Journals of Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Not a member yet
2187 research outputs found
Sort by
TSH DAN fT4 DENGAN INDEKS MASSA TUBUH (IMT) PADA PASIEN DEWASA: STUDI CROSS-SECTIONAL DI KLINIK LITBANGKES MAGELANG
Latar Belakang. Disfungsi tiroid terjadi jika fungsi kelenjar tiroid terganggu, ditandai dengan kadar Thyroid Stimulating Hormone (TSH) dan free Thyroxine (fT4) yang lebih tinggi atau lebih rendah dari normal. Perubahan kadar hormon tiroid menyebabkan perubahan basal metabolic rate (BMR) yang menyebabkan perubahan keseimbangan energi dan berat badan. Tujuan. Penelitian bertujuan untuk menganalisis hubungan TSH dan fT4 dengan indeks massa tubuh (IMT) pada pasien dewasa baru di Klinik Litbangkes Magelang. Metode. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode cross-sectional dan menggunakan data sekunder dari rekam medis pasien. Sampel penelitian adalah pria dan wanita dewasa (>17 tahun) yang pertama kali mengunjungi Klinik Litbangkes Magelang pada tahun 2019 sebanyak 173 orang. Variabel penelitian adalah TSH, fT4, dan IMT. Pengujian hipotesis dengan uji statistik Korelasi Rank Spearman. Hasil. Rata-rata kadar TSH responden adalah normal yaitu 0,91±2,17 µIU/mL, sedangkan rata-rata kadar fT4 responden di atas normal yaitu 3,20±5,83 ng/dL. Sebagian besar subjek memiliki IMT normal (55,5%) dengan rata-rata 23,74±4,57. Uji Korelasi Rank Spearman menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara TSH dan IMT (p=0,003) dengan korelasi positif (r=0,228) dan ada hubungan yang signifikan antara fT4 dan IMT (p=0,000) dengan korelasi negatif (r=-0.323). Kesimpulan. Terdapat hubungan antara kadar TSH dan fT4 dengan nilai IMT pasien. Semakin tinggi kadar TSH maka semakin tinggi pula nilai IMT pasien, begitu juga sebaliknya, serta semakin tinggi kadar fT4 maka nilai IMT pasien semakin rendah, dan sebaliknya
PERILAKU FOOD TABOO PADA IBU HAMIL DAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA DI PUSKESMAS PAMARAYAN KABUPATEN SERANG, BANTEN
ABSTRACT
Food taboo is a hereditary dietary taboo that is not necessarily true. The health problem that can occur due to the food taboo is the lack of nutrient intake for pregnant women. The prevalence of food taboo behavior at Pamarayan Health Center, Serang District, Banten in 2019 was 66%. The purpose of this study was to determine the relationship between food knowledge, education level, socio-cultural environment and history of health problems with food taboo behavior among pregnant women at Pamarayan Health Center. This study used a cross sectional study design by conducting interviews. The sample of this research was 136 pregnant women. Data was collected offline by implementing health protocols. Statistical test using the chi-square test. The results of the study show that pregnant women who behave in food taboo (64%), lack of food knowledge (72.8%), low education level (66.9%), good socio-cultural environment (59.6%) and a history of health problems (72.8%). Factors that have a relationship with food taboo behavior is food knowledge (OR=2,840), education level (OR=2,614), socio-cultural environment (OR=3,402) and a history of health problems (OR=2,428). The conclusiont is that there is a relationship between food taboo behavior with food knowledge, education level, socio-cultural environment and a history of health problems at Pamarayan Health Center. Suggestions for conducting counseling about the food taboo by involving local community leaders.
