Bali Medika Jurnal (BMJ)
Not a member yet
    225 research outputs found

    Efektivitas Aromaterapi Jahe terhadap Penurunan Mual Muntah Ibu Hamil: Studi Kuasi-Eksperimental

    Full text link
    Mual muntah kehamilan yang tidak tertangani secara cepat dan tepat dapat mengakibatkan kekurangan energi kronik (KEK), anemia, hingga peningkatan angka kematian pada ibu dan bayi. Mengatasi mual muntah kehamilan dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya dengan menggunakan aromaterapi jahe. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas aromaterapi jahe terhadap penurunan mual muntah ibu hamil trimester I di Puskesmas Penebel II. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan rancangan quasi eksperiment yang menggunakan pendekatan pretest- posttest desain without control terhadap 8 orang responden dengan teknik pengambilan sample adalah purposive sampling. Kuisioner penelitian adalah instrumen baku, yaitu PUQE-24 yang digunakan untuk menentukan derajat mual muntah responden. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon. Berdasarkan hasil analisis bivariat, diperoleh nilai median posttest sebesar 3,5 dan pretest sebesar 7,5 dengan p-value sebesar 0,010 (p<0,05). Dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara penurunan mual muntah ibu hamil trimester I di Puskesmas Penebel II dengan pemberian aromaterapi jahe. Diharapkan penggunaan aromaterapi jahe dapat ditingkatkan karena terbukti efektif untuk mengatasi mual muntah selama kehamilan.   The nausea and vomiting of pregnancy can result in chronic energy deficiency (CED), anemia, and increased mortality rates in mothers and babies if they are not treated quickly and appropriately. Treating pregnancy nausea and vomiting can be done in various ways, such as using ginger aromatherapy. This study aimed to find out the effectiveness of ginger aromatherapy on reducing nausea and vomiting of first trimester pregnant women at Penebel II Public Health Center. This study employed quantitative study with a quasi-experiment design that uses a pretest-posttest approach without control design on 8 respondents which were selected through purposive sampling technique. The research questionnaire used was a standardized instrument - the PUQE-24. The questionnaire was used to find out the degree of nausea and vomiting of respondents. The collected data were analyzed using the Wilcoxon test. Based on the results of bivariate analysis, the median value of posttest was 3.5 and pretest was 7.5 with a p-value of 0.010 (p <0.05). In conclusion, there was a correlation between the decrease of nausea and vomiting of first trimester pregnant women at Penebel II Health Center and the provision of ginger aromatherapy. It is expected that there will be an increase in the use of ginger aromatherapy since it has been proven effective to overcome nausea and vomiting during pregnancy.Mual muntah kehamilan yang tidak tertangani secara cepat dan tepat dapat mengakibatkan kekurangan energi kronik (KEK), anemia, hingga peningkatan angka kematian pada ibu dan bayi. Mengatasi mual muntah kehamilan dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya dengan menggunakan aromaterapi jahe. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas aromaterapi jahe terhadap penurunan mual muntah ibu hamil trimester I di Puskesmas Penebel II. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan rancangan quasi eksperiment yang menggunakan pendekatan pretest- posttest desain without control terhadap 8 orang responden dengan teknik pengambilan sample adalah purposive sampling. Kuisioner penelitian adalah instrumen baku, yaitu PUQE-24 yang digunakan untuk menentukan derajat mual muntah responden. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon. Berdasarkan hasil analisis bivariat, diperoleh nilai median posttest sebesar 3,5 dan pretest sebesar 7,5 dengan p-value sebesar 0,010 (p<0,05). Dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara penurunan mual muntah ibu hamil trimester I di Puskesmas Penebel II dengan pemberian aromaterapi jahe. Diharapkan penggunaan aromaterapi jahe dapat ditingkatkan karena terbukti efektif untuk mengatasi mual muntah selama kehamilan.   The nausea and vomiting of pregnancy can result in chronic energy deficiency (CED), anemia, and increased mortality rates in mothers and babies if they are not treated quickly and appropriately. Treating pregnancy nausea and vomiting can be done in various ways, such as using ginger aromatherapy. This study aimed to find out the effectiveness of ginger aromatherapy on reducing nausea and vomiting of first trimester pregnant women at Penebel II Public Health Center. This study employed quantitative study with a quasi-experiment design that uses a pretest-posttest approach without control design on 8 respondents which were selected through purposive sampling technique. The research questionnaire used was a standardized instrument - the PUQE-24. The questionnaire was used to find out the degree of nausea and vomiting of respondents. The collected data were analyzed using the Wilcoxon test. Based on the results of bivariate analysis, the median value of posttest was 3.5 and pretest was 7.5 with a p-value of 0.010 (p <0.05). In conclusion, there was a correlation between the decrease of nausea and vomiting of first trimester pregnant women at Penebel II Health Center and the provision of ginger aromatherapy. It is expected that there will be an increase in the use of ginger aromatherapy since it has been proven effective to overcome nausea and vomiting during pregnancy

    Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kejadian Hipoglikemia pada Pasien Diabetes Melitus Tipe II

