Indonesian Journal of Cardiology
Not a member yet
687 research outputs found
Sort by
CRISS - CROSS HEART (Laporan empat kasus)
Criss-cross heart is a rare congenital cardiac anomaly characterized by crossing of the inflow streams of the two ventricles. The anomaly seems to be due to abnormal twisting of the heart about its long axis and when the axis of the openings of the atrioventricular valves are not parallel. Thus in criss – cross heart the abnormality is on the atrioventricular relation, not connection, which happened due to clockwise or counter-clockwise ventricular rotation. We report four cases of criss-cross heart, three cases had levocardia - situs solitus with superior – inferior ventricles and one case had dextrocardia - situs inversus (mirror image) the ventricles were not in superior-inferior fashion. Subcostal and apical four-chamber views can be used to identify the ventricular morphology and position, the atrio-ventricular valves, the atrioventricular and ventriculo-arterial connection, and the characteristics of the great vessels. The artery connection can be seen more clearly in the parasternal window. All patients had concordance atrioventricular connection, ventricular septal defect and double outlet right ventricle with malposition of the great arteries. Other associated lesions included infundibular (subvalvular) and valvular pulmonary stenosis in three, atrial septal defect in two, and interrupted aortic arch with large persistent ductus arteriosus in one patient. The findings were confirmed by catheter-ization and angiography in three patients and multislice-CT in one.Conclusions.patients with criss-cross heart can be easily diagnosed by a careful, systematic segmental study with two-dimensional color-coded transthoracic echocardiography. The failure to obtain a characteristic four - chamber view in any cut and the presence of crossed atrioventricular inflow bloodstreams with each atrium draining into the ventricle located contralaterally were diagnostic for recognition of this complex anomaly. The presence of superior-inferior ventricles although suggestive, should not be regarded as diagnostic for criss cross anatomy.Criss-cross heart merupakan anomali jantung bawaan yang langka, ditandai dengan aliran masuk ke kedua ventrikel yang saling berseberangan. Anomali ini mungkin disebabkan oleh salah putar jantung pada sumbu panjangnya dan ketika sumbu pembukaan katup atrioventrikular tidak parallel. Jadi, pada criss-cross heart kelainannya terletak pada relasi atrioventrikular, bukan koneksinya; akibat rotasi ventrikel searah atau berlawanan arah dengan jarum jam. Kami laporkan empat kasus criss-cross heart, tiga dengan levocardia - situs solitus dengan superior - inferior ventrikel, dan satu kasus lagi dengan dextrocardia - situs inversus (mirror image) - ventrikelnya tidak superior - inferior. Transthorakal echocardiografi pandangan subcostal dan apical four-chamber dapat dipakai untuk mengidentifikasi morfologi dan posisi ventrikel, katup atrioventrikular, koneksi atrioventrikular dan koneksi ventriculo-arterial serta karakteristik pembuluh-pembuluh darah utama. Koneksi arteri dapat lebih jelas kalau dilihat dari pandangn parasternal. Semua pasien ini mempunyai koneksi atrioventrikuler konkordans, defek septum ventrikel dan double outlet right ventricle disertai malposisi pembuluh-pembuluh darah besar. Kelainan penyerta lain adalah stenosis pulmonal infundibular (subvalvular) and valvular pada tiga kasus, defek septum atrium pada dua kasus, dan interupsi arkus aorta dengan duktus arteriosus persisten besar pada satu kasus. Temuan echocardiografi ini dikonfirmasi dengan kateterisasi dan angiografi pada tiga