Agroteknika (E-Journal)
Not a member yet
195 research outputs found
Sort by
Optimasi Proses Pembuatan Kombucha Daun kelor (Moringa oleifera L.) Kajian Konsentrasi Sukrosa dan Lama Fermentasi Sebagai Minuman Probiotik menggunakan Response Surface Methodology
Kombucha umumnya berbahan dasar teh hitam atau teh hijau, untuk meningkatkan nilai gizi dan bioaktivitas, penelitian modern telah mengalihkan fokus ke diversifikasi substrat, salah satunya adalah daun kelor (Moringa oleifera). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi optimum kombucha daun kelor terhadap karakteristik dari metode respons permukaan RSM variabel lama fermentasi dan konsentrasi sukrosa. Optimasi kombucha dilakukan dengan metode Response Surface Methodology (RSM) dua variabel bebas yakni konsentrasi sukrosa (X1) (10, 20, 30%) dan lama fermentasi (X2) (96, 144, 192 jam), terhadap respons total flavonoid. Hasil kombucha optimal pada perlakuan 20% sukrosa dan lama fermentasi selama 144 jam, dengan respons total flavonoid sebesar 0,182 mgQE/g. Karakterisik kombucha optimal meliputi nilai Total Padatan Terlarut (TPT) 15,4°Brix, pH 4,6, Vitamin C 0,12% dan total gula 0,62% yang dapat digunakan sebagai minuman probiotik fungsional bernilai ekonomi tinggi
Studi Komparatif Komposisi Media Tanam Terhadap Pertumbuhan Tanaman Aglaonema (Aglaonema commutatum) Varietas Lady Gaga
Aglaonema commutatum or aglaonema is an ornamental leaf plant. In Indonesia, it is populary referred to as Sri Rejeki. Aglaonema variety Lady Gaga has high aesthetic value and demand by many people because its distinctive patterns and colors. The success of aglaonema cultivation is influenced by the composition of growing medium used. This study aims to determine the best planting medium composition through a comparative study. The research was conducted from July to September 2023 in Palembang City. Was arranged based on Randomized Block Design, consisting of three treatments: volcanic sand (M0), volcanic and rice husk 1:1 v/v (M1), and volcanic sand and risk husk 1:2 v/v (M2). The research data were analyzed using Analysis of Variance (ANOVA). The result of this study showed that the use volcanic and rice husk 1:1 v/v (M1) significantly enhanced all growth parameters, including the number of leaves, leaf length, leaf width, and new leaf growth; and parameters related to visual color and quality grade, namely parameters color, brightness, shape and size, also aglaonema leaf motif. In addition, direct sunlight also effect the color, brightness, and leaf motif of aglaonema var. Lady Gaga which is increasingly fading. Therefore, it is recommended that aglaonema cultivation be carried out in shaded areas that not exposed to direct sunlight
Rancang Bangun Mesin Penyebar Fruit Leather Aplikatif sebagai Dukungan Teknis Hilirisasi Pisang di Lampung
Pisang merupakan komoditas hortikultura unggulan di Lampung dengan produksi tinggi. Penanganan pascapanen masih terbatas, menyebabkan kehilangan hasil 20-30%. Diversifikasi menjadi fruit leather dapat meningkatkan nilai tambah. Produk ini belum diproduksi secara lokal, meskipun permintaan pasar global terus meningkat. Tujuan penelitian ini adalah merancang dan menguji kinerja mesin penyebar fruit leather yang aplikatif untuk mendukung hilirisasi pisang secara berkelanjutan. Metode menggunakan pendekatan rekayasa. Tahapan meliputi perancangan CAD, pembuatan purwarupa, dan pengujian kinerja. Mesin terdiri dari rangka, sistem transmisi, dan mekanisme penyebar puree buah. Parameter uji mencakup kapasitas produksi, keseragaman ketebalan, dan laju penyebaran puree buah. Hasil menunjukkan kapasitas produksi 41 lembar/jam, hampir dua kali lipat dibanding dengan manual (21 lembar/jam). Keseragaman ketebalan meningkat (koefisien variasi 5.5% vs 17.1%) dan laju penyebaran puree buah rata-rata 258 cm2/menit. Mesin ini berpotensi meningkatkan efisiensi proses produksi fruit leather dan memberikan dukungan teknis awal bagi pengembangan produk olahan pisang pada skala UMKM sebagai bagian dari upaya hilirisasi pisang
