Journals of Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Not a member yet
    2187 research outputs found

    ANALISIS KLASTER: KARAKTERISTIK, KANDUNGAN ZAT GIZI, DAN SENYAWA AKTIF EXTRA VIRGIN OLIVE OIL DI SUPERMARKET

    Get PDF
    Latar Belakang. Kandungan zat gizi extra virgin olive oil (EVOO) memiliki banyak manfaat untuk kesehatan manusia. Beberapa manfaat antara lain sebagai imunomodulator, mencegah penyakit jantung dan vaskuler lainnya, mencegah penyakit alergi, memperbaiki fungsi liver, dan mencegah penyakit lainnya. Kandungan zat gizi tiap merek EVOO tidak sama, ditentukan oleh banyak faktor. Tujuan. Penelitian ini bertujuan menganalisis klaster berdasarkan karakteristik kimiawi, kandungan zat gizi, dan senyawa aktif pada tujuh sampel produk EVOO dari supermarket. Metode. Desain deskriptif digunakan dalam penelitian ini. Pengumpulan tujuh sampel produk EVOO di supermarket wilayah Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta dilakukan pada bulan Maret 2019. Pemeriksaan sampel produk EVOO dilakukan di Laboratorium Balai Besar Industri Agro (BBIA) Kementerian Perindustrian dan Laboratorium Biofarmaka dan Lembaga Penelitian Pengabdian Masyarakat (LPPM) Institut Pertanian Bogor (IPB). Analisis yang digunakan adalah analisis klaster melalui pendekatan hierarchical method. Hasil. Berdasarkan karakteristik kimiawi, ditemukan bahwa sampel produk EVOO ke-6 memiliki karakteristik kimiawi paling berbeda. Sampel produk EVOO ke-4 memiliki kandungan asam lemak jenuh paling berbeda. Kandungan asam lemak tak jenuh pada sampel produk EVOO ke-1, 3, dan 7 mendekati kesamaan. Kandungan vitamin E pada sampel produk EVOO ke-2 dan kandungan zat besi pada sampel produk EVOO ke-6, berbeda dengan sampel produk EVOO lainnya. Kandungan total flavonoid pada sampel produk EVOO ke-2, 3, dan 4, memiliki kadar mendekati kesamaan. Kandungan total karotenoid pada sampel produk EVOO ke-2 dan ke-6 juga memiliki kadar mendekati kesamaan. Kesimpulan. Karakteristik kimiawi pada semua sampel produk EVOO yang ditemukan dalam penelitian memiliki nilai hampir sama. Sampel produk EVOO di supermarket memiliki perbedaan kandungan asam lemak tak jenuh, total flavonoid, dan total karotenoid

    KUALITAS BAKTERIOLOGIS MINUMAN THAI TEA PINGGIR JALAN: STUDI KASUS EMPAT KECAMATAN SEKITAR KAWASAN INSTITUT TEKNOLOGI SUMATERA DI PROVINSI LAMPUNG

    Get PDF
    ABSTRACT Beverages that are widely sold on the roadside are very easily contaminated by various types of bacteria that are harmful to health. This study aims to detect the presence of bacteria in Thai tea drinks sold on the roadside along the Sumatran Institute of Technology (ITERA) area. The research design was cross-sectional using a descriptive approach which was carried out in October 2019. Detection of bacteria using specific medium Desoxycholate Lactose Sucrose (DCLS) and Cystine Lactose Electrolyte Deficient (CLED) from 25 samples located in 4 villages around the ITERA area. A total of 25 samples were tested, all Thai tea samples were contaminated with bacteria and did not qualify as a drink fit for consumption. Thai tea from Tanjung Happy (TS) District has the highest Enterobacteriaceae contamination, namely 55-65x104 cfu/ml, namely Klebsiella sp. (30x105 cfu/ml), E. coli (15x105 cfu/ml), Salmonella sp. (15x105 cfu/ml) and Proteus sp. (15x105 cfu/ml). The presence of these bacteria is an early indication of the potential for disease and the seller's lack of personal hygiene which includes water sources and raw materials for making Thai tea. Therefore, knowledge to sellers regarding overall cleanliness needs to be improved. Keywords: Beverages, bacteria Contaminant, Lampung Province, Thai tea   ABSTRAK Berbagai jenis minuman yang banyak dijual dipinggir jalan sangat mudah terkontaminasi oleh berbagai jenis bakteri yang membahayakan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi keberadaan bakteri dalam minuman Thai tea yang dijual dipinggir jalan sepanjang kawasan Institut Teknologi Sumatera (ITERA). Disain penelitian adalah potong lintang menggunakan pendekatan deskriptif yang dilakukan pada bulan Oktober 2019. Deteksi bakteri menggunakan medium spesifik Desoxycholate Lactose Sucrose (DCLS) dan Cystine Lactose Electrolyte Deficient (CLED) dari 25 sampel yang berada di 4 kelurahan di sekitar wilayah ITERA. Sebanyak 25 sampel yang diuji, seluruh sampel Thai tea terkontaminasi oleh bakteri dan tidak memenuhi syarat sebagai minuman layak konsumsi. Thai tea yang berasal dari Kecamatan Tanjung Senang (TS) memiliki cemaran Enterobacteriaceae tertinggi yaitu 55-65x104 cfu/ml, yaitu Klebsiella sp. (30x105 cfu/ml), E. coli (15x105 cfu/ml), Salmonella sp. (15x105 cfu/ml) dan Proteus sp. (15x105 cfu/ml). Keberadaan bakteri ini merupakan indikasi awal adanya potensi munculnya penyakit dan rendahnya kebersihan pribadi penjual yang melingkupi, sumber air dan bahan baku pembuatan Thai tea. Pengetahuan penjual terkait kebersihan secara keseluruhan perlu ditingkatkan. Kata kunci: Minuman, bakteri kontaminan, Provinsi Lampung, Thai te

