Journals of Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Not a member yet
    2187 research outputs found

    PENGARUH SUPLEMENTASI TEPUNG DAUN KELOR TERHADAP KADAR HDL DAN TRIGLISERIDA TIKUS SPRAGUE DAWLEY DISLIPIDEMIA

    Get PDF
    Latar Belakang. Ketidakseimbangan metabolisme lipid dalam tubuh atau yang dikenal sebagai dislipidemia dapat menjadi pemicu berbagai penyakit kardiovaskular. Kandungan antioksidan yang tinggi dalam daun kelor dapat memperbaiki profil lipid akibat kondisi dislipidemia. Tujuan. Penelitian ini bertujuan menganalisis efek suplementasi tepung daun kelor terhadap kadar kolesterol HDL dan kadar trigliserida pada tikus Sprague Dawley yang dikondisikan dislipidemia. Metode. Penelitian ini merupakan true experiment dengan randomized pre-test and post-test with control group design. Penelitian menggunakan sampel tikus putih Sprague Dawley dengan berat 150–200 g, usia 8–12 minggu, dan kondisi tikus sehat tanpa ada cacat fisik. Sampel dibagi menjadi 4 kelompok berbeda: K-, K+, P1, dan P2. Kelompok K- adalah kelompok tikus sehat, kelompok K+ kelompok tikus yang diberi pakan tinggi lemak, kelompok P1 adalah kelompok tikus yang diberi suplementasi tepung kelor dosis 0,1 g/100 g BB dan kelompok P2 adalah kelompok tikus yang diberi suplementasi tepung kelor dosis 0,2 g/100 g BB. Sampel diteliti selama 28 hari. Pengukuran kadar kolesterol HDL dan trigliserida menggunakan metode CHOD-PAP. Uji statistik menggunakan paired t-test, one way Anova, dan Post Hoc Bonferroni. Hasil. Hasil penelitian menunjukkan kenaikan yang signifikan pada kadar kolesterol HDL serta penurunan yang signifikan pada kadar trigliserida (p=0,000). Peningkatan kadar kolesterol HDL pada kelompok P2 secara bermakna lebih tinggi dari kelompok P1. Penurunan kadar trigliserida pada kelompok P2 secara bermakna lebih besar dari kelompok P1. Hal ini dikaitkan dengan kandungan antioksidan diantaranya flavonoid, vitamin C, dan beberapa senyawa lain. Kandungan flavonoid, tanin, saponin, dan β-sitosterol mampu mengurangi akumulasi trigliserida berlebih dalam tubuh. Kandungan flavonoid dan vitamin C dapat meningkatkan aktivitas LCAT dalam membentuk kolesterol HDL. Kesimpulan. Penambahan suplementasi tepung daun kelor dapat memperbaiki profil lipid tikus dislipidemia

    SUPLEMENTASI VITAMIN A PADA ANAK USIA 6–59 BULAN DI INDONESIA: DISTRIBUSI DAN PERSPEKTIF SPASIAL

    Get PDF
    Latar Belakang. Suplementasi vitamin A belum menjangkau seluruh anak Indonesia usia 6–59 bulan. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara spasial cakupan suplementasi vitamin A dan hubungannya dengan kejadian diare pada anak di Indonesia. Metode. Studi ekologi dengan pendekatan spasial ini menganalisis data yang dikumpulkan oleh Kementerian Kesehatan RI pada tahun 2021. Populasi studi adalah anak-anak berusia 6–59 bulan di Indonesia, dengan sampel seluruh anak yang mendapat suplementasi vitamin A yang tercatat dalam profil kesehatan Indonesia tahun 2021. Penelitian ini menganalisis cakupan vitamin A pada 34 provinsi di Indonesia dan kejadian diare pada anak. Analisis regresi spasial dilakukan dengan memanfaatkan perangkat lunak QGIS versi 3.10 dan Geoda sebagai instrumen penelitian. Hasil. Hasil pemetaan cakupan vitamin A menunjukkan terdapat 22 provinsi dengan cakupan di atas 81 persen dan satu provinsi dengan cakupan di bawah 25 persen. Terdapat autokorelasi spasial secara mengelompok (Moran's I= 0,549, dengan Io= -0,0303) antar provinsi dalam cakupan vitamin A. Kejadian diare pada balita memiliki autokorelasi positif dengan cakupan vitamin A (Moran's I= 0,659, dengan Io =-0,0303) dan membentuk pola klaster. Analisis regresi spasial lag memperkuat temuan terdapatnya autokorelasi spasial antara kejadian diare dan cakupan vitamin A (koefisien=0,171; p value= 0,0464), dan variabel cakupan vitamin A memiliki pengaruh secara signifikan terhadap kejadian diare (p=0.0000). Analisis dengan metode local indicator of spatial association (LISA) menemukan bahwa provinsi Banten, Jawa Barat, dan Jawa Tengah berada pada kuadran High-High, sedangkan provinsi DKI Jakarta dan DI Yogyakarta berada di kuadran Low-High, serta provinsi Papua dan Papua Barat berada pada kuadran Low-Low. Kesimpulan. Terdapat heterogenitas pola spasial pada cakupan vitamin A dan terdapat hubungan autokorelasi spasial antar kejadian diare dan cakupan vitamin A antar provinsi di Indonesia. Dibutuhkan perencanaan sistematis untuk mengatasi kesenjangan program suplementasi vitamin A dan memastikan peningkatan cakupan untuk peningkatan kualitas kesehatan anak

