Journals of Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Not a member yet
2187 research outputs found
Sort by
Faktor Internal dan Eksternal Kejadian Pneumonia pada Anak Bawah Dua Tahun di Indonesia
Pneumonia is an infectious disease that can cause death in children. The prevalence of this disease has increased and is mostly found in the 12-23 month age group. This paper aims to examine the internal and external factors associated with the incidence of pneumonia in children under two years of age in Indonesia. The data analyzed comes from secondary data from Riskesdas 2018. The Riskesdas design was cross-sectional. The research sample was all children under two years of age who were collected at the Riskesdas 2018 as many as 36,248 children. Bivariate data analysis using schi-square test and multivariate data analysis using logistic regression test. The results of the analysis showed that the risk factors for pneumonia in children under two years were the child's weight at birth (OR: 1,393; CI 95%: 1,009-1,923), the habit of opening a kitchen window (OR: 1,434; CI 95%: 1,097-1,874) and the smoking habit of other household members in the house (OR: 1,311; CI 95%: 1,088-1,580). These factors together can influence the incidence of pneumonia at under two years of age in Indonesia. Therefore, it is necessary to make efforts to change people's behavior to pay more attention to the health of LBW children, change smoking habits and get used to opening the kitchen window. These efforts can be carried out through outreach activities using various media, both formal and informal, and increasing community participation through the healthy living movement. Keywords: Internal, External, Children under two years of age, Pneumonia, Indonesia
Abstrak Pneumonia merupakan penyakit infeksi yang dapat menyebabkan kematian pada anak. Prevalensi penyakit ini mengalami peningkatan dan paling banyak ditemukan pada kelompok umur 12-23 bulan. Tujuan dari tulisan ini adalah mengkaji faktor internal dan eksternal yang berhubungan dengan kejadian pneumonia pada anak bawah dua tahun di Indonesia. Data yang dianalisis bersumber dari data sekunder Riskesdas 2018. Desain Riskesdas adalah cross sectional. Sampel penelitian adalah seluruh anak berusia di bawah dua tahun yang terkumpul pada Riskesdas 2018 sebanyak 36.248 anak. Analisis data bivariat menggunakan uji chi-square dan analisis data multivariat menggunakan uji regresi logistik. Hasil analisis menunjukkan bahwa yang menjadi faktor risiko pneumonia pada anak baduta yaitu berat badan anak pada waktu lahir (OR: 1,393; CI 95%: 1,009-1,923), kebiasaan membuka jendela dapur (OR: 1,434; CI 95%: 1,097-1,874) dan kebiasaan merokok anggota rumah tangga lainnya di dalam rumah (OR: 1,311; CI 95%: 1,088-1,580). Faktor tersebut secara bersama-sama dapat mempengaruhi kejadian pneumonia pada baduta di Indonesia. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya merubah perilaku masyarakat untuk lebih memperhatikan kesehatan bayi BBLR, merubah kebiasaan merokok dan membiasakan diri membuka jendela dapur. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui kegiatan penyuluhan dengan menggunakan berbagai media baik formal maupun informal dan meningkatkan peran serta masyarakat melalui gerakan hidup sehat. Kata kunci: Internal, External, Baduta, Pneumonia, Indonesi
Perubahan IMT pada Penderita Hipertensi Sebelum dan Selama Masa Pandemi Covid-19
Changes in Body Mass Index (BMI) are the main predictors in controlling blood pressure, especially during the COVID-19 pandemic. This article aims to measure changes in BMI before and during COVID-19 for controlling obesity in hypertensive. This is a further analysis data from the Bogor Cohort Study on NCD Risk Factor and the study of the Impact of the COVID-19 Pandemic Period on Health and Mental Health Service Efforts in 2020 conducted 750 hypertension cases during 2011-2018. The dependent variable is the change in BMI which is categorized stable, decreasing, increasing based on the cut off of the mean difference in BMI. The independent variables include demographic characteristics, ownership of Health Insurance, behavior, disease status, monitoring of blood pressure, height and body weight and therapy. Data were analyzed by multinomial logistic regression. The proportion of hypertensive who experienced changes in BMI was stable, decreased and increased, respectively by 24.5 percent, 49 percent and 26.5 percent. Factors associated with changes in BMI decreased in hypertensive patients were obesity with a risk of 1.7 times (95% CI 1.1–2.6) and stress 4.8 times (95% CI 1.4–16). The factor of increased BMI changes were obesity with a protective risk of 0.6 times (95% CI 0.4 -0.9), sitting more than 5.5 hours had a risk of 1.6 (95 % CI 1.1 – 2.6), and smoking ≥200 cigarettes/day has a 4.2 times risk (95% CI 1.4 – 13.0). Suggestions need efforts to maintain a stable BMI by doing physical activity, managing stress and not smoking. Key words: changes in BMI, hypertension, COVID-19 pandemic
