Journals of Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Not a member yet
    2187 research outputs found

    Systematic Review : Determinan Faktor yang Memengaruhi Kepatuhan Pengobatan Pasien Diabetes Tipe 2 di Indonesia

    No full text
    Adherence to pharmacological therapy is the main key in the treatment of diabetes but has not received full attention by clinicians. Several systematic reviews of medication adherence factors have been carried out in several regions of the country. However, it does not feature studies from Indonesia. This study aims to review the factors that can influence diabetes medication adherence in Indonesia. Systematic literature reviews were carried out through searching the database of National (Garuda and Sinta) and International (PubMed and Science Direct) journals. Research that met the inclusion criteria and published in January 2011 - December 2020. The quality of the study was assessed using SQAT guidelines. The research reporting method uses PRISMA guidelines. Adherence factors are classified based on the domain of compliance factors according to World Health Organizatin (WHO). A total of 370 scientific research from the Garuda database (n = 36); Science direct (n = 108); PubMed (n = 18); Sinta (n = 208). Three hundred forty-one (341) studies were excluded, 29 full-text screening, 16 research articles met the inclusion criteria for analysis. Factors that affect adherence to diabetes medication are social and economic (income, education level, and occupation); labor and health system factors (health workers); patient therapy factors (number of diabetes medicines, frequency of taking medication, and drug product); factors patient disease (blood sugar levels, duration of illness); patient factors (gender, emotional factors, social support, level of knowledge and treatment satisfaction); anddisease management factors (counseling and pharmacy education). Factors that affect adherence to diabetes medication in Indonesia are very diverse and multi-factorial. These factors can serve as targets for relevant interventions. Clinicians need to consider adjusting the frequency of taking medication and providing social support to diabetes patients.  Abstrak Kepatuhan terhadap terapi farmakologi merupakan kunci utama pengobatan penyakit diabetes, tetapi belum mendapat perhatian penuh oleh para klinisi. Beberapa systematic review faktor kepatuhan telah dilakukan di beberapa kawasan negara. Namun, tidak menampilkan studi dari Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk meninjau secara sistematis faktor-faktor yang dapat memengaruhi kepatuhan minum obat diabetes melitus (DM) di Indonesia. Systematic literature review dilakukan melalui pencarian pada database jurnal Nasional (Garuda dan Sinta) dan Internasional (PubMed dan Science Direct). Penelitian yang sesuai dengan kriteria inklusi dan dipublikasikan pada Januari 2011 – Desember 2020. Kualitas penelitian dinilai menggunakan panduan SQAT. Metode pelaporan penelitian menggunakan pedoman PRISMA. Faktor kepatuhan diklasifikasikan berdasarkan domain faktor kepatuhan menurut World Health Organization (WHO). Sebanyak 370 artikel ilmiah penelitian dari database Garuda (n=36); Science Direct (n= 108); PubMed (n= 18); Sinta (n= 208). 341 artikel penelitian dieksklusi, 29 artikel skrining full text, dan 16 artikel penelitian memenuhi kriteria inklusi untuk dianalisis. Faktor yang memengaruhi kepatuhan minum obat diabetes adalah faktor sosial dan ekonomi (penghasilan, tingkat pendidikan, dan pekerjaan), faktor tenaga dan sistem kesehatan (tenaga kesehatan), faktor terapi pasien (jumlah obat diabetes, frekuensi minum obat, dan produk obat), faktor penyakit pasien (kadar gula darah, durasi penyakit), faktor pasien (jenis kelamin, faktor emosional, dukungan sosial, tingkat pengetahuan, dan kepuasan pengobatan), dan faktor pengelolaan penyakit (konseling dan edukasi farmasi). Faktor yang memengaruhi kepatuhan minum obat DM di Indonesia sangat beragam, danmultifaktor. Faktor tersebut dapat berfungsi sebagai target intervensi yang relevan. Para klinisi perlu mempertimbangkan penyesuaian frekuensi minum obat dan pemberian dukungan sosial kepada pasien DM

    Subtipe Molekuler Kanker Payudara di RSUD Madiun dan Hubungannya dengan Grading Histopatologi

