Journals of Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Not a member yet
    2187 research outputs found

    Pengaruh Tempat Penampungan Air dengan Kejadian DBD di Kabupaten Bangka Barat Tahun 2018

    Get PDF
    ABSTRACT Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is an endemic disease in the tropical area. The spread of the disease can occur fast if it is not controlled. DHF is caused by the dengue virus that is transmitted through Aedes aegypti dan Aedes albopictus. According to Bangka District Health Office, It was reported that the number of DHF cases in 2017 was 51 and 50 cases in 2018 (until March 2018). The objective of this study was to know the association between the water container and DHF cases in West Bangka District in 2018. This was a case- control study with a total respondent of 183 respondents and the ratio of case and control was 1:2. The results showed that the presence of Aedes larvae (OR=0,007; p-value=0,007; 95% CI: 1,59-19,96), presence of water container (OR=5,12; p-value=0,01; 95% CI: 1,47- 17,86), water container opened/closed (OR=2,72; p-value=0,063; 95% CI: 0,94-7,84) were associated with DHF cases. Houses where Aedes larvae were founded, in or outside the house (with container index >20%) have a 5.6 times higher risk to be contracted with DHF compare to houses with no Aedes larva. In addition, houses with water containers can be founded near the houses have a 5.1 times higher risk to be contracted with DHF. Houses with opened water containers were associated with DHF with 2.7 times higher risk to be infected with DHF. Therefore, community participation in eliminating mosquitoes breeding places needs to be encouraged. ABSTRAK Upaya pengendalian demam berdarah dititik beratkan pada penggerakan potensi masyarakat untuk dapat berperan serta dalam Pengendalian Sarang Nyamuk (PSN) melalui 3M plus. Tempat Penampungan Air (TPA) merupakan salah satu tempat perkembangbiakan jentik Aedes Aegyti, semakin banyak TPA yang digunakan berpotensi untuk menjadi tempat perkembangbiakan jentik. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka Barat jumlah kasus DBD pada tahun 2017 sebanyak 51 kasus dan sampai bulan maret 2018 sebanyak 50 kasus terlaporkan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh tempat penampungan air dengan kejadian DBD di Kabupaten Bangka Barat. Desain penelitian adalah case control dengan jumlah total responden adalah 183 responden dengan perbandingan kasus dan kontrol adalah 1:2. Hasil penelitian menunjukkan tempat penampungan air terbuka/tertutup (OR=2,72; p-value=0,063; 95% CI: 0,94-7,84), keberadaan jentik (OR=0,007; p-value=0,007; 95% CI: 1,59-19,96), tempat penampungan air (OR=5,12; p-value=0,01; 95% CI: 1,47-17,86). Rumah dengan tempat penampungan terbuka mempunyai risiko 2,7 kali lebih besar untuk transmisi DBD, rumah yang ditemukan jentik di tempat penampungan air dalam maupun di luar rumah (CI >20%) mempunyai risiko 5,6 kali lebih besar untuk terkena DBD dan rumah yang disekitarnya ditemukan tempat penampungan air berisiko 5,1 kali lebih besar untuk menderita DBD. Pengelola program DBD agar terus melaksanakan kegiatan – kegiatan penanggulangan dan tatalaksana kasus DBD

