Sunan Gunung Djati State Islamic University Bandung
Digital Library UIN (Universitas Islam Negeri) Sunan Gunung Djati BandungNot a member yet
53115 research outputs found
Sort by
Permasalahan Gizi Masyarakat Dan Upaya Perbaikannya
Gizi buruk adalah keadaan kekurangan energi dan protein (KEP) tingkat berat akibat kurang mengkonsumsi makanan yang bergizi dan atau menderita sakit dalam waktu
lama.Ditandai dengan status gizi sangat kurus. Keadaan gizi dan kesehatan masyarakat tergantung pada tingkat konsumsi, Dewasa ini Indonesia menghadapi masalah gizi ganda, yakni masalah gizi kurang dan masalah gizi lebih. Di satu pihak masalah gizi kurang yang pada umumnya disebabkan oleh kemiskinan, kurangnya persediaan pangan, kurang baiknya kualitas lingkungan, kurangnya pengetahuan
masyarakat tentang gizi. Indikator masalah gizi dari sudut pandang sosial-budaya antara lain stabilitas keluarga dengan ukuran frekuensi nikah-cerai-rujuk, anak-anak yang dilahirkan di lingkungan keluarga yang tidak stabil akan sangat rentan terhadap penyakit gizi kurang. Pemeriksaan klinis adalah metode yang sangat penting untuk menilai status gizi masyarakat. Metode ini didasarkan atas perubahan-perubahan yang terjadi yang dihubungkan dengan ketidakcukupan zat gizi. Kurangnya pemberdayaan wanita dan keluarga serta kurangnya pemanfaatan sumber daya masyarakat terkait dengan meningkatnya pengangguran, inflasi dan kemiskinan yang disebabkan oleh krisis ekonomi, politik dan keresahan sosial yang menimpa Indonesia sejak tahun 1997. Mengembangkan kemampuan (capacity building) dalam upaya
penanggulangan masalah gizi, baik kemampuan teknis maupun kemampuan manajemen. Gizi bukan satu-satunya faktor yang berperan untuk pembangunan sumber daya manusia, oleh karena itu diperlukan beberapa aspek yang saling mendukung sehingga terjadi integrasi yang saling sinergi, misalnya kesehatan, pertanian, pendidikan diintegrasikan dalam suatu kelompok masyarakat yang paling membutuhkan. Meningkatkan upaya penggalian dan mobilisasi sumber daya untuk melaksanakan upaya perbaikan gizi yang lebih efektif melalui kemitraan dengan swasta, LSM dan masyarakat.
, , , ,
, , , ¸ N
Problems of Learning Arabic in Reading and Writing Skills in Nagreg Junior High School
Keterampilan berbahasa seseorang dapat dilihat secara berurutan dari empat keterampilan, yaitu menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Keterampilan membaca dan menulis bahasa Arab ini tidak disadari sudah dipelajari saat mempelajari Baca Tulis al-Qur`an (BTQ). Namun karena tidak dipelajari secara khusus dalam mata pelajaran bahasa Arab maka kemampuan tersebut pun tidak terasah dengan baik, itulah diantaranya yang terjadi di SMP IT Matahati Nagreg. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui problematika pembelajaran bahasa Arab yang terjadi di SMP IT Matahati dalam keterampilan membaca dan menulis beserta tawaran solusi yang dapat diterapkan untuk mengatasi problematika yang terjadi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif, yaitu dengan melakukan observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa problematika yang tengah dihadapi SMP IT Matahati meliputi problematika linguistik seperti kemampuan membaca menulis huruf bahasa Arab, pembendaharaan kosakata, dan pemahaman tata bahasa yang masih minim. Sedangkan problematika non linguistik meliputi peserta didik, buku ajar, guru, sarana dan lingkungan. Pada dasarnya semua problematika ini seringkali didapati dalam pembelajaran bahasa Arab, adapun solusi yang ditawarkan diharapkan dapat berimplikasi dalam pembelajaran bahasa Arab itu sendiri demi tercapainya tujuan pembelajaran
THE OPTIMIZATION OF RETURN TO SCALE ISLAMIC HIGHER EDUCATION SERVICES BASED ON NONLINEAR PRODUCTION FUNCTION USING GAUSS-NEWTON METHOD
The performance of the supply side of the economy of the Islamic Higher Education is often identified with the growth rate of potential output. Potential output was approached by using nonlinear production function such as the Cobb-Douglas production function that used to measure the growth of potential output, namely the contribution of labor, capital and total factor productivity. Consumer education services demand fluctuated, encourage the Islamic Higher Education to be able to determine precisely the quantity of labor education in achieving optimal production according to market demand. It aims to create efficient use of labor education as an effort in the face of a competitive global market competition. Through the Cobb-Douglas production function was analyzed whether the addition or subtraction of labor education impact on Islamic Higher Education labor productivity, as well as the order of priority can be determined in accordance with the conditions of output scale.
Keywords: Cobb-Douglas Production Function, Islamic Higher Education, Productivity, Return to Scal
Conflict-Related Behavior among Sundanese Muslim Students: The Role of Ideology and Perceived Injustice
Objective. Exploration of the psychological factors of conflict-related action among Sundanese Muslim students in Indonesia.
Background. Religious-based conflicts have been widely examined in various disciplines, attracting responses and factors in every cultural context.
Study design. Study 1 used an indigenous-based survey and was analyzed by thematic analysis. Study 2 examined the role of political ideology and perceived injustice in conflict-related behavior using
hierarchical regression analysis.
Participants. Study 1: 224 people (35,7% of men, 64,3% of women) from 18 to 49 years old (M = 20,98; SD = 3,72). Study 2: 494 people (35,6% of men, 64,4% of women) from 17 to 49 years old (M = 20,00; SD = 1,52).
Measurements. Indonesian-language versions of the scales of religious fundamentalism ideology by Muluk and colleagues, violent extremist attitude by Nivette and colleagues, nonviolent direct action by Brown and colleagues, and sensitivity to injustice by Schmitt and colleagues.
Results. Study 1 showed specific patterns of cognitive, emotional, and behavioral responses. There are differences in the respondents’ responses to conflicts between and within religions. These differences are caused by ideology orientation towards religion and perception of injustice towards their groups. Study 2 confirmed Study 1 that religious fundamentalism predicts both violent and nonviolent behavior. Also, perceived injustice of victims moderates the effect of religious fundamentalism to violent behavior. Meanwhile, perceived injustice of perpetrators predicts only nonviolent behavior.
Conclusions. There is a significant effect of religious based ideology and perceived injustice on conflict-related behavior in the Sundanese Muslim context