Agroteknika (E-Journal)
Not a member yet
    195 research outputs found

    Tata Kelola Kolaboratif Benih Padi Lokal: Faktor-Faktor yang memengaruhinya di Sumatera Barat

    Full text link
    Tata kelola kolaboratif, yang semakin relevan saat ini, memungkinkan pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan untuk mengejar tujuan bersama dan menciptakan solusi yang inklusif serta berkelanjutan. Dalam konteks tata kelola benih padi, kolaborasi ini mencakup koordinasi produksi dan distribusi benih berkualitas, yang mendukung kemandirian pangan dan keberlanjutan pertanian di daerah seperti Sumatera Barat, Indonesia. Penelitian ini mengeksplorasi faktor-faktor yang memengaruhi kolaborasi pemangku kepentingan dalam tata kelola benih padi lokal di Sumatera Barat, dengan fokus pada aktor seperti petani, pemerintah, peneliti, dan LSM. Penelitian ini bertujuan memberikan wawasan bagi para pemangku kepentingan dan pembuat kebijakan untuk mendorong praktik tata kelola benih yang berkelanjutan menggunakan pendekatan mix-method eksploratori sekuensial, yang menggabungkan pendekatan kuantitatif dan kualitatif untuk menganalisis faktor faktor yang memengaruhi kolaborasi dalam tata kelola benih padi di Sumatera Barat. Hasil utama menunjukkan empat faktor yang memerlukan prioritas segera: stok benih, pemasaran benih, sumber daya, dan peningkatan kapasitas. Penanganan faktor-faktor prioritas ini berpotensi meningkatkan kolaborasi, memperbaiki kualitas benih, serta memperkuat ketahanan pertanian lokal. Temuan kami menekankan faktor yang penting dalam tata kelola kolaboratif yang efektif dalam menjaga sistem benih lokal dan keberlanjutan produktivitas pertanian

    Pergeseran Zona Agroklimat Oldeman di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat Berdasarkan Data Hujan Climate Hazards Group Infrared Precipitation with Station (CHIRPS)

    Full text link
    Metode pengelompokan zona iklim yang kompatibel untuk dimanfaatkan dalam bidang agraria ialah klasifikasi menurut Oldeman. Kondisi beberapa tahun terakhir curah hujan pada beberapa wilayah cenderung berubah akibat perubahan iklim, oleh sebab itu diperlukan data yang aktual dan akurat sebagai landasan pembuatan klasifikasi zona agroklimat. Seiring perkembangan teknologi, penginderaan jarak jauh (satelit) dapat dijadikan sebagai salah satu pilihan untuk mendapatkan data curah hujan yang representatif. Tujuan dari pelaksanaan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi serta memetakan zona agroklimat Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat tahun 1981 - 2023 berdasarkan klasifikasi Oldeman berdasarkan sumber data dari Climate Hazards Group Infrared Precipitation with Station (CHIRPS). Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli - September 2024. Pendekatan kuantitatif digunakan untuk memetakan zona iklim pertanian di Kabupaten Pesisir Selatan berdasarkan klasifikasi Oldeman. Pemetaan ini berbasis pada informasi curah hujan bulanan yang didapatkan dari CHIRPS, serta pemanfaatan shapefile administrasi Provinsi Sumatera Barat. Periode data curah hujan CHIRPS yang dimanfaatkan ialah pada tahun 1981 - 1996 dan 2008 - 2023. Diketahui bahwa wilayah yang mengalami pergeseran zona iklim dari tipe B1 menjadi A1 adalah kecamatan Ranah Ampek Hulu Tapan, Lunang, Pancung Soal dan Silaut. Wilayah yang mengalami pergeseran zona iklim dari tipe D1 menjadi D2 ialah Kecamatan IV Nagari Bayang Utara, sedangkan wilayah yang mengalami pergeseran dari tipe D2 menjadi tipe D1 adalah Kecamatan Ranah Pesisir dan Linggo Sari Baganti. Disamping itu, berdasarkan hasil pemetaan klasifikasi iklim Oldeman Kabupaten Pesisir Selatan terbagi dalam empat zona agroklimat, yakni A1, B1, D1 dan D2

    Agroindustri Santan Kelapa di Sumatera Barat: Identifikasi Faktor Berpengaruh untuk Peningkatan Daya Saing

