Jurnal Universitas Majalengka
Not a member yet
    2089 research outputs found

    KEMAMPUAN RESOLUSI KONFLIK INTERPESONAL DALAM MENGUATKAN MORAL KOGNITIF SISWA SEKOLAH DASAR

    Get PDF
    Pendidikan resolusi konflik interpersonal adalah pendidikan perdamaian yang relevan bagi siswa Sekolah Dasar. Pendidikan ini menjawab disrupsi yang terjadi di Indonesia, dan mempengaruhi pola pendidikan penyelesaiaan konflik bagi siswa Sekolah Dasar. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat pemahaman resolusi konflik interpersonal pada siswa, dan mengevaluasi bentuk pendidikan perdamaian yang diterapkan di SDIT Sabilul Huda. Penelitian dilakukan dengan pendekatan penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif dalam mengukur keterampilan resolusi konflik interpersonal siswa dalam menguatkan moral kognitif siswa, adalah penggambaran dunia sosial siswa sehari-hari di sekolah. Objek penelitian adalah guru di SDIT Sabilul Huda Kota Cirebon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan delapan indikator pertanyaan. Yaitu pemahaman guru tentang Pendidikan resolusi konflik/pendidikan perdamaian bagi anak SD, tujuan pemberian pendidikan resolusi konflik/pendidikan perdamaian bagi anak SD, bentuk pembiasaan pembelajaran pendidikan resolusi konflik/pendidikan perdamaian bagi anak SD, alasan penerapan pendidikan resolusi konflik/pendidikan perdamaian bagi anak SD di dalam,  bentuk dukungan sekolah yang diberikan dalam pendidikan resolusi konflik/pendidikan perdamaian bagi anak SD kelas, bentuk kesadaran dan kemampuan siswa SD dalam menyelesaikan konflik interpersonal, bentuk perubahan pengetahuan dan sikap yang ditunjukan oleh siswa SD, dan program sekolah kedepan yang akan diterapkan untuk meningkatkan pendidikan resolusi konflik/pendidikan perdamaian bagi anak SD. Delapan indikator ini dikembangkan dalam instrumen wawancara kepada guru. Dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam pendidikan resolusi konflik interpersonal di SDIT Sabilul Huda, pemahaman guru tentang pengertian, tujuan, alasan, dan bentuk pembiasaan pembelajaran resolusi konflik/pendidikan perdamaian sudah sangat baik. Hal ini dikarenakan dukungan sekolah yang senantiasa memberikan penyuluhan bagi guru

    Kajian Semiotik Mitos Lauk Dewa di Desa Cigugur Kabupaten Kuningan Jawa Barat

    Get PDF
    Lauk Dewa (Ikan Dewa) merupakan mitos yang terkenal di Desa Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Melalui kajian semiotik akan dikaji makna di balik mitos Lauk Dewa tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memaparkan makna mitos dengan menganalisis makna denotatif, dan konotatif terlebih dahulu. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Teori yang digunakan ialah teori semiotik Roland Barthes. Sumber data dalam penelitian ini berasal dari studi kepustakaan berupa artikel dari jurnal-jurnal dan literature review. Hasil dari penelitian adalah: 1) makna denotatif dari Lauk Dewa adalah ikan berjenis Kancra Bodas/Kancra Putih (Labaebarbus Dournensis); 2) makna konotatif dari Lauk Dewa adalah sosok prajurit Prabu Siliwangi yang dikutuk menjadi ikan karena membantah perintah raja; dan 3) mitos yang dihasilkan berupa kepercayaan bagi siapapun yang menangkap atau mengonsumsi Lauk Dewa  akan mendapat hukuman berupa musibah. Lauk Dewa juga memberi keberkahan bagi siapapun yang dapat menyentuhnya.Kata kunci: mitos, lauk Dewa, Cigugur, semiotik, Roland Barthes Lauk Dewa is a famous myth in Cigugur Village, Kuningan, West Java. The meaning behind the myth of Lauk Dewa will be examined through a semiotic study. The purpose of this research is to describe the meaning of myth by analyzing denotative and connotative meanings first. This research uses descriptive qualitative method. The theory used is Roland Barthes' semiotic theory. Sources of data in this research is literature studies in the form of articles from journals and literature reviews.  The results of the study were: 1) the denotative meaning of Lauk Dewa was a type of fish Kancra Bodas / Kancra Putih (Labaebarbus Dournensis); 2) the connotative meaning of Lauk Dewa is the figure of the warrior Prabu Siliwangi who was cursed to be a fish because he denied the king's orders; and 3) the resulting myth is the belief that anyone who steals or consumes Lauk Dewa will receive punishment in the form of a disaster. Lauk Dewa also gives blessings to anyone who can touch it.Keywords: myth, Lauk Dewa, Cigugur, Semiotics, Roland Barthe

