Journals of Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Not a member yet
    2187 research outputs found

    Gambaran Kualitas Pengelolaan Rantai Dingin Vaksin Meningitis di Wilayah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

    Get PDF
    Meningitis vaccine is a special vaccine given to protect prospective umrah or hajj pilgrims against meningitis. Storage of the meningitis vaccine that is not standard can result in spoilage of the vaccine, thereby reducing or eliminating its immune potential. So far there is no data describing the management of the meningitis vaccine cold chain in the province of Special Region Yogyakarta. The aim of the study was to describe the characteristics of cold chain management officers, the availability of cold chain equipment, the behavior of receiving  vaccines, the behavior of storing  vaccines, and the behavior of managing vaccine waste This study was descriptive observational of 20 cold chain management officers at the Port Health Office Clinic (KKP), clinics and hospitals administering meningitis vaccination in Special Region Yogyakarta province. The data were collected using a data collection technique in the form of questionnaires and observations in December 2019-June 2020. The results showed that there were no meningitis vaccination providers in Yogyakarta who had managed the vaccines cold chain management in accordance with immunization guidelines. It is concluded that there are no officers who have implemented cold chain management in accordance with the guidelines of the Ministry of Health. It is suggested that officers need to improve compliance in implementing cold chain management in accordance with the guidelines of the Ministry of Health. Abstrak Vaksin meningitis merupakan vaksin khusus yang diberikan untuk melindungi calon jamaah umrah atau haji terhadap penyakit meningitis. Penyimpanan vaksin meningitis yang tidak sesuai standar dapat mengakibatkan kerusakan vaksin sehingga menurunkan atau menghilangkan potensi kekebalannya. Sejauh ini belum ada data yang menggambarkan pengelolaan rantai dingin vaksin meningitis di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Tujuan penelitian adalah untuk menggambarkan karakteristik petugas pengelola rantai dingin, ketersediaan peralatan rantai dingin, perilaku menerima vaksin, perilaku menyimpan vaksin, dan perilaku mengelola limbah vaksin. Penelitian ini adalah deskriptif observasional terhadap 20 petugas pengelola rantai dingin di klinik Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) serta klinik dan rumah sakit penyelenggara vaksinasi meningitis di Provinsi Derah Istimewa Yogyakarta. Data dikumpulkan dengan teknik pengambilan data berupa angket dan observasi pada bulan Desember 2019–Juni 2020. Hasil penelitian menunjukkan bahwa belum ada penyelenggara vaksinasi meningitis di Yogyakarta yang melakukan pengelolaan rantai dingin vaksin sesuai dengan pedoman penyelenggaraan imunisasi. Disimpulkan bahwa belum ada petugas yang menerapkan pengelolaan rantai dingin sesuai dengan standar pedoman Kementerian Kesehatan. Disarankan agar petugas perlu meningkatkan kepatuhan dalam menerapkan pengelolaan rantai dingin sesuai dengan pedoman Kementerian Kesehatan

    Hubungan Pengetahuan dan Sikap dengan Perilaku Pencegahan Filariasis di Kecamatan Cilimus Kabupaten Kuningan

    Get PDF
    Lymphatic filariasis is a chronic infectious disease caused by parasitic nematodes. The worm can damage the human lymphatic system gradually then causing enlargement of the limbs, breasts and genitalia. Kuningan is an endemic regency for filariasis in West Java Province. Cilimus District was in the 2nd position as a district with the highest filariasis cases in Kuningan in 2017. This research was conducted in Cilimus District from May to June 2018 using a cross-sectional design. The population was all households in the Cilimus District with a sample size of 106 people who were taken using a simple random sampling technique. The independent variables studied were knowledge and attitudes regarding the prevention of filariasis, the dependent variable was the filariasis prevention practices. Data collection was carried out by interview using a questionnaire. Data analysis was performed by univariate and bivariate (chi-square test). The results showed that some respondents had good knowledge and positive attitudes about the prevention of filariasis (50%). The description of respondent practices showed that 82.1% of respondents took filariasis drug, 62.3% of respondents had the habit of using mosquito repellent, only 4.7% of respondents used mosquito nets, 49.1% of respondents put gauze wire, 47.2% of respondents did not have a habit of hanging clothes. The results of categorizing behavioral variables were found that more than half of the respondents (52.8%) had implemented good prevention practices. The results of the bivariate analysis showed that there was a significant relationship between knowledge and attitude with filariasis prevention practices (p <0.05)

