Journals of Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Not a member yet
2187 research outputs found
Sort by
POTENSI PENGEMBANGAN TANAMAN OBAT DI WILAYAH AGLOMERASI SOLO RAYA
Indonesia merupakan negara yang mempunyai potensi dan peluang besar untuk penemuan kandidat obat baru yang bersumber dari tanaman obat. Setiap jenis tanaman membutuhkan lingkungan hidup tertentu untuk dapat berproduksi secara optimal. Salah satu program peningkatan produktivitas yaitu melalui pengembangan komoditas berbasis kawasan. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengidentifikasi tanaman obat yang potensial untuk dikembangkan di kawasan Solo Raya. Metode analisis yang digunakan yaitu Location Quotient, Indeks Lokalisasi, Indeks Spesialisasi dan Indeks Gravitasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa Kabupaten Boyolali potensial untuk pengembangan kencur (Kaempferia galanga L.). Kabupaten Klaten potensial untuk pengembangan temu ireng (Curcuma aeruginosa Roxb.), dlingo (Acorus calamus L.) dan lidah buaya (Aloe vera L.). Kabupaten Sukoharjo potensial untuk pengembangan kunyit (Curcuma longa L.), lempuyang (Zingiber zerumbet (L.) Roscoe ex Sm.), temu lawak (Curcuma zanthorrhiza Roxb.), mengkudu (Morinda citrifolia L.) dan mahkota dewa (Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl.). Kabupaten Wonogiri potensial untuk pengembangan temu kunci (Boesenbergia rotunda (L.) Mansf), keji beling (Sericocalyx crispus (L.) Bremek.) dan sambiloto (Andrographis paniculata (Burm.f.) Nees). Kabupaten Karanganyar potensial untuk pengembangan jahe (Zingiber officinale Roscoe) dan lengkuas (Alpinia galanga (L.) Willd.)
THE EFFECT OF DATE FRUITS (PHOENIX DACTYLIFERA L) INTERVENTION TO INCREASE HEMOGLOBIN LEVELS IN FEMALE ADOLESCENTS
Background. Anemia is one of the common health problems globally, where a condition of red blood cells is inadequate to meet the physiological needs caused by iron deficiency. The short term impact of anemia on adolescents can cause growth disorders, while the long term impact on pregnant women can cause pregnancy and childbirth complications. Date fruit is one of the fruits that containing iron (Fe), vitamin C, vitamin B complex, and folic acid that can help form red blood cells. Consuming the date fruits may improve formation of red blood cells and prevent anemia. Objective. To determine the effect of the intervention of date fruits in increasing hemoglobin levels among female adolescents at Islamic boarding school. Method. This research was performed using a pre-experimental study with one group pretest and posttest design. The sampling method in this research used purposive sampling with samples of 30 female adolescent students aged 15–18 years old at Modern Islamic Boarding School (Pondok Modern Gontor Putri 2), Ngawi, East Java, Indonesia. The inclusion criteria was adolescent suffering from anemia (age 15 until 18 years, Hb <12 g/dL, not menstruation during intervention). The intervention was carried out for seven days by giving seven date fruits (50 g) per day. Hemoglobin levels had recorded before and after intervention. The data were analyzed using paired t-test. Results. The median hemoglobin (Hb) level before giving date fruits was 10.8 g/dL and the median Hb level after giving date fruits was 11.9 g/dL. There were differences in Hb levels before and after giving date fruit in the treatment group (p=0.001). Conclusion. The intervention of consuming seven date fruits (50 g) for seven days effectively increased hemoglobin level
EFFECT OF NAA AND BAP APPLICATION ON THE GROWTH RESPONSES OF Mentha × piperita L.
Mentha × piperita L., also known as peppermint, is a plant with various uses, including medicine, cosmetics, and food. Numerous industries have a high need for peppermint products, but Indonesia is currently unable to meet this demand and should continue to import peppermint. One effort can be made to improve cultivation procedures, and tissue culture becomes one alternative. This research uses shoots as explants with Murashige & Skoog's basic media and growth regulators BAP and NAA. The research was conducted in two phases: six-week initial planting and seven-week subculture. The treatment of BAP 4 mg/L + NAA 0.5 mg/L provides better performance for the number of leaves, and BAP 3 mg/L produced the best response regarding the number of shoots. Furthermore, BAP 1 mg/L + NAA 1 mg/L produced the best response to shoot height and number of leaves, and BAP 3 mg/L + NAA 0.5 mg/L generated the best response to root length. Based on the research, BAP 3 mg/L is the optimal treatment
Resilience and Emotional Intelligence Related to Workers' Stress Level in the Quarter Life Crisis
Background: young adults are vulnerable to stress due to difficulty completing their developmental tasks, which would make them be trapped in a quarter-life crisis. Resilience and emotional intelligence are needed to minimize work stress. Objectives: to investigate the relationship between resilience and emotional intelligence with stress levels in workers during the quarter-life crisis.
Methods: A quantitative descriptive, correlative, and cross-sectional design was used for the research.
