik relaksasi. Program ini diharapkan dapat membantu meningkatkan pengetahuan dan memberikan pelatihan yang dapat digunakan oleh para ibu hamil selama masa kehamilan. Efektivitas program dievaluasi melalui kuesioner sebelum (pra) dan sesudah (post) pemberian psikoedukasi, dan signifikansi perubahan kognitif dan afektif dianalisa dengan Uji Wilcoxon. Dari hasil uji efektivitas terhadap peserta pelatihan (n=8), didapat peningkatan skor pada ranah kognitif dan efektif. Sementara hasil uji Wilcoxon menunjukkan nilai p > 0,05, yang artinya tidak terdapat perubahan skor yang signifikan antara pra dan post test
PERAN TRAIT MINDFULNESS DAN EMPATI TERHADAP PERILAKU BULLYING PADA REMAJA SMA DI JAKARTA
Penelitian ini membahas mengenai bagaimana trait mindfulness dan empati secara bersama-sama berperan dalam menurunkan perilaku bullying pada remaja SMA di DKI Jakarta. Penelitian dilakukan dengan menggunakan penyebaran kuesioner kepada 200 remaja SMA dengan rentang usia 14-18 tahun. Penelitian dilakukan dengan menggunakan alat ukur Mindful Attention Awareness Scale (MAAS), Basic Empathy Scale (BES), dan Olweus Bullying Questionnaire (OBQ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa mindfulness dan empati secara bersama-sama dapat berperan dalam menurunkan perilaku bullying pada remaja sebesar 18,7% dan 81,3% lainnya dipengaruhi oleh faktor lain. Dengan demikian semakin tinggi skor empati dan mindfulness, maka semakin rendah kemunculan perilaku bullying. Sebaliknya, semakin rendah skor empati dan mindfulness, maka semakin tinggi pula kemunculan perilaku bullying
HEALTH LOCUS OF CONTROL PADA PEROKOK DAN NON-PEROKOK
Jumlah konsumsi rokok di Indonesia naik tiap tahunnya, hal ini terjadi meskipun telah dilakukan beberapa regulasi yang diharapkan dapat menurunkan konsumsi rokok. Salah satu aspek psikologis yang dapat menentukan perilaku sehat individu adalah health locus of control, oleh karena itu ingin diketahui bagaimana gambaran health locus of control pada perokok. Sampel pada penelitian ini berjumlah 390 remaja dengan proporsi 200 perokok dan 190 non perokok. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan alat ukur Multidimensional Health Locus of Control dari Wallston yang telah diadaptasi ke bahasa Indonesia. Hasil menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan (z = -0.396, p = 0.692; p<0.05) dari dimensi internal health locus of control antara remaja perokok dan non perokok. Pada dimensi chance, menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang siginifikan (t = 5.297, p = 0.000; p<0.005), begitu pula pada dimensi powerful others yang menunjukkan perbedaan signifikan (t = 6.960, p=0.000; p<0.005) antara remaja perokok dan non perokok
BRAINSPOTTING SEBAGAI TERAPI SISTEM LIMBIK UNTUK MEMULIHKAN TRAUMA
Trauma adalah kondisi stres ekstrem yang terjadi akibat pengalaman traumatis. Ketika reaksi traumatis terjadi, seseorang berada dalam kondisi survival dan bagian otak rasionalnya menjadi tidak aktif. Selain itu, trauma (reaksi traumatis) berasal dari bagian otak emosi yang sedikit berkaitan dengan otak rasional. Hal ini membuat terapi bicara menjadi terbatas dalam penanganan trauma dikarenakan menurunnya kemampuan berpikir rasional dan sulitnya kata-kata (terapi verbal) mempengaruhi otak emosi. Untuk mengubah reaksi traumatis tersebut, suatu intervensi perlu mengakses otak emosi dan melakukan terapi sistem limbik, yaitu memperbaiki kesalahan sistem alarm dan memulihkan otak emosional. Cara untuk mengakses otak emosional secara sadar adalah melalui self awareness, yaitu dengan mengamati pengalaman internal (pikiran dan tubuh). Brainspotting merupakan terapi yang memanfaatkan fiksasi mata dan observasi pada pengalaman internal untuk mengakses kemampuan self healing otak dalam mencari akar masalah pada tubuh dan pikiran lalu menyembuhkannya. Tulisan ini akan membahas bagaimana Brainspotting mengakses otak emosi serta mengubah reaksi traumatis dan memulihkan kembali fungsi otak emosi
APA KATA ANAK TENTANG TAMAN KOTA? (STUDI KUANTITATIF MENGENAI GAMBARAN PLACE ATTACHMENT ANAK TERHADAP RPTRA DI WILAYAH JAKARTA)