Keywords: Food Taboo, Pregnant, Women
ABSTRAK
Food taboo merupakan suatu pantangan makanan terutama pada ibu hamil, secara turun temurun dan belum tentu kebenarannya, sehingga menyebabkan kurangnya asupan zat gizi. Prevalensi perilaku food taboo di Puskesmas Pamarayan, Kabupaten Serang, Banten tahun 2019 yaitu 66%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pengetahuan makanan, tingkat pendidikan, lingkungan sosial budaya dan riwayat gangguan kesehatan dengan perilaku food taboo pada ibu hamil di Puskesmas Pamarayan. Penelitian ini menggunakan desain penelitian cross sectional dengan melakukan wawancara. Sampel penelitian ini yaitu 136 ibu hamil. Pengambilan data dilakukan secara offline dengan menerapkan protokol kesehatan. Uji statistik menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukan, ibu hamil yang berperilaku food taboo (64%), pengetahuan makanan kurang (72,8%), tingkat pendidikan rendah (66,9%), lingkungan sosial budaya baik (59,6%) dan riwayat gangguan kesehatan (72,8%). Faktor yang memiliki hubungan dengan perilaku food taboo ialah pengetahuan makanan (OR=2,840), tingkat pendidikan (OR=2,614), lingkungan sosial budaya (OR=3,402), dan riwayat gangguan kesehatan (OR=2,428). Kesimpulan ada hubungan antara perilaku food taboo dengan pengetahuan makanan, tingkat pendidikan, lingkungan sosial budaya dan riwayat gangguan kesehatan di Puskesmas Pamarayan. Saran melakukan penyuluhan mengenai food taboo dengan melibatkan tokoh masyarakat sekitar.
Kata kunci: Tabu Makanan, Ibu Hami
Pengetahuan dan Motivasi Kepatuhan Protokol Kesehatan Covid-19 : Survei Online pada Mahasiswa Jawa Timur
The government has made various efforts to prevent and control COVID-19, such as enforcing the law concerning the COVID-19 Health Protocols. However, violations of health protocols still frequently occur in various circles, including university students. Therefore, this study aims to determine the factors that influence university students’ compliance with the COVID-19 health protocols. This study used a cross-sectional study design with a quota sampling technique and was conducted in October 2020. The participants were 468 university students in East Java. The number of participants who complied with the COVID-19 health protocols was 61.3%, while those who did not comply were still quite high (38.7%). The factors that were significantly related to compliance with the COVID-19 health protocols were knowledge, motivation, and health problems, while lifestyle changes were not significantly related to compliance with the COVID-19 health protocols. Participants with high level of knowledge (AOR 5.54 95% CI: 2.68-11.49), good motivation (AOR 2.15 95% CI: 1.43-3.22), and health problems (AOR 1.19 95% CI: 0.52-2.73) are more likely to comply with the COVID-19 health protocols. Thus,concerted efforts are needed to increase knowledge and motivation so that compliance with the COVID-19 health protocol significantly increases. Keywords: Knowledge, Motivation, Health Problems, Compliance
Abstrak
Pemerintah telah melakukan berbagai upaya pencegahan dan penanggulangan COVID-19 seperti penegakan hukum dengan Protokol Kesehatan COVID-19. Namun, pelanggaran terhadap protokol kesehatan masih sering terjadi di berbagai kalangan termasuk mahasiswa. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi kepatuhan protokol kesehatan COVID-19 pada mahasiswa. Penelitian ini menggunakan desain studi potong-lintang dengan teknik quota sampling dan dilakukan pada bulan Oktober 2020. Partisipan pada penelitian ini sebanyak 468 mahasiswa di Jawa Timur. Partisipan mahasiswa yang patuh terhadap protokol kesehatan COVID-19 sebesar 61,3%, sedangkan yang tidak patuh masih cukup tinggi (38,7%). Faktor yang berhubungan signifikan dengan kepatuhan protokol kesehatan COVID-19 adalah pengetahuan, motivasi, dan masalah kesehatan sedangkan perubahan gaya hidup tidak berhubungan signifikan dengan kepatuhan protokol kesehatan COVID-19. Partisipan dengan pengetahuan yang tinggi (AOR 5,54 95% CI: 2,68-11,49), motivasi baik (AOR 2,15 95% CI:1,43-3,22), dan memiliki masalah kesehatan (AOR 1,19 95% CI: 0,52-2,73) cenderung lebih patuh untuk terhadap protokol kesehatan COVID-19. Dengan demikian, diperlukan upaya yang terencana untuk meningkatkan pengetahuan dan motivasi supaya kepatuhan terhadap protokol kesehatan COVID-19 meningkat secara signifikan.