Results: 57% of workers had low resilience, 51,9% had good emotional intelligence, and 68,6% experienced moderate stress. The results of the analysis identified a relationship between resilience and emotional intelligence with the stress level of workers during the quarter-life crisis in DKI Jakarta (p=0.001).
Conclusions: workers with high resilience and good emotional intelligence experience lower stress than workers with low resilience and low emotional intelligence. This study recommends regular screening of workers’ mental health by health services and also for educational institutes to include material on resilience, emotional intelligence, work stress, and quarter-life crisis. Researchers recommend cooperation between companies and mental health services.
Keywords: emotional intelligence, quarter life crisis, resilience, work stress, workers
Abstrak
Latar Belakang: dewasa muda rentan mengalami stres akibat sulit menyelesaikan tugas perkembangannya, sehingga dapat terjebak pada quarter life crisis. Resiliensi dan kecerdasan emosi dibutuhkan untuk meminimalkan stres kerja. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan resiliensi dan kecerdasan emosi dengan tingkat stres pekerja pada masa quarter life crisis.
Metode: penelitian ini menggunakan desain kuantitatif deskriptif korelatif dan desain cross sectional.
Hasil: 57% pekerja memiliki resiliensi rendah, 51,9% pekerja mempunyai kecerdasan emosi baik, dan 68,6% pekerja mengalami stres sedang. Hasil analisis mengidentifikasi adanya hubungan resiliensi dan kecerdasan emosi dengan tingkat stres pekerja pada masa quarter life crisis di DKI Jakarta (p=0,001).
Kesimpulan: pekerja dengan tingkat resiliensi tinggi dan kecerdasan emosi baik mengalami stres lebih rendah dibandingkan pekerja dengan resiliensi rendah dan kecerdasan emosi rendah. Penelitian ini merekomendasikan adanya skrining rutin kesehatan jiwa pekerja oleh pelayanan kesehatan serta institut pendidikan untuk memasukkan materi resiliensi, kecerdasan emosi, stres kerja, dan quarter life crisis. Peneliti merekomendasikan adanya kerja sama antara perusahaan dengan layanan kesehatan jiwa.
Kata kunci: kecerdasan emosional, pekerja, resiliensi, stres kerja, quarter life crisi
BUBUK BAYAM MERAH SEBAGAI TERAPI PERBAIKAN STATUS GIZI PADA BALITA DENGAN MALNUTRISI DI PUSKESMAS KARANGPLOSO KABUPATEN MALANG
Latar Belakang. Masalah gizi anak merupakan salah satu masalah kesehatan tertinggi di Indonesia. Setengah dari seluruh kematian balita diakibatkan oleh kondisi malnutrisi seperti underweight, overweight, wasting, dan stunting. Malnutrisi berdampak pada gangguan metabolisme tubuh, mempunyai kecenderungan lebih tinggi untuk terkena infeksi, kemampuan kognitif yang menurun, dan penurunan produktivitas serta kerugian ekonomi. Salah satu alternatif pangan yang dapat dijadikan terapi tambahan malnutrisi adalah bayam merah. Bayam merah mempunyai kandungan padat gizi, yaitu karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral. Bayam merah mempunyai kandungan mikronutrien yang cukup tinggi seperti zat besi, kalsium, dan zink yang berperan penting dalam mengatasi kondisi malnutrisi. Bayam merah diberikan dalam bentuk bubuk agar dapat bertahan lebih lama baik dari segi rasa maupun kandungan gizinya. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk menilai perubahan status gizi sebelum dan sesudah pemberian bubuk bayam merah pada balita malnutrisi di wilayah kerja Puskesmas Karangploso, Kabupaten Malang. Metode. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuasi-eksperimen dengan sampel penelitian adalah 52 balita malnutrisi yang terbagi menjadi 2 kelompok, yaitu 26 balita kelompok perlakuan dan 26 balita kelompok kontrol. Penelitian ini bertempat di Posyandu Desa Ngijo, Karangploso, Kabupaten Malang. Analisis statistik menggunakan uji bivariat dependent t-test dan independent t-test. Tahapan penelitian ini dimulai dari penilaian status gizi sebelum terapi, kemudian pemberian intervensi, yaitu bubuk bayam merah sebanyak 250 g selama satu bulan untuk kelompok perlakuan dan pemberian makanan tambahan kacang hijau untuk kelompok kontrol serta penilaian status gizi setelah intervensi. Hasil. Hasil penelitian menunjukkan rerata peningkatan berat badan (BB) sebelum dan sesudah pemberian pada kelompok perlakuan adalah 1,905 kg dan kelompok kontrol 0,085 kg (p=0,000), kemudian selisih BB pre dan post pada kedua kelompok tersebut adalah 1,82 kg (p=0,037). Kesimpulan. Berat badan anak balita lebih cepat naik dengan pemberian bubuk bayam merah, sehingga pemberian bubuk bayam merah efektif meningkatkan status gizi balita dengan malnutrisi