Bali Medika Jurnal (BMJ)
Not a member yet
225 research outputs found
Sort by
Analisis Prevalensi Skoliosis Idiopatik pada Remaja Pasca Pendidikan Jarak Jauh
Transformasi metode pembelajaran akibat pandemi COVID-19 telah mengubah pola aktifitas remaja secara signifikan dari tatap muka menjadi pembelajaran jarak jauh, kondisi ini berpotensi memicu gangguan postur seperti skoliosis idiopatik, akibat postur yang kurang ideal saat belajar secara daring. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis prevalensi dan faktor risiko skoliosis idiopatik pada 200 siswa SMP (usia 13-15 tahun) yang menjalani pembelajaran jarak jauh di lima sekolah. Penelitian ini menggunakan metode diskriptif kuantitaif observasional dengan pendekatan cross-sectional. Pengumpulan data dilakukan melalui pengukuran sudut skoliosis menggunakan scoliometer dan pengukuran tinggi badan menggunakan stature meter. Selain itu, data responden juga diklasifikasikan berdasarkan usia, jenis kelamin, dan tinggi badan. Hasil menunjukkan bahwa 97% responden memiliki sudut Coob <5 derajat, yang menunjukkan skoliosis ringan. Hanya 1% responden yang memiliki sudut Coob ≥10 derajat, menunjukkan prevalensi skoliosis yang lebih tinggi tetapi jarang terjadi. Distribusi usia dan tinggi badan menunjukkan dominasi pada usia 13 tahun dan tinggi antara 150-154 cm. Temuan ini menggarisbawahi urgensi pengembangan protokol pembelajaran daring yang memperhatikan aspek ergonomis, serta pentingnya program skrining dan edukasi postur berbasis sekolah untuk mencegah progresivitas skoliosis pada remaja.
The transformation of learning methods due to the COVID-19 pandemic has significantly changed youth activity patterns from face-to-face to distance learning, this condition has the potential to trigger posture disorders such as idiopathic scoliosis, due to less than ideal posture when studying online. This study aims to analyze the prevalence and risk factors of idiopathic scoliosis in 200 junior high school students (aged 13-15 years) undergoing distance learning in five schools. This research uses a descriptive quantitative observational method with a cross-sectional approach. Data collection was carried out by measuring the scoliosis angle using a scoliometer and measuring body height using a stature meter. Apart from that, respondent data was also classified based on age, gender and height. Results showed that 97% of respondents had a Coob angle of <5 degrees, indicating mild scoliosis. Only 1% of respondents had a Coob angle ≥10 degrees, indicating a higher but rare prevalence of scoliosis. The distribution of age and height shows a predominance at the age of 13 years and height between 150-154 cm. These findings underscore the urgency of developing online learning protocols that pay attention to ergonomic aspects, as well as the importance of school-based posture screening and education programs to prevent the progression of scoliosis in adolescents.Transformasi metode pembelajaran akibat pandemi COVID-19 telah mengubah pola aktifitas remaja secara signifikan dari tatap muka menjadi pembelajaran jarak jauh, kondisi ini berpotensi memicu gangguan postur seperti skoliosis idiopatik, akibat postur yang kurang ideal saat belajar secara daring. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis prevalensi dan faktor risiko skoliosis idiopatik pada 200 siswa SMP (usia 13-15 tahun) yang menjalani pembelajaran jarak jauh di lima sekolah. Penelitian ini menggunakan metode diskriptif kuantitaif observasional dengan pendekatan cross-sectional. Pengumpulan data dilakukan melalui pengukuran sudut skoliosis menggunakan scoliometer dan pengukuran tinggi badan menggunakan stature meter. Selain itu, data responden juga diklasifikasikan berdasarkan usia, jenis kelamin, dan tinggi badan. Hasil menunjukkan bahwa 97% responden memiliki sudut Coob <5 derajat, yang menunjukkan skoliosis ringan. Hanya 1% responden yang memiliki sudut Coob ≥10 derajat, menunjukkan prevalensi skoliosis yang lebih tinggi tetapi jarang terjadi. Distribusi usia dan tinggi badan menunjukkan dominasi pada usia 13 tahun dan tinggi antara 150-154 cm. Temuan ini menggarisbawahi urgensi pengembangan protokol pembelajaran daring yang memperhatikan aspek ergonomis, serta pentingnya program skrining dan edukasi postur berbasis sekolah untuk mencegah progresivitas skoliosis pada remaja.
The transformation of learning methods due to the COVID-19 pandemic has significantly changed youth activity patterns from face-to-face to distance learning, this condition has the potential to trigger posture disorders such as idiopathic scoliosis, due to less than ideal posture when studying online. This study aims to analyze the prevalence and risk factors of idiopathic scoliosis in 200 junior high school students (aged 13-15 years) undergoing distance learning in five schools. This research uses a descriptive quantitative observational method with a cross-sectional approach. Data collection was carried out by measuring the scoliosis angle using a scoliometer and measuring body height using a stature meter. Apart from that, respondent data was also classified based on age, gender and height. Results showed that 97% of respondents had a Coob angle of <5 degrees, indicating mild scoliosis. Only 1% of respondents had a Coob angle ≥10 degrees, indicating a higher but rare prevalence of scoliosis. The distribution of age and height shows a predominance at the age of 13 years and height between 150-154 cm. These findings underscore the urgency of developing online learning protocols that pay attention to ergonomic aspects, as well as the importance of school-based posture screening and education programs to prevent the progression of scoliosis in adolescents
Transformasi Efisiensi Pelayanan Rawat Inap: Analisis Multi-Dimensi Menggunakan Indikator Barber Johnson
Dalam statistik rumah sakit terdapat beberapa indikator pelayanan rawat inap, yaitu BOR, AvLOS, TOI, BTO, GDR dan NDR. Pemanfaatan data pelaporan berhubungan dengan mekanisme alur prosedur pelayanan untuk kepentingan internal dan eksternal rumah sakit. Berdasarkan studi pendahuluan di Rumah Sakit Dkt Dr. Soetarto Yogyakarta, data 3 tahun terakhir terdapat peningkatan indikator pelayanan rawat inap tetapi masih belum masuk kategori efisien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tren indikator pelayanan rawat inap selama 3 tahun terakhir di RS DKT Dr. Soetarto Yogyakarta dan mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi pelayanan. Kebaruan penelitian ini terletak pada pendekatan analisis longitudinal yang dikombinasikan dengan wawancara mendalam untuk memahami konteks dan upaya perbaikan yang dilakukan rumah sakit. Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan kualitatif dengan jenis data sekunder yaitu rekapitulasi SHRI pertahun dalam kurung waktu 3 tahun terakhir serta wawancara kepada petugas pelaporan, dari hasil analisis perbandingan indikator pelayanan rawat inap selama 3 tahun terakhir diketahui hanya nilai LOS yang memenuhi standar efisiensi, untuk indikator BOR, TOI, dan BTO belum memenuhi standar barber johnson karena jumlah kunjungan dirumah sakit khususnya rawat inap masih rendah.