    Instagram: Pengaruhnya dalam Kesantunan Berbahasa Mahasiswa

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan karakteristik pengaruh penggunaan instagram dalam kesantunan berbahasa mahasiswa. Sumber data dalam penelitian ini adalah tuturan mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Galuh dalam akun instagramnya. Penelitian ini menggunakan teknik rekam dan teknik catat. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa tuturan mahasiswa dalam akun instagramnya memiliki maksim yang sesuai yakni maksim kebijaksanaan, maksim kedewasaan, maksim penghargaan, maksim kesederhanaan, maksim pemufakatan, dan maksim kesimpatian. Penelitian ini juga melibatkan skala kesantunan yakni skala kerugian, skala pilihan, skala ketidaklangsungan, skala keotoritasan, dan skala jarak. Penelitian berimplikasi dalam pembentukan karakter, karena saat kesantunan dalam berbahasa di terapkan dalam berkomunikasi setiap hari maka tidak akan ada ujaran yang menyakiti orang lain.Kata kunci: media sosial instagram, kesantunan berbahasa This study aims to describe the characteristics of the influence of using Instagram on students' language politeness. This study's source of data is the utterances of Galuh University Teacher Training and Education Faculty students in their Instagram account. This research uses recording techniques and note-taking techniques. The results of this study indicate that the students' utterances in their Instagram account have the appropriate maxims, namely maxim of wisdom, the maxim of maturity, maxim of appreciation, maxim of simplicity, maxim of consensus, and maxim of sympathy. This research also involves a politeness scale, namely the scale of the loss, the scale of choice, the scale of unsustainability, the scale of authority, and the distance scale. Research has implications for character building because when politeness in a language is applied in communicating every day, there will be no speech that hurts others.Keywords: instagram social media, language politenes

    Kemampuan Berpikir Kritis Mahasiswa dalam Menyelesaikan Soal-soal High Order Thinking Skill (HOTS)

