E-Journal UPN "Veteran" Jatim (Universitas Pembangunan Nasional)
Not a member yet
1885 research outputs found
Sort by
KAJIAN PENAMBAHAN CRUDE BROMELIN DAN LAMA PERENDAMAN PADA PEMBUATAN NUGGET DAGING AYAM PETELUR AFKIR
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan konsentarasi enzim bromelin kasar dan lama perendaman terhadap kualitas daging ayam petelur afkir dan menentukan perlakuan terbaik antara penambahan konsentrasi enzim bromelin dan lama perendaman sehingga nugget yang dihasilkan dapat disukai oleh konsumen. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancang Acak Lengkap (RAL) faktorial 2 faktor yaitu konsentrasi bromelin (0.5%, 1%, 1.5%) dan lama perendaman (15, 30, 45 menit) dengan 3 kali ulangan. Data dianalisis menggunakan ANOVA dan jika terdapat perbedaan nyata maka dilanjutkan dengan uji DNMRT. Pengamatan yang dilakukan untuk daging ayam petelur setelah direndam dalam crude bromelin adalah kadar air, kadar lemak, kadar protein, keempukan/tekstur, Water Holding Capacity (WHC). Kemudian pengamatan produk nugget berbahan ayam petelur afkir adalah keempukan/tekstur, rendemen, dan uji organoleptik. Produk nugget yang terbaik diperoleh berdasarkan kesukaan panelis melalui uji sensori yaitu perlakuan crude bromelin 1% dan lama perendaman 30 menit dengan nilai rangking sensori tertinggi yaitu tekstur 118, rasa 117, aroma 121, dan warna 119, tekstur produk nugget terukur 0.270 mm/g.dt, dan rendemen 84.49%. Produk nugget terbaik didukung oleh hasil pengujian awal daging yang telah direndam crude bromelin yaitu kadar air 72.36%, kadar lemak 1.39%, kadar protein 0.58%, keempukan 2.533 mm/g.dt, water holding capacity (WHC) 22.186. DOI : https://doi.org/10.33005/jtp.v15i2.294
Analisis Desain Eksperimen Perbandingan Aplikasi Pencarian Lokasi
Lokasi memegang peranan penting pada perkembangan teknologi informasi. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya aplikasi layanan berbasis lokasi yang dikembangkan dan digunakan. Beberapa di antaranya bahkan sudah menjadi aplikasi terkemuka dan mendorong pengembangnya menjadi perusahaan dengan kapitalisasi yang sangat besar. Peta digital menjadi dasar dari perkembangan ini, baik yang digunakan oleh aplikasi maupun yang digunakan langsung oleh pengguna. Kebutuhan ini juga mendorong banyaknya peta digital yang dikembangkan, tiga di antaranya adalah Google Maps, Here WeGo, dan Bing. Berdasarkan interaksi manusia dan computer terdapat beberapa faktor yang menjadi pertimbangan pengguna dalam memilih peta digital yang digunakan, terutama adalah kecepatan dan kemudahan dalam penggunaan. Penelitian ini meninjau tiga peta digital terkemuka dan membandingkan produk tersebut berdasarkan dua faktor utama. Pengujian dilakukan menggunakan survey terhadap responden. Hasil survey menunjukkan bahwa aplikasi Google Maps adalah aplikasi peta yang paling banyak diminati masyarakat. DOI : https://doi.org/10.33005/scan.v16i2.265
MENGHITUNG KEHILANGAN HASIL KOMODITAS KEDELAI
The purpose of this research is to analyze the amount and value of soybean commodity yield losses, and recommend strategic efforts and actions that should be taken to reduce yield losses. The study was conducted in Puter Village, Kembangbahu Subdistrict, Lamongan Regency in March 2020. Researchers used 15 respondents who could represent the population of soybean farmers in Puter Village as many as 122 farmers, for each stage of soybean yield loss calculation. The analysis used is the calculation of the estimated amount and value of yield loss. The results of this study indicate that the cumulative loss of soybean commodity in Puter Village is 13.13% which occurs in the stages of harvesting, drying of stover, gathering, threshing and drying of soybean seeds. Loss of storage results cannot be calculated because farmers in Puter Village sell their soybean directly after drying. The cause of this loss in soybean yields is caused by improper handling of crops and postharvest both the method and technology used. DOI : https://doi.org/10.33005/adv.v10i1.261
HISTORICAL TOURISM THE RED BRIDGE IN SURABAYA
