Agroteknika (E-Journal)
Not a member yet
195 research outputs found
Sort by
Analisis Keberlanjutan Rencana Pengembangan Lahan Sawah Baru: Strategi Peningkatan Produksi Pangan di Kabupaten Lampung Tengah
Penduduk Indonesia diproyeksikan akan mencapai 328 juta jiwa pada tahun 2045, peningkatan jumlah penduduk ini akan menyebabkan kebutuhan pangan beras terus meningkat. Salah satu upaya pemerintah Indonesia untuk meningkatkan jumlah produksi beras dengan cara pengembangan lahan sawah baru / ekstensifikasi. Salah satu rencana proyek ekstensifikasi adalah Rumbia Extension Project di Kabupaten Lampung Tengah. Namun, proyek ekstensifikasi lahan pertanian oleh pemerintah telah mendapatkan banyak hambatan mulai dari ketersediaan air, konflik lahan, produktivitas hasil pertanian hingga pemasaran. Tujuan penelitian ini untuk menilai indeks dan status keberlanjutan dari delapan aspek keberlanjutan pada rencana pengembangan sawah baru di Kabupaten Lampung Tengah. Analisis yang telah digunakan adalah metode Multiaspect Sustainability Analysis (MSA). Hasil dari penelitian ini adalah status keberlanjutan rencana pengembangan sawah baru masuk dalam kategori cukup berkelanjutan dengan nilai indeks 52,05. Nilai indeks keberlanjutan masing – masing aspek yaitu: aspek budaya (27,14), aspek kelembagaan (39,43), aspek pemasaran (42,50), aspek infrastruktur & teknologi (46,62), aspek sosial (52,88), aspek hukum & kebijakan pemerintah (65,28), aspek ekologi (69,70) dan aspek ekonomi (72,86)
Efisiensi Beberapa Jenis Warna Lampu terhadap Keanekaragaman Serangga Nokturnal pada Pertanaman Jagung (Zea mays L.)
Keberadaan serangga khususnya serangga hama nokturnal pada tanaman jagung menjadi salah satu faktor penyebab penurunan hasil produksi jagung. Penggunaan light trap menjadi alternatif alat monitoring populasi hama pada tingkatan rendah. Warna cahaya lampu mampu menghasilkan panjang gelombang yang berbeda, yang mana berpengaruh terhadap daya tarik serangga. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui efisiensi warna lampu terhadap keanekaragaman serangga nokturnal pada pertanaman jagung. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli hingga Agustus 2023 di Desa Bendo, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat plot berukuran 10 m x 10 m dan jarak antar plot 10 m. Setiap plot diberi perlakuan satu jenis warna lampu, yaitu merah, kuning, biru, dan putih. Parameter yang diamati mencakup jenis, peran, dan populasi serangga nokturnal pada pertanaman jagung. Analisis data dilakukan menggunakan one-way ANOVA dan uji lanjut Tukey dengan taraf signifikansi 5%, disertai dengan perhitungan efisiensi warna lampu terhadap jumlah tangkapan serangga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa serangga nokturnal yang tertangkap oleh light trap terdiri dari 6 ordo; 13 famili; dan 18 genus. Total individu terbanyak ditemukan pada lampu biru (531 indvidu) dan terendah pada lampu merah (296 individu). Warna lampu berpengaruh secara signifikan terhadap rata-rata jumlah tangkapan serangga nokturnal, dengan lampu biru menunjukkan rata-rata jumlah tangkapan tertinggi (88,50) yang mana memiliki hasil yang berbeda nyata dengan lampu kuning (74,33) dan merah (49,33). Efisiensi tertinggi terdapat pada lampu biru dengan nilai mencapai 100% pada jumlah tangkapan jenis serangga dan total individu
Karakteristik Sediaan Teh Rumput Laut Ulva lactuca dengan Konsentrasi Arang Aktif Sebagai Absorben