    Get PDF
    Dalam proses pembelajaran Mata Kuliah umum bahasa Indonesia, peneliti menemukan masih banyak mahasiswa yang memeroleh nilai rendah. Nilai rendah diperoleh ketika mereka tidak mampu memahami soal tes pada tingkat kesulitan tinggi, baik itu bentuk soal pilihan ganda maupun uraian. Kemampuan berpikir kritis merupakan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Mahasiswa sudah ada pada level manusia yang memiliki kemampuan berpikir kritis. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan berpikir kritis mahasiswa melalui soal-soal High Order Thingking Skill (HOTS). Penelitian dilaksanakan di IKIP Siliwangi pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika angkatan tahun 2019. Materi yang diberikan adalah materi Kuliah Umum bahasa Indonesia yaitu kalimat dan paragraf. Hasil tes terhadap 30 orang sampel mahasiswa menghasilkan data berupa nilai dengan angka tertinggi 96 dan terendah 10. Adapun hasil analisis terhadap kemampuan berpikir kritis mahasiswa, ada 60% mahasiswa yang memperoleh nilai tinggi (rentang 70 – 100) dan 40% mahasiswa memperoleh nilai rendah (0 – 69). Secara umum, kemampuan berpikir kritis yang dimiliki oleh 60% mahasiswa masih belum memenuhi kriteria, yaitu belum mampu mengenal asumsi dan nilai-nilai yang dinyatakan secara implisit serta masih berkendala dalam mengungkapkan tulisan menggunakan Bahasa yang efektif dan memiliki ciri khas. Adapun manfaat dari hasil penelitian ini yaitu dapat dilakukan penelitian lanjutan dengan cara menerapkan suatu metode pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa.Kata kunci: berpikir kritis, High Order Thingking Skill (HOTS) In the process of learning general Indonesian courses, researchers found that there were still many students who received low scores. Low scores are obtained when they are unable to understand test questions at a high level of difficulty, both in the form of multiple-choice questions and in essays. Critical thinking skills are higher-order thinking skills. Students are already at the human level who have critical thinking skills. Therefore, this study aims to describe students' critical thinking skills through the High Order Thinking Skill (HOTS) questions. The research was carried out at IKIP Siliwangi for students of the Mathematics Education Study Program class of 2019. The material provided was Indonesian General Lecture, namely sentences and paragraphs. The test results of 30 student samples produced data in the form of scores with the highest score of 96 and the lowest of 10. As for the results of the analysis of students' critical thinking skills, there were 60% of students obtained high scores (range 70-100), and 40% of students obtained low scores (0 - 69). In general, the critical thinking skills possessed by 60% of students still do not meet the criteria, namely not being able to recognize the assumptions and values that are stated implicitly and still have problems in expressing writing using language that is effective and has distinctive characteristics. The benefits of the results of this study are that further research can be carried out by applying a learning method to improve students' critical thinking skills.Keywords: critical thinking, High Order Thingking Skill (HOTS

    Analisis Kendala Guru dalam Mengajar Bahasa Indonesia Kelas Rendah Sekolah Dasar di Samarinda

    Get PDF
    Penelitian ini dilatarbelakangi dengan adanya kendala yang terjadi pada kegiatan proses pembelajaran baik secara daring maupun secara luring di SD Negeri 010 Samarinda Utara. Tujuan utama dalam penelitian ini untuk menganalisis kendala guru dalam mengajar pembelajaran bahasa Indonesia. Metode penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan dokumentasi. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar wawancara guru, lembar wawancara siswa, lembar wawancara orang tua, dan dokumentasi menggunakan gawai. Jenis triangulasi yang digunakan adalah triangulasi sumber. Subjek penelitian ditentukan dengan teknik purposive sampling dengan jumlah 12 narasumber yaitu 1 guru kelas 1B, 6 siswa kelas 1B, dan 5 orang tua siswa. Teknik analisis data yang digunakan adalah pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian yang dilakukan di SD Negeri 010 Samarinda Utara tentang kendala guru dalam mengajar bahasa Indonesia siswa kelas 1B ditemukan bahwa guru mengalami kendala pada saat proses mengajar yaitu (1) daya serap siswa sangat berbeda-beda dalam menerima pembelajaran dasar bahasa Indonesia di sekolah dan masih ditemukannya siswa yang mengalami kesulitan dalam membaca dan menulis. (2) Media pembelajaran merupakan alat komunikasi yang sangat penting bagi siswa dan guru dalam proses belajar mengajar, sementara itu sebagian siswa masih mengalami kesulitan jaringan dan kuota internet orang tua yang terbatas. (3) Ketidakdisiplinan siswa dalam mengumpulkan tugas membuat guru mengalami kesulitan dalam memeriksa tugas dan memberikan nilai. Namun kendala-kendala ini tidak menurunkan semangat belajar siswa kelas 1B di SD Negeri 010 Samarinda Utara. Guru selalu mengajak orang tua dan siswa agar tetap berusaha mengoptimalkan proses kegiatan pembelajaran bahasa Indonesia secara aktif dan efektif.Kata kunci: kendala guru, mengajar, bahasa Indonesia This research is motivated by the obstacles that occur in the learning process activities both online and offline at SD Negeri 010 North Samarinda. The main objective of this study is to analyze the teacher's obstacles in teaching Indonesian language learning. This research method uses a qualitative descriptive method. Data collection techniques were carried out by interviews and documentation. The instruments used in this study were teacher interview sheets, student interview sheets, parent interview sheets, and documentation using gadgets. The type of triangulation used is source triangulation. The research subjects were determined by purposive sampling technique with a total of 12 sources, namely 1 teacher in class 1B, 6 students in class 1B, and 5 students' parents. Data analysis techniques used are data collection, data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results of research conducted at SD Negeri 010 Samarinda Utara regarding teacher obstacles in teaching Indonesian to grade 1B students found that teachers experienced problems during the teaching process, namely (1) students' absorption capacity was very different in receiving basic Indonesian language learning at school and still found students who have difficulty in reading and writing. (2) Learning media is a very important communication tool for students and teachers in the teaching and learning process, meanwhile some students still experience network difficulties and parents' limited internet quota. (3) Students' indiscipline in collecting assignments makes teachers have difficulty checking assignments and giving grades. However, these obstacles did not reduce the enthusiasm for learning for grade 1B students at SD Negeri 010 North Samarinda. The teacher always invites parents and students to keep trying to optimize the process of active and effective Indonesian language learning activities.Keywords: teacher barriers, teaching, Indonesian languag

