Jurnal STAHN MPU Kuturan Singaraja
Not a member yet
1996 research outputs found
Sort by
Upacara Ngusaba Dalem Di Desa Pakraman Bantang Kintamani
Religious ceremonies for Hindus in Bali are quite numerous and very varied in remote villages in the Bali area, especially in Bangli Regency, Kintamani District. Bangli Regency is one of the areas that has many traditional communities in which there are customs and institutions as a unique pattern of life. Including in this case, Pakraman Bantang Village located in Kintamani District, Bangli Regency has unique customs and life patterns. This uniqueness can be seen in the many ceremonies carried out by the people of Pakraman Bantang Village such as the Pit Suji ceremony, Kepik Suji, Ngusaba Gede Dangsil Tungguh, Karya Daa Truna and so on. This research is a qualitative research. The results of the study outline related processes, functions and implications Ngusaba Dalem Ceremony in Pakraman Bantang Kintamani Villag
PENGARUH MODEL SAVI (SOMATIC, AUDITORY, VISUALIZATION, INTELLECTUALY) BERORIENTASI PERMAINAN KOTAK POS TERHADAP MOTIVASI BELAJAR SISWA
This study aims to determine: the significant effect of the SAVI model oriented towards the post box game on the learning motivation of class IV Pancasila education. This study uses a quasi-experimental research type. In this study, the population was 110 students, the sample size was 38 students, which was further divided into two, there were 19 students in the experimental class and 19 students in the normal class. Based on the hypothesis that has been tested, the data assessment uses a paired sample t-test, showing the number of respondents for the experimental class is Based on the results of data analysis using an independent t-test, it is known that the tcount = 7.881 with df = 36 at a significant level of 5%, the ttable value is 1.688. From the results of these calculations it is known that tcount> ttable is 4.603> 1.688 and the value of Sig. (2-tailed) < 0.05 (0.001 < 0.05), this indicates that there is a significant difference in effect between students who take part in the SAVI Learning Model oriented towards the Post Box Game in class IV SD Negeri 3 Tamblang and students who take part in the learning with the Conventional Learning Model in class IV SD Negeri 5 Tamblang. In this case, it shows a significant difference in the influence of learning motivation between students who study with the SAVI Learning Model oriented towards the Post Box Game and the Conventional Learning Model for class IV Cluster V, Kubutambahan District
PRO DAN KONTRA PELAKSANAAN TRADISI KENDUREN UDAN DAWET
Artikel ini bertujuan untuk mengetahui makna tradisi kenduren udan dawet, mengetahui proses pelaksanaan tradisi kenduren udan dawet serta untuk mengetahui pro dan kontra pelaksanaan kenduren udan dawet. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data diperoleh dengan tiga cara, yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Makna dari tradisi kenduren udan dawet ini mengucap rasa syukur kepada sang pencipta yang selalu memberikan kesehatan dan keselamatan serta kepada alam semesta yang telah memberikan hasil panen yang melimpah.bagi warga Desa Banyuanyar. Proses pelaksanaan tradisi udan dawet terdapat beberapa proses antara lain, Prosesi tradisi kenduren diawali dengan kirab gunungan, selanjutnya dilaksanakan prosesi pembacaan rangkaian doa yang dipimpin oleh pemuka agama. Proses terakhir adalah penutup, acara ini ditutup dengan mengucapkan Alhamdulillah dan dilanjutkan makan bersama. Pro dan kontra pelaksanaan tradisi kenduren udan dawet, Dampak positif bagi masyarakat yang mengikuti tradisi kenduren udan dawet yaitu dimudahkan rezekinya dan diberi keselamatan. Selain itu, untuk melaksanakan tradisi tersebut dipercaya meminta untuk turun hujan yang berkah kepada sang pencipta. Sedangkan orang-orang yang tidak mengikuti ritual kenduren udan dawet akan ditegur atau dicemooh dengan membuat kata-kata yang menghina tentang mereka, seperti tidak bisa menghormati adat-istiadat pendahulu mereka
URGENSI PENGUATAN PENGAWASAN TERHADAP PENGELOLAAN LEMBAGA PERKREDITAN DESA DI BALI
Pengelolaan LPD yang baik akan memberikan manfaat yang besar bagi perkembangan masyarakat. Akan tetapi tidak sedikit LPD yang bermasalah, baik dari segi managemennya ataupun pelanggaran hukum yang dilakukan oleh pengelola LPD. Sebagai upaya untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan terjadi, maka sangat penting untuk memaksimalkan pengawasan terhadap LPD di Bali.
