Sunan Gunung Djati State Islamic University Bandung
Digital Library UIN (Universitas Islam Negeri) Sunan Gunung Djati BandungNot a member yet
53115 research outputs found
Sort by
Penafsiran ayat taubat dalm tafsir Roudhotu Irfan dan Tafsir Al-Azhar
Taubat merupakan salah satu konsep sentral dalam ajaran Islam yang menjadi jalan kembalinya seorang hamba menuju ampunan dan ridha Allah SWT. Pembahasan mengenai taubat semakin relevan di era modern yang sarat dengan godaan dan pelanggaran moral. Al-Qur'an memuat banyak ayat yang menyeru manusia untuk bertaubat, dan penafsiran para mufassir terhadap ayat-ayat tersebut menjadi rujukan penting bagi umat Islam dalam memahami hakikat dan praktik taubat.
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penafsiran ayat-ayat taubat dalam Tafsir Roudhotul Irfan dan dalam Tafsir Al-Azhar, serta mengidentifikasi persamaan dan perbedaan pandangan keduanya.
Konsep taubat dalam Islam dipahami sebagai proses kembali dari kemaksiatan menuju ketaatan kepada Allah SWT. Dalam Al-Qur'an, konsep ini dijelaskan melalui ayat-ayat yang menekankan penyesalan, penghentian dosa, dan tekad untuk tidak mengulanginya. Penelitian ini menganalisis ayat-ayat taubat berdasarkan penafsiran KH Ahmad Sanusi dan Buya Hamka, dengan fokus pada persamaan dan perbedaan pendekatan penafsiran keduanya.
Metode yang diterapkan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan komparatif atau muqarran yang menitikberatkan pada teknik studi pustaka. Sumber utama yang digunakan adalah Al-Qur'an serta dua tafsir yang menjadi rujukan, yaitu Tafsir Roudhotul Irfan dan Tafsir Al-Azhar Penelitian ini juga menggunakan sumber sekunder seperti skripsi, artikel, buku, dan referensi lain yang relevan. KH Ahmad Sanusi (1888-1950) adalah ulama asal Sukabumi yang dikenal atas kiprahnya di bidang pendidikan, dakwah, dan perlawanan terhadap kolonialisme, serta karya tafsir bercorak sufistik. Buya Hamka (1908-1981) adalah ulama, sastrawan, dan tokoh pergerakan nasional asal Minangkabau yang Tafsir Al-Azhar-nya memadukan kedalaman tafsir dengan analisis kontekstual kehidupan sosial.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa menurut KH Ahmad Sanusi, taubat adalah proses penyucian diri yang menekankan kesatuan antara syariat, thariqah, dan hakikat, dengan fokus pada pembinaan batin dan pengendalian nafsu. Sementara itu, Buya Hamka memandang taubat sebagai kesadaran moral untuk kembali pada ketaatan, disertai perbaikan perilaku, tanggung jawab sosial, dan kesehatan psikologis. Keduanya sepakat bahwa taubat harus memenuhi syarat penyesalan, berhenti dari dosa, dan bertekad untuk tidak mengulanginya, serta bahwa pintu taubat tetap terbuka hingga ajal menjemput. Perbedaan terletak pada corak penafsiran: KH Ahmad Sanusi menonjolkan pendekatan sufistik yang mendalam secara spiritual, sedangkan Buya Hamka lebih menekankan aspek kontekstual, moral, dan sosial
Sistem pengenal ekspresi wajah marah menggunakan metode Convolutional Neural Network (CNN)
Ekspresi wajah marah merupakan bentuk komunikasi non-verbal krusial yang terkait dengan respons psikologis seperti agresi dan stres. Kesalahan dalam mengidentifikasinya dapat memicu konflik, sementara dalam aplikasi teknologi adalah pemantauan psikologis. Tujuannya untuk mengatasi tantangan seperti variasi ekspresi individu dan kondisi pencahayaan yang beragam. Penelitian ini mengatasi tantangan tersebut dengan merancang sistem pengenal ekspresi marah menggunakan metode Convolutional neural network (CNN) yang disempurnakan dengan Attention Mechanism untuk fokus pada fitur wajah yang paling relevan. Prosesnya melibatkan pengumpulan data dari sumber publik seperti Kaggle, yang kemudian melewati pra-pemrosesan berupa konversi grayscale 48x48 piksel, normalisasi, dan augmentasi. Model dievaluasi menggunakan validasi silang K-Fold, di mana skema K=20 menunjukkan kinerja puncak dengan rata-rata akurasi 85,78%. Hasil ini membuktikan bahwa arsitektur CNN yang diusulkan efektif dan dapat diandalkan sebagai fondasi untuk pengembangan teknologi pengenalan emosi di masa depan
