Yarsi Academic Journals
Not a member yet
1729 research outputs found
Sort by
Hubungan Perilaku Cuci Tangan dan Faktor Risiko Lingkungan Terhadap Kejadian Penyakit Tifoid: Sebuah Studi Literatur
Demam tifoid merupakan penyakit demam akut yang disebabkan bakteri Salmonella typhi dimana penyakit ini disebarkan melalui rute fekal-oral yang memiliki potensi epidemik. Faktor risiko terjadinya tifoid bisa diakibatkan berdasarkan perlaku cuci tangan dan higenitas serta lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah adanya hubungan perilaku cuci tangan dan faktor risiko lingkungan terhadap kejadian penyakit tifoid dengan pendekatan studi literatur. Artikel penelitian dicari pada empat data base journal yaitu Pubmed, Pan African Medical, dan Google Scholar. Syarat artikel yaitu merupakan artikel original research dan terbit dari tahun 2015 sampai dengan tahun 2020. Pencarian artikel menggunakan keyword yaitu tifoid, perilaku cuci tangan, lingkungan, dan metode case control. Analisis data dilakukan dengan mengelompokkan artikel. Dari penelusuran literatur didapatkan 8 artikel yang terdiri dari, Pubmed 3 artikel , Pan African Medical 1 artikel, dan Google Scholar 4 artikel. Variabel-variabel yang berhubungan dengan tifoid ada pada 8 artikel yaitu variabel kebiasaan perilaku cuci tangan setelah makan maupun setelah buang air besar dan faktor lingkungan (yaitu kewaspadaan dan pengetahuan yang kurang, sering jajan atau makan makanan yang kurang higenis, kuku kotor, sumber air dan sanitasi atau higenitas yang buruk, tempat pembuangan sampah dan limbah, dan pengolahan makanan).
Implikasi Perubahan Undang-Undang Minerba Bagi Masyarakat Halmahera Tengah dalam pandangan hukum Pembangunan : Implikasi Perubahan Undang-Undang Minerba Bagi Masyarakat Halmahera Tengah dalam pandangan hukum Pembangunan
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak perubahan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (UU Minerba) terhadap masyarakat Halmahera Tengah di Provinsi Maluku Utara. Revisi regulasi ini memperlihatkan kecenderungan sentralisasi kewenangan dan dominasi kepentingan korporasi dalam pengelolaan sumber daya alam, serta melemahkan perlindungan hukum terhadap masyarakat lokal. Dengan pendekatan normatif-empiris, studi ini mengevaluasi sejumlah ketentuan kontroversial dalam UU Minerba dan mengkaji implikasinya terhadap aspek sosial, hukum, dan lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan undang-undang berdampak pada konflik tenurial, peralihan ruang hidup masyarakat, pencemaran lingkungan, serta terbatasnya peran pemerintah daerah dalam pengawasan pertambangan. Kajian ini menekankan pentingnya reformasi hukum yang partisipatif dan perlunya keterlibatan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dalam proses legislasi untuk mewujudkan tata kelola pertambangan yang adil dan berkelanjutan.ABSTRAK
Peneltian ini bertujuan untuk mengetahui urgensi yang perlu diperhatikan para legislator dalam upaya merevisi Undang-Undang Mineral dan Batubara yaitu Undang-undang No 3 Tahun 2020 Perubahan Atas Undang- Undang No 4 Tahun 2009 Tentang Mineral dan Batubara (selanjutnya disingkat UU Minerba). Sebagai dasar hukum dalam menjalankan ekpolitasi sumber dalam alam dalam dunia pertambangan berdasarkan perintah Undang-Undang Dasar Tahun 1945 pasal 33 ayat 3”Bumi air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasi oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”. UU Minerba ini sangat tepat untuk dibahas dalam prespektif hukum pembangunan berhubung ada frasa kemakmuran rakyat. Namun pada kenyataan yang terjadi tidak seperti yang diharapkan. Masih banyak penolakan oleh publik yang terus disuarakan peralihan kewenangan Perizinan dari daerah kepusat dengan upaya memanilisir korupsi ditingkat daerah, tapi apakah dengan kembalikan kewenagan itu kepusat apakah berkurang atau lingkaran itu semakin membesar dan bertambah.serta pasal-pasal yang dianggap melindungi kepentingan para investor dan mengabaikan ruang hidup masyarakat setempat. Penulisan ini membahas dalam pandangan hukum pembangunan. Melihat implikasi yang dihadapi oleh masyarkat Halmahera Tengah di Provinsi Maluku Utara dengan hadirnya PT Industrial Weda Bay Industrial Park (IWIP). Metode yang diguanakan dalam penulisan ini ialah hukum normatif. Dengan melakukan pendekatan-pendekatan peraturan perundang-undangan, konseptual, pendekatan histori, dan menggunakan metode analisis kualitatif.
