Portal Jurnal Elektronik UPG 1945 NTT (Universitas Persatuan Guru)
Not a member yet
85990 research outputs found
Sort by
Perlawanan Hegemoni Kekuasaan dalam Puisi Diponegoro, Aku Tulis Pamflet Ini, Kita Pemilik Sah Republik Ini, Perlawanan, Teratai
This research is about the resistance to the hegemony of power in poetry. The problem that is realized is how to fight the hegemony of power in the five Indonesian poems. Based on the research problem formulated, the research objective is to interpret the resistance to the hegemony of power in the five Indonesian poets. The method used is an interpretive qualitative research method, using a hegemonic approach as its approach. In the research on the resistance to the hegemony of power in poetry, “Diponegoro†by: Chairil Anwar, “Aku Tulis Pamflet Ini†by: W. S. Rendra, “Kita Pemilik Sah Republik Ini†by: Taufiq Imail, “Perlawanan†by: Mansur Samin, dan “Teratai†by: Sanoesi Pane as the five Indonesian poems used as data in the study
Perwatakan Tokoh Antagonis Novel ‘Firdaus yang Hilang’ Karya Mira W.
Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan perwatakan tokoh antagonis dalam novel Firdaus Yang Hilang karya Mira W. Manfaat yang diharapkan dari penelitian penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) menambah wawasan pengetahuan penulis dalam mengembangkan keterampilan menulis ilmiah; (2) menambah wawasan tentang sastra serta penguasaan terhadap bahasa dan sastra; (3) merangsang minat pembaca dengan menjadikan tulisan ini sebagai sumber belajar. (4) Mendorong para guru agar selalu memotivasi anak didik untuk tetap berpikir rasional; dan (5) Menjadikan tulisan ini sebagai sumber belajar bagi anak didik. Teori yang digunakan dalam penelitian ini yakni teori struktural, sedangkan metodenya adalah deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam novel Firdaus Yang Hilang karya Mira W. memiliki tiga tokoh antagonis yaitu Harliman, Ayah Lestari dan Mbak Wiwiek Sartono dengan karakter yang khas masing-masing, yakni Harliman memiliki karakter kejam dan jahat, Ayah Lestari memiliki karakter egois dan keras kepala, serta Mbak Wiwiek Sartono memiliki karakter yang licik
 
The Jargons Used in Police Activities
This writing tries to identify the kinds of jargons used in police activities. This research was a descriptive qualitative and this research was design to find out the kind of jargon, to analyze the meaning and describe the intended of the jargon used in police activities. There were two methods in collecting the data, they were observation and interview. The result shows that there were three kinds of jargon used in police activities, namely: letter code, number code and corps institutions code and the jargon in police field is a code. Those also have their meaning to make listener easier to understood and intended to make and to keep communication short, easier in delivering the information and also make the intend to keep the secret of the language and the identify of policemen in doing their activities every day
Sejarah Terbentuknya Kefetoran Bani-Bani di Timor Tahun 1936
Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui Sejarah Terbentuknya Kefetoran Bani-Bani di Timor Tahun 1936. Lokasi penelitian ini adalah bekas wilayah Kefetoran Bani-Bani yang dipusatkan di Desa Tunbesi sekarang menjadi wilayah Kecamatan Io Kufeu di Kabupaten Malaka Provinsi Nusa Tenggara Timur. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sumber data primerdan sumber data sekunder. Data penelitian menggunakan teknik wawancara, observasi dan telaah pustaka yang berdasarkan duaa tahap penelitian sejarah yakni heuristik dan verifikasi atau kritik sumber. Kemudian data penelitian dapat dianalisis menggunakan teknik ketiga yakni interpretasi. Sedangkan hasil penelitian dapat ditulis menggunakan teknik historiografi yang merupakan teknik keempat atau teknik terakhir dalam penelitian sejarah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa factor yang meatarblkangi lahirnya Kefetoran Bani-Bani di Timor yakni (1) Terbentuknya kesatuan masyarakat adat yang luas yang menghendaki adanya seorang pemimpin untuk mengatur dan menciptakan perdamaian dan keseimbangan sosial; (2) Masuk dan berkembangnya pemerintahan Belanda yang ingin mempengaruhi para elit lokal dengan masyarakat untuk menerima dan melaksanakan pemerintahan belanda. Kuatnya hubungan belanda dengan para elit local tertentu untuk memperlancar kepentingan belanda,para usif diangkat menjadi raja; (3) Jumlah keturunan dari masyarakat Bani-bani yang makin lama makin bertambah untuk mengakomodir berbagai kepentingan termasuk pemberian peran maka wilayah kerajaan perlu dibagi menjadi wilayah-wilayah kecil yang kemudian dikenal dengan sebutan kefetoran; (4) Aspek pendekatan pelayanan publik pada zaman tersebut dapat memungkinkan sebab dengan melihat luasnya wilayah kerajaan maka diperlukan para pembantu raja yaitu fetor yang cakap dan bertanggung jawab untuk mengatur wilayah dan masyarakat.
