Journals of Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Not a member yet
    2187 research outputs found

    UJI EFEKTIVITAS INFUSA DAUN SIRIH MERAH Piper crocatum ruiz TERHADAP MORTALITAS LARVA Aedes aegypti

    No full text
    Indonesia is known as a dengue-endemic country with an increasing number of cases. Appropriate dengue vector control efforts are needed to control the transmission of this disease effectively and efficiently. Botanical larvicide is one type of dengue vector control which is expected to be an alternative as a substitute for chemical larvicides. The purpose of this study was to determine the effect of red betel  (Piper crocatum)infusion on the mortality of Ae. aegypti. True experimental design with post-test only with control group was used in this study. The test was carried out by dividing the sample into two groups, including the red betel infusion group and the control group (with aquadest), the observations were carried out for 24 hours. The results of the study showed that the larvacide test of red betel leaf infusion had an effect on 12 to 24 hours, and there was an increase in mortality of Ae. egypti for 24 hours. The humidity of the test room is one of the factors that can affect the results of the study. Abstrak Indonesia dikenal sebagai negara endemis dengue dengan jumlah kasus yang terus meningkat.  Appropriate dengue vector control efforts diperlukan untuk mengendalikan penularan penyakit ini secara efektif dan efisien. Larvasida botani merupakan salah satu jenis pengendalian vektor dengue yang diharapkan dapat menjadi alternatif sebagai pengganti larvasida kimia. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh infusa sirih merah (Piper crocatum)  terhadap mortalitas larva Ae. aegypti. True eksperimen design dengan post test only with control group digunakan dalam penelitian ini. Pengujian dilakukan dengan membagi menjadi dua kelompok sampel, meliputi kelompok  infusa sirih merah dan kelompok kontrol (dengan Aquadest), pengamatan dilakukan selama 24 jam.  Hasil studi menunjukkan Uji larvasida infusa daun sisrih merah berpengaruh  pada 12 sampai dengan 24 jam, dan terdapat peningkatan mortalitas larva Ae. egypti selama 24 jam. Kelembaban ruangan uji menjadi salah satu faktor yang dapat mempengaruhi hasil studi

    BACK MATTER

    No full text

    Back Matter

    No full text
    Back Matte

    Fluktuasi iklim dan kejadian malaria sebelum eliminasi di Kabupaten Sumba Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur

    Get PDF
    Perubahan iklim dapat meningkatkan penyakit yang ditularkan melalui vektor antara lain malaria. Hubungan antara iklim, kesehatan manusia dan penyakit sudah dikenal luas. Perubahan iklim merupakan faktor penting terjadinya penyebaran berbagai jenis penyakit seperti malaria.  Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan pola penularan malaria dan menganalisis dampak faktor iklim terhadap penularan malaria di Kabupaten Sumba Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur. Artikel ini merupakan analisis data sekunder yaitu data kejadian malaria, curah hujan, suhu dan kelembaban. Data dianalisis menggunakan microsoft excel untuk melihat gambaran kecenderungan kejadian malaria per bulan dan analisis bivariat Pearson Correlation  Hasil analisis menunjukkan kecenderungan kejadian malaria per seribu penduduk dinyatakan dalam Annual Parasite Incidence (API) selama lima tahun (2013-2019) mengalami fluktuasi berturut-turut 38,1‰, 34,9‰, 9,4‰, 16,1‰, 30,2‰, 7,6‰ dan 6,4‰. Hasil penelitian menunjukkan nilai API cenderung menurun setiap tahunnya. Hasil analisis statistic terdapat pengaruh antara curah hujan dan suhu terhadap nilai API di Kabupaten Sumba Timur. Curah hujan dan Suhu perlu diwaspadai dalam upaya menurunkan kejaidan malaria, khususnya terhadap nilai API.Kesimpulan menunjukan bahwa fluktuasi curah hujan dan temperatur secara langsung berpebgaruh terhadap  dinamika penularan malaria di Kabupaten Sumba Timu

