Journals of Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Not a member yet
2187 research outputs found
Sort by
FRONT MATTER JURNAL EKOLOGI KESEHATAN VOL 20 NO.3 TAHUN 2021
FRONT MATTER JURNAL EKOLOGI KESEHATAN VOL 20 NO.3 TAHUN 202
Pola Pengadaan Obat di 4 Apotek Jaringan Wilayah Bumi Serpong Damai (BSD) Tangerang Selatan
Pharmacies are an inseparable part of the drug distribution chain until it reaches the patient. However, patients often hear complaints about the availability of drugs in pharmacies because sometimes there are drug shortage. The aim of this study was to identify the drug procurement pattern in four network pharmacies in the Bumi Serpong Damai (BSD) area in 2019. A retrospective study of four network pharmacies in the Bumi Serpong Peace (BSD) area of South Tangerang was carried out. A total of 8,959 samples were obtained by census from procurement documents of all drugs sold beginning in 2019. (A, B, C, and D pharmacies). The ABC and VEN methods were used in this study. The information gathered includes the name of the drug, the unit, the manufacturer's name, the creditor's name, and the amount and selling price. During 2019, four pharmacies had a total of 2,876 medicinal items of pharmacy A, 1,918 medicinal items of pharmacy B, 1,939 medicinal items of pharmacy C, and 2,226 medicinal items of pharmacy D, with a total drug expenditure of pharmacy A Rp.2,649,438;pharmacy B Rp.683,389,661; pharmacy C Rp. 881,540,329; and pharmacy D Rp. 1,245,520,143. Based on the findings of the study, it is possible to conclude that the four pharmacies have the most drugs in the essential category based on the VEN analysis. However, based on the Pareto ABC analysis, there are still many drugs in four network pharmacies in the BSD Region that fall into the Pareto C category, necessitating further investigation of the procurement
Hubungan Frekuensi Gen Knock-Down Resistance (KDR) V1016G, V410L, dan F1534C dengan Tingkat Resistensi Populasi Aedes aegypti di Denpasar, Bali
ABSTRACT
Insecticides are used to reduce the number of Aedes aegypti mosquitoes, a vector of the dengue virus that causes dengue hemorrhagic fever in Indonesia, including in Bali. However, in recent years, the resistance of the Ae. aegypti mosquito to insecticides has been reported in Bali. In addition, Ae. aegypti is also identified to be resistant to several types of insecticides whose resistance mechanism is not yet clear. Several studies have stated that the KDR genes are one of the causes of resistance to pyrethroid insecticides. Therefore, a study was conducted to determine the frequency of the KDR genes in the Ae. aegypti population in Denpasar, Bali which had been previously shown resistance to permethrin (type of pyrethroid). Forty-three females Ae. aegypti specimens from bioassay testing using permethrin stored in tubes containing 100% ethanol were used in this study. Each mosquito is put in a different tube. The mosquito DNA was then extracted. Three KDR genes, V1016G, V410L, and F1534C, were analyzed using the quantitative-PCR melt curve method at the Biomolecular Laboratory, FKIK Unwar. In this study, the mutation frequency of 1016G was 98%, 410L was 50%, and 1534C was 3.4%. The 410L mutant gene was shared by all specimens, although only in one allele (heterozygous). Of the 43 specimens, 39 had homozygous mutant V1016G, heterozygous V410L, and wild typehomozygous F1534C. It indicated that the frequency of the 1016G and 410L mutant genes is quite high, while the 1534C gene is low. The combination of the KDR 1016G and 410L genes was the most dominant found in permethrin-resistant Ae. aegypti specimens. Therefore, it is assumed that these two KDR genes play a role in forming permethrin resistance in Ae. aegypti.
