Agroteknika (E-Journal)
Not a member yet
    195 research outputs found

    Stabilitas dan Penentuan Umur Simpan Minuman Jeli Carica dengan Variasi Suhu Penyimpanan dan Kemasan Menggunakan Metode Arrhenius

    Full text link
    Salah satu produk diversifikasi olahan buah carica adalah minuman jeli carica. Informasi umur simpan penting untuk rekomendasi Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Penelitian ini bertujuan mempelajari perubahan sifat fisik, kimia dan sensori minuman jeli carica yang disimpan dengan jenis kemasan, suhu penyimpanan, dan waktu yang berbeda serta menentukan umur simpannya dengan metode Arrhenius. Tahapan peneltian meliputi persiapan, pembuatan produk, analisis kimia, fisik dan sensori, analisis data dan penetapan umur simpan. Proses pembuatan minuman jeli carica meliputi pencampuran bahan sampai homogen, dilakukan perebusan lalu ditambahkan bahan tambahan pangan. Minuman jeli carica dikemas dengan menggunakan botol dan cup PET (Polyethylene terephtalate) dan disimpan dalam inkubator dengan suhu yaitu 35°C, 45°C, 55°C. Analisis sifat kimia, fisik dan sensori dilakukan pada hari ke-5, 10, 15, dan 20. Analisis fisik meliputi nilai kecerahan (L), analisis kimia meliputi vitamin C dan viskositas. Analisis sensori meliputi flavor, warna kuning, kekenyalan dan kesukaan secara keseluruhan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa minuman jeli carica yang dikemas dalam botol PET memiliki kadar vitamin C yang lebih tinggi daripada cup PET, jika dibandingkan dengan cup PET, minuman jeli carica dengan kemasan cup PET memiliki viskositas dan kesukaan secara keseluruhan yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan botol PET. Peningkatan suhu menyebabkan penurunan kadar vitamin C, viskositas, kekenyalan, warna kuning, dan kesukaan secara keseluruhan. Semakin lama waktu penyimpanan (0 sampai 20 hari) menyebabkan penurunan kadar vitamin C, kecerahan, viskositas, kekenyalan, warna kuning dan kesukaan secara keseluruhan. Umur simpan minuman jeli carica dengan kemasan botol PET pada suhu 8 °C adalah 6,17 bulan, suhu ruang (25°) adalah 4,85 bulan. Sedangkan umur simpan pada kemasan cup PET pada suhu 8 °C adalah 6,09 bulan, dan pada suhu ruang (25°) adalah 4,67 bulan

    Pendugaan Umur Simpan Susu Kambing Etawa Metode Accelerated Shelf-Life Testing (ASLT) dengan Pendekatan Kadar Air Kritis

    Full text link
    Susu kambing etawa bubuk adalah produk olahan yang dibuat dari susu kambing etawa segar melalui proses pengeringan untuk mengurangi kadar air. Susu kambing memiliki nilai gizi tinggi yang mudah rusak karena mudah terkontaminasi oleh mikroba. Pengolahan susu menjadi bubuk adalah pilihan yang tepat karena membuat penyimpanan susu menjadi tahan lama. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui kadar air awal, kadar air kritis, kadar air kesetimbangan, dan kadar lemak susu kambing etawa bubuk. Selain itu, penelitian ini untuk mengetahui umur simpan susu kambing etawa bubuk. Pendugaan umur simpan susu kambing etawa bubuk menggunakan metode Accelerated Shelf-life Testing (ASLT) dengan pendekatan Labuza dengan menggunakan lima jenis garam yaitu NaOH, MgCl2, K2CO3, NaCl, KCl dengan masing-masing RH 15%, 32%, 53%, 73%, dan 83%. Labuza digunakan untuk kerusakan produk pangan berdasarkan kadar air produk selama penyimpanan. Empat model persamaan yang digunakan untuk menentukan kurva ISA (Isotermi Sorpsi Air) yaitu Hasley, Caurie, Oswin, dan Chen-Clayton. Ketepatan kurva ISA yang dipilih dalam menentukan umur simpan adalah model Chen-Clayton. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air awal susu kambing etawa bubuk sebesar 1,79%(b/b). Kadar air kritis susu kambing etawa bubuk pada RH 83% sebesar 4,27% (b/b), kadar lemak awal sebesar 8,68 % dan kadar lemak kritis 7,61%. Umur simpan yang iperoleh dengan kondisi RH 15%, 32%, 53%, 73%, 83% memiliki umur simpan secara berturut-turut sebagai berikut: 548 hari (18,2 bulan), 376 hari (12 bulan), 277 hari (9,2 bulan), 210 hari (7 bulan), dan 178 hari (5,9 bulan)