Kata kunci: Pengetahuan, Motivasi, Masalah Kesehatan, Kepatuha
Studi pada Wali Murid di Kota Magelang Provinsi Jawa Tengah: Faktor yang Berhubungan dengan Penolakan Imunisasi Measles Rubella
Measles rubella (MR) is a highly contagious disease, rubella causes miscarriage or baby-ies born with congenital defects in the first trimester of pregnancy. The Ministry of Health recommends 95% of the population against rubella measles through the Measles Rubella Immunization Program. However, there is still MR immunization coverage below 95%, in the Magelang City. Public Health Center has coverage of MR was 83.56% and Magelang Selatan was 89.14%. The purpose of the study was to analyse the factors associated with rejection of MR immunization. Study design using cross sectional. 120 samples of parents from elementary, junior high school, and SLB were selected in Magelang Utara sub-district with simple random sampling. The variables that had a statistical- relationship with the status of immunization refusal of Measles Rubella (p < 0.05) were type of work, history of measles,level of knowledge, attitudes of student’s parent attitudes (p = 0,0001), perceived vulnerability (p = 0,0001), perceived severity (p = 0,0001), perceived benefits and barriers, environment support, family support, and school support. So that parents with poor knowledge have a 18.355 times greater chance of rejecting Measles rubella Immunization.
Abstrak
Measles rubella (MR) merupakan penyakit yang sangat menular, rubela mengakibatkan keguguran atau bayi lahir dengan cacat bawaan pada kehamilan trimester I. Kementerian Kesehatan menganjurkan kekebalan populasi terhadap penyakit campak rubela sebesar 95% melalui Program Imunisasi Measles Rubella. Cakupan MR di Kota Magelang Provinsi Jawa Tengah masih < 95%. Puskesmas Magelang Utara mempunyai cakupan MR sebesar 83,56%, dan Magelang Selatan sebesar 89,14%. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan penolakan imunisasi MR. Desain studi menggunakan potong lintang. Terpilih 120 sampel wali murid dari SD, SMP, dan SLB di Kecamatan Magelang Utara dengan simple random sampling. Variabel yang memiliki hubungan secara statistik dengan status penolakan imunisasi Measles Rubella adalah jenis pekerjaan, riwayat campak, tingkat pengetahuan, sikap wali murid (p=0,0001), persepsi kerentanan (p=0,0001), persepsi keparahan (p=0,0001), persepsi manfaat dan hambatan, dukungan lingkungan, dukungan keluarga, dan dukungan sekolah. Wali murid dengan pengetahuan kurang baik memiliki peluang 18,355 kali lebih besar untuk menolak Imunisasi MR.
 
Orang dengan Disabilitas: Situasi Tantangan dan Layanan di Indonesia
People with disabilities experience discrimination for their rights. This discrimination makes them experiencing difficulties in their lives. This article explores the challenges facing people with disabilities and what services are available to the disability population in Indonesia. A literature study used to capture the phenomenon of challenges and services for the disability population in Indonesia. This study indicated that people with disabilities still experience social injustice and discrimination. These challenges demonstrate the public perception to the disability population that those were not independent or depends on the other compassion. The services are centralized in some cities so that the challenge appeared for those living in the countryside. Social workers may actively provide excellent services by considering local wisdom and commitment to social justice by fulfilling the rights of people with disabilities. In addition, they also promote the participation of the beneficiaries at all levels to fulfilment of needs.