    Full text link
    Hipoglikemia merupakan salah satu komplikasi yang harus diperhatikan pada pasien diabetes melitus tipe 2 karena menjadi suatu penyebab kematian terutama pada usia lansia sehingga harus diketahui faktor yang memengaruhi hipoglikemia. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui tentang faktor-faktor yang memengaruhi hipoglikemia pada pasien diabetes melitus tipe 2. Penelitian ini menggunakan metode Literatur Review dengan desain Tradisional Review yang pencariannya melalui database Google Scholar, Pubmed, dan Science Direct yang ditemukan 6 artikel dengan kriteria inklusi artikel terbitan 6 tahun terakhir (2015-2021), fulltext, menggunakan kata kunci Faktor Risiko or Risk Factor, Hipoglikemia or Hypoglycemia, Diabetes Melitus Tipe 2 or Type 2 Diabetes. Penelususan literatur menggunakan PEOS (P= pasien diabetes melitus tipe 2 dengan hipoglikemia, E= tidak ada, O= faktor-faktor yang memengaruhi hipoglikemia, S= Cross Sectional, Case-Control, dan Cohort). Hasil penelitian menunjukkan faktor yang memengaruhi hipoglikemia meliputi, jenis kelamin, pekerjaan, pendidikan, usia, sikap, pengetahuan, BMI yang rendah, terapi insulin+sulfonylurea+anti hiperglikemik agen, monitoring gula darah mandiri, HDL-C, LDL-C, TG, durasi lamanya diabetes, adanya infeksi dan komorbid, olahraga yang berlebih, HbA1c, dan pola makan. Kesimpulannya, faktor sikap paling dominan karena ketika seseorang menerima hal baru maka ia akan menyikapinya dengan positif atau pun negatif sehingga akan menimbulkan terjadinya suatu perilaku tertentu. Saran bagi penderita hipoglikemia agar menjaga kesehatan, rutin kontrol, dan kebugaran diri serta pada fasilitas kesehatan perlu diadakan edukasi untuk mencegah risiko dan tanda gejala penyakit hipoglikemia.Hipoglikemia merupakan salah satu komplikasi akut pasien diabetes melitus tipe 2 yang dapat terjadi berulang dan mengakibatkan kematian. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui tentang faktor-faktor yang memengaruhi kejadian hipoglikemia pada pasien diabetes melitus tipe 2. Desain literatur review adalah Tradisional Review. Penelusuran literatur melalui database Google Scholar, Pubmed, dan Science Direct menggunakan strategi PEOS framework yang terdiri dari P (population): Pasien DM tipe 2 dengan hipoglikemia, E (Exposure): faktor yang mempengaruhi kejadian hipoglikemia, O (Outcome): Faktor yang mempengaruhi kejadian hopiglikemia, S (Study Design): cross sectional, case-control, dan cohort. Penelusuran dengan kata kunci faktor risiko or risk factor, hipoglikemia or hypoglycemia, DM tipe 2 or type 2 Diabetes. Hasil penelitian menunjukkan faktor yang memengaruhi kejadian hipoglikemia adalah jenis kelamin, pekerjaan, pendidikan, usia, sikap, pengetahuan, BMI yang rendah, terapi insulin+sulfonylurea+anti hiperglikemik agen, monitoring gula darah mandiri, HDL-C, LDL-C, TG, durasi lamanya diabetes, adanya infeksi dan komorbid, olahraga yang berlebih, HbA1c, dan pola makan. Kesimpulannya, faktor sikap paling dominan karena ketika seseorang menerima hal baru maka ia akan menyikapinya dengan positif atau pun negatif sehingga akan menimbulkan terjadinya suatu perilaku tertentu. Saran bagi penderita hipoglikemia agar menjaga kesehatan, rutin kontrol, dan kebugaran diri serta pada fasilitas kesehatan perlu diadakan edukasi untuk mencegah risiko dan tanda gejala penyakit hipoglikemia.   Hypoglycemia is one of the acute complications of type 2 diabetes mellitus that can occur repeatedly and result in death. The purpose of this study was to find out about the factors that influence the incidence of hypoglycemia in patients with type 2 diabetes mellitus. The design of the literature review is a traditional review. A literature search through the Google Scholar, Pubmed, and Science Direct databases used the PEOS framework strategy consisting of P (population): Type 2 DM patients with hypoglycemia; E (exposure): factors that influence the incidence of hypoglycemia; O (outcome): factors that influence the incidence of hypoglycemia; and S (study design): cross-sectional, case-control, and cohort. Search with keywords such as risk factor or risk factor, hypoglycemia or hypoglycemia, and type 2 DM or type 2 diabetes. " The results showed that the factors that influence the incidence of hypoglycemia are gender, occupation, education, age, attitude, knowledge, low BMI, insulin therapy + sulfonylurea + anti-hyperglycemic agents, self-monitoring of blood sugar, HDL-C, LDL-C, TG, duration of diabetes, presence of infections and comorbidities, excessive exercise, HbA1c, and diet. In conclusion, the attitude factor is the most dominant because when a person accepts something new, he will react positively or negatively so that it will lead to a certain behavior. Suggestions for hypoglycemia sufferers to maintain health, routine control, and self-fitness, as well as education at health facilities to prevent the risks and signs of hypoglycemia, because when a person accepts something new, he will react positively or negatively so that it will lead to a certain behavior. Suggestions for hypoglycemia sufferers to maintain health, routine control, and self-fitness, as well as education at health facilities to prevent the risks and signs of hypoglycemia

