Kampung Jurnal IAIN Syekh Nurjati Cirebon
Not a member yet
5201 research outputs found
Sort by
Cultural Capital and Learning Strategies: A Bourdieuian Perspective on Elementary Education
Abstract This study aims to explore the relationship between cultural capital and teaching strategies in the context of primary education, employing a Bourdieuian perspective. The focus of this research is on teachers at Madrasah Ibtidaiyah Negeri in Magelang Regency. A qualitative method was utilized, with data collected through in-depth interviews and classroom observations. The findings reveal that teachers’ cultural capital, including their knowledge, values, and experiences, significantly influences their choice and implementation of teaching strategies in the classroom. Teachers with a rich cultural capital tend to adopt more innovative and adaptive strategies, which enhance student engagement in the learning process. Furthermore, the study identifies challenges faced by teachers in integrating cultural capital into their teaching practices. These findings provide helpful guidance in the development of educational policies and teacher training programs, ultimately improving the quality of education in Madrasah Ibtidaiyah.Keywords: cultural capital, teaching strategies, Bourdieuian perspective, Madrasah Ibtidaiyah. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan antara modal budaya dan strategi pembelajaran dalam konteks pendidikan dasar, dengan pendekatan perspektif Bourdieu. Fokus penelitian ini adalah pada guru-guru di Madrasah Ibtidaiyah Negeri di Kabupaten Magelang. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modal budaya yang dimiliki oleh guru, seperti pengetahuan, nilai-nilai, dan pengalaman, berdampak dalam menentukan pilihan dan penerapan strategi pembelajaran di kelas. Guru yang memiliki modal budaya yang kaya cenderung menggunakan strategi yang lebih inovatif dan adaptif, yang dapat meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran. Selain itu, penelitian ini juga mengidentifikasi tantangan yang dihadapi oleh guru dalam mengintegrasikan modal budaya ke dalam praktik pembelajaran. Temuan ini dapat memberikan wawasan bagi pengembangan kebijakan pendidikan dan pelatihan guru, serta meningkatkan kualitas pembelajaran di Madrasah Ibtidaiyah.Kata kunci: modal budaya, strategi pembelajaran, Bourdieuian perspective, Madrasah Ibtidaiyah
Model-Eliciting Activities on Students' Mathematical Literacy by Reviewing Differences in Self-Regulated Learning
AbstractThe mathematical literacy of students is still relatively low. However, it remains a goal and a necessity to develop mathematical literacy as a fundamental skill for solving problems in various contexts, particularly in formulating, employing, and interpreting mathematics. Previous studies have proven that model-eliciting activities effectively enhance mathematical literacy. On the other hand, mathematical literacy is influenced by differences in self-regulated learning. Therefore, this study answers whether implementing model-eliciting activities regarding self-regulated learning differences affects students' mathematical literacy. This study employed a quasi-experimental non-equivalent pretest and posttest design that involved 55 fourth-grade primary students. Data collection used a mathematical literacy test and a self-regulated learning questionnaire. The levels of self-regulated learning were categorised as low, medium, and high. The data analysis was a two-way analysis of variance test followed by the Tukey test. The study showed that implementing model-eliciting activities by considering differences in self-regulated learning affected students' mathematical literacy. Another finding is that students with high self-regulated learning are better at mathematical literacy than those with low self-regulated learning.Keywords: model-eliciting activities, mathematical literacy, self-regulated learning. AbstrakLiterasi matematika siswa masih tergolong rendah, namun sampai saat ini masih menjadi tujuan dan kebutuhan sebagai keterampilan fundamental untuk menyelesaikan masalah dalam berbagai konteks khususnya dalam hal merumuskan, menggunakan, dan menafsirkan matematika. Peneliti-peneliti sebelumnya telah membuktikan model-eliciting activities efektif untuk meningkatkan literasi matematika. Disisi lain, literasi matematika dipengaruhi oleh perbedaan self-regulated learning. Oleh karena itu, penelitian menjawab rumusan masalah mengenai apakah implementasi model-eliciting activities dengan memperhatikan perbedaan self-regulated learning berpengaruh terhadap literasi matematika siswa. Penelitian ini menggunakan quasi eksperimental non-equivalent pretest dan posttest desain dengan melibatkan 55 siswa kelas empat sekolah dasar. Pengumpulan data menggunakan tes literasi matematika dan kuisioner self-regulated learning. Perbedaan tingkat self-regulated learning dikategorikan sebagai rendah, sedang, dan tinggi. Analisis data yang digunakan adalah uji analisis varians dua arah dan dilanjutkan uji Tukey. Temuan penelitian menunjukkan implementasi model-eliciting activities dengan memperhatikan perbedaan self-regulated learning berpengaruh terhadap literasi matematika siswa. Temuan lainnya adalah siswa yang memiliki self-regulated learning tinggi lebih baik dalam literasi matematika dibanding siswa yang memiliki self-regulated learning rendah.Keywords: model-eliciting activities, literasi matematika, self-regulated learning
Inadequate Funding of Basic Education in Nigeria: Implications for Quality and Equity in Learning Delivery
AbstractBasic education forms the cornerstone of national development, yet Nigeria continues to suffer from chronic underfunding despite policy frameworks aimed at universal access. This paper adopts a systematic literature review (SLR) methodology, guided by the PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses) framework, to investigate the implications of inadequate funding on the quality delivery of basic education in Nigeria. Drawing on peer-reviewed literature, policy documents, and empirical reports published between 1999 and 2024, the review sourced data from Google Scholar, JSTOR, ERIC, and ResearchGate. One thousand three hundred fifteen records were identified, with 86 studies meeting the inclusion criteria after screening and eligibility assessment. The findings highlight a consistent failure to meet the UNESCO-recommended 15–20% budgetary allocation for education, with basic education often receiving marginal and delayed disbursements. Key issues identified include dilapidated infrastructure, a shortage of qualified teachers, inadequate teaching materials, and weak financial accountability at the state level—aggravated by the conditional requirement for counterpart funding to access federal grants. The review also reveals that political apathy, poor fiscal planning, and mismanagement undermine efforts to improve basic education outcomes. The paper recommends a stronger policy enforcement mechanism, transparent fund allocation, and integrating alternative funding strategies such as public-private partnerships and community-based financing to reverse these trends. This review contributes valuable insights for policymakers and education stakeholders committed to achieving equitable and quality basic education in Nigeria by 2030.Keywords: basic education, educational underfunding, quality education delivery, nigeria education policy. AbstrakPendidikan dasar merupakan landasan pembangunan nasional, namun Nigeria terus mengalami kekurangan dana kronis meskipun kerangka kebijakan ditujukan untuk akses universal. Penelitian ini mengadopsi metodologi tinjauan pustaka sistematis (SLR), yang