Jurnal Universitas Majalengka
Not a member yet
2089 research outputs found
Sort by
Multikulturalisme Di Indonesia: Pengalaman Masa Kemerdekaan
Life in this universe turns out to have diversity. In Indonesia, there are various backgrounds of different religions, ethnicities, languages, races, skin colors and different artistic and cultural traditions, as well as the heritage of the ancestral nation which is truly protected. This study uses a qualitative research method with a descriptive analysis approach that describes multiculturalism in Indonesia: The Experience of the Independence Period seen from the past history after Indonesia's independence. Multiculturalism is an ideology that recognizes and respects the equality of existing cultural differences. Islamic religious teachings which always precipitate, kinship togetherness and harmony which is contained in a term al-maqashdudsysyar'i (religious goals) as a form of unified whole and being independent that stands in the midst of differences. The forms of multiculturalism in Indonesia include in the political, cultural, economic and social fields. One example in the political field is the four pillars or four shared contexts, namely ideology, law, diversity, and motto, in the cultural field, for example, hospitality among citizens, to guests, speaking politely, being polite and welcoming to nyimah in Lampung, in in the economic field, he recognized shari'ah insurance and shari'ah banking, and in the social field, for example, Chinese citizens and Arab citizens were accepted as Indonesian citizens
PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR BAHASA PARA CALON GURU UNTUK MENDUKUNG KEMAMPUAN MENGAJAR
Tantangan bidang pendidikan kini semakin kompleks karena berbagai dinamika terus terjadi. Dinamika itu menyangkut merebaknya pandemi Covid-19 sejak Maret 2020, perubahan kurikulum yang harus terus disesuaikan dengan tantangan zaman, dan begitu pesatnya perkembangan teknologi, termasuk teknologi di bidang pendidikan, dari jenjang terendah sampai jenjang tertinggi. Pada zaman sekarang, guru tertantang untuk terus melakukan inovasi pendidikan. Salah satu unsur penting untuk meningkatkan kemampuan profesional ialah kemampuan berbahasa asing. Kemampuan berbahasa asing akan meningkatkan percepatan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Penelitian ini mendalami motivasi mahasiswa calon guru, dalam hal ini mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Langlangbuana, dalam mempelajari bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Oleh karena itu, metode yang dilaksanakan dalam penelitian ini ialah deskriptif kualitatif. Analisis data dilakukan dengan menelaah jawaban menyangkut motivasi responden dalam mempelajari bahasa asing untuk mendukung kemampuan mereka sebagai pengajar. Guru yang memiliki kemampuan berbahasa asing, setidaknya dalam memahami teks, memiliki peluang lebih besar untuk maju dan berkembang dibandingkan dengan guru yang tak memiliki kecakapan dalam bahasa asing. Penelitian ini menunjukkan motivasi para calon guru beragam. Terlihat dari jawaban responden pada sepuluh aspek motivasi yang diteliti, yakni rasa ingin tahu (curiousity), tantangan (challenge), tingkat kepentingan (importance), pelibatan diri (involvement), nilai akademik (grades), interaksi sosial (social reason), pengakuan (recognition), kompetisi (competition), penghindaran tugas (work avoidance), dan efikasi diri (efficacy). Hasil penelitian ini bisa menjadi bahan tinjauan untuk pemberian motivasi terhadap para guru pada masa mendatang, terkait dengan dorongan untuk meningkatkan penguasaan bahasa asing.Kata Kunci : pengembangan, motivasi, belajar, bahasa, asing The challenges in the education sector are now increasingly complex because various dynamics continue to occur. This dynamic concerns the outbreak of the Covid-19 pandemic since March 2020, curriculum changes that must continue to be adapted to the challenges of the times, and the rapid development of technology, including technology in the field of education, from the lowest level to the highest level. Today, teachers are challenged to continue to innovate in education. One of the important elements to improve professional skills is foreign language skills.  