    Faktor Yang Berhubungan dengan Keberadaan Jentik Nyamuk Aedes aegypti di Kelurahan Garegeh

    Get PDF
    ABSTRACT Dengue Hemorrhagic Fever is one of the health problems whose number of sufferers tends to increase and its spread is wide. One of the benchmarks for the DHF program is the larva-free rate by setting the ABJ≥95%, while the lowest ABJ in the fourth quarter of 2017 at the Nilam sari ABJ Health Center is Garegeh Village. The purpose of this study was to determine the factors associated with the presence of Aedes aegypti mosquito larvae in Garegeh village. This study used a descriptive analytic method, with a cross sectional study design. The population in this study amounted to 566 houses, the sample was taken by systematic random sampling totaling 186 houses. Data were collected through guided interviews and observations, then processed computerized using chi-square. The results of univariate analysis 61.7% had Container Index with high density, 61.2% did 3M Plus Actions with Less Good, 52.5% of officers' roles were not good, 51.9% had poor physical environment with less than. Bivariate results showed a significant relationship between the 3M Plus Action (p=0.001; OR=0.312), the role of officers (p=0.006; OR=0.414) and the physical environment (p=0.000; OR=3.240) with the presence of larvae. It was concluded that the factors related to the presence of Ae. aegypti mosquito larvae were 3M Plus action, the role of officers and the physical environment. It is hoped that health institutions can coordinate cadres and provide training so that the planned program runs properly. ABSTRAK   Penyakit Demam Berdarah Dengue merupakan salah satu masalah kesehatan yang jumlah penderitanya cenderung maningkat dan penyebarannya yang luas. Salah satu tolak ukur Program DBD adalah Angka bebas jentik dengan menetapkan ABJ≥95% sedangkan ABJ Triwulan IV 2017 di Puskesmas Nilam sari ABJ paling rendah adalah Kelurahan Garegeh. Tujuan penelitian ini mengetahui faktor yang berhubungan dengan keberadaan jentik nyamuk Aedes aegypti di kelurahan Garegeh. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik,  dengan desain cross  sectional  study. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 566 rumah, sampel diambil secara sistimatik random sampling yang berjumlah 186 rumah. Data dikumpulkan melalui wawancara terpimpin dan observasi, kemudian diolah secara komputerisasi dengan menggunakan chi-square. Hasil analisis univariat 61.7% memiliki Container Indeks dengan kepadatan tinggi, 61.2% melakukan Tindakan 3M Plus dengan Kurang Baik, 52.5% peran petugas kurang baik,  51.9% memiliki lingkungan fisik kurang baik dengan.dari. Hasil bivariat terdapat hubungan signifikan antara Tindakan 3M Plus (p=0.001;OR=0.312), Peran petugas (p=0.006; OR=0.414) dan Lingkungan Fisik (p=0.000; OR=3.240) dengan keberadaan jentik. Disimpulkan bahwa faktor  yang  berhubungan dengan keberadaan jentik nyamuk Ae.aegypti adalah tindakan  3M  Plus,  peran petugas dan lingkungan fisik. Diharapkan kepada institusi kesehatan dapat mengkoordinasi kader dan memberikan pelatihan agar program yang sudah terencana berjalan dengan mestinya.     &nbsp

