Journals of Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Not a member yet
2187 research outputs found
Sort by
The Effect of Transcendental Meditation on the Immune Response of Bali Mandara High School Students
Background:Meditation has become an increasingly popular form of alternative medicine. Many studies have been conducted to assess the health benefits of meditation. In particular, Transcendental Meditation (TM) has been shown to be effective in treating psychological disorders, hypertension, cardiovascular disease, and high cholesterol.
Methods: This study has a total sample of 150 students. The study group consisted of 3 groups; control group, TM group 1 (students who regularly practiced TM for 1 year), TM group 2 (students who regularly practiced TM for 2 years). TM Group consists of 50 students for each group. The control group consisted of 50 students who did not use any relaxation techniques. Total eosinophils, neutrophils, lymphocytes, monocytes and hematocrit are counted by an automated quantitative hematology analyzer.
Results: The results showed high rates of depression, anxiety and stress among the control group compared to the TM 1 and TM 2 groups. The levels of immune cells indicated that the TM 2 group differed significantly from the control group and the TM 1 group on eosinophils, monocytes and hematocrit (P < 0.05), whereas leucocytes, neutrophils, and lymphocytes showed an increase although no significant differences were observed in the TM 2 group (P> 0.05). Furthermore, there was a strong correlation between the immune response cells (leucocytes, lymphocytes, eosinophils, monocytes, leucocytes, and hematocrit) of the TM group. immune response correlates with increased meditation duration.
Conclusion: Based on the results, meditation can help students to reduce depression, anxiety and stress. This study provides information that Transcendental Meditation has health benefits, especially in boosting the immune system.
 
PENGARUH SUBTITUSI TEPUNG MULTIGIZI (TUMIZ) TERHADAP DAYA TERIMA DAN KADAR GIZI MIKRO NUGET
Latar belakang. Tepung multigizi (tumiz) adalah hasil olahan pangan lokal yang mengandung zat gizi lengkap sehingga dapat dimanfaatkan sebagai substitusi jajanan. Nuget merupakan jajanan kekinian yang banyak digemari oleh anak-anak dan remaja, tetapi kurang seimbang zat gizinya sehingga perlu disubstitusi dengan tumiz. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh substitusi tumiz terhadap daya terima dan kadar gizi mikro nuget. Metode. Penelitian ini diawali dengan pengembangan nuget melalui substitusi tumiz dengan konsentrasi 0%, 20%, 25%, 30%, dan 35%, dilanjutkan dengan uji organoleptik untuk menilai daya terima dan analisis kadar zat gizi mikro pada setiap formula nuget. Analisis vitamin A menggunakan metode spektrometri dan vitamin C dengan metode titrasi iodometri. Analisis kadar kalsium, fosfor, besi, zink, dan selenium menggunakan metode atomic absorption spectrophotometric (AAS). Analisis daya terima menggunakan uji Kruskal Wallis dan analisis kadar gizi mikro dilakukan secara univariat. Hasil. Nuget tumiz yang memiliki daya terima terbaik dari aspek warna adalah formula O3 (4,15), aroma terbaik formula O2 dan O3 (4,22), tekstur terbaik formula O5 (3,66) dan rasa terbaik formula O1 (4,02). Tidak ada perbedaan daya terima dari aspek warna (p=0,691) dan aroma (p=0,727). Ada perbedaan daya terima nuget tumiz berdasarkan aspek tekstur (p=0,000) dan rasa (p=0,002). Kesimpulan. Substitusi tumiz sampai konsentrasi 35 persen tidak memengaruhi daya terima dari aspek warna, tekstur, aroma, dan rasa. Penambahan tumiz sampai 35 persen dapat meningkatkan kadar zat gizi mikro nuget sehingga dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan gizi terutama vitamin A dan vitamin C bagi anak balita