    Kesulitan Menulis pada Anak Disabilitas: Studi Kasus Anak Gangguan Disleksia Usia 8 Tahun

    Get PDF
    Kompetensi menulis merupakan salah satu kemampuan produktif yang berbarengan dengan kompentensi berbicara. Kedua bentuk kemampuan produktif tersebut merupakan hasil implementasi dari kemampuan reseptif yang berbentuk kompetensi membaca dan menyimak.  Pada proses pembentukan kompetensi menulis terjadi berdasarkan beberapa tahap, dimulai dari tahap mencoret, tarik garis, hingga coretan yang membentuk huruf. Tahapan tersebut biasa dilewati oleh semua anak, tetapi berbeda dengan anak disabilitas dengan kekhususan disleksia yang mempunyai perbedaan dalam memahami bentuk hingga merangkai bentuk-bentuk tersebut menjadi sebuah kata. Pada penelitian ini peneliti mencoba mendeskripsikan kesulitan menulis pada anak disabilitas usia delapan tahun dengan studi kasus disleksia. Kesulitan tersebut didasari oleh beberapa faktor, antara lain faktor pola pembelajaran, pola pendekatan, lingkungan, dan kompetensi subjek penelitian tersebut. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif, artinya penelitian ini berupaya mendeskripsikan keadaan kompetensi menulis subjek penelitian saat ini apa adanya, tanpa dilakukan sebuah interverensi. Selain itu, penelitian ini juga berupaya mendeskripsikan bentuk kesulitan yang dihadapi subjek penelitian dalam peningkatan kemampuan menulis. Berdasarkan hasil observasi dan analisis data yang dilakukan kemampuan subjek penelitian dalam kompetensi menulis dapat dikatakan tidak sesuai dengan anak seusianya, artinya kemampuan subjek penelitian itu berada di bawah kemampuan anak usia 8 tahun pada umumnya, faktor-faktor yang dikriteriakan kurang meliputi pengenalan huruf, penyusunan huruf , penulisan huruf pada rangkaian kata yang panjang dan kesulitan menuliskan beberapa huruf konsonan. Faktor-faktor tersebut dapat menjadi sebuah kriteria yang permanen apabila pola pembelajarannya tidak diubah. Dapat dinyatakan demikian karena peneliti mengamati pola pembelajaran menulis yang dilakukan kepada subjek penelitian sedikit keliru karena disamaratakan dengan siswa yang lainnya.Kata kunci: kemampuan menulis, anak disabilitas, kekhususan disleksia  Writing competence is one of the productive abilities along with speaking competence. Both forms of productive abilities are the result of the implementation of receptive abilities in the form of reading and listening competencies. In the writing competency formation process occurs based on several stages, starting from the stage of scribbling, drawing lines, to scribbles that form letters. This stage is usually passed by all children, but it is different from children with disabilities with dyslexia who have differences in understanding shapes to assemble these forms into a word. In this study, researchers tried to describe the difficulty of writing in children with disabilities aged eight years with a case study of dyslexia. This difficulty is based on several factors, including factors of learning patterns, approach patterns, environment, and the competence of the research subject. This study uses a qualitative descriptive research method, meaning that this research seeks to describe the current state of the writing competence of the research subject as it is, without any intervention. In addition, this study also seeks to describe the form of difficulties faced by research subjects in improving writing skills. Based on the results of observations and data analysis carried out, the ability of the research subject in writing competence can be said to be incompatible with children of his age, meaning that the ability of the research subject is below the ability of children aged 8 years in general, the factors that are believed to be lacking include letter recognition, lettering , writing letters in long series of words and difficulty writing some consonants. These factors can become a permanent criterion if the learning pattern is not changed. It can be stated that because the researcher observes the writing learning pattern carried out on the research subject is slightly wrong because it is generalized with other students.Keywords: writing ability, children with disabilities, dyslexia specificit