Proficiency in foreign languages will increase the acceleration of mastery of science and technology. This research explores the motivation of prospective teacher students, in this case students of the Teaching and Education Faculty, Langlangbuana University, in learning foreign languages, especially English. Therefore, the method used in this research is descriptive qualitative. Data analysis was carried out by examining the answers regarding the respondents' motivation in learning foreign languages to support their abilities as teachers. Teachers who have foreign language skills, at least in understanding texts, have a greater chance to advance and develop compared to teachers who do not have proficiency in foreign languages. This research shows that the motivations of prospective teachers vary. It can be seen from the respondents' answers on the ten aspects of motivation studied, namely curiousity, challenge, level of importance, involvement, academic grades, social interaction, recognition, competition, work avoidance, and efficacy. The results of this study can be used as review material for motivating teachers in the future, related to encouragement to improve mastery of foreign languages.Keywords: development, motivation, learning, language, foreig
Pengaruh Model Pembelajaran Problem Based Learning (Pbl) Terhadap Motivasi Dan Hasil Belajar Siswa Pada Pembelajaran Tematik Terpadu Di Kelas IV SD
Penelitian ini dilatar belakangi berberapa masalah yang ditemukan pada observasi awal sebelum penelitian yaitu pelaksanaan proses pembelajaran Kurikulum 2013 belum disajikan secara terpadu. Pada Kurikulum 2013 fokus pembelajaran diarahkan pada pembahasan melalui tema, sehingga diperlukan model pembelajaran terpadu yang dapat berpengaruh terhadap tujuan pembelajaran. Model pembelajaran yang dapat dipadukan dalam proses pembelajaran tematik terpadu belum terlaksana dengan baik. Motivasi belajar peserta didik juga belum baik dalam proses pembelajaran sehingga mempengaruhi hasil pembelajaran. Model yang dapat dilaksanakan pada pembelajaran tematik terpadu yaitu model pembelajaran Problem Based Learning (PBL). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh motivasi dan hasil belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran PBL pada pembelajaran tematik terpadu di kelas IV SD. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain penelitian quasi eksperiment. Sampel penelitian ini adalah peserta didik kelas IV.A dan IV.B SDN 12 Koto Baru sebanyak 28 peserta didik. Data penelitian ini diperoleh dari angket dan hasil belajar peserta didik. Hasil penelitian menunjukan bahwa : (1) terdapat pengaruh model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) terhadap motivasi belajar diperoleh nilai thitung yang diperoleh adalah 2,884 > 2,055, maka Ha diterima.  (2) terdapat pengaruh model PBL terhadap hasil belajar siswa belajar diperoleh nilai thitung yang diperoleh adalah 4,638 > 2,055, maka Ha diterima; (3) terdapat pengaruh model pembelajaran PBL yang signifikan terhadap motivasi dan hasil belajar siswa diperoleh Fhitung 5,672. > 3,28. maka H1 diterima
Peningkatan Hasil Belajar Peserta Didik Pada Pembelajaran Tematik Terpadu Menggunakan Radec Di Kelas V
Berdasarkan observasi yang peneliti lakukan pada tanggal 14-16 November 2022 di SDN 14 Tanjung Barulak, peneliti menemukan beberapa permasalahan baik dalam segi guru maupun peserta didik. Berangkat dari hal di atas, maka perlu diterapkan suatu model pembelajaran inovatif guna mencapai hasil pembelajaran yang efektif. Salah satu model yang dapat diaplikasikan adalah model RADEC (Read, Answer Discuss, Ekplain, And Create). Metode penelitian yang digunakan pada adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus di kelas V SDN 14 Tanjung Barulak. Siklus I terdiri dari dua kali pertemuan, dan siklus II terdiri dari satu kali pertemuan. Secara umum tampak ada peningkatan hasil belajar peserta didik dari awal siklus I sampai siklus II, ini membuktikan bahwa dengan model PBL dapat meningkatkan ketuntasan belajar peserta didik . Pada data awal, Penilaian RPP pada siklus I diperoleh rata-rata 81,5% Nilai rata-rata hasil belajar peserta didik yaitu 73,93. Sedangkan hasil pengamatan penilaian RPP pada siklus II meningkat dari siklus sebelumnya, diperoleh persentase nilai rata-rata 94% .Rekapitulasi nilai rata-rata dari aspek pengetahuan juga  mengalami peningkatan menjadi 87,14). Begitupun dengan penilaian keterampilan meningkat menjadi 85,71). Maka pada siklus II diperoleh rata-rata yaitu 86,43
KESANTUNAN BERBAHASA DALAM PELAYANAN PUBLIK PERPUSTAKAAN DAERAH INDRAMAYU DITINJAU DARI TEORI LEECH
