Jurnal STAHN MPU Kuturan Singaraja
Not a member yet
1996 research outputs found
Sort by
EKSISTENSI PASRAMAN PURWA DHARMA 7 SEBAGAI PENDIDIKAN NON FORMAL DI PURA HYANG DHARMA DESA SUKOREJO KECAMATAN BANGOREJO
Penelitian ini dilatar belakangi oleh keterbatasan jumlah guru yang mengajar di sekolah formal menyebabkan pendidikan agama hindu yang didapatkan di sekolah belum maksimal. Berdasarkan data KKG agama Hindu jumlah guru agama hindu di kecamatan Bangorejo hanya empat orang. Dengan keterbatasan tersebut maka materi yang diberikan juga terbatas. Keterbatasan materi yang didapatkan oleh siswa perlu diberikan tambahan – tambahan materi, terutama berkaitan dengan yang belum didapatkan di bangku pendidikan formal terutama dalam upaya meningkatkan sradha dan bhakti umat hindu. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan Pasraman Purwa Dharma 7 beralamatkan di Pura Hyang Dharma Desa Sukorejo Rt 002 Rw 005 Kecamatan Bangorejo Kabupaten Banyuwangi merupakan pasraman non formal yang memiliki struktur kurikulum yang memuat empat mata pelajaran keagamaan Hindu yang terdiri atas: Veda, Seni dan Kebudayaan, Yoga dan Majajaitan. Akan tetapi, pada pasraman Purwa Dharma 7 kurikulum itu dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan dan kearifan lokal yang ada di Kabupaten Banyuwangi. Pasraman Purwa Dharma 7 sebagai pendidikan non formal masih tetap eksis dan memiliki beberapa fungsi secara garis besar yaitu pasraman digunakan sebagai wadah untuk pendewasaan diri dan mengembangkan karakter peserta didik atau sisya, digunakan sebagai media untuk mentransformasi budaya yang ada di kabupaten Banyuwangi, dan digunakan sebagai penyiapan sumber daya manusia yang beragama hindu yang unggul dan berkualitas. Eksistensi pasraman Purwa Dharma 7 di bidang pemerintahan diakui dengan diterbitkannya Tanda Daftar Lembaga. Selain itu dalam bidang keagamaan yaitu sikap religiusitas, disiplin, sopan santun dan kerja keras yang dimiliki para sisya semakin meningkatkan rasa sradha dan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, pada bidang Pendidikan dapat meningkatkan pemahaman tentang ajaran agama hindu serta bagaimana berperilaku menjadi umat hindu yang baik serta dapat memiliki keterampilan sebagai umat hindu yang berkompeten. Sedangkan di bidang keluarga dapat terlihat dengan adanya perubahan tingkah laku sisya kearah yang lebih baik lagi serta eksistensi pasraman Purwa Dharma 7 di bidang sosial terlihat dari aktifnya pasraman Purwa Dharma 7 dalam berbagai kegiatan baik dalam lingkup lingkungan umat sedharma maupun dalam lingkup kerukunan antar umat beragama baik dalam tingkat desa, kecamatan maupun dalam tingkat kabupaten
ANALISIS PELAKSANAAN PENILAIAN AUTENTIK DI SMA NEGERI 1 WAIGETE
ABSTRACTThis study aims to determine the implementation of authentic assessment at SMA Negeri 1 Waigete. This research was conducted for one month from 12 January to 12 February 2023. The research method used was descriptive qualitative. Data collection was carried out using questionnaires, interviews and documentation. Sources of data used in this study are primary data and secondary data. The research results obtained by the researchers indicate that all teachers have carried out authentic assessments. Teachers have used authentic assessment during the learning process which includes three aspects of competency, namely attitudes, knowledge, and skills, but there are still some teachers who do not understand authentic assessment. This is because there are still some teachers who have never attended training, there are many assessment indicators that require a lot of time, and the facilities and infrastructure are inadequate. Keywords: Authentic Assessment, Implementation
Ajaran Kepemimpinan menurut Teks Rajapati Gundala
Karya tulis yang berjudul Ajaran Kepemimpinan menurut Teks Rajapati Gundala menganalisa tentang konsep ajaran kepemimpinan yang perlu dipahami dan diketahui. Dengan memahami dan mengimplementasikan nilai ajaran kepemimpinan yang dijelaskan dalam Teks Rajapati Gundala, diharapkan dapat memberikan pengetahuan yang benar bagi seorang pemimpin yang berkualitas dan berkarakter. Tri Upaya Sandhi sebagai tiga upaya pemimpin dalam menghubungkan dirinya dengan rakyatnya menjadi konsep yang disampaikan dalam Teks Rajapati Gundala. Rupa, Wangsa, dan Guna menjadi acuan yang dititikberatkan dan harus dijalankan oleh seorang pemimpin. Dengan konsep ajaran ini, diharapkan dapat menjadi acuan dan pedoman bagi masyarakat dalam menentukan pemimpinnya, serta pemimpin yang terpilih dapat menjalankan tugas-tugas kepemimpinannya dengan baik. Adapun hal-hal yang dijelaskan dalam karya tulis ini diantaranya tentang konsep kepemimpinan Hindu, kepemimpinan dalam Teks Rajapati Gundala, dan Pemimpin yang berkualitas dan berkarakter