Kata Kunci: Sejarah, Kefetoran Bani-Bani di Timor
PENDAHULUAN
Kerajaan di pulau timor selain diperintah oleh raja dibantu oleh fetor yang berperan sebagai tangan kanan raja atau wakil raja di wilayah kefetoran. Sebagai tangan kanan raj, fetor berperan aktif dalam mengarahkan rakyatnya melaksanakan berbagai kegiatan kemasyarakatan untuk meningkatkan kesejahteraan. Untuk memudahkan itu koordinasi haru smenjaga keamanan kerajaan.
Sebagai tangan kanan raja, maka raja dianggap sebagai kuasa bumi yang diberi hak dan wewenang untuk melaksanakan pemerintahan yang paling pnting adalah menjaga keutuhan wilayah. Rakyat yang mendiami wilayah tersebut disebut toh ana (rakyat biasa). Kekuasaan fetor ditaati oleh rakyat di wilayahnya.
Sistem politik kerajaan sendiri sering di sebut patrimonial atau monarchy. Dalamhal ini raja adalah penguasa dan pengayom sama halnya bapak dalam keluarga. Sebagian besar suku dalam kabupaten belu umumnya menganut genealogis territorial. Mereka percaya bahwa seluruh warga suku sebenarnya merupakan suku asal keturunan yang memiliki budaya, bahasa dan wilayah adat tertentu (Widiyatmika,2007:32)
Pengalihan wilayah adat ini menjadi wewenang pemuka adat mulai dari raja, fetor dan temukung. Berawal dari system politik belanda yang ingin menguasai timor sejak tahun 1657 karena komditi cendana yang sangat terkenal di eropa. Dimana Belanda mengunakan strategi merangkul toko adat,intervensi didalam struktur adat, dan penerapan aturan baru mengenai aturan pemerintahan desa. Adat swapraja yang yang dibentuk sesuai dengan kesatuan politik asli,namun ada juga wilayah-wilayah kerajaan kecil yang digabungkan dan ini tidak sama tergantung pada dinamika penunduk kerajaan-kerajaan tersebut.
Sebuah kerajaan disebut swapraja yang dipimpin oleh seorang raja dan membawahi sejumlah distrik yang disebut dengan kefetoran. Dibawah kefetoran ada ketemukungan dan dibawah ketemukungan ada juga sejumlah kampung (Io’o). salah seseorang yang pernah menjabat sebagai fetor Bani-Bani yaitu Hendrikus Kun pada tahun 1936-1944.
Kefetoran adalah suatu wilayah yang jumlah penduduknya yang teratur dibawah kekuasaan seorang kepala kampung atau kepala suku. Kefetoran Bani-bani memiliki peran sebagai pembantu raja yang memiliki wilayah kekuasaan. Wilayah kekuasaan itu dikenal dengan ketemukungan.
wilayah ketemukungan yang dipakai seorang temukung dalam menjalni kegiatan pemerintahan diwilayah kefetoran harus melaporkan hasil kegiatan kepada fetor. Hal iniberarti wilayah ketemukungan sangat besar yang berarti dalam menata desa-desa gaya baru setelah tahun 1962, sedangkan wilayah keferotan berubah menjadi kecamatan. Demikian kerajaan berubah menjadi kabuaten yang kini dikenal dengan kabupaten Malaka.
Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka yang menjadi masalah dalam penelitian ini adalahâ€Faktor apakah yang melatarbelakangi terbentuknya Kefetoran Bani-Bani di Timor Tahun 1936â€.
KAJIAN PUSTAKA
Sejarah
Sejarah adalah cerita, gambaran pada masa lampau tentang kehidupan umat manusia dan sekitarnya sebagai suatu masalah dalam kehidupan sosial yang disusun secara ilmiah yang didalamnya meliputi urutan-urutan waktu fakta-fakta pada masa tersebut dengan sejumlah tafsiran atau penjelasan yang memberi gambaran tentang apa yang telah berlalu (Gazalba, 1981: 13). Pendapat ini diperkuat oleh Tamburaka (2002:4) yang menyatakan sejarah merupakan gambaran mengenai peristiwa-peristiwa dimasa lampau,tetapi peristiwa-peristiwa dimaksud dianalisa dengan meneliti sebab akibat,kemudian dirangkum kembali kemudian dapat diperoleh pengertian dalam bentuk sistesis yang dapat memberikan penjelasan mengenai aspek-aspek: 1) bagaimana deskripsi peristiwanya, 2) mengapa peristiwa ini terjadi dan 3) kemana peristiwa itu akan terjadi selanjutnya.
Tamburaka (1999:13) mengemukakan dua dalil tentang sejarah yaitu: “sejarah mempunyai arti yang cocok untuk mempelajari alam pikiran dan pengalaman-pengalaman manusia†“dan sejarah bersifat unik,langsung dan dekatâ€.
Abdulgani (1963:174) menyatakan bahwa sejarah ialah salah satu cabang ilmu yang meneliti dan meyelidiki secara sintematis keseluruhan perkembangan masyarakat serta kemanusiaan dimasa lampau,beserta kejadian-kejadinnya, dengan maksud untuk kemudian menilai secara kritis seluruh hasil penelitian dan penyelidikan itu,untuk akhirnya dijadikan perbendaharaan pedoman bagi penelitian dan penentuan keadaan sekarang serta arah proses masa depan. Sejarah dalam pengertian itu mengadung 3 dimensi waktu yaitu masa lampau,(past), sekarang(present) , dan akan datang (future).
Dari pendapat para ahli diatas maka dapat disimpulkan bahwa sejarah ilmu yang mempelajri peristiwa atau kejadian yang terjadi pada masa lampau,serta membawa pengaruh yang besar bagi kehidupan umat manusia. Kejadian atau peristiwa ini meninggalkan bukti yang dapat dikumpulkan untuk diteliti oleh generasi sekarang ini. Kejadian atau peristiwa ini terjadi dalam ruang dan waktu.
Kefetoran
Menurut Parera ( 1994: 25) fetor berasal dari perkataan yaitu feitor. Dalam kamus Portugis- Inggris yang sudah usang (sekitar tahun 1990), feitor diterjemahkan dengan fector, manager, steward, farmer, husbandman, Doemaker, performer.
Kefetoran adalah suatu wilayah dengan jumlah yang teratur dibawah kekuasaan seorang kepala kampung atau kepala suku. Kefetoran bani-bani memiliki peran sebagai kepala kampong yang mempunyai wilayah kekuasaan. Wilayah kekuasaan tersebut dikenal dengan sebutan Tamukung. Wouden Van (1996: 98), mengatakan bahwa terdapat tiga fungsionaris penting dalam sebuah kerajaan, yaitu raja utama,tangan kanan(fetor)dan tangan kiri(hulubalang). Sedangkan menurut Widiyatmika (2007: 76), fetor adalah pejabat yang berkuasa disamping raja.
Sedangkan menurut Parera (1994:76), kata fetor berasal dari bahasa portugis yaitu “Fetor†yang dikelompokan pada bangsawan tingkat pertama dan ditulis fetor sedangkan beberapa tempat, seperti di Belu,digunakan istilah Kapitan kalau diflores dan di Sikka dikenal dengan Alvieris dan Kabu,Alvieris sebagai temukung besar dan kabu sebagai pesuruh kampug sedangkan fetor diterjemahkan dengan Victory berasal dari zaman portugis (Parera,1994: 215).