    Full Pages Media Litbangkes Vol 31 No 4

    No full text

    Peran Rumah Tangga Dan Lingkungan Tempat Tinggal Terhadap Kondisi Air Minum Sumur Gali Di Indonesia

    Get PDF
    Water is essential for human life. The availability of decent dan safe water for drinking, food processing, and day to day necessity is required to prevent water-borne diseases. This study analyzes the role of household factors (compositional) and rural/urban village factors (contextual) on the condition of dug-wells water in Indonesia. The analysis used data integration of the 2018 Basic Health Research (Riskesdas) – the National Socioeconomic Survey (Susenas)in March 2018 and the 2018 Village Potential (Podes) data. These three surveys employed a cross-sectional design. We applied multilevel logistic regression modeling using STATA in the analysis. Samples were households that used dug wells in 12,259 rural/urban villages in Indonesia. The result found that 76,5% of households use basic drinking water facilities, in which 54% were in poor condition. The role of household-level (level 1) and rural/urban village-level (level 2) were almost the same, which were 50.13% and 49.87% respectively. In conclusion, there were no differences between household factors and rural/urban village factors in explaining the condition of drinking water from dug wells in Indonesia. To maintain proper and safe dug-wells-drinking-water facilities for all family members, it is necessary to provide environmental education to the community, to encourage community service and to reforest the living environment. Abstrak Air sangat dibutuhkan dalam kehidupan manusia. Ketersediaan air yang layak dan aman sangat diperlukan oleh masyarakat untuk keperluan minum, pengolahan makanan dan kebutuhan sehari-hari agar dapat terhindar dari penyakit yang ditularkan melalui air. Penelitian ini menganalisis peranan faktor rumah tangga (komposisional) dan faktor desa/kelurahan (kontekstual) terhadap kondisi air minum sumur gali di Indonesia. Analisis menggunakan data integrasi Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 - Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2018 dan Potensi Desa (Podes) 2018. Ketiga survei tersebut menggunakan rancangan potong lintang. Analisis menggunakan pemodelan multilevel logistic regression dengan program STATA. Sampel diambil dari rumah tangga yang menggunakan sumur gali pada 12.259 desa/kelurahan di Indonesia. Dari hasil diketahui bahwa 76,5% rumah tangga menggunakan sarana air minum dasar, dengan 54% kondisinya tidak baik. Besar peran tingkat rumah tangga (level 1) dan desa/kelurahan (level 2) hampir sama besar yaitu 50,13% dan 49,87%. Dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan faktor rumah tangga dan desa dalam menjelaskan kondisi air minum dari sumur gali di Indonesia. Untuk menjaga keberlangsungan sarana air minum sumur gali yang layak dan aman bagi seluruh anggota keluarga, diperlukan penyuluhan lingkungan bagi masyarakat, menggiatkan kerja bakti dan melakukan penghijauan lingkungan tempat tinggal

    Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 25, No. 1 Januari 2022

    No full text

    Hubungan Sosiodemografi dan Lingkungan Rumah terhadap Kejadian Dengue di Kota Tasikmalaya

    Get PDF
    Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Tingginya angka kejadian DBD dapat dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya adalah faktor lingkungan fisik. Faktor lingkungan fisik cukup berperan penting dalam perkembangan penyebaran vektor Dengue. Lingkungan fisik berpengaruh langsung terhadap komposisi spesies vektor, habitat perkembangbiakan nyamuk, populasi, longivitas dan penularannya. Kota Tasikmalaya pada tahun 2019 merupakan wilayah kota/kabupaten yang memiliki Incidence Rate (IR) tertinggi di wilayah Priangan Timur yaitu sebesar 99,2 per 100.000 penduduk dan pada tahun 2020 mengalami peningkatan kasus dari dua tahun sebelumnya menjadi 1.409  kasus. Penelitian ini dilakukan di Kota Tasikmalaya pada bulan September 2021 menggunakan rancangan kasus kontrol. Sampel pada penelitian ini yaitu 114 sampel yang terdiri dari 38 sampel kasus dan 76 sampel kontrol. Teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling. Hasil uji statistik dengan uji chi-square (α) = 0,05 menunjukkan variabel yang berhubungan adalah suhu dalam rumah (p=0,004 dan OR=4,343), ventilasi berkasa (p=0,009 dan OR=4,684), keberadaan jentik (p=0,036 dan OR=3,046). Variabel yang tidak berhubungan adalah kelembapan dalam rumah (p=1,0). Saran bagi dinas kesehatan dan puskesmas, melakukan penyuluhan kepada masyarakat tentang DBD dan mengedukasi masyarakat untuk melakukan upaya meningkatkan sirkulasi udara rumah dengan menambahkan ventilasi mekanik atau alamiah serta membuka semua pintu dan jendela rumah setiap pagi dan menjelang siang; dianjurkan untuk memasang kawat kasa pada semua ventilasi rumah; dan diharapkan dapat memelihara ikan pemakan jentik pada bak mandi/wc atau menguras dan menyikat bak mandi/wc seminggu sekali serta melakukan kegiatan PSN 3M plus lainnya