    Get PDF
    Breast cancer is a complex disease with variable molecular characteristics and shows different tumor behavior, therapeutic response, and prognosis. The regional general hospital Madiun has begun to improve services for breast cancer patients since 2015 with the availability of immunohistochemical examinations. This effort was made because breast cancer therapy is currently guided by these examinations. This study aimed to determine the distribution of various molecular subtypes of breast cancer in Madiun Hospital and also the relationship between molecular subtypes and histopathological grading. This study was a retrospective study with a cross-sectional design taken from the Anatomical Pathology Laboratory of Madiun Hospital data from 2015 to 2018. A total of 281 breast cancer cases were examined for immunohistochemical of estrogen receptor (ER), progesterone receptor (PR), and human epidermal receptor 2 (HER2), and a total of 91 breast cancer patients plus Ki-67 examination were then classified into luminal A, luminal B, HER2 and triple-negative (TN). The statistical test used was the Chi-Square test with a 95% confidence level. The most common molecular subtypes of breast cancer in Madiun Hospital were luminal B (28,5%) followed by TN (27,5%), luminal A (22%), and HER2 (22%). The mean age of breast cancer patients was 52.8 ± 10.57. The most common histological types and grades of breast cancer were invasive ductal carcinoma (85.1%) and tumor grade 1 (58.71%). There was a correlation between the immunohistochemical features of ER, PR, HER2, and Ki67 withhistopathological grading. Positive ER and PR were more well differentiated but e HER2 positive andKi67 were more poorly differented. Abstrak Kanker payudara merupakan penyakit kompleks dengan gambaran molekuler bervariasi dan menunjukkan perilaku tumor, respon terapi, dan prognosis yang berbeda. Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Madiun mulai meningkatkan layanan untuk pasien kanker payudara sejak tahun 2015 dengan tersedianya pemeriksaan imunohistokimia. Upaya ini dilakukan karena terapi kanker payudara saat ini berpedoman atas pemeriksaan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui distribusi berbagai subtipe molekuler kanker payudara di RSUD Madiun dan juga hubungan antar subtipe molekuler dengan grading histopatologi. Penelitian ini adalah studi retrospektif dengan desain cross sectional yang diambil dari data Laboratorium Patologi Anatomi RS Madiun selama tahun 2015 sampai 2018. Total 281 kasus kanker payudara dilakukan pemeriksaan imunohistokimia estrogen receptor (ER), progesteron receptor (PR) dan human epidermal epidermal receptor 2 (HER2) dan total 91 pasien kanker payudara ditambah pemeriksaan Ki-67 kemudian diklasifikasikan menjadi luminal A, luminal B, HER2, dan triple negative (TN). Uji statistik yang digunakan adalah uji Chi Square dengan taraf kepercayaan 95%. Subtipe molekuler kanker payudara di RS Madiun yang paling banyak adalah luminal B (28,5%) diikuti TN (27,5%), luminal A (22%), dan HER2 (22%). Rata-rata umur pasien kanker payudara adalah 52,8 ±10,57. Tipe histologi dan grade kanker payudara terbanyak adalah karsinoma duktal invasif (85,1%) dan grade tumor 1 (58,71%). Terdapat hubungan gambaran imunohistokimia baik ER, PR, HER2 dan Ki67 dengan grading histopatologi. ER dan PR positif lebih banyak mengalami diferensiasi baik namun HER2 positif dan KI67 positif lebih banyak mengalami diferensiasi buruk

    Faktor-Faktor Penyebab Pernikahan Dini di Beberapa Etnis Indonesia

    Get PDF
    Early marriage is still a severe problem in Indonesia. One out of nine women in Indonesia is married before eighteen.  It occurs almost in all over provinces in Indonesia. There are 23 provinces where the prevalence of early marriage is higher than the national  data. This article aims to determine factors that cause early marriage in several ethnic groups in Indonesia. This study reviews the Ethnographic Health Research book series in the Lampung, Sasak and Bugis ethnic groups. Pierre Bourdieu’s theory was used to analyze the phenomenon of early marriage. Bourdieu divides this theory of social practice into three interrelated parts: habitus, arena, and capital. The existence of customary rules, patriarchal systems, modernization and applicable formal laws, namely marriage laws, affect the habitus of early marriage actors. Weak economic, cultural and social capital also encourages individuals to marry earlier. In conclusion, the relationship between habits, The involvement of the capital owned by adolescent  or their families influences the decision to have an early marriage. The prevention of early marriage needs mutual interactions by both  structural and cultural conditions of the community. The role of traditional and religious leaders also needs to be optimized in preventing early marriage. It is also necessary to strengthen the implementation of the law that regulates the minimum age for marriage. Abstrak Pernikahan dini masih menjadi masalah yang serius dihadapi oleh Indonesia. Satu dari sembilan perempuan di Indonesia menikah sebelum usia 18 tahun. Pernikahan dini hampir terjadi di seluruh wilayah Indonesia. Terdapat 23 provinsi dengan prevalensi pernikahan dini lebih tinggi dari angka nasional. Artikel ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor penyebab pernikahan dini pada beberapa etnis di Indonesia. Kajian literatur dari buku seri Riset Etnografi Kesehatan pada etnis Lampung, Sasak dan Bugis dipilih menjadi metode pada artikel ini. Untuk menganalisis fenomena pernikahan dini digunakan teori praktik sosial oleh Pierre Bourdieu. Bourdieu membagi teori praktek sosial ini menjadi tiga bagian yang saling berkaitan, yaitu: habitus, arena dan modal. Adanya aturan adat, sistem patriarki, modernisasi dan hukum formal yang berlaku yaitu undang-undang perkawinan mempengaruhi habitus pelaku pernikahan dini. Lemahnya modal ekonomi, kultural dan sosial juga turut mendorong individu melakukan pernikahan dini. Kesimpulan dari analisis tersebut adalah relasi antara habitus, arena dengan melibatkan modal yang dimiliki oleh remaja atau keluarganya mempengaruhi keputusan  untuk melakukan pernikahan dini. Upaya pencegahan pernikahan dini perlu dilakukan dengan memperhatikan kondisi struktur dan budaya masyarakat. Peran tokoh adat dan tokoh agama juga perlu dioptimalkan dalam mencegah pernikahan dini. Penguatan implementasi undang-undang yang mengatur batas minimum usia menikah juga perlu dilakukan

