Journals of Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Not a member yet
2187 research outputs found
Sort by
The Susceptibility of Aedes aegypti In Dengue Endemic Areas, Tegal, Central Java Indonesia
Tegal district is a dengue-endemic area. One of the strategies to control Ae. aegypti is the use of insecticides. The determination of insecticide resistance in a dengue-endemic area is useful for supporting policies for Ae. aegypti control program. The aim of this study is to determine the susceptibility of Ae. aegypti in Tegal district, Central Java. Aedes aegypti larvae were collected from June to July 2018. Susceptibility bioassay of Ae. aegypti larvae against temephos and Ae. aegypti female against permethrin were conducted refers to the WHO protocol. The susceptibility of Ae. aegypti was interpreted based on WHO protocol as well. The mortality of Ae. aegypti larvae were at 0.025 ppm by 90%. The LC50 at 0.0005 ppm, and LC99 at 1.1037 ppm, respectively. The mortality rate of Ae. aegypti against permethrin was 26%. The LT50 at 6611.636 minutes, and LT99 at 5958807.272 minutes, respectively. The susceptibility of Ae. aegypti larvae were possible resistant but adult Ae. aegypti was resistant
Status Endemisitas Filariasis dan Faktor Perilaku Masyarakat Terkait Eliminasi Filariasis di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan
Enrekang district is one of the regions in South Sulawesi Province that has been declared endemic for filariasis since the first case was found in the fingerblood survey (SDJ) in 2006. In Enrekang district, the Filariasis Mass Prevention Drug Administration (POPM) program has been implemented for five years continuously from 2007 to 2011, and passed the TAS-3 (Transmission Assessment Survey), also received a filariasis-free certificate from the Ministry of Health in 2016. This research aimed to determine the microfilaremia rate after passing TAS–3 and identify community behavioral factors related to filariasis elimination in filariasis endemic areas in Enrekang District, South Sulawesi Province. The research design was cross-sectional and conducted from February to December 2017. Data collections were carried out in two sentinel villages, namely Potokullin village Buntu Batu Sub District and Parombean village located in Curio Sub District, Enrekang District. Data were collected through fingerblood survey and interviews with 310 residents (minimum sample size) for each of these villages. The results of SDJ showed that there were no microfilariae in all samples examined. Enrekang District can be declared as a filariasis-free area. The behavior of community in using mosquito nets and closed clothing as an effort to avoid mosquito bites and community participation in taking filariasis mass drug greatly contributed to the succes of filariasis elimination in Enrekang District, South Sulawesi Province.
Abstrak
Kabupaten Enrekang merupakan salah satu wilayah di Provinsi Sulawesi Selatan yang dinyatakan endemis filariasis sejak ditemukan kasus pertama pada kegiatan survei darah jari (SDJ) di tahun 2006. Di Kabupaten Enrekang telah dilaksanakan program Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) filariasis selama lima tahun terus-menerus dari tahun 2007 sampai dengan tahun 2011, dan lulus TAS-3 (Transmission Assesment Survey), serta menerima sertifikat bebas filariasis dari Kementerian Kesehatan pada tahun 2016. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan angka mikrofilaremia paska lulus TAS – 3 dan mengidentifikasi faktor-faktor perilaku masyarakat yang berkaitan dengan eliminasi filariasis di wilayah endemis filariasis di Kabupaten Enrekang Provinsi Sulawesi Selatan. Desain penelitian adalah cross sectional. Penelitian dilakukan pada bulan Februari sampai dengan bulan Desember tahun 2017. Kegiatan dilaksanakan di dua desa sentinel, yaitu Desa Potokullin, Kecamatan Buntu Batu dan Desa Parombean, Kecamatan Curio Kabupaten Enrekang. Pengumpulan data dilakukan dengan survei darah jari dan wawancara terhadap 310 penduduk (jumlah sampel minimum) untuk masing-masing desa tersebut. Hasil SDJ menunjukkan bahwa tidak terdapat mikrofilaria dari keseluruhan sampel yang diperiksa. Kabupaten Enrekang dapat dinyatakan sebagai daerah yang bebas filariasis. Perilaku masyarakat dalam menggunakan kelambu dan pakaian tertutup sebagai upaya untuk menghindari gigitan nyamuk serta keikutsertaan masyarakat dalam meminum obat massal filariasis sangat berperan terhadap keberhasilan eliminasi filariasis di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan
Gambir (Uncaria gambir Roxb.) as A Potential Alternative Treatment for Hyperlipidemia