dipandu oleh kerangka PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses), untuk menyelidiki implikasi dari pendanaan yang tidak memadai pada kualitas penyampaian pendidikan dasar di Nigeria. Mengacu pada literatur yang ditinjau sejawat, dokumen kebijakan, dan laporan empiris yang diterbitkan antara tahun 1999 dan 2024, tinjauan tersebut mengambil data dari Google Scholar, JSTOR, ERIC, dan ResearchGate. Seribu tiga ratus lima belas catatan diidentifikasi, dengan 86 studi memenuhi kriteria inklusi setelah penyaringan dan penilaian kelayakan. Temuan tersebut menyoroti kegagalan yang konsisten untuk memenuhi alokasi anggaran 15–20% yang direkomendasikan UNESCO untuk pendidikan, dengan pendidikan dasar sering kali menerima pencairan yang marjinal dan tertunda. Masalah utama yang diidentifikasi meliputi infrastruktur yang rusak, kekurangan guru yang berkualifikasi, materi pengajaran yang tidak memadai, dan akuntabilitas keuangan yang lemah di tingkat negara bagian—diperburuk oleh persyaratan bersyarat untuk pendanaan pendamping guna mengakses hibah federal. Tinjauan tersebut juga mengungkap bahwa apatisme politik, perencanaan fiskal yang buruk, dan salah urus melemahkan upaya untuk meningkatkan hasil pendidikan dasar. Penelitian ini merekomendasikan mekanisme penegakan kebijakan yang lebih kuat, alokasi dana yang transparan, dan mengintegrasikan strategi pendanaan alternatif seperti kemitraan publik-swasta dan pembiayaan berbasis masyarakat untuk membalikkan tren ini. Tinjauan ini memberikan wawasan berharga bagi para pembuat kebijakan dan pemangku kepentingan pendidikan yang berkomitmen untuk mencapai pendidikan dasar yang adil dan berkualitas di Nigeria pada tahun 2030. Kata kunci: pendidikan dasar, kurangnya dana pendidikan, penyediaan pendidikan bermutu, kebijakan pendidikan Nigeria
Muhammad Abduh dan Sains: Suatu Tinjauan Filosofis-Teoretis
Penelitian ini meneliti pemikiran sains Shaykh Muhammad Abduh (1849-1905) dan pengaruhnya di dunia Islam. Perspektif saintifiknya ini dhuraikan secara sistematik dengan menganalisis karya-karyanya yang yang prolifik dan ekstensif tentang sains, seperti Al-Islām wa’l-Nasrāniyyah Ma‘a al-‘Ilm wa’l-Madaniyyah (Islam dan Kristian dan pendirian keduanya terhadap ilmu dan peradaban), Tafsīr al-Manār, Tafsīr Juz ‘Amma (Komentar atas Juz ‘Amma), Risālat al-Tawhīd (Tretis tentang tawhid) di samping kitab-kitab serta literatur penting yang lain dari Abduh. Tema utama yang dibincangkan menfokuskan pada falsafah sains Abduh, sumbangan Abduh kepada kemodenan, dan pandangan saintifiknya dalam tafsir. Ia turut membincangkan pengaruhnya terhadap masyarakat Mesir moden dan impaknya yang penting dalam pencerahan dan pembaharuan Islam di zaman moden. Metode kajian bersifat kualitatif berasaskan kaedah tinjauan literatur dan biografi. Penelitian ini menyimpulkan penemuan yang signifikan, yang memperlihatkan bahawa sumbangan utama Abduh kepada sains adalah dalam mengislamkan karakter dan landasnya yang dinamik berdasarkan pandangan sarwa Islam yang moden. Ini secara substantif dipaparkan dalam usahanya untuk memperkenalkan tafsiran saintifik terhadap al-Qur’an, yang mengangkat keunggulan akal dan intelek (‘aql), membawakan kefahaman rasionalnya terhadap teks, dan menyumbang kepada kebangkitan pikiran saintifik, kebebasan idea (taharrur), dan pandangan sarwa religius yang dinamik
Globalization and The Crisis in Islamic Education: Al-Attas’ Epistemological Response and The Reconstruction of Adab-Based Pedagogy