Pemerintahan
Bolis (1992:80) menyatakan bahwa daerah,bangsa,dan baik pemerintahan sebagai unsure pembentuk suatu Negara apabila dirawat baik semakain besar dan jayalah kerajaan atau Negara itu akan lenyap. Sitanggas (1996:23) menyatakan pemerintahan adalah suatu system dari gerakan semua fungsi yang ada di suatu masyarakat atau Negara yang mempunyai wilayah tertentu dugunakan sebagai alat kekuasaan untuk mencapai suatu tujuan dengan meliputi bidang-bidang kejasmanian dan kerohanian.
Doko (1981:2) menyatakan bahwa pemerintahan pada masa lalu dapat dijalani atas dasar adat dimana seorang pemimpin (raja) adalah penguasa tunggal dalam wilayahnya. Kotten (1972:2) menyatakan pemrintahan dalah cara perbuatan untuk menyelengarakan segenap kepentingan termasuk kewajiban,tugas,dan tanggung jawab dar orang atau badan yang memegang kekuasaan tertinggi dalam suatu Negara atau daerah.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pemerintahan merupakan organisasi formal pada suatu daerah dalam suatu Negara,yang didalamnya terdapat pemegang kekuasaan tertinggi untuk memerintah yang bertujuan untuk mencapai kehidupan masyarakat yang sejahtera.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini berlokasi di Kecamatan Io Kufeu Kabupaten Malaka. Adapun alasan memilih lokasi ini karena lokasi ini merupakan bekas Kefetoran Bani-Bani sehingga diyakini dapat memudahkan peneliti dalam memperoleh data penelitian. Penelitian ini merupakan penelitian historis dimana dalam proses pengumpulan data hingga penulisan hasil penelitian dilakukan secara historis. Adapun yang menjadi sumber data dalampenelitian ini terdiri dari dua yakni sumber data primer dan sumber data sekunder. Sumber data rimer dalam penelitian sejarah adalah sumber asli yang menyaksikan atau sumber yang ada bersamaan dengan waktu terjadinya peristiwa tersebut. Karena itu, sumber data primer dalam penelitian ini adalah catatan Fetor Hendrikus atau dokumen sejenis, pusat kefetoran (istana fetor), dan peninggalan lainnya. Sedangkan sumber data sekunder adalah sumber yang dapat member informasi terkait Kefetoran Bani-Bani walaupun ia tidak turut merasakan keemimpinan Fetor Hendrikus di Kefetoran Io Kufeu Timor. Adapun teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data penelitian adalah observasi, wawancara dan telaah pustaka yang berlandasrkan heuristik, kritik sumber dan interprtas. Sedangkan hasil penelitian ditulis menggunakan teknik historiografi yang merupakan tahap terakhir dalam langkah penelitian sejarah.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Latar Belakang Terbentuknya Kefetoran Bani-Bani Di Timor Tahun 1936
Daerah provinsi Nusa Tenggara Timur pada masa kolonil belanda merupakan suatu keresidenan yang dinamakan Keresidenan Timor dan daerah takhluknya (De Residen Van Timor En Onder Horigheden). Diatur dalam Indische Staatblad 1916 No. 372 (Sejarah daerah NTT 1980:93)
Wilayah hukum Keresidenan Timor terbagi atas tiga afdeling yaitu afdeling Flores, afdeling Timor,dan afdeling Sumba yang masing-masing diperintah oleh seorang asisten residen. Setiap afddeling terbagi atas wilayah bagi yang disebut onder afdeling yang dikepalai seorang Pamong Praja yang bergelar kontroleur, dan didalam setiap onder afdeling terdapat swapraja-swapraja. Setiap swapraja terbagi lagi atas beberapa wilayah bagian berdasarkan bentuk kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai ciri khas berdasarkan suatu lingkungan persatuan adat, yang sebutannya berbeda- beda disetiap daerah diwilayah Nusa Tenggara Timur (Memori Gubernur NTT, Buku 1958-1972 :79).
Didalam badan persekutuan pemerintah adat yang dipimpin oleh tua-tua suku (kepala-kepala suku) maka lama kelamaan mulai berlaku sistem norma dan tatanan kemasyarakatan adat yang ternyata luas pengaruhnya hingga saat ini. Demikian pula adanya struktur adat dengan pembagian tugas kepada mereka yang dipilih dan ditetapkan sebagai kepala suku maupun anggota suku.
