Agroteknika (E-Journal)
Not a member yet
195 research outputs found
Sort by
Potensi Eco Enzyme Untuk Meningkatkan Pertumbuhan Tanaman Kangkung (Ipomoea reptans Poir)
Permintaan sayur-sayuran sangat tinggi karena pertumbuhan penduduk Indonesia yang relatif pesat dan meningkatnya pengetahuan masyarakat mengenai manfaat menerapkan kebiasaan makan yang baik untuk meningkatkan kandungan gizi makanan. Kangkung (Ipomoea reptans Poir.) merupakan salah satu jenis sayuran yang banyak diminati masyarakat Indonesia. Tumbuhan ini memerlukan makanan berupa air dan unsur hara untuk menunjang pertumbuhan dan produktivitasnya. Eco enzyme merupakan salah satu pupuk organik dengan kandungan nutrisi yang diperlukan oleh tanaman cukup banyak, sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman. Eco enzyme merupakan hasil fermentasi sampah dapur organik dari kulit buah, sayuran, gula pasir (gula merah, gula coklat, atau gula tebu), dan air. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui seberapa baik perkembangan tanaman kangkung dipengaruhi oleh pengolahan eco enzyme dari limbah rumah tangga. Rancangan acak lengkap (RAL) dengan satu faktor yaitu frekuensi pemberian eco enzyme pada benih tanaman kangkung menggunakan tiga ulangan pada masing-masing perlakuan digunakan untuk menyusun penelitian ini. Perlakuan yang digunakan berupa (E0): kontrol, (E1): aplikasi 1 minggu sekali dan (E2): aplikasi 2 minggu sekali. Untuk perlakuan (E0) tidak diberi eco enzyme namun disiram menggunakan air kran, sedangkan perlakuan (E1 dan E2) disiram menggunakan eco enzyme masing-masing sebanyak 50 mL/ pot. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi eco enzyme dari limbah rumah tangga dapat diterapkan sebagai penunjang pertumbuhan dan produktivitas pada tanaman kangkung pengganti pupuk kandang. Dari pengaplikasian pada tanaman kangkung, setiap perlakuan tidak menunjukkan perbedaan hasil yang nyata
Eksplorasi Potensi Daun Singkil (Premna corymbosa Rottl. et Willd) sebagai Teh Herbal: Studi Perbandingan Kandungan Bioaktif Ekstrak dan Rendaman Daun
Makanan maupun minuman alami yang mengandung zat antioksidan sampai saat ini tergolong cukup banyak termasuk dalam tanaman singkil. Spesies premna atau singkil diketahui memiliki kandungan antioksidan yang tinggi, di mana kandungan flavonoid dan fenolat memiliki peran pengkontribusi yang cukup penting dalam memberikan kadar antioksidan dalam tanaman singkil. Tujuan penelitian untuk mengetahui potensi aktivitas antioksidan pada ekstrak dan rendaman daun singkil guna melihat potensi daun singkil sebagai teh herbal. Penelitian dikaji menggunakan penelitian eksperimental laboratorium. Penelitian dilakukan di Laboratorium Farmakologi dan Laboratorium Pasca Panen dan Pengemasan Universitas Mulawarman Samarinda. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni-Juli 2024. Hasil menunjukkan bahwasanya ekstrak daun singkil mengandung flavonoid sebesar 248,46 mg Qe/g, dua kali lebih tinggi dibandingkan rendaman yang mengandung 156,48 mg Qe/g. Hasil uji aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH menunjukkan bahwasannya nilai IC50 pada sampel rendaman daun singkil sebesar 225,37 ppm memiliki intensitas sedang, sedangkan nilai IC50 pada sampel ekstrak daun singkil sebesar 43,37 ppm memiliki intensitas sangat aktif. Penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak pada daun singkil (Premna corymbosa Rottl. et Willd) memiliki kadar aktivitas antioksidan yang lebih kuat dibandingkan rendaman daun singkil, sehingga daun singkil berpotensi untuk dijadikan teh yang kaya akan antioksidan