Teh merupakan minuman yang cukup populer dikalangan masyarakat, rumput laut Ulva lactuca berpotensi untuk dijadikan bahan baku pembuatan teh, karena senyawa aktifnya. Teh dari rumput laut memiliki kekurangan pada aroma dan rasa yang amis, untuk mengurangi bau amisnya dilakukan perendaman menggunakan arang aktif. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan konsentrasi arang aktif terbaik yang dapat mengabsorben aroma amis pada teh U. lactuca, serta mengatahui karakteristik (kadar air, kadar abu, ekstrak dalam air, pH, total fenol dan hedonik). Rancangan percobaan penelitian ini menggunakan RAL dengan 4 taraf perlakuan 2 kali ulangan. Taraf perlakuan teh U. lactuca tersebut meliputi AA1:0% (kontrol), AA2 : 10 % arang aktif, AA3 : 20 % arang aktif dan AA4: 30 % arang aktif. Metode analisis data menggunakan analisis deskriptif pada uji kadar air, kadar abu, kadar ekstrak dalam air, pH, total fenol, dan analisis Kruskal Wallis pada uji hedonik. Hasil penelitian ini menunjukan konsentrasi arang aktif pada proses perendaman teh U. lactuca yang terbaik yaitu dengan perendaman 30 % arang aktif, hasil uji hedonik pada parameter warna : 4,20 aroma : 3,83 rasa : 3,43, nilai kadar air : 13,50 %, nilai kadar abu : 15,49%, nilai ekstrak dalam air : 24,8%, nilai pH 6,48 dan nilai total fenol: 687,30 mg/g
Analisis Kelayakan Finansial Industri Yogurt Skala UMKM
Pengembangan industri yogurt mempunyai keterkaitan kuat antara beberapa aspek diantaranya adalah aspek kelayakan finansial. Berdasarkan hal tersebut, maka pengembangan industri yogurt perlu kajian struktur biaya dan kelayakan secara finansial. Tujuan penelitian adalah menentukan struktur biaya dan analisis kelayakan finansial industri yogurt dengan kriteria Net-Benefit Cost Ratio (Net-B/C-ratio), Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), dan Payback Periods (PBP). Metode penelitian menggunakan pendekatan survey, data yang dikumpulkan adalah data primeradan data sekunder. Hasil kajian struktur biaya untuk pengembangan industri yogurt skala UMKM membutuhkan biaya investasi seluruhnya sebesar Rp. 1.634.270.000,-, biaya investasi tetap adalah Rp. 1.485.700.000,-,. Biaya produksi (total biaya tetap dan biaya variabel) yang dibutuhkan untuk 36.000 liter/tahun yogurt adalah sebesar Rp. 1.134.867.000,-/tahun, dengan penerimaan sebesar Rp.1.440.000.000,-/tahun, sedangkan pendapatan bersih setelah dikurangi pajak pendapatan adalah sebesar Rp. 238.003.740,-/tahun. Hasil analisa kriteria kelayakan investasi Net-B/C-ratio adalah sebesar 2,007, NPV sebesar Rp. 1.790.640.881 , IRR sebesar 19,8% , dan PBP selama 6 tahun 3 bulan
Pengaruh Konsentrasi ZPT Alami Air Kelapa Muda Terhadap Pertumbuhan Vegetatif Stek Batang Buah Naga Merah (Hylocereus polyrhizus)
Tanaman buah naga adalah tanaman beriklim tropis yang dapat diperbanyak secara vegetatif menggunakan stek batang, untuk mempercepat pertumbuhannya bisa dilakukan dengan menggunakan zat pengatur tumbuh (ZPT) yang diperoleh dari air kelapa muda. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi ZPT air kelapa muda terhadap parameter persentase pertumbuhan stek, waktu muncul tunas, jumlah tunas, panjang tunas dan panjang akar primer. Metode penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) 4 perlakuan dengan 3 ulangan. Konsentrasi yang digunakan yaitu K1 (0%); K2 (30%); K3 (60%); dan K4 (90%). Penelitian ini menunjukkan bahwa pertumbuhan vegetatif stek batang buah naga merah dipengaruhi oleh konsentrasi air kelapa. Konsentrasi 30% berpengaruh pada jumlah tunas 90 HST yaitu 3,33 helai dan panjang tunas 30 HST 31,20 cm. Konsentrasi 60% berpengaruh pada waktu muncul tunas yaitu 21,00 hari, panjang tunas 60 HST yaitu 77,33 cm, dan panjang tunas 90 HST yaitu 116,66 cm. konsentrasi 90% menghambat pertumbuhan vegetatif karena kandungan sitokininnya. Konsentrasi terbaik ditunjukkan oleh konsentrasi 60%
Karakteristik Mi Kering Glukomanan dengan Variasi Konsentrasi Glukomanan dan Jumlah Penambahan Air Kapur Sirih