In hospital statistics there are several indicators of inpatient services, namely BOR, AvLOS, TOI, BTO, GDR and NDR. The use of reporting data is related to the mechanism for the flow of service procedures for internal and external purposes of the hospital. Based on a preliminary study at Dr. DKT Hospital. Soetarto Yogyakarta, data for the last 3 years shows an increase in inpatient service indicators but it is still not in the efficient category. The aim of this research is to analyze the benefits of inpatient service indicators over the last 3 years. This type of research is descriptive with a qualitative approach with secondary data, namely recapitulation of SHRI per year within the last 3 years as well as interviews with reporting officers. From the results of the comparative analysis of inpatient service indicators over the last 3 years, it is known that only the LOS value meets efficiency standards, for BOR, TOI and BTO indicators do not meet Barber Johnson standards because the number of hospital visits, especially inpatient stays, is still low.Dalam statistik rumah sakit terdapat beberapa indikator pelayanan rawat inap, yaitu BOR, AvLOS, TOI, BTO, GDR dan NDR. Pemanfaatan data pelaporan berhubungan dengan mekanisme alur prosedur pelayanan untuk kepentingan internal dan eksternal rumah sakit. Berdasarkan studi pendahuluan di Rumah Sakit Dkt Dr. Soetarto Yogyakarta, data 3 tahun terakhir terdapat peningkatan indikator pelayanan rawat inap tetapi masih belum masuk kategori efisien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tren indikator pelayanan rawat inap selama 3 tahun terakhir di RS DKT Dr. Soetarto Yogyakarta dan mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi pelayanan. Kebaruan penelitian ini terletak pada pendekatan analisis longitudinal yang dikombinasikan dengan wawancara mendalam untuk memahami konteks dan upaya perbaikan yang dilakukan rumah sakit. Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan kualitatif dengan jenis data sekunder yaitu rekapitulasi SHRI pertahun dalam kurung waktu 3 tahun terakhir serta wawancara kepada petugas pelaporan, dari hasil analisis perbandingan indikator pelayanan rawat inap selama 3 tahun terakhir diketahui hanya nilai LOS yang memenuhi standar efisiensi, untuk indikator BOR, TOI, dan BTO belum memenuhi standar barber johnson karena jumlah kunjungan dirumah sakit khususnya rawat inap masih rendah.
In hospital statistics there are several indicators of inpatient services, namely BOR, AvLOS, TOI, BTO, GDR and NDR. The use of reporting data is related to the mechanism for the flow of service procedures for internal and external purposes of the hospital. Based on a preliminary study at Dr. DKT Hospital. Soetarto Yogyakarta, data for the last 3 years shows an increase in inpatient service indicators but it is still not in the efficient category. The aim of this research is to analyze the benefits of inpatient service indicators over the last 3 years. This type of research is descriptive with a qualitative approach with secondary data, namely recapitulation of SHRI per year within the last 3 years as well as interviews with reporting officers. From the results of the comparative analysis of inpatient service indicators over the last 3 years, it is known that only the LOS value meets efficiency standards, for BOR, TOI and BTO indicators do not meet Barber Johnson standards because the number of hospital visits, especially inpatient stays, is still low
Pengetahuan Perineal Massage sebagai Prediktor Sikap Pencegahan Trauma Perineum: Implikasi Praktik Kebidanan Berbasis Bukti
Saat melahirkan, wanita sering mengalami trauma perineum, terutama persalinan pertama. Salah satu yang banyak ditakuti saat melahirkan adalah episiotomi dan robekan jalan lahir. Oleh karena itu, berbagai intervensi telah dievaluasi untuk mengurangi trauma perineum. Salah satunya dengan perineal massage. Perineal massage merupakan teknik pemijatan area perineum dengan penekanan yang lembut untuk meningkatkan aliran darah perineum dan meningkatkan elastisitas otot perineum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan ibu bersalin tentang perineal massage dengan sikap pencegahan robekan jalan lahir di Rumah Sakit Tk. II Udayana Denpasar. Penelitian ini merupakan observasional analitik dengan pendekatan Cross Sectional yang dilakukan pada bulan Juni-Agustus 2022. Teknik sampling menggunakan accidental sampling dengan jumlah sampel sebanyak 82 orang, di analisis menggunakan uji Spearman rho. Penelitian ini menunjukkan pengetahuan ibu bersalin sebagian besar responden memiliki pengetahuan kurang sebanyak 39 orang (47,6%). Sikap pencegahan robekan jalan lahir sebagian besar responden memiliki sikap buruk sebanyak 43 orang (52,4%). Ada hubungan signifikan antara pengetahuan ibu bersalin tentang perineal massage dengan sikap pencegahan robekan jalan lahir di Rumah Sakit Tk. II Udayana dengan nilai p value 0.000. Pelayanan kesehatan diharapkan menggalakkan kelas ibu hamil secara teratur sehingga bidan dapat menginformasikan mengenai perineal massage.
