Jurnal FKIP Universitas Mulawarman (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan)
Not a member yet
    1842 research outputs found

    Pengaruh Suplemen Ajar Berbasis Literasi Islam Menggunakan Model E-Learning Web Course Terhadap Hasil Belajar Kimia

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suplemen bahan ajar berbasis literasi islam menggunakan model pembelajaran e-learning tipe web course terhadap hasil belajar siswa pada materi ikatan kimia kelas X di MAN 1 Samarinda. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif deskripsi dengan metode rancangan quasi experiment jenis non-equivalent control group design. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh kelas X IPA. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling sehingga diperoleh sampel penelitian yaitu kelas X IPA 3 menggunakan suplemen ajar berbasis literasi Islam dan kelas X IPA 2 menggunakan suplemen ajar non-berbasis literasi Islam. Data yang diambil dalam penelitian ini adalah hasil belajar afektif dan hasil belajar kognitif yang dianalisis menggunakan uji t. Berdasarkan hasil analisis menggunakan uji t, diperoleh uji thitung afektif = 2,27, thitung kognitif = 4,86 dan ttabel = 1,99 dengan taraf signifikan 5%. Karena thitung > ttabel maka Ha diterima, artinya hasil belajar afektif dan kognitif menunjukan bahwa terdapat pengaruh suplemen bahan ajar berbasis literasi Islam menggunakan model pembelajaran e-learning tipe web course terhadap hasil belajar siswa pada materi ikatan kimia kelas X di MAN 1 Samarinda

    The Usage And Attitudes Towards Chatgpt Among The English Department Students In Samarinda

    No full text
    This research aims to examine the level of ChatGPT usage and the attitudes of English Department students in Samarinda toward its role in academic learning. The research is grounded in the rapid integration of artificial intelligence (AI) in higher education, particularly the increasing use of ChatGPT. A descriptive quantitative method was employed, using a validated questionnaire adapted from Sallam et al. (2024) which was distributed to 192 students from A University, B University, and C University. The data were analyzed using mean score calculations to determine the students’ level of usage and attitudes. The results showed that the majority of students (64.58%) used ChatGPT at a moderate level, indicating regular but not intensive engagement with the tool. In terms of attitudes, the majority of students (55.21%) demonstrated a neutral stance. Students generally found ChatGPT accessible and useful, although some expressed concerns related to academic integrity, data privacy, and overreliance on AI tools. In conclusion, English Department students in Samarinda are incorporating ChatGPT into their academic routines with both interest and caution. While they acknowledge its practical benefits, they also maintain a balanced perspective on its potential risks. These findings highlight the importance of promoting digital literacy and ethical awareness in the use of AI-based educational tools

    The Correlation Between Students’ Motivation and Their Achievement in Studying English at a Junior High School in Samarinda

    No full text
    English plays a pivotal role as a global language and is taught as a compulsory subject in Indonesia. However, students’ low enthusiasm toward learning English remains a critical concern, particularly at the junior high school level. Motivation is widely recognized as a major determinant of success in second or foreign language learning. This study aims to investigate the correlation between students’ motivation and their English language achievement at a Junior High School in Samarinda. Employing a quantitative correlational method, the study involved 170 ninth-grade students selected through purposive sampling. Data were collected using a motivation questionnaire adapted from Gardner’s Attitude/Motivation Test Battery (AMTB) and English achievement scores provided by the school. Validity and reliability tests were conducted prior to data collection, with 11 out of 20 questionnaire items declared valid (r > 0.300) and Cronbach’s Alpha indicating reliable consistency (α = 0.701). Descriptive statistics revealed that the majority of students showed moderate motivation (37.1%) and high average English scores (M = 91.94). However, the results of the Spearman rank correlation showed a weak and negative correlation (r = -0.025, p = 0.747) between students’ motivation and English achievement. These findings suggest that although motivation exists, it is not a strong predictor of performance in this context. Other influencing factors such as teaching quality, parental involvement, and prior exposure to English may play a more significant role. This study highlights the need for a multifaceted approach in language teaching, addressing both motivational and environmental aspects to improve learning outcomes

    Strategies in Coping with Problems Faced by University Students in Speaking Class Across Different Proficiency Levels

