Kampung Jurnal IAIN Syekh Nurjati Cirebon
Not a member yet
5201 research outputs found
Sort by
Digital Competence and Teacher Preparedness for Educational Transformation in the Merdeka Curriculum Framework
AbstractThis research aims to analyze the digital competency level of teachers at Madrasah Ibtidaiyah (MI) in Cirebon Regency, West Java, Indonesia. The research methodology employs a mixed-method approach, combining quantitative and qualitative methods. 49 MI teachers were selected as respondents through random sampling techniques. Data collection was conducted through questionnaires and in-depth interviews. Descriptive statistics were used to look at quantitative data, and data reduction, data presentation, and conclusion drawing were used to look at qualitative data. Findings show a generally low level of digital competence, with a mean score of 2.28 (SD = 0.86) on a 5-point scale. Most teachers (40.8%) fell into the “Low” category, 30.6% were “Moderate,” and only 4.1% achieved “Very High.” Digital communication had the highest score (M = 2.52), followed by technology use (M = 2.42), digital ethics (M = 2.11), and content creation (M = 2.08). Teachers struggled most with creating digital materials, using online platforms, and understanding digital ethics. Teaching experience (F = 2.49, p = 0.045) and school location (F = 3.26, p = 0.047) showed significant differences, with urban and less-experienced teachers performing better. The regression analysis revealed age, teaching experience, rural location, and prior training as significant predictors, accounting for 43.5% of the variance. There were no differences between the sexes. The implications of this research point to the urgency of implementing programs to enhance teachers' digital competency. More broadly, this research impacts educational policy formulation, curriculum development, and the transformation of Islamic education in facing the digital era.Keywords: digital competency, islamic education, teacher development. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kompetensi digital guru di Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Indonesia. Metode penelitian menggunakan pendekatan metode campuran, menggabungkan metode kuantitatif dan kualitatif. 49 guru MI dipilih sebagai responden melalui teknik pengambilan sampel acak. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner dan wawancara mendalam. Statistik deskriptif digunakan untuk melihat data kuantitatif, dan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan digunakan untuk melihat data kualitatif. Temuan menunjukkan tingkat kompetensi digital yang umumnya rendah, dengan skor rata-rata 2,28 (SD = 0,86) pada skala 5 poin. Sebagian besar guru (40,8%) termasuk dalam kategori "Rendah", 30,6% "Sedang," dan hanya 4,1% yang mencapai "Sangat Tinggi." Komunikasi digital memiliki skor tertinggi (M = 2,52), diikuti oleh penggunaan teknologi (M = 2,42), etika digital (M = 2,11), dan pembuatan konten (M = 2,08). Guru paling kesulitan dalam membuat materi digital, menggunakan platform daring, dan memahami etika digital. Pengalaman mengajar (F = 2,49, p = 0,045) dan lokasi sekolah (F = 3,26, p = 0,047) menunjukkan perbedaan yang signifikan, dengan guru perkotaan dan guru yang kurang berpengalaman menunjukkan kinerja yang lebih baik. Analisis regresi menunjukkan usia, pengalaman mengajar, lokasi pedesaan, dan pelatihan sebelumnya sebagai prediktor signifikan, yang mencakup 43,5% varians. Tidak ada perbedaan antara kedua jenis kelamin. Implikasi penelitian ini menunjukkan urgensi pelaksanaan program untuk meningkatkan kompetensi digital guru. Secara lebih luas, penelitian ini berdampak pada perumusan kebijakan pendidikan, pengembangan kurikulum, dan transformasi pendidikan Islam dalam menghadapi era digital.Kata kunci: kompetensi digital, pendidikan islam, pengembangan guru
Strategi Orang Tua Dalam Membentuk Pendidikan Karakter Anak Yang Positif Sejak Dini
Permasalahan dalam penelitian ini bertolak dari belum optimalnya peran orangtua dalam membentuk karakter anak di tengah gempuran transformasi zaman, seperti pengaruh teknologi dan lemahnya role model. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap strategi orangtua dalam membentuk pendidikan karakter anak usia dini, dengan fokus pada komunikasi terbuka, pola asuh yang tepat, disiplin, dan memberi contoh yang baik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus pada satu orangtua yang memiliki anak usia 2-7 tahun, dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan orangtua menerapkan strategi belajar otodidak melalui media digital, menanamkan nilai tanggung jawab dan sopan santun sejak dini, membatasi screen time, dan menjadi role model melalui perilaku sehari-hari. Implikasi penelitian ini menunjukkan pentingnya kesadaran orangtua sebagai pendidik pertama dalam menanamkan nilai moral dan karakter positif yang berdampak pada pembentukan kepribadian anak yang lebih disiplin, mandiri, dan beretika sejak dini