    Efektivitas Karbon Aktif Eceng Gondok (Eichornia crassipes) dalam Menurunkan Kandungan COD dan Detergen pada Limbah Laundry

    Full text link
    Usaha laundry setiap tahun tumbuh pesat akibat meningkatnya aktivitas masyarakat, namun pertumbuhan bisnis laundry ini memiliki dampak negatif, yaitu limbah laundry yang mengandung bahan kimia dengan tingkat konsentrasi tinggi, seperti COD dan detergen. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh variasi waktu kontak 0, 60, 120, 180 dan 240 menit dan aktivator HCl dan ZnCl2 konsentrasi 10% berbahan eceng gondok (Eichornia crassipes) dalam menurunkan kadar COD dan detergen pada limbah laundry yang dianalisis menggunakan Randomized Completely Block Design (RCBD) taraf signifikan 5% dengan tiga kali pengulangan. Hasil penelitian menunjukkan penurunan kadar COD dengan karbon aktif aktivasi HCl sebesar 204,39 mg/l atau 11% pada waktu kontak 240 menit sedangkan detergen sebesar 1,6948 mg/l atau 12,5% pada waktu kontak 180 menit dengan kadar air baku 1,9375 mg/L. Penurunan kadar COD dengan karbon aktif teraktivasi ZnCl2 sebesar 344,654 mg/l atau 60% pada waktu kontak 180 menit dari kandungan air baku sebesar 848,896 mg/l, sedangkan penurunan detergen pada waktu kontak 240 menit sebesar 1,7544 mg/l atau 28% dari air baku 2,4315 mg/l. Pemilihan jenis aktivator berpengaruh terhadap penurunan kadar COD dan detergen. Karbon aktif yang diaktivasi dengan ZnCl2 terbukti lebih efisien dalam menurunkan kadar COD dan detergen pada limbah laundry

    Rekayasa Mesin Pembuat Pelet Pakan Ikan untuk Meningkatkan Efisiensi Produksi

    Full text link
    Sektor perikanan budidaya memainkan peran penting dalam ketahanan pangan dan ekonomi nasional Indonesia. Peningkatan produksi ikan menuntut ketersediaan pakan yang efisien, namun biaya pakan komersial yang tinggi menjadi kendala besar, terutama bagi pembudidaya kecil dan menengah. Penelitian ini bertujuan untuk merancang mesin pelet pakan ikan yang harganya terjangkau, bertenaga bensin, dengan kapasitas produksi 20-50 kg/jam, untuk mendukung produksi pakan mandiri. Metode yang digunakan meliputi perancangan dan perakitan mesin dengan komponen utama berupa screw extruder, roda penggerak, dan cetakan (die). Prototipe mesin memiliki dimensi 60 x 40 x 70 cm, menggunakan motor penggerak 4 tak (3600 rpm, 196 cc, bensin), tipe pencetakan screw extruder dengan diameter die 3 mm, tabung penggiling berukuran panjang 23 cm dan diameter 7 cm. Prototipe mesin diuji dengan bahan baku seberat 10 kg sebanyak lima kali. Hasil menunjukkan mesin dapat menghasilkan daya maksimum 3,46 kW, dengan putaran 720 rpm (maksimum) dan 200 rpm (minimum). Rata-rata kapasitas produksi mencapai 49,49 kg/jam, lebih tinggi dibandingkan mesin motor listrik 1 Hp pada penelitian sebelumnya yang menghasilkan 39,83 kg/jam. Selain itu, analisis scatterplot menunjukkan bahwa semakin banyak pelet yang dihasilkan, semakin lama waktu yang diperlukan, menandakan hubungan linier antara jumlah dan waktu produksi. Beberapa perbaikan diperlukan, seperti penambahan pengunci roda untuk kestabilan. Penelitian lanjutan perlu dilakukan untuk mengoptimalkan konsumsi bahan bakar dan mengevaluasi interval pemeliharaan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan alternatif solusi mesin pelet yang efisien bagi pembudidaya skala kecil dan menengah

