Bali Medika Jurnal (BMJ)
Not a member yet
    225 research outputs found

    Determinasi Pneumonia Balita : Studi di Puskesmas Ambacang Padang

    Full text link
    Menurut World Health Organization (WHO), pneumonia merenggut lebih dari 800.000 anak balita di seluruh dunia. Sedangkan pneumonia pada balita di Indonesia mengalami peningkatan setiap tahunnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor – faktor yang berhubungan dengan kejadian pneumonia pada balita di Puskesmas Ambacang Padang dengan focus pada status gizi, status imunisasi, pemberian ASI eksklusif dan tingkat pengetahuan ibu. Jenis penelitian analitik dengan desain cross sectional. Pengumpulan data dilakukan pada tanggal 23 Juni – 1 Juli 2022. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu dengan balita pneumonia yang berjumlah 230 orang dengan jumlah sampel 70 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan puposive sampling. Data dianalisis menggunakan uji Chi Square dan Od ratio (OR) dengan CI 95%. Hasil penelitian didapatkan 40% balita mengalami pneumonia berat, 34,3% status gizi kurang, 44,3% imunisasi tidak lengkap, 60% tidak memberikan ASI eksklusif, 38,6% pengetahuan rendah, serta didapatkan balita yang tidak diberikan ASI eksklusif 5.6 kali lipat mengalami pneumonia (OR=5.6, CI 95%). Kesimpulan didapatkan adanya hubungan status gizi, status imunisasi, pengetahuan dengan kejadian pneumonia di Puskesmas Ambacang Padang. Diharapkan agar petugas kesehatan dapat meningkatkan pemberian informasi melalui penyuluhan, media informasi seperti leaflet, poster dan pamphlet tentang pencegahan pneumonia.   According to the World Health Organization (WHO), pneumonia claims more than 800,000 toddlers worldwide. Meanwhile, pneumonia in toddlers in Indonesia has increased every year. The purpose of this study was to analyze the factors associated with the incidence of pneumonia in toddlers at the Ambacang Padang Health Center with a focus on nutritional status, immunization status, exclusive breastfeeding and maternal knowledge levels. The type of analytical research with a cross-sectional design. Data collection was carried out on June 23 - July 1, 2022. The population in this study were all mothers with toddlers with pneumonia totaling 230 people with a sample size of 70 people. The sampling technique used purposive sampling. Data were analyzed using the Chi Square test and Odd ratio (OR) with 95% CI. The results of the study found that 40% of toddlers experienced severe pneumonia, 34.3% had poor nutritional status, 44.3% had incomplete immunization, 60% did not provide exclusive breastfeeding, 38.6% had low knowledge, and toddlers who were not given exclusive breastfeeding were 5.6 times more likely to experience pneumonia (OR = 5.6, CI 95%). The conclusion obtained is that there is a relationship between nutritional status, immunization status, knowledge with the incidence of pneumonia at the Ambacang Padang Health Center. It is hoped that health workers can improve the delivery of information through counseling, information media such as leaflets, posters and pamphlets about pneumonia prevention.Menurut World Health Organization (WHO), pneumonia merenggut lebih dari 800.000 anak balita di seluruh dunia. Sedangkan pneumonia pada balita di Indonesia mengalami peningkatan setiap tahunnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor – faktor yang berhubungan dengan kejadian pneumonia pada balita di Puskesmas Ambacang Padang dengan focus pada status gizi, status imunisasi, pemberian ASI eksklusif dan tingkat pengetahuan ibu. Jenis penelitian analitik dengan desain cross sectional. Pengumpulan data dilakukan pada tanggal 23 Juni – 1 Juli 2022. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu dengan balita pneumonia yang berjumlah 230 orang dengan jumlah sampel 70 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan puposive sampling. Data dianalisis menggunakan uji Chi Square dan Od ratio (OR) dengan CI 95%. Hasil penelitian didapatkan 40% balita mengalami pneumonia berat, 34,3% status gizi kurang, 44,3% imunisasi tidak lengkap, 60% tidak memberikan ASI eksklusif, 38,6% pengetahuan rendah, serta didapatkan balita yang tidak diberikan ASI eksklusif 5.6 kali lipat mengalami pneumonia (OR=5.6, CI 95%). Kesimpulan didapatkan adanya hubungan status gizi, status imunisasi, pengetahuan dengan kejadian pneumonia di Puskesmas Ambacang Padang. Diharapkan agar petugas kesehatan dapat meningkatkan pemberian informasi melalui penyuluhan, media informasi seperti leaflet, poster dan pamphlet tentang pencegahan pneumonia.   According to the World Health Organization (WHO), pneumonia claims more than 800,000 toddlers worldwide. Meanwhile, pneumonia in toddlers in Indonesia has increased every year. The purpose of this study was to analyze the factors associated with the incidence of pneumonia in toddlers at the Ambacang Padang Health Center with a focus on nutritional status, immunization status, exclusive breastfeeding and maternal knowledge levels. The type of analytical research with a cross-sectional design. Data collection was carried out on June 23 - July 1, 2022. The population in this study were all mothers with toddlers with pneumonia totaling 230 people with a sample size of 70 people. The sampling technique used purposive sampling. Data were analyzed using the Chi Square test and Odd ratio (OR) with 95% CI. The results of the study found that 40% of toddlers experienced severe pneumonia, 34.3% had poor nutritional status, 44.3% had incomplete immunization, 60% did not provide exclusive breastfeeding, 38.6% had low knowledge, and toddlers who were not given exclusive breastfeeding were 5.6 times more likely to experience pneumonia (OR = 5.6, CI 95%). The conclusion obtained is that there is a relationship between nutritional status, immunization status, knowledge with the incidence of pneumonia at the Ambacang Padang Health Center. It is hoped that health workers can improve the delivery of information through counseling, information media such as leaflets, posters and pamphlets about pneumonia prevention

    Intubasi Endotrakeal dan Sakit Tenggorokan Pasca Operasi: Analisis Cross-Sectional Faktor Risiko pada Anestesi Umum