    PROFIL ZAT GIZI MIKRO (ZAT BESI, ZINK, VITAMIN A) DAN KADAR HEMOGLOBIN PADA IBU HAMIL

    Get PDF
    Latar Belakang. Anemia pada ibu hamil sampai saat ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Anemia pada ibu hamil dapat berdampak pada kesehatan ibu hamil dan anak yang akan dilahirkan. Di negara sedang berkembang seperti di Indonesia penyebab anemia sebagian disebabkan kurang asupan zat besi, dan zat gizi mikro lainnya seperti zink dan vitamin A. Tujuan. penelitian ini bertujuan untuk meneliti profil zat gizi mikroserum ibu hamil dan melihat hubungan antara kadar Hb dengan kadar sTfR, zink, dan vitamin A pada ibu hamil. Metode. Desain penelitian ini adalah potong lintang yang merupakan bagian dari penelitian kohort biomedis tahun 2018 dengan subjek penelitian ibu hamil berusia 16–46 tahun sebanyak 114 sampel. Variabel yang diamati adalah kadar Hb, sTfR, zink, dan vitamin A. Data dianalisis menggunakan SPSS versi 18.0 dengan uji deskriptif dan uji korelasi pearson. Hasil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masih terdapat ibu hamil yang tergolong pada usia berisiko, yaitu pada kelompok usia 16–19 tahun sebanyak 5,3% dan kelompok usia 41–46 tahun sebanyak 3,5%. Proporsi anemia pada ibu hamil tertinggi dijumpai pada kelompok usia 20–30 tahun yaitu 67,9% dan kelompok usia 31–40 yaitu 33,0%. Secara umum ibu hamil mengalami anemia sebanyak 35,1% dan kekurangan zink sebanyak 86,8%. Kadar sTfR, zink, dan vitamin A berhubungan dengan kadar hemoglobin pada ibu hamil. Untuk mencegah anemia pada ibu hamil perlu perbaikan kadar besi, zink, dan vitamin A yang dapat dilakukan dengan meningkatkan asupan makanan sumber zat besi, zink, dan vitamin A khususnya pada ibu hamil usia 20–30 tahun

    KESIAPAN FASILITAS WATER SANITATION HYGIENE (WASH) DAN PENERAPAN PROTOKOL KESEHATAN TENAGA PENGAJAR PADA MASA PANDEMI COVID-19 DI SEKOLAH DASAR NEGERI KOTA PALEMBANG

    Get PDF
    ABSTRACT  During the COVID-19 pandemic, social restrictions were imposed in Indonesia, thus making all activities recommended from home, including teaching and learning activities in schools. But in some areas face-to-face learning has begun to be disseminated, so it is necessary to conduct a review to determine school readiness including sanitation facilities, and implementation of health protocols. Sampling was done by simple random sampling consisting of 326 teachers from 56 elementary schools in 10 sub-districts in the city of Palembang. data analysis was univariate, namely maintaining distance, washing hands with soap, and using masks, while the variables for sanitation facilities are facilities for washing hands with soap, waste disposal facilities, waste water disposal facilities, clean water, and toilets. It was found that 38.4% of teachers have not been disciplined in washing their hands with soap, 20.7% have not kept their distance in their activities and 47.2% have not been disciplined in using masks. As many as 55.4% of schools do not have adequate hand washing facilities with soap, around 80% of facilities for garbage disposal and water disposal are not standardized. As many as 21.4% of schools that do not have access to clean water according to standards, and the cleanliness of toilets that are not clean is 37.5%. School readiness must be worth 100% of all aspects to ensure the prevention of the transmission of the COVID-19 virus. The provision of sanitation facilities needs to be carried out by schools to the maximum, so that local government support is needed. Keywords: Sanitation, health protocols, primary school, COVID-19   ABSTRAK Pada masa pandemi COVID-19 pembatasan sosial diberlakukan di Indonesia, sehingga membuat semua kegiatan dianjurkan dari rumah, termasuk kegiatan belajar mengajar di sekolah. Namun di beberapa wilayah mulai disosialisasikan pembelajaran secara tatap muka, sehingga perlu dilakukan peninjauan untuk mengetahui kesiapan sekolah meliputi fasilitas sanitasi dan penerapan protokol kesehatan. Penarikan sampel dilakukan secara simple random sampling terdiri dari  326 guru dari 56 SD di 10 kecamatan di Kota Palembang. Analisis data secara univariat yaitu  menjaga jarak, mencuci tangan menggunakan sabun, dan menggunakan masker, sedangkan variabel fasilitas sanitasi adalah sarana cuci tangan dengan sabun, sarana tempat pembuangan sampah, sarana pembuangan air limbah, air bersih, dan toilet. Ditemukan sebanyak 38,4% guru belum disiplin mencuci tangan dengan sabun, 20,7% belum menjaga jarak dalam beraktivitas, dan 47,2% belum disiplin dalam menggunakan masker. Sebanyak 55,4% sekolah belum memiliki sarana cuci tangan pakai sabun yang memadai, sarana tempat pembuangan sampah dan pembuangan air yang belum standar sekitar 80%. Sebanyak 21,4% sekolah yang belum memiliki akses air bersih sesuai standar dan kebersihan toilet yang belum bersih sebesar 37,5%. Kesiapan sekolah harus bernilai 100% dari semua aspek untuk menjamin pencegahan penularan virus COVID-19. Penyediaan fasilitas sanitasi perlu dilakukan sekolah secara maksimal, sehingga diperlukan dukungan pemerintah setempat. Kata kunci: Sanitasi, protokol kesehatan, sekolah dasar, COVID-1