Sejak tahun 2015, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta giat menambah jumlah ruang terbuka hijau ramah anak melalui program pembangunan RPTRA (Ruang Publik Terpadu Ramah Anak). Sayangnya, sampai dengan saat ini pemerintah dan perencana tata kota belum menerapkan pendekatan partisipatori aktif oleh pengguna dalam perencanaan RPTRA, khususnya oleh anak-anak selaku pengguna utama. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran persepsi anak tentang RPTRA dan secara khusus mengukur persepsi keterikatan mereka dengan RPTRA, melalui dimensi-dimensi dalam variabel Place Attachment. Keterikatan anak pada suatu ruang dapat membuat diri mereka senang dan nyaman bila berada di tempat tersebut. Anak yang telah memiliki perasaan keterikatan pada suatu ruang akan menjadikan ruang tersebut sebagai bagian dari dirinya dan mendukung meningkatkan interaksi mereka dengan ruang tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan mix-method, dimana pengukuran kuantitatif berupa self-report melalui kuesioner place attachment diberikan kepada 67 anak dari pengunjung empat RPTRA, yakni RPTRA Bellyra, RPTRA Cililitan, RPTRA Harapan Mulya, RPTRA Pulogundul. Selanjutnya, wawancara kualitatif dilakukan kepada 3 orang responden untuk mendapatkan gambaran yang lebih komprehensif. Hasilnya, sebagian besar responden (40 dari 67 responden) menunjukkan place attachment yang tinggi terhadap RPTRA. Dilihat dari masing-masing dimensi place attachment, yakni place dependence dan place identity, terdapat perbedaan skor place dependence yang signifikan berdasarkan jenis kelamin responden, dimana responden perempuan menunjukkan dependensi yang lebih tinggi terhadap RPTRA dibandingkan responden laki-laki. Dari hasil wawancara kualitatif, secara umum RPTRA diasosiasikan dengan tempat untuk bermain, sebagai tempat yang dapat menumbuhkan emosi positif, ruang yang memberikan banyak manfaat sekaligus mengandung sumber ketakutan (berkaitan dengan aspek keamanan dan kenyamanan lokasi RPTRA)
Pengaruh Penyuluhan Terhadap Pengetahuan PHBS dan Stunting: Studi PraEksperimen pada Ibu Hamil di Kecamatan Kresek, Kabupaten Tangerang
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas penyuluhan terhadap pengetahuan ibu hamil mengenai Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta stunting, menggunakan pendekatan studi praeksperimen di Kresek, Kabupaten Tangerang. Dengan menggunakan pre-experimental one-group pretest-posttest design, kami mengumpulkan data dari 44 ibu hamil melalui teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam pengetahuan PHBS (p-value = 0,0001) dan stunting (p-value = 0,020) setelah dilakukan penyuluhan menggunakan presentasi PowerPoint sebagai media penyuluhan. Penelitian ini menegaskan bahwa penyuluhan melalui media PowerPoint efektif meningkatkan pengetahuan ibu hamil tentang PHBS dan stunting sehingga diharapkan dapat mendukung praktik PHBS dan mendukung program penurunan stunting di Kecamatan Kresek
The Relationship Between Learning Motivation and Self-Directed Learning Readiness Among Dental Students at YARSI University
Background: Dental education today has adopted a student-centered learning (SCL) approach that emphasizes the importance of self-directed learning (SDL). Learning motivation is one of the main factors influencing students' readiness and effectiveness in SDL. Students with higher motivation tend to show greater initiative, better learning strategies, and stronger autonomy in managing their learning process. This study aimed to determine the relationship between learning motivation and self-directed learning among students of the Faculty of Dentistry at YARSI University. Methods: This was a descriptive analytic study with a cross-sectional design involving 282 students from both academic and clinical stages. The instruments used were the Strength of Motivation for Medical School (SMMS) and the Self-Directed Learning Readiness (SDLR) questionnaires, both of which had been validated and tested for reliability. Data were analyzed using univariate and bivariate methods, with Pearson correlation employed to assess the relationship between learning motivation and SDL. Results: The average SMMS score among students was 57.26, indicating a moderate level of learning motivation. The average SDLR score was 153.52, which falls into the high category for self-directed learning readiness. Pearson correlation analysis revealed a significant positive relationship between learning motivation and SDL, with a correlation coefficient of r = 0.286 and p = 0.000 (p < 0.05). Conclusion: There is a significant positive relationship between learning motivation and self-directed learning among dental students at YARSI University. Although the level of learning motivation was categorized as moderate, students demonstrated a high readiness for SDL. Enhancing