Abstrak Perubahan Indeks Massa Tubuh (IMT) merupakan prediktor utama dalam pengendalian tekanan darah khususnya di masa pendemi COVID-19. Artikel bertujuan mengukur perubahan IMT sebelum dan pada masa COVID-19 untuk pengendalian obesitas pada penderita hipertensi. Artikel ini merupakan hasil analisis lanjut dari sumber data Studi Kohor Faktor Risiko PTM Bogor dan studi Dampak Masa Pandemi COVID-19 pada Upaya Pelayanan Kesehatan dan Kesehatan Mental tahun 2020 pada 750 kasus hipertensi periode 2011-2018. Variabel dependen adalah perubahan IMT yang dikategorikan menjadi 3 yaitu stabil, turun, naik berdasarkan cut off rerata perbedaan IMT. Variabel independen meliputi karakteristik demografi (umur, jenis kelamin, pekerjaan), kepemilikan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), perilaku (merokok, olahraga, lama duduk), status penyakit (gangguan mental emosional, komorbid), pemantauan (tekanan darah, tinggi badan, berat badan) dan perilaku pengobatan. Data dianalisis dengan regresi logistik multinomial. Proporsi penderita hipertensi yang mengalami perubahan IMT stabil, turun dan naik, masing-masing sebesar 24,5 persen, 49 persen dan 26,5 persen. Faktor-faktor yang berhubungan bermakna dengan perubahan IMT turun pada penderita hipertensi adalah obesitas dengan risiko 1,7 kali (95% CI 1,1– 2,6) dibanding normal dan stress 4,8 kali (95% CI 1,4 – 16,0), sedangkan faktor perubahan IMT naik yang berhubungan bermakna adalah obesitas risiko protektif 0,6 kali (95% CI 0,4 -0,9) dibandingkan tidak obese, lama duduk lebih dari 5,5 jam berisiko 1,6 (95% CI 1,1 – 2,6), serta merokok ≥200 batang/hari berisiko 4,2 kali (95% CI 1,4 – 13,0) dibandingkan bukan perokok. Saran perlu upaya menjaga IMT tetap stabil dengan cara melakukan aktifitas fisik, mengelola stres dan tidak merokok. Kata kunci : perubahan IMT, hipertensi, pandemic COVID-1
The relationship of smoking duration, sleep disorders, and nutritional status of Indonesian adult men: data analysis of the 2014 Indonesian Family Life Surve
Background: In Indonesia, the prevalence of smoking is increasing from year to year and can cause various health problems, such as sleep disorders and affect a person's nutritional status. So, in this study, the relationship between smoking duration, sleep disturbances, and nutritional status in men aged 26–45 years will be investigated using secondary data from the 2014 Indonesia Family Live Survey (IFLS).
Methods: The 2014 secondary data from the fifth waves of the IFLS were used for analysis. All 5,379 data of men aged 26–45 years who provided anthropometric, smoking duration, and sleep disorders were included in the study. The Chi-Square test was used to examine the relationship between smoking duration, sleep disorders, and nutritional status in men aged 26 – 45 years. Furthermore, the Multinomial Logistics Regression test is carried out to determine the variables that have the strongest influence.
Results: Based on the results of statistical tests conducted, it was found that the majority of respondents had a smoking duration of 11-20 years, of which 27.2% of respondents did not experience sleep disorders and 25.4% had sleep disorders. The nutritional status of respondents with a smoking duration of 11-20 years is normal as many as 35% of respondents and at least 0.5% of respondents have underweight nutritional status with smoking duration <5 years. Furthermore, the test results of the relationship between smoking duration and sleep disturbances obtained p-value = 0.03 and the relationship between smoking duration and nutritional status obtained p-value <0.01.
Conclusion: Smoking duration was associated with sleep disorder and overweight nutritional status in men aged 26 – 45 years.