Kata Kunci : UU Minerba, Hukum pembangunan, Masyarakat Halteng
Studi Kualitatif Mengenai Pengetahuan Perpajakan dan Kepatuhan Wajib Pajak Pengusaha E-Commerce
This research aims to determine the perceptions of e-commerce entrepreneurs regarding tax obligations. This research uses qualitative methods with an interpretive paradigm in order to explain social world phenomena from the perspective of e-commerce entrepreneurs. The research subjects are e-commerce entrepreneurs with gross turnover of between IDR 500 million and IDR 4.8 billion per year. The results of this research indicate that business actors are aware of taxes but do not have sufficient understanding to fulfill their tax obligations, so they tend to prefer to hand it over to employees who have a tax background. Three participants met all the criteria for compliant taxpayers. The other two participants did not carry out most of their tax obligations, which will result in tax arrears in the future.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi para pengusaha e-commerce tentang kewajiban pajak. Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif dengan paradigma interpretatif agar dapat menjelaskan fenomena dunia sosial dari kacamata para pengusaha e-commerce. Subjek penelitian merupakan pengusaha e-commerce dengan peredaran bruto antara Rp 500 juta hingga Rp 4,8 miliar per tahun. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelaku usaha mengetahui pajak namun tidak memiliki pemahaman yang cukup untuk memenuhi kewajiban perpajakannya, sehingga cenderung lebih memilih untuk menyerahkannya kepada karyawan yang memiliki latar belakang perpajakan. Tiga partisipan memenuhi seluruh kriteria wajib pajak patuh. Dua partisipan lainnya tidak melaksanakan sebagian besar kewajiban pajaknya sehingga akan menimbulkan tunggakan pajak di masa mendatang
Relationship Between Anemia and Outcomes of Covid-19 Patients at Yarsi Hospital for The Period of June 2020 – June 2022
Introduction: Anemia and COVID-19 share a complex relationship. Several published studies have yet to conclusively determine the relationship between anemia and COVID-19 outcomes. Given the importance of the inflammatory process associated with COVID-19 and its role in the pathogenesis of anemia, further research is needed to evaluate the relationship between anemia and COVID-19 patient outcomes. Methods: This study is a quantitative and qualitative analytical study using a cross-sectional approach. The data analyzed is secondary data from the Electronic Medical Record of YARSI Hospital, covering the period from June 2020 to June 2022. The relationship between variables was analyzed using the Wilcoxon Signed Ranks Test, Spearman’s correlation test, and Pearson’s correlation test. Results: A total of 242 patients met all inclusion criteria. Of these, 100 patients were in the anemia group and 142 in the non-anemia group. Statistical analysis revealed a significant difference in the length of hospital stay for COVID-19 patients with anemia compared to those without anemia (Z score -13.3415), with anemic patients having a longer stay. Additionally, the anemia group showed a better recovery rate than the non-anemic group (Z score −11.136). A nonsignificant negative relationship was also found between anemia and COVID-19 severity (Spearman’s rho -0.105, p=0.300). Hemoglobin levels had a nonsignificant negative correlation with the length of hospital stay (Pearson correlation coefficient -0.104, p=0.107). Conclusion: COVID-19 patients with anemia in this study showed better recovery outcomes compared to non-anemic patients but had longer hospital stays