    Full text link
    Pengembangan agroindustri santan kelapa memiliki potensi dalam mendorong eskalasi ekonomi, meningkatkan penghasilan masyarakat, memfasilitasi penyerapan tenaga kerja, mendorong pembangunan yang adil dan mempercepat kemajuan daerah. Usaha pengolahan santan kelapa di Sumatera Barat umumnya masih skala usaha rumah tangga dengan proses produksi sederhana, teknologi tradisional, mutu santan kelapa yang belum standar dan akses pasar yang terbatas. Tujuan riset ini adalah mengidentifikasi faktor-faktor berpengaruh pada pengembangan agroindustri santan kelapa dengan pendekatan kuantitatif menggunakan metode Fuzzy Analytical Hierarchy Process (FAHP). Faktor-faktor ini dapat menjadi pedoman bagi pemerintah dan pihak terkait dalam merencanakan strategi kebijakan yang berkaitan dengan pengembangan dan pertumbuhan agroindustri santan kelapa. Penelitian ini menerapkan prosedur yang dimulai dari pembuatan struktur hierarki, penyusunan kuisioner, pembuatan matrik perbandingan fuzzy, dan penentuan jumlah bobot prioritas. Penelitian ini melibatkan informan kunci yang terdiri dari praktisi industri, akademisi dan tenaga ahli dari pemerintahan. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh sebelas faktor-faktor berpengaruh pada pengembangan agroindustri santan kelapa yang terbagi atas tiga kelompok, yaitu: (i) kelompok A, merupakan faktor-faktor yang memerlukan tingkat pengawasan yang sangat ketat (extremely), terdiri dari faktor pendapatan (15,5 %), faktor harga (14,8 %), faktor pasar (14,5%), faktor bahan baku (11,9 %), faktor produktivitas (9 %) dan faktor kualitas (8,1 %), (ii) kelompok B, merupakan faktor-faktor yang memerlukan tingkat pengawasan ketat (strongly), terdiri dari faktor teknologi (8 %), faktor transportasi (7,8 %) dan faktor tenaga kerja (4,2 %), (iii) kelompok C, merupakan faktor-faktor yang memerlukan tingkat pengawasan sedang (moderately), terdiri dari faktor limbah produksi (4,3 %) dan  faktor regulasi (1,9 %)

    Efektivitas Pemberian Kompos KoheA+MF dan Pupuk Anorganik terhadap Pertumbuhan dan Produksi Benih Jagung Hibrida JH-37

    Full text link
    Jagung adalah sumber karbohidrat penting setelah beras yang dimanfaatkan sebagai sumber pangan, pakan hewan, dan bahan baku industri. Permintaan jagung Indonesia sangat tinggi saat ini, bertambahnya penggunaan bioetanol jagung sebagai bahan bakar alternatif. Upaya peningkatan produksi jagung hibrida dengan penggunaan benih unggul belum optimal, sehingga peneliti berasumsi menerapkan penggunaan pupuk organik KoheA+MF yang dipadukan dengan pupuk anorganik. Tujuan penelitian adalah mengetahui efektivitas pemberian pupuk organik KoheA+MF dan pupuk anorganik terhadap pertumbuhan dan produksi benih jagung JH-37. Penelitian dilakukan di kebun percobaan PT. Agro Zuriat Mandiri, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, Indonesia selama 5 bulan dari bulan Juni–Oktober 2024 dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) satu faktor dengan 5 ulangan. Perlakuan jenis pupuk yaitu rekomendasi (R) pupuk anorganik (kontrol), KoheA+MF+3/4 R pupuk anorganik, KoheA+MF+1/2 R pupuk anorganik, KoheA+MF+1/4 R pupuk anorganik, dan KoheA+MF+0 R pupuk anorganik. Penelitian diawali dengan pembuatan kompos KoheA+MF yang diinokulasi dengan bioaktivator MOL bonggol pisang selama 2 minggu. Kompos KoheA+MF 10 ton/ha diberikan 3 hari sebelum tanam, sedangkan pupuk anorganik Urea 300 kg/ha dan NPKS 300 kg diberikan setelah tanam. Pengamatan dilakukan terhadap kandungan hara tanah sebelum dan sesudah diberi KoheA+MF dan pupuk anorganik, pertumbuhan vegetatif tinggi tanaman, jumlah daun, panjang dan lebar daun, komponen hasil panjang tongkol, diameter tongkol, jumlah baris/tongkol, jumlah biji/baris, bobot 100 biji, hasil pipilan per tanaman, dan produksi pipilan per hektar. Pupuk organik yang dipadukan dengan pupuk anorganik berdampak signifikan terhadap seluruh variabel pengamatan. Perlakuan kombinasi terbaik untuk produksi jagung pipil adalah KoheA+MF+3/4 rekomendasi pupuk anorganik

    Produksi Benih Botani Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) di Kepulauan Bangka Belitung