    No full text
    This study aimed to describe the problems faced by university students in English speaking classes across different proficiency levels at one of the universities in East Kalimantan and their strategies to overcome the problems. This research used a quantitative survey method. The data was collected using a questionnaire divided into two sections, speaking problems and strategies, shared using Google Forms. 85 of 100 students answered the questionnaire. The findings revealed that the most prevalent problems were affective-related (68.7%) and linguistic-related (62.0%). Specifically, 83.5% of students reported fear of making mistakes, 82.4% struggled with overuse of their mother tongue, and 75.3% faced insufficient grammar knowledge. Beginner students exhibited the highest frequency of issues, with 100% acknowledging fear of mistakes, while intermediate and advanced students also reported significant affective and linguistic challenges, albeit at slightly lower rates (e.g., 86% and 74% for fear of mistakes, respectively). Coping strategies varied by proficiency level: beginners relied heavily on passive methods like watching movies (75%), while intermediate students incorporated more interactive strategies, such as peer practice (37.9%). Advanced learners demonstrated balanced strategies, including regular speaking practice (52.2%) and peer interaction (60.9%). The study results underline the need for tailored pedagogical interventions to support students’ emotional readiness and language competence, emphasizing the importance of strategic practice environments and personalized feedback

    Merangkul Revolusi Digital: Peran Kepemimpinan Transformasional dalam Membangun Smart Campus

    No full text
    Revolusi digital mengutamakan manusia sebagai sumber inovasi dan tidak dapat dipisahkan dari teknologi. Hal tersebut telah mengubah paradigma dalam kehidupan manusia, termasuk dalam dunia pendidikan tinggi. Pendidikan tinggi dituntut untuk beradaptasi dengan revolusi digital agar mampu bertahan, relevan, dan menghasilkan lulusan yang mampu bersaing secara global. Berkaitan dengan hal tersebut, konsep smart campus, hadir untuk menjawab tuntutan perubahan tersebut. Namun, diperlukan pemimpin yang inovatif dan transformatif untuk mewujudkan smart campus yang bermutu. Dengan demikian, artikel memfokuskan kajiannya pada kepemimpinan transformasional sebagai strategi kunci dalam mewujudkan smart campus di era digital. Penulisan artikel ini menggunakan Systematic Literature Review (SLR), dengan menelaah secara sistematis berbagai publikasi ilmiah yang membahas kepemimpinan transformasional di perguruan tinggi, khususnya dalam konteks pengembangan smart campus pada era revolusi digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan transformasional menjadi salah satu solusi untuk mewujudkan konsep smart campus karena model kepemimpinan ini mampu membawa perubahan yang signifikan. Pemimpin transformasional mempunyai visi yang jelas, inspiratif, dan memotivasi sehingga mampu membangkitkan semangat civitas akademika dalam mewujudkan smart campus yang bermutu. Karena itu, artikel berkontribusi untuk kemajuan pendidikan tinggi di Indonesia, terutama dalam pengembangan transformasi digital

    Integrasi Perencanaan Strategis, Operasional, dan Program Kerja dalam Pengelolaan Sekolah: Sebuah Literature Review

    No full text
    Pengelolaan sekolah merupakan proses multidimensional yang menuntut integrasi antara perencanaan strategis, perencanaan operasional, dan program kerja agar tercapai efektivitas manajemen pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis literatur terkait praktik integrasi ketiga aspek tersebut, dengan fokus pada faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilan, tantangan implementasi, serta kontribusinya terhadap peningkatan mutu pendidikan. Metode yang digunakan adalah literature review sistematis, dengan menyeleksi artikel-artikel akademik berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang ketat, mencakup tema perencanaan strategis sekolah, kepemimpinan kepala sekolah, inovasi pedagogis, implementasi kurikulum, monitoring, dan evaluasi. Hasil sintesis menunjukkan bahwa perencanaan strategis berperan sebagai fondasi arah kebijakan sekolah, sementara perencanaan operasional berfungsi menerjemahkan visi ke dalam rencana tahunan yang realistis, dan program kerja memastikan keterlaksanaan strategi sesuai kebutuhan peserta didik. Faktor pendukung utama keberhasilan integrasi meliputi kepemimpinan kepala sekolah yang adaptif dan kolaboratif, keterlibatan aktif stakeholder, pemanfaatan teknologi pendidikan, serta sistem monitoring berbasis data. Tantangan utama yang diidentifikasi meliputi keterbatasan sumber daya, resistensi terhadap perubahan, serta variasi implementasi kurikulum di berbagai konteks sekolah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa integrasi manajemen sekolah yang harmonis mampu meningkatkan prestasi akademik, membangun budaya kolaboratif, serta mendukung keberlanjutan pendidikan sesuai tuntutan Kurikulum Merdeka dan program Sekolah Penggerak