The Impact of Transformational Leadership on Improving Social Science Teaching Quality
This research investigates the effect of transformational leadership on enhancing the quality of Social Science teachers. The leadership model is explored through four main dimensions: idealized influence, inspirational motivation, intellectual stimulation, and individualized consideration. Teacher quality improvement is assessed using Juran’s trilogy framework, which consists of quality planning, quality control, and quality improvement. The study was conducted at Yayasan Al Kautsar Cirebon, involving three school principals and six teachers representing MI, MTs, and Ulya levels. Several research gaps were identified: (1) the influence of each leadership dimension varies depending on the school context; (2) there is a need for broader and more comprehensive indicators of teacher quality; and (3) the relatively small sample size limits the generalizability of the findings. A quantitative approach with a survey design was applied, and data were processed through descriptive statistics, Pearson correlation to examine variable relationships, and linear regression to determine the most dominant leadership factor in improving teacher quality. The findings demonstrate that transformational leadership significantly and positively contributes to teacher quality improvement, with intellectual stimulation and individualized consideration emerging as the strongest predictors. Based on these results, the study recommends that principals emphasize these two aspects to strengthen instructional quality through diverse teaching strategies.Keywords: Leadership Transformational, Quality Improvement, Social Sains Teachers
Early Marriage in Hadith and Law: Analysis of Aisha’s Marriage and Legal Age Provisions
The phenomenon of early marriage remains a complex social and legal issue in Indonesia, illustrating the ongoing gap between religious texts, legal regulations, and social realities. This research departs from debates surrounding the hadith of the Prophet Muhammad’s marriage to ‘Aisha ra., which is often used as a religious justification for child marriage practices. The study aims to critically analyse the hadith through a socio-historical approach and the framework of maqāṣid al-sharī’ah, while assessing its conformity with Indonesian positive law. This research employs normative legal research with a qualitative perspective, relying on literature analysis of hadiths contained in Kutub al-Sittah, the views of classical Islamic jurists (fuqahā’), and national legal policies, particularly Law Number 16 of 2019 concerning the minimum marriage age. The findings reveal that classical scholars generally permitted marriage to al-ṣaghīrah based on specific historical and social contexts. However, contemporary scholars emphasise the need for contextual and purposive interpretation to ensure the protection of children from physical, psychological, and social harm. From the perspective of maqāṣid al-sharī’ah, this study highlights maṣlaḥah and harm prevention as fundamental legal principles. From a positive legal standpoint, setting the marriage age at 19 reflects harmonisation between Islamic law and child protection norms
Relasi Ontologis Guru dan Murid sebagai Dasar Humanisasi Pendidikan Agama Islam di Indonesia
ABSTRAK: Penelitian ini berangkat dari pertanyaan penelitian: Bagaimana relasi ontologis guru murid dapat menjadi dasar bagi humanisasi pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Indonesia? Tujuan penelitian adalah mengungkap secara sistematis hakikat ontologis guru dan murid sebagai pemeran utama dalam pendidikan agama Islam, menganalisis relasi ontologis keduanya, dan menunjukkan bagaimana relasi tersebut membuka kemungkinan humanisasi PAI. Penelitian ini menggunakan kerangka ontologi Aristotelian dengan konsep actual being, potential being, causa, telos, dan energeia sebagai lensa utama, diperkaya oleh pemikiran pendidikan Islam serta perspektif kritis Paulo Freire tentang banking versus problem-posing education, dan konsep teacher as facilitator dari Carl Rogers. Hasil penelitian menunjukkan bahwa krisis