    KASUS-KASUS KERACUNAN JAMUR LIAR DI INDONESIA

    Get PDF
    ABSTRACT Wild mushrooms are one of the germplasm which have been consumed for decades. Besides the good nutritional content for health, some of wild mushrooms which identical to edible mushrooms are known to have toxins that can cause poisoning. To date, despite the high numbers of poisoning cases, information regarding cases of wild mushroom poisoning in Indonesia are not properly organized. This paper is a literature-based quantitative study by reviewing and validating all reports of mushroom poisoning in Indonesia during the 2010-2020 period. The results showed that over the last 10 years, there have been 76 cases of poisoning due to consumption of wild mushrooms in Indonesia. A total of 550 people became victims and 9 of them died. The wild mushroom genera suspected to be the cause of poisoning include: Amanita sp. (egg phase), Calvatia sp., Chlorophyllum cf. molybdites, Clitocybe sp., Coprinellus sp., Coprinopsis sp., Coprinus sp., Galerina sp., Inocybe sp., Lepiota sp., Macrocybe sp., Macrolepiota sp., Panaeolus sp., Parasola sp., Psilocybe sp., and Scleroderma sp. (old phase). The good collaboration between the government, researchers, citizens, and journalists in documenting the character of the mushroom that causes poisoning needs to be done to create a database of poisonous mushrooms in Indonesia. This is expected to be able to prevent the incidence of wild mushroom poisoning in Indonesia. Keywords: Wild Mushrooms, Poisoning, Indonesia   ABSTRAK Jamur liar merupakan salah satu bahan pangan yang telah dikonsumsi dalam waktu yang lama. Selain memiliki kandungan nutrisi yang baik untuk kesehatan, beberapa kelompok jamur liar sulit dibedakan dengan jamur edible dan diketahui memiliki toksin yang mampu menyebabkan keracunan. Hingga saat ini, walaupun telah terjadi berulang kali, informasi mengenai kasus-kasus keracunan  jamur liar di Indonesia masih belum dirapihkan dengan baik. Tulisan ini merupakan penelitian kuantitatif berbasis literatur dengan menelaah dan memvalidasi semua laporan keracunan jamur di Indonesia selama periode 2010-2020. Hasil koleksi informasi menunjukkan bahwa selama 10 tahun terakhir, telah terjadi 76 kasus keracunan akibat pengkonsumsian jamur liar di Indonesia. Sebanyak 550 orang menjadi korban dan 9 diantaranya meninggal dunia. Genus-genus jamur liar yang diduga menjadi penyebab keracunan diantaranya adalah : Amanita sp. (fase telur), Calvatia sp., Chlorophyllum cf. molybdites, Clitocybe sp., Coprinellus sp., Coprinopsis sp., Coprinus sp., Galerina sp., Inocybe sp., Lepiota sp., Macrocybe sp., Macrolepiota sp., Panaeolus sp., Parasola sp., Psilocybe sp., dan Scleroderma sp. (fase tua). Kolaborasi yang baik antara pemerintah, peneliti, masyarakat, dan jurnalis dalam pendokumentasian karakter jamur penyebab keracunan perlu dilakukan untuk membuat database infomasi jamur liar beracun di Indonesia. Hal ini diharapkan mampu untuk mencegah kejadian keracunan jamur liar di Indonesia. Kata kunci: Jamur Liar, Keracunan, Indonesi