    PENGARUH SARANA DAN PRASARANA TERHADAP KINERJA GURU SMK NEGERI 8 SAMARINDA

    No full text
    Kinerja guru merupakan faktor utama dalam menentukan kualitas proses dan hasil pembelajaran di sekolah. Guru yang berkinerja tinggi mampu menciptakan suasana belajar efektif, inovatif, dan menyenangkan bagi peserta didik. Salah satu faktor yang memengaruhi kinerja guru adalah ketersediaan sarana dan prasarana pendidikan yang memadai. Lingkungan sekolah dengan fasilitas lengkap, nyaman, dan terawat dapat meningkatkan motivasi guru serta mendukung pelaksanaan tugas secara optimal. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh sarana dan prasarana terhadap kinerja guru di SMK Negeri 8 Samarinda. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif asosiatif kausal, dengan populasi seluruh guru SMK Negeri 8 Samarinda dan sampel sebanyak 63 orang. Data dikumpulkan melalui kuesioner skala Likert empat poin dan dianalisis menggunakan regresi linear sederhana untuk mengetahui besarnya pengaruh sarana dan prasarana (X) terhadap kinerja guru (Y). Hasil analisis menunjukkan bahwa sarana dan prasarana berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja guru, dengan thitung = 10,274 > ttabel = 1,999 dan signifikansi < 0,001. Koefisien determinasi (R²) sebesar 0,634 menunjukkan kontribusi 63,4% terhadap variasi kinerja guru, sedangkan sisanya dipengaruhi faktor lain. Dengan demikian, sarana dan prasarana memiliki peran strategis dalam meningkatkan kinerja guru, menegaskan pentingnya pengadaan dan pemeliharaan fasilitas pendidikan untuk mendukung mutu pembelajaran dan profesionalisme guru. &nbsp

    Peningkatan Partisipasi Belajar Siswa Berkebutuhan Khusus (Slow learner) melalui Game-Based Learning dan Tutor Sebaya di Kelas X-9 SMA Negeri 16 Samarinda

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan partisipasi dan pemahaman belajar siswa berkebutuhan khusus (slow learner) melalui penerapan strategi game-based learning dan kolaborasi tutor sebaya di kelas X-9 SMA Negeri 16 Samarinda. Subjek penelitian adalah seorang siswa dengan hambatan intelektual ringan dan latar belakang migran. Metode yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) model Kemmis & McTaggart dalam dua siklus. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, asesmen formatif, dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan nilai dari rata-rata 60 menjadi 73 dan peningkatan partisipasi aktif di kelas. Penelitian ini merekomendasikan pentingnya adaptasi strategi belajar dan kolaborasi dalam pendidikan inklusif

    Pelatihan Pembuatan Majalah Daring Untuk Meningkatkan Jurnalistik Siswa Di SMAN 16 Samarinda

    No full text
    Tingkat literasi siswa di Indonesia masih rendah, terbukti dari posisi Indonesia pada survei PISA 2019 dan data UNESCO, serta rendahnya indeks aktivitas literasi membaca. Kondisi ini diperparah oleh dominasi media digital dan kurangnya minat baca siswa. Oleh karena itu, kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan literasi dan jurnalistik siswa, khususnya di SMA Negeri 16 Samarinda, melalui pelatihan pembuatan majalah daring. Metode yang digunakan adalah siklus pelatihan (training cycle) yang meliputi identifikasi kebutuhan, perencanaan kegiatan, pelaksanaan pelatihan, dan evaluasi. Sebanyak 22 siswa kelas 10 dan 11 yang memiliki minat pada jurnalistik dan desain grafis mengikuti pelatihan ini. Hasil yang dicapai sangat menggembirakan; siswa menunjukkan peningkatan signifikan dalam kemampuan mencari, mengolah, dan menulis informasi (jurnalistik dasar), serta keterampilan desain grafis menggunakan Canva. Tim redaksi majalah daring SPEKTA 16 berhasil terbentuk dan menerbitkan edisi perdana majalah dalam bentuk cetak dan digital, yang menunjukkan keberhasilan peningkatan kemampuan praktis siswa dalam mengelola media digital. Selain itu, pelatihan ini juga berhasil menumbuhkan rasa percaya diri, sikap kritis, rasa ingin tahu, dan kemampuan komunikasi interpersonal siswa

    Implementation of Deep Learning in History Learning Based on Virtual Museum Tours

    No full text
    Deep Learning is an approach that emphasizes in-depth understanding of concepts and competencies. This learning encourages students to actively engage in the learning process. There are three main elements of deep learning: meaningful learning, mindful learning, and joyful learning. Classroom learning is emphasized to be more meaningful and enjoyable for students. Therefore, history learning, known for its monotonous use of texts covering past events, must be implemented into an enjoyable learning experience through various innovations by teachers. One innovation teachers can implement is conducting virtual tours in the classroom by partnering with the National Education Museum. The method used in this research is a case study. The results of this study indicate that learning through virtual tours of museums is highly relevant because it aligns with the historical learning outcomes in schools

    1,605

    full texts

    1,842

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal FKIP Universitas Mulawarman (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