Jurnal STAHN MPU Kuturan Singaraja
Not a member yet
    1996 research outputs found

    Tantangan Manajemen SDM dalam Pengembangan Desa Wisata Ambengan

    Get PDF
    This study discusses the challenges of managing human resources (HR) in the development of a tourism village in Ambengan Village, Buleleng. The purpose of this research is to find out the human resource management challenges faced by tourism village managers, as well as the efforts made to overcome these challenges. This study used a qualitative method with data collection techniques through interviews and literature review. The results showed that the tourism village managers in Ambengan Village faced various challenges in human resource management, such as the lack of qualified and trained human resources, the lack of mature human resource development planning, and the difficulty in finding human resources who were willing to work in the tourism village. Other challenges are influenced by the quality of services and budget in Efforts made to overcome these challenges These factors include training and skills development for existing human resources, cooperation with educational institutions to find a qualified workforce, as well as developing attractive incentive and promotion programs for human resources. This research contributes to the development of a tourist village by providing an overview of the challenges in HR management and the efforts that can be made to overcome them. The results of this study are expected to be a reference for tourism village managers and related parties in developing sustainable and successful tourism villages in human resource management

    ANALISIS PENTINGNYA KETERAMPILAN MENDENGAR BAGI MANAJER PERUSAHAAN

    Get PDF
    One area of ability or skill contained in communication is listening skills. Because it is a skill, listening ability can be trained. So far, listening skill training as a communication skill has received little attention, even though this skill is very important, especially for managers. Therefore, the purpose of this research is to provide an understanding of the benefits of listening and how to improve listening skills, especially for managers. There are several benefits that can be learned from good listening skills, including gaining knowledge and experience from other people, practicing focusing on what other people are saying, and as a form of appreciation to the speaker. In addition, being a good listener is a way to build friendship, understand that there are different points of view on an issue, practice patience, and train yourself not to blame others easily. Good listening skills can be done in various ways, including focusing on listening to the conversation, not interrupting the conversation, leaking the speaker, showing attention with facial expressions and gestures, and responding through spontaneous speech. By being a good listener, managers will get data and information at every stage of the management process or function, something that is very useful for them in making decisions and solving problems within the company

    TEOLOGI HINDU DALAM TRADISI TARI REJANG AYUNAN DI DESA PAKRAMAN BANTIRAN KECAMATAN PUPUAN KABUPATEN TABANAN

    Get PDF
    Orang-orang Hindu Bali tidak boleh melepaskan adat istiadat mereka yang dianggap memiliki nilai moral dan religius. Dalam masyarakat Hindu Bali tradisi memiliki banyak bentuk yang dikemas dalam melakukan ritual keagamaan melalui Panca Yadnya. Salah satu contohnya adalah Tari Rejang Ayunan yang dilakukan di Pura Puseh Bale Agung Desa Pakraman Bantiran selama serangkaian piodalan Ngusaba Agung. Masyarakat Desa Pakraman Bantiran memiliki tradisi tari Rejang Ayunan yang dibawa dari generasi ke generasi. Tradisi ini telah berlangsung selama bertahun-tahun dan selalu diadakan setiap tahunnya pada purnama Kalima. Tarian Rejang Ayunan unik dan berbeda dari tari Rejang biasa, di mana penari biasanya adalah perempuan. Namun, tradisi ini dilakukan oleh remaja laki-laki (Truna). Ini membahas sejarah Tari Rejang Ayunan di Desa Pakraman Bantiran, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, serta bagaimana dan untuk tujuan apa itu dilakukan. Studi ini menerapkan metodologi kualitatif deskriptif. Data primer dan data sekunder adalah dua sumber data yang digunakan dalam penelitian ini. Teknik purposive snowball digunakan untuk memilih informan dalam penelitian ini. Wawancara, observasi, dan kepustakaan adalah metode yang digunakan untuk mengumpulkan data. Tetapi analisis data dimulai dengan pengumpulan, reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan atau konfirmasi. Studi ini menemukan bahwa Tradisi Tari Rejang Ayunan mengandung teologi Hindu, yaitu Saguna Brahman, karena tarian ini terkait erat dengan upacara Dewa Yandya. Dalam pelaksanaannya, tradisi Rejang Ayunan selalu disertai dengan doa dan mantra, penggunaan tirta yang dipercikan oleh para penari sebelum mereka menari, dan perlengkapan yang digunakan seperti banten yang dibutuhkan sebelum dan sesudah ritual

    PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE GROUP INVESTIGATION (GI) UNTUK MENINGKATKAN LITERASI SAINS SISWA SD