    Toxoplasmosis Pada Ibu Hamil Berdasarkan Tes Serologi di Bali

    Full text link
    Toxoplasmosis adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit Toxoplasma gondii. Penyebab Toxoplasmosis antara lain mengkonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi parasit toxoplasma, kebiasaan makan daging yang dimasak setengah matang, dan kurangnya higienitas. Penyakit ini dapat menginfeksi janin yang dikandung dan dapat mengakibatkan keguguran atau bayi lahir cacat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persentase angka kejadian Toxoplasmosis pada Ibu hamil di Denpasar Bali berdasarkan hasil Serologi pemeriksaan Anti Toxoplasma IgG dan IgM dengan menggunakan metoda ELFA. Penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan studi cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 44 koresponden Ibu hamil dengan menggunakan analisis statistik uji Univariat. Berdasarkan hasil penelian dapat diketahui bahwa hasil serologi IgG Anti Toxoplasma positif pada ibu hamil di Denpasar Bali sebesar 20.5% dan IgM Anti Toxoplasma positif sebesar 4.5%.Toxoplasmosis adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit Toxoplasma gondii. Penyebab Toxoplasmosis antara lain mengkonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi parasit toxoplasma, kebiasaan makan daging yang dimasak setengah matang, dan kurangnya higienitas. Penyakit ini dapat menginfeksi janin yang dikandung dan dapat mengakibatkan keguguran atau bayi lahir cacat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persentase angka kejadian Toxoplasmosis pada Ibu hamil di Denpasar Bali berdasarkan hasil Serologi pemeriksaan Anti Toxoplasma IgG dan IgM dengan menggunakan metoda ELFA. Penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan studi cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 44 koresponden Ibu hamil dengan menggunakan analisis statistik uji Univariat. Berdasarkan hasil penelian dapat diketahui bahwa hasil serologi IgG Anti Toxoplasma positif pada ibu hamil di Denpasar Bali sebesar 20.5% dan IgM Anti Toxoplasma positif sebesar 4.5%. Hal tersebut menunjukkan bahwa terdapat infeksi lampau toxoplasmosis pada ibu hamil dengan hasil serologi IgG Anti Toxoplasma positif sebesar 20.5% dan infeksi dini toxoplasmosis dengan hasil IgM Anti Toxoplasma positif sebesar 4.5%. Persentase keberadaan infeksi toxoplasmosis pada ibu hamil perlu diwaspadai dan ditangani dengan tepat.   Toxoplasmosis is an infectious disease caused by the parasite Toxoplasma gondii. Causes of Toxoplasmosis include consuming food or drink contaminated with the Toxoplasma parasite, eating undercooked meat, and lack of hygiene. This disease can infect the unborn baby and can result in miscarriage or birth defects. This study aims to determine the percentage of the incidence of Toxoplasmosis in pregnant women in Denpasar Bali based on the results of the Serology examination of Anti-Toxoplasma IgG and IgM using the ELFA method. This research is descriptive analytic with a cross sectional study, sampling using 44 correspondent pregnant women. Statistical analysis using the Univariate test. Based on the results of the study it can be seen that the IgG Anti Toxoplasma serology is positive in pregnant women in Denpasar Bali by 20.5% and IgM Anti Toxoplasma positive by 4.5%

    Penurunan Kadar Glucosa Darah pada Anak-Anak yang Terinfeksi Cacing Ascaris Lumbricoides

    Full text link
    Soil transmitted helminths (STH) merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh parasit cacing nematoda usus yang mana proses penularan cacing tersebut melalui siklus tanah. penyakit ini pada umumnya banyak terjadi pada anak-anak terutama pada anak sekolah dasar (SD), penularan oleh cacing ini terjadi akibat perilaku anak-anak yang tidak sesuai dengan standar Kesehatan, diantaranya tidak mencuci tangan sebelum makan dan tidak menggunakan alas kaki pada saat kontak dengan tanah. Anak-anak mendapatkan infeksi karena termakan makanan ataupun minuman yang terkontaminasi dari kotoran yang mengandung telur infektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar glucosa darah anak-anak yang terinfeksi oleh cacing Ascaris lumbricoides. Metode penelitian ini adalah Cross Sectional. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap 5 orang anak yang mengalami infeksi cacing Ascaris lumbricoides diperoleh kadar glucose darah diantaranya respoden 1 yaitu 78 mg/dl, responden 2 yaitu 68 mg/dl, responden 3 yaitu 67 mg/dl, responden 4 yaitu 66 mg/dl dan responden 5 66 mg/dl. Kesimpulan dari penelitian yang telah dilakukan bahwa anak-anak yang terinfeksi oleh cacing Ascaris lumbricoides mengalami penurunan kadar gula darah.   Soil transmitted helminths (STH) is a disease caused by parasitic intestinal nematode worms where the process of transmission of these worms is through the soil cycle. This disease generally occurs in many children, especially elementary school children, transmission by this worm occurs due to children's behavior that is not in accordance with health standards, including not washing their hands before eating and not wearing footwear when in contact. with land. Children get infections because they eat food or drink contaminated with feces containing infective eggs. This study aims to determine the blood glucose levels of children infected with the Ascaris lumbricoides worm. This research method is Cross Sectional. Based on the results of research conducted on 5 children who had Ascaris lumbricoides worm infections, blood glucose levels were obtained, including respondent 1, namely 78 mg/dl, respondent 2, namely 68 mg/dl, respondent 3, namely 67 mg/dl, respondent 4, namely 66 mg. /dl and respondent 5 66 mg/dl. The conclusion from research that has been conducted is that children infected with the worm Ascaris lumbricoides experience a decrease in blood glucose levels.Soil transmitted helminths (STH) merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh parasit cacing nematoda usus yang mana proses penularan cacing tersebut melalui siklus tanah. penyakit ini pada umumnya banyak terjadi pada anak-anak terutama pada anak sekolah dasar (SD), penularan oleh cacing ini terjadi akibat perilaku anak-anak yang tidak sesuai dengan standar Kesehatan, diantaranya tidak mencuci tangan sebelum makan dan tidak menggunakan alas kaki pada saat kontak dengan tanah. Anak-anak mendapatkan infeksi karena termakan makanan ataupun minuman yang terkontaminasi dari kotoran yang mengandung telur infektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar glucosa darah anak-anak yang terinfeksi oleh cacing Ascaris lumbricoides. Metode penelitian ini adalah Cross Sectional. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap 5 orang anak yang mengalami infeksi cacing Ascaris lumbricoides diperoleh kadar glucose darah diantaranya respoden 1 yaitu 78 mg/dl, responden 2 yaitu 68 mg/dl, responden 3 yaitu 67 mg/dl, responden 4 yaitu 66 mg/dl dan responden 5 66 mg/dl. Kesimpulan dari penelitian yang telah dilakukan bahwa anak-anak yang terinfeksi oleh cacing Ascaris lumbricoides mengalami penurunan kadar gula darah.   Soil transmitted helminths (STH) is a disease caused by parasitic intestinal nematode worms where the process of transmission of these worms is through the soil cycle. This disease generally occurs in many children, especially elementary school children, transmission by this worm occurs due to children's behavior that is not in accordance with health standards, including not washing their hands before eating and not wearing footwear when in contact. with land. Children get infections because they eat food or drink contaminated with feces containing infective eggs. This study aims to determine the blood glucose levels of children infected with the Ascaris lumbricoides worm. This research method is Cross Sectional. Based on the results of research conducted on 5 children who had Ascaris lumbricoides worm infections, blood glucose levels were obtained, including respondent 1, namely 78 mg/dl, respondent 2, namely 68 mg/dl, respondent 3, namely 67 mg/dl, respondent 4, namely 66 mg. /dl and respondent 5 66 mg/dl. The conclusion from research that has been conducted is that children infected with the worm Ascaris lumbricoides experience a decrease in blood glucose levels