The rapid development of globalization has posed significant challenges to Muslim identity, particularly among the younger generation. Along with the intensification of global cultural flows, the erosion of Islamic moral values has become increasingly apparent. This study explores the educational reconstruction efforts needed to preserve Islamic civilisation by analyzing the educational philosophy of Syed Muhammad Naquib Al-Attas. This research employs a qualitative library approach by analyzing Al-Attas’s major works and relevant secondary literature. Data analysis includes thematic categorization, interpretative reading, and structured descriptive synthesis of Al-Attas’s epistemological and pedagogical frameworks. Findings indicate that Al-Attas’s philosophy of education emphasizes the purification of knowledge through Westernization and the restoration of adab (ethical discipline) as the foundation of education. He criticizes Western epistemology as secular, dualistic, and skeptical, and proposes a tawhid (unitive) epistemology rooted in Islamic metaphysics. Al-Attas’ model integrates the disciplines of fardhu’ ain and fardhu kifayah, and suggests methods based on tawhid and metaphorical reasoning. This offers a transformative educational paradigm relevant to global society. Al-Attas’s adab-centred concept of education provides a comprehensive alternative to Islamic educational reform, harmonizing knowledge, ethics, and spiritual goals in addressing contemporary moral crises
Kajian Keruangan Penempatan Lokasi Masjid Agung Cipaganti di Kawasan Permukiman Kolonial Belanda Bandung
The Cipaganti Grand Mosque is located in the Cipaganti area of North Bandung. It was designed by Prof. Ir. C.P. Wolff Schoemaker and established in 1933, during the period when Bandung was designated as a gemeente (between 1906–1940). This study aims to explore the background behind the location of the Cipaganti Grand Mosque within a Dutch Colonial residential area and to understand the mosque’s status. This is important in order to identify patterns in the placement of places of worship/mosques in colonial settlements, as well as the relationship between the Cipaganti Grand Mosque and the local community in the colonial residential area, and with other religious buildings in the Cipaganti area. The study focuses on spatial aspects at a semi-micro/meso scale, using a descriptive-analytical method and inductive reasoning. The core idea of this research identifies three factors that influenced the location of the Cipaganti Grand Mosque. First, the establishment of the mosque within a Dutch Colonial residential area was influenced by the ethical policy and association policy. Second, it served to meet the religious needs of the Muslim community living in the Cipaganti area. Third, it functioned as a supporting facility for worship for employees working in near by institutions or agencies.Keywords: Mosque, Colonial Settlement, Meso/Semi-micro Scale Space, Gemeente, Background of Position, Status, Bandung.Abstrak: Masjid Agung Cipaganti terletak di kawasan Cipaganti Bandung Utara yang dirancang oleh Prof. Ir. C.P. Wolff Schoemaker dan didirikan pada tahun 1933 ketika Kota Bandung menjadi gemeente (antara tahun 1906-1940). Penelitian ini bermaksud untuk menjawab apakah yang melatarbelakangi letak Masjid Agung Cipaganti pada Pemukiman Kolonial Belanda dan bagaimana status masjid tersebut. Hal ini penting untuk mengidentifikasi pola penempatan tempat ibadah/masjid di permukiman kolonial, hubungan Masjid Agung Cipaganti dengan masyarakat di permukiman kolonial dan dengan bangunan keagamaan lainnya di kawasan Cipaganti. Kajian dalam penelitian ini berkaitan dengan aspek spasial skala semi mikro/meso dengan metode deskriptif analitis dan alur penalaran induktif. Inti gagasan dari penelitian ini terdapat tiga faktor yang melatarbelakangi keletakan Masid Agung Cipaganti. Pertama, berdirinya masjid ini di Permukiman Kolonial Belanda dipengaruhi kebijakan politik etis dan asosiasi. Kedua, untuk memfasilitasi kebutuhan ibadah masyarakat muslim yang bermukim di kawasan Cipaganti. Ketiga, sebagai fasilitas pendukung ibadah bagi para pekerja di instansi atau lembaga yang berdekatan dengan masjid.