Makna lafadz "Adzikru" serta derivasinya dalam Al-Qur'anul Karim: Studi analisis semantik dan nilai-nilai pendidikannya
Penelitian ini membahas makna lafadz “adz-dzikr” dan derivasi katanya dalam Al-Qur’an melalui analisis semantik serta nilai-nilai pendidikan yang terkandung di dalamnya. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada pentingnya pemahaman makna kata dalam Al-Qur’an secara mendalam agar tidak terjadi kesalahan tafsir, khususnya kata dzikr yang memiliki frekuensi tinggi dan makna beragam dalam Al-Qur’an. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ayat-ayat dan surah yang memuat lafadz dzikr, mengidentifikasi bentuk-bentuk kata tersebut dan derivasi katanya, menganalisis makna leksikal dan kontekstualnya, serta menggali nilai-nilai pendidikan yang terkandung di dalamnya.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan analisis semantik. Sumber data primer penelitian ini meliputi ayat-ayat Al-Qur’an yang mengandung lafadz dzikr, kitab-kitab tafsir klasik seperti Tafsir al-Tabari (Jāmi‘ al-Bayān), Tafsir Ibn Katsir, Tafsir al-Qurtubi (al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān), Tafsir al-Baghawi (Ma‘ālim al-Tanzīl), dan Tafsir Fakhr al-Rāzi (al-Tafsīr al-Kabīr), serta kamus-kamus bahasa Arab seperti Lisān al-‘Arab, Mu‘jam Maqāyīs al-Lughah, dan al-Mu‘jam al-Wasīṭ. Data sekunder diperoleh dari literatur linguistik Arab, buku-buku semantik, dan penelitian terdahulu yang relevan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa lafadz dzikr dan derivasi katanya terdapat sebanyak 285 kali dalam 71 surah dan 261 ayat dengan variasi bentuk berupa isim, fi’il, dan masdar. Secara leksikal, kata dzikr berarti mengingat, menyebut, dan mengingatkan, sedangkan secara kontekstual kata ini mengandung makna yang lebih luas seperti Al-Qur’an sebagai wahyu, ibadah dzikir, peringatan, dan ilmu pengetahuan. Selain itu, penelitian ini menemukan nilai-nilai pendidikan yang mencakup nilai aqidah untuk memperkuat iman, nilai ibadah untuk membiasakan dzikir, dan nilai akhlak untuk membentuk karakter yang baik. Dengan demikian, makna dzikr dalam Al-Qur’an tidak hanya terbatas pada ucapan verbal, tetapi juga mencakup pembentukan spiritual, intelektual, dan moral yang integral dalam pendidikan Islam
Pengaruh program Pendidikan dan Pelatihan Dasar (Diklatsar) terhadap etos kerja pegawai: Penelitian di Yayasan Daarut Tauhiid Rahmatan Lil Aalamiin
Penelitian ini berfokus pada peran program Pendidikan dan Pelatihan Dasar (Diklatsar) dalam membentuk etos kerja pegawai di Yayasan Daarut Tauhiid Rahmatan Lil Aalamiin (YDTR). Program Diklatsar yang diselenggarakan setiap tahun bagi pegawai tetap maupun kontrak tidak hanya diarahkan pada peningkatan pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga pada penanaman nilai-nilai spiritual dan profesionalisme sesuai dengan visi dan misi yayasan. Akan tetapi, pengaruh Diklatsar dalam membentuk etos kerja pegawai tersebut lebih banyak dipandang dari persepsi positif internal yayasan dan belum pernah diuji secara empiris.
Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan program Diklatsar di YDTR, menggambarkan kondisi etos kerja pegawai di YDTR, serta menganalisis pengaruh Diklatsar terhadap etos kerja pegawai di YDTR berdasarkan data kuantitatif yang terukur.
Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang disebarkan kepada 84 responden. Analisis data dilakukan dengan uji validitas, reliabilitas, uji asumsi klasik (normalitas dan linearitas), analisis regresi linear sederhana, koefisien determinasi serta uji hipotesis.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa program Diklatsar dan etos kerja pegawai secara umum berada pada kategori tinggi, dengan nilai rata-rata 4,0 pada masing-masing variabel. Selanjutnya, analisis regresi mengungkapkan adanya pengaruh positif dan signifikan antara Diklatsar dan etos kerja dengan nilai signifikansi 0,000. Lebih lanjut, hasil uji koefisien determinasi menunjukkan bahwa Diklatsar berkontribusi sebesar 44,5% terhadap pembentukan etos kerja, sedangkan 55,5% sisanya dipengaruhi oleh faktor lain di luar model penelitian ini. Temuan ini menegaskan bahwa Diklatsar merupakan salah satu instrumen penting dalam meningkatkan etos kerja pegawai
Pengaruh penggunaan media pembelajaran Plickers Paper Mode terhadap motivasi belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam: Penelitian di kelas VII SMPN 3 Cileunyi Kabupaten Bandung
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya motivasi belajar siswa dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), terutama di kelas besar yang kurang kondusif seperti kelas VII SMPN 3 Cileunyi, Kabupaten Bandung. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, peneliti menggunakan media Plickers Paper Mode sebagai alternatif interaktif dalam pembelajaran.
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengetahui penggunaan media Plickers Paper Mode dalam pembelajaran PAI; (2) Mengukur motivasi belajar siswa dengan menggunakan media tersebut; dan (3) Menganalisis pengaruh penggunaannya terhadap motivasi belajar siswa.
Kerangka berpikir dalam penelitian ini disusun dengan melakukan perbandingan antara dua kelompok kelas, yaitu kelas eksperimen yang diterapkan media Plickers Paper Mode dan kelas kontrol yang menggunakan pendekatan media konvensional. Untuk mengukur tingkat motivasi belajar siswa pada kedua kelas tersebut, digunakan instrumen angket yang dibagikan sebelum (pre-respond) dan setelah (post-respond) perlakuan dilakukan. Penelitian ini didasarkan pada hipotesis bahwa penggunaan media Plickers Paper Mode memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan motivasi belajar siswa.
Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kuantitatif melalui metode kuasi eksperimen dam desain prerespnd-postrespond control group. Subjek penelitian adalah siswa kelas VII SMPN 3 Cileunyi yang dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelas eksperimen yang menerima pembelajaran dengan media Plickers Paper Mode dan kelas kontrol yang menggunakan media konvensional. Instrumen yang digunakan adalah angket motivasi belajar siswa, yang diberikan sebelum dan sesudah perlakuan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan penggunaan media Plickers Paper Mode berjalan secara optimal, dengan keterlaksanaan mencapai 90% peretemuan pertama, dan 100% untuk pertemuan kedua selama proses pembelajaran. Rata-rata skor angket motivasi belajar siswa pada kelas eksperimen (VII F) mengalami peningkatan dari nilai pre-respond sebesar 89,58 menjadi 95,21 pada post-respond. Berdasarkan perhitungan nilai N-Gain sebesar 0,5157, peningkatan motivasi belajar siswa berada pada kategori sedang. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penggunaan media Plickers Paper Mode efektif dalam memengaruhi motivasi belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di kelas VII SMPN 3 Cileunyi, Kabupaten Bandung
Peristiwa pembakaran kampung Hanja Desa Mangkonjaya Kecamatan Bojonggambir Kabupaten Tasikmalaya tahun 2000
Indonesia adalah negara majemuk dengan berbagai suku, agama, dan golongan, di mana keberagaman ini harus dijaga. Namun, sikap eksklusif yang muncul dari primordialisme telah memicu konflik antara kelompok-kelompok. Sejak awal 2000-an, intoleransi dan konflik, termasuk pembakaran Kampung Hanja di Tasikmalaya pada tahun 2000, semakin terlihat akibat perbedaan pemahaman keagamaan. Peristiwa di Kampung Hanja menunjukkan peran NU dalam memperburuk polarisasi masyarakat. Perbedaan furuiyah dan kurangnya literasi keagamaan membuat masyarakat mudah terprovokasi oleh informasi tidak akurat. Konflik ini menyebabkan kerusakan fisik dan trauma mendalam, serta mencerminkan kondisi sosial yang rentan. Penting untuk memperkuat dialog antaragama agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan.