Dala kehidupan suku ada juga aturan (berupa hukum adat) yang berlaku ,diakui dan tetap bertahan relative cukup lama sampai masuknya pengaruh budaya dari pihak luar. Berbagai inovasi juga harus diterima oleh semua anggota sebab telah ada arus informasi komunikasi sejalan dengan perkembangan zaman. Kehadiran suatu wilayah kefetoran pada zaman lampau erat hubungan dengan tuntutan zaman. Pergesaran-pergeseran yang terjadi dilingkungan Bani-bani ternyata mulai mengubah peta politik pemerintahan raja-raja. Daerah timor adalah daerah pulau masing-masing pulau itu mempunyai riwayatnya sendiri-sendiri apalagi riwayat-riwayat itu tidak tertulis sehingga banyak keterangan hanya berdasarkan cerita-cerita dari mulut ke mulut tetapi dapat dipercaya kebenarannya.
Sejarah pembentuk kefetoran Bani-bani hubungannya erat dengan para leluhur. Para amaf-amaf,amnasit-amnasit,bersama dengan rakyat mengadakan sidang untuk dibentuknya suatu kefetoran karena dilihat dari pertumbuhan penduduk yang semakin pesat. Ketentuan untuk menjadi seorang pemimpin adalah bertanggung jawab,mampu mengatur dan menciptakan kedamaian serta keseimbangan social. Para amaf-amaf dan amnasit-amnasit mempercayakan seorang pemimpin kepda laki-laki besar (Sulung) untuk menjadi fetor,karena menurut adat laki-laki besarlah yang pantas untuk manjadi seorang pemimpin. Atas kesepakatan bersama Hendrikus Kun dipilih sebagai fetor di Bani-bani. Alasan para amaf,amnasit,dan masyarakat memilih Hendrikus Kun sebagai Fetor karena Hendrikus Kun memiliki pendidikan yang lebih tinggi,tegas,dapat mebaur dengan masyarakat,dan juga merupakan keturunan bangsawan.
Pada masa pemerintahan dikefetoran Bani-bani banyak tantangan yang dialami dengan masuknya dan berkembangnnya pemerintahan Belanda ingin mempengaruhi masyarakat elit local. Kuatnya hubungan Belanda dengan masyarakat elit Lokal tertentu untuk memperlancar kepentingan belanda,para usif dan amaf diangkat menjadi raja oleh belanda,tetapi Karena kemapuan yang dimiliki oleh para pemimpin elit local maka kefetoran Bani-bani terbukti menjalani tugasnnya dengan baik. Dalam pelaksanaan tugas fetor dibantu oleh para amaf,amnasit,tamukung,dan rakyat diwilayahnya.
Pemerintahan kefetoran merupakan dasar pemikiranyang dijadikan sebagai panduan untuk melangsukan kegiatan-kegiatan pemerintah. Dasar pemerintahan yang dimiliki oleh suatu bidang pemerintahan kefetoran Bani-bani adalah system pemerintahan adat. Semua pelaksanaan pemerintahan dan pelayanan kemasyarakatan dilakukan berdasarkan aturan-aturan adat yang berlaku. Fetor Hendrikus Kun bersama temukung-temukung dan tua-tua adat dalam melaksanakan pemerintahan adat dan kemasyarakatan secara turun temurun atau genealogis. Lahirnya kefetoran Bani-bani tentunya dilator belakangi oleh beberapa hal antara lain :
Adanya kesatuan masyarakat adat yang luas menghendaki adanya seorang pemimpin untuk mengatur dan menciptakan pendamaian,dan keseimbangan social.
Masuk dan berkembangnya pemerintahan belanda yang ingin mempengaruhi para elit lokal dengan masyarakat untuk menerima dan melaksanakan pemerintahan belanda. Kuatnya hubungan belanda dengan para elit local tertentu untuk memperlancar kepentingan belanda,para usif diangkat menjadi
Jumlah keturunan dari masyarakat Bani-bani yang makin lama makin bertambah untuk mengakomodir berbagai kepentingan termasuk pemberian peran maka wilayah kerajaan perlu dibagi menjadi wilayah-wilayah kecil yang kemudian dikenal dengan sebutan kefetoran.