Hubungan Antara Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan Kejadian Hipertensi pada Lansia di RW 07 Kelurahan Sumur Batu, Jakarta Pusat, serta Tinjauannya dalam Pandangan Islam
Hipertensi, seringkali disebut sebagai “silent killer”, yang merupakan penyebab utama kematian di dunia, terutama pada lansia. Kondisi ini dapat terjadi tanpa gejala yang jelas dan berisiko menyebabkan komplikasi serius seperti penyakit kardiovaskular dan ginjal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan indeks massa tubuh dengan kejadian hipertensi pada lansia di RW 07 Kelurahan Sumur Batu, Jakarta Pusat. Penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional ini melibatkan 49 lansia yang diambil dengan teknik total sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berusia ≥ 60 tahun, didominasi oleh perempuan, dan memiliki tingkat pendidikan rendah. Analisis bivariat dengan menggunakan uji chi-square menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara IMT dengan kejadian hipertensi (p=0,000). Lansia dengan IMT ≥ 23 kg/m2 memiliki risiko hipertensi yang lebih tinggi. Temuan ini menekankan bahwa IMT yang tinggi berhubungan dengan peningkatan risiko hipertensi pada lansia, yang sesuai dengan temuan penelitian sebelumnya. Dalam perspektif Islam, menjaga pola hidup sehat, termasuk menjaga berat badan ideal, merupakan bagian dari kewajiban untuk mensyukuri nikmat Allah dan mencegah penyakit yang dapat mengganggu kesehatan
Hubungan Antara Pola Makan dengan Prevalensi Anemia pada Remaja Putri di Desa Medong Kabupaten Pandeglang Banten
Latar Belakang : Remaja adalah fase transisi dari masa kanak-kanak ke dewasa yang melibatkan perubahan fisik, emosional, dan reproduksi. Rentang usia remaja bervariasi menurut sumber: WHO (10-19 tahun), Peraturan Menteri Kesehatan RI (10-18 tahun), dan BKKBN (10-24 tahun). Secara global, 19% populasi adalah remaja, dengan Asia Pasifik memiliki jumlah terbesar. Di Indonesia, terdapat 46 juta remaja, termasuk 22 juta remaja putri. Meskipun dianggap sehat, remaja Indonesia menghadapi berbagai masalah kesehatan, seperti anemia. Anemia, sering disebabkan oleh defisiensi zat besi, berdampak pada pertumbuhan, reproduksi, dan risiko komplikasi kehamilan. Pola makan berperan penting; remaja vegetarian lebih rentan karena asupan zat besi nonheme kurang efektif diserap tubuh. Penelitian terkait pola makan dan anemia penting dilakukan untuk memahami faktor risiko dan pencegahannya.
Metode : Penelitian ini menggunakan desain survei analitik dengan pendekatan cross-sectionaluntuk menganalisis hubungan pola makan dengan anemia pada remaja putri usia 12–18 tahun di Desa Medong, Pandeglang. Sampel 30 responden diambil menggunakan quota sampling. Data primer dan sekunder dikumpulkan melalui kuesioner dan pemeriksaan Hb, lalu dianalisis menggunakan SPSS.
Hasil : Pada pengujian hipotesis menggunakan analisis chi kuadratdidapatkan nilai P-value >0,05 yaitu sebesar 0,2 yang diartikanbahwa tidak ada hubungan antara pola makan dengan prevalensi anemia pada remaja putri di Desa Medong Pandeglang Banten. Hal ini bisa terjadi karena pengukuranpola makan bukan hanya dari asupan gizi setiap harinya namun dilihat juga intensitas makan, kepatuhan makan serta frekuensimakan sehari-hari.