    Faktor-Faktor yang Memengaruhi Kehamilan Tidak Diinginkan di Indonesia

    No full text
    Unintended pregnancy can cause pregnancy termination, which leads to safety risks. This study analyzed factors affecting unintended pregnancy in Indonesia. The analysis units were women aged 15-49 who gave birth in the past five years. The sample size was 36,472 women. The research variable was unintended pregnancy, residence, age, education, husbands/partners, employment, wealth, parity, pregnancy termination, decision-maker in woman's access to health care, access to family planning information on radio, television, and newspapers/magazines. The final stage analysis used binary logistic regression. Women in urban were 1.834 times more likely to experience an unintended pregnancy than women in rural. The 20-24 age group was 0.202 times more likely to experience an unintended pregnancy than the 15-19 age group. Women with secondary education were 1.447 times more likely to experience an unintended pregnancy than no education women. The poorer were 1.190 times more likely to experience an unintended pregnancy than the poorest. Multiparity was a strong determinant of unintended pregnancy. History of pregnancy, a decision by husbands, and access to family planning information on radio and television in the last few months were risk factors for unintended pregnancies. The study concluded that eight variables affected unintended pregnancies. Keywords: unintended pregnancy, women of childbearing age, contraceptive use, family planning, maternal health. Abstrak Kehamilan yang tidak diinginkan dapat menyebabkan terminasi kehamilan, yang berujung pada risiko. Studi menganalisis faktor yang mempengaruhi kehamilan tidak diinginkan di Indonesia. Unit analisis wanita usia 15-49 tahun yang melahirkan dalam lima tahun terakhir. Besar sampel 36.472 responden. Variabel penelitian adalah kehamilan tidak diinginkan, tempat tinggal, usia, pendidikan, pasangan, pekerjaan, kekayaan, paritas, terminasi kehamilan, pengambil keputusan akses perempuan terhadap pelayanan kesehatan, akses informasi KB di radio, televisi, dan surat kabar/majalah. Analisis tahap akhir menggunakan regresi logistik biner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan di perkotaan 1,834 kali lebih mungkin mengalami kehamilan yang tidak diinginkan dibandingkan perempuan di perdesaan. Usia 20-24 tahun 0,202 kali lebih mungkin mengalami kehamilan yang tidak diinginkan dibandingkan kelompok 15-19 tahun. Wanita dengan pendidikan menengah 1,447 kali lebih mungkin mengalami kehamilan yang tidak diinginkan daripada yang tidak berpendidikan. Kelompok yang lebih miskin 1,190 kali lebih mungkin mengalami kehamilan yang tidak diinginkan daripada yang paling miskin. Multiparitas adalah determinan kuat dari kehamilan yang tidak diinginkan. Riwayat kehamilan, keputusan suami, dan akses informasi KB di radio/televisi merupakan faktor risiko terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan. Studi menyimpulkan delapan variabel yang mempengaruhi kehamilan yang tidak diinginkan. Kata kunci: kehamilan tidak diinginkan, wanita usia subur, penggunaan kontrasepsi, keluarga berencana, kesehatan ib