Dari aspek pendekatan pelayanan publik (masyarakat) pada zaman tersebut dapat memungkinkan sebab dengan melihat luasnya wilayah kerajaan maka diperlukan para pembantu raja yaitu fetor yang cakap dan bertanggung jawab untuk mengatur wilayah dan masyarakat.
Kefetoran ini merupakan salah satu komponen yang tidak terlepas dari komponen yang lain. Oleh karena itu adaya kerja sama yang dilandasi oleh dasar kekeluargaan,maka kefetoran tersebut dapat tumbuh dan berkembang sampai berkahir masa kefetoran. Suatu system kefetoran juga dilandasi oleh struktur ,dan perang yang dibebankan oleh komponen-komponen yang ada oleh karena itu guna menetapkan seorang untuk masuk dalam struktur kefetoran dibutuhkan kajian-kajian strategis,walaupun pikiran yang dikemukakan oleh penggagas pada saat itu masih terkola dengan cara berpikir tradisional terkesan masih sangat sederhana. Untuk lebih jelas tentang struktur pemerintahan kefetoran Bani-bani dapat dilihat pada struktur berikut :
Dengan melihat komponen yang tertulis pada struktur di atas maka tugas setiap komponen dan segala peranannya tidak sama. Ketiksamaan tugas ini dapat dimungkinkan oleh ikat adat yang sangat kuat pengaruhnya. Disini adat sebagai hukum tidak tertulis mempunyai peran sentral dalam upaya mengatur dan menata wilayah dan masyarakat ,pemerintahan dan pembangunan. Dengan demikan sistem pemerintahan atau tugas setiap komponen kefetoran Bani-bani dapat digambar sebagai berikut :
Fetor
Fetor adalah pemimpin tertinggi dalam suatu kampung yang berada dalam wilayah kerajaan. Fetor dipilih dan diangkat oleh raja. Ia sebagai penghubung antara rakyat dengan raja. Adapun Tugas-tugas fetor adalah :
Melaksanakan perintah-perintah yang disampingkan oleh raja
Menyelesaikan perselisihan,persengkatan yang timbul dalam wilayah dan dianggap perlu diteruskan masalah tersebut kepada raja
Bertanggung jawab atas tugas yang diberikan raja.
Temukung
Temukung adalah pemimpin tertinggi dalam suatu kampong yang berada dalam wilayah kefetoran. Temukung dipilih dan diangkat oleh fetor. Ia sebagai penghubung antara rakyat dan fetor.
Tugas-Tugas Temukung adalah :
Melaksanakan perintah-perintah yang disampaikan oleh fetor.
Membantu fetor dalam menyelesaiakan perselisihan,persengkataan,yang timbul dalam wilayah kefetoran.
Bertanggung jawab atas tugas yang diberikan fetor .
Amnasit
Amnasit merupakan gabungan dari beberapan uma(rumah) sebagai pemimpin dalam wilayah,ini ditunjukan oleh anggota-anggota keluarga yang berada dalam kelompok ini. Amnasit bertugas sebagai pendukung fetor dalam menjalankan tugasnya yaitu melaksanakan fungsi pemerintahan diwilayahnya. Apabila terjadi perselihan antara warga diwilayah maka Ia berhak menyelesaikan masalah tersebut dengan menggunakan hukum adat.
SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan sebagaimana yang diulas tersebut maka dapat ditarik beberapa poin penting yang menjadi factor penentu terbentuknya Kefetoran Bani-Bani di Timor tahun 1936 diantaranya sebagai berikut:
Adanya kesatuan masyarakat adat yang luas menghendaki adanya seorang pemimpin untuk mengatur dan menciptakan pendamaian,dan keseimbangan social.