    Pengaruh Program Law of Attraction Terhadap Tingkat Stres Orang Tua dengan Anak Berkebutuhan Khusus

    Full text link
    Orang tua dengan anak berkebutuhan khusus mengalami stres akibat stigma negatif dari masyarakat, rasa khawatir akan masa depan anak, dan kurangnya sistem pendukung sehingga berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan anak. Perlu adanya program yang mampu mengatasi masalah stres orang tua dengan anak berkebutuhan khusus. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh program Law of Attraction terhadap tingkat stres orang tua dengan anak berkebutuhan khusus. Program Law of Attarction menggunakan pendekatan Self Help Group (SHG) dimodifikasi dengan penerapan metode scripting, affirmation, visualization, yoga savasana, dan therapeutic touch dilakukan selama 8 kali pertemuan. Sample melibatkan 14 orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus di Yayasan Widya Guna Bali. Teknik sampling yang digunakan adalah total sampling. Data dianalisis dengan Paired T-Test dengan tingkat kemaknaan 95%. Hasil diperoleh bahwa program Law of Attraction berpengaruh terhadap stres orang tua dengan p-value sebesar 0,005. Program Law of Attraction dapat dijadikan upaya untuk mengatasi stres orang tua dalam pengasuhan anak dengan kebutuhan khusus.   Parents with children with special needs experience stress due to negative stigma from the community, worry about the child's future, and lack of support systems, which affects the child's growth and development. There is a need for a program that can overcome the stress problems of parents with children with special needs. The purpose of this study was to determine the effect of the Law of Attraction program on the stress level of parents with children with special needs. The Law of Attraction program uses a modified Self Help Group (SHG) approach with the application of scripting, affirmation, visualization, yoga savasana, and therapeutic touch methods conducted for 8 meetings. The sample involved 14 parents who had children with special needs at Yayasan Widya Guna Bali. The sampling technique used was total sampling. Data were analyzed by Paired T-Test with a significance level of 95%. The results obtained that the Law of Attraction program affects parental stress with a p-value of 0.005. The Law of Attraction program can be used as an effort to overcome parental stress in caring for children with special needs.Orang tua dengan anak berkebutuhan khusus mengalami stres akibat stigma negatif dari masyarakat, rasa khawatir akan masa depan anak, dan kurangnya sistem pendukung sehingga berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan anak. Perlu adanya program yang mampu mengatasi masalah stres orang tua dengan anak berkebutuhan khusus. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh program Law of Attraction terhadap tingkat stres orang tua dengan anak berkebutuhan khusus. Program Law of Attarction menggunakan pendekatan Self Help Group (SHG) dimodifikasi dengan penerapan metode scripting, affirmation, visualization, yoga savasana, dan therapeutic touch dilakukan selama 8 kali pertemuan. Sample melibatkan 14 orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus di Yayasan Widya Guna Bali. Teknik sampling yang digunakan adalah total sampling. Data dianalisis dengan Paired T-Test dengan tingkat kemaknaan 95%. Hasil diperoleh bahwa program Law of Attraction berpengaruh terhadap stres orang tua dengan p-value sebesar 0,005. Program Law of Attraction dapat dijadikan upaya untuk mengatasi stres orang tua dalam pengasuhan anak dengan kebutuhan khusus.   Parents with children with special needs experience stress due to negative stigma from the community, worry about the child's future, and lack of support systems, which affects the child's growth and development. There is a need for a program that can overcome the stress problems of parents with children with special needs. The purpose of this study was to determine the effect of the Law of Attraction program on the stress level of parents with children with special needs. The Law of Attraction program uses a modified Self Help Group (SHG) approach with the application of scripting, affirmation, visualization, yoga savasana, and therapeutic touch methods conducted for 8 meetings. The sample involved 14 parents who had children with special needs at Yayasan Widya Guna Bali. The sampling technique used was total sampling. Data were analyzed by Paired T-Test with a significance level of 95%. The results obtained that the Law of Attraction program affects parental stress with a p-value of 0.005. The Law of Attraction program can be used as an effort to overcome parental stress in caring for children with special needs