Glukomanan adalah salah satu senyawa utama umbi porang yang bersifat hidrokoloid kuat, rendah kalori dan merupakan serat pangan larut air. Salah satu pemanfaatan glukomanan adalah diolah menjadi mi kering. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh konsentrasi glukomanan dan jumlah air kapur sirih terhadap sifat-sifat mi glukomanan kering dan menentukan mi kering glukomanan yang disukai panelis. Penelitian ini menggunakan Rancangan Blok Lengkap (RBL) faktorial yaitu konsentrasi glukomanan (6%, 9%, 12% b/v) dan jumlah air kapur sirih (5%, 10%, 15% v/v). Analisis hasil penelitian meliputi pengujian sifat fisik (warna dengan chromameter, elastisitas, daya rehidrasi, tekstur), pengujian sifat kimia (kadar air, abu, protein), dan kesukaan organoleptik (rasa, tekstur, aroma dan warna). Dari hasil penelitian didapatkan bahwa konsentasi glukomanan makin tinggi berpengaruh terhadap peningkatan total perbedaan warna, meningkatkan kekompokan (cohesiveness) mi, serta meningkatkan skor kesukaan warna dan rasa, namun tidak berpengaruh terhadap tingkat kecerahan, elastisitas, daya rehidrasi, tekstur (hardness, fracture, dan chewiness), kadar air, kadar abu, kadar protein, aroma, dan tekstur. Makin tinggi jumlah air kapur cenderung meningkatkan daya rehidrasi mi serta meningkatkan skor kesukaan organoleptik (warna, rasa, dan aroma), namun tidak berpengaruh terhadap kecerahan, total perbedaan warna, elastisitas, tekstur (hardness, fracture, chewiness, dan cohesiveness), kadar air, abu, protein, dan kesukaan tekstur. Produk mi kering glukomanan terbaik diperoleh dengan penggunaan glukomanan 12% dan jumlah penambahan air kapur 15 mL
Pengaruh Penambahan Kultur Lactobacillus plantarum dan Saccharomyces cerevisiae terhadap Kualitas Biji Kopi Arabika (Coffea arabica L.)
Produksi kopi arabika (Coffea arabica L.) di Indonesia mengalami peningkatan dalam kurun waktu 10 tahun terkahir akibat melonjaknya permintaan yang berimbas pada peningkatan ekonomis kopi arabika. Ironisnya kualitas kopi arabika di Indonesia masih terbilang rendah akibat sebagian besar proses penanganan pascapanen dilakukan secara sederhana tanpa melewati proses fermentasi yang optimal. Biji kopi arabika yang berkualitas harus memenuhi standar SNI 01-02907-2008. Tujuan penelitian ini untuk memperoleh metode fermentasi terbaik dalam menghasilkan biji kopi arabika berkualitas dengan membandingkan hasil fermentasi secara alami dan fermentasi dengan penambahan inokulan Lactobacillus plantarum dan Saccharomyces cerevisiae. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 4 perlakuan dan 7 kali ulangan. Perlakuan yang diberikan meliputi perlakuan tanpa penambahan kultur sebagai kontrol, perlakuan penambahan kultur tunggal Saccharomyces cerevisiae, perlakuan penambahan kultur tunggal Lactobacillus plantarum, serta perlakuan penambahan kultur campur Saccharomyces cerevisiae dan Lactobacillus plantarum. Parameter yang diuji diantaranya rendemen, kadar air, gula reduksi, total asam, kadar kafein, dan kadar abu. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan terbaik adalah perlakuan dengan penambahan inokulan Saccharomyces cerevisiae dengan nilai rendemen 39,71%, kadar air 7,34%, gula reduksi 0,98%, total asam 0,13%, kadar kafein 0,13%, serta kadar abu 4,59%
Enhancement of Germination and Early Development of Sweet Corn Seeds Using Aerated Priming with KNO3 and Reverse Osmosis Water
The -sh2, bt2, su1, and se- genes in sweet corn cause faster seed deterioration and a lower germination rate. A potential solution to this issue is seed priming. Priming agents and the solution uptake method are key factors that affect the achievement of seed priming. This study aims to compare the influence of solution uptake methods in sweet corn seed priming as well as investigate the effect of KNO3 on the germination and early development of sweet corn plants. The research was conducted in the Seed processing lab of the Department of Agricultural Production, Politeknik Negeri Jember. The seeds used in this study were sweet corn seeds var. Enno 1401. The