    Comic Story untuk Meningkatkan Kemampuan Bercerita Bagi Siswa Sekolah Dasar

    Get PDF
    Keterampilan berbicara merupakah salah satu keterampilan berbahasa yang perlu kembangkan. Keterampilan berbicara merupakan keterampilan yang mendukung komunikasi siswa sekolah dasar. Untuk mengembangkan keterampilan berbicara diperlukan stimulus yang dapat melatih keterampilan berbicara siswa sekolah dasar. Salah satu cara mengembangkan keterampilan berbica adalah melalui bercerita. Comic merupakan media yang digunakan untuk mengekspresikan ide dengan gambar, yang dikombinasikan dengan teks atau informasi visual lainnya. Dalam penelitian ini Comic yang  akan dikembangkan adalah comic dilemma stories. Comic dilemma stories merupakan comic yang berisi cerita, infomasi visual yang mampu mengekspresikan emosi siswa. Comic dilemma stories dikembangkan  dengan berbantuan adobe ilustrator cc 2019. Tujuan penelitian ini yang pertama, untuk melakukan analisis kebutuhan dan menghasilkan draf comic dilemma stories. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian dan pengembangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlu adanya media yang menstimulasi kemampuan berbicara siswa.Kata kunci: comic dilema story, keterampilan berbicara, media pembelajaran Speaking skills are one of the language skills that need to be developed. Speaking skills are skills that support elementary school student communication. To develop speaking skills, a stimulus is needed that can train the speaking skills of elementary school students. One way to develop speaking skills is through storytelling. The comic is a medium used to express ideas with images combined with text or other visual information. In this research, the comic that will be developed is comic dilemma stories. Comic dilemma stories are comics that contain stories, visual information that can express students' emotions. The comic dilemma store was developed with the help of Adobe Illustrator CC 2019. The first objective of this research is to conduct a needs analysis and produce a draft comic dilemma story. The research method used is research and development. The results showed that there is a need for media that stimulates students' speaking ability.Keywords: comic dilemma story, speaking skills, learning medi

    Maling (Drama Tarling) untuk Pembelajaran Merancang Pementasan dan Mendemonstrasikan Drama sebagai Seni Pertunjukan pada Siswa SMA