    Review Media Tanam dan Hasil Jamur Tiram putih (Pleurotus ostreotus)

    Full text link
    Topik literatur review ini mengulas mengenai beberapa jenis bahan pembuat media tanam jamur tiram. Ulasan dalam literatur review ini diambil dari artikel dengan topik yang sesuai dengan topik tersebut. Terdapat banyak jenis bahan media tanam yang digunakan oleh petani sebagai media budidaya jamur tiram, dan tentunya memiliki kelebihan dan kelemahan dari masing-masing bahan. Tujuan kajian ini adalah untuk memberikan rekomendasi rancangan bahan media tanam yang tepat dalam kegiatan budidaya jamur tiram konvesional agar dapat menghasilkan produksi yang optimal dan dapat dipergunakan untuk menentukan topik utama peninjauan literatur di masa mendatang. 30 naskah artikel yang dikaji dari tahun 2015 hingga 2024 diperoleh dari jurnal yang terdaftar pada SINTA dan laman penyedia artikel ilmiah Google Scholar. Spesifikasi ulasan dibuat berdasarkan literature review. Hasil literatur review ini diperoleh bahwa dari beberapa jenis bahan yang digunakan sebagai media tanam seperti serbuk kayu, jerami, eceng gondok, sekam, sabut kelapa, ampas tahu, daun durian, dan pelepah sawit bagi jamur tiram diperoleh hasil analisis bahwa bahan yang paling tepat dengan hasil yang optimal bagi produktivitas jamur tiram yaitu bahan pelepah sawit komposisi 100% yang mampu menghasilkan jamur tiram sebanyak 650 g/ baglognya. Selain itu, penggunaan kombinasi serbuk kayu 85% + sekam padi 15% memiliki hasil yang cukup optimal yaitu 493,98 g/ baglog. Hal ini dapat disesuaikan dengan kondisi dan situasi ataupun ketersediaan sumberdaya di sekitar agar dapat dimanfaatkan dan menghindari pencemaran lingkungan

    Analisis Strategi Pengembangan Minapadi di Kecamatan Tumpang Kabupaten Malang

    Full text link
    Minapadi merupakan salah satu cara budidaya yang memadukan antara usaha pertanian dan perikanan. Budidaya minapadi berpotensi meningkatkan produktivitas lahan, kesejahteraan petani serta mendukung ketahanan pangan. Desa Pandan Ajeng, Kecamatan Tumpang merupakan salah satu wilayah di Kabupaten Malang yang memiliki potensi besar untuk pengembangan sistem minapadi. Wilayah ini memiliki kondisi agroekologi yang sesuai, dengan ketersediaan sumber daya air yang memadai dan dukungan dari berbagai pihak dalam pengembangannya. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui strategi pengembangan usahatani minapadi di Kecamatan Tumpang. Penelitian ini dilakukan di Desa Pandan Ajeng, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang pada bulan Juli-Agustus 2024. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah ketua dan sekretaris kelompok tani, penyuluh pertanian, penyuluh perikanan dan kepala desa. Pihak-pihak ini merupakan informan kunci yang mengetahui pengelolaan minapadi. Metode penelitian dengan menggunakan analisis SWOT dan QSPM. Analisis kondisi internal dan eksternal dilakukan dengan metode wawancara terstruktur dengan menggunakan kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kelompok Tani Mina Subur Makmur berada pada kuadran strategi pertumbuhan agresif (Growth Oriented Strategy) dan perusahaan menerapkan strategi S-O (Strength-Opportunity) yang terdiri atas tiga strategi yaitu memperluas areal tanam mina padi, meningkatkan mutu beras dan ikan nila dalam rangka memperluas pangsa pasar, mengoptimalkan produksi padi dan ikan nila. Setelah dilakukan analisis QSPM ditemukan rekomendasi alternatif strategi prioritas adalah memperluas areal tanam minapadi. Peluasan areal tanam padi diharapkan dapat memaksimalkan jumlah produksi yang dihasilkan serta mampu memenuhi permintaan beras dan ikan yang semakin meningkat agar mendorong meningkatnya pendapatan dan kesejahteraan petani