Masuk dan berkembangnya pemerintahan belanda yang ingin mempengaruhi para elit lokal dengan masyarakat untuk menerima dan melaksanakan pemerintahan belanda. Kuatnya hubungan Belanda dengan para elit local tertentu untuk memperlancar kepentingan belanda,para usif diangkat menjadi
Jumlah keturunan dari masyarakat Bani-bani yang makin lama makin bertambah untuk mengakomodir berbagai kepentingan termasuk pemberian peran maka wilayah kerajaan perlu dibagi menjadi wilayah-wilayah kecil yang kemudian dikenal dengan sebutan kefetoran.
Dari aspek pendekatan pelayanan public pada zaman tersebut dapat memungkinkan sebab dengan melihat luasnya wilayah kerajaan maka diperlukan para pembantu raja yaitu fetor yang cakap dan bertanggung jawab untuk mengatur wilayah dan masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
Abdulgani, Roeslan. (1963). Penggunaan Ilmu Sejarah. Djakarta: Prapantja.
Bolis. (1992). Ilmu Negara Panduan Mahasiswa. Jakarta: Gramedia.
Doko, I.H. (1981). Nusa Tenggara Timur dalam Kancah Kemerekaan Indonesia. Jakarta: Balai
Pustaka.
Gazalba, Sidi. (1981). Pengantar Sejarah Sebagai Ilmu. Aneka Pustaka.
Kotten, Benediktus, Kada. (1972). Sejarah Perkembangan Pemerintahan Swapraja Larantuka.
Kupang: FKIP Undana.
Parera , A.D.M. (1994). Sejarah Pemerintahan Raja-Raja Timor. Jakarta: Sinar Haraan
Sitanggas, H. (1996). Ekologi Pemerintahan. Jakarta: Sinar Harapan
Tambuka, Rustan. (1999). Pengantar Ilmu Sejarah. Jakarta: Rineka Cipta.
………………. (2002). Pengantar Ilmu Sejarah (Teori Filsafat dan IPTEK). Jakarta: Rineka
&nb
Clitic in Meto Language
This writing deals with Analysis of Clitic in Meto Language. The aims of this writing are to identify forms of clitic in Amanatun dialect and determined the meaning of each form of clitic in Amanatun dialect. Due the topic discussed; this writing is conducted by using descriptive method. To obtain the data, the writer took the native speakers of Meto Language in Santian Village. In finding the data the writer took five informantas. In collecthing the data, the writer used questionnaire as the instrument. The result, of the writing concluded that the clitic on Amanatun dialect of Meto Language, consist of two parts: Proclitic and Enclitic. Proclitic covering [m-], [n-] and [t-]. Enclitic [-kuk], [-kum] and [-kun]
Korelasi Keharmonisan Hubungan Sosial antar Guru dengan Kinerja Guru di SMA Negeri 8 Pekanbaru
It was a correlational research studying about social relationship harmonization among teachers (X) and teacher performance (Y) at State Senior High School 8 Pekanbaru. This research aimed at knowing teacher performance level, social relationship harmonization level among teachers, and the correlation between both variables. All teachers that were 83 teachers were the population of this research. Questionnaire and documentation were the techniques of collecting the data. The data were analyzed by using Pearson Product Moment correlation formula. Based on the analysis results, it showed that H0 was rejected and Ha was accepted. It meant that there was a positive significant correlation between social relationship harmonization among teachers and teacher performance at State Senior High School 8 Pekanbaru. It could be seen from the difference between robserved 0.409 and rtable 0.2159 at 5% significant level with N=83, so robserved was higher than rtable (0.409>02159). Based on the data results of the coefficient of linear regression, it showed that the probability score or the significant score 0.000 was lower than 0.05 (0.000<0.05). Based on the coefficient of determination, it was obtained the score that was 0.167 or 16.7%, and it was merged into 17%. It meant that the contribution of the variable of social relationship harmonization among teachers toward the variable of teacher performance at State Senior High School 8 Pekanbaru was 17%, and the rest was influenced by other variables. So, it was needed to build the harmonic social relationship among teachers to increase teacher performance
Pengaruh Sistem Manajemen Berbasis Sekolah dan Kepemimpinan Terhadap Kepuasan Kerja Guru
This study aims to determine how the influence of the school-based management system partially on teacher job satisfaction, the influence of leadership partially on teacher job satisfaction and the effect of school-based management systems and leadership simultaneously on teacher job satisfaction. The method used in this study can be classified in associative type research that is a description of complete information about the relationship between variables with other symptoms. Data analysis techniques used in this study are multiple linear regression analysis, classic assumption test, t test, F test and determinant coefficient. The results of the analysis and evaluation of the data obtained that the results of the school-based management system partially have a positive effect on teacher job satisfaction, the leadership variable partially has a positive effect on teacher job satisfaction, the school-based management system variable and leadership simultaneously have a positive effect on teacher job satisfaction. The influence of school and management-based management system variables on job satisfaction by 56.80% means that 43.20% is influenced by other factors not examined