Keywords: smoking duration, sleep disorder, nutritional status, tobacco use, sleeping sickness
Abstrak
Latar belakang: Di Indonesia, prevalensi merokok semakin meningkat dari tahun ke tahun dan dapat menyebabkan berbagai permasalahan kesehatan, seperti gangguan tidur serta mempengaruhi status gizi seseorang. Sehingga pada penelitian ini akan diteliti hubungan antara durasi merokok, gangguan tidur, dan status gizi pada pria berusia 26–45 tahun menggunakan data sekunder dari Indonesia Family Live Survey (IFLS) tahun 2014.
Metode: Analisis dari data sekunder gelombang kelima IFLS tahun 2014. Semua 5.379 data pria berusia 26–45 tahun yang memiliki kelengkapan data antropometri, kebiasaan merokok, dan gangguan tidur diikutkan dalam penelitian. Uji Chi-Square digunakan untuk menguji hubungan antara durasi merokok, gangguan tidur, dan status gizi pada pria berusia 26 – 45 tahun. Selanjutnya uji Regresi Logistik Multinomial dilakukan untuk mengetahui variabel yang memiliki pengaruh paling kuat.
Hasil: Berdasarkan hasil dari uji statistik yang dilakukan, didapatkan bahwa mayoritas responden memiliki durasi merokok selama 11-20 tahun, dimana sebanyak 27.2% responden tidak mengalami gangguan tidur dan 25.4% mengalami gangguan tidur. Status gizi paling banyak yang dimiliki oleh responden dengan durasi merokok selama 11-20 tahun adalah normal sebanyak 35% responden dan yang paling sedikit sebanyak 0.5% responden memiliki status gizi underweight dengan durasi merokok <5 tahun. Selanjutnya hasil uji hubungan antara durasi merokok dengan gangguan tidur didapatkan nilai p-value=0.03 dan hubungan antara durasi merokok dengan status gizi didapatkan nilai p-value<0.01.
Kesimpulan: Durasi merokok berhubungan dengan gangguan tidur dan status gizi overweight pada laki-laki usia 26 – 45 tahun.
Kata kunci: durasi merokok, gangguan tidur, status gizi, penggunaan tembakau, penyakit tidur
 
Optimization of multiplex real-time RT-PCR for respiratory syncytial viruses detection
Abstract
Background: Multiplex real-time RT-PCR (rRT-PCR) is a fast, sensitive and specific test to detect more than one target in single PCR reaction. In this study we developed multiplex rRT-PCR for RSV-A and RSV-B since those viruses are the most common pathogen found in respiratory tract. However, in order to gain optimal reaction for RSV-A and RSV-B detection, the optimization of primers and probes specific for RSV-A and RSV B are needed.
Method: The primers and probes of multiplex rRT-PCR for RSV-A and RSV-B were selected and optimized utilizing PerlPrimer software and BLAST to analyze the secondary structures and specificity, respectively. Further testing of selected primers and probes for rRT-PCR was done using annealing temperature based on in silico analysis as mentioned above. This includes sensitivity testing with the utilization of synthesized DNA of RSV-A and RSV-B and specificity testing targeting the common viruses found in respiratory tract.
Results: The primer set and probes selected for RSV-A and RSV-B detection were specific only for RSV-A and RSV-B and showed no secondary structure. Based on primer and probe criteria for rRT-PCR such as annealing temperature, no secondary structure formed, % GC content and limit of detection, the multiplex rRT-PCR test using selected primers and probes was able to detect synthesized DNA of RSV-A and RSV-B.
Conclusion: Multiplex rRT-PCR that employing primer sets and probes targeted N gene of RSV-A and RSV-B in this study were able to be detect RSV-A and RSV-B in single PCR reaction.
Keyword: Multiplex, real-time RT-PCR, RSV-A, RSV-B
Abstrak
Latar belakang: Multiplex real-time RT-PCR (rRT-PCR) merupakan metode yang cepat, sensitif dan spesifik untuk mendeteksi lebih dari satu target pathogen dalam satu reaksi PCR. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan multiplex rRT-PCR virus RSV-A dan RSV-B yang merupakan patogen yang paling sering ditemukan di saluran pernafasan. Optimisasi dari primer dan probe dalam multiplex rRT-PCR diperlukan untuk mendapatkan reaksi yang optimal dalam deteksi virus RSV-A dan RSV-B.