    Potensi Culex quinquefasciatus sebagai Vektor Filariasis dan Kondisi Lingkungan di Kota Pekalongan

    Get PDF
    Pekalongan City was still an endemic area of Lymphatic Filariasis (LF). Twice cycles ofMass Drug Administration (MDA) had been implemented, but the Microfi laria rate (Mf rate) wasstill more than 1%. This observational research aimed to study the potential of Culex quinquefasciatusas a vector of LF in Pekalongan City. A Cross-sectional design was chosen as an approach in compilinginformation related to environmental factors and mosquitoes. The population of this research washouses located in Jenggot and Kertoharjo village with thirty-one houses, located around fi lariasiscases, purposively selected as samples. Variables studied in this research were environmental factorsand mosquito vectors. Data collection using observation, and laboratory examination throughmosquito dissection. Data would be analyzed descriptively. This study found that there were 8 Culexquinquefasciatus tested positive L3 fi larial worm (infective rate 4.39%). There were 74.2% of houseshad mosquitoes’ breeding sites around them. The breeding sites were found at domestic waste disposal,drainage in front of the house, and infi ltration well for liquid waste. As much as 86.2% of the breedingsites contained mosquito larvae. This research concluded that Cx. quinquefasciatus was confi rmedpositive fi laria worm thus establish as mosquito vector for Lymphatic Filariasis in Pekalongan City.The breeding sites related to the mosquito development were small water bodies, drainage in front ofand around the house

    Back Matter

    No full text
    Back Matte

    Kajian Distribusi, Keamanan Dan Pengembangan Kebijakan Obat Bebas Dan Bebas Terbatas

    Get PDF
    Abstrak Obat bebas dan bebas terbatas adalah salah satu bagian penting dari swamedikasi yang seharusnya mudah diakses masyarakat dan terjangkau. Peraturan perundang-undangan yang ada saat ini membatasi pelayanan obat bebas dan bebas terbatas hanya dapat dilakukan di sarana dengan izin dan dengan penanggung jawab tenaga kefarmasian. Namun karena jumlah pasien dan fasilitas yang ada tidak sebanding sehingga menyebabkan terjadinya penjualan obat di sarana tanpa kewenangan. Tujuan kajian ini adalah untuk memberikan rekomendasi kepada pemerintah dalam hal ini Kementerian Kesehatan dan BPOM untuk melakukan deregulasi obat bebas dan obat bebas terbatas untuk dapat dijual di sarana non farmasi dengan beberapa pembatasan. Kajian dilakukan dengan melakukan pengumpulan data hasil pengawasan oleh Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM di Jakarta) serta peninjauan pustaka terkait distribusi dan pelayanan obat bebas dan bebas terbatas juga terkait penerapan peraturan terkait di beberapa negara. Hasil kajian menunjukkan bahwa jumlah dan sebaran fasilitas yang ada di Provinsi DKI Jakarta tidak sebanding dengan kebutuhan masyarakat yang menyebabkan berbagai pelanggaran di sepanjang jalur distribusi obat hingga pelayanan kefarmasian. Untuk menangani permasalahan tersebut di atas hendaknya dibuat peraturan yang melegalkan penjualan obat bebas dan bebas terbatas di sarana retail non farmasi seperti yang telah diterapkan di beberapa negara. Kata kunci : Obat, bebas, terbatas, farmasi, swamedikasi, deregulasi Abstract Self-medication with over-the-counter (OTC) drugs is an economical choice of treatment for common self-limiting illnesses. It should be accessible and affordable. Indonesian regulation sets OTC drug that must be sold in a pharmacy stores under a pharmacist supervision. However, lack of pharmacy store lead to any violation at drug distribution. We identified all findings in OTC drug surveillance by BPOM Provincial Office in Jakarta and discussed the potential scientific source related to OTC drug distribution and its regulation in some countries. Current review objective is to give recommendations to the Indonesian FDA and Indonesia Ministry of Health to deregulate OTC drugs to improve public pharmaceutical services and also decrease drug diversion along drug distribution chains. Our study results showed that the number of legal pharmacies and its distribution are not enough to fulfill the people’s needs, which leads to some drug diversion cases along drug distribution chains. In order to solve this problem, the regulators should deregulate OTC drugs so they can be legally sold on non-pharmacy outlets without pharmacist supervision as applied in some countries. Keywords: drug, deregulation, self-medication, OT