Sejarah telah menjadi pendorong dominan aktivitas wisata untuk waktu yang lama. Bepergian jarak jauh untuk menjelajahi misteri dan keajaiban masa lalu bukanlah konsep baru - ini telah ada selama berabad-abad dan terus menjadi alasan populer orang bepergian. Melihat trennya, dapat dikatakan bahwa sejarah tidak pernah terlalu kuno untuk dihargai. Wisata sejarah atau warisan berarti bepergian dengan tujuan utama menjelajahi sejarah dan warisan suatu tempat. Ini mungkin berarti tamasya sederhana dari arsitektur bersejarah terkenal, mengunjungi museum lokal yang mendokumentasikan masa lalu melalui artefak, seni, dan peninggalan sastra, atau bahkan sesuatu yang aneh seperti mencicipi resep sejarah otentik di tempat asalnya. Orang sering menggabungkan kecintaan mereka pada sejarah dengan kesenangan turis lainnya seperti berbelanja, mengunjungi taman hiburan, dan penginapan resor mewah. Jadi, tempat-tempat yang memiliki warisan yang kaya dan, pada saat yang sama, merancang infrastruktur wisata yang bagus untuk memenuhi semua kategori wisatawan mendapat peringkat tertinggi dalam hal popularitas sebagai tujuan wisata. Selama lima tahun terakhir, secara luas diakui bahwa segmen pariwisata budaya, warisan dan sejarah telah meningkat pada tingkat yang lebih tinggi daripada pertumbuhan pariwisata di seluruh dunia. Diperkirakan sekitar 20% perjalanan wisata di seluruh dunia mencakup beberapa bentuk budaya, warisan atau aktivitas sejarah; akibatnya, ukuran pasar dapat diperkirakan lebih dari 160 juta perjalanan per tahun. Namun, jika ini disempurnakan untuk memasukkan hanya wisatawan yang secara khusus pergi berlibur untuk mengunjungi budaya, warisan objek wisata sejarah, maka persentase pangsa pasar pariwisata internasional diperkirakan antara 5% dan 8%: atau 40 juta hingga 65 juta perjalanan per tahun
Cool Japan Initiative Sebagai Multitrack Diplomacy Jepang Dalam Menyebarkan Budayanya di Indonesia 2011-2019
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa bagaimana penggunaan diplomasi multi jalur Jepang dengan menggunakan nation branding “Cool Japan Initiative” di Indonesia pada tahun 2011-2019. Melalui upaya tersebut, Jepang memanfaatkan kekayaan budayanya yang diminati masyarakat untuk dijadikan sebagai kekuatan dalam menarik minat masyarakat serta meningkatkan citra dan perekonomian Jepang. Penelitian ini menjelaskan bagaimana Jepang menciptakan Cool Japan Initiative sebagai nation branding serta peran pemerintah Jepang dan aktor non-negara dalam mensukseskan Cool Japan Initiative di Indonesia. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Jepang menggunakan diplomasi multijalur third track melalui bisnis melalui Cool Japan Initiative sebagai nation branding Jepang ke Indonesia dengan memberikan investasi kepada beberapa perusahaan Jepang maupun Indonesia yang mendukung Cool Japan Initiative. Selain itu, aktor non-negara juga berperan dengan menggunakan jalur diplomasi multijalur fourth track melalui masyarakat sipil, kelompok kepentingan, dan media massa dalam memperkenalkan kebudayaan dan produk Jepang di Indonesia. Kata Kunci : Jepang, Cool Japan Initiative, Indonesia, Budaya, Nation Branding DOI : https://doi.org/10.33005/jgp.v9i1.250
POTENSI GIZI DAN KEAMANAN PANGAN CORN SMUT GALLS
Jagung merupakan salah satu bahan pangan pokok yang tingkat permintaan dan produksinya tergolong cukup tinggi setelah beras. Tingginya produksi jagung di Indonesia, didukung dengan kondisi Indonesia yang lembab dan beriklim tropis, meningkatkan resiko tumbuh dan berkembangnya jamur diantaranya Ustilago maydis, yang nantinya berperan dalam pembentukan CSG (Corn Smut Galls). CSG memiliki gizi yang cukup baik, hanya saja berpotensi mengandung aflatoksin, yang biasanya diproduksi oleh Aspergillus sp. Pada penelitian ini digunakan CSG yang berasal dari Nganjuk, Kediri dan Jombang, yang diberikan perlakuan pengeringan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gizi dan keamanan pangan dari CSG. Hasil analisa proksimat menunjukkan bahwa sampel Jombang memiliki kandungan karbohidrat by difference tertinggi yaitu 65,21 % db, sementara itu untuk kandungan protein dan lemak tertinggi masing-masing ada pada sampel Nganjuk dan Kediri. pengamatan mikroskopis diketahui bahwa genus Aspergillus sp. tumbuh pada CSG kering, dengan jumah koloni 8,0 x 104 cfu/g. Hasil ini kemudian dikonfirmasi pada media AFPA (Aspergillus flavus dan parasiticus agar), dan didapatkan hasil positif yang ditunjukkan dengan pembentukan pigmen berwarna orange kekuningan. Sehingga dengan demikian, CSG berpotensi mengandung aflatoksin. DOI : https://doi.org/10.33005/jtp.v14i2.245