    Get PDF
    Penelitian pengembangan ini bertujuan untuk menghasilkan perangkat pembelajaran IPA berupa rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dan buku siswa kelas IV SD dengan model pembelajaran Group Investigation yang valid, praktis dan efektif meningkatkan literasi sains siswa. Semua data dianalisis secara deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh: (1) validitas perangkat dikategorikan valid dengan nilai validitas buku siswa 3,17 dan RPP 3,52, (2) kepraktisan perangkat dikategorikan sangat praktis, dengan nilai keterlaksanaan perangkat pembelajaran sebesar 3,43, rata-rata respon guru 3,71 dan respon siswa 3,54, (3) perangkat pembelajaran berada pada kategori efektif, dengan rata-rata nilai tes literasi sains 79,54 dan ketuntasan 88,24%

    Budaya Memandikan Hukum Tua Menurut Perspektif Teologi Kristen di Minahasa Utara

    Get PDF
    The Culture of Bathing (the Village Head) is a culture in Waleo Village, which is a village in the Kema sub-district, North Minahasa Regency, North Sulawesi, Indonesia. This culture is carried out when the long dry season occurs in Waleo village. The people of Waleo Village mostly work as farmers so if a long drought occurs it will have an impact on the jobs and economy of the people of Waleo Village. This tradition has been passed down from generation to generation. The purpose of this research is to find the theological value of the old legal bathing culture, because it is considered as ancestor worship. A contextual theological approach using Schreiter's theory can help researchers see this culture. This Research is qualitative research. The results of the study outline related that the Culture of Bathing (the village Head) is a form of relationship formation between humans (the old Law being bathed), the universe if there is a dry season and God is a form of relationship formation which is a way to convey the understanding of all Waleo people that God works in all daily life -human day, not as worship to the ancestors

    PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEAD TOGETHER (NHT) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA PADA SISWA KELAS V SD NEGERI 1 KAMPUNG BUGIS SEMESTER I TAHUN PELAJARAN 2022/2023

    Get PDF
    Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas V Semester I SD Negeri 1Kampung Bugis Tahun Pelajaran 2022/2023 setelah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together  (NHT).  Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas dengan subjek penelitian siswa kelas V SD Negeri 1 Kampung Bugis yang berjumlah 21 orang. Objek penelitian hasil belajar siswa. Data yang terkumpul dianalisis secara deskripstif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) dapat meningkatkan hasil belajar matematika pada siswa kelas V Semester I SD Negeri 1 Kampung Bugis Tahun Pelajaran 2022/2023. Terdapat peningkatan rata-rata persentase (M%) pada siklus I hasil belajar siswa yang diperoleh adalah 69,23%, bila dikonversikan pada pedoman PAP skala 5 maka berada pada interval 60-79 dengan mencapai tingkat hasil belajar pada kriteria sedang. Pada siklus II rata-rata persentase (M%) hasil belajar siswa yang diperoleh adalah 88,46%, bila dikonversikan pada pedoman PAP skala 5 maka berada pada interval 80-89 dengan mencapai tingkat hasil belajar pada kriteria tinggi, sehingga hasil belajar siswa dari siklus I ke siklus II mengalami peningkatan sebesar 19,23%.Simpulan yang dapat diambil adalah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) dapat meningkatkan hasil belajar matematika pada siswa kelas V Semester I SD Negeri 1 Kampung Bugis Tahun Pelajaran 2022/2023.

    EKSITENSI UU NOMER 1 TAHUN 1974 BENTUK PERKAWINAN MATRIARKI MASYARAKAT HINDU BALI DITINJAU DARI PERSPEKTIF HUKUM ADAT DAN KESETARAAN GENDER