    Full text link
    Nyeri tenggorokan pascaoperasi (POST) merupakan komplikasi umum pada 18-65% pasien pasca-intubasi endotrakeal tube (ETT), dengan faktor risiko kritis berupa ukuran ETT, durasi intubasi, dan jenis kelamin perempuan. Studi cross-sectional ini (n=70) di RSUD Kardinah Tegal (Maret-Mei 2024) bertujuan menganalisis hubungan ETT-POST dan mengidentifikasi prediktor dominan melalui consecutive sampling, pengukuran skala Visual Analog Scale (VAS), dan analisis regresi logistik ordinal. Hasil menunjukkan hubungan signifikan ETT-POST (p=0,003; λ=0,400), dengan 64,3% pasien ETT mengalami POST vs. 0% pada kelompok laryngeal mask airway (LMA). Pasien perempuan dengan ETT ≥7,0mm berisiko 7,2 kali lebih tinggi mengalami POST berat (OR 7,2; 95% CI 2,1-24,3), sementara durasi intubasi <60 menit meningkatkan risiko POST 3,8 kali (OR 3,8; 95% CI 1,5-9,6). Disimpulkan bahwa reduksi ukuran ETT menjadi ≤6,5mm untuk pasien perempuan dan optimalisasi teknik intubasi merupakan strategi pencegahan prioritas di RSUD Kardinah Tegal.   Postoperative sore throat (POST) is a common complication in 18-65% of patients after endotracheal tube (ETT) intubation, with critical risk factors being ETT size, intubation duration, and female gender. This cross-sectional study (n=70) at Kardinah Hospital, Tegal (March-May 2024) aimed to analyze the relationship between ETT and POST and identify dominant predictors through consecutive sampling, Visual Analog Scale (VAS) measurements, and ordinal logistic regression analysis. The results showed a significant association between ETT and POST (p=0.003; λ=0.400), with 64.3% of ETT patients experiencing POST compared to 0% in the laryngeal mask airway (LMA) group. Female patients with an ETT ≥7.0 mm had a 7.2-fold higher risk of severe POST (OR 7.2; 95% CI 2.1-24.3), while intubation duration <60 minutes increased the risk of POST 3.8-fold (OR 3.8; 95% CI 1.5-9.6). It was concluded that reducing the ETT size to ≤6.5 mm for female patients and optimizing intubation technique are priority prevention strategies in regional hospitals.Nyeri tenggorokan pascaoperasi (POST) merupakan komplikasi umum pada 18-65% pasien pasca-intubasi endotrakeal tube (ETT), dengan faktor risiko kritis berupa ukuran ETT, durasi intubasi, dan jenis kelamin perempuan. Studi cross-sectional ini (n=70) di RSUD Kardinah Tegal (Maret-Mei 2024) bertujuan menganalisis hubungan ETT-POST dan mengidentifikasi prediktor dominan melalui consecutive sampling, pengukuran skala Visual Analog Scale (VAS), dan analisis regresi logistik ordinal. Hasil menunjukkan hubungan signifikan ETT-POST (p=0,003; λ=0,400), dengan 64,3% pasien ETT mengalami POST vs. 0% pada kelompok laryngeal mask airway (LMA). Pasien perempuan dengan ETT ≥7,0mm berisiko 7,2 kali lebih tinggi mengalami POST berat (OR 7,2; 95% CI 2,1-24,3), sementara durasi intubasi <60 menit meningkatkan risiko POST 3,8 kali (OR 3,8; 95% CI 1,5-9,6). Disimpulkan bahwa reduksi ukuran ETT menjadi ≤6,5mm untuk pasien perempuan dan optimalisasi teknik intubasi merupakan strategi pencegahan prioritas di RSUD Kardinah Tegal.   Postoperative sore throat (POST) is a common complication in 18-65% of patients after endotracheal tube (ETT) intubation, with critical risk factors being ETT size, intubation duration, and female gender. This cross-sectional study (n=70) at Kardinah Hospital, Tegal (March-May 2024) aimed to analyze the relationship between ETT and POST and identify dominant predictors through consecutive sampling, Visual Analog Scale (VAS) measurements, and ordinal logistic regression analysis. The results showed a significant association between ETT and POST (p=0.003; λ=0.400), with 64.3% of ETT patients experiencing POST compared to 0% in the laryngeal mask airway (LMA) group. Female patients with an ETT ≥7.0 mm had a 7.2-fold higher risk of severe POST (OR 7.2; 95% CI 2.1-24.3), while intubation duration <60 minutes increased the risk of POST 3.8-fold (OR 3.8; 95% CI 1.5-9.6). It was concluded that reducing the ETT size to ≤6.5 mm for female patients and optimizing intubation technique are priority prevention strategies in regional hospitals