Kesimpulan : Hasil dari penelitian pengaruh pola makan dengan prevalensi anemia di Desa Medong Kabupaten Pandeglang Banten tidak berpengaruh. Namun dapat dilakukan langkah preventif dengan mengimplementasikan nilai islam dalam pola makan seperti makan makanan halal dan thayyib
Islamic Financial Literacy Islamic Financial Literacy: A Hybrid Systematic Literature Review and Bibliometric Analysis
This study explores Islamic financial literacy through a hybrid approach that combines a Systematic Literature Review (SLR) and bibliometric analysis to provide a comprehensive and in-depth understanding of research developments in this field. Data were collected from the Scopus database for the study period up to May 8, 2025, using a structured keyword search strategy and strict selection criteria based on the PRISMA framework. The SLR method was employed to synthesize qualitative findings from relevant literature, while bibliometric analysis mapped research trends, author collaboration patterns, as well as keyword and citation distributions using VOSviewer and Bibliometrix software. The results indicate a significant increase in the number of publications and a diversification of research themes in Islamic financial literacy during the study period, with prominent research clusters focusing on financial education, financial behavior, and Islamic financial regulation. This hybrid approach not only strengthens the validity of the findings through the integration of qualitative and quantitative data but also offers a holistic view of the scientific dynamics and collaborative networks in the field of Islamic financial literacy. These findings are expected to serve as a strong foundation for the development of more effective and inclusive theories, policies, and practices in Islamic finance.Penelitian ini mengkaji literasi keuangan Islam melalui pendekatan hybrid yang menggabungkan Systematic Literature Review (SLR) dan analisis bibliometrik untuk memberikan pemahaman yang komprehensif dan mendalam mengenai perkembangan penelitian di bidang ini. Data dikumpulkan dari database Scopus dengan periode studi hingga tanggal 8 Mei 2025, menggunakan strategi pencarian kata kunci yang terstruktur dan kriteria seleksi yang ketat berdasarkan kerangka PRISMA. Metode SLR digunakan untuk mensintesis temuan kualitatif dari literatur yang relevan, sementara analisis bibliometrik memetakan tren penelitian, pola kolaborasi antar penulis, serta distribusi kata kunci dan sitasi menggunakan perangkat lunak VOSviewer dan Bibliometrix. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam jumlah publikasi dan diversifikasi tema riset literasi keuangan Islam selama periode studi, dengan klaster penelitian yang menonjol pada aspek edukasi keuangan, perilaku keuangan, dan regulasi keuangan Islam. Pendekatan hybrid ini tidak hanya memperkuat validitas temuan melalui integrasi data kualitatif dan kuantitatif, tetapi juga memberikan gambaran holistik tentang dinamika ilmiah dan jejaring kolaborasi di bidang literasi keuangan Islam. Temuan ini diharapkan dapat menjadi dasar yang kuat bagi pengembangan teori, kebijakan, dan praktik keuangan Islam yang lebih efektif dan inklusi
Kompetensi Budaya Dokter Keluarga dalam Manajemen Tuberculosis: Menghargai Faktor Budaya dalam Mengelola Pasien Tuberculosis
Background. Tuberculosis (TB) is a chronic infectious disease. Indonesia is still ranked as the second highest number of TB cases in the world. Obstacles in TB management include case discovery and patient treatment compliance. A doctor needs to see the patient as a whole person, not just the disease. The patient's culture and social affect the success of TB management. Objective. This paper reveals the doctor’s cultural competence in managing TB. Method. The method used was a narrative review accompanied by reflection from the author. The keywords used are Cultural/Social Competence and Tuberculosis Management. The sources used are journals and guides. Result. The results obtained were divided into issues related to culture, the influence of culture on TB treatment, obstacles in the implementation of cultural competence, and how to improve competence. Conclusion. Competencies that can identify and manage patients with cultural considerations are essential for physicians to achieve. Ongoing training and evaluation can help doctors to improve cultural competence.Latarbelakang. Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular kronis. Indonesia masih menduduki peringkat kedua kasus TB tertinggi di dunia. Hambatan dalam penanganan TB terutama pada penemuan kasus dan kepatuhan perawatan pasien. Seorang dokter perlu melihat pasien sebagai pribadi yang utuh, bukan hanya penyakitnya. Padahal faktor budaya dan sosial pasien mempengaruhi keberhasilan penanganan TB. Obyektif. Makalah ini mengungkapkan kompetensi budaya dokter dalam mengelola TB. Metode. Metode yang digunakan adalah tinjauan narasi disertai refleksi dari penulis. Kata kunci yang digunakan adalah Kompetensi Budaya/Sosial dan Manajemen Tuberkulosis. Sumber yang digunakan adalah jurnal dan panduan. Hasil. Hasil yang diperoleh dibagi menjadi isu-isu yang berkaitan dengan budaya, pengaruh kultur terhadap pengobatan TB, kendala dalam pelaksanaan kompetensi budaya, dan bagaimana cara meningkatkan kompetensi budaya. Kesimpulan. Kompetensi yang dapat mengidentifikasi dan mengelola pasien dengan pertimbangan budaya sangat penting untuk dicapai oleh dokter. Pelatihan dan evaluasi berkelanjutan dapat membantu dokter untuk meningkatkan kompetensi budaya
