Sunan Gunung Djati State Islamic University Bandung
Digital Library UIN (Universitas Islam Negeri) Sunan Gunung Djati BandungNot a member yet
53115 research outputs found
Sort by
Tata kelola zakat profesi dosen di UPZ dalam wilayah kerja BAZNAS Provinsi Banten dalam perspektif hukum ekonomi syariah dan Undang-Undang no. 23 tahun 2011 tentang pengelolaan zakat
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kondisi Provinsi Banten yang mayoritas penduduknya beragama Islam (94,81% dari ±12 juta jiwa), sehingga memiliki potensi zakat profesi dosen yang besar. Hingga tahun 2025, tercatat 14 perguruan tinggi telah membentuk UPZ bekerja sama dengan BAZNAS, dengan total 791 muzaki dari kalangan dosen. Namun, partisipasi tersebut belum merata antar kampus, dan kapasitas kelembagaan UPZ juga bervariasi. Situasi ini menunjukkan adanya kebutuhan kajian lebih lanjut mengenai efektivitas tata kelola zakat profesi di perguruan tinggi.
Sejalan dengan itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis partisipasi dosen dalam menunaikan zakāt profesi melalui UPZ di bawah koordinasi BAZNAS Provinsi Banten, serta mendeskripsikan praktik tata kelola zakāt profesi dosen oleh UPZ perguruan tinggi, khususnya dalam aspek penghimpunan, pendistribusian, dan pelaporan. Selanjutnya, praktik tersebut dianalisis dalam perspektif Hukum Ekonomi Syariah dan dievaluasi kesesuaiannya dengan Undang-Undang No. 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakāt
Kerangka berpikir penelitian ini dibangun melalui teori Kredo (Syahadat), teori Manajemen Pengelolaan Harta dalam Islam, dan teori Kesadaran dan Kepatuhan Hukum.
Penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis empiris dan metode deskriptif-analisis. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dan studi dokumentasi dan studi pustaka. Objek penelitian difokuskan pada BAZNAS Provinsi Banten dan tiga UPZ perguruan tinggi, yaitu UPZ UNTIRTA, UPZ UIN SMH Banten, dan UPZ Universitas Mathla’ul Anwar Banten. Dan analisis data dilakukan dengan analisis data kualitatif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) partisipasi dosen dalam pembayaran zakāt profesi tergolong cukup tinggi secara administratif, dengan tingkat partisipasi mencapai 66,7% di UIN SMH Banten, 54,0% di UNTIRTA, dan 35,1% di UNMA; (2) praktik tata kelola zakāt profesi oleh UPZ telah berjalan secara terstruktur dalam aspek penghimpunan, tetapi aspek pelaporan, perencanaan masih memerlukan penguatan kelembagaan; (3) dalam perspektif Hukum Ekonomi Syariah, pengelolaan zakat telah mencerminkan prinsip al-‘adālah, al-amānah dan al-maṣlaḥah, meskipun masih terdapat diskusi mengenai penggunaan tarif 2,5% yang secara metodologis dapat disesuaikan menjadi 2,577% apabila penghitungan mengguanakan kalender masehi; dan (4) tata kelola zakāt profesi dosen secara umum telah berjalan sesuai dengan Undang-Undang No. 23 Tahun 2011, namun masih diperlukan peningkatan pada aspek akuntabilitas dan transparansi agar selaras dengan prinsip tata kelola zakāt yang baik
Sintesis dan karakterisasi bioplastik berbasis pati umbi garut (Maranta arundinacea L.) dan karagenan dengan variasi cairan pemlastis