During childbirth, women often experience perineal trauma, especially the first childbirth. One that is much feared during childbirth is an episiotomy and a tear of the birth canal. Therefore, various interventions have been evaluated to reduce perineal trauma. One of them is with perineal massage. Perineal massage is a massage technique of the perineal area with gentle emphasis to increase perineal blood flow and increase the elasticity of the perineal muscles. This study aims to determine the relationship between maternity knowledge about perineal massage with attitudes to prevent birth canal tears at Tk. II Udayana Hospital Denpasar. This study is an analytical observational with a Cross Sectional approach conducted in June-August 2022. The sampling technique uses accidental sampling with a total sample of 82 people, analyzed using the Spearman rho test. This study shows that the knowledge of maternity mothers most respondents have less knowledge as many as 47.6%. Birth canal tear prevention attitude, most respondents have a bad attitude as many as 52.4%. There is a significant relationship between maternity mothers' knowledge of perineal massage with the attitude of preventing birth canal tears (p value 0.000). Health services are expected to promote classes for pregnant women regularly so that midwives can inform about perineal massage.Saat melahirkan, wanita sering mengalami trauma perineum, terutama persalinan pertama. Salah satu yang banyak ditakuti saat melahirkan adalah episiotomi dan robekan jalan lahir. Oleh karena itu, berbagai intervensi telah dievaluasi untuk mengurangi trauma perineum. Salah satunya dengan perineal massage. Perineal massage merupakan teknik pemijatan area perineum dengan penekanan yang lembut untuk meningkatkan aliran darah perineum dan meningkatkan elastisitas otot perineum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan ibu bersalin tentang perineal massage dengan sikap pencegahan robekan jalan lahir di Rumah Sakit Tk. II Udayana Denpasar. Penelitian ini merupakan observasional analitik dengan pendekatan Cross Sectional yang dilakukan pada bulan Juni-Agustus 2022. Teknik sampling menggunakan accidental sampling dengan jumlah sampel sebanyak 82 orang, di analisis menggunakan uji Spearman rho. Penelitian ini menunjukkan pengetahuan ibu bersalin sebagian besar responden memiliki pengetahuan kurang sebanyak 39 orang (47,6%). Sikap pencegahan robekan jalan lahir sebagian besar responden memiliki sikap buruk sebanyak 43 orang (52,4%). Ada hubungan signifikan antara pengetahuan ibu bersalin tentang perineal massage dengan sikap pencegahan robekan jalan lahir di Rumah Sakit Tk. II Udayana dengan nilai p value 0.000. Pelayanan kesehatan diharapkan menggalakkan kelas ibu hamil secara teratur sehingga bidan dapat menginformasikan mengenai perineal massage.
During childbirth, women often experience perineal trauma, especially the first childbirth. One that is much feared during childbirth is an episiotomy and a tear of the birth canal. Therefore, various interventions have been evaluated to reduce perineal trauma. One of them is with perineal massage. Perineal massage is a massage technique of the perineal area with gentle emphasis to increase perineal blood flow and increase the elasticity of the perineal muscles. This study aims to determine the relationship between maternity knowledge about perineal massage with attitudes to prevent birth canal tears at Tk. II Udayana Hospital Denpasar. This study is an analytical observational with a Cross Sectional approach conducted in June-August 2022. The sampling technique uses accidental sampling with a total sample of 82 people, analyzed using the Spearman rho test. This study shows that the knowledge of maternity mothers most respondents have less knowledge as many as 47.6%. Birth canal tear prevention attitude, most respondents have a bad attitude as many as 52.4%. There is a significant relationship between maternity mothers' knowledge of perineal massage with the attitude of preventing birth canal tears (p value 0.000). Health services are expected to promote classes for pregnant women regularly so that midwives can inform about perineal massage
Hubungan IMT dan Usia Terhadap Waktu Pulih Sadar Menggunakan Laryngeal Mask Airway
Pemulihan kesadaran pasca general anestesi merupakan indikator penting dalam penilaian efektivitas anestesi dan keselamatan pasien. Faktor-faktor seperti Indeks Massa Tubuh (IMT) dan usia pasien diduga mempengaruhi waktu pemulihan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan antara IMT dan usia dengan waktu pemulihan kesadaran setelah general anestesi menggunakan Laryngeal Mask Airway (LMA) di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo. Studi ini bersifat deskriptif korelasional dengan pendekatan kuantitatif dan desain cross-sectional. Sampel terdiri dari 127 pasien yang menjalani general anestesi dengan LMA selama periode November 2023 hingga Oktober 2023. Data dikumpulkan melalui rekam medis dan observasi langsung di Unit Perawatan Pasca Anestesi (PACU). Analisis statistik menggunakan uji korelasi Spearman untuk menguji hubungan antara IMT dan usia dengan waktu pemulihan. Sebagian besar responden (52,8%) memiliki berat badan normal, dan 23,6% berada pada kategori usia lansia akhir (56-65 tahun). Hasil uji korelasi menunjukkan hubungan signifikan antara IMT dan waktu pemulihan (r = 0,497, p < 0,001), serta antara usia dan waktu pemulihan (r = 0,389, p < 0,001). Analisis regresi multivariat mengonfirmasi bahwa IMT dan usia merupakan prediktor signifikan waktu pemulihan kesadaran. Terdapat hubungan signifikan antara IMT dan usia dengan waktu pemulihan kesadaran pasca general anestesi menggunakan LMA. Temuan ini menyoroti pentingnya mempertimbangkan profil IMT dan usia dalam pengelolaan dosis anestesi dan perencanaan pemulihan pasien.
Recovery of consciousness after general anesthesia is an important indicator in assessing the effectiveness of anesthesia and patient safety. Factors such as Body Mass Index (BMI) and patient age are thought to affect recovery time. This study aims to explore the relationship between BMI and age with recovery time after general anesthesia using Laryngeal Mask Airway (LMA) at Prof. Dr. Margono Soekarjo Hospital. This study is descriptive correlational with a quantitative approach and cross-sectional design. The sample consisted of 127 patients who underwent general anesthesia with LMA during the period from November 2023 to October 2023. Data were collected through medical records and direct observation in the Post Anesthesia Care Unit (PACU). Statistical analysis used the Spearman correlation test to examine the relationship between BMI and age with recovery time. Most respondents (52.8%) had normal body weight, and 23.6% were in the late elderly age category (56-65 years). The results of the correlation test showed a significant relationship between BMI and recovery time (r = 0.497, p < 0.001), and between age and recovery time (r = 0.389, p < 0.001). Multivariate regression analysis confirmed that BMI and age were significant predictors of recovery time. There was a significant relationship between BMI and age with recovery time after general anesthesia using LMA. These findings highlight the importance of considering BMI and age profiles in managing anesthetic doses and patient recovery planning.Pemulihan kesadaran pasca general anestesi merupakan indikator penting dalam penilaian efektivitas anestesi dan keselamatan pasien. Faktor-faktor seperti Indeks Massa Tubuh (IMT) dan usia pasien diduga mempengaruhi waktu pemulihan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan antara IMT dan usia dengan waktu pemulihan kesadaran setelah general anestesi menggunakan Laryngeal Mask Airway (LMA) di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo. Studi ini bersifat deskriptif korelasional dengan pendekatan kuantitatif dan desain cross-sectional. Sampel terdiri dari 127 pasien yang menjalani general anestesi dengan LMA selama periode November 2023 hingga Oktober 2023. Data dikumpulkan melalui rekam medis dan observasi langsung di Unit Perawatan Pasca Anestesi (PACU). Analisis statistik menggunakan uji korelasi Spearman untuk menguji hubungan antara IMT dan usia dengan waktu pemulihan. Sebagian besar responden (52,8%) memiliki berat badan normal, dan 23,6% berada pada kategori usia lansia akhir (56-65 tahun). Hasil uji korelasi menunjukkan hubungan signifikan antara IMT dan waktu pemulihan (r = 0,497, p < 0,001), serta antara usia dan waktu pemulihan (r = 0,389, p < 0,001). Analisis regresi multivariat mengonfirmasi bahwa IMT dan usia merupakan prediktor signifikan waktu pemulihan kesadaran. Terdapat hubungan signifikan antara IMT dan usia dengan waktu pemulihan kesadaran pasca general anestesi menggunakan LMA. Temuan ini menyoroti pentingnya mempertimbangkan profil IMT dan usia dalam pengelolaan dosis anestesi dan perencanaan pemulihan pasien.