Penerapan Sistem Fuzzy Pada Pengendalian Iklim-Mikro Untuk Perkecambahan Zoysia
Zoysia merupakan jenis rumput lanskap dengan nilai ekonomis tinggi sebagai rumput lapangan bola dan golf, serta media konservasi tanah. Namun, laju perkecambahan dan pertumbuhan bibit rumput ini sangat lambat karena dipengaruhi oleh kondisi lingkungan seperti cahaya, suhu dan kelembapan yang tidak menentu. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk merancang sebuah chamber perkecambahan untuk mengoptimalkan perkecambahan Zoysia dengan mengendalikan kestabilan iklim-mikro seperti suhu dan kelembapan media menggunakan logika fuzzy. Chamber perkecambahan menggunakan berbagai jenis lampu dengan karakteristik panas yang berbeda sebagai sumber cahaya dalam proses fotosintesis. Adapun jenis lampu yang digunakan dalam penelitian ini yaitu lampu bohlamp, lampu neon, lampu LED red blue, dan lampu LED full spectrum. Selain itu, chamber perkecambahan dirancang dengan menerapkan pemanas, kipas, dan mistmaker sebagai aktuator yang bekerja berdasarkan input dari sensor DHT11 dan sensor kelembapan media. Pada chamber perkecambahan Zoysia ini diatur pada suhu antara 27o - 30oC dan kelembapan media 50% - 55%. Berdasarkan hasil simulasi dan pengukuran diperoleh kondisi iklim-micro pada chamber perkecambahan yang optimal didapatkan parameter suhu dan kelembapan media dengan kesalahan masing-masing sebesar 0,15% dan 4,604%
Aktivitas Antioksidan dan Mutu Organoleptik Minuman Serbuk Instan Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia)
Citrus aurantifolia, yang juga dikenal sebagai jeruk nipis,adalah salah satu kategori tanaman yang diperdagangkan secara bebas yang dikembangkan di Indonesia. Pengolahannya menjadi serbuk minuman instan memudahkan konsumsi, meningkatkan nilai jual dan meningkatkan stabilitas fisik buah sehingga dapat dipasarkan lebih luas. Minuman fungsional, pada dasarnya, harus melampaui dua manfaat yaitu memberikan pengaruh fisiologis yang menguntungkan bagi tubuh dan karakteristik sensorik misalnya cita rasa yang lezat atau bertekstur baik.Tujuan studi untuk menentukan aktivitas antioksidan dan mutu organoleptik minuman instan bubuk jeruk nipis. Studi ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial, faktor pertama konsentrasi maltodekstrin (10%,15% dan 20%) dan faktor kedua suhu pengeringan (50℃, 60℃, dan 70℃), dilakukan 3 kali pengulangan. Data dianalisis dengan ANOVA dilanjut dengan uji BNJ taraf 5%. Berdasarkan hasil tersebut, nilai IC50 dari masing-masing perlakuan menunjukkan nilai yang berkisar antara 58,69 ppm-13,89 ppm, mutu organoleptik aroma sebesar 2,90-3,70, organoleptik warna sebesar 3,03-4,57, organoleptik tekstur sebesar 3,07-4,0, organoleptik rasa sebesar 2,87-3,37.Hasil perhitungan perlakuan terbaik adalah serbuk jeruk nipis dengan perlakuan konsentrasi maltodekstrin 20% dan suhu pengering 60°C yang menunjukan nilai aktivitas antioksidan (IC50) 105,16 ppm (sedang), organoleptik warna 3,90 (netral mendekati suka), organoleptik aroma 3,70 (netral mendekati suka), organoleptik rasa 3,31 (netral) dan organoleptik tekstur 4,03 (suka)