Dari paparan tersebut menghasilkan beberapa rumusan masalah sebagai berikut: pertama, bagaimana profil kampung Hanja pada tahun 2000? Kedua, bagaiamana dan peristiwa pembakaran kampung Hanja pada Tahun 2000? Maka dari rumusan masalah tersebut, maka tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui profil Kampung Hanja pada tahun 2000 dan peristiwa pembakaran kampung Hanja pada Tahun 2000.
Metode penelitian sejarah dengan dengan tahapan kerja heuristik (mencari dan mengumpulkan sumber), kritik (mengolah dan menganalisis sumber), interpretasi (menafsirkan data), dan historiografi (menyusun rangkaian sejarah).
Realitas keagamaan di Kampung Hanja ditandai dengan pengajian rutin dan praktik ibadah yang berbeda dari organisasi masyarakat (ormas) lainnya, seperti Nahdlatul Ulama (NU). Perbedaan ini memicu stigma negatif dan kecemburuan sosial, yang menjadi faktor pemicu konflik. Pada 24 Juni 2000 terjadi peristiwa pembakaran Kampung Hanja yang dipicu oleh isu aliran sesat, dendam pribadi, dan ketegangan sosial. Isu-isu tersebut disebarkan secara sistematis oleh provokator, yang memanfaatkan kecemburuan sosial terhadap keberhasilan ekonomi masyarakat Hanja. Pembakaran dilakukan oleh ratusan orang yang terorganisir, menghancurkan rumah, masjid, dan fasilitas ekonomi. Meskipun tidak ada korban jiwa, dampak psikologis dan fisik sangat besar bagi masyarakat. Setelah kejadian, verifikasi oleh MUI dan Depag menyatakan bahwa warga Hanja bukan penganut aliran sesat. Proses penyelesaian konflik melibatkan musyawarah dan rekonsiliasi, termasuk perbaikan rumah dan dukungan dari berbagai organisasi
Bimbingan baca Al-Qur'an melalui media online di platform Tartiilaa.id
INDONESIA:
Perkembangan teknologi informasi mendorong inovasi dalam pembelajaran, termasuk bimbingan baca Al-Qur’an berbasis online. Model ini memberikan fleksibilitas akses bagi peserta yang memiliki keterbatasan jarak, waktu, atau mobilitas, serta memanfaatkan fitur interaktif untuk meningkatkan efektivitas proses belajar. Tartiilaa.id, adalah salah satu platform yang menyediakan bimbingan baca Al-Qur’an online, sehingga memungkinkan peserta memperoleh pembelajaran yang dapat diakses dari berbagai lokasi.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui informasi terkait program, proses, serta faktor pendukung dan penghambat dari bimbingan baca Al-Qur’an melalui media online yang dilaksanakan oleh platform Tartiilaa.id.
Konsep dalam penelitian ini menggunakan metode bimbingan melalui media online yang dikemukakan oleh Zaenal Mukarom. Tartiilaa.id menyediakan program bimbingan, materi, dan evaluasi secara digital. Penggunaan platform dengan memanfaatkan media online memberikan pengalaman belajar yang fleksibel dan memfasilitasi interaksi antara tutor dan peserta.