Recovery of consciousness after general anesthesia is an important indicator in assessing the effectiveness of anesthesia and patient safety. Factors such as Body Mass Index (BMI) and patient age are thought to affect recovery time. This study aims to explore the relationship between BMI and age with recovery time after general anesthesia using Laryngeal Mask Airway (LMA) at Prof. Dr. Margono Soekarjo Hospital. This study is descriptive correlational with a quantitative approach and cross-sectional design. The sample consisted of 127 patients who underwent general anesthesia with LMA during the period from November 2023 to October 2023. Data were collected through medical records and direct observation in the Post Anesthesia Care Unit (PACU). Statistical analysis used the Spearman correlation test to examine the relationship between BMI and age with recovery time. Most respondents (52.8%) had normal body weight, and 23.6% were in the late elderly age category (56-65 years). The results of the correlation test showed a significant relationship between BMI and recovery time (r = 0.497, p < 0.001), and between age and recovery time (r = 0.389, p < 0.001). Multivariate regression analysis confirmed that BMI and age were significant predictors of recovery time. There was a significant relationship between BMI and age with recovery time after general anesthesia using LMA. These findings highlight the importance of considering BMI and age profiles in managing anesthetic doses and patient recovery planning
Efektivitas Program Pendidikan Berkelanjutan: Meningkatkan Kualitas Pelayanan Kesehatan bagi Perawat
Pendidikan berkelanjutan bagi perawat merupakan elemen krusial dalam menjaga dan meningkatkan kompetensi profesional mereka, yang pada gilirannya berdampak pada kualitas pelayanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas program pendidikan berkelanjutan yang mengintegrasikan metode e-learning dan pelatihan konvensional dalam meningkatkan kompetensi perawat serta kepuasan perawat dan pasien. Metode penelitian yang digunakan adalah survei analitik dengan pendekatan cross-sectional, melibatkan seluruh populasi perawat di lokasi penelitian sebanyak 48 responden. Instrumen penelitian berupa kuesioner yang telah divalidasi dengan nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,85. Analisis data dilakukan menggunakan uji Paired Sample T-Test dan Chi-Square untuk menguji signifikansi temuan. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan dalam pengetahuan perawat setelah mengikuti program pendidikan berkelanjutan, dengan skor rata-rata meningkat dari 65,2 pada pretest menjadi 84,5 pada posttest (p < 0,05). Selain itu, kepuasan perawat terhadap program pendidikan meningkat hingga 96%, dan kepuasan pasien terhadap mutu pelayanan keperawatan meningkat menjadi 55% (p < 0,05). Temuan ini mengindikasikan bahwa integrasi e-learning dan metode pendidikan tradisional efektif dalam meningkatkan kompetensi perawat serta meningkatkan kepuasan perawat dan pasien. Penelitian ini merekomendasikan penerapan e-learning sebagai bagian integral dari program pendidikan berkelanjutan dan menyarankan pengembangan kebijakan yang mendukung akses universal terhadap pendidikan ini untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan secara nasional.
Continuing education for nurses is a critical element in maintaining and enhancing their professional competencies, which in turn impacts the quality of healthcare services. This study aims to evaluate the effectiveness of a continuing education program that integrates e-learning and conventional training methods in improving nurses' competencies, as well as nurse and patient satisfaction. The research employed an analytical survey with a cross-sectional approach, involving the entire population of nurses at the study site, totaling 48 respondents. The research instrument consisted of a validated questionnaire with a Cronbach’s Alpha value of 0.85. Data analysis was conducted using Paired Sample T-Test and Chi-Square tests to assess the significance of the findings. The results indicated a significant increase in nurses' knowledge post-intervention, with mean scores rising from 65.2 in the pretest to 84.5 in the posttest (p < 0.05). Additionally, nurse satisfaction with the education program increased to 96%, and patient satisfaction with the quality of nursing care rose to 55% (p < 0.05). These findings suggest that the integration of e-learning and traditional education methods is effective in enhancing nurses' competencies and increasing satisfaction among both nurses and patients. The study recommends the implementation of e-learning as an integral component of continuing education programs and advocates for the development of policies that support universal access to such education to improve the overall quality of national healthcare services.Pendidikan berkelanjutan bagi perawat merupakan elemen krusial dalam menjaga dan meningkatkan kompetensi profesional mereka, yang pada gilirannya berdampak pada kualitas pelayanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas program pendidikan berkelanjutan yang mengintegrasikan metode e-learning dan pelatihan konvensional dalam meningkatkan kompetensi perawat serta kepuasan perawat dan pasien. Metode penelitian yang digunakan adalah survei analitik dengan pendekatan cross-sectional, melibatkan seluruh populasi perawat di lokasi penelitian sebanyak 48 responden. Instrumen penelitian berupa kuesioner yang telah divalidasi dengan nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,85. Analisis data dilakukan menggunakan uji Paired Sample T-Test dan Chi-Square untuk menguji signifikansi temuan. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan dalam pengetahuan perawat setelah mengikuti program pendidikan berkelanjutan, dengan skor rata-rata meningkat dari 65,2 pada pretest menjadi 84,5 pada posttest (p < 0,05). Selain itu, kepuasan perawat terhadap program pendidikan meningkat hingga 96%, dan kepuasan pasien terhadap mutu pelayanan keperawatan meningkat menjadi 55% (p < 0,05). Temuan ini mengindikasikan bahwa integrasi e-learning dan metode pendidikan tradisional efektif dalam meningkatkan kompetensi perawat serta meningkatkan kepuasan perawat dan pasien. Penelitian ini merekomendasikan penerapan e-learning sebagai bagian integral dari program pendidikan berkelanjutan dan menyarankan pengembangan kebijakan yang mendukung akses universal terhadap pendidikan ini untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan secara nasional.