Pengaruh Substitusi Daging Ikan Lele Sangkuriang (Clarias gariepinus var. Sangkuriang) dengan Jamur “Jangkos” Kelapa Sawit Terhadap Mutu Abon Ikan Lele
Ikan lele sangkuriang dapat diolah menjadi abon, namun daging ikan lele yang lunak dapat menjadi masalah karena lebih lembut dibanding abon daging sapi. Substitusi daging ikan lele dengan jamur jangkos kelapa sawit dilakukan untuk memperbaiki tekstur abon yang dihasilkan dan juga meningkatkan kadar serat abon. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh substitusi daging ikan lele dengan jamur jangkos kelapa sawit terhadap mutu fisik, kimia, dan organoleptik abon ikan lele. Perlakuan disusun dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL) yaitu proporsi daging ikan lele dan jamur jangkos kelapa sawit dengan lima taraf perlakuan (100:0, 80:20, 70:30, 60:40, 50:50). Substitusi daging ikan lele dengan jamur jangkos kelapa sawit berpengaruh nyata terhadap kadar air, protein, serat, lemak, abu dan mutu organoleptik abon. Warna abon paling cerah diperoleh pada perlakuan 20% jamur jangkos. Abon yang dihasilkan memiliki kadar protein 33,83-46,96%, serat kasar 3,73-9,61%, lemak 20,18-26,81% dan abu 2,58-7,74%. Panelis lebih menyukai abon ikan lele dengan penambahan 50% jamur jangkos
Dampak Pencahayaan Sinar Lampu LED dan Bahan Organik pada Pertumbuhan dan Produktivitas Kedelai (Glycine Max (L.)
Kedelai adalah tumbuhan hari pendek yang butuh pencahayaan 14-16 jam padahal negara Indonesia hanya memiliki pencahayaan 12 jam setiap hari. Penambahan penyinaran lampu LED diduga akan meningkatkan produktivitas kedelai namun akan menunda pembungaan dan jika ditambah pupuk organik tidak akan terjadi penundaan berbunga. Tuuan penelitian ini adalah untuk mempelajari interaksi kombinasi perlakuan penyinaran lampu LED dan bahan organik pada pertumbuhan dan produktivitas kedelai. Penelitian dilakukan pada bulan Juni – Desember 2023, di wilayah kerja BP4-VIII Prambanan, pada kelompok tani Ngudi Mulyo, Desa Sumberharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, DIY. Metode penelitian menggunakan RKLT Faktorial. Faktor pertama terdiri dari 3 taraf penyinaran (Tanpa penyinaran, Penyinaran sampai fase berbunga, Penyinaran sampai fase pengisian polong penuh). Faktor kedua 3 jenis bahan organik (Vermikompos; Biosaka; Pupuk Kandang Domba) yang diulang tiga kali. Hasil percobaan menunjukkan bahwa tidak ada interaksi antara penyinaran lampu LED dan bahan organik pada seluruh parameter pengamatan. Penyinaran berbeda sangat nyata terhadap pertumbuhan tanaman kedelai (tinggi, berat basah, jumlah cabang, jumlah ruas, berat kering), dan peubah produksi kedelai (jumlah polong hampa, jumlah polong isi, bobot biji, bobot 100 butir, dan produktivitas). Produktivitas bjii terbaik terjadi pada tanaman yang tidak diberi penyinaran
Aplikasi Bakteri Endofit Asal Kelubut (Passiflora foetida L.) Penghasil Hormon IAA untuk Meningkatkan Perkecambahan Benih Padi