Pengaruh Substitusi Tepung Tempe Edamame (Glycine max (L.) Merrill) terhadap Kadar Air dan Aktivitas Air Crackers
Tempe edamame hasil dari fermentasi menggunakan kapang Rhizopus sp. mengandung protein tinggi dan gugus hidrofilik yang memengaruhi interaksi bahan dengan air. Sifat ini berpotensi memengaruhi sifat fungsional crackers melalui perubahan kadar air dan aktivitas air. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh substitusi tepung tempe edamame terhadap kadar air dan aktivitas air crackers sebagai indikator sifat fungsional. Penelitian menggunakan metode eksperimental dengan desain Rancangan Acak Lengkap, dengan tiga taraf substitusi tepung terigu dengan tepung tempe edamame (0%, 5%, 15%). Tahapan penelitian meliputi pembuatan tempe edamame, pengolahan menjadi tepung, produksi crackers, serta pengujian kadar air dan aktivitas air. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Ilmu Pangan Universitas Muhammadiyah Surakarta dan Laboratorium SIG, Semarang. Hasil penelitian menunjukkan kadar air crackers berkisar 6,36–6,80% melebihi batas maksimum SNI 2973-2011 (≤ 5%) dan tidak berbeda signifikan antarperlakuan, sedangkan aktivitas air berbeda nyata (p < 0,05), dengan nilai tertinggi 0,40 pada substitusi 15%. Kesimpulannya, substitusi tepung tempe edamame hingga 15% meningkatkan aktivitas air crackers, sementara kadar air tidak berbeda signifikan, menunjukkan adanya peningkatan ketersediaan air bebas tanpa mengubah total kandungan air. Penelitian ini menunjukkan tempe edamame berpotensi sebagai bahan fungsional baru dalam pembuatan crackers melalui pengaruhnya terhadap aktivitas air sebagai indikator sifat fungsional pangan kering
Kesesuaian lahan untuk Komoditas Tebu, Matoa, Vanili dan Jagung di wilayah Wonosalam, Jombang, Jawa Timur
Wonosalam, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, memiliki potensi agrikultur tinggi berkat ekosistem yang beragam, topografi variatif, iklim sejuk, dan jenis tanah yang mendukung. Namun, potensi ini belum dimanfaatkan secara optimal. Evaluasi kesesuaian lahan diperlukan untuk mengembangkan komoditas strategis seperti tebu, matoa, vanili, dan jagung, yang memiliki prospek pasar menjanjikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat kesesuaian lahan di Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang, untuk empat komoditas utama, yaitu tebu, matoa, vanili, dan jagung. Metode penelitian mencakup survei lapangan, pengambilan sampel tanah, analisis laboratorium, dan evaluasi menggunakan pendekatan sistem informasi geografis (SIG). Hasil penelitian menunjukkan bahwa lahan di wilayah ini diklasifikasikan ke dalam kategori cukup sesuai (S2) dan sesuai marginal (S3), tergantung pada komoditas dan parameter lahan yang dianalisis. Faktor pembatas utama meliputi curah hujan, kandungan K2O yang rendah, pH tanah, N-total, drainase, dan kemiringan lereng. Beberapa kendala tersebut dapat diatasi melalui pemberian pupuk yang tepat dan penerapan teknik konservasi tanah seperti terasering atau agroforestri. Penelitian ini memberikan rekomendasi ilmiah untuk pengelolaan lahan secara optimal, dengan memperhatikan efisiensi sumber daya dan keberlanjutan lingkungan. Hasil evaluasi diharapkan menjadi acuan bagi pengambil kebijakan, petani, dan pihak terkait dalam mengembangkan sektor agrikultur berbasis potensi lokal di Wonosalam. Pendekatan ini juga dapat diterapkan di wilayah lain dengan karakteristik lahan serupa untuk mendukung pertanian yang produktif
Respon Pertumbuhan Anggrek Dendrobium sp. terhadap Beberapa Konsentrasi Air Tebu