Plastik yang sulit terurai telah menjadi masalah serius dalam isu lingkungan global sehingga diperlukan solusi untuk menanganinya. Penelitian ini bertujuan untuk mensintesis dan mengkarakterisasi bioplastik berbasis pati umbi garut (Maranta arundinacea L.) dan karagenan dengan penambahan cairan hidrofobik (minyak jarak, EFAME, minyak silikon) serta gliserol sebagai pemlastis. Proses sintesis bioplastik terdiri dari beberapa tahap, yaitu pencampuran bahan dalam air, pemanasan, pencetakan, hingga pengeringan. Bioplastik dikarakterisasi melalui uji spesifikasi, swelling, biodegradasi, mekanik (kuat tarik, elongasi, dan modulus Young), dan analisis morfologi menggunakan Scanning Electron Microscope (SEM). Hasil karakterisasi menunjukkan bahwa semua sampel memenuhi standar JIS karena memiliki ketebalan ≤ 0,25 mm. Persen swelling tertinggi dicapai oleh sampel S-6 (8,09%) dan terendah oleh S-3 (3,21%). Semua sampel terdegradasi dengan baik dan telah memenuhi standar biodegradabilitas SNI 7188.7:2022. Nilai kuat tarik tertinggi dicapai oleh S-1 (11,248 MPa) dan elongasi tertinggi dicapai oleh S-4 (44,786%). Morfologi SEM S-1 tampak padat dengan struktur agregatif. Secara keseluruhan, hasil dari berbagai formulasi yang diuji menunjukkan potensi
yang menjanjikan untuk menghasilkan bioplastik yang ramah lingkungan, dengan sifat mekanik dan fisik yang cukup kompetitif
Pembuatan dan karakterisasi wound dressing film PVA-kitosan dengan penambahan perak sulfadiazin dan variasi natrium alginat
Wound dressing merupakan balutan yang digunakan untuk melindungi luka dari lingkungan luar dan mendukung proses penyembuhan. Kombinasi polimer sintetik dan alami seperti PVA dan kitosan sudah banyak digunakan dalam pembuatan wound dressing karena sifat biokompatibel, biodegradabel, dan kemampuan membentuk film yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik dan aktivitas antibakteri wound dressing film berbasis PVA dan kitosan dengan penambahan perak sulfadiazin serta variasi konsentrasi natrium alginat. Metode yang digunakan yaitu solvent casting dengan konsentrasi natrium alginat sebesar 0; 0,5; 1; dan 1,5 gram. Hasil karakterisasi secara organoleptik menunjukkan bahwa wound dressing film berwarna abu muda, memiliki bau khas, elastis, dan permukaan haus. Spesifikasi fisik menunjukkan berat film sekitar 3 gram, ukuran 10 x 10 cm hingga 11 x 11 cm, dan ketebalan antara 0,2-0,4 mm. Derajat swelling meningkat seiring dengan bertambahnya konsentrasi natrium alginat yaitu sebesar 190,3; 215,5; 281,5; hingga 50,1%. Kekuatan tarik wound dressing film berada dalam rentang 3-17 N/mm2 dengan elongasi 27-500%. Hasil uji biodegradasi menunjukkan film dapat larut dalam waktu sekitar 8 jam. Water absorption (AW) dan equilibirium water content (EWC) menunjukkan peningkatan dengan nilai tertinggi masing-masing sebesar 450,34% dan 81,77% pada formula dengan konsentrasi natrium alginat tertinggi. Hasil uji antibakteri terhadap S.aureus menunjukkan zona hambat 12-15 mm, sedangkan terhadap E.coli berkisar antara 3-11 mm. Berdasarkan kategori diameter zona hambat, wound dressing film ini memiliki aktivitas antibakteri yang kuat terhadap S. aureus dan cenderung lemah terhadap E. Coli
Aktivisme digital untuk kesadaran lingkungan: Penelitian media sosial wahana lingkungan hidup Indonesia Jawa Barat
Dewasa ini, isu lingkungan semakin mendapat perhatian publik seiring meningkatnya berbagai persoalan yang harus dihadapi. Pada saat yang sama, data We Are Social mencatat adanya peningkatan jumlah pengguna internet dan media sosial di Indonesia pada tahun 2024. Kondisi ini mendorong banyak masyarakat memanfaatkan media sosial sebagai sarana kampanye kesadaran lingkungan, termasuk yang dilakukan oleh Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jawa Barat.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivisme digital yang dilakukan Walhi Jawa Barat, kemudian mengetahui strategi aktivisme digital yang digunakan Walhi Jawa Barat, dan memahami faktor pendorong aktivisme digital yang dilakukan oleh Walhi Jawa Barat.
Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori mobilisasi sumber daya yang diperkenalkan oleh McCarthy & Zald. Teori ini menekankan bahwa keberhasilan dari sebuah gerakan sosial sangat dipengaruhi oleh mobilisasi sumber daya atau pengelolaan sumber daya yang efektif oleh para aktor-aktor gerakan sosial.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif yang dilengkapi dengan teknik pengumpulan data, untuk data primer diperoleh berasal dari observasi digital (netnografi) pada sosial media Walhi Jawa Barat, sedangkan data sekunder melalui wawancara semi terstruktur kepada Divisi Advokasi & Kampanye Walhi Jawa Barat dan studi kepustakaan, yang berasal dari penelitian-penelitian terdahulu. Data dianalisis melalui tiga tahap, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian menunjukan bahwa aktivisme digital yang dilakukan Walhi Jawa Barat memiliki cukup keberagaman, mulai dari aktivisme advokasi isu umum, mobilisasi/organisasi, dan reaktif/aktif. Akan tetapi, dalam pengaplikasiannya dilakukan secara campuran antara online dan offline. Aktivisme digital Walhi Jawa Barat banyak didorong oleh internal tim Walhi Jawa Barat. Selain itu, aktivisme digital dilakukan karena adanya sumber daya yang mendukung seperti, sumber daya manusia (staff), moral (dukungan dari jaringan), kultural (akses terhadap sosial media, data, cara mengelola sosial media), organisasi-sosial (kolaborasi dengan jaringan dan organisasi lain), dan terakhir material (dana dan peralatan seperti kamera, laptop, akses terhadap internet, dan lain-lain)
Penerapan nilai Maximum Sustainable Yield (MSY) dari model produksi surplus (Schaefer, Gulland, Pella-Tomlinson dan Fox) untuk penentuan nilai effort pada asuransi perikanan
Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan nilai Maximum Sustainable Yield (MSY) dari empat model produksi surplus, yaitu Schaefer, Gulland, Pella-Tomlinson dan Fox, guna menentukan Effort Maximum Sustainable Yield (EMSY) dalam pengelolaan perikanan tongkol como (Euthynnus affinis) di Pelabuhan Perikanan Nusantara Prigi. Data yang digunakan merupakan data sekunder tahun 2015–2024 meliputi hasil tangkapan, jumlah trip, dan jenis alat tangkap. Karena terdapat variasi alat tangkap, dilakukan standarisasi effort menggunakan pendekatan Fishing Power Index (FPI) agar hasil perhitungan dapat dibandingkan secara seragam. Setelah diperoleh nilai EMSY dari masing-masing model, selanjutnya dihitung nilai Maximum Economic Yield (MEY) untuk menilai keuntungan maksimum yang dapat dicapai. Nilai E_MSY juga digunakan untuk menentukan effort yang dapat dilakukan pada tahun berikutnya, agar jika terjadi penurunan pendapatan dan nelayan mengajukan klaim asuransi, klaim tersebut tetap dapat ditanggung oleh perusahaan asuransi. Masing-masing model mendapatkan nilai koefisien determinasi (R^2) yang berbeda, model Schaefer sebesar 0,1137, Gulland sebesar 0,1333, Pella-Tomlinson sebesar 0,1353, dan Fox sebesar 0,0612. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model Pella-Tomlinson memberikan estimasi EMSY dan MEY yang paling konservatif dan realistis jika dilihat dari nilai koefisien determinasi (R^2) terbesar, sehingga dinilai paling efektif dalam mendukung skema asuransi perikanan yang berkelanjutan
Penerapan pembelajaran Diferentiated Intruction (DI) untuk meningkatkan kemampuan representasi matematis siswa