Padi merupakan tanaman pangan utama yang permintannya semakin meningkat setiap tahunnya. Guna mengoptimalkan produksi tanaman padi dapat dilakukan dengan penggunaan mikroba endofit yang berasal dari kelubut (Passiflora foetida L.) berpotensi dalam meningkatkan kesuburan tanah juga sebagai penghasil fitohormon yang dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman padi. Oleh karena itu, aplikasi bakteri endofit diharapkan dapat memacu perkembangan tanaman dan peningkatan produktivitas tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk menguji bakteri endofit asal kelubut dalam meningkatkan perkecambahan benih padi. Penelitian dilakukan di Laboratorium Agronomi Politeknik Pertanian Negeri Samarinda pada bulan Juni 2023. Isolat bakteri endofit yang digunakan adalah hasil isolasi sebelumnya dari tanaman kelubut. Penelitian diuji menggunakan rancangan acak lengkap, terdiri dari 22 perlakuan yaitu 21 isolat bakteri endofit dan 1 kontrol. Setiap perlakuan diulang sebanyak 2 kali sehingga diperoleh 44 unit percobaan. Variabel Pengamatan meliputi: daya berkecambah, potensi tumbuh maksimal, indeks vigor, keserampakan tumbuh, dan kecepatan tumbuh relatif. Hasil pengamatan dianalisis menggunakan analisis ragam dan dilanjutkan dengan uji DMRTα=0,05. Aplikasi bakteri endofit asal kelubut mampu meningkatkan perkecambahan benih. Bakteri endofit isolat SIA-01 memberikan hasil tertinggi terhadap daya berkecambah benih (81,67%) dibandingkan dengan kontrol (43,33%), indeks vigor tertinggi isolat SIA-04 (63,33%) dan kontrol (26,67%). Pada pengamatan potensi tumbuh maksimum dan kecepatan tumbuh relatif memberikan hasil yang tidak signifikan. Sementara aplikasi bakteri endofit terhadap keserampakkan tumbuh tertinggi diperoleh pada isolat SIA-04 dan KPA-02 sebesar 71,67% dibandingkan dengan kontrol hanya mencapai 36,67%
Induksi Kalus Tanaman Gambir (Uncaria gambir (Hunter) Roxb.) Pada Beberapa Konsentrasi 2,4-D Secara In Vitro
Tanaman Gambir (Uncaria gambir (Hunter) Robx.) mengandung senyawa metabolit sekunder seperti katekin, floursein, asam catechutannat dan quercetin yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pewarna alami, antioksidan, dan biopestisida. Tanaman gambir diperbanyak secara generatif melalui biji sehingga anakan yang dihasilkan memiliki tingkat variabilitas genetik yang tinggi. Teknologi kultur jaringan melalui kultur kalus mampu menyediakan kebutuhan bibit dalam jumlah yang banyak dengan sifat seragam dalam waktu singkat. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui konsentrasi 2,4-D terbaik serta pengaruhnya terhadap proses pembentukan dan pertumbuhan kalus eksplan gambir. Desain penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan pemberian 2,4-D yang terdiri dari 5 taraf perlakuan yaitu 0; 0,5; 1; 1,5; dan 2 mg/L. Hasil penelitian menunjukan bahwa eksplan daun gambir mampu membentuk kalus pada seluruh konsentrasi 2,4-D yang diberikan. Terbentuknya kalus tercepat didapatkan pada pemberian konsentrasi 2,4-D 0,5 mg/L pada 17,86 HST dengan warna kalus putih kekuningan sebesar 56,7% dan bertekstur remah sebesar 76,7%
Rancang Bangun Inkubator Tempe Untuk Mempercepat Waktu Fermentasi
Proses fermentasi tempe sangat dipengaruhi oleh faktor suhu dan kelembaban ruangan. Fermentasi secara tradisional sangat bergantung pada cuaca yang dapat memengaruhi lamanya waktu fermentasi. Tujuan penelitian ini adalah membuat rancang bangun inkubator tempe dengan suhu dan kelembaban terkendali untuk mempercepat proses fermentasi. Inkubator tempe yang dibuat menggunakan metode kendali histerisis untuk pengendalian suhu dan kelembaban. Kendali histerisis yang dilakukan mengatur pita atas dan pita bawah suhu antara 34 hingga 35°C dan kelembaban antara 69 hingga 70%RH. Suhu dan kelembaban dalam ruang inkubator dibaca melalui sensor DHT11 yang terhubung ke Arduino Mega 