Berdasarkan latar belakang tersebut maka dirumuskan dua masalah, yaitu: 1) terkait orang yang berwenang melakukan pengawasan terhadap lembaga perkreditan desa di Bali beserta tugas dan kewenangannya, dan 2) urgensi penguatan pengawasan terhadap LPD di Bali. Tulisan ini merupakan penelitian yuridis normatif yang bersifat kualitatif dengan analisa bahan hukum secara deskriptif.
Hasil pembahasan dari permasalahan di atas dapat disimpulkan bahwa pengawas dapat dibagi menjadi dua yaitu pengawas eksternal yang ditunjuk oleh pemerintah daerah dan pengawas internal yang berasal dari desa adat. Bahwa urgensi penguatan pengawasan dapat dilakukan dengan mendisiplinkan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan LPD. Dengan penguatan pengawasan diharapkan dapat mencegah perbuatan melawan hukum dalam LPD dikemudian hari
MEMUPUK WAWASAN KEBANGSAAN YANG PLURALISTIK DI KALANGAN GENERASI MUDA DALAM MENGHADAPI TANTANGAN GLOBAL
Kebangkitan Nasional dicanangkan oleh Boedi Oetomo, sampai saat ini, belum menunjukkan sinar terang nilai-nilai kebangkitan yang sesungguhnya. Kita masih menghadapi beraneka ragam masalah kebangsaan yang tidak henti-hentinya menerpa kita. Seperti konflik horizontal maupun vertikal telah terjadi dibeberapa daerah. Lebih ekstrim lagi ada beberapa daerah ingin melepaskan diri dari NKRI. Rasa persatuan dan kesatuan semakin luntur, longgar dan melemah. Rasa saling curiga mencuriagai sesama anak bangsa tumbuh semakin subur, Oleh karenanya pembinaan wawasan kebangsaan senantiasa perlu dilakukan guna pemupukan rasa kebangsaan dan semangat kebangsaan yang pluralistik. Melalui pemupukan wawasan kebangsaan yang pluralistik, diharapkan bangkit dan tumbuhnya rasa kesetiaan dan tanggung jawab para generasi muda terhadap nusa dan bangsanya, bangkit dan tumbuhnya rasa saling hormat-menghormati sesama anak bangsa tanpa membedakan gender, entik, budaya, adan keyakinan agamanya. Menjauhkan tindakan kekerasan untuk menyelesaiakan perbedaan pendapat, penolakan terhadap kekejaman dan ketidakadilan dengan alasan apapun. Untuk itu marilah kita bangkit bersatu dan bekerja keras untuk menghadapi tantangan global. Kata Kunci: Rasa Kebangsaan, Pluralisme
DHARMA DALAM KITAB SARASAMUCCAYA SEBAGAI PEDOMAN HIDUP DI ZAMAN KALI YUGA
Kemajuan zaman dan kecanggihan teknologi memberikan dua dampak sekaligus bagi kehidupan manusia. Layaknya sebuah pisau, hal tersebut dapat memberikan dampak positive maupun negative. Dampak positivenya yaitu segala aktivitas dan kegiatan manusia akan semakin dipermudah. Sedangkan dampak negativenya yaitu semakin maraknya tindak kejahatan seperti begal, pembunuhan, penganiayaan, pemerkosaan, perampokan, penipuan, serta aksi kejahatan lainnya. Semakin meningkatnya tindak kejahatan dari waktu ke waktu menandakan bahwa dunia telah memasuki zaman Kali Yuga. Tentunya perilaku negative di zaman Kali Yuga ini akan menghambat upaya-upaya dalam mewujudkan kehidupan harmonis, rukun, dan tentram. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis dan membahas kedudukan dharma dalam kitab Sarasamuccaya sebagai pedoman hidup di zaman Kali Yuga dengan harapan dapat mewujudkan masyarakat Hindu yang harmonis, rukun, damai, tentram dan bahagia secara lahir dan batin. Artikel ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Hasil pembahasan dalam artikel ini yaitu dharma menjadi landasan dalam mencari artha, dharma menjadi sarana pemusnahan dosa, dharma menjadi sumber kebahagiaan, dan dharma sebagai pembuka jalan menuju sorga. Pada akhirnya, secara praktis artikel ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi umat Hindu sebagai pedoman dan tuntunan dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.Kata Kunci: Dharma, Sarasamuccaya, Zaman Kali Yug
Eksistensi Pola Permukiman Tradisional Yang Berlandaskan Falsafah Bali di Desa Sanding Kecamatan Tampaksiring Kabupaten Gianyar
Balinese traditional settlement is a village or house arrangement based on Balinese philosophy. This settlement pattern has been passed down from ancient times by the ancestors of the Balinese people. Along with the times and the entry of globalization, it requires that traditional settlements be affected. This research was conducted using a case study approach with qualitative methods, by collecting data through observation and literature review. Furthermore, the data is analyzed, reduced, and interpreted so that it can be presented descriptively. The results showed that the settlement of Sanding Village used an intersection pattern, as seen by the construction of public facilities in the village catus pata zone. The maintenance of traditional Balinese settlements is carried out through the construction of main houses in elbow satak and the use of strong Balinese philosophical concepts. The conclusion obtained by the people of Sanding Village seems that they have not been separated from the concept of traditional settlements, and the increase in population experienced was overcome by the construction of new housing outside the satak elbow.Keywords; Traditional settlements, Balinese philosoph