Gambir (Uncaria gambir Roxb.) is a member of family of Rubiaceae. In Asia including Indonesia, extracts of gambir are empirically used daily to weed out. The high content of catechin flavonoids in gambir has a pharmacological effect in the treatment of hyperlipidemia that potential to be developed into traditional medicine. This literature review aimed to examine the potency of pharmacological effect of gambir as hyperlipidemia treatment therapy based on the results of studies in silico, in vitro, in vivo pharmacological effects and its safety to provide evidence of scientific information to the community. The literatures used for analysis in this study including evidence-based articles on both pharmacology and safety which are available in Pubmed and Google Scholar. The results showed a very strong potency of gambir plants in the treatment of hyperlipidemia with catechin as bioactive compounds. In silico study revealed mechanism action of catechin as antihyperlipidemic using 2 pathways, inhibition of the enzyme HMG-CoA reductase and increase the LDL receptors. In vitro studies of catechin are able to inhibit lipid absorption in the intestine through inhibition of pancreatic lipase activity, lipid hydrolysis and emulsification, micelle cholesterol deposition. Pre-clinical tests on animals showed that the ethyl acetate fraction of gambir leaves was able to reduce the levels of total cholesterol, triglycerides, LDL and increase blood plasma HDL. The long-term use of gambir leaves has been proven to be safe, not mutagenic, no hematological, clinical biochemical abnormalities and no abnormalities in the vital organs of the animal models.
Abstrak
Gambir (Uncaria gambir Roxb) adalah tumbuhan perdu dari suku Rubiaceae. Di Asia termasuk Indonesia, secara empiris ekstrak gambir digunakan sehari-hari untuk menyirih. Kandungan flavonoid katekin yang tinggi dalam gambir memiliki efek farmakologi dalam pengobatan hiperlipidemia yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi obat tradisional. Kajian literatur ini bertujuan untuk mengkaji potensi farmakologi gambir sebagai terapi pengobatan hiperlipidemia berdasarkan hasil studi efek farmakologi in silico, in vitro, in vivo efek farmakologi dan keamanannya, sehingga memberikan bukti informasi ilmiah kepada masyakarat. Literatur yang digunakan dalam proses review meliputi literatur dengan berbasis bukti baik farmakologi maupun keamanan yang tersedia di Pubmed dan Google Scholar. Hasil kajian menunjukkan potensi yang sangat kuat dari tanaman gambir dalam pengobatan hiperlipidemia dengan katekin sebagai senyawa bioaktif utama. Studi in silico menunjukkan mekanisme aksi katekinsebagai antihiperlipidemia menggunakan dua jalur yaitu penghambatan enzim HMG-CoA reduktase dan peningkatan reseptor LDL. Studi in vitro katekin mampu menghambat penyerapan lipid di usus melalui penghambatan aktivitas lipase pankreas, hidrolisis lipid dan emulsifikasi, serta pengendapan kolesterol misel. Studi in vivo menunjukkan fraksi etil asetat daun gambir mampu menurunkan kadar kolesterol total, trigliserida, LDL dan meningkatkan HDL plasma darah. Penggunaan daun gambir dalam jangka panjang terbukti aman, tidak mutagen, tidak ditemukan kelainan hematologi, biokimia klinis dan tidak menyebabkan kelainan organ vital hewan uji
Intervensi Kinesio Taping Dan Bobath Exercises Terhadap Peningkatan Keseimbangan Berdiri Dan Penurunan Spastisitas Tungkai Pasien Cerebral Palsy Di Sekolah Luar Biasa Dan Yayasan Pendidikan Anak Cacat Makassar
Cerebal Palsy is a non progressive neuromuscular dysfunction in the form of muscle tone abnormalities which results in postural tone disorders in the form of spasticity, especially the legs, coordination disorders, sitting and standing balance, road disturbances that cause sufferers with daily functional impairment. The purpose of this study is to determine the effect of Kinesio taping and Bobath exercises for increasing the ability to balance standing and decrease the spasticity of the patient's limbs. This type of research is a pre-experiment with one group pre-test-post test design. Held at the Special School and the Makassar Disability Children Education Foundation from July to October 2019, with a sample of 49 cerebral palsy patients. Standing balance data were obtained using a Pediatric balance scale and limb spasticity data were obtained using the Asworth scale. Paired sample T Test Results obtained p value = 0.006 for spasticity and standing balance with p = 0.000 after being given Kinesio taping and bobath exercises. The conclusion of the study was that kinesio taping and bobath exercises had no significant effect on leg spasticity and there was a significant effect on the sitting balance of cerebral palsy patients. It is hoped that these two methods can be used in cerebral palsy patients who experience impaired sitting balance.