Abstrak
Orang dengan disabilitas mengalami diskriminasi dalam keterpenuhan haknya. Diskriminasi dalam pemenuhan hak tersebut membuat orang dengan disabilitas kesulitan dalam kehidupannya. Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi tantangan yang dihadapi orang dengan disabilitas dan layanan apa yang tersedia bagi populasi disabilitas di Indonesia. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan tentang fenomena tantangan dan layanan bagi populasi disabilitas di Indonesia. Hasil penelitian menemukan bahwa di Indonesia, populasi disabilitas masih mengalami ketidakadilan sosial dan diskriminasi. Tantangan tersebut menunjukkan cara pandang orang umum terhadap populasi disabilitas sebagai populasi yang tidak mandiri dan tergantung pada bantuan orang lain yang berdasar pada belas kasihan. Layanan yang tersedia bagi populasi disabilitas di Indonesia terpusat di kota-kota besar Indonesia, sehingga menjadi tantangan tambahan bagi populasi disabilitas terutama yang tinggal di pedesaan. Profesi pekerjaan sosial memberikan layanan kompeten dengan mempertimbangkan budaya yang berkembang di masyarakat, kemudian berkomitmen untuk mengusung keadilan sosial dengan mengupayakan pemenuhan hak orang dengan disabilitas, serta mempromosikan partisipasi penerima layanan di semua level usaha pemenuhan kebutuhan.
Sikap Masyarakat terhadap Penerapan Imbauan Social/Physical Distancing saat Pandemi COVID-19
Since the first case of COVID-19 was found in Indonesia, the government has started to appeal to the public to always keep their distances (social/physical distancing). For the public, this appeal was new and its implementation requires adaptation. This is what encourages us to find out more about people attitudes in implementing this social/ physical distancing appeal. This research was conducted one month after the first case was found and before the Indonesia large-scale social restrictions/PSBB was implemented. This research used a descriptive quantitative approach with data collection techniques through online surveys distributed through social media. The results showed that in general the attitude of the community in implementing social/physical distancing has a high enough value. There are three aspects of attitude that are assessed, namely cognition, affection, and conation. The majority of respondents realized that social/ physical distancing needed to be done to prevent the spread of COVID-19 and had also applied various appeals regarding this matter. Even though the affection component related to the application of appeals to worship at home has a low value compared to other appeals related to social/ physical distancing which have an average value of above 90 percent. The mass media has provided information to the general public, but there are several aspects that require a more persuasive and personal approach. Therefore, increasing public awareness of social/physical distancing calls through community leaders is important.
Abstrak
Sejak ditemukan kasus pertama COVID-19 di Indonesia, pemerintah mulai mengimbau agar masyarakat senantiasa menjaga jarak (social/physical distancing). Bagi masyarakat imbauan ini merupakan hal yang baru dan penerapannya memerlukan adaptasi. Hal inilah yang mendorong penulis untuk mengetahui lebih jauh terkait sikap masyarakat dalam penerapan imbauan social/physical distancing. Penelitian ini dilakukan satu bulan sejak kasus pertama ditemukan dan sebelum Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diberlakukan, menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui survey daring yang disebarkan melalui media sosial. Hasil penelitian menunjukkan secara umum sikap masyarakat dalam penerapan social/physical distancing memiliki nilai yang cukup tinggi, melalui penilaian aspek sikap yaitu kognisi, afeksi, dan konasi. Mayoritas responden menyadari bahwa social/physical distancing perlu dilakukan untuk mencegah penyebaran COVID-19 dan telah menerapkan berbagai imbauan terkait hal tersebut. Meskipun pada komponen afeksi terkait penerapan imbauan untuk beribadah di rumah memiliki nilai yang rendah dibandingkan dengan imbauan lain terkait social/physical distancing yang memiliki nilai rata-rata di atas 90 persen. Media massa telah memberikan informasi kepada masyarakat umum, namun ada beberapa aspek yang membutuhkan pendekatan lebih persuasif dan personal. Sehingga, peningkatan kesadaran masyarakat terhadap imbauan social/physical distancing melalui tokoh masyarakat menjadi penting