    FRONT MATTER JURNAL EKOLOGI KESEHATAN VOL 20 NO.1 TAHUN 2021

    No full text
    FRONT MATTER JURNAL EKOLOGI KESEHATAN VOL 20 NO.1 TAHUN 202

    PENGARUH ELISITOR KITOSAN TERHADAP KANDUNGAN WITHANOLID TUNAS IN VITRO AKSESI TANAMAN Physalis angulata DARI PULAU MADURA

    Get PDF
    ABSTRACT Chitosan is often applied to in vitro culture systems to induce the biosynthesis of a plant's secondary metabolites. The accumulation and profile of secondary metabolites of the same plant species growing in different environments can vary. This study aims to identify and measure withanolide compounds of in vitro shoots of Physalis angulata accessions. Samples obtained from three regions in Madura Island, namely Sampang (A1), Sumenep (A2 and A4), and Pamekasan (A5). Withanolide compounds of in vitro shoots derived from different types of explants after treated with chitosan were also identified and measured. In vitro nodal and apical shoot explants were used for shoot induction on MS medium + BAP 2 mg/L + 0.05 mg/L IAA. In vitro shoots were elicited for six weeks in the shoot induction medium supplemented with 125 mg/L chitosan. Subsequently, in vitro culture of shoots regenerated from explants of nodal (B) and apical shoots (C) without (B1) and with (B2 and C) elicitation of chitosan were extracted and analyzed by HPLC to detect and measure the withanolide compounds. In vitro shoot extracts from all regions contained 38 types of withanolide compounds. The level of the withanolide compound in each region was different. Chitosan increased withanolide levels in vitro shoots regenerated from nodal explant A1, A2, and A4. The withanolide level in vitro shoot regenerated from apical shoot explants A1 and A4 were higher than that in A2 and A5. These results indicated that the in vitro shoots of P. angulata plant accession in Sampang, Sumenep, and Pamekasan had different levels of withanolide. Chitosan was able to increase the accumulation of withanolide compounds in vitro shoots of P. angulata. The types of explants showed different responses in the synthesis and accumulation of withanolide. This study showed that in vitro systems can be used to produce P. angulata plants and increase the level of withanolides compounds. These results indicated that the use of the in vitro system was able to supply P. angulata and withanolide production to support  the supply of traditional medicine raw material. Keywords: accession, chitosan, elicitor, Physalis, withanolides ABSTRAK Elisitor kitosan sering digunakan pada tanaman untuk menginduksi biosintesis senyawa metabolit sekunder secara in vitro. Akumulasi dan profil senyawa metabolit sekunder spesies tanaman sama yang tumbuh di lingkungan berbeda dapat bervariasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengukur senyawa withanolid pada tunas in vitro aksesi Physalis angulata yang diperoleh dari tiga wilayah di Pulau Madura, yaitu Sampang (A1), Sumenep (A2 dan A4) dan Pamekasan (A5). Senyawa withanolid pada tunas in vitro yang berasal dari jenis eksplan yang berbeda setelah dielisitasi dengan kitosan juga diidentifikasi dan diukur. Eksplan nodus dan tunas apikal in vitro digunakan untuk induksi tunas pada medium MS + BAP 2 mg/L + IAA 0,05 mg/L. Tunas in vitro dielisitasi selama enam minggu di medium induksi tunas yang ditambah dengan kitosan 125 mg/L. Selanjutnya kultur tunas in vitro hasil regenerasi eksplan nodus (B) dan tunas apikal (C) tanpa (B1) dan dengan (B2 dan C) elisitasi kitosan diekstrak dan dianalisis dengan HPLC untuk mendeteksi dan mengukur senyawa withanolidnya. Ekstrak tunas in vitro dari semua wilayah mengandung 38 jenis senyawa withanolid. Jenis withanolid yang sama menunjukkan kadar yang berbeda di setiap wilayah. Kitosan meningkatkan rata-rata kadar withanolid tunas in vitro hasil regenerasi eksplan nodus dari wilayah A1, A2 dan A4. Tunas in vitro hasil regenerasi eksplan tunas apikal setelah elisitasi menunjukkan kadar withanolid lebih tinggi pada aksesi A1 dan A4, tetapi lebih rendah pada aksesi A2 dan A5. Pada penelitian ini diketahui bahwa tunas in vitro setiap aksesi dari setiap wilayah di Pulau Madura memiliki kadar withanolid yang berbeda. Elisitor kitosan mampu meningkatkan akumulasi senyawa withanolid pada tunas in vitro P. angulata. Jenis eksplan memberikan respons berbeda pada sintesis dan akumulasi withanolid. Hasil ini menunjukkan bahwa pemanfaatan sistem in vitro berpeluang untuk penyediaan bahan tanam P. angulata maupun produksi withanolid dalam rangka mendukung penyediaan bahan baku jamu.   Kata kunci: aksesi, elisitor, kitosan, Physalis, withanolid &nbsp