Abstrak
Cerebal Palsy adalah kelainan fungsi neuromuscular non progresif berupa abnormalitas tonus otot yang mengakibatkan gangguan tonus postural berupa spastisitas terutama tungkai, gangguan koordinasi, keseimbangan duduk dan berdiri, gangguan jalan yang menyebabkan penderita terganggu fungsionalnya sehari-hari. Tujuan penelitian ini mengetahui pengaruh Kinesio taping dan Bobath exercises terhadap peningkatan kemampuan keseimbangan berdiri dan penurunan spastisitas tungkai pasien. Jenis penelitian ini adalah pre - experiment dengan desain pretest – post test one group. Dilaksanakan di Sekolah luar Biasa dan Yayasan Pendidikan Anak Cacat Makassar mulai bulan JulisampaiOktober2019, dengan sampel penelitian sebanyak 49 pasien cerebral palsy. Data keseimbangan berdiri di peroleh menggunakan Pediatric balance scale dan data spastisitas tungkai diperoleh menggunakan skala asworth. Hasil Uji Paired sample T Test diperoleh nilai p = 0.006 untuk spastisitas dan keseimbangan berdiri dengan p = 0.000 setelah diberikan Kinesio taping dan bobath exercises. Kesimpulan penelitian bahwa kinesio taping dan bobath exercises tidak terdapat pengaruh yang signifikan pada spastititas tungkai dan terdapat pengaruh yang signifikan terhadap keseimbangan duduk pasien cerebral palsy. Dengan demikian diharapkan kedua metode ini dapat digunakan pada pasien cerebral palsy yang mengalami gangguan keseimbangan berdiri.  
Uji Diagnostik Filariasis Menggunakan Rapid Diagnostic Test (RDT) Brugia malayi terhadap Pemeriksaan Mikroskopis di Desa Buntoi Kabupaten Gunung Mas, Provinsi Kalimantan Tengah
Gunung Mas Regency, Central Kalimantan Province is one of the endemic filariasis areas with Microfilaria rate of 3.4%. One of the efforts made to control this problem is Mass Drug Administration once a year for 5 years. Currently, the Rapid Diagnostic Test (RDT) method is being developed, a quick and easy diagnostic technique to detect the presence of parasites in the patient's body. This study aims to determine the results of the filariasis diagnostic test using the Brugia malayi RDT on the microscopic examination in Buntoi Village, Gunung Mas Regency, Central Kalimantan Province. This research is a descriptive study with a cross-sectional approach with the research subjects all residents of Buntoi Village with inclusion and exclusion criteria totaling 161 samples. Collecting data was carried out by examination and interviews with questionnaires. Data analysis by calculating the microfilaria rate, sensitivity and specificity and calculating the frequency distribution of research variables. Data is presented in percentage form and displayed in tabular form. The results of the diagnostic study of B. malayi RDT and the microscopic examination were the same, i.e all were negative and no microfilariae were found. The diagnostic test for filariasis RDT Brugia malayi on microscopic examination (SDJ) obtained 0% sensitivity, 100% specificity, 0% Positive Predictive Value and 100% Negative Predictive Value. The level of public knowledge about filariasis includes 61% good category, knowledge of MDA 40% good category and knowledge about prevention of filariasis in good category 53%
Deteksi Endoparasit Cacing pada Hepar Tikus Laboratorium (Rattus norvegicus) dari Sentra Peternak di Kabupaten Banyumas dan Kabupaten Purbalingga
The presence of laboratory rats that are maintained and bred for laboratory purposes or laboratory observations is very necessary. The presence of endoparasite in laboratory rats will have an impact on the result of the research or laboratory observations. This study aims to detect helminth endoparasites in the liver of laboratory rats (Rattus norvegicus) from animal breeders in Banyumas and Purbalingga Districts. This research was an observational study with a cross-sectional design. A total of 52 laboratory rats were used in the study. Rats are killed with chloroform, liver surgery then identify the presence of worm larvae. Out of the 52 rats obtained, 7 (29.17%) from 24 laboratory rats in Banyumas District and 5 (17.86%) from 28 laboratory rats in Purbalingga District were infected with Taenia taeniaeformis. It is necessary to control helminth infections in laboratory rats, such as laboratory animal quarantine, health monitoring, and antihelmintic treatment. It is important to handle carefully during travel to assure the results of research or laboratory observations using the animals