PAI hari ini bukan krisis metodologis melainkan krisis ontologis: guru dan murid kehilangan pemahaman akan hakikat mereka sebagai being yang sedang menjadi. Ketika relasi ontologis guru-murid dibangun atas dasar mutual recognition dan dialog sejati, pembelajaran PAI bergeser dari struktur dehumanis menuju humanis, dengan guru hadir sebagai actual being yang mengaktualisasi diri, murid diberdayakan sebagai potential being yang aktif, dan keduanya terlibat dalam transformasi bermakna menuju kedewasaan spiritual dan intelektual.ABSTRACT: This research begins from the research question: How can the ontological relation between teacher student serve as a foundation for the humanization of Islamic Religious Education (PAI) learning in Indonesia? The research objective is to systematically uncover the ontological nature of teacher and student as main actors in Islamic religious education, analyze their ontological relation, and demonstrate how this relation opens possibilities for PAI humanization. This research employs the Aristotelian ontological framework comprising the concepts of actual being, potential being, causa, telos, and energeia as the primary lens, enriched by Islamic education thought, as well as Paulo Freire's critical perspective on banking versus problemposing education, and Carl Rogers' concept of teacher as facilitator. The research findings demonstrate that the current PAI crisis is not a methodological crisis but an ontological one: teachers and students lose understanding of their nature as beings becoming. When the ontological relation between teacher and student is built on mutual recognition and genuine dialogue, PAI learning shifts from a dehumanizing structure to a humanizing one, with the teacher present as an actual being actualizing itself, the student empowered as an active potential being, and both engaged in meaningful transformation toward spiritual and intellectual maturity
Data Forgery in Indonesian E-Commerce: Harmonizing Sharia Principles and Positive Law for Consumer Protection
This article aims to analyze how the harmonization between Sharia principles and positive law can strengthen consumer protection against data forgery in Indonesian e-commerce transactions. The background of this study lies in the growing risks of identity manipulation, fictitious transactions, and consumer rights violations in the era of digital trade. Normatively, Sharia emphasizes honesty (sidq) and trustworthiness (amanah) as the foundation of contractual relations, while Indonesia’s positive law provides a formal framework through the ITE Law, the Consumer Protection Law, and the Personal Data Protection Law. The research applies a normative juridical method by examining legislation, fatwas, and relevant literature. The findings show that although positive law offers legal instruments, its enforcement remains weak; meanwhile, Sharia economic law underscores ethical compliance as the basis of protection. The academic contribution of this study is to offer a conceptual framework that integrates Sharia ethics with positive legal regulations to reinforce legal certainty, build consumer trust, and promote the sustainability of Indonesia’s digital economic growth.Keywords: Data Forgery; E-commerce; Consumer Protection; Sharia Economic Law; Positive La
HARMONI IMAN DAN KEARIFAN LOKAL: TELAAH SINKRETISME ISLAM–JAWA DALAM RITUAL PANJANG JIMAT DI CIREBON
The Long Amulet Ritual in Cirebon is a form of local religiosity that reflectsa strategic syncretism between Islamic teachings and Javanese wisdom. UnlikeWestern approaches that tend to view syncretism as passive acculturationor theological deviation, this article uses Andrew Beatty's theoretical frameworkAndrew Beatty that understands syncretism as an active dialoguebetween equal or hierarchical ideological systems. Through qualitative-descriptive methods and in-depth interviews with religious leaders, royal servants, and the people of Cirebon, this study reveals that Panjang Jimatis not merely a cultural heritage, but a process of reconceptualization, integration,and modification consciously carried out by local actors. The findings showthat this ritual becomes a symbolic space where the values of tawhid, palace authority, and Javanese mystical spirituality merge in a contextual and dynamic form. This study provides a theoretical contribution to the study ofIslam Nusantara by rejecting the universal-local dichotomy and emphasizing thatIslam Nusantara is an Islam that engages in dialogue, not an Islam that is imposed