2560. Arduino Mega 2560 bertugas untuk mengatur penyalaan lampu pijar yang memberikan energi panas dan mist maker yang meningkatkan kelembaban ruang inkubator. Hasil pengujian menunjukkan bahwa inkubator tempe yang dibuat dapat menyesuaikan dengan kondisi yang diharapkan dengan selisih pita atas dan pita bawah pada suhu adalah sebesar 1,3 oC dan selisih pita atas dan pita bawah kelembaban sebesar 8,1%RH. Dengan menggunakan inkubator tempe ini, dapat menghasilkan tempe lebih cepat daripada fermentasi tradisional yaitu hanya dalam waktu 29 jam. Dibandingkan dengan fermentasi tradisional yang membutuhkan waktu 48 jam, maka dengan inkubator tempe ini dapat mempercepat proses fermentasi sebesar 39,5%
Peningkatan Kualitas Pupuk Hayati Diperkaya dengan Bakteri Pelarut Kalium, Fosfor dan Penambat Nitrogen Indigenous dari Berbagai Rizosfer Tanaman Padi Terhadap Kandungan Hara dan Jumlah Populasi Mikroba
Pupuk hayati merupakan pupuk organik mengandung sekelompok mikroorganisme yang beragam, berperan mendorong pertumbuhan tanaman dan menjaga kesehatan tanah. Penelitian sebelumnya pupuk hayati dengan penambahan bakteri Azotobacter sp, Pseudomonas fluorescens, Bacillus thuringiensis. Kebaharuan penelitian ini adalah pupuk hayati diperkaya dengan bakteri pelarut kalium berasal dari berbagai rizosfer tanaman padi. Tujuan penelitian memperoleh jenis bakteri pelarut kalium efektif meningkatkan kandungan hara pupuk hayati. Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan rancangan acak lengkap dengan 8 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan BK0 (pupuk hayati pengayaan bakteri Azotobacter sp, Pseudomonas fluorescens, Bacillus thuringiensis), BKBM (pupuk hayati pengayaan bakteri Azotobacter sp, Pseudomonas fluorescens, Bacillus thuringiensis , bakteri pelarut K varietas Bujang Marantau), BKMM (pupuk hayati pengayaan bakteri Azotobacter sp, Pseudomonas fluorescens, Bacillus thuringiensis , bakteri pelarut K varietas Mundam). BKCK (pupuk hayati pengayaan bakteri Azotobacter sp, Pseudomonas fluorescens, Bacillus thuringiensis , bakteri pelarut K varietas Cilalek), BKRK (pupuk hayati pengayaan bakteri Azotobacter sp, Pseudomonas fluorescens, Bacillus thuringiensis, bakteri pelarut K varietas Rendah Kuning), BKSP (pupuk hayati pengayaan bakteri Azotobacter sp, Pseudomonas fluorescens, Bacillus thuringiensis ,varietas Saganggam Panuah), BKKP (pupuk hayati pengayaan bakteri Azotobacter sp Pseudomonas fluorescens, Bacillus thuringiensis,, bakteri pelarut K varietas Keriting Putih), BKJG (pupuk hayati pengayaan bakteri Azotobacter sp, Pseudomonas fluorescens, Bacillus thuringiensis , bakteri pelarut K dari varietas Junjuang). Parameter pengamatan suhu, pH, kadar air, C-organik, hara N total, P2O5 total, K2O dan pertumbuhan koloni bakteri pupuk hayati. Hasil pengamatan suhu tumpukan pupuk hayati mencapai puncak pada hari ke 18, kecuali pada BKJG hari ke 27. Nilai pH, kadar air dan C-organik biofertilizer paling tinggi pada BKJG. Kandungan hara N paling tinggi pada BKSP sedangkan kandungan hara P2O5 dan K2O pada perlakuan BKJG. Pengayaan bakteri pada pupuk hayati diamati jumlah koloni bakteri pada biakan murni diperoleh pada hari ke 7 jumlah koloni bakteri paling tinggi pada BKJG. Kesimpulan isolat bakteri pelarut K asal rizosfer varietas Junjuang dan Saganggam Panuah lebih efektif untuk diaplikasikan pada pupuk hayati