    KUALITAS HIDUP PASIEN BATU SALURAN KEMIH YANG MENGGUNAKAN RAMUAN JAMU DI KLINIK JEJARING SAINTIFIKASI JAMU

    Get PDF
    ABSTRACT Urinary tract stone (UTS) is a condition caused by stone formation throughout the urinary tract which can lead to pain, bleeding, and infection.  UTS affects the quality of life (QoL), both in the short and long term. This study was conducted to assess QoL of a patient with UTS that using urolithiasis jamu potion therapy (treated group) compared to a patient who used existing jamu extract (control group). The study was conducted in the clinic “Saintifikasi Jamu” network during March-December 2017, using a QoL questioner (SF-36). The sampling method used purposive randomized open-label, end blinded observation. After randomization, respondents who had signed informed consent and matched the inclusion criteria were women and men aged 17 to 60 years, patients with UTS of size <2 cm with no impairment of kidney and liver function. There were 97 patients in each group. SF-36 measurements were carried out at day 0, 28, and 56. Data were analyzed using SPSS, different tests using the Mann-Whitney Test. A total of 191 respondents followed the study with 97 people in the simplicia group and 94 people in the control group. The control group showed an increase in mean SF-36 score by 20.03% on 56th day, compared to 14.58% in the control group. There was no significant difference of the mean SF-36 score between treated and control group (p>0.05). Significant differences of mean SF-36 score were observed between before and after therapy in each group (p=0.012). Jamu potion can improve the quality of life of patients with urinary tract stones comparable to herbal extract available in market. Keywords: jamu, quality of life, SF-36, urolithiasis ABSTRAK Batu saluran kemih (BSK) adalah suatu kondisi yang disebabkan adanya batu di sepanjang saluran kemih yang dapat menimbulkan rasa nyeri, perdarahan, dan infeksi. BSK memberikan pengaruh terhadap kualitas hidup (Quality of Life [QoL]) pasien baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Penelitian ini dilakukan untuk menilai kualitas hidup pasien BSK yang menggunakan terapi ramuan jamu BSK dibandingkan dengan pasien yang menggunakan jamu ekstrak yang sudah beredar. Penelitian dilakukan di jejaring klinik Saintifikasi Jamu pada bulan Maret-Desember 2017, menggunakan kuesioner QoL (SF-36). Metode sampling menggunakan purposive randomized open label, end blinded observation. Subyek adalah responden yang telah mendatangani informed consent dan sesuai kriteria inklusi antara lain perempuan dan laki–laki usia 17 sampai 60 tahun, penderita BSK, ukuran BSK <2 cm dengan tidak ada gangguan fungsi ginjal dan liver.  Berdasarkan randomisasi diperoleh masing-masing 97 subyek untuk kelompok jamu dan 94 subyek untuk kelompok kontrol (jamu ekstrak). Pengukuran SF-36 dilakukan pada hari ke-0, hari ke-28 dan hari ke-56. Data dianalisis menggunakan SPSS, uji beda menggunakan Mann-Whitney Test. Pada kelompok jamu mengalami peningkatan rerata skor SF-36 20,03% dan pada kelompok kontrol hanya sebesar 14,58% pada hari ke-56.  Tidak ada perbedaan rerata skor SF-36 antara kelompok jamu dan kontrol (p>0,05). Terdapat perbedaan bermakna rerata skor SF-36 antara sebelum dan sesudah perlakuan intervensi pada tiap kelompok (p=0,012). Ramuan jamu dapat meningkatkan kualitas hidup pasien batu saluran kemih sebanding dengan jamu ekstrak yang beredar di pasaran. Kata kunci: batu saluran kemih, jamu, kualitas hidup, SF-36 &nbsp