    Get PDF
    Seni pertunjukan tarling di Indramayu merupakan pertunjukan teater tradisional. Kondisi ideal yang diharapkan adalah seni pertunjukan tarling sebagai identitas daerah Indramayu tetap lestari, tetapi ternyata semakin pudar dan tak bertenaga. Dengan demikian, perlu adanya revitalisasi budaya lokal melalui pemberdayaan generasi muda. Upaya revitalisasi seni pertunjukan tarling merupakan upaya pemertahanan eksistensi kesenian tradisional tarling kepada generasi muda. Revitalisasi perlu segera dilakukan karena seni pertunjukan tarling telah hampir punah karena tidak menjadi sebuah industri yang berasal dari kreativitas senimannya. Dalam pembelajaran sebuah perencanaan sangat dibutuhkan guru dalam proses mentransfer ilmu pengetahuan kepada peserta didiknya. Perencanaan pembelajaran ini dapat membantu guru untuk mempermudah pelaksanaan pembelajaran di kelas. Perencanaan yang dilakukan guru yaitu Rencana Pelaksanaan Pembelajara (RPP). RPP yang disusun guru bahasa Indonesia di SMA dalam pembelajaran merancang dan mendemonstrasikan drama sebagai seni pertunjukan telah mengikuti ketentuan yang sesuai dengan Kurikulum 2013 pada kompetensi dasar 3.19.1 yaitu mengidentifikasi isi dan kebahasaan drama yang dibaca atau ditonton, dan 3.19.2 yaitu merancang pementasan dan mendemonstrasikan drama sebagai seni pertunjukan dengan memerhatikan tata panggung, kostum, tata musik, dan sebagainya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui: 1) rencana pelaksanaan pembelajaran drama tarling pada materi merancang pementasan dan mendemonstrasikan drama sebagai seni pertunjukan, 2) hasil melatih drama tarling pada siswa SMA (pembentukan kelompok, penulisan naskah, proses latihan, dan proses perekaman drama), 3) kendala dalam melatih drama tarling pada siswa SMA, 4) upaya yang dilakukan untuk mengatasi kendala dalam melatih drama tarling pada siswa SMA. Adapun metode pada penelitian ini adalah observasi, dokumentasi, sosialisasi, pelatihan, diskusi, dan monitoring. Hasil penelitian, peserta yang mengikuti pelatihan sejumlah 30 siswa SMA se-Indramayu. Pelatihan MALING (Drama Tarling) dalam penelitian ini meliputi olah tubuh, olah mimik, olah suara, dan olah imajinasi. Kendala dan upaya untuk mengatasi hal yang dihadapi oleh peneliti dalam melaksanakan pelatihan MALING (Drama Tarling) terlihat dari beberapa segi antara lain; peserta didik, waktu, dan bahan ajar.Kata Kunci: Drama, Tarling, Siswa SMA, Indramay

    INSTRUCTIONAL DESIGN MODELS: SHIFTING THEORETICAL PARADIGMS

    Get PDF
    Abstract. Instructional design models have been shifted throughout the years by different scholars because they need to be developed or modified to gain the effectiveness of instructional process. Concerning with the shifts of the related theories, the scholars fomulated a number of patterns in creating the theories in which the aim of this theoretical study is to provide an appropriate understanding in relation to  how to utilize instructional design models. Instruction is regarded as both teaching and learning which have connection with the building of knowledge and skills. Even though there are a lot of instructional design models, a few major distinctions are found in some conditions, e.g. instructional design models present conceptual paradigms in terms of visualizing, performing, and controlling processes for embodying high-standardized teaching and learning artifacts. The exact choice of instructional design models helps us to match the right process with the existing situation. Therefore, instructional design models require a valuable source to match the proper creative process to the proper design situation and also an effective rationale for conducting instructional design research. Keywords: Instrcutional design models, theoretical paradigm

    The Use of Peer Feedback toward EFL Students’ Writing Skill

    Get PDF
    This paper aimed to describe the implementation of peer feedback and how it can increase the writing skill of English as Foreign Language students. This paper is a library research. The method of this paper is descriptive qualitative method. The data were collected through analyzing papers, articles, and journals. The findings of this paper showed the reasons why peer feedback is useful toward writing skill of English as foreign language students. The students work collaboratively, minimizes errors, and saving time. The procedure of the strategy enables the students to work cooperatively in a group/peer. Peer feedback can be one solution to minimize the errors the students usually make in their writing before submit their writing draft to the teacher. The teacher can save much time in assessing the students’ work by conducting peer feedback in writing learning because the students’ work already corrected by their peer so it may have a little mistake left

    1,892

    full texts

    2,089

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Universitas Majalengka
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