Dendrobium sp. merupakan salah satu jenis anggrek yang populer di kalangan masyarakat, tetapi laju pertumbuhan anggrek tersebut relatif lambat. Sehingga perlu ada solusi untuk mempercepat laju pertumbuhan anggrek Dendrobium sp. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh konsentrasi air tebu terhadap pertumbuhan anggrek Dendrobium sp. Penelitian ini dilaksanakan di greenhouse CV. Candi Orchid Semarang, dengan lama penelitian empat bulan. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga taraf perlakuan yaitu P1 (100 mL/L), P2 (150 mL/L), dan P3 (200 mL/L) dengan lima kali ulangan. Variabel yang diamati yaitu tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah akar, dan panjang akar. Data dianalisis menggunakan uji ANOVA one way taraf 5% apabila terdapat perbedaan nyata maka akan dilanjutkan dengan uji Duncan taraf 5%. Hasil analisis menunjukkan air tebu dengan konsentrasi berbeda memengaruhi parameter yang diamati seperti tinggi tanaman, jumlah akar, dan panjang akar memberikan respon berbeda nyata. Tetapi, untuk parameter jumlah daun tidak ada respon berbeda nyata. Konsentrasi air tebu 150 mL/L merupakan konsentrasi yang optimal untuk pertumbuhan tanaman anggrek Dendrobium sp
Pengaruh Fermentasi SCOBY (Symbiotic Culture of Bacteria and Yeast) terhadap Kandungan Fenolik dan Aktivitas Antioksidan dalam Teh
Kombucha adalah minuman fermentasi teh yang kaya senyawa bioaktif dan berdampak positif pada kesehatan. Teh hijau (Camellia sinensis) digunakan sebagai substrat karena mengandung fenolik dan antioksidan tinggi. Penelitian ini mengevaluasi perubahan sifat fisikokimia, kandungan fenolik, aktivitas antioksidan, dan asam organik selama fermentasi 18 hari dengan SCOBY pada 37°C. Analisis dilakukan terhadap pH, keasaman, Brix, warna, serta kandungan fenolik total dan spesifik (Folin–Ciocalteu dan HPLC), dan aktivitas antioksidan (FRAP & DPPH). Hasil menunjukkan kandungan fenolik total menurun dari 0,41 mg/mL menjadi 0,25 mg/mL, sedangkan aktivitas FRAP meningkat dari 3,79 mg/mL menjadi 4,02 mg/mL, dan DPPH sedikit menurun dari 85,90% menjadi 81,39%. Fermentasi menurunkan sebagian besar senyawa fenolik spesifik, termasuk asam kafeat (0,95 → 0,55 µg/mL), katekin, dan (-)-epicatechin gallate, sedangkan asam p-kumarat stabil (≈0,06 µg/mL) dan kafein menurun (78 → 46 µg/mL). Asam asetat dan tartarat meningkat. Secara keseluruhan, fermentasi mengubah senyawa bioaktif, meningkatkan aktivitas reduktif (FRAP), dan menghasilkan asam organik berperan dalam rasa
Evaluasi Aktivitas Antioksidan dan Karakteristik Sensori Tea Infusion Berbasis Cascara dengan Penambahan Jahe, Lemon, dan Daun Mint
Cascara merupakan kulit buah kopi kering yang terdiri atas lapisan pulp dan mucilage yang terpisah selama proses pulping. Meskipun mengandung senyawa bioaktif, seperti polifenol, pemanfaatan cascara dalam produk minuman masih terbatas karena karakteristik sensori yang belum sepenuhnya memenuhi preferensi konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi aktivitas antioksidan, kadar total polifenol, dan karakteristik sensori hedonik dari formulasi tea infusion berbahan cascara, yang dipadukan dengan jahe, lemon, dan daun mint. Penelitian dilakukan menggunakan rancangan acak lengkap satu faktor dengan enam tingkat konsentrasi cascara (% b/v), yaitu A0 (0%), A1 (1%), A2 (2%), A3 (3%), A4 (4%), dan A5(5%), masing-masing dengan tiga kali ulangan. Parameter yang diamati meliputi aktivitas antioksidan, total polifenol, serta atribut sensori hedonik (warna, aroma, rasa, dan penerimaan keseluruhan). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variasi penambahan cascara pada konsentrasi 1-5% (b/v) tidak berpengaruh nyata terhadap aktivitas antioksidan, dan total polifenol (p>0,05), namun menunjukkan kecenderungan peningkatan nilai secara deskriptif dibandingkan kontrol, dengan aktivitas antioksidan sebesar 32,80-36,02% dan total polifenol pada 40,94-46,51mg GAE/g. Hasil uji sensori hedonik menunjukkan bahwa penambahan cascara berpengaruh nyata terhadap atribut rasa, dan penerimaan keseluruhan. Penentuan perlakuan terbaik dilakukan menggunakan metode De Garmo dengan pembobotan pada parameter atribut sensoris. Hasilnya menunjukkan bahwa A5 (5% b//v) merupakan perlakuan terbaik dengan nilai bobot tertinggi (0,78) yang mencerminkan keseimbangan terbaik antara atribut fungsional dan sensori. Hasil ini menunjukkan bahwa cascara berpotensi dimanfaatkan sebagai minuman fungsional berbasis tea infusion dengan karakteristik sensori yang dapat diterima konsumen