Pengaruh Infusa Serai Dapur (Cymbopogon citratus DC.) sebagai Larvasida Aedes aegypti
Abstrak. Demam berdarah dengue merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk betina Aedes aegypti. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh infusa serai dapur (Cymbopogon citratus) dan menganalisis pada konsentrasi mana paling berpengaruh terhadap kematian larva Ae. aegypti. Penelitian dilakukan dengan desain eksperimen sejati. Sampel penelitian adalah 500 ekor larva instar III Ae. aegypti dengan satu wadah berisi 20 ekor larva dan dilakukan 5 kali pengulangan. Variabel yang diamati adalah rata-rata kematian larva Ae. aegypti setiap 4, 8, 12, 16, 20, dan 24 jam pada kelompok kontrol (aquades) dan pada kelompok intervensi dengan berbagai konsentrasi yaitu 25 ml, 50 ml, 75 ml, dan 100 ml infusa serai dapur. Data dianalisis menggunakan uji two-way Anova dengan hasil menunjukkan nilai signifikan 0,000 (p<0,05), berarti ada perbedaan antara kelompok intervensi. Pengamatan menunjukkan bahwa semua (100%) larva Ae. aegypti bergerak aktif sebelum diberikan infusa serai dapur. Setelah 24 jam pemberian infusa serai dapur pada konsentrasi 25, 50, 75, dan 100 ml didapatkan jumlah kematian berturut-turut 15% (3 ekor), 35 % (7 ekor), 75% (15 ekor) dan 90% (18 ekor). Hal ini memperlihatkan potensi serai dapur sebagai larvasida nabati
Identifikasi Serovar Bakteri Leptospira sp pada Manusia dan Tikus Di Kabupaten Donggala
ABSTRACT
Leptospirosis is an acute infectious disease caused by Leptospira sp bacteria and has zoonotic properties. This disease is passed on through contact with the urine of infected rat or with contaminated water and food. Confirmed cases of Leptospirosis-infected rats in Donggala Regency have been reported thus, there is a potential of it being a reservoir that can pass on the bacteria to humans. This research aims to identify the leptospira bacteria reservoir that infects rats and humans that infects rats and humans using observational descriptive research design with a cross-sectional study. Human serum samples were obtained from patients, treated at the local public health center with clinical leptospirosis symptoms. Mouse serum samples were obtained from local rat captured during three consecutive days collections in three villages. The confirmation of the existence of leptospirosis bacteria on human and rat serum samples was conducted using the MAT method. The tested serovars were Bangkinang, Grippothyphosa, Icterohaemorhagic, Canicola, Pyrogen, Sejreo, Hebdomadis, Pomona, Djasiman, Bataviae, Mini, Sarmin, Manhao, Tarassovi. The research showed that leptospirosis bacteria was found in two species, e.g. Rattus tanezumi (86,27%) and Rattus norvegicus (13,72%). Agglutination was found in human serum samples at titer dilution 1:10 and 1:20, with serovar type of Bangkinang, Icterohaemorrhagie, Djasiman, Hebdomanis, Manhao, Mini, Pyrogen dan Batavia. However that titer couldn not be confirmed positive for leptospirosis. Infection in rat was found at 25,49% with titer dilution of 1:10, with serovar type of Bangkinang, Icterohaemorrhagie, Djasiman, Hebdomanis, Djasiman, Mini, dan Batavia. Based on the research, potential of infection from rat to humans is found. The proposed suggestion is to maintain a good domestic hygiene to prevent contact with rat urine which can be a source of leptospirosis infection.