Pernikahan Beda Agama di Tinjau dari Perspektif Hukum dan Agama
Rumah tangga terbentuk karena adanya ikatan cinta kasih sepasang manusia yang disadari sepenuhnya oleh pasangan tersebut. Kesadaran tersebut diperlukan dalam memilih pasangan hidup yang tepat bagi setiap orang yang akan menikah. Permasalahan terjadi pada saat pasangan tersebut memiliki perbedaan keyakinan yang mana, keyakinan merupakan suatu fondasi awal dalam mengarungi bahtra rumahtangga. Cinta tidak dapat mengenal agama, ras dan golongan maupun status sosial seseorang. Hal ini sangat memungkinkan bagi setiap orang untuk mencintai pasangan yang berbeda agama yang di anut oleh seseorang. Namun konstitusi di Indonesia melindungi setiap orang untuk dapat memeluk agama dan kepercayaannya masing-masing sehingga pelaksanaan perkawinan ini sulit pelaksanaanya pada saat pasal 2 UU Perkawinan tahun 1974 hadir di tengah-tengah masyarakat untuk mengatur masyarakat Indonesia. Penelitian ini membahas bagaimana Agama Hindu mengatur Syarat dan Sahnya perkawinan menurut Hukum Agama Hindu dan UU No.1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan serta Tujuan perkawinan itu sendiri. Penelitian ini menggunakan metode normatif yang kemudian dideskripsikan dalam bentuk Tulisan. Dimana perkawinan harus memiliki pengakuan hukum yang tetap untuk menjamin kepastian hukum bagi pasangan yang me;akukan perkawinan. Kata Kunci : Perkawinan, Hukum Hindu, Sahnya perkawinan
KONSEP AJARAN CATUR WARNA DALAM LONTAR CANDRA BHAIRAWA
Di Bali ajaran agama Hindu banyak terdapat dalam lontar, salah satunya adalah Lontar Candra Bherawa, konsep ajaran yang terdapat didalamnya terkait ajaran catur warna, nilai-nilai ajaran catur warna merupakan empat pembagian profesi masyarakat berdasarkan guna dan karmanya, bukan berdasarkan pada keturunan atau kelas sosialnya di masyarakat, sehingga tidak terjadi kekeliruan mengenai pemahaman ajaran catur warna. Keempat golongan ini saling berkaitan dan membutuhkan satu dengan yang lainya, sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh. Untuk lebih mendalami ajaran catur warna dipilihlah Lontar Candra Bherawa, karena didalam teks ini terdapat ajaran catur warna. Dalam mengkaji Lontar Candra Bherawa mengunakan analisis deskritif kualitatif, dengan menganalisis teks secara objektif serta mendalam sehingga didapatkan makna yang dapat diinterpretasikan terkait ajaran catur warna. Masing-masing pembagian ajaran catur warna memiliki kewajiban pokok. Golongan brahmana mereka yang memiliki keunggulan kemampuan dibidang ilmu pengetahuan weda, golongan ksatrya mereka yang memiliki kemampuan dibidang memimpin pemerintahan, golongan sudra mereka yang memiliki kemampuan dibidang pertanian, dan golongan waisya mereka memiliki kemampuan dibidang melayani. Dengan adanya pembagian catur warna dapat memberikan kedamaian dan kemakmuran bagi masyarakat dan negara, sehingga tujuan mencapai jagadhita dan moksa dapat tercapai.Kata Kunci: Catur Warna, Lontar Candra Bhairaw
Implementasi Astangga Yoga Terhadap Pengendalian Diri
Yoga menekankan bagaimana individu dapan mengendalikan diri baik itu secara jasmani (badan/diri), rohani (pikiran) dan mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pengendalian diri dalam ajaran yoga dilakukan dengan berbagai cara. salah satu caranya tertuang dalam astangga yoga. Astangga yoga dapat diartikan sebagai delapan anggota tubuh yoga, meliputi: yama (pantangan), niyama (kebajikan pembantu), asana (sikap badan atau sikap-sikap meditasi), pranayama (pengendalian napas), pratyahara (penyaluran aktifitas mental), dharana (memusatkan pikiran), dhyana (meditasi atau perenungan), dan samadhi (keadaan perenungan paling dalam). Penelitian ini membahas terkait implementasi astangga yoga terhadap pengendalian diri. Adapun metode dalam penelitian ini yaitu penelitian kualitatif dengan pencatatan dokumen. Analisis data digunakan analiswsis dari Miles dan Huberman yaitu: (1) Reduksi data, (2) Penyajian data, (3) Penarikan kesimpulan dan verifikasi. Adapun hasil penelitian dalam penelitian ini adalah Implikasi Astangga Yoga Terhadap Pengendalian Diri sebagai yaitu (1) Yama pengendalian terhadap diri dari pengaruh-pengaruh kurang baik yang berasal dari dalam diri maupun dari luar; (2) Niyama memupuk kebiasaan-kebiasaan baik dari dalam diri; (3) Asana pengendalian pikiran dan melatih kosentrasi; (4) Pranayama mengendalikan hawa nafsu dalam diri dan emosi; (5) Pratyahara pengendalian dari pada panca indra; (6) Dharana mengendalikan pikiran terhadap pengaruh seperti sifat sattwam, rajas dan tamas; (7) Dhyana pengendalian diri sudah dapat terkontrol dengan baik; (8) Samadhi mulai merasakan tingkat kenyamanan spiritual yang paling tinggi. Kata kunci: Implikasi Astangga Yoga, Pengendalian Dir