kasus dan multislice-CT pada satu kasus. Kesimpulan. pasien dengan criss-cross heart dapat didiagnosis dengan mudah menggunakan pemeriksaan two-dimensional color-coded transthoracic echocardiography yang seksama dan sekuensial segmental analisis yang sistematis. Kegagalan mem-perlihatkan gambar khas pandangan four-chamber pada berbagai potongan, dan adanya aliran darah atrioventrikular yang saling menyeberang, dimana masing-masing atrium mengalirkan darah ke ventrikel yang lokasinya kontra-lateral, merupakan tanda diagnostik anomali yang kompleks ini. Ventrikel yang letaknya superior- inferior meskipun sugestif untuk criss-cross anatomy, tetapi tidak bisa dijadikan tanda diagnostik
The incremental value of combination copeptin and troponin T for early diagnosis of acute myocardial infarction
Background: Copeptin is a protein that is released when the body experiences endogenic stress. The level of copeptin elevated very early and slowly decreases in myocardial infarction. Aim: to determine the incremental value of combination copeptin and troponin T for early diagnosis of Acute Myocardial Infarction.Methods: A search was conducted on PubMed and Cochrane. After screening title and abstract using inclusion and exclusion criteria, three articles were available as full text, but only 2 articles were considered useful by authors and were appraised based on its validity, importance and applicability. The other one article was excluded because the outcome of the study basically differentiates ACS and cardiomyopathy. Results: Both articles showthat the diagnostic value results are not so different. From the first article, a combination of copeptin and troponin T gives the results of sensitivity 87.4%, specificity 66.2%, PPV 46.9%, NPV 93.9%, pre-test probability 21.5%, post-test probability 40.8%, and AUC 0.91. The second article showed a combination of both gave sensitivity values of 98.8%, specificity 77.1%, PPV 46.2%, NPV 99.7%, pre-test probability 16.67%, and post-test probability 46.29%, and AUC 0,97. Conclusion: the combination of troponin T increase the sensitivity of diagnosis of AMI among patients suspected with acute coronary syndrome compared to troponin T alone. The combination of both can be considered as a test to diagnose AMI at early hours
Penghambat GPIIb/IIIa pada Intervensi Koroner Perkutan Primer: Kapan dan Dimana?
Prosedur Intervensi Koroner Perkutan Primer (IKPP) merupakan prosedur pilihan pada pasien STEMI dengan awitan kurang dari 12 jam. Tetapi banyak hal yang masih belum terjawab di antaranya pada pasien dengan awitan dini (2 atau 3 jam) apakah pihannya langsung dirujuk ke RS dengan fasilitas IKPP tetapi dengan konsekuensi adanya keterlambatan atau langsung diberikan trombolitik. Masalah kedua adalah jenis terapi yang diberikan saat transportasi ke rumah sakit rujukan apakah antitrombin heparin, bivalirudin, penghambat GP IIb/IIIa atau trombolitik? Masalah ketiga adalah IKPP tidak selalu berhasil memberi reperfusi. Masalah lain adalah keberhasilan angiografis yang tidak disertai bukti reperfusi yang diharapkan pada pemeriksaan dengan modalitas imajing
Gangguan fungsi Jantung pada Keadaan Sepsis