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kesantunan berbahasa pada pelayanan publik Perpustakaan Daerah Indramayu berdasarkan maksim Leech 1983. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian lapangan. Sumber data dalam penelitian adalah tuturan bahasa oleh pihak pelayanan Perpustakaan Daerah Indramayu dengan menggunakan metode simak dimana proses pengumpulan datanya yaitu; teknik simak bebas libat cakap, teknik catat dan teknik rekam. Langkah-langkah analisis data penelitian ini meliputi: tahap deskripsi atau tahap orientasi, tahap reduksi, dan tahap seleksi. Jumlah data yang diteliti dalam kesantunan berbahasa adalah 7 tuturan. Berdasarkan penelitian terdapat empat maksim kesantunan bertutur. Maksim kearifan sebanyak lima data, maksim kedermawanan sebanyak tujuh data, maksim Pujian sebanyak empat data, maksim kebijaksanaan sebanyak dua data, maksim kedermawanan sebanyak tiga data, maksim kerendahan hati sebanyak satu data, dan maksim kesepakatan sebanyak satu data. Hasil penelitian menunjukkan kesantunan bertutur yang digunakan pihak pelayanan perpustakaan saat berkomunikasi sesuai dengan maksim-maksim teori Leech, yang menunjukkan bahwa; memiliki sikap bijaksana (maksim kebijaksanaan), sikap pemurah hati (maksim kedermawanan), rasa ketidakmampuan diri atau sikap rendah hati (maksim kerendahan hati), dan sikap sependapat (maksim kesepakatan). Sehingga, dapat disimpulkan bahwa hanya terdapat empat maksim dan dikatakan cukup santun.Kata Kunci: kesantunan berbahasa; pelayanan publik; perpustakaan daerah Indramayu
KEARIFAN LOKAL SUKU BADUY DALAM FILM "AMBU" KARYA FARID DERMAWAN: PENDEKATAN SEMIOTIKA
Pemahaman mengenai kearifan lokal menjadi hal yang penting untuk mengatur tatanan kehidupan. Film merupakan salah satu media untuk menyampaikan sebuah kearifan lokal kepada masyarakat luas melalui tanda yang terdapat dalam alur cerita. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk mengetahui kearifan lokal suku Baduy di dalam film Ambu karya Farid Dermawan dengan pendekatan semiotika. Hasil penelitian bahwa film Ambu mengandung enam dimensi kearifan lokal suku baduy yakni (1) pengetahuan lokal terdiri atas tokoh Ambu Misnah pembuatan pengobatan herbal dan masyarakat memiliki leuit untuk ketahanan pangan; (2) nilai lokal terdiri atas ketaatan masyarakat terdap pikukuh, penggambaran rumah adat, dan pakaian adat yang dikenakan sehari-hari oleh masyarakat suku Baduy; (3) Keterampilan lokal terdiri atas permainan alat musik tradisional, pembuatan kain tenun, dan penjualan berbagai kerajinan tangan khas suku Baduy; (4) Sumber daya lokal terdiri atas lahan pertanian, perladangan, dan sungai sebagai sumber pokok untuk memenuhi kebutan masyarakat suku Baduy; (5) Manajemen pengambilan keputusan lokal terdisi atas musyawarah yang dilakukan oleh Ambu Misnah dan Fatma bersama Jaro serta pemberian hukuman yang terdapat pada pikukuh karuhun; (6) Solidaritas kelompok lokal terdiri atas gotong royong untuk membangun rumah yang dilakukan oleh laki-laki suku Baduy dan rasa peduli yang tinggi terhadap tetangga. Kearifan lokal tersebut didapatkan melalui pendekatan semiotik berdasarkan tanda yang terdapat pada gambar dan dialog tokoh di film Ambu karya Farid Dermawan. Kata Kunci: kearifan lokal, suku Baduy, film Ambu, semiotik Understanding local wisdom is important to organize the order of life. Film is one of the media to convey a local to the wider community through signs contained in the storyline. This research was conducted with descriptive qualitative method that aims to find out the local wisdom of Baduy tribe in Ambu movie by Farid Dermawan with semiotic approach. The result of the research shows that Ambu movie contains six dimensions of local wisdom of Baduy tribe, namely (1) local knowledge consists of Ambu Misnah's character making herbal medicine and the community having leuit for food security; (2) local value consists of the community's obedience to pikukuh, the depiction of traditional houses, and traditional clothes worn daily by the Baduy tribe; (3) local skills consist of playing traditional musical instruments, making woven fabrics, and selling various handicrafts typical of the Baduy tribe; (4) Local resources consist of agricultural land, cultivation, and river as the main source to fulfill the needs of the Baduy community; (5) Local decision- making management consists of deliberations conducted by Ambu Misnah and Fatma together with Jaro and the punishment contained in pikukuh karuhun; (6) Local group solidarity consists of mutual cooperation to build houses carried out by Baduy men and a high sense of care for neighbors. The local wisdom is obtained through a semiotic approach based on the signs contained in the images and dialogues of the characters in Farid Dermawan's Ambu Keywords: Local Wisdom, Baduy Tribe, Ambu film, semiotic Â
CAMPUR KODE DALAM INTERAKSI ANTARA PENJUAL DAN PEMBELI DI PASAR SINGKUT KABUPATEN SAROLANGUN