IMPLEMENTASI KODE ETIK JURNALISTIK DALAM MELIPUT BERITA GUNA MENINGKATKAN KUALITAS KINERJA WARTAWAN INEWS MEDAN
Perkembangan teknologi informasi telah membawa perubahan besar dalam dunia jurnalistik, terutama dalam meningkatkan kecepatan penyebaran informasi. Namun, seiring dengan kemajuan tersebut, muncul tantangan baru seperti maraknya berita tidak akurat dan tidak berimbang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi Kode Etik Jurnalistik Pasal 1 oleh wartawan bagaimana penerapannya dapat meningkatkan kualitas dan kinerja wartawan, serta hambatan yang mereka hadapi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode wawancara mendalam dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wartawan secara umum telah mengimplementasikan Kode Etik Jurnalistik Pasal 1 dengan baik, ditunjang oleh pelatihan rutin dan pengawasan internal yang ketat. Hambatan yang dihadapi antara lain tekanan dari narasumber dan sulitnya memperoleh informasi yang seimbang. Wartawan menyiasatinya dengan pendekatan profesional, evaluasi ketat, dan penguatan prinsip cover both sides. Penelitian ini menegaskan pentingnya kode etik sebagai pedoman moral dan profesional dalam dunia jurnalistik.iNews Medan
An Analysis of the Translation Quality of Al-Akhlāqu li Al-Banȃt by Abu Musthafa Al-Halabi
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kualitas hasil terjemahan kitab Al-Akhlāqu li Al-Banȃt karya Abu Musthafa Al-Halabi berdasarkan parameter keakuratan, keberterimaan, dan keterbacaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa studi pustaka, dokumentasi, dan penyebaran kuesioner kepada tiga responden ahli. Data primer dalam penelitian ini adalah kitab Al-Akhlāqu li Al-Banȃt hasil terjemahan Abu Musthafa Al-Halabi jilid 1 bab 1 - 12, sedangkan data sekunder berupa teori-teori penerjemahan dan hasil penilaian kualitas oleh para responden. Hasil penelitian menunjukkan dari 211 data yang dianalisis, sebanyak 176 korpus dengan persentase 83,41% data tergolong akurat. Sedangkan, ketidakakuratan yang ditemukan umumnya disebabkan oleh penerapan strategi membuang (Ḥadzf), yang dalam beberapa kasus menghilangkan informasi penting dari teks sumber. Pada hasil temuan keberterimaan ditemukan 144 korpus dengan persentase 68,25% berterima. Beberapa data yang kurang berterima disebabkan oleh penggunaan istilah yang masih mempertahankan struktur bahasa Arab, sehingga terasa kurang alami bagi pembaca bahasa sasaran. Pada hasil temuan keterbacaan ditemukan 176 korpus dengan persentase 83,41% mudah dibaca. Namun, ditemukan 35 korpus tergolong kurang terbaca karena struktur kalimat yang terlalu panjang atau penggunaan istilah teknis yang kurang familiar. Sehingga menghasilkan total skor rata-rata kualitas terjemahan 2,82 dari skala 3. Dengan demikian, secara keseluruhan, kualitas terjemahan kitab ini cukup baik, meskipun masih terdapat beberapa aspek yang perlu diperbaiki untuk meningkatkan keakuratan dan keberterimaan, terutama dalam hal pemilihan strategi penerjemahan yang lebih sesuai dengan konteks budaya bahasa sasaran. Kualitas terjemahan termasuk dalam kategori baik, meskipun masih memerlukan pembaruan istilah agar relevan dengan perkembangan bahasa Indonesia kontemporer
Membongkar Bias dan Dinamika Standar Kecantikan dalam Ideologi Kulit Putih terhadap Perempuan
Kulit putih telah lama melahirkan standar kecantikan sebagai keindahan utama. Standar tersebut mempengaruhi persepsi perempuan yang tidak memilikinya dan menempatkannya dalam posisi rendah. Konsep ini bukan sekadar strategi pemasaran, tetapi juga ideologi yang memperkuat produksi komoditas dan terkait erat dengan kehidupan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi antara kulit putih yang diidealkan dan kulit hitam yang dianggap kotor. Sehingga, menggambarkan supremasi kulit putih yang dianggap ideal. Metode deskriptif kualitatif memungkinkan penulis untuk menjelajahi konteks kompleks fenomena sosial kulit putih melalui penelusuran literatur dan data pendukung lainnya. Hasil penelitian menunjukkan fenomena ini terus berkembang dan memberikan tekanan kepada perempuan untuk mengadopsi standar kecantikan kulit putih sebagai hal yang membahagiakan. Zaman pra-sejarah, sejarah, iklan dan media telah berkontribusi dalam hal ini. Produk pemutih kulit secara sadar masih digunakan oleh perempuan meskipun berbahaya. Selain itu, praktik ini menciptakan ketidaksetaraan dan diskriminasi pada perempuan kulit berwarna. Jalinan bias sejarah, taktik periklanan, dan hak istimewa dari memiliki kulit putih telah membentuk kerangka kompleks yang menopang ideologi kulit putih tersebut