    KAJIAN EPIDEMIOLOGI P. KNOWLESI DI PROVINSI ACEH TAHUN 2018-2019

    Get PDF
    Kementerian Kesehatan Republik Indonesia telah menetapkan Indonesia akan mencapai fase eliminasi malaria pada tahun 2030. Tapi, periode tahun 2018-2019 di Provinsi Aceh dilaporkan masih adanya temuan 19 kasus positif infeksi P. knowlesi. Penelitian ini bertujuan melakukan analisis faktor risiko terhadap kasus infeksi P. knowlesi di Provinsi Aceh periode tahun 2018 s/d 2019. Penelitian observasional dengan desain penelitian kasus kontrol, dilakukan di 4 wilayah kabupaten/ kota yang menjadi lokasi penemuan kasus infeksi P. knowlesi di Provinsi Aceh. Populasinya seluruh masyarakat dari 4 kabupaten/kota yang menjadi lokasi penelitian yang potensial tinggal dekat hutan. Sampel penelitian sebanyak 74 orang (16 kasus: 58 kontrol). Analisa data dilakukan dengan menggunakan analisis regresi logistik. Hasil uji analisis bivariat didapatkan ada hubungan antara kebiasaan keluar malam hari (p=0,001) dengan kejadian infeksi P. knowlesi. Selanjutnya tidak ada hubungan antara keberadaan macaca, lingkungan hutan, obat anti nyamuk, kelambu, dan kawat kasa dengan kejadian infeksi P. knowlesi. Hasil analisis multivariat untuk keseluruhan variabel penelitian diketahui bahwa kebiasaan keluar malam hari merupakan prediktor paling dominan terhadap kejadian infeksi P. knowlesi ((OR=11,25) (95% CI: 3,01 – 42,08) p Value =0,000). Hasil penelitian secara umum menyimpulkan bahwa kebiasaan keluar malam hari secara signifikan memiliki pengaruh terhadap kejadian infeksi P. knowlesi di provinsi Aceh.   The Ministry of Health of the Republic of Indonesia has determined that Indonesia will reach the elimination phase of malaria in 2030. But, in period 2018 - 2019 Aceh Province is reported to have found 19 positive cases of P. knowlesi infection. This research aims to dorisk factor analysis of cases P. knowlesi infection in Aceh Province for the period 2018 to 2019. This observational study with a case control research design was conducted in 4 districts/ cities which were the location for finding cases of P. knowlesi infection in Aceh Province. Its populationAll people from the 4 districts / cities that are potential research locations live near the forest. The research sample was 74 people (16 cases: 58 control). Data analysis was performed using logistic regression analysis. The results of the bivariate analysis test showed that there was a relationship between the habit of going out at night (p=0.001) with the incidence of P. knowlesi infection. Furthermore, there is no relationship between the presence of macaca, forest environment, mosquito repellent, mosquito nets, and gauze with the incidence of P. knowlesi infection. The results of multivariate analysis for all research variables showed that nighttime out habits were the most dominant predictor of P. knowlesi infection ((OR = 11.25) (95% CI: 3.01 - 42.08) p value = 0.000). The results of the study generally concluded that the habit of going out at night had a significant effect on the incidence of P. knowlesi infection in Aceh province

    Gambaran Implementasi Kebijakan Program Pelayanan Kesehatan Tradisional di Dinas Kesehatan Kota Surabaya