Penelitian ini bertujuan untuk mengengetahui wujud, faktor dan fenomena campur kode yang ada di pasar Singkut. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi. Data penelitian berupa percakapan antara penjual dan pembeli yang terjadi secara alami selama komunikasi. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini antara lain bebas libat cakap, mencatat, dan merekam. Dalam prosesnya peneliti akan melakukan penyimakan terhadap percakapan jual beli yang sdang berlangsung, selain menyimak peneliti juga melakukan pencatatan terhadap apa yang di lihat dan dirasakan oleh peneliti. Peneliti juga melakukan rekaman guna mendapatkan data yang akurat. Teknik analisis data yang digunakan oleh peneliti adalah teknik deskriptif dengan pengkodean data. Uji validitas data yang digunakan dalam penelitian ini adalah triangulasi antar peneliti. Hasil dari penelitian ini adalah benar bahwa campur kode terjadi di pasar Singkut. Campur kode yang terjadi meliputi tataran kata yang ditemukan sebanyak 48 bentuk, tataran frasa sebanyak 16 bentuk, dan tataran klausa 1 bentuk. bahasa Melayu dan bahasa Jawa merupakan mayoritas bahasa yang digunakan dalam campur kode di pasar Singkut.Â
KERAGAMAN FUNGSI REGISTER PADA PERAJIN GENTENG DI DESA PANCASAN KECAMATAN AJIBARANG KABUPATEN BANYUMAS
Register merupakan bentuk keragaman variasi bahasa yang digunakan sesuai dengan fungsinya. Register mencerminkan aspek lain dari tingkat sosial, yaitu proses sosial yang merupakan macam-macam kegiatan sosial yang biasanya melibatkan banyak orang. Penelitian ini didasari oleh kegiatan sekelompok masyarakat perajin genteng yang ada di Desa Pancasan Kecamatan Ajibarang Kabupaten Banyumas. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Subjek penelitian ini yaitu para perajin genteng di Desa Pancasan Kecamatan Ajibarang Kabupaten Banyumas. Adapun objek penelitiannya adalah fungsi register bahasa yang digunakan para perajin genteng tersebut. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode simak dengan menggunakan teknik dasar sadap dan teknik lanjutan berupa teknik simak bebas libat cakap (SBLC), teknik simak libat cakap (SLC), rekam, dan catat. Analisis data yang dilakukan terdiri atas tiga proses yaitu seleksi data, pengolahan data, dan kesimpulan. Hasil penelitian ini adalah ditemukan enam jenis fungsi register yang digunakan oleh masyarakat perajin genteng di Desa Pancasan Kecamatan Ajibarang Kabupaten Banyumas. Fungsi bahasa register yang ditemukan yaitu terdiri atas (1) fungsi emotif, (2) fungsi instrumental, (3) fungsi kepribadian atau personal, (4) fungsi pemecahan masalah, (5) fungsi imajinasi, dan (6) fungsi informasi.Kata kunci: register, fungsi bahasa, perajin genten
PERSEPSI SISWA TERHADAP PEMBELAJARAN MATEMATIKA BERDIFERENSIASI PADA KURIKULUM MERDEKA
Penelitian bertujuan untuk mengukur persepsi siswa tentang strategi khusus mengajar guru dalam pembelajaran matematika berdiferensiasi pada kurikulum merdeka di SMP Negeri 1 Sindangresmi, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Jenis penelitian ini merupakan penelitian pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Sampel penelitian adalah 40 orang siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Sindangresmi Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten. Data yang dikumpulkan menggunakan angket dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa siswa berpendapat sebesar 92,50% siswa sangat setuju bahwa guru sudah menerapkan pembelajaran matematika berdiferensiasi di kelas. Strategi khusus dalam pembelajaran berdiferensiasi lebih banyak menggunakan diferensiasi proses, serta hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran matematika berdiferensiasi dapat dilakukan dengan baik
Pengaruh Model Pembelajaran Teams Games Tournament Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas V SD 1 Gribig
ABSTRACTEducation in schools has a series of fields of study that must be mastered by students, one of which is mathematics. Learning mathematics prepares students to have a critical mathematical mindset. Learning mathematics about shapes and volumes of objects is considered boring and frightening for some students. To overcome this, the application of the Teams Games Tournament learning model was chosen because it can create a fun and relaxed atmosphere in learning mathematics. This study aims to determine the effect of the Teams Games Tournament learning model on the mathematics learning outcomes of fifth graders at SD 1 Gribig. Research using a quantitative approach to the experimental method. The sampling technique used is non-probability with a sample of 30 fifth grade students at SD 1 Gribig. Data collection was carried out through tests in the form of written tests. Data analysis was performed using SPSS with paired sample t-test. Learning outcomes can be seen from the class average which has increased from 64.3 (pretest) to 76.3 (posttest). The paired t-test shows that the significance value is α 0.000 <0.05. This means that Ho is rejected and Ha is accepted. The application of the Teams Games Tournament learning model has an influence on the results of learning mathematics for fifth graders of SD 1 Gribig.Keywords: learning model, TGT, learning achievement