    Pola Peresepan Anak dengan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) Non Pneumonia di Klinik

    Get PDF
    Acute respiratory infection (ARI) is a common disease in the community. Riskesdas 2018 stated that ARI prevalence was 4.4% and the highest was in 1-4 years old children (8%). The capitation payment system in clinics collaborated with BPJS Kesehatan demands the physician to prescribe as effective and as efficient as possible. On the other hand, the capitation tariff obtained by clinics is considered as too low, thus constrains of the prescription leading to irrational prescribing is likely to occur. This study analyses further the prescribing pattern for ARI children in clinics and its rationality based on the difference in source of funding. A cross sectional research using retrospective method was conducted. Data were gathered from 409 medical records and or patients’ prescription of children between 1-12 years old and diagnosed as having non pneumonia ARI during 1st January to 30th November 2019. Result showed that non pneumonia ARI patients were mostly boys (54,3%) aged 1-5 years old (6.0%). The average number of items for BPJS patients was 3,45, the percentage of generic prescribing was twofold higher for BPJS group (63.94%), the percentage of essential medicine prescribing was 63.96% while the percentage of antibiotic use was lower (48.50%). Dosage propriety for BPJS patients was 70.80% which was slightly higher than non-BPJS group. Overall, the prescribing indicators and dosage properness for BPJS patients were better than non-BPJS patients

    Back Matter Volume 11 No 2 Tahun 2021

    No full text

    Perilaku Mikrofilaria Brugia timori dan Wuchereria bancrofti pada Kasus Filariasis dengan Infeksi Campuran di Kabupaten Sumba Barat Daya

    Get PDF
    ABSTRACT Brugia timori is a filariasis worm which distribution is limited in the East Nusa Tenggara Islands, while Wuchereria bancrofti is widespread almost all over the world. The density of microfilariae shows daily behavior that varies depending on the species of microfilariae. Cases of mixed infections between B. timori and W. bancrofti were reported in the Kahale Village, Southwest Sumba Regency. This study aims to determine the microfilariae periodicity of B. timori and W. bancrofti in filariasis patients with mixed infections. The Subjects in this study were five positive people with filariasis with mixed infections of W. bancrofti and B. timori. The Blood sampling was conducted 12 times in 24 hours with intervals of two hours, starting from 2:00 PM to midnight local time. Data were analyzed using Aikat and Das formula. The Circadian rhythm of microfilariae B. timori and W. bancrofti showed those cases had the circadian or harmonic wave. B. timori and W. bancrofti microfilaria had the same periodicity index (D) above 100%, with peak densities (K) both of microfilaria species in peripheral blood circulation, between 11:00 PM to 03:00 AM. The Behaviors of microfilariae B. timori and W. bancrofti in mixed infection cases were not different. The behavior of those microfilariae species was as nocturnal periodic. ABSTRAK Brugia timori merupakan cacing yang penyebarannya terbatas di Kepulauan Nusa Tenggara Timur, sedangkan Wuchereria bancrofti adalah mayoritas penyebab kasus filariasis limfatik di seluruh dunia. Kepadatan mikrofilaria menunjukkan perilaku harian berbeda-beda bergantung dari jenis mikrofilaria. Kasus infeksi campuran antara B. timori dan W. bancrofti dilaporkan terjadi di Desa Kahale, Kabupaten Sumba Barat Daya. Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui perilaku B. timori dan W. bancrofti pada penderita filariasis dengan infeksi campuran. Subjek dalam penelitian ini adalah lima orang positif infeksi campuran W. bancrofti dan B. timori. Pengambilan darah dilakukan 12 kali dalam rentang waktu 24 jam dengan interval dua jam, dimulai dari pukul 14.00 sampai pukul 12.00 waktu setempat. Analisis statistik yang digunakan dalam penentuan periodisitas mikrofilaria adalah formula Aikat dan Das. Ritme sirkadian (F) perilaku mikrofilaria B. timori dan W. bancrofti menunjukkan gelombang yang harmonik atau sirkadian. Mikrofilaria B. timori dan W. bancrofti mempunyai indeks periodisitas (D) yang sama diatas nilai 100%, dengan puncak kepadatan (K) kedua spesies mikrofilaria di peredaran darah tepi antara pukul 23.00 sampai pukul 03.00. Tidak ada perbedaan perilaku mikrofilaria B. timori dan W. bancrofti pada kasus infeksi campuran yaitu periodik nokturnal.  &nbsp