ABSTRAK
Leptospirosis adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan bakteri Leptospira sp dan bersifat zoonosis. Penyakit ini ditularkan melalui kontak dengan urin tikus yang terinfeksi atau melalui air dan makanan yang terkontaminasi. Konfirmasi tikus yang terinfeksi oleh Leptospira di Kabupaten Donggala telah dilaporkan sehingga berpotensi sebagai reservoir yang menularkan bakteri tersebut ke manusia. Tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi serovar bakteri leptospira yang menginfeksi tikus dan manusia dengan menggunakan desain penelitian observasional deskriptif dengan studi potong lintang. Sampel serum manusia diperoleh dari pasien yang berobat ke puskesmas dengan gejala klinis Leptospira menggunakan kriteria WHO SEARO 2009. Sampel serum tikus diperoleh dari tikus yang ditangkap selama tiga hari di tiga desa. Konfirmasi keberadaan bakteri Leptospira pada sampel serum manusia dan tikus dilakukan dengan metode MAT. Serovar yang diujikan antara lain Bangkinang, Grippothyphosa, Icterohaemorhagic, Canicola, Pyrogen, Sejreo, Hebdomadis, Pomona, Djasiman, Bataviae, Mini, Sarmin, Manhao, Tarassovi. Hasil penelitian menunjukkan tidak ditemukan manusia yang positif leptospirosis, melainkan hanya tikus yang ditemukan positif leptospirosis (25,49%). Berdasarkan hasil penelitian ditemukan tujuh jenis serovar bakteri Leptospira di lokasi penelitian, yaitu: Bangkinang, Icterohaemorrhagie, Djasiman, Hebdomanis, Manhao, Mini, Pyrogen dan Batavia. Saran yang dapat dikemukakan adalah pentingnya menjaga kebersihan lingkungan rumah untuk menghindari kontak dengan air kencing tikus yang bisa menjadi sumber penularan leptospirosis
Hubungan Penerapan Etika Batuk pada Penderita TB Paru dengan Kejadian TB Paru pada Pasangan di Kecamatan Darul Imarah Kabupaten Aceh Besar
Tuberkulosis (TB) Paru merupakan salah satu penyakit infeksi penyebab kematian tertinggi di dunia. Lingkungan yang memiliki risiko penularan Mikobakterium tuberkulosis (MTB) yang besar adalah rumah. Pasangan merupakan anggota yang memiliki lama dan kualitas kontak terbaik di rumah. WHO merekomendasikan 7 poin rekomendasi untuk mencegah transmisi MTB, salah satunya adalah penerapan etika batuk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan penerapan etika batuk pada penderita TB Paru dengan kejadian TB Paru pada pasangan penderita di Kecamatan Darul Imarah Kabupaten Aceh Besar. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan desain cross-sectional. Data diolah menggunakan uji chi square terhadap 94 sample yang diambil dengan simple random sampling. Hasil penelitian didapatkan 76,6% dari penderita TB Paru tidak menerapkan etika batuk dengan baik dan hanya 3,2% pasangan penderita yang mengalami TB Paru. Penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan etika batuk yang buruk pada penderita TB Paru tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kejadian TB Paru pada pasangan (p=0,072). Hal ini disebabkan sedikitnya jumlah pasangan yang terkena TB Paru. Faktor lingkungan dalam pengendalian MTB dan peran genetik dalam kerentanan terhadap MTB diduga berperan dalam kejadian ini
Tingkat Stres Pelajar Sekolah Menengah Saat Pembelajaran Jarak Jauh Pada Masa Pandemi Covid-19
The COVID-19 pandemic that occurred in 2020 led to the implementation of the Distance Learning (PJJ) system for students in Indonesia. The learning system that changes suddenly can trigger stress levels in students. This study aims to determine the factors that influence the occurrence of stress in high school students during PJJ in Jabodetabek. This study used a cross sectional study design and was conducted in October – November 2020. Sampling used a voluntary sampling technique. Junior and senior high school students in Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, and Bekasi (n=414) participated in this study. Data was collected by filling out online questionnaires. Multivariate analysis was performed by logistic regression. During PJJ, 50.5% of students experienced severe stress. The results of the multivariate analysis showed that female students (OR=2.444, 95% CI: 1.526 – 3.913); difficulty in accessing learning (OR= 4.244, 95% CI: 2.666 – 6.756); and poor level of understanding of the material (OR= 2.657, 95% CI 1.541 – 4.582) affected the stress level of students during PJJ. We concluded that severe stress during PJJ was quite high in middle school participants. Female students, difficulty of access, and level of understanding of the material were significantly associated withthe stress level of participants. The variable most related to student’s stress was difficulty in accessing learning material. It is better if the education provider ensure that every student easily to access learning, evaluates the PJJ method regularly, improves students; stress management skills, creates a supportive educational environment, and pays attention to the learning media used.