Topical Jatropha multifida–Carboxymethyl Chitosan Hydrogel Enhances VEGF Expression, Angiogenesis, and Re-epithelialization in a Rat Burn Model
Burn injuries are complex wounds with high morbidity and mortality worldwide. Deep partial-thickness burns require prolonged healing, and delayed vascularization often leads to infection and scarring. Vascular endothelial growth factor (VEGF) plays a pivotal role in angiogenesis and epithelialization, making it a key target for wound-healing interventions. Jatropha multifida Linn. contains flavonoids, saponins, and tannins with potential wound-healing properties. Carboxymethyl chitosan (CMC) hydrogel serves as a biocompatible carrier that maintains moisture and improves bioavailability. There have been no studies reports that have observed the effect of using Jatropha multifida Linn.- Carboxymethyl chitosan (CMC) formulation on burns. This study aimed to evaluate the effect of a 15% Jatropha multifida Linn. –CMC gel on Vascular Endothelial Growth Factor (VEGF) expression, angiogenesis, and re-epithelialization in a rat deep partial-thickness burn model. Eighteen Sprague Dawley rats were subjected to standardized burns, each receiving four wounds assigned to six groups: untreated, saline, base gel, CMC, commercial burn product (BP), and 15% J. multifida Linn.–CMC gel. Treatments were applied twice daily for 14 days. Wound samples were collected on days 5, 10, and 15 for histological and immunohistochemical analysis. VEGF expression, angiogenesis, and epithelial thickness were quantified. Statistical analysis employed Kruskal–Wallis with Dunn’s post hoc test and Spearman correlation with p<0,05. 15% J. multifida Linn.–CMC gel significantly increased VEGF expression, angiogenesis, and epithelial thickness compared with negative controls (p<0.05). By day 15, the 15% J. multifida Linn.–CMC group demonstrated continuous epithelial coverage (≈49.7 µm). VEGF expression correlated positively with angiogenesis (ρ=0.697, p<0.001). The 15% J. multifida Linn.–CMC gel increased VEGF expression, angiogenesis, and re-epithelialization in a rat deep partial-thickness burn model, suggesting its potential as a low-cost, plant-based alternative therapy for burn wound management.Latar Belakang:
Luka bakar merupakan luka yang kompleks dengan angka kesakitan dan kematian yang tinggi di seluruh dunia. Luka bakar dengan derajat deep partial-thickness (derajat II dalam) membutuhkan waktu penyembuhan yang lama, dan keterlambatan pembentukan pembuluh darah baru (vaskularisasi) sering kali menyebabkan infeksi serta jaringan parut (scarring).Vascular Endothelial Growth Factor (VEGF) berperan penting dalam proses angiogenesis (pembentukan pembuluh darah baru) dan epitelisasi, sehingga menjadi target utama dalam berbagai intervensi penyembuhan luka.
Tanaman Jatropha multifida Linn. diketahui mengandung flavonoid, saponin, dan tanin yang berpotensi memiliki efek penyembuhan luka. Sementara itu, hidrogel Carboxymethyl Chitosan (CMC) berfungsi sebagai pembawa (carrier) biokompatibel yang dapat mempertahankan kelembapan luka dan meningkatkan ketersediaan hayati bahan aktif.Hingga saat ini, belum ada laporan penelitian yang menilai efek penggunaan formulasi Jatropha multifida Linn.–Carboxymethyl Chitosan (CMC) terhadap luka bakar.
Tujuan:
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh gel 15% Jatropha multifida Linn.–CMC terhadap ekspresi VEGF, angiogenesis, dan re-epitelisasi pada model luka bakar deep partial-thickness pada tikus putih (Rattus norvegicus) galur Sprague Dawley.
Metode:
Sebanyak 18 ekor tikus Sprague Dawley dibuat luka bakar standar, masing-masing diberi empat luka yang dibagi ke dalam enam kelompok perlakuan, yaitu:
Tanpa perlakuan,
NaCl fisiologis (saline),
Basis gel,
Gel CMC,
Produk komersial luka bakar (BP), dan
Gel 15% J. multifida Linn.–CMC.
Perlakuan diberikan dua kali sehari selama 14 hari.Sampel jaringan luka dikoleksi pada hari ke-5, 10, dan 15 untuk dilakukan analisis histologis dan imunohistokimia.Ekspresi VEGF, jumlah pembuluh darah baru (angiogenesis), dan ketebalan epitel diukur secara kuantitatif.Analisis statistik dilakukan menggunakan uji Kruskal–Wallis dengan uji lanjut Dunn, serta korelasi Spearman, dengan tingkat signifikansi p<0,05.