EXAMINING THE CULTURAL SIGNIFICANCE OF WAYANG KEBO GRINGSING PATTERN IN TENGANAN PEGRINGSINGAN TRADITIONAL VILLAGE FROM TRI HITA KARANA PERSPECTIVE
Woven fabric is one of the results of community culture and is one of the crafts that still survive in the midst of society, especially in Bali. One of the woven fabrics that has prestige value in Bali and even Indonesia is woven fabric with double ikat technique known as gringsing woven fabric. Gringsing woven fabric is the result of the original culture of the Bali Aga people, namely the Tenganan Pegringsing an Traditional Village. One of the gringsing woven fabrics is the gringsing wayang kebo motif which is considered exclusive because the motif contained in the fabric sheet is inspired by the story of the Mahabharata epic. This research is a qualitative type of research that produces descriptive data. In general, gringsing fabric has three basic colors, namely white, black and red, which explicitly symbolize the beliefs of Balinese Hindus called the trinity of the main gods, namely Tri Murti (Brahma, Vishnu and Shiva). The wayang kebo motif has a more complicated pattern than the gringsing barak motif in general, this is because there is a composition of shapes and colors that can be considered perfect in terms of style and in terms of the manufacturing process is quite complicated. The patterns contained in this wayang kebo gringsing cloth are believed to be the concept of life of the Tenganan Pegringsing an community which boils down to the philosophy of Tri Hita Karana, which is visualized in 3 large pattern forms namely (1) Main Pattern, (2) Middle Pattern, (3) Edge Pattern.Keywords: Culture, Woven fabric, Gringsing wayang kebo, Tenganan Pegringsing an, Tri Hita Karana
KONSEP KETUHANAN DALAM TEKS PAMATĒLU BHAṬĀRA
In the realm of Siwa, Sadasiwa, and Paramasiwa, God is essentially one (Tunggal sira katon). From this unity, it indicates that God possesses the quality of Pinet (unattainable) and vice versa, which is Ketemu (attainable) not Pinet (Pinet tan katemu, katemu sira tan pinet). "Pinet" means cannot be reached, while "Tan Katemu" can be understood as cannot be held or captured. In other words, He can be perceived but cannot be fully reached. This demonstrates that the existence of the singular God has the function of moving and governing the existence of both the microcosm and macrocosm. However, when this singular God is within creatures, the unity of God itself is seemingly divided into three parts. To facilitate understanding of this concept, the text Pamatēlu Bhaṭāra provides a profound analogy to comprehend the unity of God, which is then classified into three perspectives.
Keyword: Divinity, Text, Pamatēlu Bhaṭār
PENGUATAN NILAI MODERASI BERAGAMA MELALUI AJARAN AGAMA HINDU
Indonesia is a nation consisting of people with a diversity of cultures, religions, races, languages, ethnicities, traditions and others. The people are close to religious life and every religious activity is protected by the constitution. As the first precept in Pancasila which explains "Belief in the One and Only God" shows that this country practices the principles and values of religion that are recognized in Indonesia. Every adherent of a religion has its own truth values and teachings, behind the plurality that is owned it is necessary to maintain harmony without having to demean other religions, this is a challenge for the government in realizing harmony behind diversity. The concept of moderation is the solution in realizing a nation that is peaceful, full of tolerance and harmony. In this case Hinduism as one of the recognized religions in Indonesia has religious teachings that are relevant to the values of religious moderation. Where is the teaching of tolerance in Hinduism which prioritizes humanity in people's lives, apart from that the concept of ahimsa which emphasizes compassion as a form of implementing non-violence values, as well as the concept of yama brata as a teaching that gives understanding to people to control themselves so they can carry out the principles contained in this nation and the teachings of tattwan asi which lead humanity to the universal family. Hindu religious teachings are able to strengthen the value of religious moderation so it is important to implement it in religious life. Keywords: strengthening the value of religious moderation, Hindu religious teachings