Continuing education for nurses is a critical element in maintaining and enhancing their professional competencies, which in turn impacts the quality of healthcare services. This study aims to evaluate the effectiveness of a continuing education program that integrates e-learning and conventional training methods in improving nurses' competencies, as well as nurse and patient satisfaction. The research employed an analytical survey with a cross-sectional approach, involving the entire population of nurses at the study site, totaling 48 respondents. The research instrument consisted of a validated questionnaire with a Cronbach’s Alpha value of 0.85. Data analysis was conducted using Paired Sample T-Test and Chi-Square tests to assess the significance of the findings. The results indicated a significant increase in nurses' knowledge post-intervention, with mean scores rising from 65.2 in the pretest to 84.5 in the posttest (p < 0.05). Additionally, nurse satisfaction with the education program increased to 96%, and patient satisfaction with the quality of nursing care rose to 55% (p < 0.05). These findings suggest that the integration of e-learning and traditional education methods is effective in enhancing nurses' competencies and increasing satisfaction among both nurses and patients. The study recommends the implementation of e-learning as an integral component of continuing education programs and advocates for the development of policies that support universal access to such education to improve the overall quality of national healthcare services
Efektifitas Video Edukasi Dalam Meningkatkan Pengetahuan Remaja Tentang TRIAD KRR
Masalah kesehatan remaja di Indonesia seringkali disebabkan oleh perilaku berisiko seperti perkelahian, konsumsi alkohol, penggunaan narkoba, seksualitas pranikah, dan peningkatan kasus kehamilan tidak diinginkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh pendidikan kesehatan melalui media video terhadap peningkatan pengetahuan remaja mengenai Tiga Risiko Ancaman Dasar Kesehatan Reproduksi Remaja (TRIAD KRR). Studi ini menggunakan desain quasi-eksperimental pretest-posttest dengan kelompok kontrol, melibatkan 36 siswa kelas IX SMP Negeri 4 Negara yang dipilih secara acak. Data dikumpulkan melalui kuesioner online dan dianalisis menggunakan uji Paired T-Test dan Independent T-Test untuk data berdistribusi normal serta uji Wilcoxon dan Mann-Whitney untuk data tidak berdistribusi normal. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan signifikan dalam skor pengetahuan setelah intervensi pada kedua kelompok, dengan peningkatan yang lebih besar pada kelompok eksperimen yang menerima pendidikan berbasis video (nilai p < 0,05). Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa pendidikan kesehatan melalui media video efektif dalam meningkatkan pengetahuan remaja mengenai TRIAD KRR, serta merekomendasikan penggunaan media audiovisual sebagai metode edukasi yang lebih menarik dan efektif di lingkungan sekolah.
Health problems of adolescents in Indonesia are often caused by risky behaviors such as fighting, alcohol consumption, drug use, premarital sexuality, and increasing cases of unwanted pregnancies. This study aims to evaluate the effect of health education through video media on increasing adolescent knowledge about the Three Basic Reproductive Health Risks This study used a quasi-experimental pretest-posttest design with a control group, involving 36 grade IX students of SMP Negeri 4 Negara who were selected randomly. Data were collected through an online questionnaire and analyzed using the Paired T-Test and Independent T-Test for normally distributed data and the Wilcoxon and Mann-Whitney tests for non-normally distributed data. The results showed a significant increase in knowledge scores after the intervention in both groups, with a greater increase in the experimental group that received video-based education (p value <0.05). The conclusion of this study shows that health education through video media is effective in increasing adolescent knowledge about Three Basic Reproductive Health Risks, and recommends the use of audiovisual media as a more interesting and effective educational method in the school environment.Masalah kesehatan remaja di Indonesia seringkali disebabkan oleh perilaku berisiko seperti perkelahian, konsumsi alkohol, penggunaan narkoba, seksualitas pranikah, dan peningkatan kasus kehamilan tidak diinginkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh pendidikan kesehatan melalui media video terhadap peningkatan pengetahuan remaja mengenai Tiga Risiko Ancaman Dasar Kesehatan Reproduksi Remaja (TRIAD KRR). Studi ini menggunakan desain quasi-eksperimental pretest-posttest dengan kelompok kontrol, melibatkan 36 siswa kelas IX SMP Negeri 4 Negara yang dipilih secara acak. Data dikumpulkan melalui kuesioner online dan dianalisis menggunakan uji Paired T-Test dan Independent T-Test untuk data berdistribusi normal serta uji Wilcoxon dan Mann-Whitney untuk data tidak berdistribusi normal. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan signifikan dalam skor pengetahuan setelah intervensi pada kedua kelompok, dengan peningkatan yang lebih besar pada kelompok eksperimen yang menerima pendidikan berbasis video (nilai p < 0,05). Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa pendidikan kesehatan melalui media video efektif dalam meningkatkan pengetahuan remaja mengenai TRIAD KRR, serta merekomendasikan penggunaan media audiovisual sebagai metode edukasi yang lebih menarik dan efektif di lingkungan sekolah.