Penerapan Metode Contextual Teaching and Learning Untuk Peningkatan Hasil Pembelajaran Bahasa Inggris
In the learning process that took place in the school, there were generally many problems, including the old paradigm of learning activities, the learning approach used by teachers, less involving students and the use of resources and the medium of learning is minimal creativity. But this can result in not supporting the learning process and not achieving the learning objectives to the fullest. As is the case with the study of English at school, generally not attractive, as a result many learners who are less interested in learning English. The research aims to increase the students' participation in learning English. The type of this research was Classroom Action Research (CAR) using a qualitative approach with the planning, action, observation, and reflection phases. Prior to the implementation of the research, pre-action. Further research is conducted in two cycles, each cycle consists of three times the meeting. The subject of the research was a grade VII students of SMP Negeri 1 Kupang in the school year 2018/2019. The data were collected by observations, documentation, and recording, which were analyzed in a descriptive analytics. The result shows that the Contextual Teaching and Learning method can improve the learning outcome of grade VII the students of SMP Negeri 1 Kupang in the school year 2018/2019
Pengaruh Latihan Push-Up Terhadap Peningkatan Kekuatan Otot Lengan pada Siswa Ekstrakurikuler Bola Voli di SMPK Nurobo
Based on the observations I have made at SMPK Nurobo, there were some grade VIII students who did not master volleyball techniques, such as top service, which tends to be dominated by male students of grade VIII. This happened because the exercised was focused only to the lower service. The purpose of this study is: to determine the extent of the effect of push-up exercises to increase the arm muscle strength in volleyball extracurricular activity for the students at SMPK Nurobo. The method in this research is a quantitative research which is the experimental method, namely One Group Pre-Post Test Design. The data collection technique used is the treatment and documentation test, while the data analysis technique used is the Similar Sample T-Test. The results of the data analysis shown that the average pre test of the arm muscle strength was 11.5, the average of the final test was 12.4 and t-count = 8.99. The results of the next calculation are compared with df: N-1 (10-1), in the t-table at a significant level of 5%, we get a t-count of 8.99> t table 1.833 (5%). Thus the Alternative Hypothesis (Ha) which was stated that: "Push-up exercises for arm muscle strength in the volleyball extracurricular activity for students at SMPK Nurobo was accepted while the Hypothesis of Zero (Ho) was rejected.†Based on the research conducted and the results of the data analysis obtained, it can be concluded that push-up exercises can increase the arm muscle strength in the volleyball extracurricular activity for students at SMPK Nurobo with 29%
Peningkatan Gerak Geri Komi Melalui Gaya Melatih Secara Otoriter Dalam Bela Diri Kempo Dojo Persatuan Guru 1945 Kupang
This study aims to find out the improvement of “geri komi†movement technique training on kenzhi, through the authoritative training style on kenzhi kyu IV (white belt) and kenzhi kyu III (green belt) on the dojo of Teachers Association 1945 Kupang. The sample in this study consisted of kenzhis numbering to 10, with the composition of 5 kenzhis of kyu IV (white belts) and 5 kenzhis of kyu III (green belts) which were given actions of an authoritative training style. The method used in this research is descriptive qualitative research. Data analysis was performed by a descriptive qualitative method. The results of the study conclude: (1) before applying the authoritative training style by the trainers to the kenzhis, the kenzhis were not good at making “geri komi†kick movements and did not have any improving changes in “geri komi†kick technique, but after an authoritative training style being given to the kenzhis, then there was an improvement in “geri komi†kick technique in terms of speed, accuracy, and strength. Based on the descriptive results of data analysis, it can be concluded that using an authoritative training style can improve “geri komi†kick technique