Hasil:
Gel 15% J. multifida Linn.–CMC secara signifikan meningkatkan ekspresi VEGF, angiogenesis, dan ketebalan epitel dibandingkan kelompok kontrol negatif (p<0,05).Pada hari ke-15, kelompok 15% J. multifida Linn.–CMC menunjukkan penutupan epitel yang hampir sempurna dengan ketebalan rata-rata ±49,7 µm.Ekspresi VEGF memiliki korelasi positif dengan angiogenesis (ρ = 0,697; p<0,001).
Kesimpulan:
Gel 15% J. multifida Linn.–CMC meningkatkan ekspresi VEGF, angiogenesis, dan re-epitelisasi pada model luka bakar derajat II dalam pada tikus, sehingga berpotensi dikembangkan sebagai terapi alternatif berbasis tanaman yang efektif dan berbiaya rendah untuk penatalaksanaan luka bakar.
Kata Kunci:
Angiogenesis, penyembuhan luka bakar, Carboxymethyl chitosan (CMC), Jatropha multifida Linn., re-epitelisasi, VEGF
PENGENAAN PAJAK HIBURAN DI PROVINSI DAERAH KHUSUS JAKARTA
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengenaan pajak atas penyelenggaraan hiburan, baik sebelum maupun sesudah diberlakukannya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2022 tentang Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah, khususnya di Provinsi Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta. Jenis penelitian ini termasuk dalam penelitian hukum normatif. Sebelum berlakunya undang-undang tersebut, dasar hukum pengenaan pajak hiburan merujuk pada Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2015 tentang Pajak Hiburan. Dalam ketentuan tersebut, tarif pajak hiburan ditetapkan sebesar 35% untuk panti pijat, mandi uap, dan spa. Sementara itu, hiburan kesenian rakyat atau tradisional dikenakan tarif pajak sebesar 10% dan untuk pertunjukan kesenian bertaraf internasional sebesar 15%. Setelah undang-undang tersebut berlaku, pajak hiburan diintegrasikan dalam kategori pajak berbasis konsumsi lainnya, dengan nomenklatur baru yaitu Pajak Barang dan Jasa Tertentu. Penamaan pajak hiburan juga berubah menjadi pajak kesenian dan hiburan. Di Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta, pajak ini diatur dalam Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2024 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Berdasarkan perda ini, pengenaan pajak untuk hiburan umum seperti konser, pertunjukan seni, pameran, dan kegiatan sejenisnya tarifnya sebesar 10%. Adapun untuk jenis jasa hiburan tertentu seperti diskotek, karaoke, kelab malam, bar, serta mandi uap/spa, dikenakan tarif pajak sebesar 40%. Perda ini juga memberikan insentif fiskal dengan persyaratan tertentu kepada pengusaha hiburan untuk mendukung usahanya.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengenaan pajak hiburan baik sebelum dan sesudah berlakunya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2022 Tentang Hubungan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah di Daerah Khusus Jakarta. Awalnya pajak hiburan sebagai pajak atas penyelenggaraan hiburan didasarkan pada Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2015 tentang Perubahan atas Peraturan Daerah Nomor 13 Tahun 2010 tentang Pajak Hiburan. Pengenaan pajak hiburan ditetapkan paling tinggi sebesar 35% untuk panti pijat, mandi uap dan spa. Hiburan kesenian rakyat/tradisional dikenakan paling tinggi sebesar 10%, namun untuk tingkatan internasional dikenakan 15%. Pada tahun 2024, pajak hiburan diintegrasikan dengan jenis pajak lain yang berbasis konsumsi dengan nama Pajak Barang dan Jasa Tertentu. Pajak ini diatur dalam Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2004 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah dengan nama pajak kesenian dan hiburan. Tarif pajak 10% dikenakan untuk hiburan umum seperti konser, seni, pameran, dan sejenisnya. Khusus atas jasa hiburan pada diskotek, karaoke, kelab malam, bar, dan mandi uap/spa ditetapkan sebesar 40%. Peraturan ini membawa beberapa perubahan yaitu tarif pajak untuk hiburan seperti konser atau pagelaran seni kelas internasional turun dari 15% menjadi 10%. Perubahan ini dilakukan supaya lebih adil dan mengikuti dinamika bisnis hiburan yang berkembang.
Kata Kunci: pajak, hiburan, tari