Studi Kualitatif Implementasi Kebijakan Eliminasi Malaria di Wilayah Endemis Rendah Kabupaten Pangandaran dan Pandeglang
The government targets malaria elimination in Java and Bali by 2023. But until 2020, Pangandaran and Pandeglang Regency haven’t received malaria-free certification. This qualitative study was conducted to provide an overview of Pangandaran and Pandeglang malaria control implementation by comparing it to Activity Indicators based on the Indonesian Minister of Health Decree on malaria elimination. In-depth interviews, using thematically interview guidelines, were conducted to 48 key informants such as policyholders and people in charge of health programs and cross-sectoral at the provincial, district, sub-district, and village levels. Thematic analysis was used in the theme of policy implementation, budget, facilities and infrastructures, human resources, and cross-sector cooperation. The result shows that malaria control is implemented according to the decree, but some activities haven’t been done. The analysis on policy implementation theme shows that both districts have carried out according to the guidelines, with innovation in the form of establishing Posmaldes (village malaria post) in Ujung Kulon National Park in Pandeglang. APBD, APBN, and Global Fund are used as budget sources. Both districts stated that facilities and infrastructures are sufficiently available, but there is a lack in human resources’ quantity and varying degrees of competencies. There is also a lack of cross-sector cooperation because malaria control hasn’t become a priority in those sectors and they are only acting as supports to the health sector. Efforts to control malaria are considered less optimal due to the absence of malaria elimination regulations, varied human resource capabilities, and the limitation in the duties and functions of cross-sectors
DETERMINAN MINAT MEMBACA BUKU KESEHATAN IBU DAN ANAK (KIA) PADA IBU HAMIL DI 7 KABUPATEN/KOTA DI INDONESIA
Latar belakang: Kurangnya pengetahuan tentang tanda bahaya selama kehamilan, persalinan, dan masa nifas dapat menyebabkan kematian ibu. Buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) merupakan salah satu media promosi kesehatan yang dapat meningkatkan pengetahuan ibu tentang tanda bahaya maternal.
Tujuan: Studi ini bertujuan untuk mengetahui determinan minat membaca Buku KIA pada ibu hamil.
Metode: Studi ini merupakan studi potong lintang (cross-sectional) dengan melibatkan 509 ibu hamil yang tinggal di 7 kabupaten terpilih yaitu Kota Bandar Lampung, Kota Palembang, Kabupaten Lebak, Kabupaten Karawang, Kota Semarang, Kota Surabaya, dan Kota Makasar. Analisis bivariat dan multivariat dilakukan dengan menggunakan secara berturut-turut uji chi-square dan regresi logistik ganda
Hasil: Ibu hamil yang berumur lebih dari 34 tahun memiliki peluang lebih tinggi dalam memiliki minat membaca Buku KIA (OR: 1,655; 95%CI: 0,988-2,773) dibandingkan dengan ibu hamil yang berumur 20-34 tahun. Ibu hamil yang mendapatkan penyuluhan terkait Buku KIA oleh tenaga kesehatan memiliki peluang lebih tinggi dalam memiliki minat membaca Buku KIA (OR: 2,807; 95%CI: 1,471-5,355) dibandingkan dengan ibu hamil yang tidak mendapatkan penyuluhan.
Kesimpulan: Umur ibu hamil dan penyuluhan terkait Buku KIA oleh tenaga kesehatan merupakan determinan minat membaca Buku KIA pada ibu hamil. Penyuluhan Buku KIA dengan sasaran semua usia ibu hamil sebaiknya dilakukan oleh tenaga kesehatan terlatih.