    Pengaruh Paparan Medan Magnet Extremely Low Frequency (ELF) Terhadap Perkembangan Generatif Benih Padi Tua (Oryza sativa L.)

    Full text link
    Indonesia adalah negara agraris yang mayoritas masyarakatnya adalah petani. Padi merupakan salah satu komoditas pertanian terbesar di Indonesia. Menurut Badan Pusat Statistika pada tahun 2024, produksi beras mengalami penurunan dari 31,10 juta ton menjadi 30,34 juta ton. Penurunan produktivitas beras dapat disebabkan oleh kualitas benih yang digunakan. Benih yang umur simpannya melebihi 6 bulan akan meningkatkan deteriosasi yang membuat vigor dan viabilitas menurun. Vigor dan viabilitas benih yang menurun dapat diatasi dengan memberikan perlakuan invigorasi seperti paparan medan magnet. Penelitian ini dilakukan ditiga tempat berbeda dari bulan Juli hingga Oktober 2024. Tujuan penelitian ini untuk mengkaji paparan medan magnet Extremely Low Frequency (ELF) dengan intensitas 0,2 miliTesla (mT) terhadap perkembangan generatif tanaman padi yang berasal dari benih tua. Pada penelitian ini menggunakan metode RAL dengan 4 perlakuan berbeda P0 (Kontrol), P1 (3 menit 54 detik), P2 (7 menit 48 detik), dan P3 (11 menit 42 detik). Tinggi tanaman, jumlah anakan produktif dan tidak produktif, panjang malai, jumlah buku per malai, jumlah cabang primer pada malai dan jumlah cabang sekunder pada malai, dan berat gabah 100 butir merupakan parameter pengamatan pada penelitian ini. Hasil menunjukkan bahwa panjang malai, jumlah buku per malai, dan jumlah cabang sekunder semuanya memiliki pengaruh signifikan. Jumlah buku per malai dapat meningkat pada fase perkembangan generatif jika dipapar medan magnet dengan durasi 3 menit 54 detik

    Pengaruh Penurunan Batang dan Pewiwilan Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Produksi Benih Kentang (Solanum tuberosum L.) Bermutu Var.Granola Sistem Aeroponik

    Full text link
    Produksi benih kentang (Solanum tuberosum L.) bermutu di Indonesia masih menghadapi tantangan serius berupa keterbatasan ketersediaan dan tingginya harga benih berkualitas, sehingga banyak petani menggunakan benih turunan rendah yang menurunkan produktivitas. Teknologi sistem aeroponik yang dikombinasikan dengan teknik penurunan batang dan pewiwilan menawarkan pendekatan budidaya yang lebih efisien dan terkontrol untuk meningkatkan kualitas dan hasil produksi benih kentang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi pengaruh penurunan batang dan pewiwilan erhadap pertumbuhan dan produksi benih kentang varietas Granola dalam sistem aeroponik. Teknik aeroponik merupakan metode budidaya tanpa media tanah yang memungkinkan optimalisasi produksi benih berkualitas tinggi. Penurunan batang dan pewiwilan dilakukan untuk mengevaluasi pengaruhnya terhadap parameter pertumbuhan tanaman, jumlah umbi, serta kualitas benih yang dihasilkan. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan penurunan batang dan pewiwilan yang dibandingkan dengan kontrol tanpa perlakuan. Data dianalisis menggunakan uji One Way ANOVA untuk menentukan signifikansi perbedaan antar kelompok perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan penurunan batang dan pewiwilan berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan dan hasil produksi benih kentang. Penurunan batang dan pewiwilan mampu meningkatkan jumlah dan bobot umbi per tanaman, serta memperbaiki kualitas benih yang dihasilkan dibandingkan dengan kontrol. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan teknik penurunan batang dan pewiwilan dapat menjadi strategi yang efektif dalam meningkatkan produktivitas benih kentang varietas Granola dengan sistem aeroponik. Temuan ini memberikan implikasi penting bagi pengembangan teknologi produksi benih kentang berkualitas tinggi secara efisien dan berkelanjutan