    Peran Tikus Got (Rattus norvegicus) dari kelompok tikus dan suncus sebagai Penular Utama Leptospirosis di Kota Semarang

    Get PDF
    ABSTRACT Semarang city is one of leptospirosis endemic area in Central Java Province and the disease is always found annualy with its mortality rate had tendency to increase. The Case Fatality Rate (CFR) in the period 2014-2018 increased from 18% to 25%. Rodents, especially rats are the most important reservoir and a maintenance host. A survey was conducted in Semarang city from March to November 2016. Rats was trapped twice and their kidneys were tested for Leptospira by using PCR. Kidneys containing leptospira were then examined by sequencing. Trap success in Jangli was 15,41% consisting of R. norvegicus, R. tanezumi and insectivora S. murinus. The success trap in Gajahmungkur was 35,89% including Bandicota indica, Rattus norvegicus, Rattus tanezumi and insectivora Suncus murinus. Positive Leptospira was found in Jangli Village (38,09%) and Gajahmungkur Village (56,25%) The positive leptospira were from B. indica, R. norvegicus and R. tanezumi. Result of the sequencing revealed that nine from 17 sample homolog with pathogenic leptospira. Among rat populations, especially norway rats are specific serovar maintenance host in the region and are proved to carry a pathogenic Leptospira bacteria. ABSTRAK Kota Semarang merupakan salah satu daerah endemis leptospirosis dan penyakit tersebut selalu ditemukan setiap tahun dengan angka kematian yang cenderung meningkat. Pada periode 2014–2018 angka kematian leptospirosis meningkat dari 18% menjadi 25%. Tikus merupakan reservoir paling penting dan merupakan maintenance host Leptospira. Survei dilakukan di Kota Semarang yakni di daerah Kelurahan Jangli dan Kelurahan Gajahmungkur pada bulan maret-november 2016. Penangkapan tikus dilakukan sebanyak 2 kali dan diambil sampel ginjal untuk pemeriksaan Leptospira dengan Polymerase Chain Reaction (PCR). Ginjal dengan hasil PCR positif Leptospira dilanjutkan dengan tahapan sekuensing. Keberhasilan penangkapan tikus di Jangli 15,41% dengan spesies Rattus norvegicus, Rattus tanezumi dan Suncus murinus. Keberhasilan penangkapan tikus di Gajahmungkur 35,89% dengan spesies tikus Bandicota indica, Rattus norvegicus, Rattus tanezumi dan Suncus murinus. Positif Leptospira ditemukan di Kelurahan Jangli (38,09%) dan Kelurahan Gajahmungkur (56,25%). Hasil pemeriksaan PCR positif berasal dari spesies Bandicota indica, Rattus norvegicus dan Rattus tanezumi. Hasil sekuensing menunjukkan bahwa 9 dari 17 sampel mempunyai hubungan kekerabatan dengan Leptospira patogenik. Diantara populasi tikus, khususnya tikus got merupakan maintenance host serovar tertentu di wilayah tersebut dan terbukti membawa bakteri Leptospira patogenik. &nbsp

    Malaria pada Kelompok Wanita Usia Subur dan Anak di Indonesia: Analisis Data Riskesdas 2013