DENSITAS MIKROFILARIA PADA RESERVOIR DI WILAYAH ENDEMIS FILARIASIS KABUPATEN ACEH JAYA
Kabupaten Aceh Jaya termasuk wilayah endmeis filariasis. Pelaksanaan Program pemberian obat pencegahan massal (POPM) lima putaran dilakukan dari tahun 2011 sampai 2015. Oleh karena gagal pre-TAS pada tahun 2016, maka dilakuakn POPM 2 putaran lagi tahun 2017 dan 2018. Evaluasi pelaksanaan program pengendalian filariasis berjalan dengan baik namun aspek penyebab kegagalan POPM tidak diketahui secara pasti. Banyak hal yang menjadi faktor resiko penularan filariasis diantaranya keberadaan agent, host (manusia dan hewan) dan faktor lingkungan. Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mendapatkan gambaran densitas mikrofilaria pada reservoir di wilayah endemis filariasis Kabupaten Aceh Jaya terutama Desa Lhok Bout dan Desa Ligan. Penelitian ini merupakan cross sectional dan jumlah hewan yang tertangkap bersifat purposive sampling pada 100 hewan yaitu kucing dan monyet ekor panjang. Pengumpulan data dilkaukan pada bulan Agustus dan Oktober 2017 di Desa Ligan dan Desa Lhok Bout Kabupaten Aceh Jaya. Hasil pemeriksaan mikroskopis pada 83 kucing dan 17 monyet ekorv panjang adalah 4 slide darah kucing ditemukan positif Brugia malayi dan 2 slide darah monyet ekor panjang ditemukan cacing non Brugia malayi yang dicurigai adalah Dilofillaria sp. Oleh karena, kucing dan amonyet ekor panajng positif terdapat cacing mikrofillaria di dalam darahnya maka Kabuapetn Aceh Jaya termasuk wilayah endemis zoonotik reservoir filariasis. Untuk wilayah yang zoonotic reservoir filariasis, pengendalian filariasis tidak hanya pada agent, host manusia namun juga harus memperhatikan host reservoir.Pengendalian cacing Brugia malayi atau non Brugia malayi pada reservoir juga harus dilakukan untuk pemutusan rantai penularan selain pengendalian vector dan usaha lainnya.
 
Kepuasan Orangtua Pasien Terhadap Pelayanan di Bangsal Anak Sebagai Salah Satu Indikator Keberhasilan Pelayanan RSUP Sanglah di Denpasar
Abstrak
Peningkatan permintaan pelayanan kesehatan di seluruh Indonesia menuntut rumah sakit pemerintah berbenah untuk mampu memberikan pelayanan terbaik pada masyarakat termasuk di RSUP Sanglah Denpasar, Bali. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kepuasan orangtua pasien BPJS terhadap pelayanan di bangsal anak RSUP Sanglah Denpasar. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan pengambilan data dilakukan dengan cara menyebar kuesioner dengan metode SERVQUAL. Model SERVQUAL yang digunakan terdiri dari lima dimensi yaitu: 1) Tangibles, 2) Reliability, 3) Responsiveness, 4) Assurance, dan 5) Empathy. Kuesioner telah melewati uji reliabilitas dan vailiditas. Penelitian ini mengambil sampel secara consecutive sampling yaitu salah satu orangtua dari seluruh pasien anak yang dirawat di Ruang Cempaka 3 pada bulan April sampai September 2020. Analisis gap dan kuadran menggunakan analisis Importance Performance Analysis dengan diagram Cartesian. Dari 151 sampel yang terkumpul, didapatkan perbandingan lelaki banding perempuan 1,25:1. Rata-rata usia pasien adalah 5,75 tahun dengan rata-rata lama perawatan 8,8 hari. Berdasarkan analisis Importance Performance, tidak ada satupun atribut dengan nilai kenyataan lebih tinggi daripada harapan. Dimensi SERVQUAL dengan jumlah gap tertinggi adalah Reliability/keandalan. Pada analisis kuadran didapatkan bahwa seluruh dimensi kecuali dimensi tangibles (nyata) perlu meningkatkan performa. Secara umum, orangtua pasien belum puas terhadap pelayanan di RSUP Sanglah Denpasar khususnya di bangsal Cempaka 3.