Health problems of adolescents in Indonesia are often caused by risky behaviors such as fighting, alcohol consumption, drug use, premarital sexuality, and increasing cases of unwanted pregnancies. This study aims to evaluate the effect of health education through video media on increasing adolescent knowledge about the Three Basic Reproductive Health Risks This study used a quasi-experimental pretest-posttest design with a control group, involving 36 grade IX students of SMP Negeri 4 Negara who were selected randomly. Data were collected through an online questionnaire and analyzed using the Paired T-Test and Independent T-Test for normally distributed data and the Wilcoxon and Mann-Whitney tests for non-normally distributed data. The results showed a significant increase in knowledge scores after the intervention in both groups, with a greater increase in the experimental group that received video-based education (p value <0.05). The conclusion of this study shows that health education through video media is effective in increasing adolescent knowledge about Three Basic Reproductive Health Risks, and recommends the use of audiovisual media as a more interesting and effective educational method in the school environment
Picky Eating: Faktor Risiko Stunting pada Anak Prasekolah
Picky eating merupakan perilaku makan selektif yang menjadi perhatian global karena hubungannya dengan malnutrisi dan stunting, terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara picky eating dan stunting pada anak usia prasekolah di Kecamatan Lau, Kabupaten Maros. Penelitian menggunakan desain kohort retrospektif dengan total sampling sebanyak 166 anak usia 3-5 tahun. Perilaku makan diukur menggunakan kuesioner Child Eating Behavior Questionaire (CEBQ) dan status gizi dinilai berdasarkan standar WHO menggunakan microtoise. Data dianalisis dengan uji chi-square dan odds ratio (OR) dengan CI 95%. Anak dengan picky eating memiliki risiko stunting 43 kali lipat lebih tinggi (OR = 43; CI 95%). Sebanyak 65,06% anak menunjukkan perilaku picky eating, dan 47,59% mengalami stunting. Faktor lain yang memengaruhi adalah berat badan lahir rendah dan pendapatan orang tua di bawah UMR. Picky eating berhubungan signifikan dengan kejadian stunting pada anak prasekolah. Hasil ini memfokuskan pentingnya edukasi orang tua tentang pola makan sehat dan perlunya intervensi berbasis komunitas untuk mengurangi angka stunting.
Picky eating is a selective eating behavior that has become a global concern due to its association with malnutrition and stunting, especially in developing countries such as Indonesia. This study aims to identify the association between picky eating and stunting in preschool children in Lau District, Maros Regency. The study used a retrospective cohort design with a total sampling of 166 children aged 3-5 years. Eating behavior was measured using the Child Eating Behavior Questionnaire (CEBQ) and nutritional status was assessed based on WHO standards using a microtoise. Data were analyzed using the chi-square test and odds ratio (OR) with 95% CI. Children with picky eating have a 43-fold higher risk of stunting (OR = 43; 95% CI). A total of 65.06% of children showed picky eating behavior, and 47.59% experienced stunting. Other influencing factors are low birth weight and parental income below the minimum wage. Picky eating is significantly associated with the incidence of stunting in preschool children. These results focus on the importance of educating parents about healthy eating patterns and the need for community-based interventions to reduce stunting rates.Picky eating merupakan perilaku makan selektif yang menjadi perhatian global karena hubungannya dengan malnutrisi dan stunting, terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara picky eating dan stunting pada anak usia prasekolah di Kecamatan Lau, Kabupaten Maros. Penelitian menggunakan desain kohort retrospektif dengan total sampling sebanyak 166 anak usia 3-5 tahun. Perilaku makan diukur menggunakan kuesioner Child Eating Behavior Questionaire (CEBQ) dan status gizi dinilai berdasarkan standar WHO menggunakan microtoise. Data dianalisis dengan uji chi-square dan odds ratio (OR) dengan CI 95%. Anak dengan picky eating memiliki risiko stunting 43 kali lipat lebih tinggi (OR = 43; CI 95%). Sebanyak 65,06% anak menunjukkan perilaku picky eating, dan 47,59% mengalami stunting. Faktor lain yang memengaruhi adalah berat badan lahir rendah dan pendapatan orang tua di bawah UMR. Picky eating berhubungan signifikan dengan kejadian stunting pada anak prasekolah. Hasil ini memfokuskan pentingnya edukasi orang tua tentang pola makan sehat dan perlunya intervensi berbasis komunitas untuk mengurangi angka stunting.
Picky eating is a selective eating behavior that has become a global concern due to its association with malnutrition and stunting, especially in developing countries such as Indonesia. This study aims to identify the association between picky eating and stunting in preschool children in Lau District, Maros Regency. The study used a retrospective cohort design with a total sampling of 166 children aged 3-5 years. Eating behavior was measured using the Child Eating Behavior Questionnaire (CEBQ) and nutritional status was assessed based on WHO standards using a microtoise. Data were analyzed using the chi-square test and odds ratio (OR) with 95% CI. Children with picky eating have a 43-fold higher risk of stunting (OR = 43; 95% CI). A total of 65.06% of children showed picky eating behavior, and 47.59% experienced stunting. Other influencing factors are low birth weight and parental income below the minimum wage. Picky eating is significantly associated with the incidence of stunting in preschool children. These results focus on the importance of educating parents about healthy eating patterns and the need for community-based interventions to reduce stunting rates
Spiritual Leadership and Caring Behavior: Insights from Indonesian Nursing Practice
Inadequate implementation of caring behaviors can negatively impact the quality of nursing care. Several factors, including spiritual leadership, can affect this. However, empirical evidence supporting this relationship is limited. Therefore, this study aimed to explore the relationship between spiritual leadership and nurses' caring behavior. The study used a quantitative design with a sample of 114 nurses through a total sampling technique. The instruments were spiritual leadership and caring behavior questionnaires with a five-point Likert scale that was analyzed using Spearman's Rho correlation test. The findings showed that nurses' understanding of spiritual leadership and caring behavior was in a good category. There was a positive relationship between spiritual leadership and nurses' caring behavior, but the strength of the relationship was relatively weak. Nonetheless, the results indicate the importance of spiritual leadership in nurses' caring behavior in hospital services.
Penerapan perilaku caring yang tidak memadai dapat berdampak negatif terhadap kualitas asuhan keperawatan. Beberapa faktor, termasuk kepemimpinan spiritual, dapat mempengaruhi hal ini. Namun, bukti empiris yang mendukung hubungan ini masih terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan antara kepemimpinan spiritual dan perilaku caring perawat. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan sampel sebanyak 114 perawat melalui teknik total sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner kepemimpinan spiritual dan kuesioner perilaku caring dengan skala Likert lima poin yang dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman's Rho. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman kepemimpinan spiritual dan perilaku caring perawat berada pada kategori baik. Terdapat hubungan positif antara kepemimpinan spiritual dan perilaku caring perawat, namun kekuatan hubungan tersebut relatif lemah. Meskipun demikian, hasil penelitian ini menunjukkan pentingnya penerapan kepemimpinan spiritual dalam perilaku caring perawat dalam pelayanan di rumah sakit.Inadequate implementation of caring behaviors can negatively impact the quality of nursing care. Several factors, including spiritual leadership, can affect this. However, empirical evidence supporting this relationship is limited. Therefore, this study aimed to explore the relationship between spiritual leadership and nurses' caring behavior. The study used a quantitative design with a sample of 114 nurses through a total sampling technique. The instruments were spiritual leadership and caring behavior questionnaires with a five-point Likert scale that was analyzed using Spearman's Rho correlation test. The findings showed that nurses' understanding of spiritual leadership and caring behavior was in a good category. There was a positive relationship between spiritual leadership and nurses' caring behavior, but the strength of the relationship was relatively weak. Nonetheless, the results indicate the importance of spiritual leadership in nurses' caring behavior in hospital services.