INTEGRASI FUNGSI MANAJEMEN DAKWAH DAN PEMBINAAN KARAKTER PRAJURIT : STUDI IMPLEMENTASI DI DIVISI BINTAL JARAHDAM KODAM I/BB
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pola pembinaan karakter dan rohani melalui Fungsi – Fungsi Manajemen Dakwah pada Divisi BintaljarahDam di wilayah Kesatuan Kodam I/BB. Pembinaan mental dan rohani sudah dilaksanakan sejak prajurit masuk kedunia militer. Sikap perilaku dan tanggungjawab prajurit tidak hanya pada saat sedang menjalankan tugas, melainkan kehidupan bersosial, berumahtangga dan bermasyarakat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara dan studi literatur. Temuan utama dalam penelitian ini adalah prajurit TNI Angkatan Darat dibawah Divisi BintaljarahDam I/BB memiliki penerapan pembinaan mental dan rohani, dengan program yang terencana/terstruktur melalui program jangka panjang dan jangka pendek. Selain itu prajurit mampu mengurangi angka pelanggaran dan sangsi berat yang menyebabkan pemecatan. Prajurit yang belum menjalankan masa pembinaan mental dan rohani akan menimbulkan sifat emosional dan negatif sehingga menimbulkan perilaku buruk yang timbul di mata masyarakat awam. Hal tersebut dapat membuat kesalahpahaman antara masyarakat dengan prajurit TNI Angkatan Darat saat menjalankan tugas maupun pada saat menjalankan kehidupan sehari – hari. Sehingga hal ini perlu diantisipasi agar tidak menyebabkan kesalahpahaman terhadap prajurit TNI Angkatan Darat. Kesimpulan yang diperoleh bahwa dengan pola pembinaan mental dan rohani dengan mengintegrasikan kepada fungsi – fungsi manajemen dakwah cukup efektif bagi prajurit dalam menjalankan tugas – tugas dan tanggung-jawabnya
Multilingual Practices in Public Spaces: A Linguistic Landscape Analysis of Railway Stations in Cirebon
Purpose–This study aims to analyze the multilingual practices manifested in the linguistic landscape of two railway stations in Cirebon—Kejaksan Station and Prujakan Station. It explores how languages are used in public spaces, reflecting social dynamics, power relations, and language contestation within the context of urban multilingualism. Design/methods/approach – Employing a qualitative case study method, data were collected through photographic documentation of linguistic signs at both stations. These signs were classified based on language type—monolingual, bilingual, and multilingual—and analyzed in terms of language function (informational and symbolic) and the actors behind the signs (top-down vs. bottom-up). Findings – The findings reveal a dominance of bilingual signage combining Indonesian and English at both stations, with 87% at Kejaksan Station and 91% at Prujakan Station. Monolingual signage, predominantly in Indonesian, accounts for a small portion of the data. The use of English alongside Indonesian signifies the increasing influence of global language practices in public spaces, while the predominance of top-down signage reflects institutional control over language use in railway station environments. Research implications – This study highlights the role of linguistic landscape analysis in understanding language contact phenomena and sociolinguistic dynamics in urban public spaces. It also sheds light on the symbolic power of language policies and institutional decisions in shaping public communication in Indonesia's multilingual context
A Challenge and Development of Corporate Zakat Distribution on Shari'ah Commercial Banks in Nanggroe Aceh Darussalam
The purpose of this study is to find out how the concept and mechanism of corporate zakat distribution in Islamic banking, as well as the challenges and obstacles in the issuance of corporate zakat with special case of Islamic Commercial Banks in Aceh. This study uses a normative sociological approach where the main data is obtained from the results of interviews and annual reports of Islamic banking in Aceh from the period 2020 to 2021. Data collection techniques through interviews and documentation data. The results showed that of the 4 Islamic Commercial Banks only Bank Muamalat Indonesia paid corporate zakat and the other 3 Banks only issued employee zakat. But the three banks in 2020 did not issue their zakat to Baitul Mal but to zakat institutions managed through foundations. One of the obstacles or causes of some Islamic Commercial Banks that do not pay zakat to Baitul Mal is that at that time covid-19 was rife, this resulted / had an impact on the bank experiencing a decrease in income or it could be said that the economy was paralyzed due to the impact of covid-19, finally the zakat management organization decreased its income. So the zakat that should have been issued by the company to Baitul Mal has been channeled to the handling of the corona virus public health center for needs during the pandemic, the aim is that the community can avoid the covid outbreak that is currently raging
Measurement of the Efficiency Level of Islamic Insurance Firms in Indonesia: DEA and SFA Analysis
This study aims to measure the efficiency level of Islamic insurance companies in Indonesia using DEA and SFA, with secondary data from 13 companies in the 2019-2023 period. DEA measures the relative technical efficiency of a company compared to other companies in the same group, while SFA measures efficiency by considering stochastic factors that can affect company performance. The results show that there is high variation in efficiency between companies in DEA, while SFA produces efficiency scores above 60%, tending to be higher than DEA. This research provides practical implications for Islamic insurance companies to improve efficiency through resource optimization, in order to get maximum output so that the efficiency level of Islamic insurance companies can increase