    Status Vaksinasi BCG (Bacille Calmette-Guérin) dan Angka Kejadian Tuberkulosis Paru pada Anak di Indonesia

    Get PDF
    Abstrak Tuberkulosis (TB) adalah salah satu penyakit menular yang merupakan satu dari sepuluh penyebab kematian di dunia. TB yang paling banyak diderita di dunia adalah TB paru. Anak-anak masuk ke dalam sub-populasi yang terdampak dari infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis ini. Salah satu pencegahan TB yang dapat dilakukan sejak anak usia 0 adalah vaksin BCG (Bacille Calmette-Guérin) yang diberikan saat anak berusia 0-2 bulan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan status vaksinasi BCG dengan angka kejadian TB Paru pada anak di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur yang melibatkan pencarian sistematik yang dilakukan pada April 2022. Kriteria sampel yang dipilih pada penelitan ini, yaitu anak berusia 0-17 tahun yang terbagi menjadi kelompok TB paru dan non-TB paru serta diketahui status vaksinasinya, yaitu telah vaksin atau tidak vaksin. Seleksi artikel studi dilakukan berdasarkan PRISMA statement. Sebanyak 10 artikel studi dari daerah yang berbeda-beda dengan jumlah sampel paling sedikit 30 dan yang terbanyak 143 dinilai secara kritis. Desain penelitian analitik observasional case-control dan uji bivariat chi-square adalah yang paling banyak digunakan. Dengan menggunakan uji bivariat, terdapat 7 artikel yang menyatakan adanya hubungan yang signifikan antara pemberian vaksin BCG dengan kejadian TB paru anak, sedangkan 3 artikel lainnya bertolak belakang dengan hasil tersebut. Berdasarkan hasil literature review yang dilakukan, maka disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pemberian vaksin BCG dengan kejadian TB paru anak di Indonesia. Kata Kunci: Tuberkulosis, Anak, Vaksinasi, BCG. Abstract Tuberculosis (TB) is an infectious disease that is one of the world’s top ten causes of death. The most common TB in the world is pulmonary TB. Children fall into the sub-population affected by this Mycobacterium tuberculosis bacterial infection. One of the TB prevention measures that can be done for children aged 0 is the BCG (Bacille Calmette-Guérin) vaccine which is given when children are 0-2 months old. This study aimed to determine the relationship between BCG vaccination status and the incidence of pulmonary TB in children in Indonesia. This study uses a literature study method that involves a systematic search conducted in April 2022. The criteria for the sample selected in this research were children aged 0-17 years who were divided into pulmonary TB and non-pulmonary TB groups, and their vaccination status was known, namely whether they had been vaccinated or not vaccinated. The selection of study articles was carried out based on the PRISMA statement. A total of 11 study articles from different regions with a minimum sample size of 30 and a maximum of 400 were critically assessed. The case-control observational analytical research design and the bivariate chi-square test were the most widely used. Eight articles stated a significant relationship between the administration of the BCG vaccine and the incidence of pulmonary TB in children, while the other three articles contradicted these results after being tested for bivariate statistics. Based on the results of the literature review, it was concluded that there was a significant relationship between the administration of the BCG vaccine and the incidence of pulmonary TB in children in Indonesia. Keywords: Tuberculosis, Children, Vaccination, BCG