Penelitianinidilatarbelakangiolehkemampuanrepresentasimatematissiswayang didukung oleh studi pendahuluan di suatu SMA yang masih perlu ditingkatkan. Salah satu alternatif untuk menanggulangi permasalahan tersebut yaitu dengan pembelajaranmodelDiferentiatedInstruction(DI).Tujuandaripenelitianiniuntuk mengetahui:(a)Penerapanpembelajaranmatematikadenganmenggunakanmodel differentiated instruction; (b) Peningkatan kemampuan representasi matematis antara siswa mendapatkan pembelajaran differentiated instruction dengan siswa yang mendapatkan pembelajaran konvensional; (c) Pencapaian kemampuan representasimatematisantarasiswayangmendapatkanpembelajarandifferentiated instructiondengansiswayangmendapatkanpembelajarankonvensional.Penelitian ini dilakukan di SMAN 1 Bojongmangu kelas XI MIPA 1 dan XI MIPA 2 menggunakan metode kuasi eksperimen. Hasil penelitian sebagai berikut: (a) Proses pembelajaran yang dilakukan dalam penelitian dianggap baik dengan observasi yang dilakukan oleh guru dan peserta didik.; (b) Terdapat perbedaan peningkatan kemampuan representasi matematis antara peserta didik yang menggunakan Differentiated Instruction dengan Model Pembelajaran Konvensional; (c) Terdapat perbedaan pencapaian kemampuan representasi matematis antara peserta didik yang menggunakanDifferentiated Instruction dengan Model Pembelajaran Konvensiona. Maka, model Diferentiated Instruction efektif dalam meningkatkan kemampuan representasi matematis siswa
Sitem rekomendasi seleksi pemain sepakbola menggunakan algoritma K-Means
Sepakbola merupakan salah satu cabang olahraga yang paling diminati oleh banyak orang di seluruh dunia, asosiasi sepakbola dunia FIFA menyebutkan bahwasannya sepakbola secara resmi dimainkan oleh lebih dari 200 negara di seluruh dunia. Salah satu cabang keilmuan yang lahir dari sepakbola adalah data analitik sepakbola, kian hari perkembangannya mengarah kepada digitalisasi pada setiap aspeknya. Maka dari itu dirancang sebuah sistem rekomendasi seleksi pemain sepakbola menggunakan machine learning, secara khusus untuk dapat mengelompokan data statistik pemain sepakbola. Algoritma k-means digunakan untuk mengimplementasikan data-data tersebut, model bekerja untuk membuat cluster dengan menentukan nilai (k) yang paling efektif melalui pengujian silhouette score dan elbow method. Nilai cluster paling efektif berada pada nilai cluster = 4 dan dataset yang digunakan berasal dari situs data analitik yang berisikan statistik sepakbola yaitu fbref.com. Dilakukan pengujian untuk menemukan pemain yang mirip berdasarkan seleksi pemain yang telah dilakukan menggunakan metrik cosine similarity, penilaian tersebut didasarkan pada fitur yang telah dipilih sebelumnya yaitu passing and creativity stats, defense stats, possession and dribbling stats, dan shooting and finishing stats. Sehingga aplikasi memberikan hasil akhir berupa kelompok-kelompok pemain yang memiliki statistik serupa dengan yang diseleksi, hal ini merupakan capaian akhir dalam tujuan membantu pelatih dalam melakukan scouting pemain sepakbola
Konstruksi sosial masyarakat terhadap aksi premanisme: Penelitian di Desa Linggar Kecamatan Rancaekek Kabupaten Bandung
INDONESIA:
Aksi premanisme merupakan fenomena sosial yang tidak dapat dipahami semata-mata sebagai bentuk tindakan kriminal, tetapi sebagai hasil dari konstruksi sosial yang dipengaruhi oleh kekuasaan, nilai, dan norma. Di Desa Linggar, aksi premanisme tidak hanya menjadi bentuk penyimpangan sosial, tetapi telah mengakar sebagai bagian dari struktur sosial yang diterima secara kolektif. Fenomena ini terbentuk melalui proses sosial yang panjang, di mana masyarakat tidak hanya menjadi saksi, tetapi juga bagian dari proses pembentukan dan pelestarian keberadaan premanisme tersebut.