    Dampak Senam Lansia terhadap Activity of Daily Living di Panti Sosial

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efek senam lansia terhadap Activity of Daily Living (ADL) pada lansia di UPT Pelayanan Sosial Tresna Werdha Glenmore Banyuwangi. Dengan menggunakan desain pretest-posttest satu kelompok, 52 lansia diikutsertakan dalam penelitian ini. Instrumen yang digunakan adalah Barthel Index untuk mengukur kemampuan ADL sebelum dan setelah intervensi senam lansia. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam kemandirian ADL, dengan 90,4% responden menjadi mandiri setelah mengikuti senam lansia, dibandingkan hanya 71,2% sebelum intervensi. Uji Wilcoxon menunjukkan nilai p = 0,002 (p < 0,05), mengindikasikan pengaruh positif yang signifikan. Temuan ini menunjukkan bahwa senam lansia dapat meningkatkan kemandirian lansia dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Penelitian ini memberikan kontribusi pada pengembangan program senam yang dapat diimplementasikan di panti sosial, dengan dampak positif pada kualitas hidup lansia. Penelitian selanjutnya disarankan untuk mengeksplorasi dampak jangka panjang dan faktor-faktor lain yang mempengaruhi kemandirian lansia.   Video is a type of audiovisual media that is effectively used for mass, individual and group learning processes. It is hoped that this sleep training video can help parents understand and assist in implementing sleep training which is useful for training children's independence from an early age and reducing the risk of SIDS in infants. To determine the effectiveness of sleep training videos on parents' knowledge and attitude in implementing sleep training for infants 4-6 months in Darmasaba Village.This study employed pre-experimental study with one group pre-test and post-test design. It was conducted in Darmasaba Village from August-September 2023 and there were 25 parents recruited as the sample through total sampling technique. The results of the analysis level of knowledge and attitude using the Wilcoxon Rank Test showed that the P value was <0.05; thus, Ha was accepted. It can be concluded that the sleep training video is effective in increasing parents' knowledge and attitude in implementing sleep training for infants 4-6 months in Darmasaba Village.The results of the study show that sleep training videos are effective in increasing parents' knowledge and attitude in implementing sleep training for infants 4-6 months. There was an increase in knowledge and attitude regarding sleep training among parents after providing sleep training videos. However, parents tended to not be willing to implement sleep training because they were worried of the age was too early to carry out sleep training on infants.Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efek senam lansia terhadap Activity of Daily Living (ADL) pada lansia di UPT Pelayanan Sosial Tresna Werdha Glenmore Banyuwangi. Dengan menggunakan desain pretest-posttest satu kelompok, 52 lansia diikutsertakan dalam penelitian ini. Instrumen yang digunakan adalah Barthel Index untuk mengukur kemampuan ADL sebelum dan setelah intervensi senam lansia. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam kemandirian ADL, dengan 90,4% responden menjadi mandiri setelah mengikuti senam lansia, dibandingkan hanya 71,2% sebelum intervensi. Uji Wilcoxon menunjukkan nilai p = 0,002 (p < 0,05), mengindikasikan pengaruh positif yang signifikan. Temuan ini menunjukkan bahwa senam lansia dapat meningkatkan kemandirian lansia dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Penelitian ini memberikan kontribusi pada pengembangan program senam yang dapat diimplementasikan di panti sosial, dengan dampak positif pada kualitas hidup lansia. Penelitian selanjutnya disarankan untuk mengeksplorasi dampak jangka panjang dan faktor-faktor lain yang mempengaruhi kemandirian lansia.   Video is a type of audiovisual media that is effectively used for mass, individual and group learning processes. It is hoped that this sleep training video can help parents understand and assist in implementing sleep training which is useful for training children's independence from an early age and reducing the risk of SIDS in infants. To determine the effectiveness of sleep training videos on parents' knowledge and attitude in implementing sleep training for infants 4-6 months in Darmasaba Village.This study employed pre-experimental study with one group pre-test and post-test design. It was conducted in Darmasaba Village from August-September 2023 and there were 25 parents recruited as the sample through total sampling technique. The results of the analysis level of knowledge and attitude using the Wilcoxon Rank Test showed that the P value was <0.05; thus, Ha was accepted. It can be concluded that the sleep training video is effective in increasing parents' knowledge and attitude in implementing sleep training for infants 4-6 months in Darmasaba Village.The results of the study show that sleep training videos are effective in increasing parents' knowledge and attitude in implementing sleep training for infants 4-6 months. There was an increase in knowledge and attitude regarding sleep training among parents after providing sleep training videos. However, parents tended to not be willing to implement sleep training because they were worried of the age was too early to carry out sleep training on infants

    Kombinasi Baby Spa dengan Mengimplementasikan Pola Asah Asih Asuh terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan Guna Menjadikan Anak yang "Luwih dan Suputra"

    No full text
    Latar belakang: Di Bali, konsep Asah Asih Asuh merepresentasikan pendekatan pengasuhan holistik asah (stimulasi kognitif), asih (kasih sayang emosional), dan asuh (pemenuhan kebutuhan fisik) yang menjadi fondasi untuk membentuk anak “Luwih dan Suputra”: individu sehat, tangguh, dan berbudi pekerti luhur. Tujuan: Mengevaluasi efektivitas kombinasi baby spa dan modul Asah Asih Asuh terhadap pertumbuhan (berat badan, panjang badan) dan perkembangan (KPSP) pada bayi usia 6–9 bulan di Denpasar. Metode: Studi kuasi-eksperimen two-group pre-post test pada 60 bayi. Kelompok intervensi (n=30) menerima baby spa (2×/minggu) ditambah modul pengasuhan; kelompok kontrol (n=30) menerima pijat bayi standar (1×/bulan). Pengukuran dilakukan selama 3 bulan. Hasil: Tidak ada perbedaan signifikan pada berat badan (p=0.10). Namun, kelompok intervensi menunjukkan peningkatan signifikan pada panjang badan (70.80 vs. 68.13 cm; p<0.001) dan skor perkembangan (8.90 vs. 8.13; p<0.001). Simpulan: Integrasi baby spa dengan pola Asah Asih.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pemberian kombinasi baby spa dengan mengimplementasikan pola Asah Asih Asuh terhadap pertumbuhan dan perkembangan guna menjadikan anak yang "luwih dan suputra” di Kota Denpasar. Desain penelitian yang digunakan yaitu two group pre-post test design. Sampel dalam penelitian ini adalah 60 orang yang teridiri dari 30 responden untuk kelompok intervensi dan 30 responden untuk kelompok kontrol. Kelompok perlakuan diberikan intervensi baby spa dan diberikan modul pola asah asih asuh pada orang tua bayi, sedangkan kelompok kontrol hanya diberikan pijat bayi saja. Intervensi diberikan selama tiga bulan dengan melakukan postest sebulan sekali (3 kali). Variabel yang diukur dalam penelitian ini adalah pertumbuhan (berat badan dan panjang badan) dan perkembangan dengan form KPSP. Hasil analisis bivariat didapatkan tidak ada perbedaan yang signifikan berat badan setelah intervensi antara kelompok perlakuan dengan kelompok kontrol (nilai p 0,10), ada perbedaan yang signifikan panjang badan setelah intervensi antara kelompok perlakuan dengan kelompok kontrol (nilai p 0,00) dan ada perbedaan yang signifikan perkembangan setelah intervensi antara kelompok perlakuan dengan kelompok kontrol (nilai p 0,00)

    Terapi Musik Rindik dan Akupresur dalam Peningkatan Produksi ASI pada Ibu Post Partum