Metode: Primer dan probe untuk multiplex rRT-PCR RSV-A dan RSV-B dipilih dan dioptimasi menggunakan software PerlPrimer dan BLAST untuk menganalisis adanya struktur sekunder serta spesifisitas dari primer dan probe. Uji multiplex rRT-PCR dilanjutkan berdasarkan suhu annealing berdasarkan hasil analisis menggunakan PerlPrimer. Uji sensitifitas dilakukan dengan menggunakan DNA sintetis dari RSV-A dan RSV-B dan uji spesifisitas dilakukan dengan mengetes primer dan probe terhadap virus-virus lain yang umumnya ditemukan di saluran pernafasan.
Hasil: Primer dan probe yang dikembangkan pada penelitian ini tidak membentuk struktur sekunder dan spesifik mengamplifikasi hanya RSV-A dan RSV-B. Berdasarkan kriteria primer dan probe untuk digunakan dalam rRT-PCR yaitu suhu annealing, tidak adanya pembentukan struktur sekunder, % GC content serta detection limit, uji multiplex rRT-PCR yang dikembangkan pada penelitian ini mampu mendeteksi DNA sintetis RSV-A dan RSV-B.
Kesimpulan: Multiplex rRT-PCR dengan menggunakan primer dan probe untuk RSV-A dan RSV-B dapat mendeteksi RSV-A dan RSV-B dalam satu reaksi PCR.
Kata kunci: multiplex, real-time RT-PCR, RSV-A, RSV-
PENGARUH PENYAKIT PENYERTA/KOMORBID DAN KARAKTERISTIK INDIVIDU DENGAN KEJADIAN COVID-19 DI KOTA BOGOR TAHUN 2020
ABSTRACT
The prevalence of confirmed COVID-19 cases is high and tends to increase, becoming the main cause of morbidity and mortality. This study aims to determine the relationship between comorbidities and individual characteristics on the incidence of COVID-19 cases in Bogor City in 2020. The research method is case controlith a sample of 289 consisting of 148 cases and 141 controls (1:1). Datas were collected online using a structured questionnaire, taken from the medical record of 5 hospitals in Bogor City who had been treated. Samples were obtained from March to September 2020. Data were analyzed univariate to see the descriptive picture, bivariate to obtain crude OR, andultivariate using logistic regression method to obtain adjusted OR. The results of multivariate analysis showed a relationship between confirmed cases of COVID-19 and several risk factors include marriage factor (OR = 2.69 at 95% CI 1.54-4.70 with p value = 0.00), diabetes Mellitus (OR=3.07 at 95%CI 1.27-7.41 with p=0.01) and risk age group factors (OR=3.44 at 95%CI 2.00-5.90 with a p=0.00). In conclusion the risk factors for the incidence of COVID-19 cases are married residents, people suffering diabetes mellitus, and residents at the risk age group (18-59 years) in Bogor City.
Keywords: COVID-19, comorbid, individual characteristics, Bogor city
ABSTRAK
Prevalensi kasus konfirmasi COVID-19 yang tinggi dan cenderung meningkat menjadi penyebab utama kesakitan dan kematian. Banyak hasil penelitian tentang faktor risiko terjadinya kasus COVID-19 yang hasilnya sangat bervariasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara komorbid/penyakit penyerta dan karakteristik individu terhadap kejadian kasus COVID-19 di Kota Bogor tahun 2020. Rancangan penelitian adalah case-control dengan sampel sebanyak 289 yang terdiri dari 148 kasus dan 141 kontrol (1:1). Data dikumpulkan secara daring menggunakan kuesioner terstruktur melalui aplikasi yang didapat dari data rekam medis 5 Rumah Sakit di Kota Bogor. Sampel diambil dari bulan Maret s.d. September 2020 yang pernah di rawat di RS. Data dianalisis secara univariat melihat gambaran deskriptif, secara bivariat mendapatkan crude OR dan multivariat dengan metode regresi logistic untuk mendapatkan adjusted OR. Hasil analisis multivariat menunjukkan hubungan antara kasus konfirmasi COVID-19 dengan beberapa faktor risiko di antaranya: faktor perkawinan (OR=2,69 pada 95%CI 1,54-4,70 dengan nilai p=0,00), faktor menderita diabetes mellitus (OR=3,07 pada 95%CI 1,27-7,41 dengan nilai p=0,01) dan faktor kelompok umur berisiko (OR=3,44 pada 95%CI 2,00-5,90 dengan nilai p=0,00). Kesimpulan bahwa faktor risiko kejadian kasus COVID-19 ialah penduduk yang sudah menikah, penduduk yang menderita sakit diabetes mellitus dan penduduk pada kelompok umur yang berisiko (18-59 tahun) di Kota Bogor.