Abstrak
Pandemi COVID-19 yang terjadi pada tahun 2020 menyebabkan diberlakukannya sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) pada pelajar di Indonesia. Sistem pembelajaran yang berubah secara tiba-tiba dapat memicu tingkat stres pada pelajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan stres pada pelajar sekolah menengah selama PJJ di Jabodetabek. Studi ini menggunakan desain cross sectional dan dilakukan pada bulan Oktober – November 2020. Teknik voluntary sampling digunakan dalam pemilihanresponden. Pelajar Sekolah Menengah Pertama dan Atas di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (n=414) berpartisipasi dalam penelitian ini. Pengumpulan data dilakukan dengan pengisian kuesioner secara online. Analisis multivariat dilakukan dengan regresi logistik. Selama PJJ, 50,5% pelajar mengalami stres berat. Hasil analisis multivariat menunjukkan pelajar perempuan (OR=2,444, 95% CI: 1,526-3,913); kesulitan dalam mengakses pembelajaran (OR= 4,244, 95% CI: 2,666-6,756); dan tingkat pemahaman materi yang kurang(OR= 2,657, 95% CI: 1,541-4,582) mempengaruhi tingkat stres pada pelajar selama PJJ. Kami menyimpulkan bahwa stres berat saat PJJ cukup tinggi pada responden pelajar menengah. Pelajar perempuan, kesulitan akses, berhubungan dengan stress pelajar adalah kesulitan dalam mengakses pembelajaran. Sebaiknya pihak penyelenggara pendidikan memastikan setiap pelajar mudah mengakses pembelajaran, mengevaluasi metode PJJ secara berkala, meningkatkan keterampilan manajemen stres siswa, menciptakan lingkungan pendidikan yang mendukung, dan memperhatikan media pembelajaran yang digunakan. 
Aktivitas Antiparkinson Ekstrak dan Fraksi Buah Kemukus (Piper cubeba L.) pada Tikus Putih Galur Sprague Dawley
Pathophysiologies underlying the Parkinson's disease is oxidative stress, can be treat with antioxidants from natural sources, including Piper cubeba L. Flavonoids are reported as antioxidants. This study aimed to analyse the flavonoids content and antiparkinson activity from the ethanolic extract of cubeb fruits (EECF), ethyl acetate fraction of ethanolic extract of cubeb fruits (EAFEECF), n-hexane fraction of ethanolic extract of cubeb fruits (NHFEECF). This research is an experimental study with a post test only control group design. Eighty four rats were divided into 14 groups. Group 1 is a normal group, group 2-3 are negative controls which were given aquadest and olive oil, respectively. Positive control groups, 4 and 5 were given levodopa 27 mg/kgBW and vitamin E 180 IU/kgBW, respectively. Group 6-14 were given EECF, EAFEECF, and NHFEECF at doses 150, 300, 600 mg/kgBW. Group 2-14 were induced with haloperidol 2 mg/kgBW intraperitoneally 45 minutes after administration of the material tests. The materials are given once a day for 7 days. The length of time the rats can hold on to the rotarod was tested on days 0, 4, 7, 11, 14. The curve showed the data on the survival time of rats on a rotarod versus time, then the AUC0-14 was calculated using the trapezoidal method. The AUC0-14 were analyzed using Mann Whitney test at 95%CI. The flavonoids content were analysed using TLC. The results showed that the EECF, EAFEECF, and NHFEECF contained flavonoids, and antiparkinson activity except for the NHFEECF at doses 150 and 600 mg/kgBW