Sepsis is a condition where bacteremia persist and precede by SIRS sign, in a severe condition sepsis can manifest as septic shock and refractory septic shock with very high mortality rate, up to 50% during hospitalization, almost equalize death due to myocardial infarction. In a severe sepsis at least one of organ dysfunction is present, cardiovascular is one of the most frequent affected organ system in severe sepsis and almost always affected during septic shock. During sepsis depression of cardiac systolic and diastolic func-tion characterized by bi-ventricular impairment of contractility, decrease in ventriclular compliance which manifest as subsequent reduction in left ventricular ejection fraction and LV stroke work index. The pathophysi-ology of cardiac depression during sepsis remain unclear up to now, but many evidence showed that circulating cardio toxic agent (IL – 1, IL – 8, C3a), endotoxin (LPS), cytokine (IL – 1, IL – 6, TNF – a), endothelin – 1 (ET – 1), nitric oxide (NO), prostanoid (Tromboxan & Prostasiklin), and adhesion molecule (intercellular adhesion molecule-1 & vascular cell adhe-sion molecule-1) play important role in depressing cardiac function during sepsis. Definitive therapy regarding cardiac dysfunction during sepsis is still unknown, but adequate supportive management in maintaining adequate preload continued by inotropic and or vasopressor with low dose cor-ticosteroid, low dose nitroglycerine (in selected patients) and statin are prove in clinical trial effective in providing better outcome. Poor cardiac function in sepsis is related to poor outcome during hospitalization. This article discus about cardiac dysfunction, pathophysiology and supportive management in adult with sepsis.Sepsis adalah suatu keadaan bakteriemia dalam tubuh yang didahului oleh SIRS. Pada keadaan sepsis yang berat, dapat ber-lanjut menjadi refractory shock septic dan renjatan septik dengan angka mortalitas yang sangat tinggi, bahkan mencapai 50% pada pasien yang sedang dirawat inap. Angka kematian ini hampir menyamai kejadian yang diakibatkan oleh akut miokard infark. Sepsis berat ditandai oleh adanya gangguan pada minimal satu fungsi atau multi organ tubuh. Sistem kardiovaskular adalah sistem organ yang paling sering terganggu pada keadaan sepsis, dan hampir selalu terganggu pada keadaan renjatan septik. Pada keadaan sepsis terjadi depresi fungsi pompa jantung berupa gangguan sistolik dan diastolik yang ditandai oleh adanya gangguan kontraktilitas ventrikel kanan dan kiri serta gangguan complianceventrikel yang akan bermanifestasi dengan penurunan sistem pompa (fraksi ejeksi) jantung sistemik dan indeks kerja jantung kiri. Patofisiologi gangguan fungsi jantung pada keadaan sepsis hingga saat ini masih belum jelas, akan tetapi banyak bukti pada penelitian dengan menggunakan hewan coba didapatkan tentang adanya agen yang bersifat kardio toksik dalam darah seperti IL–1, IL – 8, C3a, endotoxin (LPS), sitokin (IL – 1, IL – 6, TNF – a), endothelin – 1 (ET – 1), nitric oxide (NO), prostanoid (Tromboxan & Prostasiklin), dan molekul adhesi (intercellular adhesion molecule-1 & vascular cell adhesion molecule-1), substrat kimia tersebut memainkan peranan yang penting dalam terjadinya depresi fungsi jantung pada keadaan sepsis. Terapi definitif dalam mengatasi terjadinya gangguan fungsi jantung pada keadaan sepsis hingga saat ini belum diketahui, karena belum didapatkan suatu patomekanisme ditingkat selular yang jelas tentang terjadinya depresi fungsi jantung pada keadaan sepsis. Terapi suportif pada keadaan sepsis dengan mencukupi status volume (preload) serta pemberian inotropik dan atau vasopressor yang diikuti dengan pemberian dosis rendah kortikosteroid, dosis rendah nitrogliserin (pada pasien tertentu) dan pemberian statin dalam beberapa percobaan uji klinis dikatakan terbukti mampu memperbaiki outcome pasien sepsis yang sedang dirawat di rumah sakit. Adanya depresi fungsi jantung pada keadaan sepsis dihubungkan dengan prognosis yang buruk bagi pasien yang sedang dirawat di rumah sakit. Artikel ini membahas tentang gangguan fungsi jantung, patofisiologi dan managemen suportif pasien dewasa pada keadaan sepsis
Sinkop pada pasien dengan PPM: Apa mekanismenya?