    Cover, Dewan Redaksi, Daftar Isi dan Kata Pengantar

    No full text

    Status Gizi Dan Perkembangan Pada Anak Baduta Di Kabupaten Wonosobo

    Get PDF
    The need for nutritional intake in early childhood is not just to maintain survival with the predicate of good nutritional status, but more than that lack of nutritional intake will affect the child's developmental status. This study aims to determine the relationship of characteristics, nutritional status with development status in children aged 6-20 months. The study was conducted in Wonosobo Regency in 2019 with a Cross Sectional design. The population was children aged 6-20 months with sub-districts as the sampling unit. The total sample was 455 of children under two years in one district, but only 450 under two years met the data requirements. The results of the study showed that 19.8% of children under two years were stunted; 27.1% of children experienced motoric development delay; 16.2% of children endured language development delay and 68.7% of children had personal social development delay. Chi-Square test results showed that age was significantly related to motoric and language development with p=0.00; but there was no relationship with social personal development (p=0.50). There was no significant relationship between nutritional status and child development status. In conclusion, age of infants had a significantly higher risk of impaired motor and language development than age above. There was a tendency for boys to have motoric and language development delay. Children who had low birth weight have a risk of personal social development, and WHZ and WAZ nutritional status had a tendency of having language development delay. Abstrak Kebutuhan asupan nutrisi pada anak usia dini tidak hanya sekedar untuk mempertahankan kelangsungan hidup dengan predikat status gizi yang baik, namun lebih dari itu asupan gizi yang kurang akan mempengaruhi status perkembangan anak. Studi ini bertujuan untuk mengetahui hubungan karakteristik, status gizi dengan status perkembangan pada anak baduta usia 6–20 bulan. Studi dilakukan di Kabupaten Wonosobo tahun 2019 dengan desain Cross Sectional. Populasi adalah baduta usia 6-20 bulan dengan sampling unitnya adalah kecamatan. Sampel total sebanyak 455 baduta di satu kecamatan, namun hanya 450 baduta yang memenuhi syarat kelengkapan data. Hasil studi menemukan sebesar 19.8% baduta mengalami stunting; 27.1% mengalami hambatan perkembangan motorik; 16.2% hambatan perkembangan bahasa dan 68.7% mengalami hambatan perkembangan personal sosial. Hasil uji Chi-Square menunjukkan usia berhubungan secara signifikan dengan perkembangan motorik dan bahasa dengan nilai p=0.00; namun tidak terdapat hubungan dengan perkembangan personal sosial (p=0.50). Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara status gizi dan status perkembangan anak. Kesimpulan dalam studi ini bahwa usia bayi secara signifikan mempunyai risiko lebih tinggi terhadap gangguan perkembangan motorik dan bahasa dibandingkan usia diatasnya. Terdapat kecenderungan anak laki-laki memiliki risiko hambatan perkembangan motorik dan bahasa, anak yang BBLR memiliki risiko terjadi hambatan perkembangan personal sosial, dan status gizi WHZ dan WAZ terdapat kecenderungan untuk mengalami hambatan perkembangan bahasa

    Faktor Penentu tidak diberikannya Air Susu Ibu pada Anak Baduta Sejak Lahir di Indonesia

    No full text
    Approximately 5% of children under-two years old in Indonesia have never been breastfed. However, globally, there is increasing trend in the future. This analysis aims to determine factors o f not giving breast milk to children in Indonesia from National Health Survey 2013. The analysis method used was binary logistics with a predictive model. There were 17 independent variables and the dependent variable is breastfeeding status. The analysis shows there are 6.7% under-two children who have never been breastfed since birth. In crude Odd Ratio (COR) the influencing factors are labor complications, length of hospitalized, Antenatal Care, frequency of ANC, Low Birth Weight infants, twins, mode of delivery, planned or unplanned child, and household economic status. Meanwhile, in Adjusted OR (AOR), the influencing factor is ANC frequency, mode of delivery, and length of infants hospitalized after birth. The number of ANC frequencies, delivery methods, and length of infants hospitalized after birth are three determining factors that influence the non-breastfeeding to infants in Indonesia. Lastly, only the mode of delivery found to be similar determining factor to other countries. Keywords: determinant, breastfeeding, under-two children, mode of delivery, Antenatal Care Abstrak Ada 5% anak baduta di Indonesia tidak pernah diberi ASI sejak dilahirkan, kejadian ini cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Analisis ini bertujuan untuk melihat faktor yang berperan terhadap tidak diberikannya ASI pada anak sejak dilahirkan di Indonesiamenggunakan data Riskedas 2013. A nalisis i n i menggunakan Logistik Binari dengan model prediksi. Ada 17 variabel i ndependen yang dianalisis, dengan variabel dependen adalah status pemberian ASI pada anak baduta tidak diberi ASI atau diberi ASI. Dari hasil analisis ada 6,7% anak baduta tidak pernah diberi ASI sejak lahir. Secara crude OR faktor yang berpengaruh adalah komplikasi persalinan, lamanya dirawat, ANC, frekuensi ANC, bayi BBLR, kembar, cara partus, status anak diinginkan atau tidak diinginkan, dan status ekonomi rumah tangga. Sedangkan secara Adjusted OR faktor yang berpengaruh adalah frekuensi ANC, cara partus dan lamanya bayi dirawat setelah dilahirkan. Jumlah frekuensi ANC, cara partus dan lamanya bayi dirawat setelah dilahirkan merupakan tiga faktor penentu yang berpengaruh terhadap tidak diberikannya ASI pada bayi di Indonesia. Dari ke tiga faktor tersebut hanya cara partus merupakan faktor penentu yang sama ditemukan di beberapa negara lain. Kata kunci: Faktor penentu, tidak diberi ASI, anak di bawah dua tahu