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk aksi premanisme yang berkembang di masyarakat, faktor-faktor penyebab terjadinya aksi premanisme, dan konstruksi sosial masyarakat terhadap aksi premanisme di Desa Linggar. Teori yang digunakan adalah konstruksi sosial Peter L. Berger dan Thomas Luckmann. Teori ini menjelaskan bahwa kenyataan sosial bukan sesuatu yang bersifat objektif atau muncul dengan sendirinya, melainkan hasil dari proses dialektis yang terjadi dalam tiga tahap utama, yaitu: (1) eksternalisasi adalah proses di mana individu atau kelompok menciptakan makna sosial melalui tindakan dan perilaku, (2) objektivasi merupakan hasil dari eksternalisasi menjadi realitas yang dianggap objektif dan diterima secara luas oleh masyarakat, sehingga kehadiran preman dipandang sebagai sesuatu yang wajar, (3) internalisasi adalah ketika individu menerima realitas sosial tersebut sebagai bagian dari struktur kesadaran pribadi, yang mengarah pada penerimaan dan pembenaran.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung dan wawancara mendalam kepada berbagai pihak, seperti warga setempat, aparat desa, dan tenaga pendidik dari salah satu sekolah di Desa Linggar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aksi premanisme di Desa Linggar lahir, tumbuh, dan berkembang melalui proses konstruksi sosial yang berakar pada pembiaran, serta normalisasi darimasyarakat. Premanisme dipertahankan oleh faktor-faktor seperti lemahnya penegakan hukum, kondisi ekonomi yang sulit, pengaruh lingkungan sosial yang permisif, rendahnya pendidikan, disfungsi keluarga, serta kekuasaan informal yang diwariskan. Konstruksi sosial ini menjadikan aksi premanisme sebagai bagian dari kehidupan sosial yang dianggap sah dan bahkan tak terelakkan. Oleh karena itu, penanganan premanisme tidak cukup hanya dengan pendekatan hukum, tetapi juga harus melalui pendekatan sosial dan budaya yang menyasar akar-akar pembentukannya.
ENGLISH:
Thuggery is a social phenomenon that cannot be understood solely as a form of crime, but rather as a result of social construction influenced by power, values, and norms. In Linggar Village, thuggery is not merely a form of social deviance but has become entrenched as part of a collectively accepted social structure. This phenomenon was formed through a long social process, in which the community not only witnessed but also participated in the formation and perpetuation of thuggery.
This study aims to identify the forms of thuggery that are developing in society, the factors causing thuggery, and the social construction of society towards thuggery in Linggar Village. The theory used is the social construction of Peter L. Berger and Thomas Luckmann. This theory explains that social reality is not something that is objective or appears by itself, but rather the result of a dialectical process that occurs in three main stages, namely: (1) externa lization is a process in which individuals or groups create social meaning through actions and behavior, (2) objectivation is the result of externalization into a reality that is considered objective and widely accepted by society, so that the presence of thugs is seen as something normal, (3) internalization is when individuals accept this social reality as part of the structure of personal consciousness, which leads to acceptance and justification.