    Faktor - Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Pengetahuan Orang Tua Penderita Thalassemia Mengenai COVID-19

    No full text
    Knowledge level of a parent will affect the health behavior in a family. COVID-19 pandemic may affect the health status of the Thalassemic patients. This study aimed to identify the actual knowledge of parents of Thalassemic patients and their risk factors. This was a cross-sectional study. The population was the parents of Thalassemic patients who become members of Perhimpunan Orang Tua Penyandang Thalassemia Indonesia (POPTI) in Palembang. Sample size of 77 subjects was chosen using consecutive sampling technique. Subjects were asked to fill the structured questionnaire. Data were analyzed using chi square test. Subjects with good level of knowledge about COVID-19 were 5.2%, with sufficient level of knowledge was 44.2%, and with low level of knowledge was 50.6%. Parents’ level of knowledge about COVID-19 was affected by their educational background (p=0.006), but was not affected by gender, occupation, and age (p>0.05). There were still many parents with low level of knowledge about COVID-19 which required special attention because it could affect the patients’ health behavior. Keywords: knowledge level, COVID-19, Thalassemia, POPTI Abstrak Tingkat pengetahuan orang tua yang baik akan memengaruhi perilaku kesehatan keluarga penderita Thalassemia. Musim pandemi COVID-19 diperkirakan memengaruhi kesehatan penderita Thalassemia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat pengetahuan orang tua penderita Thalassemia mengenai COVID-19 dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Penelitian dengan desain potong lintang ini dilakukan di Yayasan Perhimpunan Orang Tua Penyandang Thalassemia Indonesia (POPTI) kota Palembang. Besar sampel sebanyak 77 orang diambil dengan teknik consecutive sampling. Responden diminta mengisi kuesioner terstruktur tentang pengetahuan yang kemudian dianalisis dengan uji Chi Square. Responden yang memiliki tingkat pengetahuan baik sebesar 5,2%, cukup sebesar 44,2% dan kurang sebesar 50,6%. Tingkat pengetahuan orang tua mengenai COVID-19 dipengaruhi oleh tingkat pendidikan orang tua (p=0,006), namun tidak dipengaruhi oleh jenis kelamin, pekerjaan, dan usia (p>0,05). Masih banyaknya orang tua penderita Thalassemia dengan pengetahuan yang kurang mengenai COVID-19 memerlukan perhatian khusus karena dapat memengaruhi perilaku kesehatan penderita. Kata kunci: tingkat pengetahuan, COVID-19, Thalassemia, POPT

    Fullpages Media Litbangkes Vol 30 No 4 Tahun 2020

    No full text

    FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU MINUM OBAT DALAM PEMBERIAN OBAT PENCEGAHAN MASSAL FILARIASIS DI KABUPATEN BANYUASIN TAHUN 2015

    Get PDF
    Filariasis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Wuchereria bancrofti, Brugia malayi, dan Brugia timori, yang menyebabkan cairan getah bening tersumbat dan bengkak pada kaki dan lengan. Eliminasi filariasis dilakukan melalui program pemberian obat pencegahan massal kepada seluruh penduduk di daerah endemis setahun sekali selama lima tahun. Kabupaten Banyuasin telah mengalami penurunan angka prevalensi mikrofilaria. Namun risiko penularan masih terjadi karena kasus baru ditemukan setelah periode ketiga pemberian obat massal (POPM) di lokasi sentinel dengan kepadatan mikrofilaria yang tinggi dalam sampel darah. Keberhasilan program eliminasi filariasis membutuhkan tingkat kepatuhan POPM yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku minum obat dalam pemberian obat massal. Jenis penelitian ini adalah analitik kuantitatif dengan desain cross sectional ini dilaksanakan pada tahun 2015 di Kabupaten Banyuasin. Wawancara menggunakan kuesioner dilakukan kepada 302 responden dengan pengambilan sampel secara acak sistematis. Faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku penggunaan obat adalah tingkat persepsi efek samping obat, pengetahuan masyarakat, metode distribusi obat, dan penyuluhan. Faktor dominan yang mempengaruhi perilaku pengambilan obat adalah penyuluhan, sehingga perlu dilakukan peningkatan pengetahuan kepada masyarakat dengan penyuluhan bahwa efek samping obat adalah respon tubuh terhadap kematian parasit

    1,563

    full texts

    2,187

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Journals of Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