Penerapan perilaku caring yang tidak memadai dapat berdampak negatif terhadap kualitas asuhan keperawatan. Beberapa faktor, termasuk kepemimpinan spiritual, dapat mempengaruhi hal ini. Namun, bukti empiris yang mendukung hubungan ini masih terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan antara kepemimpinan spiritual dan perilaku caring perawat. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan sampel sebanyak 114 perawat melalui teknik total sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner kepemimpinan spiritual dan kuesioner perilaku caring dengan skala Likert lima poin yang dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman's Rho. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman kepemimpinan spiritual dan perilaku caring perawat berada pada kategori baik. Terdapat hubungan positif antara kepemimpinan spiritual dan perilaku caring perawat, namun kekuatan hubungan tersebut relatif lemah. Meskipun demikian, hasil penelitian ini menunjukkan pentingnya penerapan kepemimpinan spiritual dalam perilaku caring perawat dalam pelayanan di rumah sakit
The Inovasi Pendidikan Kesehatan Gigi: Implementasi Video Animasi pada Siswa Sekolah Dasar
Karies gigi merupakan masalah kesehatan yang signifikan pada anak-anak usia sekolah. Meskipun telah ada upaya pencegahan, efektivitas pendidikan kesehatan gigi menggunakan media inovatif seperti video animasi masih perlu dieksplorasi lebih lanjut. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh pendidikan kesehatan melalui video animasi terhadap tingkat pengetahuan pencegahan karies gigi pada siswa kelas 2 dan 3 di SDN 1 Tamanbali, Bangli. Penelitian desain pre experimental design dengan one group pretest posttest design melibatkan 38 responden yang dipilih menggunakan simple random sampling. Intervensi berupa video animasi edukasi berdurasi 10 menit diberikan dalam tiga sesi selama dua minggu. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner tervalidasi dan dianalisis menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank. Analisis menunjukkan peningkatan signifikan pada tingkat pengetahuan siswa tentang pencegahan karies gigi setelah intervensi (p<0,001). Proporsi siswa dengan tingkat pengetahuan baik meningkat dari 36,8% menjadi 89,5%. Pendidikan kesehatan melalui tayangan video animasi dapat meningkatkan pengetahuan pencegahan karies gigi pada siswa kelas 2 dan 3 di sekolah dasar. Metode ini berpotensi untuk diintegrasikan ke dalam program kesehatan gigi sekolah untuk meningkatkan literasi kesehatan oral anak-anak.
Dental caries is a significant health problem in school-age children. Although prevention efforts have been made, the effectiveness of dental health education using innovative media such as animated videos still needs to be explored further. This study aims to evaluate the effect of health education through animated videos on the level of knowledge of dental caries prevention in grades 2 and 3 at SDN 1 Tamanbali, Bangli. The study used a pre-experimental design with one group pretest posttest design involving 38 respondents selected using simple random sampling. The intervention in the form of a 10-minute educational animated video was given in three sessions over two weeks. Data were collected using a validated questionnaire and analyzed using the Wilcoxon Signed Rank test. The analysis showed a significant increase in students' knowledge of dental caries prevention after the intervention (p<0.001). The proportion of students with a good level of knowledge increased from 36.8% to 89.5%. Health education through animated videos can improve knowledge of dental caries prevention in grades 2 and 3 in elementary schools. This method has the potential to be integrated into school dental health programs to improve children's oral health literacy.Karies gigi merupakan masalah kesehatan yang signifikan pada anak-anak usia sekolah. Meskipun telah ada upaya pencegahan, efektivitas pendidikan kesehatan gigi menggunakan media inovatif seperti video animasi masih perlu dieksplorasi lebih lanjut. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh pendidikan kesehatan melalui video animasi terhadap tingkat pengetahuan pencegahan karies gigi pada siswa kelas 2 dan 3 di SDN 1 Tamanbali, Bangli. Penelitian desain pre experimental design dengan one group pretest posttest design melibatkan 38 responden yang dipilih menggunakan simple random sampling. Intervensi berupa video animasi edukasi berdurasi 10 menit diberikan dalam tiga sesi selama dua minggu. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner tervalidasi dan dianalisis menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank. Analisis menunjukkan peningkatan signifikan pada tingkat pengetahuan siswa tentang pencegahan karies gigi setelah intervensi (p<0,001). Proporsi siswa dengan tingkat pengetahuan baik meningkat dari 36,8% menjadi 89,5%. Pendidikan kesehatan melalui tayangan video animasi dapat meningkatkan pengetahuan pencegahan karies gigi pada siswa kelas 2 dan 3 di sekolah dasar. Metode ini berpotensi untuk diintegrasikan ke dalam program kesehatan gigi sekolah untuk meningkatkan literasi kesehatan oral anak-anak.