Metode penelitian yang dipakai adalah kualitatif dengan pendekatan studi deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam bersama pengelola platform, observasi selama pelaksanaan pembelajaran, serta pengumpulan dokumentasi terkait program. Analisis data dilakukan secara deskriptif untuk menggambarkan program, proses, serta faktor pendukung dan penghambat bimbingan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa bimbingan baca Al-Qur’an online di platform Tartiilaa.id telah memenuhi komponen program. Proses pembelajaran terstruktur memadukan pendekatan fardan (intensif) dan jamaah (bersama) secara interaktif disertai evaluasi. Keberhasilan didukung kemudahan akses teknologi, fleksibilitas waktu, metode interaktif, dan sedangkan hambatan meliputi keterbatasan teknologi, minim interaksi tatap muka, dan tantangan menjaga konsistensi belajar.
ENGLISH:
The advancement of information technology has driven innovation in education, including online Qur’an reading guidance. This model offers flexible access for participants who face limitations in distance, time, or mobility, and it incorporates interactive features to enhance learning effectiveness. Tartiilaa.id is one of the platforms that provides online Qur’an reading guidance, enabling participants to access learning from various locations.
This study aims to obtain comprehensive information regarding the program, implementation process, and the supporting and inhibiting factors of the online Qur’an reading guidance conducted through the Tartiilaa.id platform.
The conceptual framework of this research is based on the online guidance method proposed by Zaenal Mukarom. Tartiilaa.id provides digital-based guidance programs, learning materials, and evaluation mechanisms. The use of online media offers a flexible learning experience and facilitates interaction between tutors and participants.
This research employs a qualitative method with a descriptive approach. Data were collected through in-depth interviews with the platform administrators, observations during the learning sessions, and documentation related to the program. The data were analyzed descriptively to illustrate the program structure, the implementation process, and the supporting and inhibiting factors of the guidance.
The findings indicate that the online Qur’an reading guidance on the Tartiilaa.id platform has fulfilled all program components. The structured learning process integrates both the fardan (individual/intensive) and jamaah (group) approaches in an interactive manner, supported by continuous evaluation. Factors contributing to its success include technological accessibility, flexible schedules, and interactive methods. Meanwhile, the challenges include technological limitations, reduced face-to-face interaction, and difficulties in maintaining learner consistency.
ARABIC:
لقد أسهم تطوّر تكنولوجيا المعلومات في تعزيز الابتكار في ميدان التعليم، بما في ذلك الإرشاد في قراءة القرآن الكريم عبر الإنترنت. ويقدّم هذا النموذج وصولاً مرنًا للمشاركين الذين يواجهون قيودًا في المسافة أو الوقت أو القدرة على التنقّل، كما يستفيد من الخصائص التفاعلية لرفع فاعلية عملية التعلّم. وتُعدّ منصة Tartiilaa.id إحدى المنصات التي توفّر إرشادًا في قراءة القرآن الكريم عبر الإنترنت، مما يمكّن المشاركين من الوصول إلى التعلّم من أماكن مختلفة.
يهدف هذا البحث إلى الحصول على معلومات شاملة حول البرنامج، وعملية التنفيذ، والعوامل الداعمة والمعوقة للإرشاد في قراءة القرآن الكريم عبر الوسائط الإلكترونية الذي تنظّمه منصة Tartiilaa.id.
ويستند الإطار المفاهيمي لهذا البحث إلى منهج الإرشاد عبر الوسائط الإلكترونية كما عرضه زين العابدين مقارم. وتوفّر منصة Tartiilaa.id البرامج الإرشادية والمواد التعليمية وآليات التقييم بصورة رقمية. ويسهم استخدام الوسائط الإلكترونية في توفير تجربة تعليمية مرنة، كما يسهل التفاعل بين المعلّم والمشاركين.