Kata kunci: COVID-19, comorbid, karakteristik individu, kota Bogo
First experience of using favipiravir in the first healthcare worker patient with moderate case of Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) at Sulianti Saroso Infectious Disease Hospital, Jakarta, Indonesia: a case report
Background: During the early period of the Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2) pandemic, there was no approved and definitive drug available for the treatment of COVID-19. Favipiravir, chloroquine, hydroxychloroquine was used for re-purposing drugs while their efficacy and safety remained a major concern for healthcare workers. Clinical trial to assess efficacy and safety were ongoing.
Case presentation: We present here the case of a 38-year-old woman, the first case of a healthcare worker diagnosed with COVID-19 who had moderate type, including first experience treatment with favipiravir in Sulianti Saroso Infectious Disease Hospital, Jakarta, Indonesia. We present the clinical characteristics, chest X-ray, clinical laboratory profiles, the treatment process with favipiravir and hydroxychloroquine as well as the clinical outcome of moderate type COVID-19 patient.
Conclusion: This case highlights that considering the use of emergency intervention outside of clinical trial in the COVID-19 population, the informed patient consent has been given and the use of emergency intervention was monitored.
Keywords: COVID-19, favipiravir, medical worker, case report, Jakarta
Abstrak
Latar belakang: Periode awal pandemi Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2), belum terdapat obat yang disetujui dan pasti tersedia untuk pengobatan COVID-19. Favipiravir, chloroquine, hydroxychloroquine digunakan sebagai obat dengan indikasi baru yang sementara efektifitas dan keamanannya menjadi perhatian para petugas medis.
Penyajian kasus: Disini kami melaporkan kasus wanita umur 38 tahun, merupakan kasus pertama seorang tenaga kesehatan Rumah Sakit terdiagnosis Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) dengan penggunaan terapi favipiravir untuk pertama kalinya di Rumah Sakit Pusat Infeksi Sulianti Saroso, Jakarta, Indonesia. Berikut ini kami gambarkan karakteristik klinis, hasil foto thorak, profil laboratorium dan proses terapi menggunakan favipiravir and hidroxychloroquine serta hasil akhir pada kasus COVID-19 derajat sedang.
Kesimpulan: Kasus ini menggaribawahi bahwa pertimbangan penggunaan kegawatdaruratan obat antivirus diluar uji klinis pada populasi pasien COVID-19, pasien telah memberikan persetujuan dan penggunaan obat-obat tersebut dimonitor.
Kata kunci: Covid-19, favipiravir, tenaga kesehatan, laporan kasus, Jakart
Faktor Risiko Obesitas, Jenis Kelamin, dan Merokok pada Pasien Artritis Reumatoid terhadap Kejadian Hipertensi
Cardiovascular disease is one of the comorbid in rheumatoid arthritis (RA), which significantly affects the morbidity and mortality of patients with RA. Hypertension is a manifestation of progressive cardiovascular symptoms, which caused by endothelial dysfunction due to continuous inflammation in RA patients. The risk factors of hypertension in RA are obesity, gender, smoking, and consumption of an antihypertensive and antirheumatic drug (NSAIDs, glucocorticoids, and leflunomide). This research utilized a cross-sectional study to analyze the risk factors of obesity, gender, and smoking on hypertension in RA patients at RSUP Dr. Kariadi Semarang. The weigh, height, and blood pressure of 24 RA patients (consist of 12 men and 12 women) who had been diagnosed with RA for at least one year were measured using the weight and height scales of GEA SMIC ZT-120 (with an accuracy of 0.1kg and 0.1cm) and mercury sphygmomanometer Riester Nova Ecoline (with an accuracy of 2 mmHg) respectively. The result showed that male RA patients (p = 0.041) were risk factors for hypertension. RA patients with smoking and obesity had a risk factor of 1.4 times (p = 0.043, OR = 1.395) and 1.9 times (p = 0.012, OR = 1.882) on the incidence of hypertension respectively
Abstrak
