Journals of Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Not a member yet
2187 research outputs found
Sort by
Evaluasi Pola dan Rasionalitas Penggunaan Antibiotik pada Pasien Neonatus di Ruang NICU dan Perinatal RSUD Banjarnegara
Neonates are particularly susceptible to infections caused by exposure to microorganisms during labor or shortly after birth. Some neonates require treatment in the NICU and perinatal rooms because of cases of infection that require antibiotics as therapy. This study aimed to determine the pattern of antimicrobial administration, antimicrobial rationality, and its relationship to clinical outcomes. This study used a cross-sectional design with prospective data collection using the medical record of neonates in the NICU and Perinatal rooms at RSUD Banjarnegara during November 2020-January 2021. The samples in this study were all neonatal patients who received antibiotics. Evaluation of antibiotics use was carried out using the Gyssens method. Descriptive analysis was conducted to determine the description of the research sample and the antibiotics used. A total of 131 samples had normal birth weight characteristics of 71%. The single antibiotic most frequently used as amoxicillin (21 patients), and the combination antibiotic was ampicillin+gentamicin (106 patients). The results of the evaluation using the Gyssens method showed that patients received 265 antibiotics, 85.55% were in category 0, 8.75% in category IIa, 3.8% in category IIIb, and 1.9% in category IIb. Of the 131 neonates treated, 124 patients were declared improved and 7 others died. The correlation between antibiotic rationality and clinical outcomes was analyzed by Chi-square, the result of the Asymp value. Sig (2-sided) 0.138 which means there is no relationship between the two. The rationality and effectiveness of clinical outcomes of antibiotics used during the study were considered good because the number of patients who were discharged with improved conditions was much greater than those who died
Validasi Metode Analisis Penetapan Kadar Protein Ekstrak Ikan Gabus dengan Metode Lowry dan Bromocresol Green
Snakehead fish is one of the biological resources with high economic value because it contains high albumin levels. Analytical methods for the determination of protein content in snakehead fish are available not been validated. This study aims to obtain a comparison of the accuracy, repeatability, intermediate precision, and linearity between the Lowry and Bromocresol-green methods in determining albumin levels from snakehead fish extracts. This study was performed with the SHIMADZU UV-1280 spectrophotometer at a wavelength of 778 nm for the lowry method and 638 nm for the bromocresol-green method. The results of the study show that all parameters meet the requirements for accepting validation. The results were tested statistically with the independent t-test, the p-value was 0.172 (p> 0.05) the accuracy between the Lowry and Bromocresol-green methods did not have a significant difference, that the Lowry and Bromocresol green methods had the same ability to determine accuracy parameters and precision parameters, the p-value is 0.000 (
Tantangan Kebijakan Satu Data Indonesia
Accurate vital statistics can be used to formulate health programs and policies. The problem is the overlapping and fragmented data sources in several agencies that record data on deaths and causes of death. The Indonesia’s One Data policy was created to organize the data generated by each agency that performs public data collection, recording and reporting. The purpose of this study is to examine the challenges of implementing the Indonesia’s One Data policy in the registration system of deaths and causes of death in DKI Jakarta Province. Data analysis uses the World Wide Web Foundation's framework of data openness, including legal frameworks, political barriers, coordination, and data quality. This study found that there are many regulations regarding data integration, but there are still overlaps in the recording and reporting systems. Coordination between agencies and political egos of each agency affect the quality of the data produced. In conclusion, weak coordination and sectoral political egos are still obstacles to implementing the One Data Indonesia policy. This study suggests eliminating data fragmentation and conducting data interoperability so that it is more accurate to use as a basis for policymaking.
Abstrak
Statistik hayati kematian dan penyebab kematian yang akurat dapat dimanfaatkan sebagai dasar penyusunan program dan kebijakan kesehatan berbasis bukti. Permasalahan yang ada adalah sumber data yang tumpang tindih dan terfragmentasi di beberapa instansi yang melakukan fungsi pencatatan data kematian dan penyebab kematian. Kebijakan Satu Data Indonesia dibuat untuk mengorganisir data yang dihasilkan oleh setiap instansi yang melakukan pengumpulan, pencatatan dan pelaporan data publik. Tujuan penelitian ini mengkaji gambaran tantangan implementasi kebijakan Satu Data Indonesia pada sistem pencatatan kematian dan penyebab kematian di Provinsi DKI Jakarta. Analisis data menggunakan teori menurut World Wide Web Foundation tentang keterbukaan data yang terdiri dari variabel legal framework, political barriers, koordinasi, serta kualitas data. Hasil penelitian ini menemukan dari sisi regulasi telah banyak diatur tentang integrasi data, tetapi masih ada tumpang tindih sistem pencatatan dan pelaporan. Koordinasi antar instansi dan ego politik masing-masing instansi berpengaruh pada kualitas data yang dihasilkan. Kesimpulannya, hambatan koordinasi dan ego politik sektoral masih menjadi kendala dalam pelaksanaan kebijakan Satu Data Indonesia. Penelitian ini menyarankan untuk membuka fragmentasi data dan melakukan koordinasi interoperabilitas data sehingga data yang dihasilkan lebih akurat untuk digunakan sebagai dasar pembuatan kebijakan
Fungsi Kognitif Anak Dengan Epilepsi Umum
Children with epilepsy may experience cognitive impairment due to the effects of structural lesions or seizure activity. This study aims to determine the cognitive function of children with general epilepsy. This study was a cross-sectional design that included children aged 6 to 68 months with general epilepsy in the polyclinic and pediatric ward of Sanglah Hospital Denpasar from September 2013 to January 2015. All children who participated in this study were subjected to a Mullen scale examination. Statistical analysis was performed using Chi-square test and multivariate analysis with logistic regression. In 93 children with general epilepsy, there was a significant correlation between the level of cognitive function and seizure frequency >10 times with an odds ratio 6.067 (95% CI 2.002-18.388, p value 0.001) and seizure duration ≥15 minutes with an odds ratio 6.006 (95% CI 1,817-20,246, p value 0.003). In this study, it can be concluded that seizure frequency >10 times and seizure duration ≥15 minutes in children with general epilepsy have a positive relationship of 6 times with the abnormal cognitive function. Further studies are needed to determine cognitive development of children with general epilepsy.