    Full text link
    Benih botani bawang merah dikenal sebagai True Shallot Seed (TSS), merupakan pengembangan baru untuk menjamin ketersediaan benih bawang merah dalam jangka panjang di Kepulauan Bangka Belitung. Selain mengkaji pengaruh vernalisasi dan giberelin (GA3) terhadap produksi TSS, penelitian ini juga bertujuan untuk mengembangkan prosedur operasi standar dasar produksi TSS bawang merah di Bangka Belitung. Penelitian ini dilakukan di Perkebunan milik Kelompok Tani Timur Makmur, Bangka Tengah. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan dua faktor, konsentrasi giberelin yaitu 0, 50, 100, atau 200 ppm, merupakan faktor pertama, diikuti oleh waktu vernalisasi sebagai faktor kedua yaitu 0, 2, 4 minggu dengan ulangan sebanyak 4 kali. Data diolah dengan menggunakan uji F dan uji lanjut DMRT pada taraf α = 5%. Analisis terhadap berbagai penggunaan giberelin dan perlakuan vernalisasi menunjukkan bahwa baik bawang merah varietas Bima Brebes maupun Biru Lancor tidak berpengaruh terhadap tinggi, jumlah daun, atau jumlah anakan. Pada kedua varietas bawang merah, pengaruh perlakuan giberelin dan vernalisasi terhadap umur pembungaan, jumlah bunga per umbel, dan jumlah biji TSS per umbel tidak berpengaruh. Perlakuan vernalisasi pada bawang merah varietas Bima Brebes dapat memperlama umur berbunga pada varietas Bima Brebes. Giberelin dan vernalisasi tidak mampu menciptakan pembungaan pada varietas bawang merah Biru Lancor

    Pengaruh Pupuk Organik Cair (POC) Bekatul Terhadap Pertumbuhan Selada (Lactuca sativa L.) yang dibudidayakan Secara Hidroponik

    Full text link
    Budidaya hidroponik selada dengan menggunakan nutrisi AB-mix memiliki beberapa kelemahan, salah satunya harga nutrisinya relatif mahal dan sulit didapatkan dikota-kota kecil. Pupuk organik cair (POC) bekatul berpotensi menjadi nutrisi pengganti atau penambah dalam budidaya hidroponik dikarenakan memiliki kandungan nitrogen cukup tinggi (2,08%). Tujuan dari penelitian ini yaitu mengkaji pengaruh POC bekatul terhadap hasil tanaman selada yang dibudidayakan secara hidroponik. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) non faktorial, terdiri dari 3 perlakuan yaitu P1 (POC bekatul 15 ml/l), P2 (AB-mix 1500 ppm), dan P3 (AB-mix 1500 ppm + POC bekatul 15 ml/l) yang diulang sebanyak 10 kali sehingga didapatkan 30 unit percobaan. Variabel pengamatan pada penelitian ini yaitu tinggi tanaman, jumlah daun, berat basah dan berat kering panen selada. Analisis data dilakukan menggunakan analisis varian, apabila terdapat pengaruh nyata, dilakukan uji BNT 5%.  Hasil penelitian menunjukkan POC bekatul 15 ml/l belum mampu dijadikan sebagai nutrisi tunggal dalam budidaya selada secara hidroponik, perlakuan nutrisi AB-mix 1500 ppm + POC bekatul 15 ml/l memberikan hasil terbaik dan tertinggi pada tinggi tanaman, jumlah daun, berat basah dan berat kering selada

    Kesesuaian Lahan dan Kesuburan Tanah pada Lahan Budidaya Kacang Tanah (Arachis hypogaea) di Kampung Kofalit Distrik Salkma Kabupaten Sorong Selatan

    Full text link
    Tanaman kacang tanah yang dibudidayakan secara tradisional di Kampung Kofalit, Distrik Salkma, Kabupaten Sorong Selatan tidak menerapkan Good Agricultural Practice (GAP), sehingga terjadi penurunan produktivitas tanah dan tanaman setiap tahunnya. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kualitas lahan dengan evaluasi kelas kesesuaian lahan dan status hara tanah agar dapat memaksimalkan pengelolaan lahan dan meminimalisir kerusakan lahan. Metode penelitian ini mencakup pengumpulan data primer dan sekunder, pengolahan data curah hujan, analisis status hara tanah melalui pengambilan sampel dan analisis laboratorium, serta evaluasi kesesuaian lahan berdasarkan parameter karakteristik lahan dan syarat tumbuh tanaman kacang tanah. Hasil analisis digunakan untuk menentukan apakah lahan di Kampung Kofalit sesuai untuk budidaya kacang tanah dengan kemungkinan rekomendasi perbaikan atau pengelolaan yang tepat jika diperlukan. Lahan budidaya kacang tanah di Kampung Kofalit, Distrik Salkma, Kabupaten Sorong Selatan tergolong dalam kelas kesesuaian lahan S2, meskipun cukup cocok untuk budidaya, namun memiliki faktor pembatas dan status hara tanah yang rendah, sehingga perlu dilakukan perbaikan hara dan teknik olah tanah guna meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman

    Keragaan Nanas Badau Belitong Pada Lahan Suboptimal di Desa Badau Kabupaten Belitung