learning motivation may further strengthen students' SDL abilities, thereby supporting more effective and independent learning processes.Background: Dental education today has adopted a student-centered learning (SCL) approach that emphasizes the importance of self-directed learning (SDL). Learning motivation is one of the main factors influencing students' readiness and effectiveness in SDL. Students with higher motivation tend to show greater initiative, better learning strategies, and stronger autonomy in managing their learning process. This study aimed to determine the relationship between learning motivation and self-directed learning among students of the Faculty of Dentistry at YARSI University. Methods: This was a descriptive analytic study with a cross-sectional design involving 282 students from both academic and clinical stages. The instruments used were the Strength of Motivation for Medical School (SMMS) and the Self-Directed Learning Readiness (SDLR) questionnaires, both of which had been validated and tested for reliability. Data were analyzed using univariate and bivariate methods, with Pearson correlation employed to assess the relationship between learning motivation and SDL. Results: The average SMMS score among students was 57.26, indicating a moderate level of learning motivation. The average SDLR score was 153.52, which falls into the high category for self-directed learning readiness. Pearson correlation analysis revealed a significant positive relationship between learning motivation and SDL, with a correlation coefficient of r = 0.286 and p = 0.000 (p < 0.05). Conclusion: There is a significant positive relationship between learning motivation and self-directed learning among dental students at YARSI University. Although the level of learning motivation was categorized as moderate, students demonstrated a high readiness for SDL. Enhancing learning motivation may further strengthen students' SDL abilities, thereby supporting more effective and independent learning processes
Bridging Generations: The Mediating Role of Job Satisfaction in the Relationship Between Adaptation, Loyalty, Culture, and Performance among Gen Z Employees
This research aims to test whether employee adaptation, employee loyalty, and organizational culture influence employee performance through job satisfaction among KFC employees in the Cempaka area. This research uses a quantitative associative research approach, which was measured using a SEM PLS-based method with SmartPLS 4. The population of this study were KFC employees in the Cempaka area. The sample was determined based on the census sampling method, with a total sample of 78 KFC employees in the Cempaka area. The data used in this research is primary data. The data collection technique uses a survey method by distributing questionnaires, testing hypotheses using the path coefficient. The research results prove that partially employee adaptation, employee loyalty and organizational culture have no effect on employee performance. Then employee adaptation has no effect on job satisfaction, while employee loyalty and organizational culture have an effect on job satisfaction. Job satisfaction cannot mediate the influence of employee adaptation, employee loyalty, and organizational culture on employee performancePenelitian ini bertujuan untuk menguji apakah adaptasi karyawan, loyalitas karyawan, dan budaya organisasi berpengaruh terhadap kinerja karyawan melalui kepuasan kerja pada karyawan KFC wilayah Cempaka. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian asosiatif kuantitatif, yang diukur menggunakan metode SEM berbasis PLS dengan SmartPLS 4. Populasi penelitian ini adalah karyawan KFC wilayah Cempaka. Sampel ditentukan berdasarkan metode sensus sampling, dengan jumlah sampel sebanyak 78 karyawan KFC wilayah Cempaka. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer. Teknik pengumpulan data menggunakan metode survei dengan menyebarkan kuesioner, pengujian hipotesis menggunakan koefisien jalur. Hasil penelitian membuktikan bahwa secara parsial adaptasi karyawan, loyalitas karyawan dan budaya organisasi tidak berpengaruh terhadap kinerja karyawan. Kemudian adaptasi karyawan tidak berpengaruh terhadap kepuasan kerja, sedangkan loyalitas karyawan dan budaya organisasi berpengaruh terhadap kepuasan kerja. Kepuasan kerja tidak dapat memediasi pengaruh adaptasi karyawan, loyalitas karyawan, dan budaya organisasi terhadap kinerja karyawan