E-Journal UPN "Veteran" Jatim (Universitas Pembangunan Nasional)
Not a member yet
1885 research outputs found
Sort by
PELATIHAN CARA BERTANAM BERTINGKAT SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN KONSUMSI SAYUR-SAYURAN DI DEPOK
Abstract Indonesia Basic Health Survey noted a substantial increase on prevalence of obesity in 2010, 2013 and 2018 (18,8%; 26,6% and 31% respectively). The highest prevalence of obesity mostly happened to those who living in urban than rural. Obesity and degenerative disease can be prevented by consuming adequate vegetable. Depok is city with dense population, especially nearby University of Indonesia. Most of arable lamd are transformed into residence, so it limits the growing space. Current community service aims to form vegetable consumption habit among the resident by using available space as verticulture. This training was conducted by using organic and non-organic waste as the growing medium. Method used were participative and giving demo to change behaviour. Participants experienced themselves on planting vegetable from seeds until harvesting using verticulture. Succeed indicator was if most of the participant are able to harvest their own verticilture crops. Keywords: Urban farming; balance diet; education; vegetables; verticulture Abstrak Angka prevalensi obesitas di Indonesia cukup tinggi, hasil riskesdas tahun 2010 menunjukkan prevalensi obesitas mencapai 18,8% dan mengalami peningkatan cukup besar pada tahun menjadi 26,6% tahun 2013 dan meningkat kembali menjadi 31% tahun 2018. Prevalensi obesitas tertinggi terjadi di masyarakat perkotaan dibandingkan pada masyarakat di pedesaan. Angka kejadian obesitas dan penyakit degeneratif dapat dicegah dengan mengonsumsi sayur sayuran dalam jumlah yang cukup. Kota Depok merupakan wilayah yang padat pemukiman khususnya di sekitar Kampus Universitas Indonesia. Lahan pekarangan sudah banyak berubah menjadi daerah pemukiman, sehingga lahan bercocok tanam terbatas. Pada kegiatan pengabdian masyarakat ini, bertujuan membentuk kebiasaan konsumsi sayur-sayuran kepada masyarakat dengan memanfaatkan lahan sempit untuk bercocok tanam secara bertingkat. Pelatihan yang dilakukan dengan memanfaatkan limbah organik dan non organik sebagai media tanam. Metode yang digunakan adalah partisipatif dan memberikan contoh untuk merubah perilaku. Peserta langsung praktek bercocok tanam sayur-sayuran dari mulai benih sampai panen dengan menggunakan media vertikulur. Hasil kegiatan ini dapat dikatakan berhasil karena sebagian besar peserta dapat memanen hasil bercocok tanamnya. Kata kunci: Bertanam Lahan Sempit ; Gizi Seimbang ; Penyuluhan ; Sayur ; Vertikultu
MODEL 4 D DALAM MENGEVALUASI KUALITAS LAYANAN KANTOR PELAYANAN PAJAK PRATAMA SIDOARJO BARAT
Abstract The Taxpayer as the consumer or customer from Directorate General of Taxation is essentially entitled to get good service when conducting transactions with the Director General of Taxation as a party service providers. Negative responses that arise from poor service, among others, the emergence of a large number of taxpayers who have had bad experiences in consuming a service. Model 4 D (disconfirmation, Dissatisfaction, Dissonance and Disaffection) is one model that can be used to evaluate the service quality negatively. Understanding the customer response can also be done by focusing on maximizing the positive response by identifying the attributes of service experience of the negative side. This research intends to evaluate the negative concept of dissatisfaction, disconfirmation, dissonance, and disaffects toward quality tax services in the West Sidoarjo Primary KPP. This research is expected to provide input to the Government cq. Directorate General of Taxation KPP Primary West Sidoarjo in making policies related to public service. The sample in this research is the taxpayer who is taking care of tax matters as much as 125 Taxpayers. The spread of the questionnaire conducted commencing on December 6, 2010 through December 10, 2010. Analytical techniques used in this study is Structural Equation Modeling (SEM). By