    Gambaran Skrining Hasil Pemeriksaan Hbsag pada Pasien Pre-Hemodialisis

    Full text link
    Perhimpunan Nefrologi Indonesia telah mensyaratkan tentang keharusan pemeriksaan yang dilakukan sebelum melakukan hemodialisis salah satunya yaitu pemeriksaan HBsAg. Pasien hemodialisis berisiko tinggi untuk terinfeksi virus hepatitis B karena memiliki daya tahan tubuh yang turun dan infeksi virus yang ditularkan melalui darah. Hemodialisis menjadi tindakan yang sangat membantu pasien PGK untuk memperpanjang usia pasien. Tes HBsAg diperlukan untuk memastikan keberadaan virus hepatitis B di dalam tubuh. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui gambaran hasil skrining pemeriksaan HBsAg pada pasien pre-hemodialisis di RSUD Wangaya tahun 2021. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional menggunakan data sekunder. Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 63 pasien yang diambil dengan teknik total sampling. Hasil penelitian berdasarkan usia menunjukkan proporsi terbanyak pada pasien dengan usia 20-60 tahun sebanyak 39 (61,9%) dan pasien >60 tahun sebanyak 24 (38,1%). Berdasarkan jenis kelamin menunjukan proporsi laki-laki lebih banyak yaitu sebanyak 38 (60,3%) dan perempuan sebanyak 25 (39,7%). Hasil dari pemeriksaan skrining HBsAg didapatkan pasien negatif HBsAg sebanyak 62 pasien (98,4%) dan positif sebanyak 1 pasien (1,6%). Hasil dari pengelompokan berdasarkan diagnosa yaitu diagnosa terbanyak adalah hipertensi sebanyak 14 pasien (22,2%) dan diagnosa Diabetes melitus sebanyak 13 pasien (20,6%). Skrining hepatitis B perlu dilakukan saat pertama kali hemodialisis agar dapat menjaga keselamatan kerja petugas kesehatan dan mencegah penularan terhadap pasien lainnya. Kata Kunci: Hepatitis B, Hemodialisis, Gagal ginjal kronikPerhimpunan Nefrologi Indonesia telah mensyaratkan tentang keharusan pemeriksaan yang dilakukan sebelum melakukan hemodialisis salah satunya yaitu pemeriksaan HBsAg. Pasien hemodialisis berisiko tinggi untuk terinfeksi virus hepatitis B karena memiliki daya tahan tubuh yang turun dan infeksi virus yang ditularkan melalui darah. Hemodialisis menjadi tindakan yang sangat membantu pasien PGK untuk memperpanjang usia pasien. Tes HBsAg diperlukan untuk memastikan keberadaan virus hepatitis B di dalam tubuh. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui gambaran hasil skrining pemeriksaan HBsAg pada pasien pre-hemodialisis di RSUD Wangaya tahun 2021. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional menggunakan data sekunder. Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 63 pasien yang diambil dengan teknik total sampling. Hasil penelitian berdasarkan usia menunjukkan proporsi terbanyak pada pasien dengan usia 20-60 tahun sebanyak 39 (61,9%) dan pasien >60 tahun sebanyak 24 (38,1%). Berdasarkan jenis kelamin menunjukan proporsi laki-laki lebih banyak yaitu sebanyak 38 (60,3%) dan perempuan sebanyak 25 (39,7%). Hasil dari pemeriksaan skrining HBsAg didapatkan pasien negatif HBsAg sebanyak 62 pasien (98,4%) dan positif sebanyak 1 pasien (1,6%). Hasil dari pengelompokan berdasarkan diagnosa yaitu diagnosa terbanyak adalah hipertensi sebanyak 14 pasien (22,2%) dan diagnosa Diabetes melitus sebanyak 13 pasien (20,6%). Skrining hepatitis B perlu dilakukan saat pertama kali hemodialisis agar dapat menjaga keselamatan kerja petugas kesehatan dan mencegah penularan terhadap pasien lainnya.   Indonesian Nephrology Association has required that examinations be carried out prior to hemodialysis, one of which is the examination of HBsAg. Hemodialysis patients are at high risk for hepatitis B virus infection because they have a lowered immune system and blood-borne viral infections. Hemodialysis is an action that really helps CKD patients to prolong the patient's life. The HBsAg test is needed to confirm the presence of the hepatitis B virus in the body. The purpose of this study was to describe the results of HBsAg screening in pre-hemodialysis patients at Wangaya Hospital in 2021. This study was an observational descriptive study using secondary data. The number of samples in this study were 63 patients who were taken by total sampling technique. The results of the study based on age showed that the highest proportion was in patients aged 20-60 years as many as 39 (61.9%) and patients >60 years as many as 24 (38.1%). Based on gender, the proportion of males is 38 (60.3%) and females are 25 (39.7%). The results of the HBsAg screening examination showed that 62 patients were negative for HBsAg (98.4%) and 1 patient was positive (1.6%). The results of the grouping based on the diagnosis, namely the most diagnoses were hypertension as many as 14 patients (22.2%) and diabetes diagnoses as many as 13 patients (20.6%). Screening for hepatitis B needs to be done the first time on hemodialysis in order to maintain the safety of health workers and prevent transmission to other patients

    Model Drowning Chain Survival dalam Upaya Mitigasi Life Saving Korban Tenggelam Di Wilayah Pesisir Pantai