    No full text
    Traditional health services (Yankestrad) run by the Health Office in puskesmas have increased, marked by an increase in the coverage of Yankestrad visits from year to year. Puskesmas is a health technical implementation unit under the supervision of the District Health Office / city. The purpose of knowing the policy of Yankestrad Surabaya Yankestard Program in Puskesmas includes the type of service, financing, efforts made, obstacles faced and potential Yankestrad can be developed as learning for yankestrad improvement. This research method is a case study with qualitative assessment, data collection with indepth interviews and targeted group discussions, equipped with a review of related regulatory documents. Descriptive data analysis. The results of research by the Surabaya Health Office have been Yankestrad in puskesmas since 2010. Types of Yankestrad Puskesmas Surabaya are acupuncture, acupressure, aroma therapy and herbal medicine. The Department of Health has provided adequate financing for the Yankestrad program. Yankestrad program constraints Surabaya City Health Office is Yankestrad has not borne JKN, tools and materials Yankestrad has not entered the e-catalogue, Nakestrad in the Puskesmas is still contract workers and nakestrad permits are limited to one competency / modality of services and the policy of supervision of SPA facilities that perform traditional services is the Tourism Office. Authority for monitoring and evaluation of its personnel by the Department of Health. Yankestrad conclusion implemented surabaya city health office is in accordance with the policy of the Ministry of Health. Yankestrad has the potential to be developed in the Elderly as an innovation in improving health degrees. Benefits: Yankestrad dipuskesmas, is an alternative treatment outside conventional medicine preferred especially the elderly and society in general and the side effects are relatively small. Keywords: Policy, Traditional health services Abstrak Pelayanan kesehatan tradisional (Yankestrad) yang dijalankan Dinas Kesehatan di Puskesmas mengalami peningkatan, ditandai dengan peningkatan cakupan kunjungan Yankestrad dari tahun ke tahun. Puskesmas merupakan unit pelaksana teknis kesehatan di bawah supervisi Dinas Kesehatan kabupaten/kota. Tujuannya mengetahui kebijakan Yankestrad Kota Surabaya Program Yankestard di Puskesmas meliputi jenis pelayanan, pembiayaan, upaya yang dilakukan, kendala yang dihadapi dan potensi Yankestrad bisa dikembangkan sebagai pembelajaran untuk peningkatan Yankestrad. Metode Penelitian ini merupakan studi kasus dengan pedekatan kualitatif, pengumpulan data dengan wawancara mendalam dan diskusi kelompok terarah, dilengkapi telaah dokumen regulasi terkait. Analisis data secara deskriptif. Hasil penelitian Dinas Kesehatan Kota Surabaya sudah menjalankan Yankestrad di Puskesmas sejak tahun 2010. Jenis Yankestrad Puskesmas Kota Surabaya adalah akupuntur, akupressure, aroma terapi dan herbal medik. Dinas Kesehatan telah menyediakan pembiayaan program Yankestrad cukup memadai. Kendala program Yankestrad Dinas Kesehatan Kota Surabaya adalah Yankestrad belum ditanggung JKN, alat dan bahan Yankestrad belum masuk e-catalogue, Nakestrad di Puskesmas masih tenaga kontrak dan perijinan Nakestrad terbatas pada satu kompetensi/modalitas pelayanan serta kebijakan pengawasan fasilitas SPA yang melakukan pelayanan tradisional adalah Dinas Pariwisata. Kewenangan untuk monitoring dan evaluasi tenaganya oleh Dinas Kesehatan. Kesimpulan Yankestrad dilaksanakan Dinas Kesehatan Kota Surabaya sudah sesuai kebijakan Kementerian Kesehatan. Yankestrad sangat berpotensi untuk dikembangkan pada Lansia sebagai inovasi peningkatan derajat kesehatan. Manfaat: Yankestrad yang ada di puskesmas, merupakan pengobatan alternatif diluar pengobatan konvensional disukai khususnya lansia dan masyarakat pada umumnya serta efek sampingnya relatif kecil. Kata kunci : Kebijakan, pelayanan kesehatan tradisional

    GAMBARAN DISTRIBUSI SPESIES Anopheles DAN PERANNYA SEBAGAI VEKTOR MALARIA DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR, PAPUA DAN PAPUA BARAT

    Get PDF
    Malaria merupakan penyakit tular nyamuk yang masih menjadi penyebab utama kematian di negara berkembang. Malaria juga masih endemis di sebagian besar wilayah Indonesia, terutama di daerah Indonesia bagian Timur. Tiga provinsi di Indonesia dengan annual parasite incidence (API) tertinggi per 1000 penduduk pada tahun 2018 yaitu Nusa Tenggara Timur (NTT), Papua dan Papua Barat. Pengetahuan dan pemahaman mengenai nyamuk Anopheles sebagai vektor malaria di lokasi penyebarannya sangat penting dalam program intervensi pengendalian vektor malaria yang optimal. Artikel ini merupakan studi literatur dimana informasi diperoleh dari buku, artikel penelitian atau jurnal ilmiah, dan laporan hasil penelitian dari rentang tahun 2003 sampai tahun 2019. Anopheles yang ditemukan di Provinsi NTT, Papua dan Papua Barat yaitu An. vagus, An. barbirostris, An. subpictus, An. sundaicus, An. indefinitus, An. tesselatus, An. maculatus, An. aconitus, An. kochi, An. minimus, An. annularis, An. flavirostris, An. umbrosus, An. annulipes, An. farauti, An. barbumbrosus, An. ludlowae, An. punctulatus, An. aitkenii, An. longirostris, An. peditaeniatus, An. koliensis, An. bancrofti, An. hinesorum, dan An. meraukensis. Anopheles yang sudah terkonfirmasi sebagai vektor malaria yaitu An. barbirostris, An. subpictus, An. sundaicus, An. flavirostris, An. minimus, An. farauti, An. punctulatus dan An. longirostris. Perilaku kesukaan mengisap darah dari beberapa Anopheles yang menjadi vektor malaria lebih cenderung bersifat antropofilik