Seorang pria, 67 tahun datang ke poli aritmia dengan keluhan pingsan berulang. Kehilangan kesadaran berlangsung sekitar 1-2 menit dan kembali spontan. Pasien pernah dilakukan pemasangan PPM 2 tahun yang lalu atas indikasi disfungsi nodal sinus. Pada saat itu PPM yang dipasang adalah tipe VVI.Rekaman EKG strip sadapan II menunjukkan gambaran irama sinus dengan diselingi oleh pemacuan ventrikel kanan (Gambar 1).Dari gambaran EKG di atas tampak bahwa fungsi pemacuan baik dengan laju pacu 75 kpm. Akan tetapi terlihat bahwa fungsi sensing PPM tidak berjalan sehingga memberikan pemacuan dalam jarak yang terlalu dekat dari aktivitas intrinsik yang mendahuluinya. Dalam hal ini terjadi undersensing gelombang R intrinsik.Dengan demikian dapat diyakini bahwa episode sinkop yang dialami pasien bukan akibat kegagalan pemacuan. Jadi apa mekanisme sinkopnya
Moving from research to practice: relevance and generalizability
Epidemiology is occurrence research. The object of epidemiologic research is the occurrence of illness and its relation to determinants (occurrence relation). Similar to other epidemiologic research, the motive for applied clinical studies is to learn about an object. Eventually, the knowledge produced by the research needs to be incorporated in the knowledge base that guides daily medical care. During the design and conduct of research, it is important to keep this aim in mind and be aware of the effects that choices in the design of the study may have on the applicability and implementation of the results
Respon Hipoksia Orang Terlatih di Ruang Udara Bertekanan Rendah
Hipoksia merupakan suatu fenomena khusus dalam dunia penerbangan dan masih menjadi perhatian bagi keselamatan penerbangan. Pada umumnya kita menganggap seseorang yang mempunyai tingkat kesamaptaan aerobik yang tinggi ( terlatih aerobik) maka akan makin tahan terhadap kondisi hipoksia. Tetapi pada latihan paparan hipoksia menggunakan RUBR, didapatkan beberapa peserta latihan dengan riwayat latihan aerobik yang intensif ternyata lebih rentan terhadap hipoksia. Oleh karena itu penelitian ini penting untuk menjawab mengapa pada peserta latihan yang terlatih aerobik tersebut menjadi lebih rentan pada paparan hipoksia
Irama Pacu Yang Bervariasi : Bagaimana Mekanismenya?
Seorang laki-laki, 56 tahun dengan gagal jantung refrakter pada kardiomiopati dilatasi, telah dilakukan pemasangan cardiac resynchronization therapy (CRT) 2 tahun yang lalu. Pada saat kontrol di poli aritmia didapatkan gambaran EKG dengan QRS yang bervariasi secara bigemini (Gambar 1). Kenapa hal tersebut terjadi dan bagaimana cara mengatasinya
Cardiac Resynchronization Therapy: Kapan dapat kita lakukan?
Gagal jantung (GJ) merupakan penyebab utama perawatan pasien di rumah sakit Amerika Serikat, dan merupakan kasus yang memakan biaya terbanyak per tahunnya. Sekitar 500.000 kasus baru ditemukan setiap tahun, dan tak kurang dari 5 juta orang kini di Amerika menderita GJ.Studi mengenai terapi neurohormonal telah mencapai puncaknya, tambahan terapi selain penghambat renin-angiotensin-aldosteron dan adrenergik, belum terbukti memberi tambahan manfaat yang signifikan. Sementara itu, laporan studi mengenai device therapy(pacemakers, implantabledefibrillators, danventricular assist devices)pada GJbanyak yang memberi hasil positif. Khusus mengenai cardiac resynchronization therapy(CRT), telah banyak studi yang melaporkan manfaatnya pada GJ, dan telah pula dimasukkan dalam guideline Heart Failure sebagai salah satu terapi GJ. Meski demikian hasil pemasangan CRT masih ber variasi, dan membawa risiko komplikasi. Oleh karenanya, pemasangan CRT memerlukan kriteria seleksi pasien yang ketat dan tepat, sehingga rasio keuntungan-risiko dapat optimal.Laporan kasus ini menguraikan tentang sebuah kasus pemasangan CRT. Akan dibahas mengenai kapan sebaiknya pemasangan CRT dilakukan, tatalaksana GJ, prediksi adanya disinkroni ventrikel, dan prognosis CRT berdasarkan elektrokardiogram (EKG) dan ekokardiogram
Kematian Jantung Mendadak di Indonesia
Kematian jantung mendadak (KJM) adalah kematian tidak diduga dan bersifat mendadak yang terjadi dalam waktu kurang dari satu jam setelah timbul gejala dan disebabkan oleh penyakit jantung. KJM terjadi akibat suatu hentu jantung yang tidak tertolong. Terdapat beberapa istilah yang saling tumpang tindih yaitu KJM, henti jantung dan kolaps kardiovaskular. KJM merupakan suatu keadaan berhentinya fungsi biologis yang menetap, terjadi secara tiba-tiba dan tidak terduga. Mekanisme KJM umumnya akibat hilangnya kemampuan mekanik jantung yang luas yang terjadi akibat henti jantung