UNES Law Review (Universitas Ekasakti Padang)
Not a member yet
2034 research outputs found
Sort by
Perlindungan Hukum Kreditur Selaku Penerima Fidusia Atas Jaminan Fidusia Berupa Truk yang Disita Untuk Negara (Studi Putusan Pengadilan Tanjung Redeb Nomor:9/PDT.BTH/2019/PN.TNR)
A number of regulations include legal protection for legal subjects, both preventive and enforcement, which can be in the form of written or unwritten regulations. In the context of selling objects used as fiduciary collateral, creditors can be legally protected if the state confiscates the object. Fiduciary, essentially, involves transferring ownership rights to an item in the belief that the owner of the item will retain control of it. However, the state can confiscate items that are the subject of fiduciary guarantees if they are used for unlawful activities. Attention to this matter is important for finance companies which may experience losses due to state confiscation of objects used as fiduciary collateral
Pembaruan Hukum Perdata sebagai Upaya Meningkatkan Keadilan Gender
The reform of civil law plays a crucial role in guiding society towards better gender justice. This article investigates the impact of civil law reform on women\u27s empowerment and the enhancement of gender equality across various aspects of life. The primary focus involves analyzing legal changes aimed at addressing gender disparities in civil rights, property ownership, and family responsibilities. The discussion includes evaluating the impact of civil law reform on traditional structures that may limit women\u27s roles. Additionally, this article highlights concrete steps taken to provide stronger legal protection for women, encouraging active participation in social and economic life. Through an interdisciplinary approach, the article also reviews the psychological and social impacts of civil law reform on societal perceptions of gender roles. Thus, the author argues that civil law reform is not only about legal reform but also a critical step towards a more just and equal society. In conclusion, civil law reform is not merely a legal necessity but also a catalyst for profound social change. This article hopes to stimulate further discussion on how legal efforts can continue to promote gender equality within a broader legal framework
Pelaksanaan Precautionary Principle Dalam Menterjemahkan Pembangunan Berkelanjutan Analisis Kritis Putusan Kasus Kasus Perdata Mandalawangi Garut dan Kalista Alam Meulaboh Aceh
Sustainable Development is one of the environmental principles to achieve which cannot be separated from the implementation of other environmental principles. One of the most important principles to be implemented so that the goal of sustainable development, where future generations can enjoy the right to a good environment, is to be careful in using the natural resources we have now. In practice, the precautionary principle is often violated by maladministration in the issuance of permits. If a pollution has occurred, the judge becomes one of the pillars in terms of efforts to obtain compensation to make the maximum possible repairs for the losses created
Perlindungan Hukum Terhadap Pemilik Hak Terkait Atas Hak Cipta Yang Karya Lagunya Digunakan Tanpa Izin Pada Aplikasi Tiktok (Studi Kasus PT Digital Rantai Maya dan Tiktok PTE., Ltd)
Law Number 28 of 2014 concerning Copyright not only protects the rights of creators or their creations, but also protects the rights of people who display or distribute a work to the public, which are called Related Rights. Phonogram producers as holders of related rights have economic rights to their sound recordings, but it is not impossible that there will be violations of related rights to copyright, as happened between PT Digital Chain Maya and TikTok Pte., Ltd. This research will discuss how legal protection is for owners of related rights for copyright whose song works are used without permission on the Tiktok application and what forms of accountability can be carried out by TikTok to owners of related rights for copyright whose song works are used without permission on the Tiktok application. . This research uses descriptive normative legal research methods. Based on the research results, it is concluded that the Copyright Law has provided legal protection for Related Rights owners whose song works are used without permission in the TikTok application, as stated in Article 24 paragraph (4) and also legal protection from the agreement between the Related Rights owners and TikTok. The form of responsibility from TikTok to the owners of Related Rights whose song works are used without permission on its services is in the form of economic responsibility, namely by providing appropriate compensation
Analisis Strategi Pengamanan Objek Vital Nasional Studi Kasus: Kota Tua Jakarta