using AMOS 4:01 test results show that disconfirmation, Dissatisfaction, and Disaffection has not been able to negatively evaluate the quality of tax services provided by KPP Primary West Sidoarjo. However, Dissonance able to negatively evaluate the quality of tax services provided by KPP Primary West Sidoarjo. Keyword: disconfirmation, Dissatisfaction, Dissonance and Disaffection Abstrak Wajib Pajak sebagai konsumen atau pelanggan dari Direktorat Jenderal Pajak pada dasarnya berhak mendapatkan pelayanan yang baik ketika melakukan transaksi dengan Direktur Jenderal Pajak sebagai penyedia layanan pihak. Tanggapan negatif yang muncul dari layanan yang buruk, antara lain, munculnya sejumlah besar wajib pajak yang memiliki pengalaman buruk dalam mengonsumsi layanan. Model 4 D (disconfirmation, Dissatisfaction, Disonance, and Disaffection) adalah salah satu model yang dapat digunakan untuk mengevaluasi kualitas layanan secara negatif. Memahami respons pelanggan juga dapat dilakukan dengan berfokus pada memaksimalkan respons positif dengan mengidentifikasi atribut pengalaman layanan dari sisi negatif. Penelitian ini bermaksud untuk mengevaluasi konsep negatif ketidakpuasan, disconfirmation, disonansi, dan disaffect terhadap layanan pajak berkualitas di KPP Primer Sidoarjo Barat. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan kepada Pemerintah cq. Direktorat Jenderal Pajak KPP Pratama Sidoarjo Barat dalam membuat kebijakan terkait pelayanan publik. Sampel dalam penelitian ini adalah wajib pajak yang mengurus masalah pajak sebanyak 125 Wajib Pajak. Penyebaran kuesioner yang dilakukan dimulai pada 6 Desember 2010 hingga 10 Desember 2010. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah Structural Equation Modeling (SEM). Dengan menggunakan hasil tes AMOS 4:01 menunjukkan bahwa diskonfirmasi, ketidakpuasan, dan ketidakpuasan belum mampu mengevaluasi secara negatif kualitas layanan pajak yang diberikan oleh KPP Pratama Sidoarjo Barat. Namun, Disonansi mampu mengevaluasi secara negatif kualitas layanan pajak yang diberikan oleh KPP Pratama Sidoarjo Barat. Kata kunci: disconfirmation, Ketidakpuasan, Disonansi dan Ketidaksukaan
PEMBINAAN KELAS KADER UNTUK PEMANTAUAN PERTUMBUHAN BALITA DAN PEMBUATAN MPASI BERBAHAN PANGAN LOKAL DI POSYANDU WILAYAH KERJA PUSKESMAS BEJI KOTA DEPOK
Abstract Health service at Posyandu includes growth and development monitoring by anthropometric measurement and nutrition counseling by cadres. Cadres of Posyandu were expected to have capability in knowledge and practice about nutrition and health to do their role. The purpose of cadre class about growth monitoring and local-based complementary food making was to gain cadre’s knowledge and skill in anthropometric measurement and complementary food making. Method of this community service program was refreshment and assistance about anthropometric measurements and practice of complementary food making using local food. The program was held in September 2019, 14 cadres from 7 Posyandu in Beji, Depok, were involved. Cadre’s characteristic, knowledge and skill of anthropometric measurement and complementary food, were obtained by questionnaire with pre-test and post-test. Cadre’s skill in complementary food making , were observed by the result of complementary food making. The result of this program showed that 57,1% of cadre were high school or university graduate, average age of the cadre was 48 years. There were increase in average score of anthropometry knowledge and skill (pre = 13,57+0.535; post = 14,14+ 0.640 ; p=0.157), anthropometry skill (pre = 13.43+3.505; post = 18.43+ 2.070 ; p=0.027) and complementary food knowledge (pre = 11.71+1.113; post = 12.57+ 0.787 ; p=0.131). Based on the result of complementary food practice, it was showed that all of the cadres have known the complete composition of complementary food . All of cadres have made complementary food with complete food groups in the right texture for each age group. Keywords: Cadre Class, Growth Monitoring, Complementary Food, Local Food Abstrak Pelayanan kesehatan di Posyandu antara lain