This research uses a qualitative approach with a case study method. Data collection techniques were carried out through direct observation and in-depth interviews with various parties, such as local residents, village officials, and educators from one of the schools in Linggar Village. The results of the study indicate that acts of thuggery in Linggar Village were born, grew, and developed through a process of social construction rooted in neglect and normalization by society. Thuggery is maintained by factors such as weak law enforcement, difficult economic conditions, the influence of a permissive social environment, low education, family dysfunction, and inherited informal power. This social construction makes thuggery a part of social life that is considered legitimate and even inevitable. Therefore, handling thuggery is not sufficient with a legal approach alone, but must also be through a social and cultural approach that targets the roots of its formation
Deskripsi etnomatematika pada bangunan bersejarah Monumen Yogya Kembali
Monumen Yogya Kembali merupakan simbol perjuangan rakyat Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan yang kaya akan nilai-nilai sejarah, budaya, dan makna simbolis. Monumen ini tidak hanya menampilkan koleksi sejarah yang memiliki fungsi edukatif, tetapi juga menyimpan elemen-elemen matematika yang tercermin dalam desain bangunan maupun objek-objek yang dipamerkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap dan menjelaskan karakteristik dan filosofi arsitektur serta koleksi sejarah yang berkaitan dengan konsep matematika, serta mengidentifikasi keterhubungan dengan konsep-konsep matematika. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan etnografi dalam kerangka etnomatematika, melalui observasi langsung dan wawancara. Temuan penelitian meliputi: (a) karakteristik dan filosofi Monumen Yogya Kembali memperlihatkan perpaduan nilai historis, filosofis, dan pendidikan melalui struktur kerucut yang melambangkan rasa syukur serta budaya Jawa serta mencerminkan nilai-nilai perjuangan, keharmonisan, serta spiritualitas; (b) unsur matematika pada bangunan mencakup konsep geometri dua dan tiga dimensi, serta transformasi seperti refleksi; (c) konsep matematika dalam koleksi sejarah meliputi bentuk-bentuk geometri, skala, sudut, kesebangunan, kekongruenan, dan himpunan. Temuan ini menegaskan bahwa pembelajaran matematika dapat dilakukan secara kontekstual melalui pengenalan terhadap warisan budaya dan bangunan bersejarah
Al-Arba inat al-Hadithiyyah fi al-Tasawwuf: Bahth fl Kitab Ahadith al-Arba in li Ibn Mansur al-Asbahani 418 H Dirasatan wa Tahqiqan
إن موضوع الأربعينات الحديثية من الأهمية بمكان؛ إذ أن هذا النوع من الكتب يعد من أول أنواع التصنيف والتأليف في السنة النبوية، وتعد بعض كتب الأربعينات الحديثية مصدرا أصيلا لها، وتهدف هذه الدراسة إلى: التعريف بكتب الأربعينات الحديثية في التصوف، وبيان القيمة العلمية لهذه الكتب، وتخريج الأحاديث الواردة في كتاب أحاديث الأربعين لأبي منصور الأصبهاني من المصادر الأصلية للسنة النبوية، ودراسة أسانيدها والحكم عليها، وتقوم هذه الدراسة على المنهج التاريخي الذي يُعنى برصد الظاهرة موضوع البحث وتطورها تاريخيا، وأرصد بداية التصنيف في الأربعينات الحديثية بصورة عامة، وبداية التصنيف في الأربعينات الحديثية في التصوف بصورة خاصة، وأذكر تاريخها وأهم الكتب المصنفة حتى عصرنا الحاضر، وأستخدم المنهج الوصفي في وصف أبعاد تلك الظاهرة، ووصف الكتب المؤلفة في الأربعينات الحديثية سواء كانت مطبوعة أو مخطوطة، ولقد روى أبو منصور الأصبهاني واحدا وأربعين حديثا سماعا عن اثني عشر شيخا، منها حديثا واحدا قدسيا، في كتاب سماه: "أحاديث الأربعين المحفوظة على المتحققين من المتصوفة والعارفين"، ولم يلتزم أبو منصور برواية الصحيح، ولكن روى الصحيح، والضعيف، والحسن، والموضوع، فكان عدد الأحاديث الصحيحة: ثمانية عشر حديثا، والأحاديث الحسنة: تسعة أحاديث، والأحاديث الضعيفة: أحد عشر حديثا، والأحاديث الموضوعة: ثلاثة أحاديث، ومن أهم نتائج الدراسة ما يلي: لقد صنفت كثير من الأربعينات الحديثية تجاوبا من المصنف مع حاجات مجتمعه لجانب خاص من جوانب التوجيه، وتنوع الموضوعات في هذا اللون من التصنيف نابع من تعدد فهوم المصنفين لتلك الأربعين المقصودة بالحديث، فمنهم من جمع أحاديث في التوحيد، ومنهم من جمع أحاديث في الأخلاق والسلوك والتصوف، ومنهم من جمع أحاديث في الجهاد، وغير ذلك، ولا يخفى فائدة هذا، فمن أراد موضوعا معينا فقد يجد بغيته في هذه الأربعينات، وذلك بجمع هذه المادة التي أرادها، وهذا ما يُسمى بالحديث الموضوعي حيث يجمع المؤلف أحاديث في موضوع معين