    Full text link
    Produksi Air Susu Ibu yang optimal sangat penting bagi kesehatan bayi dan ibu pasca melahirkan. ASI tidak hanya menyediakan nutrisi yang diperlukan untuk pertumbuhan bayi, tetapi juga memberikan manfaat kesehatan jangka panjang bagi ibu dan anak. Namun, beberapa ibu post partum mengalami kesulitan dalam memproduksi ASI yang cukup, yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor fisik dan psikologis. Salah satu upaya yang dilakukan untuk meningkatkan produksi ASI yaitu dengan terapi non farmakologis, yakni terapi musik dan akupresur. Kombinasi terapi musik rindik dan akupresur dapat mempengaruhi suasana hati menjadi rileks, nyaman sehingga meningkatkan oksitosin yang diperlukan tubuh untuk merangsang pengeluaran ASI. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektivitas terapi musik rindik dan akupresur guna meningkatkan produksi ASI di Kota Denpasar. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif yang mempergunakan rancangan quasi eksperiment melalui pendekatan pretest-posttest desain with control dengan teknik sampling yaitu purposive sampling. Sampel penelitian ini sebanyak 70 sampel, 35 kelompok kontrol dan 35 kelompok perlakuan. Intervensi dilakukan dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) baik musik rindik maupun akupresur. Analisis data menggunakanUji Mann-Whitney U test. Berdasarkan hasil bivariat diperoleh nilai mean kelompok perlakukan lebih besar, yaitu 42,41 diba yndingkan kelompok kontrol sebesar 28,59, maka dapat disimpulkan bahwa terapi musik rindik dan akupresur efektif meningkatkan produksi ASI.Produksi Air Susu Ibu yang optimal sangat penting bagi kesehatan bayi dan ibu pasca melahirkan. ASI tidak hanya menyediakan nutrisi yang diperlukan untuk pertumbuhan bayi, tetapi juga memberikan manfaat kesehatan jangka panjang bagi ibu dan anak. Namun, beberapa ibu post partum mengalami kesulitan dalam memproduksi ASI yang cukup, yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor fisik dan psikologis. Salah satu upaya yang dilakukan untuk meningkatkan produksi ASI yaitu dengan terapi non farmakologis, yakni terapi musik dan akupresur. Kombinasi terapi musik rindik dan akupresur dapat mempengaruhi suasana hati menjadi rileks, nyaman sehingga meningkatkan oksitosin yang diperlukan tubuh untuk merangsang pengeluaran ASI. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektivitas terapi musik rindik dan akupresur guna meningkatkan produksi ASI di Kota Denpasar. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif yang mempergunakan rancangan quasi eksperiment melalui pendekatan pretest-posttest desain with control dengan teknik sampling yaitu purposive sampling. Sampel penelitian ini sebanyak 70 sampel, 35 kelompok kontrol dan 35 kelompok perlakuan. Intervensi dilakukan dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) baik musik rindik maupun akupresur. Analisis data menggunakanUji Mann-Whitney U test. Berdasarkan hasil bivariat diperoleh nilai mean kelompok perlakukan lebih besar, yaitu 42,41 dibandingkan kelompok kontrol sebesar 28,59, maka dapat disimpulkan bahwa terapi musik rindik dan akupresur efektif meningkatkan produksi ASI

    Efikasi Ekstrak Etil Asetat Kulit Duku (Lansium domesticum) terhadap Mortalitas Pediculus humanus capitis

    Full text link
    Resistensi pedikulosida sintetik dan efek sampingnya mendorong pencarian alternatif alami. Ekstrak etanol kulit duku (Lansium domesticum) telah diteliti, namun ekstraksi etil asetat untuk optimalisasi senyawa bioaktif triterpenoid belum dieksplorasi. Tujuan: Menentukan nilai LC₅₀ ekstrak etil asetat kulit duku terhadap telur, nimfa, dan dewasa Pediculus humanus capitis. Metode: Eksperimen laboratorium dengan desain post-test only control group. Sampel (telur=45, nimfa=15, dewasa=15 per konsentrasi) diambil dari panti asuhan Pekanbaru. Perlakuan konsentrasi 10%, 15%, 20% selama 1 jam dengan kontrol positif (Peditox®) dan negatif (DMSO-aquadest). Analisis statistik menggunakan ANOVA dan uji Tukey (p<0,01). Hasil: Mortalitas tertinggi pada konsentrasi 20%: inaktivasi telur 91,11% (LC₅₀=8,5%), mortalitas nimfa 80% (LC₅₀=13,2%), mortalitas dewasa 66,67% (LC₅₀=18,7%). Perbedaan signifikan vs. kontrol (p=0,007) dan ekstrak etanol sebelumnya (p=0,002). Kesimpulan: Ekstrak etil asetat kulit duku efektif sebagai pedikulosida alami, dengan keunggulan 35,7% pada fase telur vs. ekstrak etanol. Optimalisasi pelarut ini berpotensi menjadi strategi penanggulangan resistensi kutu rambut.   Resistance to synthetic pediculicides and their side effects have prompted the search for natural alternatives. Ethanol extracts of duku peel (Lansium domesticum) have been studied, but ethyl acetate extraction for the optimization of triterpenoid bioactive compounds has not yet been explored. Objective: To determine the LC₅₀ value of ethyl acetate extract of duku peel against eggs, nymphs, and adults of Pediculus humanus capitis. Methods: Laboratory experiment with a post-test only control group design. Samples (eggs=45, nymphs=15, adults=15 per concentration) were collected from an orphanage in Pekanbaru. Treatments at concentrations of 10%, 15%, and 20% for 1 hour with positive control (Peditox®) and negative control (DMSO-aquadest). Statistical analysis using ANOVA and Tukey's test (p<0.01). Results: The highest mortality was observed at a concentration of 20%: egg inactivation 91.11% (LC₅₀=8.5%), nymph mortality 80% (LC₅₀=13.2%), adult mortality 66.67% (LC₅₀=18.7%). Significant differences compared to the control (p=0.007) and the previous ethanol extract (p=0.002). Conclusion: Ethyl acetate extract of duku peel is effective as a natural pediculicide, with a 35.7% advantage in the egg stage compared to the ethanol extract. Optimization of this solvent has the potential to become a strategy for addressing head lice resistance.Resistensi pedikulosida sintetik dan efek sampingnya mendorong pencarian alternatif alami. Ekstrak etanol kulit duku (Lansium domesticum) telah diteliti, namun ekstraksi etil asetat untuk optimalisasi senyawa bioaktif triterpenoid belum dieksplorasi. Tujuan: Menentukan nilai LC₅₀ ekstrak etil asetat kulit duku terhadap telur, nimfa, dan dewasa Pediculus humanus capitis. Metode: Eksperimen laboratorium dengan desain post-test only control group. Sampel (telur=45, nimfa=15, dewasa=15 per konsentrasi) diambil dari panti asuhan Pekanbaru. Perlakuan konsentrasi 10%, 15%, 20% selama 1 jam dengan kontrol positif (Peditox®) dan negatif (DMSO-aquadest). Analisis statistik menggunakan ANOVA dan uji Tukey (p<0,01). Hasil: Mortalitas tertinggi pada konsentrasi 20%: inaktivasi telur 91,11% (LC₅₀=8,5%), mortalitas nimfa 80% (LC₅₀=13,2%), mortalitas dewasa 66,67% (LC₅₀=18,7%). Perbedaan signifikan vs. kontrol (p=0,007) dan ekstrak etanol sebelumnya (p=0,002). Kesimpulan: Ekstrak etil asetat kulit duku efektif sebagai pedikulosida alami, dengan keunggulan 35,7% pada fase telur vs. ekstrak etanol. Optimalisasi pelarut ini berpotensi menjadi strategi penanggulangan resistensi kutu rambut.   Resistance to synthetic pediculicides and their side effects have prompted the search for natural alternatives. Ethanol extracts of duku peel (Lansium domesticum) have been studied, but ethyl acetate extraction for the optimization of triterpenoid bioactive compounds has not yet been explored. Objective: To determine the LC₅₀ value of ethyl acetate extract of duku peel against eggs, nymphs, and adults of Pediculus humanus capitis. Methods: Laboratory experiment with a post-test only control group design. Samples (eggs=45, nymphs=15, adults=15 per concentration) were collected from an orphanage in Pekanbaru. Treatments at concentrations of 10%, 15%, and 20% for 1 hour with positive control (Peditox®) and negative control (DMSO-aquadest). Statistical analysis using ANOVA and Tukey's test (p<0.01). Results: The highest mortality was observed at a concentration of 20%: egg inactivation 91.11% (LC₅₀=8.5%), nymph mortality 80% (LC₅₀=13.2%), adult mortality 66.67% (LC₅₀=18.7%). Significant differences compared to the control (p=0.007) and the previous ethanol extract (p=0.002). Conclusion: Ethyl acetate extract of duku peel is effective as a natural pediculicide, with a 35.7% advantage in the egg stage compared to the ethanol extract. Optimization of this solvent has the potential to become a strategy for addressing head lice resistance