Dental caries is a significant health problem in school-age children. Although prevention efforts have been made, the effectiveness of dental health education using innovative media such as animated videos still needs to be explored further. This study aims to evaluate the effect of health education through animated videos on the level of knowledge of dental caries prevention in grades 2 and 3 at SDN 1 Tamanbali, Bangli. The study used a pre-experimental design with one group pretest posttest design involving 38 respondents selected using simple random sampling. The intervention in the form of a 10-minute educational animated video was given in three sessions over two weeks. Data were collected using a validated questionnaire and analyzed using the Wilcoxon Signed Rank test. The analysis showed a significant increase in students' knowledge of dental caries prevention after the intervention (p<0.001). The proportion of students with a good level of knowledge increased from 36.8% to 89.5%. Health education through animated videos can improve knowledge of dental caries prevention in grades 2 and 3 in elementary schools. This method has the potential to be integrated into school dental health programs to improve children's oral health literacy
Pengaruh Edukasi dan Simulasi Menghentikan Perdarahan pada Remaja Sekolah
Perdarahan adalah suatu kondisi dimana darah berlebih keluar dari pembuluh darah akibat kerusakan pembuluh darah. Kabupaten Banyumas dikenal sebagai daerah dengan frekuensi kejadian cedera tertinggi, tercatat sebanyak 4.058 kejadian. Pengabdian masyarakat ini dirancang untuk memperluas pengetahuan dan keterampilan dalam memberikan pertolongan pertama untuk menghentikan perdarahan. Program ini melibatkan 30 peserta dari PMR MAN 1 Banyumas. Metode yang digunakan dalam pengabdian ini meliputi penilaian pengetahuan pre-test dan post-test dan demonstrasi menggunakan lembar ceklis. Metode edukasi yaitu penyuluhan dan ceramah dan metode keterampilan yaitu dilakukan dengan cara mendemosrtrasikan, sedangkan media yang digunakan power point,video dan leaflet. Hasil analisis data dengan distribusi frekuensi SPSS menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta. Sebelum edukasi, terdapat 17 peserta (57%) dengan tingkat pengetahuan cukup, dan setelah edukasi, meningkat menjadi 27 peserta (90%) dengan kategori pengetahuan baik, dengan kenaikan pengetahuan sebesar 21,33%. Keterampilan siswa juga menunjukkan hasil yang cukup signifikan hal ini di tandai dengan ketegori tarampil 73,3%. Kegiatan PkM pertolongan pertama tatalaksana menghentikan perdarahan secara signifikan terhadap peningkatan pengetahuan peserta, dengan mayoritas peserta mencapai tingkat yang baik setelahan penyuluhan. Namun untuk keterampilan (skills) mayoritas peserta, yaitu lebih dari dua pertiga, memiliki keterampilan yang memadai atau baik. Hanya sekitar seperempat dari total peserta yang dianggap kurang terampil. Menunjukkan peningkatan berdasarkan hasil dari presentase pre-test, post-test dan keterampilan yang telah dilakukan.
Hemorrhage is a condition where excess blood comes out of the blood vessels due to damage to the blood vessels. Banyumas Regency is known as the area with the highest frequency of injuries, recorded at 4,058 incidents. This community service is designed to expand knowledge and skills in providing first aid to stop bleeding. This program involved 30 participants from PMR MAN 1 Banyumas. The methods used in this community service include pre-test and post-test knowledge assessment and demonstration using a checklist sheet. The educational method is counseling and lectures and the skill method is done by demonstrating, while the media used are power point, video and leaflet. The results of data analysis with SPSS frequency distribution showed an increase in participants' knowledge. Before education, there were 17 participants (57%) with a moderate level of knowledge, and after education, it increased to 27 participants (90%) with a good knowledge category, with an increase in knowledge of 21.33%. Students' skills also showed significant results, marked by 73.3% skilled category. PkM activities for first aid management to stop bleeding significantly increased the knowledge of participants, with the majority of participants reaching a good level after counseling. However, for skills, the majority of participants, more than two-thirds, had adequate or good skills. Only about a quarter of the total participants were considered less skilled. Showing improvement based on the results of the pre-test, post-test and skills percentages that have been conducted.Perdarahan adalah suatu kondisi dimana darah berlebih keluar dari pembuluh darah akibat kerusakan pembuluh darah. Kabupaten Banyumas dikenal sebagai daerah dengan frekuensi kejadian cedera tertinggi, tercatat sebanyak 4.058 kejadian. Pengabdian masyarakat ini dirancang untuk memperluas pengetahuan dan keterampilan dalam memberikan pertolongan pertama untuk menghentikan perdarahan. Program ini melibatkan 30 peserta dari PMR MAN 1 Banyumas. Metode yang digunakan dalam pengabdian ini meliputi penilaian pengetahuan pre-test dan post-test dan demonstrasi menggunakan lembar ceklis. Metode edukasi yaitu penyuluhan dan ceramah dan metode keterampilan yaitu dilakukan dengan cara mendemosrtrasikan, sedangkan media yang digunakan power point,video dan leaflet. Hasil analisis data dengan distribusi frekuensi SPSS menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta. Sebelum edukasi, terdapat 17 peserta (57%) dengan tingkat pengetahuan cukup, dan setelah edukasi, meningkat menjadi 27 peserta (90%) dengan kategori pengetahuan baik, dengan kenaikan pengetahuan sebesar 21,33%. Keterampilan siswa juga menunjukkan hasil yang cukup signifikan hal ini di tandai dengan ketegori tarampil 73,3%. Kegiatan PkM pertolongan pertama tatalaksana menghentikan perdarahan secara signifikan terhadap peningkatan pengetahuan peserta, dengan mayoritas peserta mencapai tingkat yang baik setelahan penyuluhan. Namun untuk keterampilan (skills) mayoritas peserta, yaitu lebih dari dua pertiga, memiliki keterampilan yang memadai atau baik. Hanya sekitar seperempat dari total peserta yang dianggap kurang terampil. Menunjukkan peningkatan berdasarkan hasil dari presentase pre-test, post-test dan keterampilan yang telah dilakukan.
Hemorrhage is a condition where excess blood comes out of the blood vessels due to damage to the blood vessels. Banyumas Regency is known as the area with the highest frequency of injuries, recorded at 4,058 incidents. This community service is designed to expand knowledge and skills in providing first aid to stop bleeding. This program involved 30 participants from PMR MAN 1 Banyumas. The methods used in this community service include pre-test and post-test knowledge assessment and demonstration using a checklist sheet. The educational method is counseling and lectures and the skill method is done by demonstrating, while the media used are power point, video and leaflet. The results of data analysis with SPSS frequency distribution showed an increase in participants' knowledge. Before education, there were 17 participants (57%) with a moderate level of knowledge, and after education, it increased to 27 participants (90%) with a good knowledge category, with an increase in knowledge of 21.33%. Students' skills also showed significant results, marked by 73.3% skilled category. PkM activities for first aid management to stop bleeding significantly increased the knowledge of participants, with the majority of participants reaching a good level after counseling. However, for skills, the majority of participants, more than two-thirds, had adequate or good skills. Only about a quarter of the total participants were considered less skilled. Showing improvement based on the results of the pre-test, post-test and skills percentages that have been conducted