    Full text link
    Penyebab tingginya angka kematian akibat tenggelam salah satunya adalah sistem pertolongan dan pengetahuan penanganan korban yang tidak tepat dan prinsip pertolongan awal yang tidak sesuai. Masyarakat diharapkan mempunyai pengetahuan dasar bagaimana cara memberikan pertolongan pertama yang tepat dan cepat untuk menolong korban tenggelam dan juga memiliki pengetahuan dasar tentang pertolongan pertama pada tenggelam. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian edukasi drowning chain survival dalam upaya mitigasi life saving korban tenggelam. Design penelitian ini Pre Experiment dengan One Group Pretest And Posttest Design 40 orang sampel . Analisis data menggunakan analisis Wilcoxon Sign-Rank test dan Mann Whitney Sign Test. Instrumen yang digunakan adalah Materi/modul Model Drowning Chain Survival dan kuesioner pengetahuan tentang penanganan awal korban tenggelam. Hasil peneletian ada pengaruh sebelum dan sesudah diberikan edukasi p=0,000 (p<0,001) , pada kelompok kontrol tidak ada pengaruh sebelum dan sesudah diberikan edukasi p=0,083 (p>0,001). Pengetahuan diperoleh berdasarkan pengalaman dan juga bisa didapatkan melalui informasi yang disampaikan oleh guru, orang tua, buku dan media digital. Diharapkan pemerintah dapat secara rutin mengadakan kegiatan pemberian edukasi Model Drowning Chain survival kepada Masyarakat awam untuk meningkatkan pengetahuan dan skill Masyarakat dalam melakukan pertolongan awal korban tenggelam sehingga dapat mengurangi angka mortalitas dan morbiditas.   One of the causes of the high death rate due to drowning is the inappropriate aid system and knowledge of handling victims and inappropriate principles of initial aid. The public is expected to have basic knowledge on how to provide appropriate and quick first aid to help drowning victims and also have basic knowledge about first aid for drowning. The aim of this research is to determine the effect of providing drowning chain survival education in efforts to mitigate the life saving of drowning victims. This research design is Pre Experiment with One Group Pretest and Posttest Design with 40 samples. Data analysis used the Wilcoxon Sign-Rank test and the Mann Whitney Sign Test. The instruments used were the Drowning Chain Survival Model material/module and a knowledge questionnaire about the initial treatment of drowning victims. The research results showed that there was an effect before and after being given education, p=0.000 (p<0.001), in the control group there was no effect before and after being given education, p=0.083 (p>0.001). Knowledge is obtained based on experience and can also be obtained through information conveyed by teachers, parents, books and digital media. It is hoped that the government can routinely hold educational activities on the Drowning Chain survival model to the lay public to increase the public's knowledge and skills in providing initial aid to drowning victims so as to reduce mortality and morbidity rates.Penyebab tingginya angka kematian akibat tenggelam salah satunya adalah sistem pertolongan dan pengetahuan penanganan korban yang tidak tepat dan prinsip pertolongan awal yang tidak sesuai. Masyarakat diharapkan mempunyai pengetahuan dasar bagaimana cara memberikan pertolongan pertama yang tepat dan cepat untuk menolong korban tenggelam dan juga memiliki pengetahuan dasar tentang pertolongan pertama pada tenggelam. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian edukasi drowning chain survival dalam upaya mitigasi life saving korban tenggelam. Design penelitian ini Pre Experiment dengan One Group Pretest And Posttest Design 40 orang sampel . Analisis data menggunakan analisis Wilcoxon Sign-Rank test dan Mann Whitney Sign Test. Instrumen yang digunakan adalah Materi/modul Model Drowning Chain Survival dan kuesioner pengetahuan tentang penanganan awal korban tenggelam. Hasil peneletian ada pengaruh sebelum dan sesudah diberikan edukasi p=0,000 (p<0,001) , pada kelompok kontrol tidak ada pengaruh sebelum dan sesudah diberikan edukasi p=0,083 (p>0,001). Pengetahuan diperoleh berdasarkan pengalaman dan juga bisa didapatkan melalui informasi yang disampaikan oleh guru, orang tua, buku dan media digital. Diharapkan pemerintah dapat secara rutin mengadakan kegiatan pemberian edukasi Model Drowning Chain survival kepada Masyarakat awam untuk meningkatkan pengetahuan dan skill Masyarakat dalam melakukan pertolongan awal korban tenggelam sehingga dapat mengurangi angka mortalitas dan morbiditas.   One of the causes of the high death rate due to drowning is the inappropriate aid system and knowledge of handling victims and inappropriate principles of initial aid. The public is expected to have basic knowledge on how to provide appropriate and quick first aid to help drowning victims and also have basic knowledge about first aid for drowning. The aim of this research is to determine the effect of providing drowning chain survival education in efforts to mitigate the life saving of drowning victims. This research design is Pre Experiment with One Group Pretest and Posttest Design with 40 samples. Data analysis used the Wilcoxon Sign-Rank test and the Mann Whitney Sign Test. The instruments used were the Drowning Chain Survival Model material/module and a knowledge questionnaire about the initial treatment of drowning victims. The research results showed that there was an effect before and after being given education, p=0.000 (p<0.001), in the control group there was no effect before and after being given education, p=0.083 (p>0.001). Knowledge is obtained based on experience and can also be obtained through information conveyed by teachers, parents, books and digital media. It is hoped that the government can routinely hold educational activities on the Drowning Chain survival model to the lay public to increase the public's knowledge and skills in providing initial aid to drowning victims so as to reduce mortality and morbidity rates

    Akses Online Automated External Defibrillator Umum Terhadap Waktu Tunggu Defibrilasi di Luar Rumah Sakit

    Full text link
    ABSTRAK Memulai RJP (Resusitasi Jantung Paru) dan penggunaan segera   AED   (Automatic   External   Defibrilasi) adalah dua prioritas resusitasi tertinggi dalam rantai kelangsungan hidup untuk korban henti jantung di luar Rumah Sakit. Praktik kesiapsiagaan darurat yang berkualitas termasuk penggunaan dan penempatan AED di tempat umum masih kurang optimal. Mengingat kelangkaan sumber daya, komunikasi perlu ditingkatkan agar masyarakat memahami pentingnya memiliki AED di tempat umum. Aplikasi mHealth : PAD (Public Access Defibrillator) dapat diterapkan untuk mengelola OHCA dan meningkatkan kelangsungan hidup. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah literature review dengan tinjauan pustaka yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan strategi pencarian Preferred Reporting Item for Systematic Reviews and Meta-Analitic (PRISMA). Pengembangan mHealth PAD (Public Access Defibrillator) berpotensi meningkatkan Resusitasi Jantung Paru dan defibrilasi pada henti jantung di luar rumah sakit (OHCA)Melakukan RJP (Resusitasi Jantung Paru) dan penggunaan AED (Automated External Defibrilator) dengan tepat adalah dua prioritas resusitasi tertinggi dalam rantai kelangsungan hidup untuk korban henti jantung di luar Rumah Sakit. Praktik kesiapsiagaan darurat yang berkualitas termasuk penggunaan dan penempatan AED di tempat umum masih kurang optimal. Mengingat kelangkaan sumber daya, komunikasi perlu ditingkatkan agar masyarakat memahami pentingnya memiliki AED di tempat umum. Akses online AED umum dapat diterapkan untuk mengurangi waktu tunggu defibrilasi dan meningkatkan kelangsungan hidup. Tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui efektivitas penggunaan akses online AED umum terhadap waktu tunggu defibrilasi diluar rumah sakit. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah literature review dengan tinjauan pustaka yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan strategi pencarian Preferred Reporting Item for Systematic Reviews and Meta-Analitic (PRISMA). Penggunaan layanan online akses AED umum berpotensi meningkatkan Tindakan defibrilasi pada pasien yang mengalami henti jantung di luar Rumah Sakit. Berdasarkan hasil telah jurnal didapatkan bahwa ada 11 literatur yang terpilih, 6 jurnal membahas bahwa akses online AED sangat efektif dan kedatangan warga yang dikirimkan oleh aplikasi pesan smartphone sebelum petugas EMS datang, sehingga memberikan peluang untuk penanganan segera korban henti jantung di luar rumah sakit dengan memulai CPR dan defibrilasi menggunakan AED untuk penyelamatan kehidupan. Rekomendasi dari studi ini adalah perlunya pengembangan aplikasi akses online AED umum untuk mengurangi waktu tunggu defibrilasi diluar rumah sakit khususnya di Indonesia.   Performing CPR (Cardiopulmonary Resuscitation) and using AED (Automated External Defibrillator) properly are the two highest resuscitation priorities in the survival chain for cardiac arrest victims outside the hospital. Quality emergency preparedness practices including the use and placement of AEDs in public places are still suboptimal. Given the scarcity of resources, communication needs to be improved so that people understand the importance of having AEDs in public places. Public AED online access can be implemented to reduce defibrillation wait times and improve survival. The purpose of this paper is to determine the effectiveness of using public AED online access to waiting time for defibrillation outside the hospital. The method used in this study was a literature review with a literature review used in this study using the Preferred Reporting Item for Systematic Reviews and Meta-Analytic (PRISMA) search strategy. The use of public AED access online services has the potential to increase defibrillation actions in patients who experience cardiac arrest outside the hospital. Based on the results of the journals, it was found 11 selected literatures, 6 of them discussed about AED online access was very effective and the arrival of bystander sent by smartphone message applications before EMS officers arrived, provided an opportunity for immediate treatment of cardiac arrest victims out of hospital by starting CPR and defibrillation using a life-saving AED. Recommendations of this study is the need of developing general AED online access applications to reduce waiting time for defibrillation outside the hospital, especially in Indonesia