Based on the Decision of the Minister of Tourism of the Republic of Indonesia Number KM.70/UM. 001/MP/2016 regarding the Determination of National Vital Objects in the Tourism Sector, the Kota Tua tourist area has been designated as a National Vital Object. As one of the national vital objects, it certainly requires security strategies to protect historical artifacts, tourists, and individuals working in Kota Tua. Unfortunately, cases of crimes such as ATM theft, pickpocketing, and impersonation of police officers still occur. These security disturbances can create feelings of insecurity for individuals in the Kota Tua area. One security strategy that can be applied is the concept of crime prevention through environmental design (CPTED). The metode used in this research is a qualitative approach with descriptive research. Data collection is done through observation, interviews, and literature studies. This research will be conducted in Kota Tua, West Jakarta. The results of this study indicate that the Kota Tua Management Unit has implemented crime prevention through environmental design with three component which is access control, surveillance, and territoriality, despite some shortcomings.Berdasarkan Keputusan Menteri Pariwisata Republik Indonesia Nomor KM.70/UM. 001/MP/2016 tentang Penetapan Obyek Vital Nasional di Sektor Pariwisata, Kawasan wisata Kota Tua telah ditetapkan sebagai Objek Vital Nasional. Sebagai salah satu objek vital nasional, tentu saja diperlukan strategi pengamanan untuk melindungi peninggalan benda bersejarah, wisatawan, maupun individu yang bekerja di Kota Tua. Sayangnya, masih terjadi kasus-kasus kejahatan seperti pembobolan ATM, pencopetan, dan polisi gadungan. Gangguan keamanan tersebut dapat menimbulkan perasaan tidak aman bagi individu yang ada di kawasan Kota Tua. Salah satu strategi pengamanan yang dapat diterapkan adalah konsep strategi pencegahan kejahatan melalui desain lingkungan atau crime prevention through environmental design (CPTED). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dan studi literatur. Penelitian ini akan dilaksanakan di Kota Tua, Jakarta Barat. Hasil penelitian ini menunjukan Unit Pengelola Kota Tua Sudah menerapkan crime prevention through environmental design dengan tiga komponen yaitu kontrol akses, pengawasan, dan teritorialitas meskipun terdapat beberapa kekurangan
Akibat Hukum Cessie Tanpa Adanya Pemberitahuan Dan Persetujuan Debitur
Pengalihan Hak Tagih (Cessie) yang dilakukan tanpa persetujuan Penggugat merupakan perbuatan melawan hukum. Dalam kasus ini Tergugat II mengalihkan hak tagih (Cessie) terhadap Tergugat I atas hutang Pengguat ke Bank Duta yang setelah dilikuidasi dialihkan kepada BPPN dan setelah BPPN bubar dialihkan kepada Tergugat II tanpa persetujuan atau pemberitahuan kepada Penggugat selaku debitur. Pokok permasalahan dalam penelitian ini adalah apakah pengalihan hutang (cessie) wajib diberitahukan kepada debitur?bagaimana akibat hukum terhadap cessie apabila cessie dilakukan tanpa pemberitahuan dan persetujuan debitur berdasarkan Kuhperdata?. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui Kedudukan Pengalihan Hutang (levering), bentuk pengalihan hutang (cessie) berdasarkan Kuhperdata, pemberitahuan pengalihan hutang (cessie) dan akibat hukum terhadap cessie apabila cessie dilakukan tanpa pemberitahuan dan persetujuan debitur berdasarkan Kuhperdata
Tindak Pidana Ringan dan Pengaturannya dengan Pendekatan Restorative Justice
Humans have been interacting with other people in what is known as civilization since they were born. He first communicated with his parents, and as he grew older, he lived in a society where people interacted with each other. Humans become aware of the fact that certain individuals in a society follow laws that govern their lives. A set of principles and guidelines that govern interactions between humans and society. In general, law plays an important role in social life because it guarantees legal certainty, as well as being a guide to justice, order, peace and order
Dinamika Permasalahan Ahli Waris dalam Penyerahan Protokol Notaris Meninggal Dunia
Notaris secara yuridis dilandasii berdasarkan UU RI No. 2 Tahun 2014 yang mengubah UU No. 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris. Salah satu ketentuan penting adalah Pasal 35 ayat (1) yang mengharuskan keluarga notaris yang meninggal untuk memberitahukan Majelis Pengawas Daerah (MPD). Namun, prosedur penyerahan protokol notaris tidak diatur rinci, menyebabkan kekosongan hukum dan potensi masalah seperti kerusakan atau penyalahgunaan dokumen. Ahli waris seringkali kurang memahami kewajiban mereka, sehingga dapat mengakibatkan kerugian hukum dan administrasi. Ketentuan ini perlu diperjelas untuk memastikan keamanan dan kelancaran penyerahan protokol notaris. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif dengan mengacu kepada aspek hukum positif yang berlaku di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tanggungjawab ahli waris menurut Pasal 35 ayat (1) UUJN wajib memberitahukan MPD tentang meninggalnya notaris, sehingga ahli waris mengambil alih tanggung jawab notaris. Ini berarti ahli waris tidak hanya mewarisi harta benda tetapi juga tanggung jawab dan kewajiban profesi notaris. Pasal 63 ayat (2) UUJN mengatur penyerahan Protokol Notaris oleh ahli waris kepada notaris lain yang ditunjuk MPD. Ahli waris bertanggung jawab menjaga kelangsungan praktek notaris, memastikan aksesibilitas dokumen, dan menjamin keamanan dokumen Protokol Notaris. Penyerahan protokol harus dilakukan sesuai ketentuan hukum. Ahli waris bekerja sama dengan MPD dan notaris baru untuk menjaga keutuhan dan aksesibilitas dokumen penting ini, memberikan kepastian hukum dan melindungi hak-hak pihak yang terlibat dalam perbuatan hukum. Protokol Notaris harus disimpan dengan baik meskipun notaris pensiun atau meninggal dunia, sesuai Pasal 65 UUJN. Notaris bertanggung jawab atas setiap akta yang dibuatnya seumur hidup, bahkan setelah protokol diserahkan ke penerima protokol. Penyerahan protokol oleh ahli waris wajib dilaporkan ke Majelis Pengawas Daerah (MPD) dalam 7 hari kerja. Protokol harus diserahkan ke notaris penerima dalam 30 hari dengan berita acara. Jika notaris meninggal saat cuti, Pejabat Sementara Notaris menyerahkan protokol dalam 60 hari. Prosedur ini memastikan tanggung jawab beralih ke notaris penerima protokol, melibatkan ahli waris, MPD, dan pejabat sementara notaris, serta menghindari masalah hukum dan administrasi terkait dokumen notaris
Analisis Viktimisasi Struktural Terhadap Eksploitasi Anak Sebagai Pedagang Asongan di Ruang Publik Kreatif Jakarta
Anak sebagai pedagang asongan menjadi salah satu fenomena yang paling sering ditemui di beberapa lokasi Ruang Publik Kreatif (RPK) di Jakarta. Mayoritas mereka memilih untuk bekerja sebagai pedagang asongan dilatar belakangi oleh kondisi ekonomi yang mencapai tahap kemiskinan, sehingga bekerja dengan berdagang diharapkan dapat membantu mereka untuk memenuhi kehidupan diri sendiri dan keluarga. Meskipun dilatar belakangi kondisi ekonomi, namun perilaku anak sebagai pedagang asongan merupakan hal yang melanggar hukum dan peraturan, terutama peraturan daerah DKI Jakarta karena dianggap tidak memenuhi kriteria kesejahteraan anak. Anak menjadi pedagang asongan dapat dikategorikan dalam viktimisasi struktural jika mengalami penyalahgunaan kekuasaan seperti eksploitasi, diskriminasi, dan penindasan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dan pendekatan kualitatif. Dalam melakukan analisis, peneliti menggunakan konsep viktimisasi struktural oleh Ezzat Fattah yang berasa dari teori viktimologi. Pengumpulan data penelitian dilakukan dengan cara studi pustaka, wawancara serta observasi. Hasil penelitian menunjukkan, keempat subjek dalam penelitian ini mengalami viktimisasi struktural sebagai anak yang menjadi pedagang asongan di RPK Jakarta dengan analisis menggunakan empat faktor struktural yang diidentifikasi oleh Cameron dan Newmann yaitu, faktor ekonomi, faktor sosial, faktor ideologi, dan faktor geopolitik. Faktor-faktor ini turut menjadikan anak sebagai posisi rentan untuk dapat dieksploitasi oleh orang dewasa sebagai pekerja, salah satunya dengan menjadi pedagang asongan
Prinsip Exclusionary Rules of Evidence dalam Pembuktian Tindak Pidana Narkotika
Berdasarkan data yang dihimpun melalui situs resmi Badan Narkotika Nasional atau BNN jumlah kasus tindak pidana narkotika secara keseluruhan pada tahun 2021 berada pada angka 766 (tujuh ratus enam puluh enam) kasus. Jumlah tersebut juga didukung dengan total penyitaan aset sebanyak Rp 1.093.432.187.988, 00 (satu triliun sembilan puluh tiga milyar empat ratus tiga puluh dua juta seratus delapan puluh tuju ribu sembilan ratus delapan puluh delapan rupiah). Banyaknya kasus tindak pidana narkotika di Indonesia ditambah dengan rumitnya proses pembuktian terhadap tindak pidana narkotika membuat tidak jarang terjadi adanya penyalahgunaan wewenang berkaitan dengan perolehan alat bukti. Undang-Undang Narkotika di Indonesia menganut asas Strict Liability yang dalam hal ini proses pembuktian hanya terbatas pada actus reus dari pelaku yang kemudian disesuaikan dengan unsur yang terkandung dalam Undang-Undang Narkotika. Hal tersebut membuat adanya tindakan-tindakan penyidik yang memperoleh alat bukti secara melawan hukum yang kemudian dituduhkan tanpa dasar yang jelas kepada pelaku. Proses perolehan alat bukti inilah yang akan dibahas di dalam penelitian ini dan bagaimana hukum positif mengaturnya. Hasil penelitian ini adalah adanya kekosongan hukum berkaitan dengan penerapan asas Exclusionary Rules of Evidence sehingga terdapat kerancuan bagi hakim untuk mengesampingkan alat bukti maupun barang bukti yang dianggap didapat secara melawan hukum. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa praktek penerapan prinsip Exclusionary Rules of Evidence dalam hukum positif Indonesia yang dilakukan dengan pendekatan perundang-undangan, pendekatan kasus, dan perbandingan hukum positif di negara lain. Hasil dari penelitian ini adalah pentingnya untuk menerapkan prinsip Exclusionary Rules of Evidence dalam hukum positif di Indonesia, terlebih dalam hukum formil