ABSTRAK
Insektisida digunakan untuk menurunkan jumlah nyamuk Aedes aegypti yang merupakan vektor virus dengue penyebab penyakit demam berdarah dengue di Indonesia, termasuk di Bali. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, resistensi nyamuk Ae. aegypti terhadap insektisida dilaporkan sudah terjadi di Bali. Selain itu, Ae. aegypti juga dilaporkan resisten terhadap beberapa jenis insektisida yang mekanisme terjadinya resistensi belum diketahui. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa gen KDR menjadi salah satu penyebab terjadinya mekanisme resistensi terhadap insektisida golongan peritroid. Oleh sebab itu, dilakukan penelitian untuk mengetahui frekuensi gen KDR pada populasi Ae. aegypti di Denpasar, Bali yang sebelumnya telah terbukti memiliki resistensi permetrin (insektisida golongan peritroid). Sebanyak 43 spesimen Ae. aegypti betina hasil dari pengujian bioassay yang tersimpan dalam tabung yang berisi etanol 100% digunakan dalam penelitian ini. Tiap nyamuk dimasukkan dalam tabung yang berbeda. Selanjutnya dilakukan ekstraksi DNA nyamuk. Tiga jenis gen KDR, yaitu V1016G, V410L, and F1534C, dianalisis dengan metode quantitative-PCR melt curve di Laboratorium Biomolekuler FKIK Unwar. Dalam penelitian ini ditemukan frekuensi mutasi 1016G sebesar 98%, 410L 50%, dan 1534C sebesar 3,4%. gen mutan 410L dimiliki oleh seluruh spesimen walaupun hanya pada salah satu alel (heterozigot). Dari 43 spesimen yang diteliti, terdapat 39 spesimen yang memiliki profil genotip V1016G homosigot mutan, V410L heterosigot, dan F1534C homosigot wild type. Sehingga dapat disimpulkan bahwa frekuensi gen mutan 1016G dan 410L cukup tinggi, sedangkan gen 1534C rendah. Kombinasi gen KDR 1016G dan 410L paling dominan ditemukan pada spesimen Ae. aegypti resisten permetrin. Kedua gen KDR diasumsikan berperan dalam pembentukan resistensi permetrin pada Ae. aegypti.
 
Pengaruh Pengobatan dan Prevalensi Infeksi Cacing Usus pada Anak Sekolah Dasar di Kecamatan Dampelas dan Kecamatan Banawa, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah
ABSTRACT
Soil-Transmitted Helminths infection is still remain become a health problem in tropical and sub-tropical countries, one of which is Indonesia. The aim of the study was to determine the STH infection in Banawa and Dampelas sub-districts, Donggala district, Central Sulawesi Province. The study was conducted in February - November 2017 on 153 elementary school students. The collected feces were examined by the direct examination method. The results found infections of Ascaris lumbricoides, hookworm, and Trichuris trichiura. We also found Enterobius vermicularis and mixed infections. However, the logistic regression test showed there was no relationship between taking deworming medication and the incidence of worms in school childrenin Donggala Regency (p-value > 0,05). Based on the results it can be concluded that the prevalence of STH infection in both locations is still high. It is necessary to make efforts to treat school children and counseling on clean and healthy living behavior.
ABSTRAK
Infeksi Soil Transmitted Helminths masih menjadi masalah kesehatan di negara tropis dan sub tropis, termasuk di Indonesia. Tujuan penelitian adalah untuk menentukan tingkat infeksi STH pada siswa sekolah dasar (SD) wilayah Kecamatan Banawa dan Dampelas, Kabupaten Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah. Penelitiandilakukan pada bulan Februari - November 2017 dengan jumlah sampel 153. Tinja yang terkumpul diperiksa dengan metode pemeriksaan langsung. Hasil penelitian ditemukan infeksi cacing gelang (Ascaris lumbricoides) cacing tambang (Hookworm), dan cacing cambuk (Trichuris trichiura). Selain itu ditemukan infeksi Enterobius vermicularis dan infeksi ganda. Namun uji logistic regression menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara minum obat cacing dengan kejadian kecacingan pada anak sekolah di Kabupaten Donggala (p-value > 0,05).Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa prevalensi infeksi STH di kedua lokasi masih tinggi. Perlu dilakukan upaya pengobatan anti cacing pada anak sekolah serta penyuluhan perilaku hidup bersih dan sehat
Spatio-Temporal Analysis of Dengue Cases in Kuningan District Since 2008-2017