Studi Fase Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman Lotus (Nelumbo nucifera) pada Ekosistem Buatan Kolam Sains Universitas Bengkulu
Lotus adalah tanaman air yang memiliki habitat alami di rawa atau tempat berlumpur. Pertumbuhan dan perkembangan lotus perlu dikaji lebih dalam untuk mempermudah proses budidaya. Budidaya lotus di bengkulu masih terbilang minim, meskipun di beberapa daerah sudah ada hanya dijadikan sebagai tanaman hias. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan lotus di kolam sains Universitas Bengkulu. Pengamatan dilakukan pada 4 stasiun penelitian dengan variasi ketinggian air dan lumpur yang berbeda. Parameter pertumbuhan lotus yang diamati adalah pertumbuhan biji (pertumbuhan tunas, jumlah tunas, jumlah daun, jumlah akar dan panjang akar), pertumbuhan bibit (jumlah daun, diameter daun, jumlah rimpang dan perbandingan pertumbuhan daun melayang dan daun koin), dan pemanenan (pertumbuhan bunga dan biji yang dihasilkan) dan dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan bibit lebih maksimal dari biji yang memiliki ciri dengan bentuk membulat sempurna, tidak kisut dan tidak berjamur. Lokasi terbaik untuk pertumbuhan dan perkembangan lotus yaitu pada plot 2 dilihat dari laju pertumbuhan yang lebih cepat dibandingkan plot 1, plot 3 dan plot 4 dengan Parameter pertumbuhan pada plot 2 memiliki rata-rata diameter daun 66,3 mm, jumlah daun 5 helai, diameter tangkai daun 2 mm, dan jumlah rimpang 5 ruas. Jumlah biji yang dihasilkan memiliki rata-rata 28 terdiri dari 19 biji fertil dan 9 biji infertil. Pertumbuhan dan perkembangan tanaman lotus di kolam sains lebih maksimal dengan ciri lokasi yaitu kedalaman lumpur 62 cm dan kedalaman air 21 cm. Bunga lotus lebih banyak menghasilkan biji fertil dibandingkan dengan biji infertil yang menunjukkan tingkat keberhasilan penyerbukan tinggi
Seed Vigor Improvement of Red Chili Seeds (Capsicum annuum L.) Using Spirulina platensis as Seed Priming Agent
Red chili is a crucial horticultural crop in Indonesia. The increasing demand for high-quality chili necessitates seeds with optimal germination and growth. Spirulina platensis, a microalgae species, can be cultivated in waste media such as Sugar Mill Effluent (SME). Moreover, Spirulina contains phytohormones that can stimulate seed germination. This study investigated the impact of various concentrations and soaking times of S. platensis solution on red chili seed quality. A factorial Completely Randomized Design (CRD) was employed with 5 levels of microalgae biomass concentration: control (untreated seeds), 0, 30, 45, and 60% and 3 levels of soaking time: 1, 2, and 3 hours. Data analysis involved ANOVA and Bonferroni post-hoc tests at a 5% level using GraphPad Prism version 5.01. The results demonstrated seed priming application using S. platensis significantly enhanced seed vigor. The S. platensis treatment at 60% concentration for 2 hours significantly reduced MGT by 1 day, while 30%-2 hours and 60%-3 hours treatments exhibited the highest germination rate (100%), vigor index (49.17% in 30%-2 hours), seed growth simultaneity (85.56% in 60%-2 hours and 83.33% in 30%-2 hours), and growth rate (11.48% in 60%-3 hours and 11.11% in 30%-2 hours), with the 60%-3 hours treatment showing the longest shoot (2.73 cm) and radicle (8.13 cm) lengths, compared to the control. These findings suggest that S. platensis priming can be a promising approach for improving seed quality and crop establishment