    Efektivitas Video Sleep Training Terhadap Pengetahuan dan Sikap Orang Tua dalam Penerapan Sleep Training pada Bayi

    Full text link
    Sleep training merupakan metode pelatihan tidur pada bayi sejak dini. Video sleep training ini diharapkan dapat membantu orangtua mengetahui dan membantu dalam penerapan sleep training yang bermanfaat untuk melatih kemandirian anak sejak dini dan untuk mengurangi resiko SIDS pada bayi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektivitas video sleep training terhadap pengetahuan dan sikap orang tua dalam penerapan sleep training pada bayi 4-6 bulan di Desa Darmasaba. Desain penelitian ini menggunakan pre-experimental dengan pendekatan one group pretest-posttest design, dilakukan di Desa Darmasaba dari Agustus-September 2023 dengan jumlah sampel 25 orangtua, menggunakan teknik total sampling. Alat pengumpulan data berupa kuesioner. Hasil analisis tingkat pengetahuan dan sikap menggunakan uji Wilcoxon Rank Test diperoleh nilai p < 0,05 maka Ha diterima, dapat disimpulkan bahwa video sleep training efektif meningkatkan pengetahuan dan sikap orang tua dalam penerapan sleep training pada bayi 4-6 bulan. Hasil penelitian menunjukkan video sleep training efektif meningkatkan pengetahuan dan sikap orangtua dalam penerapan sleep training pada bayi 4-6 bulan. Terjadi peningkatan pengetahuan dan sikap terkait sleep training pada orangtua setelah pemberian video sleep training namun orangtua cenderung belum bersedia menerapkan sleep training dikarenakan merasa khawatir kar ena umur yang terlalu dini untuk dilakukan sleep training pada bayi.   Video is a type of audiovisual media that is effectively used for mass, individual and group learning processes. It is hoped that this sleep training video can help parents understand and assist in implementing sleep training which is useful for training children's independence from an early age and reducing the risk of SIDS in infants. To determine the effectiveness of sleep training videos on parents' knowledge and attitude in implementing sleep training for infants 4-6 months in Darmasaba Village.This study employed pre-experimental study with one group pre-test and post-test design. It was conducted in Darmasaba Village from August-September 2023 and there were 25 parents recruited as the sample through total sampling technique. The results of the analysis level of knowledge and attitude using the Wilcoxon Rank Test showed that the P value was <0.05; thus, Ha was accepted. It can be concluded that the sleep training video is effective in increasing parents' knowledge and attitude in implementing sleep training for infants 4-6 months in Darmasaba Village.The results of the study show that sleep training videos are effective in increasing parents' knowledge and attitude in implementing sleep training for infants 4-6 months. There was an increase in knowledge and attitude regarding sleep training among parents after providing sleep training videos. However, parents tended to not be willing to implement sleep training because they were worried of the age was too early to carry out sleep training on infants.ABSTRAK Latar Belakang: Video merupakan salah satu jenis media audiovisual yang efektif digunakan untuk proses pembelajaran secara masal, individu maupun kelompok. Video sleep training ini diharapkan dapat membantu orang tua mengetahui dan membantu dalam penerapan sleep training yang bermanfaat untuk melatih kemandirian anak sejak dini dan untuk mengurangi resiko SIDS pada bayi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektivitas video sleep training terhadap pengetahuan dan sikap orang tua dalam penerapan sleep training pada bayi 4-6 bulan di Desa Darmasaba. Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian pre-experimental dengan pendekatan one group pretest-posttest design. Penelitian dilakukan di Desa Darmasaba dari Agustus-September 2023 dengan jumlah sampel 25 orang tua, menggunakan teknik total sampling. Alat pengumpulan data berupa kuesioner. Penelitian ini sudah mendapatkan kelaikan etik dengan nomor 04.0363./KEPITEKES-BALI/VII/2023. Hasil: Hasil penelitian didapatkan nilai mean pengetahuan pada orang tua terkait sleep training pada posttest didapatkan nilai 42.40 dan meningkat menjadi 93.60 setelah pemberian video sleep training. Nilai mean sikap didapatkan nilai 29.40, meningkat menjadi 35.76 setelah pemberian video sleep training. Hasil analisis tingkat pengetahuan dan sikap menggunakan uji Wilcoxon Rank Test diperoleh nilai nilai p < 0,05 maka Ha diterima, dapat disimpulkan bahwa video sleep training efektif meningkatkan pengetahuan dan sikap orang tua dalam penerapan sleep training pada bayi 4-6 bulan di Desa Darmasaba Kesimpulan: Hasil penelitian menunjukkan video sleep training efektif meningkatkan pengetahuan dan sikap orang tua dalam penerapan sleep training pada bayi 4-6 bulan. Terjadi peningkatan pengetahuan dan sikap terkait sleep training pada orang tua setelah pemberian video sleep training namun orang tua cenderung belum bersedia menerapkan sleep training dikarenakan merasa khawatir karena umur yang terlalu dini untuk dilakukan sleep training pada bayi. Diharapkan bagi tenaga kesehatan dapat memberikan pendidikan kesehatan terkait sleep training.   Kata Kunci: Video, Promosi Kesehatan, Pengetahuan, Sikap, Pola Asuh Orang Tua, Pelatihan Tidur Bayi