    Full text link
    Keragaan tanaman dapat dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan tumbuh yang berbeda. Lahan yang berbeda akan memberikan pengaruh pertumbuhan suatu jenis tanaman.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaan tanaman nanas Badau Belitong pada lahan suboptimal yang ada di Desa Badau, Kabupaten Belitung.  Penelitian ini dilaksanakan selama 12 bulan yaitu Desember 2022 sampai dengan Desember 2023 menggunakan metode survei dengan pengambilan contoh secara Purposive Random Sampling. Pengambilan contoh dilakukan pada populasi nanas Badau Belitong dengan tipe kebun untuk komersial dan siap panen pada beberapa lahan suboptimal yaitu Lahan Ultisol 1 (kontrol), pasca tambang timah, Ultisol 2 dan Ultisol 3 di Desa Badau, Kabupaten Belitung. Contoh yang diambil dari tiap kebun sebanyak 30 tanaman sehingga jumlah sampel yang digunakan sebanyak 120 tanaman. Analisa data menggunakan uji variabilitas. Hasil uji variabilitas menunjukkan nanas Badau Belitong memiliki nilai variabilitas fenotipe dengan kriteria sempit sebanyak 12 pada karakter tanaman dan kriteria luas pada 4 karakter. Variabilitas dengan kriteria sempit ditunjukkan oleh nilai ragam fenotipe suatu tanaman lebih kecil dari nilai dua kali standar deviasi ragam fenotipe. Keragaan nanas Badau Belitong yang dihasilkan di lahan suboptimal menunjukkan keragaan yang relatif seragam dengan nilai variabilitas fenotipe berkriteria sempit hampir pada semua karakter kecuali pada karakter tebal daun, tebal kulit, bobot buah dan bobot buah tanpa mahkota

    Hubungan Antara Karakteristik Stomata dan Kandungan Klorofil pada Morfologi Beberapa Varietas Sorgum di Dataran Rendah dan Dataran Tinggi, Sumatera Utara

    Full text link
    Sorgum belum banyak ditanam di daerah Sumatera Utara, sehingga perlu diteliti untuk mengetahui kemampuannya beradaptasi pada lingkungan yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk melihat kemampuan adaptasi enam varietas sorgum dengan menanam sorgum pada dua kondisi lingkungan dan ketinggian tempat yang berbeda, yaitu di dataran rendah dan dataran tinggi. Penelitian ini dilakukan di dataran rendah dan dataran tinggi, yaitu Lubuk Pakam (200 mdpl) dan Tongkoh Berastagi (1450 mdpl). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) non faktorial, yaitu varietas sorgum yaitu Numbu, Super 1, Super 2, Soper 7, Soper 9 dan Suri 4 dengan empat kali ulangan. Parameter yang diamati adalah karakter morfologi, karakteristik stomata dan kandungan klorofil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua tanaman di Lubuk Pakam lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman sorgum di Berastagi dimana tanaman tertinggi terdapat pada varietas V3, Super 2, diikuti oleh Super 1 dan Soper 9. Jumlah klorofil a, b dan total klorofil tidak dipengaruhi secara nyata oleh perbedaan varietas, baik di dataran tinggi maupun dataran rendah. Namun demikian, terdapat perbedaan pola respon tanaman dalam menghadapi lokasi lingkungan yang berbeda melalui jumlah klorofil a dan klorofil b

    Pertumbuhan dan Hasil Kedelai (Glycine max (L.) Merrill) terhadap Pemberian Pupuk NPK dan Pupuk Organik Cair Buah Maja (Aegle marmelos L.)

    Full text link
    Penggunaan lahan secara intensif dapat menurunkan kesuburan pada tanah sehingga produksi kedelai di Banten menurun. Pemberian pupuk NPK dan pupuk organik cair (POC) buah maja dapat meningkatkan produktivitas hasil tanaman kedelai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh respons pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai (Glycine max (L.) Merril) terhadap pemberian NPK dan pupuk cair organik buah maja. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) dua faktor. Terdiri atas pupuk NPK (0 g (kontrol), 0,9 g/polybag, 1,8 g/polybag, dan 2,7 g/polybag) dan POC buah maja (10 ml/l, 20 ml/l, 30 ml/l, dan 40 ml/l). Apabila hasil analisis menunjukkan pengaruh nyata atau sangat nyata dilakukan uji lanjut Duncan multiple range test (DMRT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pupuk NPK memiliki pengaruh nyata pada parameter tinggi tanaman dan umur berbunga. Hasil analisis sidik ragam POC buah maja menunjukkan pengaruh nyata dan sangat nyata pada diameter batang umur 4 dan 5 MST.  Terdapat interaksi beda nyata antar pupuk NPK dan POC pada parameter diameter batang hanya umur 2 MST. Aplikasi pupuk NPK dan POC buah maja memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai

    194

    full texts

    195

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Agroteknika (E-Journal)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