    Get PDF
     ABSTRACT Infants, toddlers, and pregnant women are high-risk groups that often experience deaths from malaria. Difficulty in accessing health services is one of the contributing factors, besides poverty, expensive health costs, lack of health workers, and limited health facilities. This study aims to look at the relationship between socio-economic factors, distance, environment, and community behavior with malaria incidence. This type of research is non-intervention observation with a cross-sectional design description and approach. The study population is all malaria-endemic areas in Indonesia, while a sample of all selected households in the census block (BS). The dependent variable is the incidence of malaria in children 0-14 years and women of childbearing age (WUS), the independent variable is the respondent's characteristics, preventative behavior, environment, and access to health services. The results of the linear regression analysis of the characteristics (age, education, and occupation) of WUS and children aged 0-14 years plus the sex of the child to the incidence of malaria showed a significant relationship. The results of the analysis of prevention behavior towards malaria-borne mosquito bites and the availability of health care facilities in the WUS group were almost all significant variables with the incidence of malaria. While the results of the analysis of prevention behavior against malaria-transmitted mosquito bites such as using the mosquito nets, repellent, and insect spray and then availability of health care facilities for children aged 0-14 years for the presence of health centers / auxiliary health centers and poskesdes / poskestren are significant.  ABSTRAK Bayi, anak balita dan ibu hamil adalah kelompok risiko tinggi yang sering mengalami kematian akibat malaria. Kesulitan akses pelayanan kesehatan merupakan salah satu faktor penyebabnya, disamping kemiskinan, biaya kesehatan yang mahal, kurangnya tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan yang masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan faktor sosial ekonomi, jarak, lingkungan dan perilaku masyarakat dengan kejadian malaria. Jenis penelitian observasi non intervensi dengan desain deskripsi   dan   pendekatan   potong   lintang.   Populasi   penelitian   seluruh masyarakat daerah endemis malaria di Indonesia, sedangkan sampel seluruh rumah tangga yang terpilih di blok sensus (BS). Variabel terikat yaitu kejadian malaria pada anak 0-14 tahun dan wanita usia subur (WUS), variabel bebas yaitu karakteristik responden, perilaku pencegahan, lingkungan dan akses pelayanan kesehatan. Hasil analisis regresi linier terhadap karakteristik (umur, pendidikan dan pekerjaan) pada WUS dan anak usia 0-14 tahun ditambah dengan jenis kelamin anak terhadap kejadian malaria menunjukkan hubungan yang signifikan. Hasil analisis perilaku pencegahan terhadap gigitan nyamuk penular malaria dan ketersediaan fasilitas pelayanan kesehatan pada kelompok WUS hampir semua variabel bermakna signifikan dengan kejadian malaria. Hasil analisis perilaku pencegahan terhadap gigitan nyamuk penular malaria seperti penggunaan kelambu tidur, pemakaian repelen dan penggunaan obat semprot serangga serta ketersediaan fasilitas pelayanan kesehatan pada anak usia 0-14 tahun untuk variabel keberadaan puskesmas/puskesmas pembantu dan poskesdes/poskestren bermakna signifikan

    BACK MATTER SEL JURNAL PENELITIAN KESEHATAN VOLUME 8 NOMOR 1, JULI 2021

    No full text

    PEMBERIAN OBAT PENCEGAHAN SECARA MASSAL (POPM) DALAM PENANGGULANGAN FILARIASIS DI KABUPATEN OGAN KOMERING ILIR, PROVINSI SUMATERA SELATAN, TAHUN 2013 – 2017

    Get PDF
    Filariasis merupakan salah satu masalah kesehatan di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Penyelenggaraan penanggulangan filariasis dilaksanakan baik oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah dengan melibatkan peran serta dari masyarakat.  Salah satunya adalah dengan memutus rantai penularan melalui Pemberian Obat Pencegahan secara Massal (POPM) filariasis. POPM dilaksanakan melalui pemberian obat yang bertujuan untuk mematikan mikrofilaria secara serentak kepada semua penduduk sasaran. Sejak tahun 2013 hingga tahun 2017, pemerintah Kabupaten OKI melaksanakan kegiatan POPM untuk eliminasi filariasis. Tulisan ini bertujuan untuk melihat gambaran pelaksanaan POPM di Kabupaten OKI selama lima tahun. Data yang digunakan adalah data sekunder dari Dinas Kesehatan Kabupaten OKI dan dianalisis secara deskriptif. Dari data yang telah dikumpulkan didapatkan hasil bahwa pelaksanaan POPM dilakukan secara serentak pada semua desa yang ada di wilayah Kabupaten OKI. Cakupan POPM filariasis pada kelompok sasaran tahun 2013 hingga tahun 2017 berturut-turut adalah 90%, 91%, 91%, 94%, dan 95%. Angka ini sudah mencapai target minimal 65% yang telah ditetapkan sebagai target eliminasi filariasis. Selain itu, angka cakupan terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa cakupan pelaksanaan POPM filariasis di Kabupaten OKI sudah baik

    Back Matter Vol 30 No 4

    No full text

    1,563

    full texts

    2,187

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Journals of Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