    Pengendalian Tuberkulosis pada Masa Pandemi Covid-19 di Puskesmas Elopada Kabupaten Sumba Barat Daya Propinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2020

    No full text
    Globally, tuberculosis is still a major health problems including in Indonesia.The program has been implemented however,the tuberculosis cases are still high considering the condition during the COVID-19 pandemic. The purpose of this article is to provide an overview of tuberculosis during the COVID-19 pandemic at the Elopada Health Center through qualitative inquiry by interviewing with one person and three head of the health center in the tuberculosis service department and two village heads. Meanwhile, the triangulation informants consisted of tuberculosis manager in Southwest Sumba Regency and the head of the Controlling Division of infectious diseases. The results showed that the number of tuberculosis cases at the health center had an increase in cases with BTA+. Control measures providing tuberculosis services included active and passive case findings, diagnosis and treatment which were done manually and digitally,based on microscopic laboratory examinations and molecular rapid tests. Treatment and recording and reporting are done manually or digitally. During the pandemic, tuberculosis services were carried out separately from other patient services. The conclusion is that tuberculosis control at the Elopada Community Health Center is still being carried out during the pandemic by paying attention to health protocols and utilizing technology (social media). Key words: control, tuberkulosis, pandemic Covid-19, Elopada health center Abstrak Tuberkulosis masih menjadi perhatian sebagai salah satu masalah kesehatan utama di Indonesia maupun Global. Program sudah dijalankan namun sampai saat ini kasus tuberkulosis masih tinggi. Disamping itu kondisi saat ini menghadapi pandemi covid-19. Puskesmas menjadi ujung tombak dalam memberikan pelayanan kesehatan di masyarakat. Tujuan artikel ini adalah memberikan gambaran pengendalian tuberkulosis pada masa pandemi di Puskesmas Elopada. Jenis penelitian adalah kualitatif observatif yang melakukan wawancara dengan kepala puskesmas dan petugas bagian pelayanan tuberkulosis dan kepala desa. Sedangkan informan triangulasi terdiri dari pengelola tuberkulosis Kabupaten Sumba Barat Daya dan Kepala Bidang Pengendalian Penyakit Menular. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah kasus tuberkulosis di puskesmas Elopada terjadi peningkatan pada kasus dengan BTA+. Upaya pengendalian yang dilakukan memberikan pelayanan tuberkulosis meliputi penemuan kasus secara aktif dan pasif yang dilakukan secara manual dan berbasis internet, diagnosis penderita berdasarkan hasil pemeriksaan labotarorium secara mikroskopis dan menggunakan tes cepat molekuler. Pengobatan, pencatatan dan pelaporan dilakukan secara manual maupun digital. Selama masa pandemi pelayanan tuberkulosis dilakukan terpisah dengan pelayanan pasien lainnya. Kesimpulan pengendalian tuberkulosis di Puskesmas Elopada tetap dijalankan di masa pandemi dengan memperhatikan protokol kesehatan dan memanfaatkan teknologi (media sosial). Kata kunci: Pengendalian, tuberkulosis, Pandemi Covid-19, Puskesmas Elopad