pemantauan tumbuh kembang balita dengan pengukuran antropometri dan konseling gizi yang dilakukan oleh kader posyandu. Kader posyandu diharapkan memiliki pengetahuan dan keterampilan di bidang gizi dan kesehatan agar dapat melaksanakan perannya. Tujuan kegiatan pembinaan kelas kader untuk pemantauan pertumbuhan dan pembuatan MPASI berbahan pangan lokal adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader dalam pengukuran antropometri serta dalam pembuatan MPASI. Metode kegiatan ini adalah pengabdian kepada masyarakat dengan penyegaran dan pendampingan mengenai pengukuran antropometri dan MPASI serta praktik pembuatan MPASI berbahan pangan lokal yang sesuai dengan kebutuhan gizi anak. Kegiatan ini dilaksanakan pada bulan September 2019 dan diikuti 14 kader dari 7 Posyandu yang ada di Kecamatan Beji, Depok. Data karakteristik kader, pengetahuan dan keterampilan antropometri serta MPASI didapatkan dengan instrumen kuesioner pre-test dan post-test. Data keterampilan kader dalam mengolah MPASI menggunakan bahan pangan lokal didapatkan dengan observasi hasil praktik. Hasil kegiatan ini menunjukkan bahwa 57,1% kader memiliki Pendidikan terakhir adalah SMA atau universitas, rata -rata umur kader adalah 48 tahun.Terdapat peningkatan rata-rata pengetahuan antropometri (pre = 13,57+0.535; post = 14,14+ 0.640 ; p=0.157), keterampilan antropometri (pre = 13.43+3.505; post = 18.43+ 2.070 ; p=0.027) dan pengetahuan MPASI (pre = 11.71+1.113; post = 12.57+ 0.787 ; p=0.131) dengan perbedaan bermakna yaitu pada variable keterampilan antropometri (p = 0.027). Hasil observasi saat praktik pembuatan MPASI menunjukkan, seluruh kader membuat MPASI dengan bahan yang lengkap dan tekstur sesuai umur anak. Dapat disimpulkan bahwa kegiatan ini berlangsung dengan baik dan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader. Kata kunci: Kelas Kader, Pemantauan Pertumbuhan, MPASI, Pangan lokal
ANALISIS SEGMENTASI PASAR DEMOGRAFIS PRODUK SUSU CAIR KEMASAN KOTAK (Studi Kasus Di Giant Hypermarket Maspion Surabaya)
Persaingan pasar yang ketat dengan merek yang sama membuat pilihan konsumen dalam keinginan dan kebutuhan untuk memilih susu cair dalam kemasan kotak yang harus mengatur posisi dan target pasar lebih fokus. Salah satu cara untuk mendapatkan keunggulan persaingan dalam mempertahankan loyalitas konsumen adalah dengan melihat segmen konsumen yang diperoleh dari penilaian setiap konsumen terhadap suatu produk untuk menunjukkan segmentasi pasar yang dimaksud. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui segmentasi pasar demografis produk susu cair dalam kemasan kotak. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif, menggunakan 50 sampel untuk pengambilan data dari kuesioner. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengaruh terbesar dalam pembelian susu cair kotak pada kelompok umur 20-45 tahun, jenis kelamin perempuan, pendidikan lulusan sekolah menengah, pendapatan lebih dari 3.000, DOI : https://doi.org/10.33005/adv.v7i2.210
KELAYAKAN EKONOMI USAHATANI JAGUNG HIBRIDA DAN NON HIBRIDA DALAM PENENTUAN BENIH YANG TEPAT UNTUK DITANAM DI KECAMATAN PURI KABUPATEN MOJOKERTO
Sikap seseorang terhadap atribut produk bervariasi karena kepercayaan dan evaluasi atribut yang dimiliki oleh produk, pada akhirnya akan menentukan minat beli suatu produk, berdasarkan pada atribut superiornya. Tujuan penelitian adalah: 1). Menganalisis sikap kepercayaan petani dalam memilih benih Hibrida dan Non Hibrida dalam pertanian jagung. 2). Mengetahui atribut unggul benih jagung hibrida dan non-hibrida yang dipilih oleh petani. 3). Menganalisis kelayakan ekonomi pertanian jagung Hibrida dan Non Hibrida. Untuk mengetahui tujuan pertama dan kedua, analisis model multi-atribut Fishbein digunakan, sedangkan tujuan ketiga adalah menggunakan analisis ekonomi pertanian, yaitu analisis rasio biaya dan pendapatan (Return and Cost Ratio). Hasil penelitian: 1). Petani mempertimbangkan atribut paling penting dalam memilih benih jagung hibrida (P-21), (Bisi-2) adalah Produksi, Daya Tumbuh, Merek, Efisiensi Penggunaan Pupuk, Ketersediaan Benih, dan Harga Benih. Sedangkan atribut ketahanan terhadap kekeringan dipandang sebagai yang paling tidak penting dibandingkan dengan atribut lainnya. Atribut paling penting dari benih jagung Non Hibrida (lokal) adalah Harga Benih, Daya Tumbuh, Produksi, Merek, Tahan Kekeringan dan Penggunaan Pupuk Efisien. Sedangkan atribut Ketersediaan Benih dipandang sebagai yang paling tidak penting dibandingkan dengan atribut lainnya. 