    Antioxidant Activity and Organoleptic Quality of Purple Chrysanthemum (Chrysanthemum morifolium) Kombucha on the Variation of Sugar Types and Fermentation Duration

    Full text link
    Kombucha is one of the probiotic beverages resulting from the fermentation of tea with a consortium of bacteria and yeast (Symbiotic Culture of Bacteria and Yeast / SCOBY) as the starter culture requiring sugar as source of nutrients and carbon. One innovation of kombucha raw materials is purple chrysanthemum flowers containing active compounds such as carotenoids, flavonoids, and anthocyanins. The aim of this study was to determine the antioxidant activity and organoleptic quality of kombucha from purple chrysanthemum flower on the variation of sugar types and fermentation duration. This research method used an experimental method with 2 factors, Completely Randomized Design (CRD). Factor I: variation of sugar types (G): palm sugar and Javanese sugar. Factor II: fermentation duration (F): 5 days and 7 days, green tea kombucha as control. Data analysis of antioxidant activity and vitamin C used quantitative descriptive methods, while organoleptic quality used qualitative methods. It was concluded that the highest antioxidant activity and the best organoleptic quality of purple chrysanthemum kombucha was 76.37% with brown color, quite fragrant of kombucha, quit sour taste, and preferred by the panelists in the G1F2 treatment (200g of palm sugar with fermentation duration of 7 days)

    Formulasi Pupuk Organik Cair Berkelanjutan dari Limbah Air Tambak Udang dengan Modifikasi Eco-Enzyme untuk Optimasi Pertumbuhan Tanaman Cabai

    Full text link
    Penggunaan pupuk organik cair (POC) menjadi alternatif yang berkelanjutan dalam sektor pertanian untuk mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia serta meminimalkan dampak lingkungan akibat limbah pertanian dan akuakultur. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan formulasi POC berbasis limbah air tambak udang yang dimodifikasi dengan eco-enzyme guna meningkatkan pertumbuhan tanaman cabai (Capsicum annuum). Proses fermentasi dilakukan dengan berbagai komposisi bahan organik, termasuk kulit pisang, kulit nanas, sisa nasi, dan gula, yang dikombinasikan dengan limbah tambak udang sebagai sumber nutrisi utama. Analisis laboratorium menunjukkan bahwa POC yang dihasilkan memiliki kandungan nitrogen total sebesar 2,23%, karbon organik 3,13%, fosfor (P₂O₅) 0,28%, dan kalium (K₂O) 0,13%, dengan rasio C/N yang optimal untuk mendukung aktivitas mikroorganisme tanah. Uji aplikasi terhadap tanaman cabai dilakukan selama 10 minggu untuk mengamati pertumbuhan tinggi tanaman pada berbagai perlakuan POC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman yang diberi perlakuan POC berbasis limbah tambak udang mengalami peningkatan pertumbuhan yang lebih signifikan dibandingkan kontrol, terutama pada perlakuan dengan komposisi optimal. Formulasi ini tidak hanya meningkatkan ketersediaan nutrisi dalam tanah, tetapi juga berkontribusi dalam mengurangi residu berbahaya yang terdapat dalam limbah tambak udang melalui proses biodegradasi yang dipercepat oleh eco-enzyme. Dengan demikian, pemanfaatan limbah air tambak udang yang dikombinasikan dengan teknologi fermentasi berbasis eco-enzyme berpotensi menjadi solusi inovatif dalam mendukung pertanian organik dan meningkatkan produktivitas tanaman secara berkelanjutan, sekaligus mengurangi dampak lingkungan dari limbah akuakultur

    194

    full texts

    195

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Agroteknika (E-Journal)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