وقد استخدم هذا البحث المنهج النوعي بأسلوب الدراسة الوصفية. وتم جمع البيانات من خلال المقابلات المتعمقة مع مسؤولي المنصة، والملاحظة أثناء تنفيذ جلسات التعلّم، إضافة إلى جمع الوثائق المرتبطة بالبرنامج. وتم تحليل البيانات بطريقة وصفية لعرض مكوّنات البرنامج، ومسار التنفيذ، والعوامل الداعمة والمعوقة للعملية الإرشادية.
وتُظهر النتائج أن الإرشاد في قراءة القرآن الكريم عبر منصة Tartiilaa.id قد استوفى جميع مكوّنات البرنامج. وتدمج عملية التعلّم المنظمة بين منهج الفردان (الفردي/المكثّف) ومنهج الجماعة بشكل تفاعلي مدعوم بالتقييم المستمر. وتشمل العوامل الداعمة سهولة الوصول إلى التكنولوجيا، ومرونة الوقت، والأساليب التفاعلية، في حين تتمثل المعوقات في محدودية البنية التكنولوجية، وقلة التفاعل المباشر، وصعوبة الحفاظ على استمرارية المتعلمين
Wacana kesetaraan gender dalam Islam di media sosial: Analisis wacana kritis pada video ceramah Adi Hidayat di channel Youtube
This study examines how Ustaz Adi Hidayat (UAH) constructs a discourse on gender equality that is deeply embedded with ideological values. Beneath the normative religious narrative lies a process of reproducing patriarchal ideology through language and religious symbols. The research aims to analyze the construction of gender equality discourse in UAH’s sermons using Norman Fairclough’s Critical Discourse Analysis (CDA) framework. Louis Althusser’s theory of ideology is applied to interpret the mechanism of patriarchal interpellation, while Pierre Bourdieu’s theory of symbolic capital explains how language functions as a source of symbolic power and legitimacy in religious discourse.
The research data were obtained from transcripts of UAH’s sermons uploaded on the YouTube channel and analyzed using Fairclough’s three-dimensional model: text analysis, discourse practice, and social practice. The findings demonstrate that UAH constructs a discourse of gender equality in Islam as an essential and innate-based similarity. At the same time, this discourse reveals how power operates within the digital daʿwah sphere through a framing of meaning that appears neutral yet remains ideologically driven. Theoretically, this
study contributes to expanding the application of Critical Discourse Analysis in religious studies, particularly within the context of digital preaching and gender equality. Practically, it offers insight into fostering critical awareness of religious language and encourages the development of counter-hegemonic discourses that promote egalitarian and socially just interpretations of Islam
Pembelajaran PAI berdiferensiasi untuk pembiasaan akhlakul karimah: Studi kasus di kelas XI SMA Plus Ulumul Quran Al Mustofa
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh permasalahan pembelajaran PAI khususnya pada materi Akhlak “berani hidup jujur” yang masih bersifat seragam, sehingga belum mampu mengakomodasi perbedaan gaya belajar, minat, dan tingkat kesiapan peserta didik. Hal tersebut berdampak pada rendahnya keterlibatan siswa, kurangnya antusiasme, serta belum optimalnya pembiasaan akhlakul karimah. Pendekatan pembelajaran berdiferensiasi dipandang sebagai strategi yang mampu menyesuaikan proses pembelajaran dengan kebutuhan individual peserta didik.
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan tujuan dan langkah-langkah pembelajaran PAI berdiferensiasi, (2) menganalisis implementasi pembelajaran PAI berdiferensiasi untuk pembiasaan akhlakul karimah, (3) menjelaskan hasil pembelajaran PAI berdiferensiasi terhadap terbentuknya pembiasaan akhlakul karimah, dan (4) mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat pembelajaran berdiferensiasi pada peserta didik kelas XI SMA Plus Ulumul Quran Al Mustofa.