Penyakit kardiovaskular merupakan salah satu komorbiditas Artritis Reumatoid (AR) yang berpengaruh signifikan terhadap peningkatan morbiditas dan mortalitas pasien AR. Hipertensi merupakan manifestasi dari kumpulan gejala kardiovaskular yang progresif. Hipertensi pada pasien AR disebabkan karena adanya disfungsi endotel akibat proses inflamasi yang berlangsung terus menerus. Beberapa faktor risiko hipertensi pada pasien AR yaitu, obesitas, jenis kelamin, kebiasaan merokok, konsumsi obat anti hipertensi, dan obat AR (obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS), glukokortikoid, dan leflunomide). Penelitian ini merupakan studi belah lintang, bertujuan menganalisis faktor risiko obesitas, jenis kelamin, dan merokok pada pasien AR terhadap kejadian hipertensi di RSUP Dr. Kariadi Semarang. Dua puluh empat (24) pasien AR (terdiri dari 12 pria dan 12 wanita) yang sudah terdiagnosis AR selama minimal 1 tahun dilakukan pengukuran tinggi badan dan berat badan (menggunakan timbangan berat badan dan tinggi badan merk GEA SMIC ZT-120 dengan ketelitian 0,1 kg dan 0,1 cm, dan tekanan darah (menggunakan tensimeter air raksa merk Riester Nova Ecoline dengan ketelitian 2 mmHg). Hasil penelitian menunjukan bahwa pasien AR pria (p = 0,041) merupakan faktor risiko terjadinya hipertensi. Pasien AR yang merokok dan obesitas secara berurutan berisiko 1,4 kali (p = 0,043, OR = 1,395) dan 1,9 kali (p = 0,012, OR = 1,882) terhadap kejadian hipertensi
Penempatan Bidan Sebagai Tenaga Pelaksana Gizi Di Puskesmas : Profesionalisme dan Kebutuhan Organisasi
Nutrition services at the primary health center (PHC) are ideally carried out by a nutritionist. At present not all PHC has nutritionists. All PHC without nutritionists in West Bandung Regency and Depok were assigning midwives as nutrition officer. The study was conducted to analyze the utilization of midwives as nutrition officer in PHC of professionalism and organizational needs and function. The study was conducted qualitatively in two health centers, one each in West Bandung Regency and Depok City. Data collection was carried out through in-depth interviews and document review. The informants consisted of midwives who served as nutrition officer, coworkers, PHC heads and cadres, as well as nutrition managers at the health centers. The results showed that the utilization of midwives as nutrition officer at PHC was carried out by the head of the PHC due to limited health workers. The selection of midwives as nutrition officers was appointed through an appointment letter taking into consideration the function of midwives in maternal and child health services which were considered to be closely related to nutrition services. The midwife's performance as a nutrition officer was considered quite good, but the midwife herself felt that being a nutrition officer was not in accordance with their profession. For this reason, it is necessary to recruit nutritionists for nutrition services so that midwives can be posted at the right position. Nutritionists recruitment can be carried out independently by PHC by using BLUD funds .
Abstrak
Pelayanan gizi di puskesmas idealnya dilakukan oleh seorang nutrisionis. Saat ini belum seluruh puskesmas memiliki nutrisionis. Semua puskesmas di Kabupaten Bandung Barat dan Kota Depok yang tidak memiliki nutrisionis memberdayakan bidan sebagai tenaga pelaksana gizi (TPG). Penelitian dilakukan untuk menganalisis pemberdayaan bidan sebagai TPG di puskesmas berdasarkan aspek profesionalisme dan kebutuhan puskesmas. Penelitian dilakukan secara kualitatif di dua puskesmas, masing-masing satu puskesmas di Kabupaten Bandung Barat dan Kota Depok. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam serta telaah dokumen. Informan terdiri dari bidan yang bertugas sebagai TPG, rekan kerja, kepala puskesmas dan kader posyandu, serta pengelola program gizi Dinkes di wilayah studi. Hasil penelitian menunjukkan pemberdayaan bidan sebagai TPG di puskesmas dilakukan oleh kepala puskesmas dikarenakan keterbatasan tenaga gizi. Pemilihan bidan sebagai TPG dilakukan melalui surat penunjukkan dengan pertimbangan fungsi bidan dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak yang dinilai erat kaitannya dengan pelayanan gizi. Kinerja bidan sebagai TPG dinilai cukup baik, namun bidan sendiri merasa bahwa sebagai TPG tidak sesuai dengan profesinya. Untuk itu diperlukan upaya pengadaan nutrisionis puskesmas melalui proses perencanaan sehingga bidan dapat menjalankan sikap profesional terhadap profesinya sebagai bidan. Pengadaan nutrisionis dapat dilakukan secara mandiri oleh puskesmas melalui pemanfaatan dana BLUD dengan memperhatikan regulasi yang berlaku