    Efektifitas Media Visual Berbasis Video dalam Meningkatkan Breast Self-Examination Skills Pada Remaja Putri

    Full text link
    Kanker payudara adalah penyebab utama kematian di seluruh dunia. Salah satu bentuk pencegahannya dengan melakukan deteksi dini melalui pemeriksaan payudara sendiri (SADARI). Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi perbedaan keterampilan SADARI remaja putri sebelum dan setelah diberikan pendidikan kesehatan menggunakan video di SMP Negeri 3 Negara. Metode penelitian yang digunakan adalah desain pre-eksperimental dengan pre-test dan post-test satu kelompok dan melibatkan 54 responden yang terpilih melalui proportionate cluster random sampling. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat dengan melakukan uji wilcoxon dengan nilai signifikansi kurang p < 0,05. Uji regresi linear tidak dilakukan dalam penelitian ini karena hasil uji normalitas menunjukkan p = 0,000 (< 0,05) sehingga data tidak berdistribusi dengan normal dan tidak memenuhi persyaratan uji regresi linear. Hasil penelitian menunjukkan terjadinya peningkatan yang signifikan pada keterampilan SADARI setelah intervensi, dengan hasil median yang menunjukkan perubahan dari 0 menjadi 10 (p = 0,000) dan efek ukuran Cohen’s d sebesar -0,90 yang menunjukkan efek besar. Penelitian ini mendukung efektivitas penggunaan media visual berbasis video dalam pendidikan kesehatan SADARI, yang dapat diimplementasikan dalam program UKS sehingga dapat meningkatkan kesadaran diri remaja putri dalam melakukan deteksi dini kanker payudara. Implikasi praktisnya adalah meningkatkan kesadaran juga keterampilan SADARI yang dapat memininalisisr angka kematian akibat kanker payudara di masa yang akan datang.   Breast cancer is a leading cause of death worldwide. One form of prevention is by conducting early detection through breast self-examination (BSE). This study aims to evaluate the differences in BSE skills of adolescent girls before and after being given health education using videos at SMP Negeri 3 Negara. The research method used was a pre-experimental design with a pre-test and post-test in one group and involving 54 respondents selected through proportionate cluster random sampling. Data analysis was carried out univariately and bivariately by conducting the Wilcoxon test with a significance value of less than p <0.05. Linear regression tests were not carried out in this study because the results of the normality test showed p = 0.000 (<0.05) so that the data were not normally distributed and did not meet the requirements of the linear regression test. The results showed a significant increase in BSE skills after the intervention, with median results showing a change from 0 to 10 (p = 0.000) and a Cohen's d effect size of -0.90 indicating a large effect. This study supports the effectiveness of using video-based visual media in BSE health education, which can be implemented in the UKS program so that it can increase self-awareness of young women in conducting early detection of breast cancer. The practical implication is to increase awareness and BSE skills that can minimize the number of deaths due to breast cancer in the future.Kanker payudara adalah penyebab utama kematian di seluruh dunia. Salah satu bentuk pencegahannya dengan melakukan deteksi dini melalui pemeriksaan payudara sendiri (SADARI). Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi perbedaan keterampilan SADARI remaja putri sebelum dan setelah diberikan pendidikan kesehatan menggunakan video di SMP Negeri 3 Negara. Metode penelitian yang digunakan adalah desain pre-eksperimental dengan pre-test dan post-test satu kelompok dan melibatkan 54 responden yang terpilih melalui proportionate cluster random sampling. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat dengan melakukan uji wilcoxon dengan nilai signifikansi kurang p < 0,05. Uji regresi linear tidak dilakukan dalam penelitian ini karena hasil uji normalitas menunjukkan p = 0,000 (< 0,05) sehingga data tidak berdistribusi dengan normal dan tidak memenuhi persyaratan uji regresi linear. Hasil penelitian menunjukkan terjadinya peningkatan yang signifikan pada keterampilan SADARI setelah intervensi, dengan hasil median yang menunjukkan perubahan dari 0 menjadi 10 (p = 0,000) dan efek ukuran Cohen’s d sebesar -0,90 yang menunjukkan efek besar. Penelitian ini mendukung efektivitas penggunaan media visual berbasis video dalam pendidikan kesehatan SADARI, yang dapat diimplementasikan dalam program UKS sehingga dapat meningkatkan kesadaran diri remaja putri dalam melakukan deteksi dini kanker payudara. Implikasi praktisnya adalah meningkatkan kesadaran juga keterampilan SADARI yang dapat memininalisisr angka kematian akibat kanker payudara di masa yang akan datang.   Breast cancer is a leading cause of death worldwide. One form of prevention is by conducting early detection through breast self-examination (BSE). This study aims to evaluate the differences in BSE skills of adolescent girls before and after being given health education using videos at SMP Negeri 3 Negara. The research method used was a pre-experimental design with a pre-test and post-test in one group and involving 54 respondents selected through proportionate cluster random sampling. Data analysis was carried out univariately and bivariately by conducting the Wilcoxon test with a significance value of less than p <0.05. Linear regression tests were not carried out in this study because the results of the normality test showed p = 0.000 (<0.05) so that the data were not normally distributed and did not meet the requirements of the linear regression test. The results showed a significant increase in BSE skills after the intervention, with median results showing a change from 0 to 10 (p = 0.000) and a Cohen's d effect size of -0.90 indicating a large effect. This study supports the effectiveness of using video-based visual media in BSE health education, which can be implemented in the UKS program so that it can increase self-awareness of young women in conducting early detection of breast cancer. The practical implication is to increase awareness and BSE skills that can minimize the number of deaths due to breast cancer in the future