Dengue has spread to over 400 of Indonesia’s 497 districts, including West Java Province in which 26 of its districts have been declared as hyper-endemic. A study was conducted to describe the spread of dengue incidences and its cluster during 2008-2017 in Kuningan District. The district is located in an important route, in migration and in the economic field, connecting the northern part of West Java to the southern part. A spatio-temporal analysis based on monthly dengue incidences from the local District Health Office was performed using SaTScan™. This study revealed there were Statistically significant high-risk dengue clusters with various RR in half of the subdistricts in Kuningan in the ten-year periods of 2008-2017 and a retrospective space-time analysis detected 17 significant clusters (P<0.001). Subdistrict Kuningan is detected as a high-risk area every year except for 2008, whereas Jalaksana emerged as a high-risk cluster in six of ten-year periods. We conclude that there was a dynamic spread of dengue cases initiated from the north part of Kuningan District to western areas. This study results do not properly predict RR due to a lack of information on some significant factors, such as vector density and related environmental and socioeconomic parameters. However, this study has provided a perspective on dengue incidence that can be used by local health managers and disease surveillance personnel to monitor prospective outbreaks and make decisions about how to implement an effective response
KANDUNGAN GIZI DAN TINGKAT KESUKAAN NUGET LELE DENGAN SUBSTITUSI KACANG MERAH, BROKOLI, DAN LABU KUNING
Latar Belakang. Inovasi dalam pembuatan makanan tambahan terutama berbahan dasar ikan, bertujuan untuk meningkatkan nilai gizi yang berkontribusi terhadap peningkatan fungsi organ tubuh. Penganekaragaman produk olahan ikan seperti nuget dapat meningkatkan umur simpan dan nilai ekonomis. Penambahan sayuran dalam pembuatan nuget ikan bertujuan untuk meningkatkan kandungan gizi terutama vitamin dan mineral. Pemberian nuget sayuran dapat meningkatkan konsumsi sayur pada anak. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan gizi dan tingkat kesukaan nuget lele dengan penambahan labu kuning, brokoli, dan kacang merah. Metode. Metode penelitian adalah eksperimen menggunakan rancangan acak lengkap dengan tiga perlakuan yaitu pembuatan nuget ikan lele dengan substitusi labu kuning, substitusi brokoli, dan substitusi kacang merah. Pembuatan produk nuget ikan lele dilakukan di Laboratorium Teknologi Pangan Balai Litbangkes Magelang. Hasil. Kandungan gizi nuget lele kacang merah, brokoli, dan labu kuning berturut-turut untuk protein adalah 12,67 g/100 g, 11,36 g/100 g, dan 10,51 g/100 g. Kadar air adalah 62,91 g/100 g, 65,71 g/100 g, dan 67,01 g/100 g. Kadar beta karoten adalah 5360,2985 µg/100 g, 4162,37 µg/100 g, dan 12736,475 µg/100 g. Kadar besi adalah 12,06 mg, 10,35 mg, dan 14,33 mg. Kadar zink adalah 6,21 mg, 6,21 mg, dan 6,52 mg. Panelis lebih menyukai nuget lele labu kuning berdasarkan parameter warna, rasa, aroma, dan tekstur. Kesimpulan. Kadar protein tertinggi pada nuget kacang merah yaitu 12,67 g/100 g. Kadar air terendah pada nuget lele kacang merah yaitu 62,91 g/100 g. Kadar beta karoten, besi, dan zink tertinggi pada nuget lele labu kuning yaitu 12736,475 µg/100 g, 14,33 mg, dan 6,52 mg. Panelis lebih menyukai nuget lele labu kuning berdasarkan parameter warna, rasa, aroma, dan tekstur nuget
HUBUNGAN TINGKAT STRES DENGAN KEJADIAN HIPERTIROID PADA WANITA USIA SUBUR
Latar Belakang. Hipertiroid dapat mengakibatkan percepatan detak jantung, penurunan berat badan, peningkatan nafsu makan, dan kecemasan. Hipertiroidisme lebih sering terjadi pada wanita. Pajanan asap rokok, stres psikologi, penggunaan kontrasepsi hormonal, umur, periode melahirkan, dan konsumsi iodium pada tahap tertentu dapat memicu hipertiroid. Tujuan. Penelitian ini mencari hubungan antara status merokok, tingkat stres, penggunaan kontrasepsi hormonal, umur, dan penggunaan garam beriodium rumah tangga dengan kejadian hipertiroid pada wanita usia subur (WUS). Metode. Penelitian ini adalah penelitian observasional dengan desain kasus-kontrol pada pasien baru WUS berusia 15–49 tahun di Klinik GAKI Magelang tahun 2013–2014. Populasi penelitian terdiri atas kelompok kasus yaitu 51 pasien WUS didiagnosis hipertiroid. Kelompok kontrol yaitu 102 WUS yang didiagnosis sehat dan tidak mengalami gangguan fungsi tiroid (eutiroid/normal). Data dikumpulkan melalui wawancara responden disertai uji cepat kandungan iodium garam rumah tangga. Uji Chi-square dilakukan untuk mendapatkan hubungan bivariat antara variabel independen dan kejadian hipertiroid pada responden. Analisis uji regresi logistik dilakukan untuk mendapatkan hubungan variabel dependen secara bersamaan terhadap kejadian hipertiroid. Hasil. Wanita usia subur dengan stres berat mempunyai risiko hipertiroid 2,4 kali daripada WUS dengan stres ringan (OR=2,435; 95% CI=1,031–5,755; p=0,043; p<0,05). Wanita usia subur bukan pengguna kontrasepsi hormonal memiliki risiko hipertiroid 3,5 kali dibandingkan dengan WUS pengguna kontrasepsi hormonal (OR=0,284; 95% CI=0,114–0,709; p=0,007; p<0,05). Kesimpulan. Stres berat berhubungan dengan risiko hipertiroid pada WUS. Wanita usia subur (WUS) hendaknya melakukan manajemen stres sebagai salah satu upaya pencegahan terhadap hipertiroid dan juga pencegahan kekambuhan hipertiroid