    Studi Tentang Pengalaman Perawat Selama Masa Pandemi Covid-19 : Studi Fenomenologis

    Full text link
    Pandemi covid-19 merupakan suatu masalah yang menimbulkan dampak negatif terutama bagi tenaga medis, terlebih khusus bagi perawat yang disebut sebagai garda terdepan dalam melawan covid-19. Perawat lebih banyak memiliki pengalaman dalam menangani pasien yang terinfeksi covid-19 karena perawat yang selalu mendampingi pasien saat berada di Rumah Sakit. Dampak yang dialami oleh perawat dari pandemi yang terjadi saat ini seperti penggunaan APD dalam kondisi yang panas serta gangguan psikologis seperti takut, cemas, khawatir karena resiko penularan yang tinggi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi tentang pengalaman perawat selama masa pandemi covid-19 di Rumah Sakit Stella Maris Makassar. Rancangan penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologi menggunakan teknik wawancara mendalam sebagai metode pengumpulan data pada lima partisipan yaitu perawat yang pernah merawat pasien yang terinfeksi covid-19. Teknik pengambilan partisipan menggunakan purposive sampling dengan jumlah 5 partisipan dan analisis data menggunakan analisa konten. Penelitian ini menghasilkan 4 tema yaitu persepsi perawat terhadap pandemi covid-19, pengalaman perawat, kondisi psikologis perawat merawat pasien covid-19 dan manajemen ketidaknyamanan perasaan.   The Covid-19 pandemic is a problem that has a negative impact, especially for medical personnel, especially for nurses who are called the frontline in fighting Covid-19. Nurses have more experience in handling patients infected with Covid-19 because nurses always accompany patients while in the hospital. The impact experienced by nurses from the current pandemic is the use of Personal Protective Equipment (PPE) in hot conditions and psychological disorders such as fear, anxiety, worry because of the high risk of transmission. The purpose of this study was to explore the experiences of nurses during the Covid-19 pandemic at Stella Maris Hospital in Makassar. The design of this study is qualitative with a phenomenological approach using in-depth interview techniques as a method of collecting data on five participants, namely nurses who have treated patients infected with Covid-19. The technique of taking participants using purposive sampling with a total of 5 participants and data analysis using content analysis. This study resulted in 4 themes, namely nurses' perceptions of the Covid-19 pandemic, the experience of nurses, the psychological condition of nurses caring for Covid-19 patients and management of feeling discomfort.Pandemi covid-19 merupakan suatu masalah yang menimbulkan dampak negatif terutama bagi tenaga medis, terlebih khusus bagi perawat yang disebut sebagai garda terdepan dalam melawan covid-19. Perawat lebih banyak memiliki pengalaman dalam menangani pasien yang terinfeksi covid-19 karena perawat yang selalu mendampingi pasien saat berada di Rumah Sakit. Dampak yang dialami oleh perawat dari pandemi yang terjadi saat ini seperti penggunaan APD dalam kondisi yang panas serta gangguan psikologis seperti takut, cemas, khawatir karena resiko penularan yang tinggi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi tentang pengalaman perawat selama masa pandemi covid-19 di Rumah Sakit Stella Maris Makassar. Rancangan penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologi menggunakan teknik wawancara mendalam sebagai metode pengumpulan data pada lima partisipan yaitu perawat yang pernah merawat pasien yang terinfeksi covid-19. Teknik pengambilan partisipan menggunakan purposive sampling dengan jumlah 5 partisipan dan analisis data menggunakan analisa konten. Penelitian ini menghasilkan 4 tema yaitu persepsi perawat terhadap pandemi covid-19, pengalaman perawat, kondisi psikologis perawat merawat pasien covid-19 dan manajemen ketidaknyamanan perasaan.   The Covid-19 pandemic is a problem that has a negative impact, especially for medical personnel, especially for nurses who are called the frontline in fighting Covid-19. Nurses have more experience in handling patients infected with Covid-19 because nurses always accompany patients while in the hospital. The impact experienced by nurses from the current pandemic is the use of Personal Protective Equipment (PPE) in hot conditions and psychological disorders such as fear, anxiety, worry because of the high risk of transmission. The purpose of this study was to explore the experiences of nurses during the Covid-19 pandemic at Stella Maris Hospital in Makassar. The design of this study is qualitative with a phenomenological approach using in-depth interview techniques as a method of collecting data on five participants, namely nurses who have treated patients infected with Covid-19. The technique of taking participants using purposive sampling with a total of 5 participants and data analysis using content analysis. This study resulted in 4 themes, namely nurses' perceptions of the Covid-19 pandemic, the experience of nurses, the psychological condition of nurses caring for Covid-19 patients and management of feeling discomfort