    Back Matter

    No full text
    Back Matte

    Back Matter

    No full text
    Back Matte

    Front matter

    No full text
    Front matte

    Evaluasi Penggunaan Antibiotik pada Pasien Rawat Inap di Bangsal Penyakit Dalam RSUD. Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung

    Get PDF
    The high prevalence of infectious disease in Indonesia causes increased use of antibiotics. It has serious consequences since it can cause germicidal resistance rapidly increased, significant morbidity and mortality, as well as high additional medical costs per year. This study aims to evaluate the appropriateness of antibiotic use inpatients in the internal medicine ward of Dr. H. Abdul Moeloek in Lampung Province. This research was observational (non-experimental) with a descriptive evaluative research design. The data were obtained from the retrospective tracing of medical records that collected by a purposive sampling technique on July-December 2017. A total of 163 inclusion samples are analyzed qualitatively and quantitatively. The qualitative analysis uses standard guidelines for the use of antibiotics and quantitative analysis uses the anatomical therapeutic chemical (ATC)/Defined Daily Dose (DDD) method. The results showed that out of 168 medical records, 19 types of antibiotics were used with a 118.57 DDD value of 100 patient days. The most widely prescribed was ceftriaxone (49.09%). The highest number of infections was diabetic ulcers with an incidence of 42 cases (25%). Out of 168 evaluated cases, 166 cases (98.8%) were appropriate indication, 168 cases (100%) were appropriate patients, 150 cases (89,29%) were appropriate medication, and 89 cases (52,97%) were appropriate dosage. These results indicated that the use of antibiotics inpatients in the internal medicine ward of Dr. H. Abdul Moeloek in Lampung Province were rational but it was necessary to consider selectivity regarding the choice of antibiotic use for infected patients

    Manajemen surveilans Covid-19 di wilayah kerja Bandar Udara Internasional Hang Nadim

    Get PDF
    Indonesia menjadi salah satu negara yang terdampak penularan Covid-19 dan mengalami peningkatan kasus penderita Covid-19 pada kurun waktu yang cepat. Penularan yang cepat terjadi karena beberapa tempat menjadi transmisi penularan Covid-19, salah satunya yaitu bandara. Surveilanse epidemiologi di Bandara menjadi salah satu cara mencegah penularan Covid-19 dari suatu provinsi ke provinsi lainnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui managemen surveilans Covid-19 di Bandar Udara Internasional Hang Nadim. Penelitian ini merupakan studi kualitatif yang dilakukan pada bulan Juni sampai Agustus 2020. Lokasi penelitian ini di Wilayah Kerja Bandara Udara Internasional Hang Nadim kepada enam informan yang terdiri dari koordinator wilayah, petugas surveilans, tenaga dokter umum, dan tim satuan tugas Covid-19. Pengumpulan data primer menggunakan wawancara mendalam dan observasi lapangan, data sekunder menggunakan studi dokumen. Penelitian ini menggunakan triangulasi sumber dan metode. Hasil penelitian pada input menunjukkan bahwa petugas surveilans kekurangan tenaga Epidemiologi Ahli (S2) dan Tenaga Epidemiologi Ahli/Terampil (S1). Surveilans memiliki kekurangan sarana jaringan elektromedia, telepon dan roda dua. Sementara pada proses sudah memenuhi standar lebih dari 80% dari indikator Penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan dan output berupa pelaporan telah dilakukan tepat waktu. Kesimpulannya adalah kegiatan surveilans epidemiologi pada proses maupun output sudah berjalan dengan baik dan sesuai dengan indikator. Namun terdapat kekurangan pada input. Tim surveilans diharapkan untuk melakukan perekrutan tenaga Epidemiologi Ahli (S2) dan Tenaga Epidemiologi Ahli/Terampil (S1) agar tenaga kesehatan yang melakukan surveilans memiliki kemampuan dan kompetensi yang sesuai. Pimpinan surveilans BandarUdara sebaiknya melengkapi sarana transportasi dan komunikasi untuk mengantisipasi hambatan saat melaksanakan kegiatan surveilans epidemiologi Covid-19

    Back Matter Media Vol 31 No 1

    No full text

    1,563

    full texts

    2,187

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Journals of Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