study was designed with a completely randomized design (CRD). Seven treatments, namely non-primed, KNO3 spraying, KNO3 soaking, KNO3 aeration, RO water spraying, RO water soaking, and RO water aeration, were observed. Data were analyzed using one-way ANOVA, followed by means analysis using Fisher’s LSD (least significant difference) test at P<0.05. The result showed that aeration priming performed better than spraying and soaking in terms of germination percentage, MGT, and GRI of sweet corn seeds. However, aeration priming with KNO3 gave lower results than RO water in terms of MGT and GRI. On the other hand, aeration priming with KNO3 aeration gave the highest result in dry weight
The Effect of the Ratio of Mocaf and Soybean Flour with Addition of Glucomannan on Physical, Chemical and Sensory Properties of Gluten-Free Wet Noodles
The primary ingredient used to make noodles is typically wheat flour. However, not everyone can consume wheat flour. Gluten-free noodles are suitable for individuals who avoid gluten, particularly those with celiac disease and autism. Some ingredients used to make gluten-free noodles include mocaf, soybeans, and glucomannan. This study aims to determine the characteristics and optimal formulation of gluten-free wet noodles made from mocaf, soybean, and glucomannan flour. This research method uses a Completely Randomized Design (CRD) factorial with two factors and three replications. The first factor is the ratio of mocaf flour to soybean flour, consisting of 3 levels: 80:20 (A1), 75:25 (A2), and 70:30 (A3). Another factor is the addition of glucomannan flour, consisting of 3 levels: 2% (B1), 5% (B2), and 8% (B3). The analysis performed on these wet noodles includes physical, chemical, and sensory evaluations. The comes about of the study appeared that noodles with the ratio of mocaf flour to soybean flour 75:25 and the addition of 2% glucomannan flour (A2B1) is the best treatment based on the highest elasticity with elasticity 73.3%, water absorption, 89.3%, swelling index 271%, cooking loss 8.78%, water content 36.8%, protein 6.44%, ash 1.89%, fat 0.74%, carbohydrate 50.4%, sensory test results appearance 3.76 (somewhat like), color 3.72 (somewhat like), aroma 3.2 (neutral), texture 3.36 (neutral), and taste 3.36
Artikel Review : Pengaruh Proses Pengolahan terhadap Sifat Fungsional Pati
Umbi-umbian merupakan komoditi dalam negeri yang mengandung karbohidrat. Komoditi ini ternyata dapat digunakan sebagai bahan pangan fungsional yang sebelumnya hanya digunakan sebagai sumber energi saja. Hal ini terjadi karena kurangnya informasi mengenai sifat fungsional yang dapat dimanfaatkan dari umbi ini. Artikel ini dibuat dengan tujuan sebagai informasi bahwa umbi ini selain sebagai sumber energi juga dapat memberi manfaat bagi kesehatan. Metode dari penelitian ini berdasarkan studi literatur dari jurnal maupun literatur ilmiah lainnya. Dari penelusuran literatur ternyata sifat fungsional tidak hanya berasal dari umbi saja namun dengan pengolahan juga dapat mempertahankan bahkan meningkatkan nilai fungsional ini. Senyawa fungsional yang terdapat dalam umbi-umbian berupa senyawa bioaktif. Beberapa senyawa bioaktif yang terdapat dalam umbi-umbian diantaranya saponin, protein bioaktif, senyawa fenolik, glikoalkaloid, asam fitat, karotenoid, dan asam askorbat. Kandungan ini umumnya banyak terdapat pada umbi-umbian yeng belum dibudidayakan secara khusus oleh masyarakat diantaranya discorea, colocasia ataupun maranta. Beberapa proses pengolahan yang dapat dilakukan untuk meningkatkan sifat fungsional pada umbi-umbian khususnya pati adalah pati resisten, modifikasi dan Microwave Assisted Extract (MAE). Sifat fungsional yang terdapat dalam umbi selain terkandung dalam umbi juga dapat berasal dari proses pengolahan yang dilakukan dalam umbi-umbian ini