    Self-Efficacy dan Quarter Life Crisis Pada Mahasiswa Keperawatan

    Full text link
    Quarter life crisis adalah periode transisi kritis yang sering dialami oleh mahasiswa, ditandai oleh kekhawatiran, kegelisahan, dan kurangnya kepercayaan diri. self-efficacy atau efikasi diri merupakan keyakinan individu terhadap kemampuan mereka dalam mengatasi tantangan. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki hubungan antara self-efficacy dan quarter life crisis pada mahasiswa tingkat IV Program Studi Sarjana Keperawatan. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif-korelasi dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian terdiri dari 75 mahasiswa tingkat IV yang dipilih melalui total sampling. Data dikumpukan menggunakan kuesioner tertutup yang terdiri dari General Self-Efficacy Scale (GSES) dan Quarter Life Crisis Scale (QLCS). Analisis data dilakukan menggunakan uji spearmanrank.Hasil penelitian menunjukkan bahwa 48.0% responden memiliki tingkat self-efficacy tinggi, sementara 45.3% mengalami quarter life crisis pada tingkat sedang. Analisis spearmanrank mengindikasikan adanya hubungan negatif yang kuat antara self-efficacy dan quarter life crisis (p < 0,000;koefisian korelasi = -0,666). Temuan ini menegaskan pentingnya pengembangan self-efficacy dalam membantu mahasiswa mengatasi quarter life crisis. Intervensi berbasis peningkatan self-efficacy seperti program bimbingan konseling, dapat menjadi strategi efektif untuk kesejahteraan psikologis mahasiswa.   Quarter life crisis is a critical transition period often experienced by college students, characterized by worry, anxiety, and lack of self-confidence. Self-efficacy is an individual's belief in their ability to overcome challenges. This study aims to investigate the relationship between self-efficacy and quarter life crisis in fourth-year students of the Bachelor of Nursing Study Program. This study used a quantitative-correlation design with a cross-sectional approach. The research sample consisted of 75 fourth-year students selected through total sampling. Data were collected using a closed questionnaire consisting of the General Self-Efficacy Scale (GSES) and the Quarter Life Crisis Scale (QLCS). Data analysis was performed using the Spearman Rank test. The results showed that 48.0% of respondents had a high level of self-efficacy, while 45.3% experienced a moderate level of quarter life crisis. Spearman Rank analysis indicated a strong negative relationship between self-efficacy and quarter life crisis (p <0.000; correlation coefficient = -0.666). These findings underscore the importance of developing self-efficacy in helping students cope with quarter-life crisis. Self-efficacy-based interventions, such as counseling programs, can be an effective strategy for students' psychological well-being.Quarter life crisis adalah periode transisi kritis yang sering dialami oleh mahasiswa, ditandai oleh kekhawatiran, kegelisahan, dan kurangnya kepercayaan diri. self-efficacy atau efikasi diri merupakan keyakinan individu terhadap kemampuan mereka dalam mengatasi tantangan. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki hubungan antara self-efficacy dan quarter life crisis pada mahasiswa tingkat IV Program Studi Sarjana Keperawatan. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif-korelasi dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian terdiri dari 75 mahasiswa tingkat IV yang dipilih melalui total sampling. Data dikumpukan menggunakan kuesioner tertutup yang terdiri dari General Self-Efficacy Scale (GSES) dan Quarter Life Crisis Scale (QLCS). Analisis data dilakukan menggunakan uji spearmanrank.Hasil penelitian menunjukkan bahwa 48.0% responden memiliki tingkat self-efficacy tinggi, sementara 45.3% mengalami quarter life crisis pada tingkat sedang. Analisis spearmanrank mengindikasikan adanya hubungan negatif yang kuat antara self-efficacy dan quarter life crisis (p < 0,000;koefisian korelasi = -0,666). Temuan ini menegaskan pentingnya pengembangan self-efficacy dalam membantu mahasiswa mengatasi quarter life crisis. Intervensi berbasis peningkatan self-efficacy seperti program bimbingan konseling, dapat menjadi strategi efektif untuk kesejahteraan psikologis mahasiswa.   Quarter life crisis is a critical transition period often experienced by college students, characterized by worry, anxiety, and lack of self-confidence. Self-efficacy is an individual's belief in their ability to overcome challenges. This study aims to investigate the relationship between self-efficacy and quarter life crisis in fourth-year students of the Bachelor of Nursing Study Program. This study used a quantitative-correlation design with a cross-sectional approach. The research sample consisted of 75 fourth-year students selected through total sampling. Data were collected using a closed questionnaire consisting of the General Self-Efficacy Scale (GSES) and the Quarter Life Crisis Scale (QLCS). Data analysis was performed using the Spearman Rank test. The results showed that 48.0% of respondents had a high level of self-efficacy, while 45.3% experienced a moderate level of quarter life crisis. Spearman Rank analysis indicated a strong negative relationship between self-efficacy and quarter life crisis (p <0.000; correlation coefficient = -0.666). These findings underscore the importance of developing self-efficacy in helping students cope with quarter-life crisis. Self-efficacy-based interventions, such as counseling programs, can be an effective strategy for students' psychological well-being