Secara teoretis, penelitian ini merujuk pada konsep pembelajaran berdiferensiasi menurut Tomlinson yang menekankan penyesuaian konten, proses, produk, dan lingkungan belajar sesuai kebutuhan peserta didik, serta teori akhlak dan pembiasaan dalam pendidikan Islam yang menekankan pentingnya internalisasi nilai melalui keteladanan, pengulangan, dan pengalaman langsung. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara deskriptif melalui proses reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Validitas data diperkuat melalui teknik triangulasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) pembelajaran PAI tidak hanya berorientasi pada pemahaman kognitif, tetapi juga pada aspek afektif dan psikomotorik melalui kegiatan pembiasaan. Guru memulai pembelajaran dengan asesmen diagnostik untuk memetakan gaya belajar visual, auditori, dan kinestetik. (2) Pelaksanaan pembelajaran PAI berdiferensiasi tampak melalui variasi konten, proses, produk, dan lingkungan belajar, serta pemberian tugas yang disesuaikan dengan minat dan gaya belajar siswa seperti pembuatan poster, komik, pidato, dan drama pendek. (3) Pembelajaran berdiferensiasi berdampak positif terhadap pembiasaan akhlakul karimah, terlihat dari meningkatnya kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, dan keberanian siswa dalam bersikap sesuai nilai-nilai akhlak. (4) Faktor pendukung meliputi dukungan sekolah, ketersediaan fasilitas, dan kreativitas guru; sedangkan faktor penghambat mencakup suasana kelas yang kurang kondusif dan kendala waktu.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, direkomendasikan bagi guru PAI untuk terus meningkatkan kreativitas dalam menerapkan model pembelajaran berdiferensiasi seperti kolaborasi lintas mata pelajaran. Bagi pihak sekolah diharapkan memberikan dukungan penuh berupa penyediaan fasilitas yang memadai. Bagi siswa diharapkan memanfaatkan kebebasan dalam diferensiasi dengan penuh tanggung jawab, kreativitas, keaktifan, serta sikap positif, sehingga pembelajaran akhlak tidak hanya dipahami secara teoritis, tetapi benar-benar diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Dan bagi peneliti berikutnya dapat mengkaji integrasi diferensiasi dengan model pembelajaran lain untuk membandingkan tingkat efektivitasnya
Penelitian intertekstualitas terhadap "Nadzhom Syu'bul Iman" oleh Syekh Zainuddin dan "Syi'ir Tanpo Waton" oleh Muhammad Nizam Ash-Shofa: Berdasarkan teori Julia Kristeva
ديني سوبرانتيونو : دراسة التناص في " منظومة شعب الإيمان" للشيخ زين الدين و"شعر تانبو واتون" للشيخ نظام أصفى (بناء على نظرية جوليا كريستفا)
يهدف هذا البحث إلى دراسة التناص بين “نظم شعب الإيمان” للشيخ زين الدين المليباري و”شعر تنبو وطن” للشيخ محمد نظام الشفا، بالاعتماد على نظرية التناص لجوليا كريستيفا ومنهج الأدب المقارن. ويعكس النص الأول طابعاً تعليمياً تقليدياً بالعربية يخدم بيئة التعليم الديني، بينما يمثل النص الثاني قصيدة جاوية معاصرة ذات نزعة صوفية تستجيب للتحديات الدينية الحديثة.
أظهرت النتائج أن “شعر تنبو وطن” ليس إعادة إنتاج مباشرة لـ”نظم شعب الإيمان”، بل هو إعادة تأويل إبداعية تنقل القيم الإسلامية إلى الإطار الثقافي الجاوي. ويتجلى ذلك في تكييف الأخلاق الإسلامية مع الأعراف المحلية، واعتماد التلميح بدلاً من الاقتباس المباشر، إضافةً إلى التحول من الشريعة المنهجية إلى التصوف والانسجام الاجتماعي.
وتكمن أهمية البحث في إبراز دور “شعر تنبو وطن” في تجديد الأدب الديني وتأكيد خطاب الإسلام المعتدل في مواجهة التطرف، فضلاً عن تمثيله عملية “تأصيل الإسلام” في المجتمع الجاوي بصورة ديناميكية ومستدامة.
الكلمات المفتاحية: التناص، جوليا كريستيفا، الأدب المقارن، نظم شعب الإيمان، شعر تنبو وط