TRADISI MAESA-ESAAN DI MINAHASA, DALAM PERSPEKTIF BERNEGARA
Kehidupan bernegara tidak bisa terlepas dari sebuah negara. Negara merupakan organ statis yang di dalamnya terdapat sistem sistem, yang mana ada sebuah kehidupan yang dialami oleh persona atau individu-individu. Demikian juga diketahui bahwa negara adalah organisasi yang mendapatkan kekuasaan dari masyarakat dan telah mempunyai wilayah tertentu. Dalam sebuah negara, tentu memiliki sebuah kebijakan publik, karena sangat diperlukan untuk menanggapi aspirasi populasi yang beragam, serta menjamin pluralisme serta penghormatan terhadap hak-hak dasar setiap persona. Kita semua sepakat bahwa sebuah kebijakan publik pada dasarnya berangkat dari fondasi kebudayaan tertentu. Atau dengan kata lain, hal itu ada karena ada budaya yang dihidupi. Dalam konteks penelitian ini fondasi budaya lokal Minahasa yakni spirit maesa-esaan, menjadi patokan atau pijakan untuk mewujudkan sebuah kehidupan bernegara yang damai dan bersatu padu. Terjadi demikian, karena pada dasarnya hakikat dari kebijakan publik adalah untuk memberikan keadaan yang kondusif bagi sebuah sistem penyelenggaraan pemerintahan. Dari sini, maka tradisi atau budaya minahasa yang termaktub dalam tradisi maesa-esaan, mendapatkan tempat yang tepat untuk memperkuat sebuah peradaban-masyarakat
IMPLIKASI AKTIVITAS PUASA BAGI UMAT HINDU (PERSPEKTIF TEOLOGI SOSIAL)
ABSTRACTFasting is actually a very beneficial activity for Hindus. Because, it can not be avoided if self-control is the main element in fasting. Religious teachings always teach a people to be able to control themselves. Self-control can be understood through fasting. Realization in the community shows that fasting or upawasa has not been ingrained in the hearts of the Hindu community. This is also because they do not know the meaning of fasting well. For this reason, socialization about fasting is still very much needed, both through written and oral socialization. Fasting is not the end of a struggle for worship. However, fasting is precisely the starting point of a human being to start a new life, because through learning self- control in fasting activities, one will be able to resist the next temptation. One of the lessons of fasting can also be seen as planting social solidarity with the suggestion of doing as much good as possible. Religious people should learn to curb egoism, greed, and violence. Thus a person is able to open his love.Keywords: Self Qualities, Hindus, Fasting
STRATEGI PENGEMBANGAN SENI LUKIS WAYANG KACA NAGASEPAHA SEBAGAI DAYA TARIK WISATA BERBASIS EKONOMI KREATIF
Nagasepaha glass painting is one of the differentiations owned by Nagasepaha village, because it has a uniqueness of the object. Having a typical painting technique with a decorative style and naturalism also painting in a reverse style. The development era of globalization generate competition for artists to continue to create innovative and adaptive works. However, there are problems from artists with lack of comprehension about digital marketing, sales, to marketing. Until there needs to be a development of Nagasepaha glass puppet painting to be more innovative and adaptive. This study aimed at : 1) To finding out the creative process of Nagasepaha glass painting, (2) To identify potential creative economy-based tourism attractions from Nagasepaha glass painting, (3) To analyze the development strategy of Nagasepaha glass painting based on creative economy. This research uses a qualitative type of research with a case study approach. Data collection through literature study, observation, interviews, and documentation. Using the SWOT analysis method. The result of this research is that the creative process of Nagasepaha glass painting is quite developed, because there are encouraging factors, namely internal and external factors. Until there are potentials contained with the existence of glass paintings starting from the welfare of artists, communities and Nagasepaha village