    Simulasi Multimedia Interaktif: Meningkatkan Keterampilan CPR dan Efikasi Diri Mahasiswa Keperawatan

    Full text link
    Sejak adanya pandemic Covid-19, terjadi pergeseran paradigma dalam dunia pendidikan termasuk pendidikan keperawatan yang awalnya luring menjadi online ataupun blended learning yang memerlukan waktu panjang untuk beradaptasi. Salah satu metode pembelajaran yang dapat digunakan dalam situasi blended learning adalah metode simulation multimedia interactive teaching. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas dari metode simulation multimedia interactive teaching pada pembelajaran CPR dengan melihat skill dan efikasi diri mahasiswa dalam melakukan high quality CPR. Penelitian ini dilaksanakan di STIKES Bina Usada Bali dengan melibatkan 70 orang mahasiswa semester VI. Penelitian ini menggunakan metode pre-eksperimen dengan pendekatan Pre-post test without control group dengan membandingkan skill dan efikasi diri mahasiswa semester VI Keperawatan dalam memberikan high quality cardiopulmonary resuscitation (CPR) sebelum dan setelah mengikuti metode simulation multimedia interactive learning. Skill mahasiswa dievaluasi berdasarkan 3 indikator yang di rekomendasikan oleh AHA (2015) dan efikasi diri mahasiswa akan dinilai menggunakan kuisioner efikasi Basic Resuscitation Skills Self-Efficacy Scale (BRS-SES). Hasil uji T-Test Berpasangan penelitian ini menunjukkan bahwa peningkatan nilai mean pada variabel skill CPR dan self efikasi sebelum dan setelah responden mengikuti metode simulation multimedia interactive learning dengan nilai p-value (0.001), p < (0.05). Oleh karena itu, metode simulation multimedia interactive teaching menjadi pilihan yang dapat diaplikasikan pada pembelajaran mahasiswa keperawatan dalam situasi blended learning.   Since the Covid-19 pandemic, there has been a paradigm shift in the world of education, including nursing education from offline to online or blended learning which requires a long time to adapt. One of the learning methods that can be used in blended learning situations is the interactive multimedia teaching simulation method. The purpose of this study was to determine the effectiveness of the interactive multimedia teaching simulation method in CPR learning by looking at students' skills and self-efficacy in performing high quality CPR. This research was conducted at STIKES Bina Usada Bali involving 70 semester VI students. This study used the pre-experimental method with the Pre-post test without control group approach by comparing the skills and self-efficacy of semester VI Nursing students in providing high quality cardiopulmonary resuscitation (CPR) before and after following the simulation multimedia interactive learning method. Student skills are evaluated based on the 3 indicators recommended by the AHA (2015) and student self-efficacy will be assessed using the Basic Resuscitation Skills Self-Efficacy Scale (BRS-SES) efficacy questionnaire. The results using Paired T-Test showed that the mean value of the variable CPR skill and self-efficacy increased before and after the respondents followed the interactive multimedia learning simulation method with a p-value (0.001), p < α (0.05). Therefore, the interactive multimedia teaching simulation method is an option that can be applied to nursing student learning in blended learning situationsSejak adanya pandemic Covid-19, terjadi pergeseran paradigma dalam dunia pendidikan termasuk pendidikan keperawatan yang awalnya luring menjadi online ataupun blended learning yang memerlukan waktu panjang untuk beradaptasi. Salah satu metode pembelajaran yang dapat digunakan dalam situasi blended learning adalah metode simulation multimedia interactive teaching. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas dari metode simulation multimedia interactive teaching pada pembelajaran CPR dengan melihat skill dan efikasi diri mahasiswa dalam melakukan high quality CPR. Penelitian ini dilaksanakan di STIKES Bina Usada Bali dengan melibatkan 70 orang mahasiswa semester VI. Penelitian ini menggunakan metode pre-eksperimen dengan pendekatan Pre-post test without control group dengan membandingkan skill dan efikasi diri mahasiswa semester VI Keperawatan dalam memberikan high quality cardiopulmonary resuscitation (CPR) sebelum dan setelah mengikuti metode simulation multimedia interactive learning. Skill mahasiswa dievaluasi berdasarkan 3 indikator yang di rekomendasikan oleh AHA (2015) dan efikasi diri mahasiswa akan dinilai menggunakan kuisioner efikasi Basic Resuscitation Skills Self-Efficacy Scale (BRS-SES). Hasil uji T-Test Berpasangan penelitian ini menunjukkan bahwa peningkatan nilai mean pada variabel skill CPR dan self efikasi sebelum dan setelah responden mengikuti metode simulation multimedia interactive learning dengan nilai p-value (0.001), p < (0.05). Oleh karena itu, metode simulation multimedia interactive teaching menjadi pilihan yang dapat diaplikasikan pada pembelajaran mahasiswa keperawatan dalam situasi blended learning.   Since the Covid-19 pandemic, there has been a paradigm shift in the world of education, including nursing education from offline to online or blended learning which requires a long time to adapt. One of the learning methods that can be used in blended learning situations is the interactive multimedia teaching simulation method. The purpose of this study was to determine the effectiveness of the interactive multimedia teaching simulation method in CPR learning by looking at students' skills and self-efficacy in performing high quality CPR. This research was conducted at STIKES Bina Usada Bali involving 70 semester VI students. This study used the pre-experimental method with the Pre-post test without control group approach by comparing the skills and self-efficacy of semester VI Nursing students in providing high quality cardiopulmonary resuscitation (CPR) before and after following the simulation multimedia interactive learning method. Student skills are evaluated based on the 3 indicators recommended by the AHA (2015) and student self-efficacy will be assessed using the Basic Resuscitation Skills Self-Efficacy Scale (BRS-SES) efficacy questionnaire. The results using Paired T-Test showed that the mean value of the variable CPR skill and self-efficacy increased before and after the respondents followed the interactive multimedia learning simulation method with a p-value (0.001), p < α (0.05). Therefore, the interactive multimedia teaching simulation method is an option that can be applied to nursing student learning in blended learning situation

    211

    full texts

    225

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Bali Medika Jurnal (BMJ)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