    Get PDF
    Perkawinan merupakan jenjang kehidupan yang sangat penting dalam fase kehidupan manusia. Perkawinan memiliki hubungan yang bersifat sakral dan suci antara pria dengan wanita dalam menjalankan dharma bahktinya sebagai manusia yang utuh. Ini berarti bahwa, secara ideal perkawinan akan dianggap sah dan legal secara hukum dan adat apabila disetujui oleh kedua mempelai, direstui dan disaksikan oleh keluarga kedua belah pihak, serta disaksikan secara niskala maupun dilaksanakan melalui prosesi upacara adat. Hubungan yang bersifat sakral dan suci ini mesti dilandasi oleh rasa cinta untuk mewujudkan swadarmaning manusa lan swadarmaning pianak (kewajiban manusia untuk meneruskan kehidupan dan kewajiban seorang anak). Perubahan dan kemajuan zaman serta semakin lewesnya hukum adat yang berlaku pada masyarakat Hindu Bali mengikis pola dan tradisi patrilineal yang dianut oleh masyarakat Hindu sehingga apa yang disampaikan Fukuyama yang mengatakan bahwa tidak ada yang kekal di dunia ini selain perubahan, merupakan realitas sosial emprik yang terjadi pada masyarakat Hindu Bali. Hasil penelitian bentuk perkawinan matriarki di beberapa daerah di provinsi Bali masih menolak bentuk perkawinan nyentana (nyeburin) yang secara proses menyerupai perkawinan matriarki, menurut esensinya status putrika pada anak perempuan yang menjadi sentana rajeg sudah didaulat berdasarkan pauman krama sebagai purusa (status laki-laki) penerus keturunan keluarga. Dikaitkan dengan pewarisan, pengaruh bentuk perkawinan matriarki terhadap anak perempuan yang semula bukan sebagai ahli waris dapat menjadi ahli waris terhadap harta orang tuanya. Model rekonstruksi kebijakan perkawinan yang direkomendasikan oleh peneliti menjawab permasalahan di lapangan adalah penerapan model formulasi kebijakan perkawinan parental (Pada Gelahang)

    ASPEK TATTWA, SUSILA DAN UPACARA DALAM TRADISI NGERASAKIN DI DESA BANYUASTIS

    Get PDF
    Agama Hindu sangat kaya akan tradisi dan upacara agama dengan menggunakan berbagai simbol-simbol dalam pelaksanaan keagamaanya, tradisi ngerasakin merupakan salah satu tradisi yang dilaksanakan di Desa Banyuatis. Tradisi ngerasakin merupakan bentuk upacara yang dilaksanakan oleh masyarakat Desa Banyuatis yang memiliki lahan pertanian dan perkebunan sebagai rasa sukur dan bhakti kehadapan Sang Hyang Widhi Wasa atas karunia dan hasil panen. Penelitian ini bertujuan untuk menggali aspek tattwa, susila dan upacara dalam tradisi ngerasakin di Desa Banyuatis. Penelitian ini menggunakan pendekatan teologi, jenis data penelitian ini adalah data kualitatif dengan metode pengumpulan datannya ada tiga yaitu observasi, wawancara dan studi dokumentasi. Aspek tattwa dalam penelitian ini dapat dilihat dari brahma tattwa yaitu pemujaan kepada Jero Sedahan. Jero Sedahan merupakan manifestasi Tuhan yang Maha Esa atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai penjaga perkebunan dan pertanian. Aspek susila dapat dilihat dari bentuk bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang merupakan untuk menjaga kehidupan yang harmonis antara penguasa Dunia. Aspek upacara dapat dilihat dari banten yang digunakan dalam upacara ngerasakin sebagai simbul bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa

    MODERASI BERAGAMA DALAM GEGURITAN NENGAH JIMBARAN

    Get PDF
    Geguritan Nengah Jimbaran as a material object in this study is a traditional Balinese literary work written by Cokorda Mantuk Ring Rana. This study uses a qualitative approach that focuses on finding the meanings of religious moderation in the Geguritan Nengah Jimbaran text. The hermeneutic method is applied to understand and interpret the meaning and intention of Cokorda Mantuk Ring Rana in his writing. Based on the analysis carried out at Geguritan Nengah Jimbaran, it shows Balinese people are indeed dominated by Hindus but they have a great tolerance and are able to live harmoniously side by side among different faith during the reign of Cokorda Mantuk Ring Rana. It can be concluded that religious tolerance as one of the spirits of religious moderation has long been present and has become a habit of Balinese people today. Key words: religious moderation, tolerance, Geguritan Nengah Jimbaran

    ALIH KODE DAN CAMPUR KODE DALAM PERCAKAPAN BAHASA BALI

    Get PDF
    Faruk. 2010. Pengantar Sosiologi Sastra. Yogyakarta: Pustaka Larasan.Junus, Umar. 1981. Mitos dan Komunikasi. Jakarta: PT Djaya Pirusa.Kuntowijoyo. 2006. Budaya dan Masyarakat. Yogyakarta: Tiara Wacana.https://tatkala.co/2017/01/12/ake-buleleng-sing-ngamah-ulian-cai/#:~:text=Ake%20adalah%20khas%20sebutan%20untuk,tetap%20merujuk%20pada%20orang%20Buleleng.https://www.detik.com/bali/budaya/d-6169049/10-kosakata-populer-orang-bali-sering-diucapkan-sehari-hari/ampKamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kelima, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesi

    0

    full texts

    0

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal STAHN MPU Kuturan Singaraja
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