    FAKTOR DOMINAN YANG MEMPENGARUHI PERILAKU BUANG AIR BESAR SEMBARANGAN (BABS) DI KOTA PEKANBARU, PROVINSI RIAU

    Get PDF
    ABSTRACT Open defecation is the act of disposing of waste in an area that can contaminate the environment. In Indonesia, there are still areas with Open Defecation Free (ODF) coverage that does not meet the national target (100%), one of which is in Pekanbaru City (28,6%). This study aims to explain the influence of environmental factors on defecation behavior. The type of research was quantitative with a cross-sectional design. A total of 194 families become respondents with proportional random sampling technique. Collecting data using a questionnaire. Data analysis was univariate, bivariate with chi-square test, and multivariate with logistic regression test. There were still 105 families (54.1%) who had open defecation. The variable that has a significant relationship with p-value <0.05 with open defecation behavior was latrine access (p=0.019), TOMA support (p=0.000), health care coaching (p=0.033), financial income (p=0.003) and habits (p=0.000). There were two dominant factors, namely habit with POR=3.771 (1.881-7.563) and TOMA support with POR=3.698 (1.872-7.034). Public awareness is needed, also increasing the frequency of home visits, socializing, and providing health information through print, electronic and social media. Keywords: Open Defecation Free (ODF), Environmental Factor, Pekanbaru   ABSTRAK Buang Air Besar Sembarangan (BABS) adalah tindakan membuang kotoran di area yang dapat mengkontaminasi lingkungan. Di Indonesia masih terdapat daerah dengan cakupan STOP BABS masih belum sesuai target nasional (100%), salah satunya di Kota Pekanbaru (28,6%). Penelitian ini bertujuan menjelaskan pengaruh faktor lingkungan terhadap perilaku BABS. Jenis penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional. Total 194 kepala keluarga (KK) yang menjadi responden dengan teknik proportional random sampling. Pengambilan data menggunakan kuesioner. Analisis data univariat, bivariat dengan uji chi-square dan multivariat dengan uji regresi logistic. Masih ditemukan 105 KK (54,1%) yang berperilaku BABS. Variabel yang memiliki hubungan yang signifikan p-value <0,05 dengan perilaku BABS yaitu akses jamban (p=0.019), dukungan TOMA (p=0.000), pembinaan nakes (p=0.033), pendapatan (p=0.003), dan kebiasaan (p=0.000). Terdapat dua faktor dominan yaitu kebiasaan dengan POR=3,771 (1,881-7,563) dan dukungan TOMA dengan POR=3,698 (1,872-7,034). Perlu kesadaran dari masyarakat, peningkatan frekuensi kunjungan rumah, sosialisasi dan pemberian informasi kesehatan melalui media cetak, elektronik juga media sosial. Kata kunci: Perilaku Buang Air Besar Sembarangan (BABS), Faktor Lingkungan,  Pekanbar

    Efektivitas Kombinasi Ekstrak Kayu Manis (Cinnamomum burmannii) dan Mikroalga (Haematococcus pluvialis) sebagai Krim Tabir Surya: Formulasi, Uji In Vitro, dan In Vivo

    Get PDF
    Indonesia is a tropical country with high intensity of sunlight. Exposure to high ultraviolet rays from sunlight on the skin for a long period of time brings negative impacts such as sunburn, erythema, and skin cancer. Counteracting the negative effects of sun exposure, natural sunscreens that are less toxic such as combination of Cinnamomum burmannii and Haematococcus pluvialis extracts are needed. Cinnamaldehyde as the high active compound in cinnamon extract is able to absorb UV-B rays due to a chromophore group in the form of an aromatic ring conjugated to carbonyl group, along astaxanthin content in the Haematococcus pluvialis which is able to ward off free radicals and has an anti-inflammatory function that the combination will be an effective sunscreen active ingredients. The study aims to develop an oil-in-the-water emulsion-type cream that is added as an active ingredient in a combination of Haematococcus pluvialis and Cinnamomum burmannii extracts to produce a sunscreen cream. The combination extracts was tested in vitro with a UV-Vis spectrophotometer and the SPF value. The cream was physically evaluated including homogeneity, spreadability, adhesion, viscosity, pH, and organoleptic tests as well as in vivo test using mice (Mus muculus). The results indicated that the cream formulas qualified for the physical standards, yet the viscosity value unqualified the standard . The in vitro test showed that the highest SPF value reached SPF 12 for the S2 formula with maximum category. In vivo test showed that the entire formula could protect the skin from exposure to UV-B rays by exoterra lamps

    1,563

    full texts

    2,187

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Journals of Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