PENGUKURAN MATURITY LEVEL UNTUK TUJUAN BISNIS 10 MENINGKATKAN FUNGSIONALITAS PROSES BISNIS
Perkembangan penerapan Teknologi informasi salah satunya juga diterapkan pada Rumah Sakit. Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit memiliki banyak fitur yang terkait pada seluruh instalasi yang ada di Rumah Sakit. Namun pada penerapannya terdapat beberapa kendala sehingga mempengaruhi proses bisnis yang berjalan pada Rumah Sakit tersebut. Untuk itu dilakukan pengukuran penerapan teknologi informasi, khususnya pada instansi rawat inap dan ahli gizi. Pengukuran penerapan sistem informasi manajemen rumah sakit ini menggunakan standar cobit 4.1 yang berfokus pada tujuan bisnis (business goal) 10, meningkatkan fungsionalitas proses bisnis. Dengan adanya pengukuran implementasi teknologi informasi ini diharapkan dapat diketahui permasalahan yang terjadi dan rekomendasi untuk perbaikannya agar proses bisnis yang terkendala bisa kembali lebih baik dengan penererapan teknologi informasi. DOI : https://doi.org/10.33005/scan.v16i1.247
Efektivitas Kemitraan Peternak Sapi Perah dengan Koperasi Unit Desa Karangploso Malang
ABSTRAKTujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Peternak sapi yang tergabung dalam koperasi, dan mempelajari kemitraan yang ada dan menganalisis kemitraan. Penelitian ini menggunakan Teori Konstituensi Ganda yang menekankan pentingnya hubungan antara kepentingan kelompok dan individu dalam hubungan kepentingan kelompok dan individu dalam suatu organisasi. Dengan pendekatan ini dimungkinkan untuk menggabungkan tujuan dan pendekatan sistem untuk mendapatkan pendekatan yang lebih tepat untuk organisasi yang memiliki organisasi. Penelitian dilakukan di wilayah kerja Koperasi Unit Desa Karangploso Malang. Jumlah responden yang diambil sebanyak 37 orang dengan menggunakan metode simple random sampling. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis deskriptif dengan teknik analisis miles dan teknik Huberman dengan pendekatan kuantitatif untuk penelitian ketiga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1). Karakteristik peternak sapi perah berpendidikan rendah adalah usia 31-60 tahun, produktivitas 21-40 liter dan masa bertani 6-10 tahun. 2). Pola kemitraan yang dianut adalah pola kemitraan inti-plasma dimana koperasi berpihak sebagai inti dan peternak sapi perah sebagai plasma. 3). Tingkat kemitraan antara petani dan koperasi sangat efektif.Kata Kunci: Usahatani, Koperasi, Kemitraan, Efektivitas ABSTRACTThe purpose of this research is to find out Cattle breeders who are members of the cooperative, study the existing partnerships and analyze partnerships. This study uses Multiple Constituency Theory, which emphasizes the importance of the relationship between group and individual interests in the relationship between group and individual interests in an organization. With this approach it is possible to combine the objectives and systems approach to get a more appropriate approach for organizations that have organizations. The research was conducted in the working area of the Village Cooperative Unit Karangploso Malang. The number of respondents taken was 37 people using the simple random sampling method. The research method used is descriptive analysis with miles analysis technique and Huberman technique with a quantitative approach for the third research. The results showed that 1). The characteristics of low-educated dairy farmers are 31-60 years old, 21-40 liters of productivity and 6-10 years of farming time. 2). The partnership pattern adopted is a nucleus-plasma partnership pattern where the cooperative takes the side as the nucleus and the dairy farmers as the plasma. 3). The level of having a partnership between farmers and cooperatives is very effective. Keywords : Farm, Cooperatives,Partnership, Effectiveness DOI : https://doi.org/10.33005/jdg.v11i1.252