Kata Kunci: Buku KIA, ibu hamil, dukungan tenaga kesehatan
STUDI AKTIVITAS ANTIPLATELET DAN ANTITROMBOSIS EKSTRAK AIR DAUN SUKUN (Artocarpus altilis (Park.) Fosberg)
ABSTRACT
The mature breadfruit leaves (Artocarpus altilis) infusion has been traditionally used by Indonesian folks for curing heart diseases and stroke. The key mechanisms underlying these diseases are platelet aggregation and thrombosis. There is no evidence about the efficacy of the water extract of A. altilis leaves (EADS) against platelet aggregation and thrombosis, in order to provide scientific evidence regarding its use by the community. This study aimed to investigate the antiplatelet and antithrombotic activities of EADS. Ticagrelor, an antiplatelet drug agonist of P2Y12 receptor was used as a positive control. The antiplatelet activity of EADS was assessed in vitro by Light Transmittance Aggregometry (LTA) method using human platelet induced by Adenosine Diphosphate (ADP); whereas the antithrombotic activity was evaluated in vivo using Acute Pulmonary Thromboembolism (APT) method in male adult Swiss mice induced by the mixture of epinephrine (0.7 mg/kg bw) and collagen (11 mg/kg bw). The number and the onset of dead and paralysis mice were observed; and the number of thrombus was calculated under the microscope. We found that EADS demonstrated a weak antiplatelet activity (IC50>1000 µg/mL). Based on the number and the onset of dead and/or paralysis, as well as the number of thrombus, we found that EADS failed to exhibit antithrombotic activity at the doses of 200, 300, and 400 mg/kg bw. TLC analysis showed that EADS did not contain 2-geranyl-2,3,4,4’-tetrahydroxydihydrochalcone (GTDC), the antiplatelet compound in the ethanolic extract of A. altilis leaves (EEDS) in our previous research.
Keywords: Artocarpus altilis, platelet aggregation, antithrombotic, Light Transmittance Aggregometry, Acute Pulmonary Thromboembolism
ABSTRAK
Rebusan daun sukun yang sudah tua (Artocarpus altilis) secara tradisional digunakan oleh masyarakat Indonesia untuk mengobati penyakit jantung dan stroke. Agregasi platelet dan trombosis merupakan faktor penting pada patofisiologi kedua penyakit tersebut. Penelitian aktivitas antiplatelet dan antitrombosis dari Ekstrak Air Daun Sukun (EADS) belum pernah dilaporkan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji aktivitas antiplatelet dan antitrombosis dari EADS guna memberikan bukti ilmiah terkait pemanfaatannya oleh masyarakat. Ticagrelor, obat antiplatelet yang merupakan agonis dari reseptor P2Y12 digunakan sebagai kontrol positif. Uji aktivitas antiplatelet dilakukan secara in vitro menggunakan metode Light Transmittance Aggregometry (LTA) dengan platelet yang diambil dari darah manusia dan digunakan induktor agregasi platelet berupa Adenosin Difosfat (ADP, 10µM). Parameter yang diamati adalah persen penghambatan agregasi platelet. Uji aktivitas antitrombosis dilakukan secara in vivo menggunakan metode Acute Pulmonary Thromboembolism (APT) pada mencit jantan dewasa galur Swiss dengan induktor trombosis berupa campuran epinefrin (0,7 mg/kgBB) dan kolagen (11 mg/kgBB). Parameter yang diamati adalah jumlah dan onset kematian, paralisis, serta jumlah trombus berdasarkan analisis histopatologi. Hasil uji menunjukkan bahwa EADS memiliki aktivitas antiplatelet yang lemah (IC50>1000 µg/mL). EADS tidak memiliki aktivitas antitrombosis yang terlihat dari ketidakmampuan dalam melindungi mencit dari paralisis dan/atau kematian serta tidak adanya penurunan jumlah trombus yang bermakna pada mencit yang diberi perlakuan ekstrak dibandingkan kelompok kontrol pelarut. Analisis KLT menunjukkan bahwa EADS tidak mengandung senyawa aktif antiplatelet 2-geranyl-2,3,4,4’-tetrahydroxydihydrochalcone (GTDC) yang ada dalam ekstrak etanol daun sukun (EEDS) pada penelitian sebelumnya.
Kata Kunci: Artocarpus altilis, agregasi platelet, antitrombosis, Light Transmittance Aggregometry, Acute Pulmonary Thromboembolis