Kata kunci: kepuasan pasien, pelayanan rumah sakit, pediatri, SERVQUAL
Abstract
Increasing demand of health care in Indonesia require government hospital to compete in giving the best care. The objective of this study is to determine satisfaction level of BPJS patient parents in Sanglah General Hospital Denpasar. This is an analytical descriptive study using valid and reliable SERVQUAL questionnaire to collect samples. SERVQUAL model consists of 5 dimensions: 1) tangibles, 2) reliability, 3) responsiveness, 4) assurance, and 5) empathy. The questionnaire passed reliability and validity test. Samples were parents of all children admitted to Cempaka 3 Ward from April to September 2020 and were taken consecutively. Gap and quadrant analysis using Importance Performance Analysis and Cartesian Diagram were done. From 151 collected samples, the ratio of boys and girls were 1.25:1. Mean age of samples was 5.75 years old and mean hospital stay was 8.8 days. Based on Importance Performance Analysis, all of the reality value fell below expectation value. SERVQUAL dimension with the highest gap was reliability. In quadrant analysis, all of the dimensions except tangible need improvement. In general, parents of patients was not satisfied with health care in Cempaka 3 ward, Sanglah General Hospital Denpasar.
Keywords: patient satisfaction, hospital care, paediatrics, SERVQUA
Gambaran Status Kesehatan Gigi dan Mulut pada Masyarakat di Provinsi DI Yogyakarta
Abstrak
Status Kesehatan Gigi dan mulut merupakan masalah kesehatan di Indonesia yang belum mendapat prioritas tinggi. Hasil Riset Kesehatan Dasar 2018 menunjukkan prevalensi karies gigi mencapai 88,80% dan prevalensi periodontitis 74,10%. Provinsi DIY termasuk provinsi yang mempunyai proporsi yang bermasalah dengan gigi dan mulut nya di atas angka Nasional (65,60%) dan yang mendapatkan perawatan oleh tenaga medis gigi 16,40%. Tujuan dari analisis ini adalah untuk mengetahui gambaran status kesehatan gigi dan mulut di Provinsi DIY. Metode penelitian non intervensi dengan desain potong lintang (cross-sectional). Pengumpulan data kesehatan gigi dan mulut dilakukan di 5 kabupaten kota Provinsi DIY melalui Riskesdas 2018, dengan sampel penelitian adalah semua anggota rumah tangga di rumah tangga terpilih berusia ≥ 3 tahun ke atas. Pelaksanaan pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dengan menggunakan kuesioner, dan pemeriksaan gigi dan mulut dengan menggunakan formulir dan alat sesuai dengan standar WHO. Hasil penelitian diketahui jumlah responden usia ≥ 3 tahun, sebanyak 10.897 orang terdiri dari responden laki laki 49,34 % dan perempuan 50,66%. Kabupaten Gunung Kidul yang bermasalah paling tinggi dengan gigi rusak/berlubang/sakit, dan yang bermasalah paling tinggi dengan kesehatan mulut dengan gusi bengkak dan/atau keluar bisul (abses) yaitu Kota Yogyakarta. Mengatasi masalah kesehatan gigi dan mulut yang paling banyak dengan cara pengobatan/minum obat (35,43%), kemudian diikuti dengan konseling perawatan kebersihan dan kesehatan gigi & mulut (14,00%), pencabutan gigi (8,63%), dan penumpatan/penambalan gigi (6,41%). Proporsi responden yang menyikat gigi setiap hari sebesar 65,59% dan waktu menyikat gigi yang benar sebesar 16,41%. Kesimpulan, proporsi tertinggi responden yang bermasalah dengan gigi rusak, berlubang ataupun sakit adalah kelompok usia 5-9 tahun, sedangkan proporsi terendah kelompok usia 3-4 tahun. Tindakan yang dilakukan untuk mengatasi kesehatan gigi dan mulut dengan pengobatan/minum obat yang tertinggi di Kota Yogyakarta. Kabupaten Gunung Kidul yang bermasalah dengan gigi dan mulut tertinggi, sedangkan Kabupaten Bantul yang menerima perawatan paling tinggi oleh tenaga medis gigi.
Kata kunci: gambaran, status kesehatan gigi dan mulut, provinsi DI