    GAMBARAN SOSIAL BUDAYA SUKU ANAK DALAM TENTANG MALARIA DAN PENGENDALIANNYA DI PROVINSI JAMBI

    Get PDF
    ABSTRACT The malaria control program is focused on achieving malaria elimination as an effort to create a healthy living community, free from malaria transmission, which process is carried out in stages until 2030. The Suku Anak Dalam (SAD) currently still have a fairly large population  and they are stillclassified as isolated communities, because most of them live nomadic (moving) in the forest with a culture that is still underdeveloped, still not free from malaria. This article is to provide information about the handling of malaria problems in SAD and its control policy efforts in dealing with malaria elimination. This article is a literature review, search from books, theses, journals, research reports and government policies that are accessed through online sites. Information is not limited by year, because it was related to the history of SAD. The results of the review : The prevalence of malaria in SAD is still high, due to the belangun/melangun tradition,  lack of education and knowledge, difficult access to health care facilities, and inadequate facilities and infrastructure. The success of the malaria elimination program in SAD will depend on the support of stakeholders, both from the Puskesmas, the Health Office, and the local government in budget allocation. The commitment of all parties is still needed to support the malaria eradication program by strengthening human resources: educators, health workers to overcome obstacles in efforts to achieve malaria elimination in SAD areas. Keywords: Social cultural, suku anak dalam, malaria   ABSTRAK Program pengendalian malaria difokuskan untuk mencapai eliminasi malaria sebagai upaya mewujudkan masyarakat hidup sehat, terbebas dari penularan malaria, yang prosesnya dilakukan secara bertahap sampai tahun 2030.  Di sisi lain, masih ada Suku Anak Dalam (SAD) di Jambi yang hidup terisolir, nomaden (berpindah-pindah) di dalam hutan dengan budaya yang masih terbelakang, dan belum terbebas dari malaria.  Penulisan ini untuk memberikan informasi tentang penanganan permasalahan malaria pada SAD dan upaya kebijakan pengendaliannya dalam menghadapi eliminasi malaria. Tulisan ini merupakan kajian literatur, penelusuran dari buku, skripsi/tesis, Jurnal, hasil laporan penelitian dan kebijakan pemerintah yang diakses melalui situs online. Informasi tidak dibatasi oleh tahun terbit karena bertalian dengan sejarah SAD.  Hasil analisis menunjukkan bahwa kejadian malaria di SAD Jambi disebabkan oleh tradisi belangun/melangun, pendidikan dan pengetahuan yang terbatas, sulitnya akses menuju fasilitas pelayanan kesehatan, serta sarana dan prasarana yang belum memadai.  Keberhasilan program eliminasi malaria di SAD akan sangat tergantung dari dukungan stakeholder, baik dari Puskesmas, Dinas Kesehatan, Pemerintah Daerah setempat dalam pengalokasian anggaran. Oleh karena itu diperlukan komitmen semua pihak untuk mendukung program upaya pembrantasan malaria dengan penguatan sumber daya manusia : tenaga pendidik, tenaga kesehatan untuk mengatasi hambatan dalam upaya mencapai eliminasi malaria di wilayah SAD. Kata kunci: Sosial budaya, Suku Anak Dalam, malari

    Survei nyamuk Culex sp. pada lingkungan sekitar penderita filariasis di Kabupaten Brebes

    Get PDF
    Jumlah kasus filariasis di Kabupaten Brebes meningkat dari tahun ke tahun. Penderita filariasis pada tahun 2016, 2017, dan 2018 berturut-turut terdapat 25, 54, dan 61 kasus filariasis di Kabupaten Brebes. Pada tahun 2018 Kabupaten Brebes menempati urutan kedua kasus filariasis terbanyak di Provinsi Jawa Tengah. Tujuan penelitian untuk mengetahui gambaran kondisi lingkungan sekitar penderita, kepadatan nyamuk, angka dominasi, dan angka infeksi mikrofilaria nyamuk Culex sp. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode total sampling. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis univariat. Lingkungan fisik yang berisiko adalah genangan air, selokan, kandang ternak, dan semak-semak. Kepadatan nyamuk di tempat penelitian yang belum memenuhi persyaratan Permenkes No. 50 Tahun 2017 adalah Kecamatan Ketanggungan (Desa Ketanggungan, Dukuhturi, Karangmalang, Baros, Cikeusal Lor, dan Jemasih) serta Kecamatan Paguyangan (Desa Taraban). Nyamuk yang paling dominan adalah nyamuk Culex quinquefasciatus dengan angka dominasi sebesar 85,25%. Berdasarkan hasil pembedahan semua spesies nyamuk tidak mengandung mikrofilaria. Kami menyarankan dinas kesehatan setempat untuk melakukan pengelolaan lingkungan dan tindakan preventif untuk mencegah penularan filariasis

    Back Matter Desember 2021

    No full text

    1,563

    full texts

    2,187

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Journals of Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