    Stigma during COVID-19 pandemic among healthcare workers in greater Jakarta metropolitan area: a cross-sectional online study

    Get PDF
    Background: COVID-19, which started in Wuhan, has become a global pandemic leading to a new global risk to human health. Lack of information or misinformation about COVID-19 can lead to stigmatization, including for health workers. This study aims to determine the stigmatization among health workers during the COVID-19 pandemic within the Greater Jakarta Metropolitan Area. Methods: This study was a cross-sectional study conducted online using Google Forms in the Jabodetabek area. The questionnaire’s link was distributed through social media, including Whatsapp, Facebook, Twitter, and Instagram. The study sample is health workers who live in Jabodetabek and carry out health practices. Stigma is measured using four dimensions: personalized stigma, disclosure concerns, public attitudes, and negative self-image. Result: The negative self-image dimension is the dimension most felt by health workers. More than half of health workers agreed that during the COVID-19 pandemic, they put their families at risk because of their status as health workers. The stigma of health workers who work in hospitals is higher than that of non-hospital health workers, such as health centers, clinics, and laboratories. Conclusion: There was any stigmatization among healthcare workers in Greater Jakarta Metropolitan Area. Stigmatization was higher among healthcare workers who work in hospitals compared to those who work in non-hospitals. Some efforts should be made to reduce stigmatization among health workers, such as provide correct information to the public, equip health personnel with adequate personal protective equipment, and give incentives periodically to the health workers. Keywords: Stigma, COVID-19, healthcare workers, Greater Jakarta Metropolitan Area Abstrak Latar belakang: COVID-19 yang bermula dari Wuhan telah menjadi pandemi global yang mengancam kesehatan umat manusia. Kurangnya informasi atau informasi yang salah mengenai COVID-19 dapat menyebabkan adanya stigmatisasi termasuk terhadap tenaga kesehatan. Penelitian ini menilai adanya stigmatisasi terhadap tenaga kesehatan selama pandemi COVID-19 di wilayah Jabodetabek. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian potong lintang dan dilakukan secara daring menggunakan Google Form di wilayah Jabodetabek. Tautan pengisian kuesioner disebarkan melalui media sosial seperti Whatsapp, Facebook, Twitter dan Instagram. Sampel studi adalah tenaga kesehatan yang tinggal di Jabodetabek dan melakukan praktik kesehatan. Stigma diukur menggunakan empat dimensi yaitu personized stigma, disclosure concerns, concerns about public attitudes dan negative self-image. Hasil: Dimensi negative self-image merupakan dimensi yang paling dirasakan oleh tenaga kesehatan. Lebih dari separuh tenaga kesehatan setuju bahwa selama pandemi COVID-19 mereka membahayakan keluarga mereka karena status mereka sebagai tenaga kesehatan. Stigma pada tenaga kesehatan yang bekerja di rumah sakit lebih tinggi disbanding tenaga kesehatan yang bekerja bukan di rumah sakit seperti puskesmas, klinik dan laboratorium. Kesimpulan: Terdapat stigmatisasi pada petugas kesehatan di jabodetabek. Stigmatisasi lebih tinggi di antara petugas kesehatan yang bekerja di rumah sakit dibandingkan dengan mereka yang bekerja tidak di rumah sakit. Beberapa upaya yang perlu dilakukan untuk mengurangi stigmatisasi di kalangan petugas kesehatan, seperti memberikan informasi yang benar kepada masyarakat, melengkapi tenaga kesehatan dengan alat pelindung diri yang memadai, dan memberikan insentif kepada mereka secara berkala. Kata Kunci:   Stigma, COVID-19, tenaga kesehatan, jabodetabek       &nbsp

    1,563

    full texts

    2,187

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Journals of Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