Abstrak
Anak dengan epilepsi dapat mengalami gangguan kognitif berkaitan dengan efek dari lesi struktural maupun aktivitas kejang. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui fungsi kognitif anak dengan epilepsi umum. Penelitian ini merupakan penelitian dengan desain potong lintang yang mengikutsertakan anak usia 6 sampai 68 bulan dengan epilepsi umum di poliklinik dan ruang perawatan anak RSUP Sanglah Denpasar pada bulan September 2013 hingga Januari 2015. Semua anak yang ikut serta dalam penelitian dilakukan pemeriksaan skala Mullen. Analisis statistik dilakukan dengan uji kai kuadrat dan analisis multivariat dengan regresi logistik. Pada 93 anak dengan epilepsi umum, didapatkan hubungan yang signifikan antara fungsi kognitif dengan frekuensi kejang >10 kali dengan rasio odds 6,067 (nilai p=0,001, 95% CI 2,002-18,388) dan lama kejang ≥15 menit dengan rasio odds 6,006 (nilai p=0,003, 95% CI 1,817-20,246). Pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa frekuensi kejang >10 kali dan lama kejang ≥15 menit pada anak dengan epilepsi umum memiliki hubungan yang positif sebesar 6 kali terhadap fungsi kognitif abnormal. Penelitian lanjutan perlu dilakukan untuk mengetahui perkembangan fungsi kognitif anak dengan epilepsi umum
Daya Proteksi Minyak Biji Ketumbar (Coriandrum sativum L.) dalam Basis Gel Hidroksipropil Metilselulosa sebagai Repelen Aedes aegypti
Abstrak. Satu upaya pencegahan penyakit Demam Berdarah Dengue adalah dengan mencegah kontak manusia dan vektornya, yaitu Aedes aegypti. Penelitian repelen nyamuk menggunakan bahan aktif dari alam telah banyak dilakukan, contohnya minyak ekstrak biji ketumbar (Coriandrum sativum L.). Akan tetapi, ekstrak murni biji ketumbar mudah menguap dan kurang efektif apabila digunakan secara langsung sebagai repelan Aedes aegypti. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variasi konsentrasi gelling agent hidroksipropil metilselulosa (HPMS) terhadap lama waktu perlindungan dan daya proteksi gel minyak biji ketumbar sebagai repelen terhadap Aedes aegypti. Metode penelitian ini adalah eksperimen murni dengan desain posttest-only control group design. Kelompok perlakuan diberi gel minyak biji ketumbar menggunakan konsentrasi HPMS 7,5%; 10%; dan 12,5% dengan 6 kali replikasi. Kelompok kontrol terdiri dari kontrol positif yaitu ekstrak biji ketumbar murni konsentrasi 60% dalam etanol 96% dan kontrol negatif yaitu lengan tanpaolesan apapun. Analisa data menggunakan uji Mann–Whitney dan Kruskal-Wallis dengan taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukan bahwa HPMS 7,5% memiliki jumlah nyamuk hinggap paling sedikit selama 6 jam pengamatan dengan rerata hinggap 3,2%. Suhu dan kelembaban ruang penelitian homogen. Penambahan HPMS terbukti memberikan peningkatan daya proteksi dan lama perlindungan yang sebelumnya belum maksimal terhadap nyamuk Aedes aegypti. Konsentrasi HPMS 7,5% sesuai standart Komisi Pestisida (1995) dengan rerata daya proteksinya adalah 97% selama 6 jam. Kesimpulan dari penelitian ini adalah gelling agent seperti HPMS dapat menjadi alternatif untuk meningkatkan daya proteksi selama 6 jam perlindungan