    Prediktor Perilaku Menjaga Kadar Glukosa Darah Pasien Diabetes Mellitus: Persepsi Sehat Berbasis Health Belief Model

    Full text link
    Persepsi sehat adalah suatu proses seseorang dalam menginterpretasikan stimulus yang diterima oleh alat indra yang berkaitan dengan keadaan sehat seseorang sehingga perilakunya disesuaikan dengan yang diharapkan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara persepsi sehat berdasarkan teori health belief model sebagai prediktor perilaku mempertahankan kadar glukosa darah normal pada pasien diabetes tipe 2. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional pada 112 responden dengan purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner health belief model dan perilaku menjaga kadar glukosa darah. Spearman rank test digunakan untuk menjawab tujuan penelitian. Hasil penelitian diperoleh nilai modus persepsi sehat adalah 108 dan nilai median 106,5 dengan nilai minimum 86 dan nilai maksimum 119, sedangkan nilai modus perilaku menjaga kadar glukosa darah adalah 27 dan nilai median 27,5 dengan nilai minimum 23 dan nilai maksimum 33. Ada hubungan yang signifikan antara perilaku persepsi sehat mempertahankan kadar glukosa darah (p = <0,011 dan r = 0,239). Terdapat korelasi positif yang berarti semakin tinggi persepsi kesehatan, semakin tinggi perilaku mempertahankan kadar glukosa darah pada pasien diabetes mellitus tipe 2. Perawat dapat menggunakan teori health belief model untuk memperjelas persepsi pasien DM tipe 2 sehingga dapat mempengaruhi pasien untuk mengadopsi gaya hidup yang lebih sehat.   Healthy perception is an individual process to interprete the stimulus received by the sense organs, which related to a healthy state that stimulated individuals to adjust behavior as expectation. This study aimed to analyze the relationship between healthy perceptions based on the theory of health belief models and behavior to maintain normal blood glucose levels in type 2 diabetes patients. A cross-sectional design was performed 112 respondents using the purposive sampling. The data was collected using the health belief model and the behavior to maintain blood glucose levels questionnaire. Spearman rank test was used to analyse the objective the study. The results showed that the mode value of healthy perception was 108 and median value was 106,5 , with a minimum value of 86 and a maximum value of 119. While the mode value of behavior maintaining blood glucose levels was 27 and median value was 27,5 with a minimum value of 23 and a maximum value of 33. There was a significant correlation between healthy perception behavior of maintaining blood glucose levels (p = <0.011 and r = 0.239) with a low positive correlation between the two variables. It shows that the higher the perception of health, the higher the behavior of maintaining blood glucose levels in patients with type 2 diabetes mellitus. Nurses suggested to use the health belief model theory to clarify the perception of type 2 diabetes patients that can influence patients to adopt a healthier lifestyle.Persepsi sehat adalah suatu proses seseorang dalam menginterpretasikan stimulus yang diterima oleh alat indra yang berkaitan dengan keadaan sehat seseorang sehingga perilakunya disesuaikan dengan yang diharapkan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara persepsi sehat berdasarkan teori health belief model sebagai prediktor perilaku mempertahankan kadar glukosa darah normal pada pasien diabetes tipe 2. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional pada 112 responden dengan purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner health belief model dan perilaku menjaga kadar glukosa darah. Spearman rank test digunakan untuk menjawab tujuan penelitian. Hasil penelitian diperoleh nilai modus persepsi sehat adalah 108 dan nilai median 106,5 dengan nilai minimum 86 dan nilai maksimum 119, sedangkan nilai modus perilaku menjaga kadar glukosa darah adalah 27 dan nilai median 27,5 dengan nilai minimum 23 dan nilai maksimum 33. Ada hubungan yang signifikan antara perilaku persepsi sehat mempertahankan kadar glukosa darah (p = <0,011 dan r = 0,239). Terdapat korelasi positif yang berarti semakin tinggi persepsi kesehatan, semakin tinggi perilaku mempertahankan kadar glukosa darah pada pasien diabetes mellitus tipe 2. Perawat dapat menggunakan teori health belief model untuk memperjelas persepsi pasien DM tipe 2 sehingga dapat mempengaruhi pasien untuk mengadopsi gaya hidup yang lebih sehat.   Healthy perception is an individual process to interprete the stimulus received by the sense organs, which related to a healthy state that stimulated individuals to adjust behavior as expectation. This study aimed to analyze the relationship between healthy perceptions based on the theory of health belief models and behavior to maintain normal blood glucose levels in type 2 diabetes patients. A cross-sectional design was performed 112 respondents using the purposive sampling. The data was collected using the health belief model and the behavior to maintain blood glucose levels questionnaire. Spearman rank test was used to analyse the objective the study. The results showed that the mode value of healthy perception was 108 and median value was 106,5 , with a minimum value of 86 and a maximum value of 119. While the mode value of behavior maintaining blood glucose levels was 27 and median value was 27,5 with a minimum value of 23 and a maximum value of 33. There was a significant correlation between healthy perception behavior of maintaining blood glucose levels (p = <0.011 and r = 0.239) with a low positive correlation between the two variables. It shows that the higher the perception of health, the higher the behavior of maintaining blood glucose levels in patients with type 2 diabetes mellitus. Nurses suggested to use the health belief model theory to clarify the perception of type 2 diabetes patients that can influence patients to adopt a healthier lifestyle

    211

    full texts

    225

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Bali Medika Jurnal (BMJ)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