2). Atribut unggul yang dipilih oleh petani di pertanian jagung menggunakan benih Hibrida (P-21), (Bisi-2) adalah Produksi, sedangkan benih jagung Non Hibrida (Lokal) adalah Harga Benih. 3). Pertanian jagung yang menggunakan benih Hibrida (P-21) dan (Bisi-2), lebih efisien daripada benih Hibrida (Lokal), DOI : https://doi.org/10.33005/adv.v7i2.210
BAHAYA MEROKOK DI SMPIT ALHIDAYAH BOGOR
Mitra dalam kegiatan Abdi Masyarakat ini adalah Sekolah Menengah Pertama Islam Terpadu (SMPIT) Alhidayah Kabupaten Bogor. Di antara permasalan yang dihadapi mitra adalah 1)Tingginya keinginan anak usia remaja awal yang ingin mencoba sesuatu yang baru 2)Lingkungan sekitar sekolah dengan budaya merokok yang tinggi di kalangan remaja 3).Diketemukan sepertiga siswa baru yang mencoba untuk merokok 4.)Adanya upaya siswa untuk mencoba merokok dengan membuat rokok sendiri. Tujuan dari pelaksanaan Pengabdian Kepada Masyarakat ini adalah untuk meningkatkan pemahaman tentang bahaya merokok di SMPIT Alhidayah Bogor Jawa Barat. Metode yang digunakan dalam program Pengabdian Kepada Masyarakat ini adalah sosialisasi dalam bentuk seminar/ceramah yang akan diberikan kepada para tenaga pengajar dan 80 siswa di lingkungan SMPIT Bogor, yang dilakukan pada tanggal 4 – 6 Juli 2019. Peserta diberikan paparan materi dan penjelasan terkait dengan bahaya merokok yang meliputi bahaya merokok bagi keshetan remaja daperubahan perilaku remaja. Melalui kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini, diharapkan dapat meningkatkan tingkat pemahaman siswa di SMPIT Alhidayah Bogor erhadapa bahaya merokok. Keyword: Bahaya merokok, perilaku merokok pada siswa sekolah
TATA KELOLA ARSITEKTUR MASJID SEBAGAI BAGIAN MANAJEMEN PARIWISATA (Studi Kasus Wisata Religi di Surabaya
Saat ini, bangunan masjid dapat menjadi daya tarik bagi masyarakat untuk melakukan wisata religi. Banyak unsur dalam arsitektur Islam yang mempengaruhi bentuk arsitektur masjid yang banyak unsur-unsur dekorasi sehingga masjid menjadi daya tarik tersendiri. Pola-pola dekoratif banyak muncul pada beberapa komponen bangunan masjid, seperti mihrab, dinding kiblat, kolom dan lain-lain. Dan seberapa jauh pengaruh tersebut muncul dalam arsitektur masjid. Oleh karena itu makalah ini akan menyajikan tinjauan literatur dan lapangan tentang ornamentasi yang muncul dalam beberapa masjid. Makalah ini akan membahas beberapa tampilan ornamentasi dan pola dekoratif pada bangunan masjid.Kata kunci: arsitektur Islam, elemen arsitektur, pola dekorasi DOI : https://doi.org/10.33005/jdg.v10i1.204
PENGARUH INTEREST GROUP TERHADAP KEBIJAKAN BRITANIA RAYA TERKAIT BREXIT
ABSTRACTIn a democratic country, like the United Kingdom, has a political party that supports and rejects foreign policy. Competition of political parties in the United Kingdom forced the public to express their aspirations regarding the BREXIT policy. The pro-party against such conservative and conservative referendums like the workers' party makes two camps in Great Britain. Pro's against the referendum is called VOTE LEAVE and the camp is called VOTE REMAIN. The presence of both camps and interest groups has forced the Great Britain to be forced to exercise their right to vote again. The public is demanded in a condition of choosing that Great Britain out or remain a member of the European Union. In accordance with the final result of the referendum, the VOTE LEAVE stronghold won the most votes, the United Kingdom de jure out of the European Union. Along with the incident, David Cameron resigned and was replaced by Theresa May. Theresa May signed Article 50 as a legality that the United Kingdom was out of EU membership.Keywords: Brexit, Vote Leave, Vote Remain, domestic politic